Skip to content

Galeri

TADABBUR ALAM

 

QS. Ar-Rahman (55) ayat  13 :

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Artinya:

Maka ni’mat Robb-mu yang manakah yang kamu dustakan?”

 

QS. Al-Baqoroh (2)  ayat 164 :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Artinya:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allooh turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allooh) bagi kaum yang memikirkan.”

 

QS. Al-Hijr (15) ayat  19-21 :

وَالأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُونٍ

وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَن لَّسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ عِندَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلاَّ بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ

Artinya:

(19) Dan Kami (Allooh) telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.

(20) Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya.

(21) Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.

 

QS. Luqman (31) ayat 29 :

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya:

Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allooh memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allooh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

QS. Ar-Ruum (30) ayat  48 :

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَاباً فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاء كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفاً فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

Artinya:

Allooh, Dia lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allooh membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.

 

QS. Fathir (35) ayat 13 :

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

Artinya:

Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allooh Robb-mu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru selain Allooh tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.”

 

 

QS. Al-An’aam (6) ayat 162 :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya:

Katakanlah: ‘Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allooh, Robb semesta alam.”

Advertisements
3 Comments leave one →
  1. 5 February 2013 4:43 pm

    Assalamualaikum ustadz..

    Ustadz semenjak saya ikuti kajian ustadz dan menjauhi bid’ah berupa Maulidan, Tahlilan, Yasinan paada malam Jum’at.. dan saya coba terangkan sama teman-teman saya, tapi saya dicap penganut Persis dan Wahabi, bagaimana saya menyikapinya ustadz?

    • 8 February 2013 9:59 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

      Lho anehkah? Nabi kita, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, bahkan para Nabi sebelumnya pun ketika mereka berdakwah, menyeru ummatnya agar mereka meniti jalan yang lurus, jalan yang diridhoi oleh Allooh سبحانه وتعالى … eh malah kaumnya menjulukinya sebagai seorang TUKANG SIHIR, dan GILA.

      Perhatikan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Adz Dzaariyat (51) ayat 52:

      كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

      Artinya:
      “Demikianlah tidak seorang rosuul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila“.

      Kalau sekedar diberi julukan WAHABI, itu kan nasab kepada AL WAHAAB.
      Kalau AL WAHAAB itu adalah nama Allooh سبحانه وتعالى, sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Al Qur’an, bahkan ayat itu menjadi do’a seperti yang tertera dalam QS. Aali ‘Imroon ayat 8, maka banggalah menjadi Wahabi.

      Perhatikanlah QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 8 berikut ini:

      رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

      Artinya:
      (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)
      .
      Tetapi kalau, nasab itu kepada Muhammad bin ‘Abdul Wahab, seorang da’i terkenal di Jazirah Arab, maka katakan pada mereka yang memberi julukan-julukan itu kepada antum: “Maaf ya, saya tidak kenal dia… Bagaimanakah saya mengikuti orang yang tidak saya kenal. Juga maaf ya, saya bukan pengikut Ustadz / Kyai / Ajeungan / Habib / Syaikh. Tetapi saya adalah orang yang berusaha menjadi pengikut setia Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdul Mutholib صلى الله عليه وسلم, bukan Muhammad bin ‘Abdul Wahab.”

      Demikianlah… semoga hal ini menjadi jelas bagi mereka yang memberi julukan-julukan demikian kepada anda…. Barokalloohu fiika

  2. 8 February 2013 2:21 pm

    Syukron ustadz atas jawabannya.
    Semoga ustad selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang.
    Aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: