Skip to content

Hikmah

ustadzrofii.wordpress.com

MUTIARA HIKMAH


(1) Keutamaan 10 Hari Awal Dzul Hijjah

Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ . يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

Tidaklah ada hari-hari beramal yang di dalamnya paling dicintai oleh Allooh kecuali hari-hari ini (sepuluh hari bulan Dzul Hijjah)”.

Para shohabat bertanya: “Ya Rosuulullooh, bagaimana dengan jihad fisabilillah?”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab: Bahkan dari jihad sekalipun. Kecuali seseorang keluar (berjihad) dengan jiwa, harta dan jiwanya dan tidak kembali sedikit pun dari itu”.

(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 2440, Imaam At Turmudzy no: 757 dan Imaam Ibnu Maajah no: 1727)

(2) Du’a Hari ‘Arofah

خير الدعاء دعاء يوم عرفة وخير ما قلت أنا والنبيون من قبلي : لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

Artinya:

Sebaik-baik du’a adalah du’a pada hari ‘Arofah, dan sebaik-baik apa yang aku (Muhammad صلى الله عليه وسلم) dan para Nabi sebelumku katakan adalah “Laa Ilaaha Illalloohu Wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa ‘Alaa Kulli Syai’in Qodiir” (artinya: Tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya, kecuali hanya Allooh dan tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala Kerajaan dan Pujian dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu)

(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 3585 dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya رضي الله عنهم)

(3) Syari’at Islaam

قال ابن قيم الجوزية في إعلام الموقعين عن رب العالمين : إن الشريعة مبناها وأساسها على الحكم ومصالح العباد في المعاش والمعاد وهي عدل كلها ورحمة كلها ومصالح كلها وحكمة كلها

Artinya:

Berkata ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yakni Ibnul Qoyyim رحمه الله :

Sesungguhnya Syari’at Islaam itu dasar dan bangunannya adalah diatas hikmah dan untuk kebaikan manusia, baik dalam kehidupan didunia maupun di akherat. Syari’at itu seluruhnya berupa keadilan dan kasih sayang, kebaikan dan hikmah.

(4) An Najaat (Selamat)

عن عقبة بن عامر قال : قلت يا رسول الله ما النجاة ؟ قال أمسك عليك لسانك وليسعك بيتك وآبك على خطيئتك

Artinya:

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir رضي الله عنه berkata, “Aku bertanya kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, apakah An Najaat itu (selamat)?

Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Hendaknya kamu kendalikan mulutmu, cukupkan rumahmu dan tangisilah kesalahanmu.

(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzi no: 2406 dan kata beliau رحمه الله hadits ini adalah Hasan)

(5) Haq Allooh dalam ketaatan

حقُّ اللهِ تَعَالَى فِي الطَّاعةِ ستَّةُ أُمورٍ، وهي:
1 الإخلاصُ فِي العملِ.
2 والنَّصيحَةُ للهِ فيهِ.
3 ومُتابعَةُ الرَّسُولِ فيهِ.
4 وشُهُودُ مَشْهَدِ الإِحسانِ فيهِ.
5 وشُهُودُ مِنَّةِ اللهِ عَلَيهِ.
6 وشُهودُ تَقصيرِهِ فِيهِ بَعْدَ ذَلِكَ كلِّهِ

Artinya:

Haq Allooh سبحانه وتعالى dalam ketaatan itu ada 6, yaitu:

1. Ikhlash dalam beramal
2. Menasehati Allooh سبحانه وتعالى di dalamnya
3. Mengikuti Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam ta’at
4. Mempersaksikan unsur kebajikan di dalamnya
5. Mempersaksikan karunia Allooh سبحانه وتعالى padanya
6. Mempersaksikan kekurangan dirinya dalam ta’at kepada Allooh سبحانه وتعالى.”

(“Dzammun Nafsi wal Hawaa“, karya Syaikh ‘Abdul Haady Hasan Wahby)

(6) Orang ber-‘ilmu dan ber-‘imaan

قال ابن القيم رحمه الله تعالى :
أفضل ما اكتسبته النفوس, وحصلته القلوب, ونال به العبد الرفعة في الدنيا والآخرة, هو العلم والايمان, ولهذا قرن الله سبحانه بينهما في قوله: { وقال الذين أوتوا العلم والايمان لقد لبثتم في كتاب الله الى يوم البعث فهذا يوم البعث}الروم 56. وقوله:{ يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات}المجادلة11

Artinya:

Berkata Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah رحمه الله:
Sebaik-baik apa yang diraih oleh jiwa dan hati adalah apa yang diraih oleh seorang hamba berupa ketinggian derajat di dunia dan di akhirat, yaitu berupa ‘ilmu dan ‘imaan. Oleh karena itu, Allooh سبحانه وتعالى mendampingkan “Dan orang-orang yang diberi ‘ilmu dan ‘imaan berkata (kepada orang kaafir), ‘Sungguh kalian telah berdiam (dalam kubur) sesuai ketetapan Allooh سبحانه وتعالى sampai hari kebangkitan, maka inilah hari kebangkitan itu” [QS. Ar Ruum (30) ayat 56] dengan “Allooh akan mengangkat orang-orang yang beriman dari kalian dan orang-orang yang diberi ‘ilmu beberapa derajat” [QS Al Mujaadalah (58) ayat 11]

(“Al Fawaa’id”, karya Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah)

(7) Agar tidak mengkufuri nikmat Allooh

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Artinya:

Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, telah bersabda Rosuululllooh صلى الله عليه وسلم:
Lihatlah oleh kalian orang yang di bawah kalian dan jangan kalian lihat orang yang di atas kalian. Yang demikian itu lebih dekat dari mengkufuri nikmat Allooh.

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7619)

(8) Perkara Penyebab Masuk Surga atau Masuk Neraka

عن ابي هريرة : قال سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم عن أكثر ما يدخل الناس الجنة ؟ فقال تقوى الله وحسن الخلق وسئل عن أكثر ما يدخل الناس النار فقال الفم والفرج

Artinya:

Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ditanya tentang perkara yang terbanyak menyebabkan manusia masuk kedalam surga, lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Bertaqwa kepada Allooh dan ber-akhlaq yang baik.”

Dan ditanya tentang perkara terbanyak yang menyebabkan manusia masuk neraka, lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mulut dan kemaluan.

(Hadits Shohiih Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2004)

(9) Ciri Kesempurnaan Amal

Berkata Imaam Sa’iid bin Yaziid Abu ‘Abdillah as Saajii r رحمه الله:
Lima perkara jika lima ini ada, maka pertanda bahwa ‘ilmu telah sempurna dan amalan menjadi bermakna dan tidak sia-sia:

1. Mengenali Allooh سبحانه وتعالى
2. Mengenali kebenaran
3. Tulus beramal karena Allooh سبحانه وتعالى
4. Beramal sesuai Sunnah
5. Tidak makan, kecuali dari yang halaal.”

(10) Enam Perkara Aneh dalam Enam Perkara

“Ada enam perkara dia aneh dalam enam perkara:
1. Masjid aneh di tengah-tengah orang yang tidak sholat didalamnya

2. Mushaaf aneh di rumah suatu kaum yang tidak membacanya

3. Al Qur’an aneh pada orang yang faasiq

4. Wanita muslimah aneh berada pada seorang laki-laki yang dzoolim lagi berakhlaq buruk

5. Seorang muslim yang shoolih aneh berada pada seorang wanita yang buruk dan buruk pula akhlaqnya

6. Seorang ‘aalim aneh di tengah suatu kaum yang tidak mendengarkan pada petuahnya.”

(Dinukil dari Kitab “Iiqoodz Ulil Himaamil ‘Aaliyah”)

(11) Cara Mengetahui Riya’

Berkata Imaam Muhammad bin Idriis Abu ‘Abdillaah Asy Syaafi’iy رحمه الله:
Tidak mengetahui Riya’ kecuali orang mukhlis (– orang yang ikhlas – pent)”

(Dinukil dari Kitab “Bustaanul ‘Aarifiin”, karya Imaam An Nawaawy رحمه الله)

(12) Para Da’i Penyeru ke Pintu-Pintu Jahannam

عن حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Artinya:

Dari Hudzaifah bin Al Yamaan رضي الله عنه berkata, “ Orang-orang bertanya pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang kejahatan, karena takut hal itu menimpaku.

Maka aku katakan, “Wahai Rosuulullooh, sesungguhnya dulu kita berada dalam kejahiliyahan (kebodohan) dan kejahatan, lalu Allooh datangkan pada kami kebaikan (–Islam –pent) ini, maka apakah setelah kebaikan ini akan datang kejahatan?

Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya.
Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kejahatan itu akan muncul lagi kebaikan?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Tetapi di dalamnya terdapat noda.
Aku bertanya lagi, “Noda apakah itu?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Yaitu suatu kaum yang berpedoman bukan dengan pedomanku. Kamu tahu dari mereka dan kamu ingkari.”

Aku bertanya lagi, “Lalu apakah setelah kebaikan itu akan muncul lagi kejahatan?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Yaitu para da’i (penyeru) kepada pintu-pintu jahannam. Maka barangsiapa yang memenuhi panggilan mereka, niscaya mereka akan mencampakkannya pada jahannam itu.

Aku bertanya lagi, “Wahai Rosuulullooh, gambarkanlah kepada kami tentang mereka.”
Lalu beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Mereka adalah dari kalangan kita. Berkata dengan bahasa kita.”
Aku bertanya, “Apa yang kau perintahkan padaku, jika hal itu menimpaku?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Berpegang teguhlah dengan jama’ah muslimin, dan Imaam mereka (– kelompok yang berpegang teguh dengan Al Haq – pent).”
Aku bertanya, “Jika mereka tidak punya jama’ah dan tidak punya Imaam?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Maka tinggalkan semua golongan itu, walaupun kamu harus menggigit akar pohon sampai kamu mati, sedangkan kamu berada dalam keadaan demikian.”

(Hadits Shohiih Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3606)

(13) Akibat Ambisi Terhadap Harta

Telah berkata Imaam Sofyaan Ats Tsauury رحمه الله:
Tidak berkumpul harta pada seseorang di zaman ini kecuali dia akan memiliki 5 sifat:

1. Panjang angan-angan
2. Sangat ambisius
3. Kikir yang sangat (bakhiil)
4. Kurang Waro’ (berhati-hati terhadap sesuatu yang tidak halal)
5. Lupa akhirat.”

(Dinukil dari Kitab “Iiqoodz Ulil Himaamil ‘Aaliyah”)

(14) Harusnya Ada Pada Seorang Sahabat / Kawan Baik

Berkata Imaam Al Ghodzaaly رحمه الله :
Orang yang diutamakan boleh menjadi seorang sahabat (kawan baik) adalah yang memiliki lima karakter :
1. Berakal (pintar)

2. Berakhlaq baik

3. Tidak faasiq

4. Tidak melakukan kebid’ahan

5. Tidak ambisius terhadap dunia.”

(Dinukil dari Kitab “Ihyaa u ‘Uluumiddiin”)

(15) Kebaikan Dunia dan Akhirat

Berkata Imaam Muhammad bin Idriis Abu ‘Abdillaah Asy Syaafi’iy رحمه الله:
Kebaikan dunia dan akhirat itu terdapat pada lima perkara:

  1. Adanya rasa cukup dalam jiwa (kaya hati)
  2. Menahan diri dari melukai orang lain
  3. Mencari rizqi dari yang halaal
  4. Berpakaian taqwa
  5. Yakin terhadap Allooh سبحانه وتعالى dalam segala hal.”

(Kitab “Bustaanul ‘Aarifiin” oleh Imaam An Nawawy رحمه الله)

(16) Ciri Orang Bodoh

“Ada lima perkara jika terdapat pada seseorang berarti dia adalah orang bodoh:
1. Marah dalam segala hal

2. Percaya pada setiap orang

3. Berkata tanpa manfa’at

4. Memberi nasehat tidak pada tempatnya

5. Tidak dapat mengetahui dan membedakan siapa musuh dan siapa kawan”.

(Dinukil dari Kitab “Iiqoodz Ulil Himaamil ‘Aaliyah”)

(17) Khuluuf

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ

Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, Tidak seorang Nabi pun yang Allooh utus pada suatu kaum sebelumku, kecuali dia mempunyai para penolong dan para shohabat dari ummatnya, dimana mereka mengambil sunnahnya dan berpanutan pada perintahnya. Kemudian, muncullah setelah mereka KHULUUF, dimana mereka berkata apa yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan apa yang mereka tidak diperintahkan.

Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya maka dia adalah mu’min. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan mulutnya, maka dia adalah mu’min. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia adalah mu’min. Dan tidak ada setelah itu iimaan walaupun hanya sebesar biji sawit.”
(HR. Muslim no: 188)

(18) Karakteristik Hari Jum’at

قال سعد بن عبادة:
خمس خصال من خصائص يوم الجمعة :
فيه خلق الله آدم،
وفيه أهبط من الجنة إلى الأرض،
وفيه توفي
وفيه ساعة لا يسأل العبد فيها شيئاً إلا أعطاه إياه ما لم يسأل إثماً أو قطيعة رحم،
وفيه تقوم الساعة

Berkata Shohabat Sa’ad bin ‘Ubaadah رضي الله عنه, Dalam Islam, semua hari adalah baik, hanya hari Jum’at memiliki keistimewaan tersendiri, antara lain:

1. Pada hari itu, Allooh سبحانه وتعالى ciptakan Adam عليه السلام
2. Pada hari itu, Allooh سبحانه وتعالى turunkan Adam عليه السلام dari surga ke bumi
3. Pada hari itu, Allooh سبحانه وتعالى wafatkan Adam عليه السلام
4. Pada hari itu, tidaklah ada seorang yang bermohon (berdo’a) kepada Allooh سبحانه وتعالى, kecuali Allooh سبحانه وتعالى akan kabulkan, selama dia tidak meminta perbuatan dosa dan memutus silaturrohim
5. Pada hari itu, akan terjadi hari Kiamat.

(Dinukil dari Kitab “Irsyaadul Ibaad ilaa Sabiilil Rosyaad”)

(19) Sebaik-baik Simpanan / Tabungan

وقال الشافعي رضي الله تعالى :
أنفع الذخائر التقوى وأضرها العدوان

Artinya:

Telah berkata Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله, Simpanan yang paling bermanfaat adalah taqwa. Dan simpanan yang mencelakakan adalah permusuhan.”

(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin“)

(20) Sendi Kekufuran

قال وهب بن منبه :
للكفر أربعة أركان الغضب والشهوة والخرق والطمع

Artinya:

Berkata Wahab bin Munabbih رحمه الله, “Sendi Kekufuran itu ada empat:
1. Marah

2. Syahwat (Hawa Nafsu)

3. Mencampuradukkan antara Haq dan Baathil

4. Rakus (Tamak)

(Dinukil dari Kitab “Ihyaa Ulumiddiin”)

(21) Qonaa’ah

وعن الشافعي رحمه الله تعالى قال :
من غلبت عليه شدة الشهوة لحب الدنيا لزمته العبودية لأهلها ومن رضي بالقنوع زال عنه الخضوع

Artinya:

Telah berkata Imaam Syaafi’iy رحمه الله, Barangsiapa yang dikuasai oleh nafsu cinta dunia, niscaya dia akan berhamba kepadanya. Dan barangsiapa yang Qonaa’ah (puas apa adanya), maka akan hilang darinya sikap tunduk pada selain Allooh سبحانه وتعالى.”

(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin“)

(22) Mencuci Hati

قال عبدالملك القاسم
عجبت لمن يغسل وجهه خمس مرات في اليوم مجيباً داعي اللّه، ولا يغسل قلبه مرة في السنة ليزيل ما علق به من أدران الدنيا، وسواد القلب، ومنكر الأخلاق

Artinya:

Berkata Syaikh ‘Abdul Maalik Al Qoosim, Aku heran pada orang yang lima kali membasuh wajahnya setiap hari, memenuhi panggilan mu’adzdzin, tetapi tidak mencuci hatinya sekalipun dalam satu tahun agar menghilangkan kotoran ketergantungan terhadap dunia, kelamnya hati dan buruknya akhlaq.”

(Dinukil dari Kitab “Husnul Khuluq”)

(23) Keterpujian

وقال الشافعي رضي الله تعالى عنه:
من أحب أن يفتح الله قلبه ويرزقه العلم فعليه بالخلوة وقلة الأكل وترك مخالطة السفهاء وبعض أهل العلم الذين ليس معهم إنصاف ولا أدب

Artinya:

Telah berkata Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله, Barangsiapa yang ingin Allooh سبحانه وتعالى buka hatinya untuk ‘ilmu, maka :
1. Ber-kholwat-lah / bermunajat disaat sepi terhadap Allooh سبحانه وتعالى
2. Menyedikitkan makan
3. Tidak bergaul dengan orang bodoh
4. Tidak bergaul dengan ahli ‘ilmu yang tidak memiliki ‘adab dan keadilan.”

(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin“)

(24) Pelindung dari Syaithoon

وقال الحسن : أربعٌ من كُنَّ فيه عصمه الله من الشيطان ، وحرَّمه على النار : مَنْ ملك نفسَه عندَ الرغبة ، والرهبة ، والشهوةِ ، والغضبِ

Artinya:

Berkata Imaam Al Hasan Al Bashry رحمه الله, Empat perkara jika ada pada seseorang maka Allooh سبحانه وتعالى jaga dia dari syaithoon dan Allooh سبحانه وتعالى haromkan api neraka untuknya:

1. Menjaga mulutnya, dalam keadaan suka
2. Menjaga mulutnya, dalam keadaan benci (tidak suka)
3. Mengendalikan hawa nafsunya
4. Mengendalikan amarahnya.”

(Dinukil dari Kitab “Hilyatul Auliyaa’”)

(25) ‘Amalan Terbaik

وقال الشافعي رضي الله تعالى عنه ورحمه :
أفضل الأعمال ثلاثة :
ذكر الله تعالى
ومواساة الأخوان
وإنصاف الناس من نفسك

Artinya:

Telah berkata Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله, “Sebaik-baik ‘amalan adalah:
1. Dzikir / mengingat Allooh سبحانه وتعالى
2. Setia kawan

3. Adil terhadap diri sendiri

(Dinukil dari Kitab “Bustaanul Aarifiin”)

(26) Kunci Keberuntungan

عمرُ بنُ عبد العزيز : قد أفلحَ مَنْ عُصِمَ من الهوى ، والغضب ، والطمع

Artinya:

Berkata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz رضي الله عنه, “Sungguh beruntung orang yang terjaga dari hawa nafsu, marah, rakus.

(Dinukil dari Kitab “Hilyatul Auliyaa”)

(27) Perkara Yang Dibenci Manusia

عن محمود بن لبيد ان النبي صلى الله عليه و سلم قال : اثنتان يكرههما بن آدم الموت والموت خير للمؤمن من الفتنة ويكره قلة المال وقلة المال أقل للحساب

Artinya:

Dari Mahmuud bin Labiid رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda :
Dua perkara yang dibenci manusia :
1. Kematian, padahal dia lebih baik bagi mu’min dari pada ujian

2. Sedikit harta, padahal dia menyebabkan sedikit hisab.”

(Hadits Riwayat Imaam Ahmad رحمه الله, dan Syaikh Syu’aib Al Arna’uuth berkata sanadnya baik)

(28) Karakteristik Dunia

عن أبي عبد رب يقول : سمعت معاوية على هذا المنبر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : لم يبق من الدنيا إلا بلاء وفتنة

Artinya:

Dari Abi ‘Abdi Robb رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :
Tidak tersisa dari dunia ini kecuali cobaan dan ujian

(Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibbaan رحمه الله no: 690 dan Syaikh Syu’aib Al Arna’uuth berkata sanadnya kuat)

(29) Perkataan “Saya Tidak Tahu”

ويقول علي ابن أبي طالب –رضي الله عنه-:
لا يستحي من يعلم أن يتعلم، ولا يستحي من إذا سئل عما لا يعلم أن يقول: لا أعلم

Artinya:

Telah berkata ‘Ali Bin Abii Thoolib رضي الله عنه :
Orang yang mengetahui, tidak malu untuk belajar dan mencari tahu serta tidak malu jika dia ditanya tentang masalah yang tidak diketahui untuk mengatakan ‘Saya tidak tahu’.

(30) Lima Tanda Orang Sengsara

يقول الفضيل بن عياض -رحمه الله-:
خمس من علامات الشقوة: القسوة في القلب وجمود العين، وقلة الحياء، والرغبة في الدنيا، وطول الأمل

Artinya:

Telah berkata Al Fudhoil Bin ‘Iyaadh رحمه الله:
Ada lima tanda orang yang sengsara :

1) Hati yang keras membatu
2) Mata yang tidak pernah menangis
3) Sedikit malu
4) Cinta dunia
5) Panjang angan-angan

(31) Sholaahhuddiin dan Palestine

قال صلاح الدين الأيوبي:
إني لأستحيي من الله أن أضحك وفي القدس صليبي واحد

Artinya:

Telah berkata Sholaahhuddiin Al Ayyuuby رحمه الله:
Sungguh aku malu pada Allooh سبحانه وتعالى untuk tertawa padahal di Baitul Maqdiis masih ada seorang Nashroony.”

(32) Malu dan Kematangan Sosial

استحي أن ينظر إلي ذو عينين وأنا أكل فلا أعطيه شيئاً

Artinya:

Berkata orang shoolih zaman dahulu :
Saya malu jika ada dua mata melihat saya sedang makan, lalu saya tidak memberinya sesuatu.”

(33) Tahapan ‘Ilmu

وَاعْلَمْ أَنَّ لِلتَّعَلُّمِ سِتَّ مَرَاتِبَ :
أَوَّلُهَا حُسْنُ السُّؤَالِ :
ثَانِيهَا حُسْنُ الإِنْصَاتِ وَالاسْتِمَاعِ .
ثَالِثُهَا حُسْنُ الْفَهْمِ .
رَابِعُهَا الْحِفْظُ ،
خَامِسُهَا التَّعْلِيمُ
سَادِسُهَا وَهِيَ الثَّمَرَةُ الْعَمَلُ بِهِ وَمُرَاعَاةُ حُدُودِهِ

Artinya:

Mendapatkan ‘ilmu itu dengan enam tahapan :

1. Bertanya yang baik
2. Mendengarkan dan memperhatikan dengan baik
3. Memahami dengan baik
4. Menghafalkan
5. Mengajarkan
6. Mengamalkan.”

(Dinukil dari Kitab “Ghidzaa’ul Albaab”)

(34) Dampak Buruk Menyanyi

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِى الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ وَالذِّكْرُ يُنْبِتُ الإِيمَانَ فِى الْقَلْبِ كَمَا يُنْبِتُ الْمَاءُ الزَّرْعَ

Artinya:

Berkata ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه:

Menyanyi itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanam-tanaman; dan dzikir itu menumbuhkan iman dalam hati sebagaimana air menumbuhkan tanam-tanaman.

(Diriwayatkan oleh Imaam Al Baihaqy رحمه الله dalam Kitab “As Sunanul Kubro”)

(35) Penghalang ‘Ilmu

وَحِرْمَانُ الْعِلْمِ يَكُونُ بِسِتَّةِ أَوْجُهٍ :
أَحَدُهَا تَرْكُ السُّؤَالِ .
الثَّانِي سُوءُ الإِنْصَاتِ وَعَدَمُ إلْقَاءِ السَّمْعِ .
الثَّالِثُ سُوءُ الْفَهْمِ .
الرَّابِعُ عَدَمُ الْحِفْظِ .
الْخَامِسُ عَدَمُ نَشْرِهِ وَتَعْلِيمِهِ ،
السَّادِسُ عَدَمُ الْعَمَلِ بِهِ

Artinya:

Perkara yang menghalangi ilmu :

1. Tidak bertanya
2. Tidak mendengarkan dan memperhatikan dengan baik
3. Pemahaman yang buruk
4. Tidak menghafal
5. Tidak menyebarkan dan tidak mengajarkan ilmu
6. Tidak mengamalkan ilmu.”

(Dinukil dari Kitab “Ghidzaa’ul Albaab”)

(36) Hakekat Zuhud

قال يحيى بن معاذ: لا يبلغ أحد حقيقة الزهد حتى يكون فيه ثلاثُ خصال: عمل بلا علاقة، وقول بلا طمع، وعز بلا رياسة

Artinya:

Berkata Yahya bin Mu’adz رحمه الله:
Tidaklah seseorang sampai pada Zuhud yang sebenarnya hingga pada dirinya terdapat 3 sifat:
1. Bekerja tanpa keterkaitan (bekerja tanpa mengharap penilaian manusia)
2. Berkata tanpa rakus (berkata tanpa mengharapkan perkara duniawi yang lebih)
3. Mulia tanpa ambisi (mulia walau tanpa jabatan duniawi)

(37) Ciri-Ciri Orang ‘Aalim

يُرَادُ لِلْعَالِمِ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ :
الْخَشْيَةُ ،
وَالنَّصِيحَةُ ،
وَالشَّفَقَةُ ،
وَالاحْتِمَالُ ،
وَالصَّبْرُ ،
وَالْحِلْمُ ،
وَالتَّوَاضُعُ ،
وَالْعِفَّةُ عَنْ أَمْوَالِ النَّاسِ ،
وَالدَّوَامُ عَلَى النَّظَرِ فِي الْكُتُبِ ،
وَتَرْكُ الْحِجَابِ

Artinya:

Seorang ‘aalim itu adalah :
1. Takut pada Allooh سبحانه وتعالى
2. Memberi nasihat
3. Sayang
4. Tahan uji
5. Shobar
6. Lembut
7. Tawaadhu’
8. Bersih hati terhadap harta orang
9. Selalu membaca Kitab
10. Meninggalkan pembatas dengan manusia.”

(Dinukil dari Kitab “Ghidzaa’ul Albaab”)

(38) Jangan Taqliid

ألا لا يقلّدنّ أحدكم دينه رجلاً؛ إن آمن آمن، وإن كفر كفر؛ فإنه لا أسوة في الشرّ

Artinya:

Berkata ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه:
Janganlah seseorang ber-taqliid (mengekor) dalam perkara dien-nya (agamanya) pada orang lain. Jika dia beriman maka dia (ikut) beriman dan jika dia kaafir maka dia pun (ikut) menjadi kaafir. Sesungguhnya, janganlah ikut-ikutan di dalam kejahatan.”

(39) Hakekat Malu

عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم استحيوا من الله حق الحياء قال قلنا يا رسول الله إنا نستحيي والحمد لله قال ليس ذاك ولكن الاستحياء من الله حق الحياء أن تحفظ الرأس وما وعى والبطن وما حوى ولتذكر الموت والبلى ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء

Artinya:

Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
Malu lah kalian dengan sebenar-benar malu.

Kami bertanya, “Ya Rosuulullooh, kami punya malu. Alhamdulillah.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bukan itu, akan tetapi malu kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan sebenarnya itu adalah:
1) Kamu pelihara kepalamu dan apa yang menjadi isinya
2) Kamu pelihara perutmu dan apa yang ditampungnya
3) Ingatlah olehmu kematian dan kemusnahan
4) Dan barangsiapa yang menginginkan akherat, maka dia tinggalkan perhiasan dunia

Dan barangsiapa yang melakukan itu, maka dia sungguh telah malu kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan sesungguhnya.”

(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2458, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)

(40) Tiga Sifat Agar Tidak Aneh

قيل: ثلاث خصال ليس معهن غُربة: مجانبةُ أهل الرِّيب، وحسن الأدب.وكف الأذى

Artinya:

Ada 3 sifat yang jika dimiliki seseorang, maka ia tidak akan terasing:
1. Menjauh dari orang yang meragukan (Jangankan orang yang jelas faasiq-nya, yang tidak jelas faasiq-nya pun tidak didekatinya. Ia lebih suka bergaul dengan orang yang shoolih)
2. Berakhlaq yang santun
3. Menghentikan perkara yang menimbulkan luka atau menyakiti orang lain.”

(41) Busuknya Seorang ‘Ulama

مكحولا يقول لا يأتي على الناس ما يوعدون حتى يكون عالمهم فيهم أنتن من جيفة حمار

Artinya:

Imaam Makhuul رحمه الله berkata, “Tidak datang pada manusia apa yang dijanjikan pada kalian, sehingga seorang ‘aalim ditengah-tengah mereka lebih busuk daripada bangkai keledai.”

(Dinukil dari Kitab “Hilyatul Auliyaa’)

(42) Pentingnya Bertanya

ابن شهاب : العلم خزانة مفاتحها المسألة

Artinya:

Imaam Ibnu Syihaab رحمه الله berkata, “Ilmu itu adalah simpanan berharga. Kuncinya adalah bertanya.

(43) Sempurnanya Suatu ‘Amalan

قال أبو عبد اللَّه الباجي الزاهد رحمه اللَّه : خمس خصال بها تمام العمل : الإيمان بمعرفة اللَّه عز وجل ، ومعرفة الحق ، وإخلاص العمل لله ، والعمل على السنة ، وأكل الحلال ، فإن فقدت واحدة لم يرتفع العمل

Artinya:

Berkata Imaam Abu ‘Abdillah Al Baaji رحمه الله, Ada 5 perkara penyebab sempurnanya amalan:

1. Beriman dengan pengetahuan terhadap Allooh سبحانه وتعالى
2. Mengetahui Al Haq (kebenaran)
3. Ikhlas dalam beramal
4. Beramal diatas As Sunnah
5. Memakan makanan yang halal.

Jika salah satu dari lima perkara itu hilang, maka amalan tidak akan diangkat.

(44) Bahaya ‘Ulama Suu’

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ وَضَّاحٍ :
إِنَّمَا هَلَكَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ عَلَى يَدَيْ قُرَّائِهِمْ وَفُقَهَائِهِمْ ، وَسَتَهْلِكُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى يَدَيْ قُرَّائِهِمْ وَفُقَهَائِهِمْ

Artinya:

Berkata Imaam Muhammad bin Wadhdhooh رحمه الله:
Binasanya Bani Isroo’il itu tidak lain kecuali oleh para Pembaca dan para Fuqoha (‘Ulama) dari mereka. Dan ummat ini akan binasa juga diatas para Pembaca dan para Fuqohanya (‘Ulamanya).

(Dinukil dari Kitab “Al Bidaa’” no: 153)

(45) Al Qur’an yang Disalahgunakan

عن معاذ بن جبل قال : سيبلى القرآن في صدور أقوام كما يبلى الثوب فيتهافت يقرؤونه لا يجدون له شهوة ولا لذة يلبسون جلود الضأن على قلوب الذئاب أعمالهم طمع لا يخالطه خوف إن قصروا قالوا سنبلغ وإن أساؤوا قالوا سيغفر لنا إنا لا نشرك بالله شيئا

Artinya:

Berkata Mu’adz bin Jabbal رضي الله عنه, Al Qur’an akan rusak pada dada-dada banyak kaum, sebagaimana rusaknya baju. Mereka membacanya, sedang mereka tidak merasakan keasyikan dan kelezatannya, mereka memakai kulit-kulit domba diatas hati serigala.
Pekerjaan mereka rakus, tidak tercampur rasa takut.

Jika mereka kurang dalam beramal, mereka mengatakan, “Kita akan sampai.

Dan Jika mereka berbuat buruk, mereka mengatakan, “Kita akan diampuni, karena kita tidak menyekutukan Allooh سبحانه وتعالى dengan apa pun.”

(Sunan Ad Daarimy no: 3346)

(46) Sholat dan Kehidupan

قال أحد العلماء العارفين: إن في الصَّلاة ثلاث خصال: الإخلاص والخشية وذكر الله؛ فالإخلاص يقود العبد إلى المعروف، والخشية تنهاه عن المنكر، وذكر الله ـ القرآن ـ يأمره وينهاه، فكلُّ صلاة لا يكون فيها شيء من هذه الخلال فليست بصلاة

Artinya:

Berkata seorang ‘Ulama:
Sesungguhnya didalam sholat itu terdapat tiga karakter: Ikhlas, Takut dan Ingat pada Allooh سبحانه وتعالى. Ikhlas memandu seorang hamba pada suatu kebaikan dan takut melarangnya dari kemunkaran, sedang dengan dzikir (ingat Allooh سبحانه وتعالى) akan memerintah dan melarangnya. Maka setiap sholat yang tidak mengandung tiga perkara ini, maka dia bukanlah sholat.”

(Al Qur’an, “Minhaaj Hayaatin”)

(47) Pengeras Hati

عن عائشة رضي الله عنها: تُوْرِثُ القسوةَ في القلب ثلاثُ خصال: حبُّ الطعام، وحبُّ النوم، وحبُّ الراحة

Artinya:

Diriwayatkan dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها, “Tiga perkara penyebab kerasnya hati:
1. Hobby makan,
2. Hobby tidur,
3. Hobby istirahat.

(Dinukil dari Kitab “Jam’ul Jawaa’mi’”, karya Imaam Jalaaluddin As Suyuuthy رحمه الله)

(48) Kunci Selamat

قال بعضهم أجمع الفقهاء والعلماء على ثلاث خصال أنها إذا صحت ففيها النجاة ولا يتم بعضها إلا ببعض الإسلام الخالص عن البدعة والهوى والصدق لله تعالى في الأعمال وطيب المطعم

Artinya:

Para Fuqoha dan ‘Ulama bersepakat; ada tiga hal jika benar maka akan selamat, dimana satu sama lain saling terkait:
1. Ber-Islam yang terbebas dari Bid’ah dan Hawa’.
2. Benar terhadap Allooh سبحانه وتعالى dalam berbagai amalan
3. Memakan makanan yang baik-baik.

(Dinukil dari Kitab  “‘Ihyaa’u ‘Uluumiddiini” karya Imaam Al Ghozaaly رحمه الله)

(49) Riskannya Harta

قال عيسى -عليه السلام-: في المال ثلاث خصال: أن يأخذه من غير حله. فقيل: إن أخذه من حله؟ فقال: يضعه في غير حقه. فقيل: إن وضعه في حقه؟ فقال: يشغله إصلاحه عن ذكر الله -تعالى

Artinya:

‘Iisa عليه السلام berkata, “Pada harta itu terdapat tiga hal:
1. Mengambilnya bukan dari yang semestinya, dan jika berasal dari yang semestinya maka,
2. Membelanjakannya bukan pada tempatnya, dan jika membelanjakannya pada tempatnya, maka
3. Mengelolanya akan melalaikan dari mengingat Allooh سبحانه وتعالى.”

(Dinukil dari Kitab “Al Aadaabusy Syar’iyyah“, karya Imaam Ibnu Muflih Al Maqdisy )

(50) Orang Lain Darimu

قال يحيى بن معاذ: ليكن حظ المؤمن منك ثلاث خصال: إن لم تنفعه فلا تضره، وإن لم تسره فلا تغمه، وإن لم تمدحه فلا تذمه

Artinya:

Berkata Imaam Yahya bin Mu’adz رحمه الله, “Hendaknya mu’min itu mendapatkan darimu tiga perkara:
1. Jika kamu tidak bisa memberinya manfaat, maka janganlah memberinya bahaya
2. Jika kamu tidak bisa memberinya bahagia, maka janganlah memberinya gundah
3. Dan jika kamu tida memujinya, maka janganlah mencelanya.

(Dinukil dari Kitab “Ar Risaalah Al Qusyairiyyah“, karya Imaam Al Qusyairy رحمه الله)

(51) Menjelang Kematian

قال يوسف بن أسباط رحمه الله إني لأشتهى من الله ثلاث خصال أن أموت حين أموت وليس في ملكي درهم ولا يكون على دين ولا على عظمي لحم فأعطى ذلك كله

Artinya:

Berkata Imaam Yuusuf bin Asbaath رحمه الله, “Sungguh aku sangat berkeinginan dari Allooh سبحانه وتعالى tiga perkara:
1. Mati, sedang aku tidak mempunyai satu dirham pun
2. Tidak memiliki hutang
3. Tidak ada daging yang menempel pada tulangku.

(Dinukil dari Kitab “‘Ihyaa’u ‘Uluumiddiini” karya Imaam Al Ghozaaly رحمه الله)

(52) Obat Sakit

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

داووا مرضاكم بالصدقة

Artinya:

“Obatilah orang sakit dari kalian dengan shodaqoh.”

(Lihat “Shohiih Al Jaami’ush Shoghiir” no: 5669 dari Shohabat Abu Umaamah Al Baahily رضي الله عنه)

(53) Generasi Berikutnya Tidak Sebaik Generasi Pendahulu

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

لا يأتي عليكم زمان إلا وهو شر من الذي كان قبلكم

Artinya:

Tidaklah datang suatu zaman pada kalian, kecuali orang-orang pada zaman tersebut lebih jahat dari orang-orang yang ada pada zaman sebelum kalian.”

(Dinukil oleh Al Imaam Al Qudhoo’i dalam “Musnad Asy Syihaab” dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه)

(54) Menikahi Wanita Kaya

من تزوج غنية كان له منها خمس خصال :
مغالاة الصداق
وتسويف الزفاف
وفوت الخدمة
وكثرة النفقة
وإذا أراد طلاقها لم يقدر خوفا على ذهاب مالها

Artinya:

Berkata Imaam Al Ghozaly رحمه الله dalam Kitabnya “Ihyaa’ ‘Ulumuddiin”, “Barangsiapa menikahi wanita kaya, maka dia akan dihadapkan pada lima perkara:
1. Berlebihan dalam mahar
2. Mengundurkan walimah
3. Kehilangan khidmat
4. Besar nafaqohnya
5. Dan jika hendak menceraikannya, maka dia khawatir terhadap kepergian hartanya.”

(55) Senantiasa Muda

لَا يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ

Artinya:

Hati orangtua senantiasa muda dalam dua perkara:
1. Cinta dunia,
2. Panjang angan-angan.”

(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6420 dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه)

(56) Sempitnya Dunia

ذهب رجل إلى إبراهيم أين أدهم وقال له : يا أبا اسحق أنى مسرف على نفسي في ارتكاب المعاصي فاعرض علي ما يكون لها زاجرا ومستنقذ قال : أن قبلت خمس خصال وقدرت عليها لم تضرك المعصية ولم توبقك لذة ، قال : هات يا أبا اسحق قال : أما الأولى فإذا أردت أن تعصى الله عز وجل فلا تأكل من رزقه قال فمن أين آكل وكل ما في الأرض من رزقه ؟ قال : يأخذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتعصيه ؟ قال : لا هات الثانية : قال وإذا أردت أن تعصيه فلا تسكن شيئا من بلاده قال : هذه اعظم من الأولى يأخذا إذا كان المشرق والمغرب وما بينهما ملك له فأين أسكن ؟ قال يأخذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتسكن بلاده وتعصيه ؟ قال : هات الثالثة : قال وإذا أردت أن تعصيه وأنت تحت رزقه وبلاده فانظر موضعا لا يراك فيه فاعصه فيه قال يا إبراهيم ما هذا وهو يعلم السر و أخفي قال : يا هذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتسكن بلاده وتعصيه وهو يراك ويعلم ما تجاهر به ؟ قال : لا هات الرابعة قال : فإذا جاءك ملك الموت ليقبض روحك فقل له أخرني حتى أتوب توبة نصوحا وأعمل لله صالحا ، قال : لا يقبل مني قال : يأخذا أفأنت إذا لم تقدر أن تدفع عنك الموت لتتوب وتعلم أنه إذا جاءك لم يكن له تأخير فكيف ترجو وجه الخلاص ؟ قال : هات الخامسة قال : إذا جاءك الزبانية يوم القيامة ليأخذوك إلى النار فلا تذهب معهم قال : انهم لا يدعونني ولا يقبلون مني قال : فكيف ترجو النجاة أذن ؟ قال له يا إبراهيم حسبي حسبي ، أنا أستغفر الله وأتوب إليه ولزم العبادة والأدب مع الله حتى فارق الدنيا

Artinya:

Seseorang menemui Ibrohim bin Adham lalu berkata, “Wahai Abu Ishaq, sungguh aku orang yang berlebihan pada diriku dalam melakukan ma’shiyat. Maka sampaikanlah padaku sesuatu yang dapat membuatku jera dan menyelamatkanku.”

Ibrohim bin Adham menjawab, “Kalau kamu terima 5 perkara, dan kamu mampu melakukannya, maka tidak mengapa berbuat ma’shiyat dan kepuasanmu tak akan membinasakanmu.”

Lalu orang tadi berkata, “Coba sampaikanlah padaku.”

Ibrohim bin Adham menjawab, Adapun yang pertama, jika kamu mau berma’shiyat pada Allooh سبحانه وتعالى, maka janganlah kamu memakan rizqy yang berasal dari-Nya.

Orang itu berkata, “Darimana saya makan? Bukankah segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah rizqy dari Allooh سبحانه وتعالى?”
Kata Ibrohim bin Adham, “Yaa Fulan, pantaskah kamu memakan rizqy dari-Nya, lalu kamu berma’shiyat pada-Nya?
Orang itu berkata lagi, “Sampaikanlah yang kedua.”

Ibrohim bin Adham berkata, Jika kamu akan berma’shiyat, maka jangan tinggal di bumi-Nya.”

Orang itu berkata, “Ini lebih sulit dari yang pertama. Kalau seandainya Timur dan Barat dan antara keduanya merupakan milik Allooh سبحانه وتعالى, maka dimana aku akan tinggal?
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, pantaskah kamu makan rizqy dari-Nya, kamu tinggal di bumi-Nya, lalu kamu berma’shiyat pada-Nya?
Orang itu berkata lagi, “Sampaikan yang ketiga.”

Ibrohim bin Adham berkata, Jika engkau akan berma’shiyat, sedangkan engkau menikmati rizqy-Nya, tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat yang Allooh سبحانه وتعالى tidak melihatmu, maka lakukanlah ma’shiyat disitu.”

Orang itu berkata, “Yaa Ibrohim, apa ini? Allooh سبحانه وتعالى itu Maha Mengetahui yang tersembunyi dan apa yang kusembunyikan.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, pantaskah, kamu makan dari rizqy-Nya, kamu tinggal di bumi-Nya, kamu berma’shiyat dan Allooh سبحانه وتعالى melihatmu dan mengetahui perbuatanmu?
Orang itu berkata lagi, “Tidak. Berikan padaku yang keempat.”

Ibrohim bin Adham berkata, Jika datang padamu malakul maut untuk mencabut nyawamu, maka katakan padanya, ‘Tangguhkan aku hingga aku bertaubat nasuuha dan beramal shoolih untuk Allooh سبحانه وتعالى‘.”

Orang itu berkata, “Tidak mungkin ia menerima permintaan itu dariku.”
Ibrohim bin Adham berkata, “Yaa Fulan, jika kamu tidak mampu menolak kematian untuk bertaubat dan kamu tahu jika dia datang padamu tidak mungkin menangguhkan ajalmu, maka bagaimana kamu berharap untuk menghindar?
Orang itu berkata, “Berikan yang kelima.”

Ibrohim bin Adham berkata, Jika datang padamu malaikat Zabaaniyah pada hari Kiamat untuk menyeretmu ke neraka, maka jangan engkau ikuti dia.”

Orang itu berkata, “Malaikat itu tidak akan mungkin membiarkanku dan menerima permintaanku.
Ibrohim bin Adham berkata, “Bagaimana kamu berharap selamat kalaulah demikian?

Maka orang itu berkata, “Wahai Ibrohim, cukup… cukup.. Aku memohon ampunan Allooh سبحانه وتعالى. Aku bertaubat pada-Nya. Senantiasa beribadah dan berbuat baik pada Allooh سبحانه وتعالى, sehingga berpisah dari dunia ini.”

(Dinukil dari “Ma’a Allooh” karya Muhammad Al Ghozaly)

(57) Kriteria Seorang Hakim

عن يحيى بن سعيد ، قال : سأل عُمَر بن عَبد العزيز رضي الله عنه عن قاضي الكوفة ، وقال : القاضي لاَ ينبغي أن يكون قاضيا حتى يكون فيه خمس خصال : عفيف ، حليم ، عالم بما كان قبله ، يستشير ذوي الألباب ، لاَ يبالي بملامة الناس

Artinya:

Dari Yahya bin Sa’iid رحمه الله, beliau berkata, “’Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz رضي الله عنه bertanya tentang hakim wilayah Kuufah dan berkata, “Seorang Qoodhi (Pemutus Perkara) tidak boleh menjadi Qoodhi sehingga dia memenuhi 5 perkara:

1. Bersih hati
2. Lembut
3. ‘Aalim terhadap pejabat sebelumnya (– berupa keputusan-keputusan yang diputuskan oleh pejabat sebelumnya –)
4. Berkonsultasi pada ahli ‘ilmu
5. Tidak peduli terhadap celaan manusia.

(Kitab “As Sunan Ash Shughro” no: 4504, karya Al Imaam Al Baihaqy رحمه الله)

(58) Kriteria Mufti (Pemberi Fatwa)

قال الإمام أحمد: “لا ينبغى للرجل أن ينصب نفسه للفتيا حتى يكون فيه خمس خصال: أولها أن تكون له نية فإن لم تكن له نية لم يكن عليه نور ولا على كلامه نور، والثانية: أن يكون له علم وحلم ووقار وسكينة، الثالثة: أن يكون قويا على ماهو فيه وعلى معرفته ، الرابعة: الكفايه وإلا مضغه الناس ، الخامسة: معرفة الناس

Artinya:

Berkata Imaam Ahmad bin Hanbal رحمه الله, sebagaimana dinukil oleh Imaam Ibnu Qoyyim رحمه الله, Seseorang dilarang berfatwa, kecuali jika memenuhi 5 perkara:

1. Memiliki niat dan sebab. Jika tidak memiliki itu, maka dia tidak akan memiliki cahaya, baik pada dirinya maupun pada perkataannya.
2. Memiliki ilmu, kelembutan, tawaadhu’ dan ketenangan
3. Kuat dalam pendirian dan pengetahuannya
4. Memiliki kompetensi
5. Mengetahui keadaan orang.

(Kitab “’Iiqoodz Ulil Himamil Al ‘Aaliyah”)

(59) Ruju’nya Imaam Asy Syaafi’iy

قال الإمام الشافعي رحمه الله تعالى:
كل مسألة تكلمت فيها بخلاف السنة؛ فأنا راجع عنها؛ في حياتي وبعد مماتي

Artinya:

Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله berkata, Setiap masalah yang aku bahas tetapi menyelisihi Sunnah, maka aku ruju’ darinya di masa hidupku atau setelah matiku.

(Dinukil dari Kitab “Al Faqiih Wal Muttafaqqih” karya Al Imaam Al Khothib Al Baghdady رحمه الله)

(60) Islam Palsu

قال الإمام مالك رحمه الله تعالى : لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها؛ فما لم يكن يومئذ ديناً لا يكون اليوم دينا

Artinya:

Imaam Maalik رحمه الله berkata, “Akhir ummat ini tidak akan baik kecuali dengan apa-apa yang membuat baik generasi pendahulunya. Maka apa-apa yang pada hari itu (– di zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan para shohabatnya –) bukan merupakan dien (ajaran Islam), maka pada suatu hari kapanpun tidak bisa menjadi dien (ajaran Islam).”

(Dinukil dari Kitab “Syarof Ashaabil Hadiits” karya Al Imaam Al Khothiib Al Baghdaady رحمه الله)

(61) Pengikut Hadiits

قال الإمام الشافعي رحمه الله تعالى : إذا رأيت رجلاً من أصحاب الحديث فكأني رأيت رجلاً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم

Artinya:

Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله berkata: Jika aku melihat seorang pengikut Hadits maka seakan-akan aku melihat seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”

(Dinukil dari Kitab “Syarof Ashaabil Hadiits” karya Al Imaam Al Khothiib Al Baghdaady رحمه الله)

(62) Kekasih Iblis

قال سفيان الثوري رحمه الله تعالى:
البدعة أحب إلى إبليس من المعصية، المعصية يتاب منها، والبدعة لا يتاب منها

Artinya:

Berkata Sofyan Ats Tsaury رحمه الله, Bid’ah itu lebih dicintai oleh Iblis daripada ma’shiyat; sebab ma’shiyat itu diampuni sedang Bid’ah itu tidak diampuni.

(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’i رحمه الله)

(63) Penghidup Negeri

قال الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى:
إن لله عباداً يحيي بهم البلاد؛ وهم أصحاب السنة

Artinya:

Berkata Imaam Fudhoyl bin ‘Iyaadh رحمه الله, “Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى memiliki hamba, yang karena mereka maka negeri ini menjadi hidup. Mereka itu adalah Ahlus Sunnah.”

(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’i رحمه الله)

(64) Sedihnya Seorang Imaam

عن عبد الله بن المبارك – رحمه الله – قال:
اعلم – أي أخي – أن الموت اليوم كرامة لكل مسلم لقي الله على السنة؛ فإنا لله وإنا إليه راجعون؛ فإلى الله نشكو وحشتنا، وذهاب الإخوان، وقلة الأعوان، وظهور البدع، وإلى الله نشكو عظيم ما حل بهذه الأمة من ذهاب العلماء، وأهل السنة، وظهور البدع

Artinya:

Imaam ‘Abdullooh bin Mubaarok رحمه الله berkata,
Ketahuilah olehmu, bahwa mati pada hari ini adalah kemuliaan bagi setiap Muslim, karena dia menemui Allooh سبحانه وتعالى diatas Sunnah. Akan tetapi, innaa Lillaahi wa innaa illaihi rooji’uun, kepada Allooh سبحانه وتعالى kami mengadu atas kecemasan kami karena perginya para ikhwaan (saudara seperjuangan), sedikitnya penolong, dan munculnya ke-Bid’ahan. Kita mengadu kepada Allooh سبحانه وتعالى, betapa besar perkara yang menimpa ummat ini, karena perginya para ‘Ulama dan Ahlus Sunnah dan nampaknya ke-Bid’ahan.”

(Dinukil dari Kitab “Al Bidaa’ An Nahyu ‘Anhaa”, karya Imaam Ibnu Wadhdhoh رحمه الله)

(65) Salam untuk Ahlus Sunnah

قال سفيان الثوري رحمه الله تعالى:
إذا بلغك عن رجل بالمشرق؛ أنه صاحب سنة فابعث إليه بالسلام؛ فقد قل أهل السنة

Artinya:

Berkata Imaam Sofyan Ats Tsauury رحمه الله: “Jika sampai padamu seseorang dari Timur, sedangkan dia adalah Ahlus Sunnah, maka sampaikanlah salam (dariku). Sebab sungguh Ahlus Sunnah telah menjadi orang-orang yang langka.”

(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’i رحمه الله)

(66) Pokok-Pokok Ahlus Sunnah

قال الإمام أحمد بن حنبل؛ إمام أهل السنة رحمه الله:
أصول السنة عندنا: التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم والاقتداء بهم، وترك البدع، وكل بدعة فهي ضلالة

Artinya:

Berkata Imaam Ahmad bin Hambal رحمه الله, “Pokok-pokok Sunnah itu adalah :

1. Berpegang-teguh pada apa yang para Shohabat diatasnya, dan menjadikan mereka sebagai panutan.
2. Meninggalkan ke-Bid’ahan karena setiap ke-Bid’ahan itu adalah kesesatan.

(Dinukil dari “Syarah Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah” karya Imaam Al Laalika’i رحمه الله)

(67) Berhati-hatilah

قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم : سيكون في آخر أمتي أناس يحدثونكم ما لم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم؛ فإياكم وإياهم

Artinya:

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Akan muncul di akhir ummat ini, manusia-manusia yang menyampaikan pada kalian sesuatu yang kalian serta bapak-bapak kalian belum pernah mendengarnya (sesuatu yang baru dalam perkara Islam). Karena itu, berhati-hati dan hindarilah mereka.

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 15, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه)

(68) Pasrah

وقال بعض السلف:
قدم الإسلام لا تثبت إلا على قنطرة التسليم

Artinya:

Berkata sebagian Pendahulu Ummat (Salaf) :
Islam itu tidak ajeg, kecuali diatas jembatan pasrah.”

(Dinukil dari Kitab “Syarhus Sunnah” karya Imaam Al Baghowy رحمه الله)

(69) Menyikapi Risaalah

قال الإمام الزهري رحمه الله تعالى:
من الله الرسالة وعلى الرسول البلاغ وعلينا التسليم

Artinya:

Berkata Imaam Az Zuhry رحمه الله:
Risaalah ini berasal dari Allooh سبحانه وتعالى. Kewajiban Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah menyampaikan. Kewajiban kita adalah pasrah.”

(Dinukil dari Kitab “Syarhus Sunnah” karya Imaam Al Baghowy رحمه الله)

(70) Harom Masuk Surga

قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم :
ما من عبد يسترعيه الله رعية، يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته، إلا حرم الله عليه الجنة

Artinya:

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, Tidak seorang pun yang Allooh سبحانه وتعالى angkat dia sebagai pemimpin, kemudian ketika dia mati, dia dalam keadaan curang (dzolim) terhadap rakyatnya; maka Allooh سبحانه وتعالى haromkan baginya masuk surga.”

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 380, dari Shohabat Ma’qil bin Yasaar Al Muuzany رضي الله عنه)

(71) Sedikit Bekerja, Banyak Bicara

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ لاَ يَرْجِعُونَ حَتَّى يَرْتَدَّ عَلَى فُوقِهِ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ ». قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : « التَّحْلِيقُ

Artinya:

Dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, Akan terjadi di tengah ummatku perselisihan dan perpecahan; kaum yang mereka itu indah dalam berbicara dan buruk dalam beramal. Mereka membaca Al Qur’an, tidak melewati kerongkongannya, mereka keluar dari Islam seperti keluarnya panah dari busurnya, tidak lagi kembali ke tempat semula. Mereka adalah sejahat-jahat makhluk. Berbahagialah siapa yang memerangi mereka, atau yang diperangi. Kaum tersebut menyeru pada Kitab Allooh سبحانه وتعالى, padahal mereka bukan sama sekali bagian darinya. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka Allooh سبحانه وتعالى berhak menolongnya memerangi (kaum tsb).”
Para Shohabat bertanya, “Ya Rosuulullooh, apa tanda-tanda mereka?
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Kepalanya botak.”

(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4767, dan Imaam Ahmad no: 13338, dan Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth berkata bahwa sanadnya shohiih)

(72) Meruqyah Diri Sendiri

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِى الْعَاصِ الثَّقَفِىِّ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَجَعًا يَجِدُهُ فِى جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Artinya:

Dari ‘Utsman bin ‘Abil ‘Ash Tsaqoofy رضي الله عنه, bahwa beliau mengadu kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan sakit yang dideritanya pada tubuhnya.
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab kepadanya, “Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit, lalu bacalah “Bismillaah (Dengan nama Allooh)” (3X), dan bacalah 7X “A’uudzubillaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (Aku berlindung kepada Allooh dan kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang kualami dan aku menghindar darinya)”.

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5867)

(73) Kiat Menghindar Dari Bala’

عن عُثْمَانَ ابْنَ عَفَّانَ – يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُمْسِىَ

Artinya:

Dari ‘Utsman bin Affaan رضي الله عنه berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa yang membaca “Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma’a ismihi syai’un fil ardhi wa laa fissamaa’i wa huwa as samii’u al ‘aliimu (Dengan nama Allooh yang tidak akan dapat memberi bahaya sesuatu apa pun bersama nama-Nya di bumi maupun di langit, dan Allooh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)” (3X), maka dia tidak akan terkena Bala’ mendadak hingga pagi hari, dan barangsiapa membacanya di pagi hari 3X, maka dia tidak akan dikenai bahaya mendadak hingga petang hari.”
(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 5090 dan Imaam At Turmudzy no: 3388)

(74) Imunisasi Generasi Dari Syaithoon

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

Artinya:

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
Seandainya seorang dari kalian ketika hendak mendatangi (berjima’) dengan istrinya, lalu berdoa sebelumnya “Bismillaah Alloohumma jannibnaasy syaithoona wa jannisbisy syaithoona maa rozaqtanaa (Dengan nama Allooh, ya Allooh, jauhkanlah kami dari syaithoon dan jauhkan syaithoon dari apa yang Engkau karuniakan pada kami)”.

Maka sesungguhnya, jika ditakdirkan dari keduanya itu anak maka syaithoon tidak bisa membahayakannya selamanya.”
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 7396 dan Imaam Muslim no: 3606)

(75) Menyikapi Kesalahan

قال ابن المبارك المؤمن يطلب المعاذير و المنافق يطلب العثرات

Artinya:

Berkata Imaam ‘Abdullooh bin Al Mubaarok رحمه الله, “Seorang mu’min mencari permakluman, sedangkan seorang munafiq mencari cacat.”
(Dinukil dari Kitab “Ihya ‘Ulumuddiin” karya Imaam Al Ghodzaly رحمه الله)

(76) Mujaahirun

عن أَبَي هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Artinya:

Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Setiap ummatku selamat kecuali Al Mujaahirin, dimana termasuk bagian dari Mujaahirin adalah seseorang mengamalkan suatu amalan di waktu malam, dimana pada waktu pagi Allooh سبحانه وتعالى telah tutupi aibnya, lalu orang itu mengatakan “Ya Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu”; semalam Allooh سبحانه وتعالى tutupi aibnya, dan di pagi hari dia singkap apa yang telah Allooh سبحانه وتعالى tutupi.”

(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6069)

(77) Cinta Al Qur’an

وقال عثمان بن عفان: لو طهرت قلوبنا ما شبعت من كلام ربنا

Artinya:

Berkata ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه, “Seandainya hati-hati kita bersih, maka dia tidak pernah akan merasa kenyang dengan firman Allooh سبحانه وتعالى.”
(Dinukil dari “Al ‘Aadaab Al Islaamiyyah Linnaasyi’ah” karya Muhammad Khoyr Faathimah)

(78) Berlindung dari Tetangga yang Buruk

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول :  اللهم إني أعوذ بك من جار السوء في دار المقاومة فإن جار البادي يتحول 

Artinya:

Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم berdo’a,”Ya Allooh, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jelek di negeri pemukiman. Sesungguhnya tetangga yang tidak tetap itu berpindah-pindah.”
(Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibban no:1033, berkata Syaikh Syuaib Al Arnaa’uth sanad hadits ini Hasan)

(79) Honor Pelacur dan Dukun

عن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن ثمن الكلب ومهر البغي وحلوان الكاهن

Artinya:

Dari Abu Mas’uud Al Anshoory رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melarang:
1. Nilai jual beli anjing
2. Hasil honor pelacuran
3. Uang bayaran dukun.
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2122)

(80) Diantara Penghapus Dosa

عن أبي مسعود الأنصاري عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya:

Dari Abu Saa’id Al Khudry dan Abu Hurairoh رضي الله عنهما, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidaklah rasa capai, sakit, bingung, sedih, luka dan gundah menimpa seorang Muslim, hingga duri yang menusuknya, kecuali Allooh سبحانه وتعالى hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.
(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5642 dan 5643)

(81) Anti Pengangguran

قال عبد الله بن مسعود إني لأبغض الرجل أن أراه فارغا ليس في شيء من عمل الدنيا ولا في عمل الآخرة

Artinya:

‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه berkata, Sungguh aku benci seorang yang aku lihat menganggur, tidak bekerja dalam urusan dunia dan tidak bekerja dalam urusan akhirat.

(Dikutip dari “Shifatush Shofwah” no: I/414 karya Ibnul Jauzy رحمه الله)

(82) Nasehat Ali bin Abi Thoolib kepada ‘Umar bin Al Khoththoob # 1

عن ابن عباس قال : قال عمر لعلي : عظني يا أبا الحسن قال : لا تجعل يقينك شكا ولا علمك جهلا ولا ظنك حقا واعلم أنه ليس لك من الدنيا إلا ما أعطيت فأمضيت وقسمت فسويت ولبست فأبليت قال : صدقت يا أبا الحسن

Artinya:

Dari ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه, beliau berkata, “’Umar bin Al Khoththoob رضي الله عنه berkata kepada Ali رضي الله عنه: “Berilah aku nasehat, wahai Abul Hasan.”
Maka berkatalah Ali bin Abi Thoolib رضي الله عنه,
Janganlah jadikan yakinmu ragu. Janganlah jadikan ilmumu bodoh. Janganlah jadikan prasangkamu benar. Dan ketahuilah, bahwa kamu tidak berhak dari dunia ini kecuali dari apa yang diberikan kepadamu, lalu engkau menerimanya, lalu engkau bagi, lalu engkau sama ratakan, lalu engkau pakai, lalu rusak.”

Berkata ‘Umar bin Al Khoththoob رضي الله عنه, “Benar engkau, wahai Abul Hasan.”
(Dari Kitab “Mukhtashor Tariikh Dimasyqo” karya Ibnu Mandzuur رحمه الله)

(83) Nasehat Ali bin Abi Thoolib kepada ‘Umar bin Al Khoththoob # 2

عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه أنه قال لعمر : يا أمير المؤمنين إن يسرك أن تلحق بصاحبيك فأقصر الأمل وكل دون الشبع وانكس الإزار وارفع القميص واخصف النعل تلحق بهم

Artinya:

Dari Ali bin Abi Thoolib رضي الله عنه, bahwa beliau berkata kepada ‘Umar رضي الله عنه:
Wahai Amiirul Mu’miniin, jika engkau senang menyusul kedua Shohabatmu (– maksudnya: Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه – pent.) maka:
1. pendekkan angan-anganmu
2. makanlah tidak kenyang
3. tinggikan sarung (celana) (– maksudnya: tidak isbal – pent.)
4. tinggikan baju (– maksudnya: tidak isbal – pent.)
5. pendekkan langkah sandalmu,
niscaya engkau bisa menyusul mereka.”
(Dari Kitab “Mukhtashor Tariikh Dimasyqo” karya Ibnu Mandzuur رحمه الله)

(84) Obat Al ‘Aiin

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَىْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

Artinya:

Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda, Al ‘Aiin (– penyakit yang disebabkan oleh sorot pandang mata yang dengki – pent.) adalah benar (kejadiannya). Seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir, maka ‘Aiin lah pendahulunya, dan jika kalian diminta untuk mandi (– sebagai obat bagi orang yang terkena ‘aiin-nya – pent.) maka mandi lah.”

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5831)

(85) Imunisasi dari Al ‘Aiin # 1

عن أبي سعيد قال : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يتعوذ من عين الجان وعين الإنس فلما نزلت المعوذتان أخذ بهما وترك ما سوى ذلك

Artinya:

Dari Abu Saa’id رضي الله عنه berkata, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berlindung dari ‘aiin jin maupun ‘aiin manusia. Ketika Al Mu’awwidzataan (Al Qur’an surat Al Falaq dan An Naas) turun, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mencukupkan dengan keduanya dan meninggalkan dari selainnya.”

(Hadits Riwayat Imaam An Nasaa’I no: 5494, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله)

(86) Imunisasi dari Al ‘Aiin # 2

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

Artinya:

Dari ‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنهما, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memohon perlindungan kepada Allooh سبحانه وتعالى untuk Al Hasan dan Al Husein رضي الله عنهما, seraya bersabda, “Sesungguhnya bapak (– Ibroohiim عليه السلام – pent.) kalian memohon perlindungan kepada Allooh سبحانه وتعالى untuk Isma’il عليه السلام dan Ishaq عليه السلام dengan membaca “ ‘A’uudzu bikalimaatillaahit taammat min kulli syaithoonin wa Haammaatin wa min kulli ‘aiinin laammatin (Aku berlindung pada firman-firman Allooh سبحانه وتعالى yang sempurna dari setiap syaithoon dan dari setiap yang berbisa serta dari setiap ‘aiin yang tercela).”

(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3371)

(87) Berlindung dari Tetangga yang Buruk

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول : اللهم إني أعوذ بك من جار السوء في دار المقاومة فإن جار البادي يتحول

Artinya:

Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم membaca, Alloohumma inni ‘a’uudzu bika min jaarissuu’I fii daaril muqowwamati fa inna jaarobaadii yatahawwalu (Ya Allooh, sungguh aku berlindung kepadamu dari tetangga yang jelek, di negeri pemukimanku, sebab sesungguhnya tetangga musafir pendatang itu adalah berpindah-pindah).”

(Hadits Riwayat Imaam Ibnu Hibban no: 1033, dan menurut Syu’aib Al Arnaa’uth sanadnya adalah Hasan)

(88) Ketaqwaan dan Keilmuan Seseorang

عن أبي الدرداء قال لا تكون تقيا حتى تكون عالما ولا تكون بالعلم جميلا حتى تكون به عاملا

Artinya:

Abu Darda رضي الله عنه berkata, Engkau tidak akan menjadi orang yang bertaqwa sehingga engkau menjadi orang yang ‘aalim. Dan engkau tidak akan tampak indah (mulia) dengan ilmu itu sehingga engkau mengamalkannya.”

(Dari Kitab “Jaami’ Bayaanil ‘Ilmy” karya Ibnu ‘Abdil Barr رحمه الله)

(89) Keutamaan Infaq

قال أبي أمامة : أيها الناس لأنتم أضل من أهل الجاهلية إن الله تعالى قد جعل لأحدكم الدينار ينفقه في سبيل الله بسبعمائة دينار والدرهم بسبعمائة درهم ثم إنكم صارون

Artinya:

Abu Umamah رضي الله عنه berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian adalah lebih sesat dibandingkan dengan kaum Jahiliyyah. Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى telah menjanjikan salah seorang dari kalian 1 dinar yang diinfaqkan di jalan Allooh سبحانه وتعالى untuk dilipatgandakan menjadi 700 dinar. Dan berinfaq 1 dirham dengan pahala 700 dirham. Namun walau demikian, kalian tetap enggan.
(Dari Kitab “Kanzul Ummal” oleh Al Muttaqii Al Hindy no: 44238)

(90) Lebih Baik daripada Jihad

عن علي الأزدي قال سألت ابن عباس عن الجهاد فقال ألا أدلك على ماهو خير لك من الجهاد تبني مسجدا تعلم فيه القرآن وسنن النبي صلى الله عليه وسلم والفقه في الدين

Artinya:

Dari Al Azdy رحمه الله berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas رضي الله عنه tentang Jihad.”
Beliau رضي الله عنه menjawab, “Maukah kutunjukkan padamu sesuatu yang lebih utama daripada Jihad?

Aku mengatakan, “Tentu.”
Beliau رضي الله عنه berkata, Engkau bangun masjid, lalu engkau ajari ilmu waris (faro’idh) didalamnya, juga sunnah dan pemahaman tentang dienul Islam.”

(Dari Kitab “Jaami’ Bayaanil ‘Ilmy” oleh Ibnu ‘Abdil Barr رحمه الله)

(91) Mencari Ridho Allooh atau Ridho Manusia

عن عبد الوهاب ابن الورد عن رجل من أهل المدينة قال : كتب معاوية إلى عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها أن اكتبي إلي كتابا توصيني فيه ولا تكثري علي فكتبت عائشة رضي الله عنها إلى معاوية سلام عليك أما بعد فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول من التمس رضاء الله بسخط الناس كفاه الله مؤنة الناس ومن التمس رضاء الناس بسخط الله وكله الله إلى الناس والسلام عليك

Artinya:

Dari ‘Abdul Wahaab bin Al Wirdh, dari seseorang diantara penghuni Madinah berkata, “Mu’awiyyah رضي الله عنه telah menulis kepada ‘Aa’isyah رضي الله عنها (ummul mu’minin) :
Tulislah padaku suatu tulisan yang didalamnya engkau menasehatiku dan jangan engkau perbanyak.”
Maka ‘Aa’isyah رضي الله عنها pun menulis kepada Mu’awiyyah رضي الله عنه
Selamat atasmu:
Amma Ba’du,
Sungguh aku mendengar Rosuulullooh
صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa mencari ridho Allooh سبحانه وتعالى dengan kemurkaan manusia, maka Allooh سبحانه وتعالى akan cukupkan dia dari beban manusia. Dan barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan murka Allooh سبحانه وتعالى, maka Allooh سبحانه وتعالى akan membiarkan dia tergantung pada manusia. Wassalamu’alaika.”
(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2414, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله)

(92) Iman dan Akhlaq Terpuji

قال عبد الله بن مسعود لا يبلغ عبد حقيقة الإيمان حتى يحل بذروته حتى يكون الفقر أحب إليه من الغنى والتواضع أحب إليه من الشرف وحتى يكون حامده وذامه عنده سواء قال ففسرها أصحاب عبد الله قالوا حتى يكون الفقر في الحلال أحب إليه من الغنى في الحرام والتواضع في طاعة الله أحب إليه من الشرف في معصية الله وحتى يكون حامده وذامه عنده في الحق سواء

Artinya:

Berkata ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, “Tidak akan seorang hamba sampai pada hakekat imaan sehingga menempati puncaknya (– puncak imaan –), kecuali :
1. Dia lebih mencintai faqiir, daripada mencintai kaya
2. Dia mencintai tawaadhu’, daripada kehormatan
3. Dia menganggap sama orang yang memuji dan mencelanya.”

(Dikutip dari “Shifatush Shofwah” no: I/417 karya Ibnul Jauzy رحمه الله)

(93) Tiga Jalan Selamat

عن عبد الله بن مسعود أتاه رجل فقال يا أبا عبد الرحمن علمني كلمات جوامع نوافع فقال له عبد الله لاتشرك به شيئا وزل مع القرآن حيث زال ومن جاءك بالحق فاقبل منه وإن كان بعيدا بغيضا ومن جاءك بالباطل فاردده عليه وإن كان حبيبا قريبا

Artinya:

Telah datang seseorang kepada ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه lalu berkata, “Wahai Abu ‘Abdurrohmaan, ajarilah aku kalimat yang padat tapi bermanfaat.
Maka ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه menjawab:
1. Janganlah engkau menyekutukan Allooh سبحانه وتعالى
2. Selalu lah engkau bersama Al Qur’an dimanapun dan kapan pun
3. Barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebenaran, maka terimalah darinya, betapa pun orang itu sangat jauh dan dibenci. Dan barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebaathilan, maka tolaklah darinya, betapa pun orang itu sangat dicinta dan dekat.”

(Dikutip dari “Shifatush Shofwah” no: I/419 karya Ibnul Jauzy رحمه الله)

(94) Tertawalah dan Menangislah

عن الحسن ومسلم ابن أبي عمران قالا قال سلمان أضحكني ثلاث وأبكاني ثلاث
قالوا وما هي يا سلمان قال أبكاني فراق الأحبة محمد وحزبه وهول المطلع عند سكرة الموت وموقفي بين يدي الرحمن لا أدري أساخط علي هو أم راض

قالوا وما أضحكك يا سلمان قال مؤمل الدنيا والموت يطلبه وغافل وليس بمغفول عنه وضاحك ملء فيه لا يدري ما يفعل الله به

Artinya:

Dari Al Hasan dan Muslim bin Abi ‘Imroon berkata, “Telah berkata Salman Al Faarisy رضي الله عنه : 3 perkara telah membuatku tertawa dan 3 perkara telah membuatku menangis.”

Mereka berkata, “Apa itu, wahai Salman?
Salman رضي الله عنه berkata, “Membuatku menangis:
1. Berpisah dengan orang-orang yang kucintai, Muhammad صلى الله عليه وسلم dan pengikutnya
2. Dahsyatnya saat sakarotul maut,
3. Berdiriku di hadapan Allooh سبحانه وتعالى, sedangkan aku tidak tahu, marahkah Allooh سبحانه وتعالى padaku atau ridho’.”
Mereka berkata, “Dan apa yang membuatmu tertawa, wahai Salman?
Salman رضي الله عنه menjawab, “
1. Berangan-angan panjang dalam urusan dunia, padahal mati sedang menjemputnya
2. Lalai, padahal dia tidak dilalaikan
3. Tertawa memenuhi mulutnya, sedangkan dia tidak tahu apa yang akan Allooh سبحانه وتعالى perbuat padanya.”
(Dari Kitab “Thobaqootusy Syaafi’iyyatil Kubro” karya Imaam Taajuddiin As Subki رحمه الله)

(95) Menghidupkan Bid’ah dan Mematikan Sunnah

قال ابن عباس رضي الله عنهما: ابن عباس قال ما يأتى على الناس من عام إلا أحدثوا فيه بدعة وأماتوا فيه سنة حتى تحيى البدع وتموت السنن

Artinya:

‘Abdullooh bin ‘Abbas رضي الله عنه berkata, Tidaklah suatu tahun datang pada manusia, kecuali mereka pada tahun itu mengada-ada perkara Bid’ah, dan mematikan Sunnah, sehingga Bid’ah menjadi hidup dan Sunnah menjadi mati.”

(Dinukil dari Kitab “As Sunnan Al Waaridatu Fil Fitany” karya Abu ‘Amr Ad Daany III/612 no: 277)

(96) Jiwa Tokoh

قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : فِي تَقَلُّبِ الْأَحْوَالِ تُعْرَفُ جَوَاهِرُ الرِّجَالِ

Artinya:

Seorang sastrawan berkata, “Melalui berbagai gejolak kehidupan, akan diketahui kesatriaan seseorang.”
(Dinukil dari Kitab “’Aadaabud Dunya Wad Diin” I/298)

(97) Hidup adalah Menit dan Detik

دقات قلب المرء قائلة له … … إن الحياة دقائق وثوان
فارفع لنفسك بعد موتك ذكرها … … فالذكر للإنسان عمر ثاني
تذكرة المتقين

Artinya:

Detak jantung seseorang mengatakan bahwa,
Sesungguhnya hidup hanyalah menit dan detik.
Maka, tinggikanlah sebutan dirimu setelah matimu.

Sebab sebutan bagi seseorang adalah umur kedua.”

(Dinukil dari Kitab “Tadzkirotul Muttaqin” I/173)

(98) Bagian dari Hidup

قال أبو الدرداء: ابنَ آدم طأ الأرض بقدمك فإنها عن قليل تكون قبرك؛ ابن آدم إنما أنت أيام، فكلما ذهب يوم ذهب بعضك؛ ابن آدم إنك لم تزل في هدم عمرك منذ يوم ولدتك أمك

Artinya:

Berkata Abud Darda رضي الله عنه,
Wahai anak Adam, injaklah bumi dengan kakimu. Sesungguhnya kuburanmu hanya sedikit.

Wahai anak Adam, sesungguhnya hidupmu adalah hari-hari. Setiap pergi satu hari, berarti pergi pula bagian dari harimu.

Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau dalam keadaan menghancurkan umurmu, sejak dilahirkan oleh ibumu.”

(Dinukil dari Kitab “Al Jauhar An Naqi Al Multaqith Min Zuhdil Baihaqy” I/28)

(99) Menangis dari 4 Perkara

عن عقبة بن أبي الصَّهباء قال: لما ضرب ابن ملجم – لعنة الله – أمير المؤمنين علي بن أبي طالب رضوان الله عليه دخل عليه الحسن رضوان الله عليه – وهو باكٍ – فقال: ما يبكيك يا بني ؟ قال: وما لي لا أبكي، وأنت في أول يوم من الآخرة وآخر يوم من الدنيا ؟! قال يا بني، احفظ عني أربعاً وأربعاً، لا يضرك ما عملت معهن. قال: وما هن يا أبَه ؟ قال: ” أغنى الغنى العقل، وأكبر الفقر الحمق، وأوحش الوحشة العُجب، وأكرم الحسب حسن الخُلق ” . قال: يا أبَهْ هذه الأربع فأعطني الأربع. قال: ” يا بني، إياك ومصادقة الكذاب؛ فإنه يقرّب عليك البعيد، ويبعد عليك القريب. وإياك ومصادقة الأحمق؛ فإنه يريد أن ينفعك فيضرك. وإياك ومصادقة البخيل؛ فإنه يقعد عنك أحْوج ما تكون إليه. وإياك ومصادقة الفاجر، فإنه يبيعك بالتافه

Artinya:

Dari ‘Uqban bin Abi Ash Shohbaa’ رضي الله عنه, berkata, “Ketika Ibnu Muljam (– semoga Allooh SWT mengutuknya –) memukul ‘Aamiirul Mu’miniin Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه, masuklah Hasan رضي الله عنه pada beliau dalam keadaan menangis, maka berkatalah Ali رضي الله عنه, “Apa yang menyebabkanmu menangis?
Hasan رضي الله عنه menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sedangkan ayahku di hari pertama menuju akherat dan hari terakhir dari dunia (– kematian –)?”
Ali رضي الله عنه berkata, “Wahai anakku, ingatlah dariku 4 perkara, niscaya 4 perkara tidak akan membahayakanmu jika kamu mengetahuinya.”
Hasan رضي الله عنه berkata, “Apakah itu wahai ayahku?
Ali رضي الله عنه menjawab,
1. Sekaya-kaya kekayaan adalah akal,
2. Seberat-seberat kemiskinan adalah dungu,
3. Sekejam-kejam kekerasan adalah ‘Ujub (Kagum diri),
4. Semulia-mulia keturunan adalah akhlaq yang baik.”

Hasan رضي الله عنه berkata, “Wahai ayahku, ini adalah 4 perkara, berikan padaku 4 perkara yang lainnya.”
Ali رضي الله عنه menjawab, “Wahai anakku,
1. Hindarilah olehmu berteman dengan pendusta, sebab dia mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat,
2. Hindarilah olehmu berteman dengan orang dungu, sebab dia menginginkan manfaat padamu lalu membahayakanmu,
3. Hindarilah olehmu berkawan dengan orang kikir, sebab dia akan mendiamkan dari sesuatu yang kamu membutuhkannya,
4. Hindarilah olehmu duduk dengan orang faasiq, sebab dia akan menjualmu dengan harga yang hina.”

(Dinukil dari Kitab “Lubaabul ‘Aadaab” karya ‘Usaamah bin Mungqidz I/4)

(100) Aneh Pada 4 Perkara

وفي صحف موسى عجبا لمن أيقن بالنار كيف يضحك عجبا لمن أيقن بالموت كيف يفرح عجبا لمن أيقن بالقدر كيف ينصب عجبا لمن رأى الدنيا وتقلبها بأهلها كيف يطمئن إليها

Artinya:

Sungguh aneh orang yang meyakini adanya neraka, namun bagaimana dia masih tertawa?
Sungguh aneh orang yang meyakini adanya kematian, namun bagaimana dia masih bisa bersenang-senang?
Sungguh aneh orang yang meyakini takdir, namun bagaimana dia masih bersantai-santai?
Sungguh aneh orang yang melihat dunia dan gelimangnya, namun bagaimana dia masih merasa tentram?

(Dinukil dari Kitab “Faidhul Qodiir” karya Imaam Al Manaawy I/124)

(101) Pesan Khidir untuk Musa عليه السلام

وقال موسى للخضر أوصني فقال : كن بساما ولا تكن غضابا وكن نفاعا ولا تكن ضرارا وانزع عن اللجاجة ولا تمش في غير حاجة ولا تضحك من غير عجب ولا تعير الخطائين بخطاياهم وابك على خطيئتك يا ابن عمران

Artinya:

Telah berkata Musa عليه السلام terhadap Khidir, “Berilah aku pesan.”
Maka Khidir berkata,
Jadilah engkau orang yang suka tersenyum, dan jangan menjadi orang yang pemarah.
Jadilah engkau orang yang banyak memberi manfaat, dan jangan menjadi orang yang menjadi sumber bahaya (madhorot).
Cabutlah sifat membangkang, dan jangan engkau berjalan tanpa keperluan.
Jangan engkau tertawa tanpa kekaguman.
Jangan engkau mempermalukan orang yang salah karena kesalahan mereka.
Menangislah terhadap kesalahanmu, wahai putra ‘Imron
.”
(Dinukil dari Kitab “Faidhul Qodiir” karya Imaam Al Manaawy I/124)

(102) Diantara Wasiat Luqmaanul Hakiim pada Putranya

قال لقمان لابنه : يا بني لا تكثر الضحك من غير عجب ولا تمشي من غير أرب ولا تسأل عما لا يعنيك ولا تضيع مالك وتصلح مال غيرك فإن مالك ما قدمت ومال غيرك ما أخرت

Artinya:

Telah berpesan Luqmaanul Hakiim pada putranya:
Wahai anakku, jangan engkau memperbanyak tertawa tanpa kekaguman.
Jangan engkau berjalan pada jalannya.
Jangan engkau bertanya tentang perkara yang tidak berguna untukmu.
Jangan engkau sia-siakan hartamu, sedangkan engkau memperbaiki harta orang lain.
Sesungguhnya hartamu adalah apa yang engkau segerakan, dan harta selainmu adalah apa yang engkau akhirkan
.”
(Dinukil dari Kitab “Faidhul Qodiir” karya Imaam Al Manaawy I/124)

(103) Akibat Banyak Tertawa

قال عمر رضي الله عنه: من كثر ضحكه قلت هيبته ومن كثر مزاحه استخف به ومن أكثر من شيء عرف به ومن كثر كلامه كثر سقطه ومن كثر سقطه قل حياؤه ومن قل حياؤه قل روعه ومن قل روعه مات قلبه

Artinya:

Berkata ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه:
Barangsiapa yang banyak tertawa, maka akan sedikit wibawanya.
Barangsiapa yang banyak guraunya, maka dengannya dia akan rendah.
Barangsiapa yang memperbanyak sesuatu, maka dengannya dia dikenal.
Barangsiapa yang banyak berbicara, maka akan banyak salahnya.
Barangsiapa yang banyak salahnya, maka akan berkurang malunya.
Barangsiapa yang berkurang malunya, maka akan berkurang pula waro’ (kehati-hatian dalam hidup)-nya.
Barangsiapa yang bekurang waro’-nya, maka akan mati hatinya
.”
(Diriwayatkan oleh Al Imaam Al Baihaqy dalam Kitab “Syu’abul ‘Iimaan” no: 5019

(104) Keutamaan Syahiid

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطَى الشَّهِيدُ سِتَّ خِصَالٍ عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ مِنْ دَمِهِ يُكَفَّرُ عَنْهُ كُلُّ خَطِيئَةٍ وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَيُزَوَّجُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُؤَمَّنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ

Artinya:

Telah bersabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, Diberikan kepada seorang Syahiid 6 perkara pada saat darah pertamanya tercurah :

1. Dihapuskan seluruh kesalahannya
2. Diperlihatkan tempat duduknya didalam surga
3. Dijodohkan dengan bidadari
4. Diberi rasa aman dari ketakutan pada hari Kiamat
5. Diberi rasa aman dari adzab kubur
6. Diberi hiasan dengan hiasan iimaan
(Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 17783 dari Qois Al Judzaamy رضي الله عنه Menurut Syaikh Syu’aib Al Arnaa’uth Hadits ini Hasan)

(105) Ambillah Jalan Orang Shoolih Sebelum Kalian

قال حذيفة بن اليمان رضي الله عنه : كل عبادة لم يتعبد بها أصحاب رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم فلا تتعبدوا بها؛ فإن الأول لم يدع للآخر مقالاً؛ فاتقوا الله يا معشر القراء، خذوا طريق من كان قبلكم

Artinya:

Telah berkata Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه, Setiap Ibadah yang tidak pernah dikerjakan para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka jangan kalian beribadah dengannya, sebab generasi awal tidak meninggalkan kesempatan kepada generasi berikutnya, maka bertaqwalah kepada Allooh سبحانه وتعالى wahai segenap para Pembaca. Ambillah oleh kalian jalan orang shoolih sebelum kalian.”
(Dari Kitab “Al Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘Anil Ibtida’” karya Al Imaam As Suyuuthy رحمه الله)

(106) Qodho Sholat Yang Benar

قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Artinya:

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,Barangsiapa yang lupa suatu sholat atau ketiduran, maka kaffaarotnya (penghapusnya) adalah sholat ketika dia tersadar.”

(Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 1600, dari Anas bin Maalik رضي الله عنه)

Dalam riwayat lain:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى

Artinya:

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, Jika seorang dari kalian ketiduran dari sholat, atau tidak sadar meninggalkannya, maka sholatlah ketika menyadarinya, sebab Allooh سبحانه وتعالى berfirman, “Tegakkanlah sholat agar mengingat Aku”.”
(Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 1601, dari Anas bin Maalik رضي الله عنه)

(107) Wujud Lain Dari Thooghuut

Pada suatu hari muncullah seorang pemuda yang gagah perkasa, sehingga Abu Hurairoh رضي الله عنه meriwayatkan bahwa para Shohabat berkata, “Seandainya pemuda ini menjadikan kepemudaan dan kegagah-perkasaannya di jalan Allooh سبحانه وتعالى.”
Didengarnya perkataan ini oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, lalu beliau صلى الله عليه وسلم bersabda,

وَمَا سَبِيلُ اللَّهِ إِلاَّ مَنْ قُتِلَ؟ مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيُعِفَّهَا فَفِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ سَعَى عَلَى التَّكَاثُرِ فَهُوَ فِى سَبِيلِ الشَّيْطَانِ

Artinya:

Dan apakah di jalan Allooh سبحانه وتعالى itu hanya orang yang terbunuh (– syahiid — pent.)?
Barangsiapa yang berupaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya, maka dia di jalan Allooh سبحانه وتعالى.
Dan barangsiapa yang berusaha untuk menafkahi keluarganya, maka dia di jalan Allooh سبحانه وتعالى.
Dan barangsiapa berusaha untuk membersihkan hatinya (– berusaha mencari rizqy untuk mencukupi kebutuhan dirinya agar dia tidak meminta-minta kepada orang — pent.), maka dia di jalan Allooh سبحانه وتعالى.
Dan barangsiapa yang berusaha untuk berbanyak-banyak (– tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, dan ingin selalu menambah dan memperbanyak — pent.), maka dia di jalan syaithoon. Dan dalam riwayat yang lain: “… di jalan Thooghuut.”

(Hadits Riwayat Imaam Al Baihaqy dalam “As Sunnan Al Kubro” no: 18280 dan Al Imaam Ath Thobroony dalam “Al Mu’jam Al Ausath” no: 4214 dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam “Silsilah Hadits Shohiih” no: 2232 dan 3248)

(108) Cacian Terhadap Shohabat Rosuulullooh

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

Artinya:

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah bersabda, Janganlah kalian mencaci shohabat-shohabatku! Janganlah kalian mencaci shohabat-shohabatku! Demi yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan menyamai satu raupan (– tangan — pent.) bahkan tidak setengahnya.”

(Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 2540, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

(109) Wahyu Syirik

قال الله تعالى: وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Artinya:

Allooh سبحانه وتعالى berfirman, Dan sesungguhnya syaithoon-syaithoon itu memberikan wahyunya kepada para walinya, agar mereka mendebat kalian; dan jika kalian taati mereka maka sesungguhnya kalian benar-benar menjadi orang-orang musyrik.
(QS. Al An’aam (6) ayat 121)

(110) Tidak Wajib Taat Dalam Ma’shiyat

قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم : السمع والطاعة على المرء المسلم، فيما أحب وكره، ما لم يؤمر بمعصية، فإذا أمر بمعصية؛ فلا سمع ولا طاعة

Artinya:

Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda, “Mendengar dan taat itu wajib atas seorang Muslim, baik dalam perkara yang dia suka, maupun yang dia benci; selama tidak diperintah dengan ma’shiyat. Jika diperintah ma’shiyat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar dan taat.”

(Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 7144, dari ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه)

(111) Ketaatan Yang Tidak Mutlak

Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

سَيَلِيأُمُورَكُمْبَعْدِي،رِجَالٌيُطْفِئُونَالسُّنَّةَ،وَيَعْمَلُونَبِالْبِدْعَةِ،وَيُؤَخِّرُونَالصَّلاَةَعَنْمَوَاقِيتِهَافَقُلْتُ : يَارَسُولَاللهِ،إِنْأَدْرَكْتُهُمْ،كَيْفَأَفْعَلُ؟قَالَ : تَسْأَلُنِييَاابْنَأُمِّعَبْدٍكَيْفَتَفْعَلُ؟لاَطَاعَةَ،لِمَنْعَصَىاللَّهَ

Artinya:

Akan mengurusi perkara kalian orang-orang setelah aku, dimana mereka memadamkan sunnah, mereka mengerjakan Bid’ah, mereka mengakhirkan sholat dari waktu-waktunya.

Lalu aku (‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه) bertanya, “Wahai Rosuulullooh, jika aku mengalami zaman mereka, bagaimanakah aku harus berbuat?

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Wahai Ibnu ummi ‘abdin, engkau bertanya apa yang harus engkau perbuat? Tidak ada ketaatan terhadap siapapun yang berma’shiyat pada Allooh سبحانه وتعالى.”

(HR. Ibnu Maajah no: 2865, di-Shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam Shohiih Sunnan Ibnu Maajah)

(112) Semakin Kufur Semakin Merusak

(وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ)

Artinya:

Dan berkatalah Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi” – [QS. Ghafir (40) : 26]

📌 Perhatikan :

Namanya KUFUR itu, bukan melahirkan rasa aman, apalagi toleransi….
Justru mendatangkan rasa takut,
walaupun dia “TUHANNYA” sekalipun…..
Gejala takut itu hingga tampak dari membabi buta dari BURUK SANGKA, HINGGA MEMBUNUH Nabi sekalipun….
SEMAKIN KUFUR SEMAKIN MERUSAK…..
tetapi TIDAK TERASA….

(Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd)

(113) Sesat Menyesatkan

عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالاً فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا)

Artinya

Dari ‘Abdullőh Bin Amr Bin Al ‘Ãsh رضي الله عنه, beliau berkata : “Aku mendengar Rosūlullőh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Allőh سبحانه وتعالى tidak akan mencabut ‘ilmu sekaligus dari manusia. Akan tetapi, Allőh mencabut dan mengangkat ‘ilmu itu dengan mewafatkan para Ulama. Ketika tidak tersisa dari para Ulama, maka manusia mengambil pemimpin-pemimpin yang jãhil. Maka mereka pun ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ‘ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” – (HR. Al Bukhőry no: 100 dan HR. Muslim no: 2673)

📌 RENUNGAN :

Ulama Ahlus Sunnah yang faqīh ‘ilmu-nya, mereka adalah PENJAGA….
‘Ulama adalah PEMIMPIN,
‘Ulama adalah MUFTI (yang mengeluarkan Fatwa)….
Ummat menjadi KACAU, TERSESAT, bahkan KEHANCURAN DUNIA semakin menjemput adalah pada saat GHOIB-nya ‘ULAMA…..

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(114) Bergandeng Tangan dalam Merusak

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌا

Artinya:
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” – [QS. Al-Anfal (8) : 73]

📌 RENUNGAN :

Ibnu Katsĩr رحمه الله dalam tafsirnya berkata :

” ومعنى قوله “إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير” أي إن لم تجانبوا المشركين وتوالوا المؤمنين وإلا وقعت فتنة في الناس وهو التباس. الأمر واختلاط المؤمنين بالكافرين فيقع بين الناس فساد منتشر عريض طويل.

Jika kalian TIDAK MENJAUHI MUSYRIKIN, jika kalian TIDAK LOYAL PADA MU’MININ, maka FITNAH pastilah akan MENIMPA manusia, perkara menjadi bias dan mu’min akan bercampur baur dengan orang-orang kafir; sehingga mengakibatkan di tengah manusia terjadi kerusakan yang tersebar, merebak dan dalam waktu yang lama

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd ~)

(115) Kunci Hindari Petaka

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
رواه البخاري 6744 ومسلم : 2380 وأحمد :10127

Artinya

Telah menceritakan kepada kami Ismail: Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Abu Zinad, dari Al A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi sholallõhu ‘alaihi wassallam, beliau bersabda: “Biarkanlah apa yang akau tinggalkan untuk kalian, hanyasanya orang-orang sebelum kalian binasa, karena mereka gemar bertanya dan menyelisihi Nabi mereka; jika aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah, dan apabila aku perintahkan kalian dengan sesuatu maka kerjakanlah semampu kalian.”

📌 RENUNGAN :

Tidak mudah TIDAK MENYELISIHI NABI Dan TIDAK NGEYEL itu….
Sebagaimana…
Tidak mudah MENDAPAT TAUFIQ untuk SENANTIASA menapaki HIDUP ini SESUAI dengan TUNTUNAN NABI….
Karenanya….
Kebanyakan manusia menjadi TERSESAT…..

الله المستعان

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd ~)

(116) Yang Manakah Kita ?

عن أبي كَبْشَةَ الأَنَّمَارِيُّ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :
إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ،
وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ،
وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ.
رواه الترمذي (2325) ، وأحمد (18031) وقال الترمذي : ” هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ” ، وصححه الألباني في “صحيح سنن الترمذي “.

Artinya:
Dari Abu Kabsyah Al Anmari ia mendengar صلى الله عليه وسلم bersabda:
Tiga Hal, aku bersumpah atasnya dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.”

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
(1) “Tidaklah harta seorang berkurang karena sedekah,
(2) Tidaklah seseorang diperlakukan secara lalim lalu ia bersabar, melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya, dan
(3) Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta, melainkan Allah akan membukakan pintu kemiskinan untuknya — atau kalimat sepertinya.”

Dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Dunia itu untuk empat orang :

Pertama, seorang hamba yang dikarunia Allah harta dan ilmu, dengan ilmu ia bertakwa kepada Allah dan dengan harta ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allah memiliki hak padanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik,

Kedua, selanjutnya hamba yang diberi Allah ilmu tapi tidak diberi harta, niatnya tulus, ia berkata: ‘Andai saja aku memiliki harta, niscaya aku akan melakukan seperti amalan si fulan‘, maka ia mendapatkan apa yang ia niatkan; pahala mereka berdua sama,

Ketiga, selanjutnya hamba yang diberi harta oleh Allah tapi tidak diberi ilmu, ia melangkah serampangan tanpa ilmu menggunakan hartanya, ia tidak takut kepada Rabb-nya dengan harta itu dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah padanya, ini adalah tingkatan terburuk,

Keempat, selanjutnya orang yang tidak diberi Allah harta atau pun ilmu, ia bekata: ‘Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan yang serampangan mengelola hartanya‘, dan niatnya benar, dosa keduanya sama.”

Al Imãm At Turnudzy berkata hadits ini hasan shohīh dan syaikh Nashiruddin Al Albany juga men-shohīh-kannya.

📌 RENUNGAN :

HARTA, ILMU dan NIAT adalah begitu urgennya, sehingga memungkinkan kita menjadi BERKEDUDUKAN MULIA dalam pandangan Allőh سبحانه وتعالى.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(117) ADZAB ALLŐH YANG MANA YANG ANDA SUKA ?

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
[Surat Al-Ankabut 40]

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya HUJAN BATU KERIKIL dan diantara mereka ada yang ditimpa SUARA KERAS YANG MENGGUNTUR, dan diantara mereka ada yang Kami BENAMKAN KE DALAM BUMI, dan diantara mereka ada yang Kami TENGGELAMKAN, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi MEREKA LAH YANG MENGANIAYA DIRI MEREKA SENDIRI.”

RENUNGAN :

Telah berlalu pada ummat manusia berbagai kaum dan bersama itu pula telah Allőh utus berbagai Nabi dan Rosūl….

Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã dengan Rohmat-Nya menghendaki agar manusia selamat dan bahagia di dunia dan di Akherat….

Tetapi…

Karena manusia menolak Rohmat Allőh…
menolak pedoman Utusan Allőh….

Dan MEMPERTUHANKAN KEHENDAKNYA,
maka MURKA DAN PETAKA yang Allőh RASAKAN pada mereka.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(118) MASING-MASING

(قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ)
[Surat Al-Baqarah : 139]

“Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati“.

RENUNGAN :

Jika manusia menolak diseru untuk meyakini ISLAM sebagai PEDOMAN HIDUP, dan tetap pada KESYIRIKAN DAN KEKUFURANnya, maka PILIHANNYA adalah: BAGI KALIAN AMALAN KALIAN DAN BAGI KAMI JUGA AMALAN KAMI.

Jika kalian tetap di jalan itu maka kami akan tetap di jalan TAUHID.

Sudahkan kita berani berbeda karena memang keyakinan dan pedoman kita berbeda ?

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

(119) KARAKTER PERUSAK

(إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ)
[Surat Al-Qasas : 4]

Sesungguhnya FIR’AUN telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan MENJADIKAN PENDUDUKNYA BERPECAH-BELAH, dengan MENINDAS SEGOLONGAN DARI MEREKA, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

RENUNGAN :

Banyak yang TIDAK SADAR…
Bahwa FIR’AUN itu bukan sekedar PENGUASA,
tetapi PERUSAK BUMI

Perilakunya SEWENANG-WENANG…

MEMECAH BELAH RAKYATNYA BERKEPING-KEPING….

Yang satu seolah dimuliakan, yang lain di hinakan….

Yang satu diangkat, yang lain dijatuhkan….

Yang satu diakui, yang lain diusir…

Yang laki-laki dibunuh, yang perempuan diberi kehidupan…

Yang laki-laki dijadikan seperti perempuan, yang perempuan dijadikan seperti laki-laki….

Yang laki-laki tidak dikembangkan menjadi pemimpin dan ksatria, sementara yang perempuan diusung agar memimpin dan berkuasa…

maka…

FIR’AUN adalah PERUSAK

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(120) KITA TINGGAL MENGIKUTI

(وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ)
[Surat Az-Zumar : 55]

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.”

RENUNGAN :

Sadarlah…

ADZAB ALLŐH itu bisa saja menjemput anda TIBA TIBA…

Tanpa ANDA MENYADARINYA dan MEMPERHITUNGKAN SEBELUMNYA….

Anda ingin terbebas dari ancaman itu?
Anda ingin tenang dari ancaman itu?
Anda ingin selamat?
Anda ingin berakhir dari hidup ini dengan tenang dan penuh kebaikan?
Anda ingin hidup tenang dan tentram?

IKUTI ISLAM…
IKUTI AJARAN YANG BERASAL DARI ALLŐH…
IKUTI WAHYU…
IKUTI AL QUR’AN…
IKUTI MUHAMMAD ROSŪLULLŐH DENGAN SUNNAH-SUNNAHNYA…

ALLŐH YANG MEMBERI GARANSINYA PADA ANDA….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(121) LARANGAN PUTUS ASA DARI ROHMAT ALLŐH

(قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ)
[Surat Az-Zumar : 53]

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, JANGANLAH KAMU BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

RENUNGAN :

Seandainya kita adalah orang yang merasa dan mengaku “orang yang BERLEBIHAN TERHADAP DIRINYA”, dengan mengabaikan perintah Allőh, dan atau justru terjerumus ke dalam larangan Allőh….
dalam bentuk kekufuran atau kefasikan atau ma’shiyat apa saja….

Maka jangan panik…
Jangan putus asa….
Jangan putus harapan….

SEGERALAH MENGHADAP ALLŐH yang MAHA PENGAMPUN…
Atas SEGALA DOSA APAPUN….

Kita butuh untuk menyadari kesalahan dan dosa kita…

Kita dilarang putus asa dari kasih sayang Allőh…

Yakinlah bahwa dengan Maha kasih dan Maha sayang-Nya,
Allőh akan mengampuni SEGALA DOSA KITA….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

(122) LALAI

Allőh berfirman :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ)

Hai orang-orang beriman, janganlah HARTAMU dan ANAK-ANAKMU MELALAIKAN KAMU dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” ~ (QS Al Munafiqūn ayat 9)

RENUNGAN :

Bisa dibayangkan kah? …

Allőh mengajak agar kita BERUNTUNG…..

Tapi….

Tidak sedikit manusia yang justru lebih memilih RUGI….

SEKEDAR MENGINGAT ALLŐH….
Berapa banyak dari kita justru LALAI….

Kita harus SADAR….

Di dunia ini banyak hal yang menyebabkan kita menjadi lalai dan jauh dari Allőh…

Dia yang kita CINTAI dan menyebabkan kita “bahagia”….
Tapi dibalik itu semua…
Jika kita tidak pandai,
maka kita akan terbuai lalu kita lupa akan Allőh

HARTA dan ANAK …

Keduanya bisa membuat kita lupa bahkan jauh dari Allőh….

Maka SADARILAH SELALU akan langkah kita,
menjauhkan ataukah mendekatkan kita pada Allőh ?

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(123) MENGOLOK-OLOK ?

(وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ)
[Surat At-Tawbah : 65]

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?

RENUNGAN :

BESAR RESIKO MENGOLOK-OLOK ALLŐH dan ROSŪLULLŐH dan atau ISLAM itu, sedemikian rupa bisa MENGELUARKAN seseorang DARI ISLAM-nya….

Tapi di negara seperti Indonesia ini, paling tergantung NIAT si pelakunya….

ALLŐH MAHA MENGETAHUI APA YANG DIRAHASIAKAN….

MENGOLOK-OLOK ATAU BUKAN, yang pasti ALLŐH yang akan membalasnya…
Tidak di dunia ini ya paling di Akhirat….

“Urusan demikian paling YANG BERWENANG lah yang MENGUSUTNYA….”

“Kalau kita jangan MEMBIKIN KUSUT diantara kita; kan SUDAH ADA JALUR masing-masing….”

“UKHUWWAH di atas jalan ALLŐH tetap harus DIJAGA. Walau tetap harus SALING BERPESANAN diantara kita….”

Yang pasti, setiap kita akan dimintai pertanggung-jawaban pada saat MULUT DIBUNGKAM…
dan SELURUH TUBUH yang dimintai PERSAKSIAN…

Dan hati-hatilah MULUT kita, perbuatan dan sikap kita; termasuk JEMARI kita yang kita suka mejet-mejet HP…

Semua itu akan dimintai PERTANGGUNGAN-JAWAB.

والله أعلم بالصواب

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(124) KRISIS AKHLAQ

 “زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي  . فَزَمَّلوهُ حتَّى ذهَبَ عنهُ الروعُ . قالَ لخَدِيجَةَ : ( أيْ خَدِيجَةُ ، مَا لِي ، لقدْ خَشِيتُ على نفسِي ) . فأخبرَهَا الخَبَرَ ، قالتْ خَدِيجَةُ : كلَّا ، أَبْشِرْ ، فواللهِ لا يُخْزِيكَ اللهُ أبدًا ، فواللهِ إنَّكَ لَتَصِلُ الرحِمَ ، وتصدُقُ الحديثَ، وتَحْمِلُ الكَلَّ ، وتَكْسِبُ المَعْدُومَ ، وتَقْرِي الضَّيْفَ ، وتُعِينُ على نَوَائِبِ الحقِّ “.

Sepulangnya Rosūlullőh Sholallőhu ‘alaihi wassallam dari Gua Hira menerima Wahyu, beliau pulang ke rumahnya dan mengatakan kepada Khodījah rhodiyallőhu ‘anha — istrinya, “Selimuti aku, selimuti aku…”

Dan pada saat diselimuti oleh Khodijah, beliau Sholallőhu ‘alaihi wassallam mengatakan, “Wahai Khodijah, apa yang terjadi pada diriku?… Aku takut terjadi sesuatu pada diriku…”

Lalu Khodijah rhodiyallőhu ‘anha seraya menyahut, “Tidak… Justru, demi Allőh, Allőh sama sekali tidak akan menghinakanmu. Demi Allőh, engkau adalah orang yang MENYAMBUNG SILATURROHIM, BENAR DALAM BERBICARA, TAHAN UJI, MEMBANTU ORANG yang LEMAH, MENGHORMATI TAMU & MENOLONG KEBENARAN.”

Hadits yang diriwayatkan dari ‘Ã’isyah rhodhiyallőhu ‘anha, dan diriwayatkan oleh Al Imãm Al Bukhőry no: 4953 ini, menampakkan kepada kita bahwa inilah KARAKTER MANUSIA PILIHAN, bahkan sebelum menjadi Nabi & Rosūl.

Kita telah menjadi Muslim sekian lama…

Apakah karakter dan sifat ini telah ada, menjadi bakat setiap kita ?

Setelah menjadi Muslim, pastinya sifat dan karakter itu semestinya lebih dan menonjol…

Akan tetapi…

Jika ada seorang Muslim yang justru tidak ada dari sikap-sikap diatas, berarti….

Kemanusiaannya telah tercemar,
sebelum ke-Islaman-nya.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(125) AKIBAT KEBODOHAN

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ãsh, beliau berkata:
“Aku mendengar Rosūlullőh shollallőhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allőh tidak akan mencabut ‘ilmu begitu saja dari manusia, akan tetapi Allőh mencabut ‘ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama, sehingga bila tidak lagi tersisa seorang ‘ãlim pun maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, kemudian ketika mereka (pemimpin itu) ditanya maka mereka berfatwa tanpa ‘ilmu, sehingga menyebabkan mereka sendiri sesat dan menyesatkan orang lain.”
(~ HR Al Bukhőry no: 86 dan Muslim nomor: 2673 ~)

RENUNGAN :

KEBODOHAN adalah SUMBER PETAKA.

Kebodohan telah menjadikan tuannya sebagai korban…
Karena bukannya menyelamatkan…
Malah menyesatkan…

Kebodohan telah menyebabkan korban terhadap orang lain,
karena orang lain juga menjadi disesatkan…

Orang yang bodoh,
betapapun niat baiknya tidak dapat diharapkan terjadi perbaikan…
Bahkan yang pasti adalah bukan memperbaiki,
akan tetapi justru merusak…

Bukan saja sekedar merusak bumi seisinya,
akan tetapi bahkan merusak akheratnya…

Jika manusia sesat…
Berarti dia celaka…

Jika dia celaka…
Dunia sengsara,
Akherat pun neraka…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd ~)

(126) PRASANGKA PENYEBAB RUGI

Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman dalam QS. Fushshilat (41) ayat 20-23 :

حَتَّىٰ إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ * وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ * وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ * وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

(20) “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka; pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan.
(21) Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ” Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?”
(Kulit) mereka menjawab, “Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allőh, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dia lah yang menciptakan kamu yang pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.
(22) Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu; bahkan KAMU MENGIRA ALLŐH TIDAK MENGETAHUI banyak tentang APA YANG KAMU LAKUKAN.
(23) Dan ITU ADALAH DUGAANMU yang telah KAMU SANGKAKAN TERHADAP TUHAN-MU, (DUGAAN itu) telah MEMBINASAKAN KAMU, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang merugi.

RENUNGAN :

Orang kãfir mengira bahwa prasangka mereka adalah benar.

Mereka mengira bahwa di dunia ini boleh semau sendiri….

Mereka mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan setelah mereka mati….

Mereka mengira bahwa tubuh mereka, pendengaran mereka, penglihatan mereka; bahkan kulit mereka akan menjadi hancur, punah; lalu tidak bisa berbicara…

Mereka mengira bahwa kehidupan di dunia ini tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban….

Mereka mengira bahwa surga itu mereka yang menentukan….

Mereka mengira bahwa apa yang mereka sembunyikan di dalam dada mereka adalah suatu kebenaran…

Mereka mengira bahwa perbuatan mereka, ulah mereka, makar mereka, rencana jahat mereka, kedzoliman mereka tidaklah diketahui oleh Allőh Subhãnahu wa Ta’ãla…

Akhir dari prasangka yang buruk dan salah ini akan justru menjerumuskan mereka ke dalam api neraka...

Na’ūdzu billãhi min dzãlik…

Maka ambillah ibroh,
Wahai kaum Muslimin…

Dan jangan mengambil ibroh dari orang kãfir

Jadikanlah Al Qur’an dan Sunnah Muhammad Rosūlullőh sholallőhu ‘alaihi wassallam sebagai sumber panduan dan pembimbing hidup yang lurus dan yang pasti akan membuat kita selamat…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd ~)

(127) KONSISTEN

(إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ)
[Surat Fussilat ayat 30]

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allőh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allőh kepadamu“.

(إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
[Surat Al-Ahqaf ayat 13 – 14]

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allőh”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.

RENUNGAN :

Di Dunia anda akan BEBAS dati TAKUT MENGHADAPI MASA DEPAN….

Bahkan bebas dari SEDIH SAAT ANDA INGAT MASA LALU…

Bahkan KEDUANYA akan anda raih di akherat lebih sempurna…

Semuanya anda dapat raih dengan KONSISTEN…

Nyatakan dengan HATIMU, dengan LISANMU dan dengan BUKTI NYATA AMALMU….
Bahwa hanya ALLŐH adalah TUHAN-mu…

Jangan PLINTAT-PLINTUT….
Jangan MENCLA-MENCLE…
Jangan PLIN-PLAN…
Dan jangan TENGOK KIRI DAN KANAN….

Karena…

JALAN LURUS itu BUKAN LEBIH DARI SATU….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd ~)

(128) PENYESALAN ORANG YANG TIDAK MENTAATI ROSŪL

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا * وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا * رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
[Surat Al-Ahzab ayat 66 – 68]

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul“.
Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).
Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar“.

RENUNGAN :

MAU ???…

Kalau sudah Allőh adzab terlebih dahulu di dalam adzab neraka, BARU MENYESAL ???…

TIDAK SEDIKIT orang yang mengatakan, “Susah-susah amat…. KITA TA’ATI saja PEMBESAR DAN PEMIMIPIN kita…. Kan mereka yang akan mempertanggung-jawabkan perkara kita dihadapan Allőh pada HARI PEMBALASAN?….

TAQLID itu memang PRAKTIS dan MUDAH…

TAQLID itu memang TIDAK RUWET…

TAQLID itu TINGGAL IKUT, lalu AMAN…

TAQLID itu TIDAK PERLU BELAJAR….

TAPI, renungkan AKIBATNYA…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd ~)

(129) PERBUATAN KEJI ini adalah ISROF, IJROM dan ‘ÃDY

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ * إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ * وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ * فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ * وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ
[Surat Al-A’rőf ayat 80 – 84]

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji (fãhisyah) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu syahwatmu (kepada mereka), bukan kepada wanita. Kamu ini benar-benar adalah kaum yang melampaui batas.
Jawab kaumnya tidak lain hanyalah mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”.
Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya, kecuali isterinya; (karena) dia (istrinya) termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).
Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.”

Juga :

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ * وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ * قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا لُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِينَ
[Surat Asy-Syu’arő ayat 165 – 167]

Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,
dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas“.
Mereka menjawab: “Hai Luth, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir“.

RENUNGAN :

PERBUATAN KEJI ini telah DIHAPUS sejak KEROSŪLAN MUHAMMAD Sholallőhu ‘Alaihi Wassallam…

Kekejian ini BARU MUNCUL sejak masa KAUM NABI LUTH…

Kekejian ini belum pernah ada sebelum itu…

PELAKU KEKEJIAN ini oleh TUHAN SEMESTA ALAM disebutnya sebagai MUSRIF (berlebih-lebihan), MUJRIM (orang yang berdosa) dan ‘ÃDY (melampaui batas)….

PELAKU PERBUATAN KEJI INI justru MENUDING sok suci pada orang yang menasehatinya,
Bahkan MENGANCAM dengan MENGUSIR mereka dari tanah tumpah darahnya….

PERBUATAN KEJI ini MENGUNDANG ADZAB DAHSYAT PENUH MURKA dari Allőh Subhãnahu Wa Ta’ãlã….

Yaitu….

ALLŐH AKAN BALIK BUMI INI LALU MEREKA AKAN TERPENDAM DI DALAMNYA…
Bahkan akan DILEMPARI BATU DARI NERAKA….

KEKEJIAN ini adalah SEX YANG MENYIMPANG….
Dimana perjodohan bukan lah antara Laki-Laki dan Perempuan…
Akan tetapi MEREKA MEROBAHNYA menjadi PEREMPUAN DENGAN PEREMPUAN, dan LAKI-LAKI DENGAN LAKI-LAKI…

Marilah kita cegah dengan iman, ilmu, dan nahi mungkar….

SAYANGILAH DIRI DAN UMMAT MANUSIA….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. PD. ~)

(130) PEWARIS BUMI

(وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ)
[Surat Al-Anbiya’ : 105]

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shőlih“.

RENUNGAN:

Tidak sedikit kalangan mengira…

Bahwa bumi ini…
Dan atau langit dan jagat raya ini…
Terjadi dengan sendirinya…
Dan tidak ada yang memiliki dan menguasainya….

Karenanya…

Mereka SALING BEREBUT untuk menjadi pemilik dan penguasanya dengan cara apapun…

Tidak sedikit kalangan yang berambisi…

Untuk memusnahkan penghuni bumi lainnya…
Agar HANYA DIA yang boleh menikmatinya….

Tidak sedikit pula kalangan yang NGOYO MERAIH BENDA di dunia ini….

Sembari dia LALAI….
Yang penting meraihnya…
Yang penting menguasainya…
Bila perlu, hingga tujuh generasi dari turunannya…

Padahal segenap benda itu…
Ada yang mengawasi dan mengaturnya…

KETAHUI dan SADARI…

Bahwa BUMI dengan apa yang terkandung di dalamnya….
Dan apa yang terdapat di permukaannya…
Serta apa yang ada di atasnya…

HANYA akan ALLŐH wariskan pada HAMBA-HAMBA-NYA YANG SHŐLIH

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd. ~)

(131) MANUSIA DAN WAHYU

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
[Surat Al-An’am : 50]

Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?

RENUNGAN:

Jangankan selain Rosūl….

Rosūl sholallőhu ‘alaihi wassallam saja…
Beliau tidak mengatakan : “AKU MEMILIKI SIMPANAN ALLŐH”

Jangankan selain Rosūl….

Rosūlullőh sholallőhu ‘alaihi wassalam saja…
Beliau TIDAK MEMILIKI PENGETAHUAN TERHADAP YANG GHOIB…

Jangankan selain Rosūl…

Rosūlullőh sholallőhu ‘alaihi wassallam saja…
Beliau mengatakan: “AKU BUKAN MALAIKAT”….

Rosūlullőh sholallőhu ‘alaihi wassallam yang MA’SHUM (terjaga dari dosa)…
Beliau HANYA lah MENGIKUTI WAHYU….

Maka….

Mengapakah kita yang berpeluang banyak dosa…
Masih TIDAK MAU MENGIKUTI WAHYU?…

Masih MENAMBAHI dari apa yang terdapat dalam WAHYU?…

Masih MENGURANGI apa yang terdapat dalam WAHYU?….

Masih MENCURIGAI WAHYU?….

Masih MENCURIGAI ORANG-ORANG YANG BERUSAHA MENGIKUTI WAHYU?….

Masih MENCURIGAI ORANG-ORANG yang MENGAJARKAN WAHYU?…

Mengapakah…
Dan ada apakah kalian dengan dan TERHADAP WAHYU?…

Padahal WAHYU itu…
Dari ALLŐH Subhãnahu wa Ta’ãlå….

Apa yang kalian akan tuduhkan kepada YANG BERFIRMAN?….

SAMAKAH ORANG YANG “BUTA” DENGAN ORANG YANG “MELIHAT” ?…

Orang yang BERPEGANG TEGUH PADA WAHYU ADALAH ORANG YANG “MELIHAT”…

Dan sebaliknya….

ORANG YANG MENYELISIHI DAN ATAU MENOLAK WAHYU ADALAH ORANG YANG “BUTA”….

Yang BUTA adalah HATINYA…
Dan bukan buta MATA PENGLIHATAN-nya….

Duhai…
DIKEMANAKAN kah AKAL PIKIRAN ?

لا حول ولا قوة إلا بالله

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd ~)

(132) PENGUNDANG PETAKA

(قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ بَغْتَةً أَوْ جَهْرَةً هَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ)
[Surat Al-An’am : 47]

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?

RENUNGAN :

Bisa jadi ADZAB Allőh itu datangnya dengan TIBA-TIBA…
Atau…
Bahkan dengan NYATA DAN TERANG akan DITIMPAKAN….

Tetapi Allőh tidak akan membinasakan kecuali ORANG-ORANG yang DZOLIM….

Maka barangsiapa yang beriman, TAKUTLAH…
Lalu…
PATUHILAH Allőh…

Jika TAKUT dan PATUH itu LENYAP….
Maka itu merupakan sebuah tantangan terhadap YANG MAHA TAK TERKALAHKAN…

Jadi…

IMAN lah yang MENGAKIBATKAN KESELAMATAN dan KETENTRAMAN….

Sedangkan….

KESYIRIKAN dan KEDZOLIMAN lah pengundang PETAKA dan KESENGSARAAN.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd ~)

(133) WAHYU SYAITHŐN

Allőh berfirman:

(…وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ)
[Surat Al-An’am : 121]

…Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”

RENUNGAN :

(1) Syaithőn itu mempunyai wali-wali (yatu mereka yang loyal kepada syaithőn)

(2) Wali Syaithőn adalah mereka yang selalu setia menyuarakan bisikan dan inspirasi syaithőn;

(3) Wali Syaithőn adalah mereka yang selalu mengajak kepada jalan yang menyelisihi tuntunan Allőh Subhãnahu Wa Ta’ãlã dan Rosūl-Nya sholallőhu ‘alaihi wasallam;

(4) Wali Syaithőn adalah mereka yang selalu men-jidal, mendebat dan ataupun menebar syubhat terhadap kebenaran yang berasal dari Allőh dan Rosūl-Nya;

(5) Mereka yang hanyut dalam bisikan ajakan ataupun syubhat syaithőn, adalah TERANCAM menjadi orang yang MUSYRIK.

(6) SYIRIK THŐ’AH adalah seseorang yang MENYEKUTUKAN KETAATAN-nya, dari ketaatan dan kepatuhan terhadap Allőh, menjadi ketaatan dan kepatuhan terhadap syaithőn.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd. ~)

(134) UJIAN, SADARKAH?

(إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا)
[Surat Al-Kahf : 7]

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya.

RENUNGAN :

(1) segala sesuatu di DUNIA ini adalah PERHIASAN….

(2) Bumi dan isinya adalah UJIAN dan BALÃ’ untuk kita; akankah kita menjadi lebih mulia ataukah justru semakin terhina?

(3) Hidup ini untuk BERLOMBA dalam menggapai LULUS UJIAN…

(4) Amalan-amalan kita itu bertingkat-tingkat….

Ada amalan yang terbaik…
Ada amalan yang sekedar baik….
Ada amalan yang buruk…

Bahkan…

Ada amalan yang mengundang murka Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã….

Sadarkah kita?….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(135) CONTOHLAH MEREKA

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ ….
[QS. Al-An’ãm:90]

Mereka adalah orang-orang yang Allőh telah beri petunjuk, maka berqudwah lah dengan hidayah mereka.

RENUNGAN:

Dalam ayat sebelum ini, Allőh mengisyaratkan siapakah “mereka” yang dimaksud…

“Mereka” adalah orang-orang yang telah dikaruniai oleh Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã berupa Kitab, Hukum dan kenabian….

“Mereka” adalah para Nabi dan para Rosūl…

“Mereka” adalah orang-orang yang Allőh nyatakan diatas petunjuk Allőh yang benar…

Pada giliran berikutnya, Rosūl Sholallőhu ‘alaihi wassallam diperintahkan Allőh agar mengikuti “mereka”…

Dan sebagai ummatnya, kita diperintahkan oleh Allőh untuk mengikuti Nabi Muhammad Sholallőhu ‘alaihi wassallam…

Artinya, bahwa JALAN yang LURUS itu sama dengan MENGIKUTI AJARAN dan SYARI’AT Rosūlullőh Sholallőhu ‘alaihi wassallam
Dan…
MENYELISIHI AJARAN dan SYARI’AT-nya adalah sama dengan KESESATAN

Petunjuk yang lurus, yang merupakan petunjuk para Nabi, termasuk didalamnya Nabi Muhammad Sholallőhu ‘alaihi wassallam adalah:

1) Berpegang teguh dengan dīn (agama) yang benar yang berasal dari Allőh

2) Memelihara dan menjaga ayat-ayat yang terkandung dalam Kitab Allőh (Al-Qur’an)

3) Tegak menjalankan hukum/ syari’at-Nya

4) Mengikuti yang dihalalkan-Nya, serta menjauhi apa yang diharomkan-Nya

5) Mengamalkan apa yang diperintahkan Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã dan menghindarkan diri dari apa yang dilarang-Nya

6) Meniti pola hidup yang telah “mereka” jalani

7) Berakhlaq dan berperilaku yang terpuji

Inilah KUNCI KEUNGGULAN Rosūlullőh, sehingga beliau Sholallőhu ‘alaihi wassallam mencapai derajat tertinggi dan terkemuka di segenap Nabi dan Rosūl, serta menjadi penghulu bagi segenap orang-orang yang bertaqwa…

Oleh karena itu….

Jika kita berangan-angan untuk meraih apa yang “mereka” raih….

maka…

MENITI JALAN “MEREKA” adalah HARGA MATI

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M. Pd ~)

(136) BULAN YANG PENUH KEUTAMAAN

Bulan yang penuh keutamaan mulai kita masuki…

Rosūlullőh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إذا كانَت أوَّلُ ليلةٍ من رمَضانَ صُفِّدتِ الشَّياطينُ ومَردةُ الجِنِّ وغلِّقت أبَوابُ النَّارِ فلم يُفتَحْ منها بابٌ وفُتِحت أبوابُ الجنَّةِ فلم يُغلَقْ منها بابٌ ونادى منادٍ يا باغيَ الخيرِ أقبِلْ ويا باغيَ الشَّرِّ أقصِر وللَّهِ عتقاءُ منَ النَّارِ وذلِك في كلِّ ليلةٍ

Artinya :
Jika malam pertama bulan Romadhőn tiba, maka :

(1) Syaithon dan para pembangkang dari kalangan jin dibelenggu,

(2) Pintu syurga dibuka dan tidak ada satu pun yang ditutup,

(3) Pintu neraka ditutup dan tidak ada satupun yang dibuka,

(4) Dan ada penyeru yang menyeru: ‘Wahai pencari kebajikan, SAMBUTLAH….
Dan wahai pencari keburukan BERHENTILAH,

(5) Allőh memberi kesempatan bagi hamba-Nya untuk BEBAS DARI ANCAMAN ADZAB NERAKA dan itu SETIAP MALAM.

( HR. Ibnu Majah nomor: 1339 dari Abu Hurairoh رضي الله عنه dan Syaikh Al Albãny menshohīhkannya)

HIKMAH :

Mari kita berlomba dalam BERBAGAI KETAATAN…

Semoga Allőh memberi kemudahan pada kita mnerima segala ibadah kita…
Menyempurnakan kekurangan kita…
Dan membebaskan kita dari ancaman adzab neraka…
Aamiiin

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd. ~)

(137) BIARKANLAH

(ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ)
[Surat Al-Hijr : 3]

BIARKANLAH mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka.

RENUNGAN :

1) Allőh perintahkan Nabi dan orang beriman agar MEMBIARKAN orang Kafir tenggelam dalam kenikmatan dunia dan berbagai angannya.

Walaupun yang demikian itu, kita TELAH BERUPAYA MENDA’WAHI MEREKA.

2) Sifat LALAI tenggelam dalam dunia dengan berbagai kesenangan dan kelezatannya; yang melalaikan akan IBADAH sebagai tugas utamanya, termasuk lalai untuk MELANJUTKAN PERJUANGAN ROSŪLULLŐH sholallőhu ‘alaihi wassallam adalah merupakan TASYABBUH terhadap ORANG-ORANG KÃFIR.

3) PANJANG ANGAN- ANGAN adalah selain sifat orang kãfir juga adalah sikap yang menyebabkan pelakunya berhaq akan MURKA ALLŐH pada hari Kiamat.

4) Jika ALLŐH Subhãnahu wa Ta’ãlã MEMBERI PEMBIARAN pada kita, itu artinya Allőh sudah mulai murka pada kita.

Hanya karena iman kita yang sudah kurang SENSITIF saja yang menyebabkan kita tidak menyadarinya.

5) BERIMAN pada ALLŐH dan HARI AKHIR adalah cerminan orang yang selalu GIGIH mengabdi pada Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã. Demikian pula perlu disadari akan hal yang sebaliknya.

SEMOGA MENJADI PELAJARAN

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd ~)

(138) IBLIS TERKUTUK

(قَالَ لَمْ أَكُنْ لِأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ * قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ * وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ)
[Surat Al-Hijr : 33 – 35]

Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk
Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari Kiamat.

RENUNGAN :

1) ALLŐH Subhãnahu wa Ta’ãlã adalah PENCIPTA MANUSIA.

2) Asal manusia adalah dari tanah liat.

3) Iblis MEMBANGKANG ALLŐH.

4) ALASAN IBLIS membangkang, tidak lain kecuali dari PRASANGKA bahwa asal muasal dirinya adalah LEBIH MULIA dari asal muasal manusia.

5) Pembangkangan iblis menjadikannya berhak akan KUTUKAN (Rojīm dan laknat) Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã hingga hari Kiamat.

6) Sujud (simbol dan atau makna ibadah) itu bukanlah hanya sekedar gerak fisik dan ritual belaka, tetapi hakekatnya adalah KETUNDUKAN dan KEPATUHAN pada PERINTAH SANG PENCIPTA, yakni ALLŐH Subhãnahu wa Ta’ãlã….

Bukan Ka’bah-nya…
Bukan Hajar Aswad-nya…
Bukan MANUSIA ADAM-nya…

7) SOMBONG itu adalah sikap AKU lah YANG LEBIH BERHAQ, BUKAN KAMU….

Ada EGO…
Ada vonis berlandaskan PRASANGKA…
Dan ada PEMBANGKANGAN….

8) Sekedar berpikir bahwa itu DOSA dan atau HUKUM FIQIH, adalah awal bersikap yang DANGKAL.

Harus tumbuh dari kita adalah DARI MANA dan DARI SIAPAKAH SUMBER PERINTAH itu… ?

Semakin terasa Mulia dan Agung, maka semakin terasa BESAR GEMA dan KHARISMA perintah itu…

9) Jika Allőh yang menutup pintu Hidayah, maka TIDAK akan ditemukan pintu itu terbuka….

Dan jika Allőh MURKA, maka tidak akan ada kemampuan yang menyebabkannya PADAM….

SEMOGA HIDAYAH ALLŐH ADALAH CAHAYA PENERANG HIDUP KITA

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M.M.Pd ~)

(139) MAKAR YANG MENGGELEPAR

(قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ)
[Surat An-Nahl : 26]

Sesungguhnya ORANG-ORANG yang sebelum mereka telah MENGADAKAN MAKAR, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah AZAB itu kepada mereka DARI TEMPAT YANG TIDAK MEREKA SADARI.

RENUNGAN :

1) JARANG DISADARI bahwa Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã memberitau ummat Muhammad sholallőhu ‘alaihi wassallam, bahwa ORANG-ORANG KÃFIR itu karena bencinya pada Allőh dan pada Rosūl, termasuk pada Islam dan kaum Muslimin, maka mereka itu BERMAKAR.

2) MAKAR mereka itu bukan hanya sekarang….
Tapi sejak dahulu kala…

Bukan hanya yunior…
Bahkan sudah senior…
(~ dalam berbuat makar ~)…

Karena mereka itu juga mempelajari ADA APA DALAM ISLAM…

3) SEJARAH menjadi BUKTI bahwa MAKAR mereka itu justru KEHANCURAN bagi mereka sendiri….

Bukan mereka menjatuhkan Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã…
Namun malah MEREKA lah yang TERPENDAM oleh peradaban dan kebanggaan mereka sendiri…

4) KECANGGIHAN ORANG-ORANG KÃFIR itu sejak dahulu kala…
Dan akan seperti dahulu, mereka BERBANGGA dengan KECANGGIHAN mereka…

Akan tetapi….

Mereka TIDAK BERKUTIK untuk memprediksi ADZAB yang ALLŐH hadirkan ke hadapan mereka….

5) LALAI akan APA YANG telah ALLŐH nyata BUKTIKAN pada orang-orang yang memusuhi Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã…
Baik berupa bencana dan adzab…
Maka itu adalah bukti IMAN yang TAK BERDAYA….

Dan melalui MEDIA MEREKA….
TIDAK SEDIKIT MUSLIMIN dibuat TAK BERDAYA….

IBROH INI UNTUK MENJADI IBROH….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(140) KEBENARAN PENYEBAB KEPATUHAN

لَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ ۚ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ * وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ * وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ * وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ * أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ ۚ بَلْ أُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
[Surat An-Nur : 46 – 50]

Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”

Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)“.

Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.

Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.

Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.

RENUNGAN :

1) Ayat-ayat sudah Allőh turunkan.

2) Seseorang berada di jalan yang lurus adalah kehendak Allőh…

3) Diantara manusia ada yang MENYIKAPI SYARI’AT itu dengan KEIMANAN DAN KETAATAN…

Namun, diantara mereka juga bahkan ada yang murtad kembali pada TIDAK BERIMAN….

4) MURTAD karena saat mereka diseru untuk BERHUKUM dengan HUKUM ALLŐH,
justru sebagian mereka itu MENENTANG….

5) Karena mereka TIDAK MEMILIKI KEBENARAN, penyebab mereka semakin membangkang….

6) PENYAKIT HATI atau KERAGUAN atau BURUK SANGKA mereka bahwa Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã akan berbuat DZOLIM terhadap mereka, itu lah penyebab mereka semakin dzolim…

7) DZOLIM karena tidak memposisikan hati mereka dalam IMAN kepada Allőh…

DZOLIM karena tidak memposisikan hidup mereka dalam THŐ’AH kepada Allőh….

8) Sedemikian sistematis Allőh telah sajikan PEDOMAN ini….

TUNTUNAN terlebih dahulu…

Menyusul SERUAN agar dipatuhi….

Berikutnya adalah JANJI dan ANCAMAN…

Dan pada akhirnya adalah KEUTAMAAN atau KEADILAN….

9) HAWA NASFU yang terpedaya SYAITHŐN lah yang telah mencenderungkan seseorang untuk BERPALING…
Untuk MENYELEWENG….
Bahkan untuk KUFUR pada TUNTUNAN yang sebenarnya merupakan ROHMAT Allőh bagi mereka….

#SERINGLAH SETIAP KITA BERINTROSPEKSI

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(141) INNÃ LILLÃHI WA INNÃ ILAIHI RŐJI’UŪN

Musibah berupa banjir bandang di Garut…
Kembali mengingatkan kita, bahkan mengingatkan manusia…
Bahwa air adalah merupakan bagian dari tentara Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã…
Dia bergerak karena perintah Allőh…

Allőh perintahkan tentara-Nya, karena Allőh mengingatkan hamba-Nya…

Berimankah hamba-Nya… ?!
Bersyukurkah…. ?!
Taatkah… ?!

Atau justru…

Lagi-lagi kufur…
Lagi-lagi ma’shiyat…
Lagi-lagi menentang Allőh Penguasa alam semesta..

Seluruh alam jagad raya ini tunduk pada aturan Allőh..
Tidak ada yang bergerak, kecuali atas instruksi dari Pencipta-Nya…

Hanya manusia yang karena hawa bisa jadi menguasai; dialah yang lalai…..

Seolah Allőh tidak Melihat…
Seolah Allőh buta
Seolah Allőh tidak berdaya…

1437 tahun yang lalu, melalui Rosūl-Nya Muhammad Sholallőhu ‘alaihi wassallam
Telah diberitahukan….
Telah diceritakan….
Telah dikhobarkan…
Tentang berbagai peristiwa, agar akal manusia menjadi tunduk kepada Allőh…

Dan bukan justru menentang…
Bukan justru membangkang…

Bagi orang yang berakal, berbahaya menentang Allőh Subhãnahu wa Ta’ãlã…

Dan bagi orang jãhil (bodoh), beserta teman-temannya dari kalangan orang-orang kãfir,
atau dari kalangan orang-orang musyrikin…
Yang menganggap masih ada yang bisa menangkal bala’….
Menangkal rugi..
Menangkal bencana…
Menangkal marabahaya..
Selain daripada Allőh…

Ternyata…
Terbukti semua itu adalah PRASANGKA…

Saudara-saudaraku…

IMAN yang bisa menggerakkan nurani kita sebagai manusia…
IMAN yang bisa menggerakkan kita akan kemana jalur perjalanan kita…

Dunia memang terkadang membuat kita lalai dan terbuai…

Sehingga lupa bahwa kenikmatan yang ada di dalamnya adalah ujian…
Kenikmatan yang ada di dunia ini adalah tidak pernah lepas dari keluh dan kesah, resiko dan gundah serta galau…

IMAN akan mampu menentramkan, membahagiakan,
bahkan menjamin rasa aman..

Tidak mungkin Allőh menganiaya hamba-Nya yang setiap saat mengakui kesalahan dan dosa…
lalu kembali kepada Allőh, bermunajat kepada Allőh…

Mengakui kesalahan dan dosanya…
Mengejar ketertinggalan di masa lalu karena dosa yang telah menyelimuti…
Berencana dan bergegas memperbaiki diri di sisa usianya…

Sungguh manakah yang bisa menggetarkan sikap yang mulia itu…

Banjir bandang belum seberapa bila dibanding dengan dahsyatnya Hari Kiamat…

Dahsyatnya manusia menghadapi tuntutan pertanggungan jawab Robbul ‘Ãlamīn atas apa yang telah dia nikmati pada saat dia menghirup udara di dunia….

Semua akan ditanya…

Karena semua adalah Milik-Nya…
Dan semua adalah AMANAH di tangan kita….

Marilah kita SADAR…

Allőh menjanjikan keberuntungan bagi orang yang beriman….

Allőh menjanjikan rasa aman, tentram dan bahagia, bahkan hakiki…
Jangankan di dunia….
Di hari yang abadi,
Allőh hanya pilih yang berhak atas itu semua adalah hamba-Nya yang taat dan patuh pada-Nya….

Dan jikalau sebaliknya….
Maka….
Bukan sekedar bencana dan derita yang dia rasakan di dunia…
Bahkan di hari yang tak berujung akan penuh dengan duka dan siksa…

Karena seorang mengira bahwa dia akan memperdaya Allőh…
dengan cara lalai…
dengan cara ma’shiyat…
dengan cara meninggalkan apa yang diperintah-Nya…
dengan cara melanggar apa yang dilarang-Nya…
dengan cara menantang….
dengan cara memusuhi…..
atau dengan cara memerangi….

Sungguh sejarah membuktikan bahwa tidak pernah berhasil orang yang sombong terhadap Allőh….

Tidak ada…
dan tidak ada…

Hanya saja mengapa…
Mata kita tertutup,
dan hati kita lalai…
Minat kita tidak punya ketertarikan untuk membaca sejarah…

Sejarah yang memenuhi hari-hari di masa lampau…
Seharusnya menjadi pelajaran bagi hamba-Nya yang beriman….
yang ingin masih punya harapan di masa depan…

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ …

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal...”
[Surat Yusuf : 111]

Banjir, badai, kebakaran, tanah longsor, tsunami, dan sejenisnya….
dan atau lebih dahsyat darinya….
adalah sudah Rosūlullőh Sholallőhu ‘alaihi wassallam aba-abakan:
“Jangan ma’shiyat kepada Allőh….
Jangan kufur kepada Allőh….
Taatlah kepada Allőh..

Semua kebaikan, Rosūlullőh Sholallőhu ‘alaihi wassallam telah tunjukkan….
Semua pelanggaran telah Allőh ancam setiap pelakunya dengan siksa…

Namun syaithőn dianggap pandai telah memperdaya…
Sehingga dia lupa…
Seolah dia (manusia) yang menentukan bahagia dan selamatnya…

Semoga kejadian demi kejadian menjadikan kita pandai mengambil pelajaran…

Wassalamu’alaikum Warohmatullőhi Wabarokãtuh,

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd ~)

(142) “SAUDARA” ORANG KÃFIR

Kaum Munãfiq…
Mereka adalah saudara bagi orang-orang kãfir….

Orang munãfiq adalah bukan saudara bagi muslim…
Betapapun dia ‘casing’-nya, berpenampilan muslim….
Betapapun dia hidup di tengah muslimin….
Betapapun dia seolah lebih shõlih, atau sama shõlihnya jika dibanding dengan muslimin…..

Atau bahkan….

Betapapun orang munãfiq itu berbicara semanis madu….
Tetapi dia demikianlah keadaan sebenarnya…..

Orang munãfiq adalah senantiasa menampakkan keimanan dan keshõlihan…
Padahal di dalam hati mereka terkandung kekufuran dan kebusukan…

Maka kembalilah kepada setiap kita untuk berintrospeksi….

Siapakah yang sesungguhnya kita jadikan sebagai teman dan saudara di dalam kehidupan dan keseharian kita ???

Jika jawabannya, yang dianggap teman dan saudara adalah dari kalangan muslimun, mu’minun, dan shõlihun, maka kita adalah mu’min….

Dan sebaliknya, jika yang dianggap teman, saudara, penolong serta sahabat bagi kita adalah dari kalangan orang-orang kãfir; maka kita harus segera memohon ampunan kepada Allõh سبحانه وتعالى, dan memohon petunjuk Allõh سبحانه وتعالى; karena posisi yang demikian ini adalah justru rawan untuk berada di posisi sebagai orang munãfiq…..

Na’ũdzu billãhi min dzãlik.

Demikian jelas, bahwa orang munãfiq adalah saudara bagi orang kãfir….
Adalah menjadi suatu kaidah yang sangat mendasar….
Bahkan sebetulnya dia adalahakar daripada “Lã Ilãha Ilallõh”….

Kalau seseorang telah menyatakan syahadat bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benarkecuali Allõh سبحانه وتعالى, dan bahwa Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah utusan Allõh سبحانه وتعالى; maka merekat pada dirinya bahwa dia bersaudara dengan muslim….

Dan sebaliknya, berarti orang kãfir bagi dia bukanlah dianggap sebagai saudara….

Kita hendaknya mempelajari, menghayati dan merenungkan firman Allõh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Hasyr (59) : 11, maka dengan terang Allõh سبحانه وتعالى menjelaskan kepada kita tentang identitas orang-orang munãfiq.
Allõh سبحانه وتعالى berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لإخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Artinya:

Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudaranya yang kafir di antara Ahli Kitab, ‘Sungguh, jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun demi kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.’ Dan Allah menyaksikan, bahwa mereka benar-benar pendusta.”

Di dalam QS. Al Hajj (22) : 4, Allõhسبحانه وتعالى pun berfirman,

كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَنْ تَوَلاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ

Artinya:

(Tentang setan), telah ditetapkan bahwa siapa yang berkawan dengan dia, maka dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.”

Ayat ini memberitakan kepada mereka yang senantiasa bergandeng-tangan dan menolong orang-orang dzolim, yang mengira bahwa jika mereka menolong orang dzolim, mensukseskan orang dzolim, berada disekitar orang dzolim; mereka akan memperoleh kejayaan….

Padahal Allõh سبحانه وتعالى berfirman, “Kutiba ‘alayhi annahu man tawalahu fa annahu yudhilluhu wa yahdĩhi ila ‘azhãbis-sa’ĩr”….

Allõh سبحانه وتعالى telah catat…

Allõh سبحانه وتعالى telah tetapkan kepada siapa yang menjadikan orang dzolim, apalagi orang kãfir sebagai teman dekat atau pemimpin

Maka sungguh dia akan menjadi orang yang akan disesatkan….

Karena yang menjadi teman dekat, teman setia orang dzolim dan orang kãfir; maka sahabatnya itu akan membawa dia menuju kepada adzab yang pedih…..

Na’ũdzu billãhi min dzãlik.

Betapa kita butuh hidayah dan bimbingan Allõh سبحانه وتعالى …..
Agar mata kita benar-benar terang melihat mana yang benar dan mana yang menyesatkan ….

Tidak sedikit orang yang pandangannya hanya sekedar dunia dan materi….
Dia bahkan lupa, apalagi menolak, menentang dan tidak meyakini tentang apa yang ada di sisi Allõh سبحانه وتعالى adalah lebih baik

Maka bagi mereka ini, terpeleset dan terperosok untuk menolong orang dzolim adalah alternatif di dalam hidup mereka….

Padahal kalau saja mereka beriman kepada Allõh سبحانه وتعالى, maka sungguh apa yang mereka upayakan itu justru akan menjerumuskan mereka sendiri ke dalam rugi yang nyata….

Jangankan di akherat, di dunia pun dia akan mulai merasakannya….

Karena Allõh سبحانه وتعالى menegaskan betapa PENOLONG ORANG DZOLIM itu sesungguhnya adalah TERTIPU….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(143) SADARKAH KITA ?

Kata-kata apa yang sering terucap dari mulut kita, dalam keseharian kita, atau bahkan sepanjang hidup kita…

Jika kita menghitung berapa kali suatu kata terucap di dalam Al Qur’an, tentu kita akan mengetahui apa sebenarnya hikmah dan rahasia sedemikian rupa Allõh سبحانه وتعالى mengulang kata-kata ini dengan sebanyak ini….

Ternyata kita akan temukan bahwa terbanyak kata yang terulang di dalam Al Qur’an adalah lafadz: الله (“ALLÕH”)…

Berapa kali lafadz الله (“Allõh”) ini diulang di dalam Al Qur’an?
Ternyata tidak kurang dari 2.697 kali…

Subhãnallõh, maka ini adalah sekaligus menjadi pelajaran…

Kalau saja setiap muslim setiap hari membaca Al Qur’an, maka bisa dipastikan ia akan mengucapkan lafadz الله (“Allõh”) ini berkali-kali…

Dan apa maknanya?

Artinya adalah diantaranya bahwa seorang muslim hendaknya yang sering terucap dari mulutnya adalah lafadz ini: الله (“Allõh”).

Atau dengan kata lain itu adalah dzikrullõh (mengingat Allõh)….
Sering-seringlah mengingat Allõh سبحانه وتعالى…..

Bahkan lebih bermakna lagi dari itu adalah bahwa setelah kita sedemikian sering membaca dalam Al Qur’an, setelah kita berusaha membiasakan memperbanyak lafadz ini dalam keseharian kita, maka itu berarti bahwa Allõh سبحانه وتعالى itu ma’bud….

Allõh سبحانه وتعالى adalah yang kita ibadahi…..
Ibadah artinya adalah taat…
Berarti seharusnya keseringan hidup kita, kebanyakan hidup kita adalah tidak lain kecuali beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى.

Apa arti kita banyak mengulang lafadz ini?

Tentu diantara hikmah dan maknanya adalah kita disuruh bukan sekedar mengingat lafadznya, namun justru lebih penting dari itu hendaknya seluruh hidup kita atau mayoritas hidup kita adalah diisi dengan beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى….

Sesuai dengan firman Allõh سبحانه وتعالى dalam QS. Al An’aam (6) ayat 162,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya:
Katakanlah (Muhammad),“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allõh, Tuhan seluruh alam.”

Dengan demikian itu artinya setiap muslim harus menyadari dan menjadikan tekad dalam hidupnya bahwa hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى….

Dan diantara yang harus dia biasakan adalah seringlah mengingat Allõh سبحانه وتعالى dalam setiap gerak dan diam kita….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.~)

(144) NELANGSA

Terdapat dalam suatu sabda Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم :

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Artinya:

Tidaklah dua ekor serigala yang sedang kelaparan dilepas pada seekor kambing akan lebih rusak jika dibandingkan dengan ambisiusnya seseorang terhadap harta dan kehormatan.”[1]

Manusia berkejar-kejaran, dan berlomba….

Terkadang dia lalai, dia lupa, terkadang dia sadar…
Terkadang dia tega, bahkan untuk menginjak, menyikut, menyakiti, menganiaya saudaranya …
Yang penting dia yang harus menang…
Yang penting orang lain terkesampingkan…
Yang penting rekening dia gendut…
Yang penting dia meraih apa yang dia cita-citakan….
Yang penting dia kenyang….
Yang penting dia terhormat….

Tidak lagi berpikir bahwa dia akan mati…

Di dunia ini pasti tidak lama…
Dia harus menghadap Penciptanya…
Bahkan dia harus mempertanggungjawabkan apa yang pernah dia katakan dan apa yang pernah dia perbuat…

Kalau saja manusia menyadari…

Maka sungguh dia akan ngeri, takut dan membelalak…

Karena Allõh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Haqqoh ayat 28-29,

مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (٢٨) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (٢٩

Artinya:

(28) “Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. “
(29) “Kekuasaanku telah hilang dariku.

Tiadalah berguna baginya harta, kekuasaan, status maupun kehormatan…
Di Hari semua itu menjadi binasa….

Kalaulah akhir dari suatu perjalanan, ternyata itulah yang didapat…

Harta tidak dibawa…
Kekuasaan juga dia harus melepasnya….
Yang harus dihadapi adalah Allõh سبحانه وتعالى yang menciptakannya,
Yang membuatnya berawal dari lemah lalu perkasa, lalu dia menjadi lemah kembali…
Allõh سبحانه وتعالى yang akan mempertanyakan-nya…

Hanya orang yang tidak beriman lah yang tidak takut menghadapi Hari Ini (Akhirat)….
Sangat mudah bagi Allõh سبحانه وتعالى untuk menghinakan orang itu…

Betapapun kadang manusia menjadi lupa
Karena asyiknya di dunia menjadi orang yang terhormat….

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Lã hawlã wa lã quwwata illa billãh

[1] At Turmudzy, Sunan At Turmudzy, Riyaadh: Al Ma’aarif, I, 1417 H, 534 no: 2376

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(145) KELOMPOK ALLÕH LAH YANG AKAN MENANG

Allõh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Mujãdalah (58) ayat 22 :

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya:
Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allõh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allõh dan Rosũl-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Meraka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allõh keimanan dan Allõh telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allõh ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allõh (hizbullõh). Ingatlah, sesungguhnya golongan Allõh itulah yang beruntung.

📌 RENUNGAN:

Sejak dahulu kala dan terutama akhir-akhir ini….
Mereka yang memusuhi Allõh سبحانه وتعالى ….
Mereka yang memusuhi Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم …
Mereka yang memusuhi Al Islam…
Mereka yang memusuhi Al Qur’an…..
Mereka yang memusuhi orang-orang yang membenarkan Allõh سبحانه وتعالى ….
Mereka yang memusuhi orang-orang yang membenarkan Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم ….
Mereka yang memusuhi orang-orang yang membenarkan Al Islam ….
Mereka yang memusuhi orang-orang yang membenarkan Al Qur’an ….
Dari berbagai penjuru….
telah terang dan jelas menampakkan permusuhan dan kebenciannya…

Wajar kalau seorang muslim tidak ber-simpatik…
Apalagi bersahabat…
Apalagi menggantungkan hidup dan nasibnya kepada mereka….

Bukankah dalam ayat diatas, Allõh سبحانه وتعالى telah menegaskan bahwa…
BUKAN….
Sungguh BUKAN ORANG YANG BERIMAN, orang yang menjalin kasih sayang dan cinta kasih terhadap orang-orang kafir….

BUKAN BAGIAN DARI BUKTI IMAN…
Bahkan bukan bagian dari bukti cinta kepada Allõh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم …
menjadikan musuh-Nya dan penentang-Nya sebagai orang yang dicintai….

Akal sehat yang mana, yang mau mencintai orang / obyek yang dibenci dan dimusuhi oleh “Yang diaku dicintainya (Allõh سبحانه وتعالى & Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم)” ?

Akan tetapi sungguh aneh…
Ada orang yang mengaku beriman….
Akan tetapi….
Dalam kenyataannya….
Ia berkasih sayang dan bahkan mencintai orang yang menjadi MUSUH dari “yang diaku dicintainya (Allõh سبحانه وتعالى & Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم)”….

Itu hanyalah bentuk PENGAKUAN CINTA YANG PALSU…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

(146) JÃHIL YANG TAK DISADARI

Telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullõh,

Barangsiapa yang mempermasalahkan kaum mu’minin atas dosa yang mereka lakukan…
Sementara dia tidak mempermasalahkan orang-orang kãfir maupun orang-orang munãfiq atas kekufuran dan kemunãfiqan mereka…

Atau bahkan….

Justru menyanjung orang-orang kãfir dan munãfiq itu, serta memuji-muji mereka…

Maka sungguh yang demikian itu merupakan indikasi…
Bahwa dia adalah manusia yang paling JÃHIL (bodoh) dan paling ANIAYA….
Sekalipun kebodohan dan kedzolimannya itu belum membawa dia pada kekufuran dan kemunãfiqan.”

Dinukil dari:
Minhaj As Sunnah An Nabawiyyah” Jilid 4 halaman 373-374.

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd ~)

(147) TIDAK SEKEDAR “INGGIH SUMUHUN”

Dari ummu Salamah رضي الله عنها, salah seorang istri Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ، فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ أَسْلَمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ. قَالُوا: أَلاَ نُقَاتِلُوهُمْ؟ قَالَ: لاَ مَا صَلَّوْا

Artinya:
Akan menjadi para Amir bagi kalian orang-orang yang kalian kenal dan kalian ingkari, maka barangsiapa yang membenci (– kedzoliman, kejahatan mereka – pent.) itu (dengan hatinya) maka dia telah berlepas diri, dan barangsiapa yang mengingkari dengan lisannya maka dia telah selamat. Akan tetapi barangsiapa yang ridho (puas) dan mengikuti (maka ia telah bersalah dan terancam tidak selamat).
Para sahabat bertanya, “Ya Rosũlullõh, tidakkah kita memerangi mereka?
Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Tidak, selama mereka sholat”.
[HR. Muslim no: 1854 (63)]

Hadits ini memberikan pelajaran kepada kita agar menjadi RAKYAT YANG PRO-AKTIF….
Menjadi RAKYAT YANG PEKA….
Menjadi RAKYAT YANG SENSITIF…

Menjadi RAKYAT YANG TIDAK “INGGIH SUMUHUN”….
Menjadi RAKYAT YANG TIDAK HANYA SEKEDAR MENERIMA APA ADANYA….
Namun…
Menjadi RAKYAT YANG BERSPIRIT UNTUK TERWUJUDNYA PERBAIKAN….
Menjadi RAKYAT YANG MENGINGINKAN MA’RUF DAN MENGINGKARI KEMUNKARAN….

Dengan kata lain….

Hadits ini mendidik agar Muslim MENJADI ORANG YANG TIDAK SEKEDAR BERPANGKU TANGAN….
Tidak hanya sekedar memasrahkan nasibnya terhadap kebijakan para Amir dan para Penguasa….
Yang bahkan terhadap mereka (para Penguasa itu) justru berhak untuk dikenalkan apa itu ma’ruf, dan apa itu munkar…
Sehingga mereka (para Penguasa itu) dapat menjadikan ma’ruf tadi sebagai dasar untuk berpijak di dalam kekuasaannya;
Sebagaimana mereka mengetahui munkar sebagai hal yang harus dibasmi, dicegah dan ditindak ….

Menjadi rakyat tidaklah hanya sekedar ma’mum secara membabi buta….
Tetapi dia haruslah menjadi RAKYAT YANG KRITIS…

Rosũlullõh bahkan mengancam dengan isyarat, “Bahkan bagi mereka yang ridho dan mengikuti…”, maka Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم isyaratkan bahwa rakyat yang seperti ini justru terancam tidak selamat….

Sebelumnya sudah ada pernyataan dari Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bahwa siapa yang membenci (Amir yang dzolim itu) maka ia telah berlepas diri, dan siapa yang mengingkari Amir yang demikian berarti dia telah selamat…

Sebaliknya kalau dia tidak mengingkari (Amir yang dzolim itu) karena ridho dan mengikuti,
Berarti dia justru terancam sesat, dan celaka; karena tidak selamat….
Begitu juga kalau dia tidak membenci, dia ridho dan bahkan dia mengikuti (Amir yang dzolim itu), maka seolah Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم menyatakan bahwa rakyat yang seperti ini seolah menyatu dengan kemunkaran, dia mendiamkan kemunkaran…
Dan itu berarti kekacauan dan celaka…

Perlu perenungan….
Perlu hati yang lurus…..
Perlu bersih jiwa dari Hawa Nafsu…
Untuk sampai pada pemahaman yang benar….
Sehingga berkata dengan benar…
Bersikap dengan benar….
Serta mengajak orang dengan benar…

Dan itu semua adalah TAUFIQ dari ALLÕH سبحانه وتعالى ….

Oleh karena itu,
Hadits ini janganlah sekedar dibaca terjemahannya secara sekilas…
Melainkan harus penuh perenungan dan penghayatan….
Penuh pemahaman dan do’a…
Sehingga Allõh سبحانه وتعالى memberi taufiq pada kita…
Yang berujung pada selamat di dunia dan di Hari Akhir nanti….

Bahkan….
Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم memang menjawab pertanyaan Shohabatnya, “Apakah kita perangi mereka ya Rosũl?
Jawaban Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, “Tidak, selama mereka sholat !”….
Ya, kita tidak memerangi mereka….
Kita harus patuhi tuntunan Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم untuk tidak memerangi Pemimpin yang tidak lagi mengenal mana yang ma’ruf (yang baik) dan mana yang munkar (yang buruk)….

Namun…

Apatah kita tetap menjadi orang yang cerdas….
Manakala merekalah yang memerangi rakyatnya….
MEREKA YANG MEMERANGI….

Lalu, apakah sebagai rakyat kita cuma pasrah, serahkan jiwa dan raga pada Amir yang seperti itu ???…
Toh pada akhirnya, Amir itu tidaklah diatas Syari’at….
Apalagi kalau Amir itu lah yang menghalalkan darah kaum Muslimin….
Mendukung orang-orang kãfir untuk memusnahkan kaum Muslimin….

Maka bukanlah disikapi lagi sebagai “Muslim yang Fãsiq”….
Akan tetapi harusnya disikapi sebagai “Muslim tadinya, lalu sekarang menjadi Munãfiq (Nifaq yang besar)”….
Atau bahkan….
Jangan-jangan…
Jangan-jangan bisa jadi telah keluar dari Islam (Murtad) ?…
Na’ũdzu billãhi min dzãlik….

والله أعلمُ بالـصـواب

Semoga Allõh سبحانه وتعالى senantiasa melindungi kaum Muslimin….

(~ ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M Pd ~)

(148) MISI HIDUP MANUSIA

MASIH BANYAK manusia yang belum SADAR bahwa sesungguhnya hidupnya untuk menjadi HAMBA bagi ALLÕH Subhãnahu wa Ta’ãlã dan bukan menjadi hamba bagi KEMAUANNYA.

Renungkan QS. Adz-Dzariyat/51:56, Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

(149) KUALITAS HIDUP

KEHIDUPAN YANG BAIK adalah ketika rizki didapat dari yang HALAL, ketika jiwa penuh dengan QONA’AH (puas dengan apa yang diterima), ketika hidup dalam ketaatan pada Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã serta adanya kelezatan dalam beribadah pada-Nya, atau kehidupan dalam Syurga di esok hari. BUKAN sekedar dalam KELAPANGAN DUNIA.

Renungkan firman Allõh dalam QS. An-Nahl/16: 97.
Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًـا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَـنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۚ  وَلَـنَجْزِيَـنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 97)

(150) KEBERKAHAN ATAU KEBINASAAN

Kunci KEBERKAHAN adalah IMAN dan TAQWA. Sebaliknya pengundang PETAKA dan ADZAB adalah KUFUR dan MENDUSTAKAN KEBENARAN ISLAM.

Renungkan QS. Al-A’rof/7: 96.
Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ  مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا  كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

(151) IMAN DALAM HIDUP MANUSIA

Sekedar nyawa dikandung badan, makan, minum dan bersenang-senang itu bahkan binatang merasakannya. Akan tetapi ber-ISLAM lah JATI DIRI MANUSIA yang SEBENARNYA.

Renungkan QS. Muhammad/47: 12.
Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ   ۗ  وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia), dan mereka makan seperti hewan makan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka.” (QS. Muhammad 47: Ayat 12)

(152) CITA-CITA

Cita-cita penyebab manusia bergegas dan berlomba. Apakah cita-cita kita? Tidakkah kita belajar dari cita-cita Nabi Yusuf ‘alaihissalaamYa Allõh MATIKANLAH AKU DALAM KEADAAN MUSLIM dan  masukkanlah aku ke dalam kalangan orang-orang yang sholih.”

Perhatikan firman Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã:

(رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ)

[Surat Yusuf (12) : 101]
“Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.”

(153) AKHLAK

Sekedar akhlak dan perilaku, siapapun mungkin merealisasikannya; tetapi KETERPUJIAN dan KEMULIAAN menurut Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã HANYA ADA DALAM ISLAM.

Semua orang benci DUSTA. Semua orang suka KEJUJURAN. Tetapi hanya MUSLIM yang MEYAKINI bahwa DUSTA ADALAH DOSA DAN PETAKA, sedangkan KEJUJURAN adalah IBADAH DAN SURGA.

Nabi Muhammad sholallõhu ‘alaihi wassallam didustakan oleh orang-orang kafir, tapi beliau TERPUJI MENURUT ALLÕH.

Perhatikan firman Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã:

(وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ)

[Surat Al-Qalam : 4]
Dan sungguh engkau ya Muhammad berada di atas akhlak yang agung.”

154) TAKUT LUKA

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

(وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا)

Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana yang kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.
[QS. An-Nisa’ : 104]

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rohimahullõh di dalam tafsirnya mengatakan:

Jangan kalian melemah…. 
Jangan kalian malas dalam berjihad menghadapi orang-orang kafir…..”

Jika kalian merasakan kepedihan…..
Sungguh mereka orang kafir pun merasakan kepedihan itu….

Yang berbeda adalah…
Mereka mencari dunia…..
Mencari materi…..
Mencari status….
Mencari sesuatu yang akan mereka tinggalkan…..

Sedangkan…..
Kalian mengharapkan sesuatu yang abadi…..
Kalian mengharapkan rahmat Allõh…..

Hina itu adalah rendah…..
Kedudukan hina itu artinya adalah tercela, buruk dan tidak baik….

Allõh mengisyaratkan bahwa dalam jiwa umat Islam ada gejala ini….
Sadarkah kaum muslimin bahwa mereka menyandang predikat ini ???
Sadarkah apa yang menyebabkan mereka HINA ???
Adakah cita-cita untuk mengakhiri nasib bak hina ini ???
Maukah mereka BERKORBAN tuk sekedar TERHINDAR dari HINA ini ???

Bahkan sadarkah bahwa MISI ROSŪL dahulu adalah menjadikan KALIMAH ALLÕH itu yang TERTINGGI ???

Sadarkah bahwa “mereka yang berpredikat mendapatkan ridho Allõhrodhiyallõhu ‘anhum adalah karena mereka itu telah merelakan harta dan jiwanya, agar mereka tidak menjadi kaum yang Hina ???
Agar Islam tidak hina ????
Bahkan agar “Lā Ilaha Ilallõh” menjadi yang paling mulia ????

Sakit yang membahayakan adalah sakit yang tidak dirasakan oleh penderitanya…..
Bahkan lebih parah…..
Menuding orang sakit dan dirinya bebas dari sakit, dan hanya orang lain yang perlu disembuhkan dari sakit…..

Kemenangan itu adalah karunia Allõh….
Kejayaan itu adalah anugerah Allõh……
Kalahnya orang kafir adalah karena keperkasaan Allõh….
Orang-orang kafir menjadi penghuni jahanam adalah karena keadilan Allõh….
Siapapun kita tak akan mampu membalas budi anugrah karunia dan kemuliaan Allõh….

Siapapun yang beramal sebiji atom kebajikan, dia pasti akan melihatnya…..
Dan Allõh akan menukarnya dengan keutamaan-Nya……

Sayang disayang kita sering memandang kelezatan, kenikmatan kebahagiaan itu hanya yang ada di depan mata……
Dan kerap kali melupakan apa yang Allõh janjikan lebih baik dan lebih abadi…..

Yang harus selalu diingat jika kalian merasa pedih…. 
Maka orang-orang kafir pun jangan dikira mereka tidak merasakan pedih….

Yang pasti, AKHIR dari TRANSAKSI kepedihan itu yang akan ALLÕH BEDAKAN…. 
Antara HAMBA-Nya dan MUSUH-Nya…..

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

155) MOHONKAN AMPUN UNTUK KAMI

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

(سَيَقُولُ لَكَ الْمُخَلَّفُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَا ۚ يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا ۚ بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا)

Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan berkata kepadamu, Kami telah disibukkan oleh harta dan keluarga kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami. Mereka mengucapkan sesuatu dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki bencana terhadap kamu atau jika Dia menghendaki keuntungan bagimu? Sungguh, Allah Maha Mengetahui dengan apa yang kamu kerjakan.[QS. Al-Fath : 11]

Dalam suasana yang riuh….
Tidak lama akan muncullah sosok yang mengatakan:
Berikanlah permakluman kepada kami…

Beribadah kepada Allõh adalah suatu hal yang biasa….
Tapi itu memang di sela kesibukan kami….
Tapi jika kami harus meninggalkan kesibukan kami….
Maka kami akan katakan: “Maaf kami sibuk....”

Sadarkah bahwa saat sibuk, Allõh tahu….
Saat tidak sibuk, Allõh pun tahu….
Sebagaimana saat sibuk tidak patut untuk menjadi alasan sibuk, Allõh juga mengetahui….

Sadarkah bahwa yang memiliki bahaya adalah Allõh….
Yang memiliki manfaat adalah Allõh….
Adakah yang mampu menghalangi sampainya keduanya atau salah satu dari keduanya, jika Allõh menghendaki ??

Jangan kalian kira…..
Jika kalian beralasan dengan sesuatu yang tidak patut menjadi alasan, maka Allõh pasti tahu ucapan kalian….
Putih hati kalian ataukah hitamnya, Allõh tahu….
Siapa yang berhak dari kalian mendapat manfaat…..
Siapa diantara kalian yang berhak mendapatkan bahaya, Allõh lah yang mengetahui….

Orang munafik mengira bahwa Allõh bisa mereka jadikan objek tipudaya…..
Mereka kira bahwa Allõh tidak berdaya….
Mereka tidak tahu bahwa yang mereka miliki berupa tipudaya, pastilah dihadapan Allõh tak akan mungkin berdaya….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

156) KARUNIA PAHAM

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

(فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ)

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang), merasa gembira dengan duduk-duduk diam sepeninggal Rosūlullõh. Mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allõh dan mereka berkata, Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini. Katakanlah (Muhammad), Api neraka Jahanam lebih panas, jika mereka mengetahui.” [QS. At-Taubah : 81]

Diantara umat tidak sedikit yang tidak sadar bahwa bersenang-senang saat menyelisihi Rosūl dan syariatnya adalah sesuatu yang merugikan…..

Tidak sedikit dari umat ini yang tidak menyadari bahwa jihad adalah bagian dari syariat….
Suka atau tidak suka…..
Dan bahwa harta dan nyawa adalah modalnya…..

Mereka berkata :
Janganlah berjihad, karena cuaca sedang dingin“….
Apalagi jika terkena teriknya matahari….
Mereka akan berkata: “Sayangi dirimu dari cuaca yang panas“….

Pernahkah kita merasakan panasnya api dunia ???

Jika jawabannya bahwa api dunia adalah panas,
maka jahanam adalah lebih panas,
bahkan jauh amat sangat panas dibanding api dunia….

Kembali kita diuji tentang kepahaman……

Merasa senang saat menyelisihi Rosūl adalah hasil dari gagal paham…..
Menghalangi orang lain dari menunaikan tuntunan Rosūl adalah hasil dari gagal paham…..
Mengira bahwa teriknya matahari dan buruknya cuaca lebih ringan dari panasnya jahanam itu adalah juga hasil dari gagal paham….

Berapa banyak orang gagal paham….
Berapa banyak orang yang tidak paham atau salah paham…..
Betapa besarnya nilai “paham“…..
Paham adalah diantara karunia Allõh yang terbesar…..

Maka jangan jemu dan bosan….
Apalagi terputus memohon agar Allōh karuniakan dan anugerahi kita dengan “paham yang benar“….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

157) AGAR SELALU BERUNTUNG #1

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.[QS. Ali ‘Imran : 200]

Agar kalian selalu beruntung…..
Ya, agar kalian selalu beruntung…..

Setiap kita…
Jika ditanya apa yang anda cari…
Apa yang anda kejar…
Apa yang anda inginkan…
Apa yang anda cita-citakan…
Dan apa yang menjadi visi hidup anda…
Semua mereka pasti menjawab : INGIN BERUNTUNG…
Bahkan….
Ingin terbebas dari segala makna rugi….

Tetapi….

Tahukah kita apa yang harus dilakukan…..
Agar keberuntungan dan keuntungan dapat kita raih dengan hakiki dan penuh cinta dan ridho Allah ???

Sadarkah kita….
Bahwa BUKAN AKAL yang menjadi sumber utama untuk memastikan akan tercapainya keberuntungan yang kita kejar itu…..

Sadarkah kita…..
Bahwa BUKAN RASA, BUKAN KECENDERUNGAN yang menjadi petunjuk yang benar atas jalan yang harus ditempuh menuju tercapainya makna keberuntungan itu…..

Sadarkah kita…..
Bahwa PENGALAMAN dari orang ke orang BISA BERBEDA….
Bahwa PENGALAMAN BISA TIDAK BERLAKU dari zaman ke zaman lain….
Bahkan PENGALAMAN BISA BERUBAH, BISA BERBEDA dalam kondisi dan situasi pola yang berbeda….

Yakinkah kita…
Bahwa bagi orang yang beriman…
Petunjuknya dalam hidup ini….
Dan agar hidup ini menjadi berarti….
Menjadi kesempatan menuju teraihnya keberuntungan….
Menjadi terbebas dari rugi dan petaka….
Tidak ada yang lain, kecuali RUMUS dan RESEP ILAHI…..

Tahukah Anda….
Bahwa agar “kalian selalu beruntung” di dalam al-Qur’an…
Ternyata…
11 kali kalimat itu lah (QS. Ali ‘Imran : 200) yang selalu berulang di dalam al-Qur’an…

Menunjukkan sesuatu yang harus kita ketahui….
Kemudian…

Kita harus berusaha untuk menjalaninya….
Dan menitinya dengan penuh keyakinan dan kesabaran…..

Maka….
Marilah kita selalu merujuk…
Membaca….
Melihat….
Memperhatikan…..
Kemudian meyakini….
Dan istiqomah dalam menjalani petunjuk al-Qur’an…

Agar kalian selalu beruntung….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

158) AGAR SELALU BERUNTUNG #2 :KEBAJIKAN & KEBERUNTUNGAN

Allõh Subhãnahu Wa Ta’ãlã telah berfirman di dalam surat Al Hajj ayat 77 :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَ اعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوْا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ  

Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.” (QS. Al-Hajj (22): Ayat 77)

Wahai orang-orang yang beriman…
Rukuklah kalian…
Sujudlah kalian…
Beribadahlah kalian kepada Allõh…
Dan…
Kerjakanlah kebajikan…
Mudah-mudahan kalian beruntung…

BERUNTUNG seperti yang dipahami oleh para ahli tafsir adalah SURGA….

Ya….
Jika seseorang dimasukkan oleh Allõh ke dalam surga-Nya…
Maka…
Itulah KEBERUNTUNGAN yang HAKIKI….

Manusia berusaha berdagang….
Lalu dia terbebas dari rugi…
Modalnya kembali….
Bahkan beruntung mungkin berlipat ganda…
Lalu dengan itu,
dia menjadi senang, kaya dan terhormat di mata manusia….
Beruntung karena dia mendapatkan apa yang dicita-citakannya…
Lalu orang-orang pun memeluknya dan mengucapkan selamat atas keberhasilan dan kesuksesannya itu, seraya mengatakan: “Beruntunglah anda“….

Dalam lika-liku kehidupan…
Orang pun terkadang menghadapi kesulitan…
Kebuntuan….
Bahkan ancaman marabahaya….
Lalu dia terbebas dari musibah yang menimpa bahkan teman dan atau tetangganya….
Dia sendiri segar bugar…
Dia sendiri sehat wal afiyat….
Bahkan terlepas dari marabahaya itu…
Maka….
Orang-orang pun mengatakan padanya: “Beruntunglah anda“…

Terkadang…
Bisa jadi orang mengatakan pada anda: “Beruntunglah Anda“…
Padahal jiwa anda menderita dan menjerit…
Karena sesuatu yang hanya anda yang bisa merasakannya….

Ada penderitaan yang mungkin sangat mendalam yang anda alami….
Tetapi…
Orang lain tak tahu…
Dan mereka tetap mengatakan pada anda: “Beruntunglah anda“…

Beruntunglah anda” seperti ungkapan di atas…
Belumlah tentu menjadi keberuntungan yang sesungguhnya….

Adapun….

KEBERUNTUNGAN SESUNGGUHNYA adalah….
Jika saat manusia MATI….
Maka usianya ditutup dengan HUSNUL KHOTIMAH…..
KEBERUNTUNGAN SESUNGGUHNYA adalah….
Pada saat selama di kuburannya….
Yang dia nikmati adalah NIKMAT KUBUR….

KEBERUNTUNGAN SESUNGGUHNYA adalah…..
Keadaan yang dirasakan esok di Hari Kiamat…
Dimana kemudahan yang senantiasa dialaminya di Padang Mahsyar….
Dia tidak kepanasan saat Hisab….
Karena Hisab dan perhitungan amalan pun dipermudah baginya….
Disaat haus,
Telaga Rosul pun menjadi penghilang dahaganya….

KEBERUNTUNGAN SESUNGGUHNYA adalah….
Saat manusia saling balas dan saling qishos….
Dia justru terbebas dari tuntutan….

Dan KEBERUNTUNGAN SESUNGGUHNYA adalah….
Dia selamat saat menyeberangi Siroth yang mencekam….

KEBERUNTUNGAN HAKIKI adalah….
SURGA yang diraihnya karena keutamaan Allõh yang dihadiahkan untuknya….

Namun….

KEBAIKAN APA yang harus kita jadikan SEBAGAI TEBUSAN agar ALLÕH MERIDHOI dan menghadiahkan keutamaan-Nya kepada kita ?

Inilah rahasia yang seharusnya setiap manusia berlomba dengan segala kesadaran….

Ahli Tafsir Ibnu ‘Abbas rodhiyallõhu ‘anhu memberikan kejelasan kepada kita…
Bahwa ternyata KEBAIKAN itu adalah SILATURROHIM….
KEBAIKAN itu adalah AKHLAQ MULIA….

Bahkan ada pula ulama lain yang mengatakan bahwa….
KEBAIKAN itu adalah ZAKAT yang DITUNAIKAN….
Dan KEBAIKAN itu adalah melakukan AMAR MA’RUF dan NAHI MUNKAR…

Ternyata KEBAJIKAN itu adalah….
Upaya setiap kita untuk selalu baik terhadap sesama….
Akhlak yang baik….
Tidak melakukan sesuatu yang membuat cerai berai dan permusuhan….
Bahkan mempererat ukhuwah,
bukan saja dengan perilaku,
akan tetapi juga dengan finansial yang Allõh amanahkan kepadanya…..

Bahkan adanya sikap tidak rela jika saudaranya dimurkai oleh Allõh akibat kemungkaran yang diperbuatnya….
Dia pun tidak rela, jika ada pada saudaranya kesempatan untuk berbuat suatu kebaikan, akan tetapi saudaranya itu tidak mengerjakannya…..

Inilah kemuliaan dan keluhuran yang Islam usung sepanjang masa….

KEBAJIKAN dan KEBAIKAN yang harus ada, tumbuh pada setiap diri kita….
Bahkan TIDAK tinggal DIAM….
SENANTIASA BERUSAHA AGAR ORANG LAIN pun BERSAMANYA DALAM mengerjakan berbagai KEBAIKAN….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

159) BOIKOT PRODUK YAHUDI ZIONIS ISRAEL

WALA dan BARO’ adalah…
Bagian dari KONSEKWENSI TAUHID…
Bagian dari konsekwensi AQĪDAH….
Karena LÃ ILÃHA ILALLÕH itu ISI nya adalah MENYATAKAN “TIDAK / BERLEPAS DIRI / BERBEBAS DIRI dari apa saja SELAIN ALLÕH” dan HANYA MENERIMA / MEYAKINI / MEMBENARKAN “SATU YANG TIDAK ADA DUANYA, “SATU YANG TIDAK ADA SEKUTU BAGI-Nya”, “SATU YANG TIDAK BOLEH KITA MENENTANG-Nya”…
DIA adalah ALLÕH Subhãnahu wa Ta’ãlā….

APLIKASINYA :
MENERIMA DARI ALLÕH saja….
MENERIMA DARI ROSŪLULLÕH sholalloohu ‘alaihi wassallam saja….
MENERIMA DARI MUKMININ saja…..
Dan TIDAK MENERIMA, TIDAK BERGABUNG, TIDAK MENOLONG, TIDAK MENSUKSESKAN, dan TIDAK BERSAMA ORANG-ORANG KAFIR….

Jadi LĀ ILÃHA ILALLÕH mutlak harus ADA KONSEKWENSI nya….
Sebagaimana orang yang membeli barang….
Maka dia memilikinya, kemudian otomatis menjaganya….
Adapun RESIKO adalah merupakan sesuatu hal yang rasional sebagai KONSEKWENSI PILIHAN-nya, yaitu membeli….

Perlu disadari bahwa…
Seandainya tidak bekerja pada perusahaan Yahudi tadi ia TIDAK BERADA DALAM KATEGORI DARURAT atau TIDAK MENYEBABKANNYA MATI, maka jawabannya adalah TIDAK BEKERJA disitu….
Ini sikap Muslim yang memiliki prinsip Al Wala wal Baro…..
Ini sikap Muslim yang MENGEDEPANKAN KONSEKWENSI TAUHID (LĀ ILÃHA ILALLÕH)…..
Tapi kalau yang ada adalah sebaliknya, maka yang terjadi juga sebaliknya….

Kalau baginya TIDAK TERMASUK DARURAT….
Maka HARUS ADA UPAYA NYATA….
DIMULAI DARI KEMARIN, atau kalau tidak berarti DIMULAI DARI HARI INI….
Oleh SETIAP PRIBADI MUSLIM / KELOMPOK-KELOMPOK/ KOMUNITAS MUSLIM….
Untuk MEMULAI SECARA BERTAHAP untuk BERLEPAS DIRI DARI MEREKA (Yahudi / orang-orang kafir)….
Untuk TIDAK BERGANTUNG PADA MEREKA….
Dengan menjadikan YAKIN, SABAR, QONA’AH, ULET dan KERJA KERAS demi MENUJU KEMANDIRIAN MUSLIM….

HARUS DIINGAT jika dahulu kala Rosūlullõh sholallòhu ‘alaihi wassallam bekerjasama dengan Yahudi, Maka itu BUKAN DALAM POSISI ROSŪL DIDIKTE OLEH YAHUDI (atau menjadi objek eksploitasi mereka)…..

Terbukti bahwa….
Ketika seorang musyrik meminta izin kepada Rosūlullòh sholallõhu ‘alaihi wassallam untuk diikutsertakan dalam Perang Badar dan setelah kemudian diketahui bahwa orang itu adalah musyrik maka Rosūl pun menyuruhnya untuk pulang, dan menyatakan bahwa beliau tidak akan meminta pertolongan pada orang musyrik :

فارجِعْ فلن أستعين َبمشركٍ 

Artinya :
Aku tidak akan meminta tolong pada orang musyrik
(Hadits Riwayat Muslim no: 1817, dari ‘Aa’isyah rodhiyallõhu ‘anha)

Demikianlah sikap Rosūlullõh sholallõhu ‘alaihi wassallam….
SEJAK AWAL bersabda, “AKU TIDAK AKAN MEMINTA TOLONG PADA ORANG MUSYRIK“….
Sedangkan musyrik itu adalah bagian dari kekufuran dan orang kafir….

Itu adalah karena Rosūlullõh sholallõhu ‘alaihi wassallam MEMILIKI IZZAH (KEMULIAAN & HARGA DIRI MUSLIM)….

Ini BERBEDA dengan MUSLIM ZAMAN SEKARANG…..
Yang tidak sedikit dari mereka yang bekerjasama dengan Yahudi / orang kafir itu adalah karena SEMATA-MATA KEBUTUHAN HIDUPNYA….
Ingin senang… 
Ingin punya mobil…
Ingin punya rumah…. 
Ingin punya status….
Dan lain sebagainya….
Yang menyebabkan dalam posisi demikian itu, MEREKA MENERIMA DI-DIKTE ORANG YAHUDI / orang kafir…

Padahal….

Lambat laun….
Yang demikian itu akan menyampaikan pada NASIB seperti yang dialami UMMAT SAAT INI…..

Mungkin sekarang “ENAK” BERSAMA DENGAN ORANG KAFIR….
Tapi…
Hendaknya DISADARI…
Bahwa ANDA, ANAK KETURUNAN ANDA, KELUARGA ANDA, BANGSA ANDA AKAN SEMAKIN TERGANTUNG PADA ORANG KAFIR…
SEMAKIN TIDAK MANDIRI…
DAN SEMAKIN HILANGLAH HARGA DIRI MUSLIM…
TERMASUK AGAMA ANDA DINISTAKAN PUN, ANDA TAK BISA BERBUAT APA-APA….

KUALITAS MUSLIM ZAMAN DAHULU….
Bukan mereka tidak bisa hidup bersenang-senang dan bermegah-megahan….
Akan tetapi….
MEREKA YAKIN…
Bahwa DUNIA INI BUKAN TEMPAT BERSENANG-SENANG….
Akan tetapi….
Tempat bersibuk diri dalam amal shōlih….
Tempat beribadah pada Allõh…
Dan tempat untuk MENYEBARKAN ISLAM KE SEANTERO DUNIA….

BERBEDA dengan MUSLIM ZAMAN SEKARANG….
Dimana yang dicari adalah KESENANGAN DAN KEMEGAHAN DUNIA….
Adapun URUSAN MENYEBARKAN ISLAM, ITU URUSAN ORANG LAIN….

Maka wajarlah….
Kalau ia TAKUT BERESIKO dan HANYA MENCARI AMAN BAGI DIRINYA SENDIRI…..
Allõhul musta’an.….

Padahal Allõh berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ)

Artinya:
Wahai orang orang yang beriman, jika kalian menolong Allõh maka niscaya Allõh akan menolong kalian dan Allõh akan meneguhkan kaki kalian.[QS. Muhammad : 7]

Allõh pun berfirman dalam ayat yang lain :

(إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ)

Artinya:
Jika Allõh menolong kalian maka tidak akan ada yang menjadi pemenang atas kalian. Dan jika Allõh menghinakan kalian, maka siapa lagi yang akan bisa menolong kalian setelah Allõh. Dan hanya kepada Allõh lah hendaknya orang orang beriman bertawakkul.[QS. Aali ‘Imron : 160]

Berarti…..
Jika ALLÕH MENOLONG….
Maka MESTINYA TIDAK PERLU KHAWATIR…..
Karena TIDAK AKAN ADA SIAPAPUN YANG AKAN MAMPU MENGALAHKAN KITA…..

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

160) PENYESALAN TIADA ARTI

Allõh Subhānahu wa Ta’ãlã berfirman:

(حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ * لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ)

Artinya:
(99) “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia),
(100) “agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh-barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.
[QS. Al-Mu’minun (23) ayat 99 – 100]

Tidak sedikit dari manusia….
Bahkan muslim sekalipun….
Yang mengira bahwa hidup ini menjadi sempurna dengan ANGAN-ANGAN….

Demikian tinggi angan-angan itu, hingga mengakibatkan dirinya lalai dari mengerjakan apa yang menjadi misi di dalam hidupnya….

Yakni…

Beribadah kepada Allõh…
Mendekatkan diri kepada Allõh….
Mengejar apa yang ada di sisi Allõh….
Menghindar dari murka Allõh….
Menjauhkan diri dari apa-apa yang menjauhkan dirinya dari Allõh atau mengundang murka Allõh….

Tidak sedikit yang menganggap bahwa tingginya kedudukan….Atau bahwa lapangnya rizqi…
Atau bahwa kepandaian dan kemampuannya…
Akan bisa menghindarkan dirinya dari kematian…
Padahal tidak ada seorangpun yang bisa menaklukkan atau mempercepat kematian….

Bagaimanakah jika kematian menghampirinya dengan tiba-tiba???…
Lalu dia masih dalam keadaan jauh dari Allõh ???….
Tidak punya bekal menuju kehidupan abadi di Hari Akhir nanti ???…

Maka…
Penyesalan lah yang tiada berarti....

Harus menjadi pelajaran…
Jika datang kepada mereka kematian yang menjemput dengan tiba-tiba…
Lalu mengetahui sebenarnya apa yang Allõh beritakan sebelumnya…
Barulah dia tersadar dan menyesal akan kehidupannya selama ini…
Kemudian mengadu dan meminta kepada Allōh :
Ya Allõh, kembalikanlah aku untuk hidup kembali di dunia…
Aku pasti akan beramal yang baik-baik yang mengundang ridho-Mu dan cinta-Mu….
Dulu aku lalai….
Aku tidak percaya dan lalai terhadap peringatan-Mu dan berbuat yang merugikan diriku sendiri….
Duhai ya Allõh….
Kembalikanlah aku ke dunia….
Agar aku sejenak dapat memperbaiki diri….
Sungguh..
Penyesalan itu lalu menjadi tiada arti apa-apa baginya

Maka…

Sebelum menyesal…
Bersegeralah untuk berbenah…
Karena semua itu pada hakekatnya….
Adalah untuk diri kita sendiri….

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

161) SEGALA NIKMAT ADALAH ANUGRAH ALLŌH

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman :

(وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ)

Artinya :
Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allõh, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” [QS. An-Nahl (16) ayat 53]

BERIMAN kepada Allõh adalah PENYEBAB LURUSNYA CARA BERPIKIR seorang manusia….

Dia sadar….
Bahwa hidup ini ciptaan Allõh….

Dia sadar….
Bahwa dia berada dalam kehidupan ini, adalah atas kehendak Allõh…..

Dia sadar…
Bahwa seluruh apa yang dirasakan, baik umur maupun raga yang sehat, rizqi yang mudah dan lapang, serta kemampuan untuk beribadah, dan seterusnya….
Adalah berasal dari Allõh….

Sudah merupakan suatu kemestian….
Setelah pengakuan itu….
Seyogyanya….
Dia mensyukuri nikmat-nikmat tersebut….

NIKMAT-NIKMAT itu adalah AMANAH…

Adalah titipan yang esok akan Allõh tanyakan pada setiap yang pernah merasakannya….
Dikemanakankah amanah itu digunakan ???….

Bagi orang yang pandai untuk menunaikan amanah….
Maka pastilah dia akan berbahagia….

Tetapi bagaimanakah dengan orang yang dia luput menunaikannya ?
Diawali dengan dia adalah buta, tak berilmu….
Bahkan sampai dengan dia mengingkari….
Bahwa semua itu milik Allõh, dan berasal dari Allõh….
Maka merugilah atas mereka itu…

Bahkan ironisnya…
Disaat dia susah….
Disaat dia lemah….
Disaat dia butuh….
Dia datang kepada Allõh…
Merengek….
Meminta….
Mengemis…
Kepada ALLÕH….
Karena dia butuh….

Akan tetapi setelah semua cita dan angannya diraih dan dirasakannya, bahkan puaslah dia atasnya…

Lalu….
Seakan dia lupa….
Tidak ingat ada yang namanya Allõh….

Lalu….
Semua nikmat itu….
Dia atur sesuka hawa nafsunya..
Hingga ajal menjemput, menghampirinya….

Lalu…
Dia pun akan merasakan bukti atas apa yang Allõh janjikan….

Wahai saudaraku se-Iman dan se-Islam….
Semua nikmat….
Bukan milik siapa-siapa….
Melainkan milik Allõh semata….

Semua nikmat…
Pastilah akan ditanya….
Digunakan untuk apa oleh setiap diri kita….

Maka dari itu….

Sebelum kita menyesal dan menderita….
Marilah seluruh nikmat itu….
Kita gunakan untuk bermanfaat terhadap diri sendiri…
Bahkan kebaikan itu akan menjadi bertambah bagi kita….
Jika kita berbagi dengan sesama….

Karena Allõh tidak butuh kepada kita…
Justru kitalah yang membutuhkan segalanya dari Allõh…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc. M. M.Pd. ~)

162) TUHAN FIKTIF

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman :

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا 

Namun mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), padahal mereka (tuhan-tuhan itu) tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) bahaya terhadap dirinya dan tidak dapat (mendatangkan) manfaat serta tidak kuasa mematikan, menghidupkan, dan tidak (pula) membangkitkan.
[QS. Al-Furqon (25) ayat 3]

Pada saat di dunia…
Mereka yang tidak beriman kepada Allõh…
Mereka yang menjadikan selain Allõh sebagai Tuhan bagi mereka, padahal itu semua tidak pantas diangkat menjadi Tuhan; karena itu semua merupakan sesuatu yang tercipta dan bukan Pencipta….

Tidaklah semua itu bisa memberikan kebaikan pada dirinya….
Bagaimana dapat memberi pada yang lain….

Tuhan-tuhan fiktif itu pun tidak bisa menolak bahaya yang tertuju pada dirinya sendiri….
Maka bagaimana pula akan sanggup melindungi selainnya???

Mereka hidup pun adalah karena Allòh yang menjadikan mereka hidup…
Sehingga wajar jika mereka tidak bisa memberi kehidupan pada selainnya, dan tidak pula bisa mematikan….

Bagi orang yang berakal…
Sungguh sia-sia mempertuhankan sesuatu yang tidak pantas untuk dijadikan “Tuhan”….

Betapa bahagianya menjadi seorang Muslim yang memiliki Allõh yang Mencipta….

Bahkan yang Mengatur semesta alam ini….

Mereka yang memilih tuhan-tuhan fiktif itu…
Bersikukuh untuk tetap menjadikan selain Allõh sebagai Tuhan…
Karena mereka belum merasakan gelapnya kuburan…
Pedihnya azab…
Dahsyatnya kiamat…
Dan penyesalan tiada arti….
Ketika mereka dimasukkan ke dalam jahanam….

Mereka tidak tahu atau bahkan mereka tidak mau tahu..
Bahwa kelak pada hari kiamat, Allõh akan bangkitkan tuhan-tuhan fiktif itu,  yang pernah mereka jadikan sebagai Tuhan ketika di dunia….

Kalau saja mereka tahu….
Bahwa ternyata tuhan-tuhan fiktif yang pernah mereka jadikan Tuhan itu akan Allõh bangkitkan pula….
Bahkan bukan sekedar itu….
Allõh Yang Maha Kuasa akan menjadikan mereka bisa berbicara dan menjawab pertanyaan Allõh…

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَقُولُ أَأَنتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبَادِي هَٰؤُلَاءِ أَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبِيلَ  

Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allõh menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allõh, lalu Allõh berkata (kepada yang disembah); “Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?
[QS. Al-Furqon (25) ayat 17]

Mereka mengatakan, “Ya Allõh, bukan…
Bukan kami yang menyesatkan mereka…
Justru mereka sendiri yang memilih untuk menjadi orang-orang yang sesat.…”
Mereka selanjutnya justru bertasbih mensucikan Allõh

قَالُوا سُبْحَانَكَ مَا كَانَ يَنبَغِي لَنَا أَن نَّتَّخِذَ مِن دُونِكَ مِنْ أَوْلِيَاءَ ….. 

Mereka (yang disembah itu) menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain Engkau (sebagai) pelindung….
[QS. Al-Furqon (25) ayat 18]

Wahai Manusia….
Pilihlah Allõh sebagai satu-satunya Tuhan untuk diibadahi…
Dan puaslah untuk menjadikan pedoman-Nya: Al-Qur’an dan penjelasannya yaitu sunnah-sunnah Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam….
Sebagai pembimbing…
Sebagai penyuluh….
Sebagai pengarah kita sekalian….
Menuju keselamatan dan kebahagiaan yang Hakiki…

Dan janganlah sekali-kali memilih “TUHAN yang BUKAN TUHAN“…

(~ Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

163) BAU BUSUK

قال الأوزاعي رحمه الله شكت النواويس ما تجد من نتن جيف الكفار فأوحى الله إليها بطون علماء السوء أنتن مما أنتم فيه

Al-Imam al-Auzã’i berkata:
Peti mati mengadu tentang busuknya bau bangkai orang–orang kafir…
Maka Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã memberitahukan padanya…..
Bahwa….
Isi perut-perut ulama yang jahat adalah….
Lebih busuk dari apa yang kalian temui.”

(Ihya Ulumuddin 1 / 63)

164) SELEKTIFLAH

Pada zaman dahulu, ada seorang alim yang selalu menasehati sahabat-sahabatnya dengan perkataan,

Janganlah kalian duduk bersama setiap orang alim….
Kecuali orang alim yang mengajak kalian dari lima perkara menuju kepada lima perkara :

1) Dari ragu kepada yakin,
2) Dari permusuhan kepada nasehat,
3) Dari sombong kepada tawadhu / rendah hati,
4) Dari riya’ kepada ikhlas,
5) Dari rasa cinta kepada rasa takut.

(Abu Nu’aim Al Asfahani, Hilyatul Auliya, jilid 8 halaman 72. Kata beliau, “Pernyataan ini sering digunakan oleh Syaqiq bin Salamah dalam menasehati para sahabatnya, sehingga karena seringnya maka para perawi keliru menganggapnya sebagai Hadits.” Ibnul Jauzi, al Maudhu’at, jilid 1 halaman 275, dan kata beliau, “Ini adalah bukan sabda Rosūlullòh sholallõhu ‘alaihi wassallam“)

165) KEROSUULAN NABI MUHAMMAD SHOLALLOOHU ‘ALAIHI WASSALLAM

Di dalam suatu Hadits yang berasal dari salah seorang Shohabat bernama Jãbir bin ‘Abdillah rodhiyallõhu ‘anhu, sebagaimana dikeluarkan oleh al-Imām As Suyūthi di dalam “Al Jami’ ash-Shoghīr” dan di-Hasan-kan oleh syaikh Nashiruddin al-Albãni dalam “Shohīh Al-Jami’ ash-Shoghīr” nomor: 2409, bahwa Rosūlullõh Sholallõhu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

إِنَّهُ ليس شيءٌ بينَ السماءِ والأرضِ ، إلَّا يعلَمُ أنِّي رسولُ اللهِ ، إلَّا عاصي الجنِّ و الإِنَّسِ .

Sesungguhnya tidak ada apapun di langit dan di bumi, kecuali dia tahu bahwa aku adalah utusan Allõh, kecuali yang berma’shiyat dari kalangan jin dan manusia.”

Hadits ini dengan terang mengabarkan kepada kita bahwa Muhammad bin ‘Abdillah Sholallõhu ‘Alaihi Wassallam adalah utusan Allõh…
Yang Allõh utus…
Bukan sekedar untuk orang yang berada di Jazirah Arab….
Akan tetapi untuk semesta alam…

Bagaimana tidak….
Langit dan bumi itu bukan sekedar dihuni oleh manusia….
Akan tetapi dengan kekuasaan Allõh, maka mereka itu semua mengetahui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allõh…
Dengan hadits ini pula…
Kita mengetahui bahwa Islam adalah untuk segenap penghuni bumi…
Karena Allõh mengutus Nabi Muhammad untuk menjadi wujud rahmat dan kasih sayang Allõh bagi semesta alam…

Hanya satu dari dua pilihan…
Beriman dan membenarkan kerosūlan Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wassallam…
Berikutnya, konsekwen dengan hakikat makna keimanan itu…

Ataukah tidak beriman dan tidak membenarkan kerosūlan Nabi Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wassallam lalu konsekwensinya adalah….
Siap dengan ancaman Allõh dan murka-Nya, kalau tidak di dunia…
Maka setelah manusia itu mati…
Pastilah akan terbukti akibat dari sikapnya itu….

Bagi yang beriman dan membenarkan kerosūlan Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wassallam…
Maka yang harus dia sadari adalah…
Bahwa dia harus membenarkan bahwa Muhammad adalah manusia pilihan…
Yang Allõh pilih atas kehendak dan putusan-Nya….
Yang mana Muhammad Rosūlullõh adalah keturunan Arab…
Bahkan dari Quraisy….
Bahkan dari turunan ‘Ismail ‘alaihissalām…
Dan berarti menjadi cucu dari ‘Ibrohim ‘alaihissalām…

Beriman kepada kerosūlan Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam berarti membenarkan dengan seyakin-yakinnya bahwa yang diterima oleh Rosūlullõh adalah wahyu yang disampaikan oleh Jibril ‘alaihissalãm dari Allõh….
Dan itu adalah benar….
Tidak ada keraguan sedikitpun….

Begitupun dengan penjelasan, baik berupa perkataan — perbuatan ataupun sesuatu yang menjadi sikap Rosūlullõh…
Pada hakekatnya adalah wahyu yang menjelaskan al-Qur’an…

Bagi yang beriman kepada kerosūlan Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam akan menjadi berarti dan bermanfaat bagi dirinya…
Jika keimanan itu dibuktikan dengan ittiba’….
Dan mengikuti apa saja yang shohīh dari Nabi Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam…

Apakah masuk diakal/rasional…
Ataukah tidak masuk diakal/ irrasional…

Apakah sesuai dengan kemauan dan kehendaknya….
Ataukah tidak sesuai dengan kemauan dan kehendaknya….

Atau apakah disepakati, disetujui dan diridhoi oleh manusia….
Ataukah tidak disepakati, tidak disetujui dan tidak diridhoi oleh manusia….

Maka….
Beriman kepada kerosūlan Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam…
Adalah semata-mata menjadi konsekwensi dari sikap membenarkan terhadap kerosūlan itu…

Bahkan…
Bukanlah merupakan sesuatu yang aneh…
Jika pengorbanan melalui jiwa, raga dan harta menjadi taruhannya…
Untuk membuktikan keimanannya terhadap kerosūlan itu….

Karena yang demikian itu…
Telah tergores di dalam sejarah…
Bahwa pengikut-pengikut Nabi Muhammad…
Adalah mereka yang mengikuti seluruh gerak dan jejak, langkah Nabi Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam…
Baik dalam suka…
Maupun dalam duka…
Baik dalam keadaan sempit…
Maupun dalam keadaan lapang…

Bahkan tidaklah Islam sampai kepada hati kita…
Tanpa pengorbanan mereka para pengikut setia Nabi Muhammad Sholallõhu ‘Alaihi Wasallam…

Pertanyaannya adalah…

Apakah kita menjadi orang yang BERIMAN DENGAN SEKEDAR MENCUKUPKAN ISLAM SEBAGAI PENGAKUAN, TANPA EKSISTENSI….

Ataukah…

BERIMAN DENGAN SEGENAP PENGAKUAN YANG DIBUKTIKAN DALAM SELURUH EKSISTENSI KEHIDUPANNYA…???

Marilah…
Setiap kita mencari jawabannya…

Semoga bermanfaat !

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

166) DIALOG IBROHIM ‘ALAIHISSALAM

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã berfirman :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ (٦٩) إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ (٧٠)قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ (٧١) قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ (٧٢) أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ (٧٣) قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ (٧٤) قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (٧٥)أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الأقْدَمُونَ (٧٦) فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلا رَبَّ الْعَالَمِينَ (٧٧)الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (٧٨) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (٧٩)وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (٨٠) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (٨١)وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ (٨٢) رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (٨٣)

Artinya:
69. Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrohim.
70. Ketika dia (Ibrohim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya,Apakah yang kamu sembah?
71. Mereka menjawab,Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.”
72. Dia (Ibrohim) berkata,Apakah mereka (berhala-berhala itu) mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?,
73. Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mencelakakan kamu?
74. Mereka menjawab,Tidak, tetapi kami dapati nenek moyang kami berbuat begitu.”
75. Dia (Ibrohim) berkata,Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu sembah,
76. kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu?
77. Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu musuhku, lain halnya Tuhan seluruh alam,
78. (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku,
79. dan Yang memberi makan dan minum kepadaku;
80. dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,
81. dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali),
82. Dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat
83. (Ibrohim berdoa),Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” ~ (QS. Asy Syu’aro (26) : 69-83)

RENUNGAN :

Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlā memerintahkan kita untuk membaca, bahkan membacakan sebagian dari kisah perjalanan dakwah Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam…

Bacakanlah olehmu kepada mereka berita tentang Ibrohim…

Sebagai seorang dai…
Sebagai seorang pembaharu…
Sebagai seorang yang berilmu…
Sebagai seorang yang mengetahui kebenaran…
>Sebagai seorang yang TERPANGGIL UNTUK MEMPERBAIKI UMMAT yang dinilai berada diatas kesesatan…
Sebagai seorang yang merasa PUNYA TANGGUNG JAWAB MENGATASI KERUSAKAN yang bisa saja mengundang murka Allõh Subhãnahu Wa Ta’ãlã…

Maka ….
Sebelum kemurkaan itu Allòh timpakan pada mereka…
Ibrohim ‘Alaihissalam adalah manusia yang Allõh pilih untuk berada di tengah-tengah mereka dan MELAKUKAN PERBAIKAN….

Dengan hikmah dan bijaksana…
Ibrohim ‘Alaihissalam lalu memulai upaya dakwah dan ishlah…
Dengan ber-DIALOG TENTANG KONSEP KEAGAMAAN DAN KEYAKINAN mereka di dalam hidup…
Tentang peribadatan yang mereka persembahkan kepada Tuhan mereka selama ini….
Juga tentang hakekat yang menjadikan mereka berharap kebaikan dan terhindar dari segala keburukan…

Wahai kaum…
Berikanlah penjelasan kepadaku…
Definisikan dengan benar tentang “Siapa sesungguhnya Tuhan kalian yang kalian selalu berhamba kepadanya“…

Berhala-berhala yang kalian sembah itu apakah mereka mendengar jika kalian mengadu kepada mereka, pada saat kalian meminta dan mengajukan kebutuhan kalian ?…

Apakah benda-benda yang kalian anggap Tuhan itu mampu mendatangkan kebaikan dan manfaat yang kalian cari dan kalian harapkan ?…

Atau sebaliknya…

Apakah benda-benda yang kalian anggap Tuhan itu mampu untuk menyingkap, menjauhkan, mengangkat dan menghindarkan kalian dari bahaya ?…

Ternyata kebodohan kaum Ibrohim ‘Alaihissalam terungkap dari jawaban mereka…

Mereka tidaklah paham tentang itu…
Tidaklah mengkritisi sebelum itu…
Tidaklah pernah meneliti sebelum itu…

Bahkan tidak pula mengkaji…
Karena apa yang mereka lakukan selama ini…<
Tidak lain SEKEDAR IKUT-IKUTAN…
Tidak lain SEKEDAR TURUN-TEMURUN…
Tidak lain SEKEDAR APA YANG MENJADI BUDAYA NENEK MOYANG…

Maka…
Itulah yang menjadi IDENTITAS MEREKA hari ini…

Dengan 'simple' mereka menjawab… "Dulu bapak-bapak dan nenek moyang kami melaksanakan ini“…
Karena itu kami hanyalah MELANGGENGKAN TRADISI mereka

Mendengar jawaban itu…
Ibrohim ‘Alaihissalam pun menelisik lebih lanjut…
Dan setelah itu menyatakan sikapnya…
Bukan sekedar agar mereka tahu tentang keyakinan Ibrohim ‘Alaihissalam…
Bukan sekedar agar mereka tahu tentang sikap Ibrohim ‘Alaihissalam mengapa beliau tidak mau bersama mereka melakukan penghambaan terhadap Tuhan-Tuhan mereka itu…

Akan tetapi…
Bahkan justru lebih dahsyat dan lebih tegas dari itu…

Ibrohim ‘Alaihissalam menyatakan sikapnya bahwa TAUHĪD adalah pegangan Ibrohim ‘Alaihissalam…
Yaitu…
Tidak ada Tuhan yang berhak dengan sebenarnya untuk diibadahi, berharap kepada-Nya, patuh kepada-Nya, tunduk kepada-Nya dan menghinakan diri kepada-Nya selain HANYA SATU, yakni kepada ALLŌH…

Bahkan lebih dahsyat dari itu…
Ibrohim ‘Alaihissalam menyatakan bahwa SESEMBAHAN SELAIN ALLŌH ADALAH MUSUH…
Bukan teman…
Bukan sahabat…
Apalagi tempat mengadu…
Apalagi menjadi tempat meminta…
Apalagi didudukkan pada status sebagai Tuhan…

Ibrohim ‘Alaihissalam memandang perlu untuk MENGENALKAN kepada umatnya, kepada kaumnya..
Tentang…
SIAPA SESUNGGUHNYA YANG BERHAK UNTUK DIJADIKAN TUHAN…
Tempat mengadu…
Tempat untuk dipatuhi…
Tempat menghinakan diri…
Tempat berharap…
Tempat meminta…
Dan tempat berlindung itu…

TUHAN SATU-SATUNYA yang berhak, pantas dan patut berkedudukan sebagai Tuhan…
HANYA lah DIA, ALLŌH…
Yang mencipta…
Yang memberi petunjuk menuju selamat dan bahagia di dunia dan setelah mati…
Yang memberi makan…
Yang memberi minum…
Yang menyembuhkan dikala sakit…
Yang membuat semua yang hidup menjadi mati…
Dan Yang menghidupkan apapun sesuai dengan kehendak-Nya….

Ibrohim ‘Alaihissalam kemudian memberi CONTOH tentang BAGAIMANA SIKAP YANG BENAR seorang MANUSIA YANG TELAH MENJADIKAN ALLŌH SEBAGAI TUHANNYA…

Sebagai manusia…
Tentu saja manusia tidak luput dari salah dan dosa…
Dan semua itu tidak ada yang bisa membersihkan dan menghapus dosa kecuali Allõh…
Maka Ibrohim ‘Alaihissalam kemudian menyatakan bahwa…
Aku berharap Allõh lah yang mampu dan bisa memberiku pengampunan…
Sehingga aku tidak lagi bersalah…
Sehingga aku tidak lagi berdosa…
Sehingga aku patut menghuni surga-Nya…

Ibrohim ‘Alaihissalam pun mengatakan kepada kaumnya…

Wahai kaum…
Sesungguhnya kalian berada di dunia ini adalah atas kehendak Allõh…
Keberadaan kalian di dunia ini tidaklah abadi…
Setelah dunia ini ada alam lain, dia adalah Hari Akhirat…

Diawali dengan kiamat pada Hari Kiamat…
Sebelum manusia menerima keputusan neraka atau surga, maka manusia harus disidang… Diperhitungkan salah dan benarnya…
Amal shõlih dan dosanya semuanya harus diperhitungkan…
Siapa yang beramal buruk sekecil apapun, maka Allõh akan tampakkan padanya…
Sebagaimana jika beramal baik sekecil apapun, maka dia akan melihatnya…
Setiap manusia berhak mendapatkan balasan keadilan jika dia dihukum, atau bahkan berhak mendapatkan “fadlun” Jika dia berhak mendapatkan surga…

Hari Kiamat itu pasti adanya…
Akhirat itu adalah negeri yang akan dialami dan dirasakan, bahkan oleh orang yang mengingkarinya….
Maka bersiaplah…
Bersiaplah…
Bersiaplah…
>Bagi setiap orang yang meyakini keberadaan dan kedahsyatannya…

Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam mengajarkan…
Bahwa siapa pun orangnya…
Jangankan orang biasa…
Bahkan setingkat Nabi pun, sebagaimana dirinya (Ibrohim ‘Alaihissalam) masih butuh dan bermohon agar Allõh senantiasa memberinya ILMU…

Ilmu yang dengannya seseorang tahu…
Mana yang benar, mana yang salah…
Mana yang haq, mana yang bathil…
Mana yang boleh, mana yang dilarang…
Mana yang patut, mana yang tidak patut…
Mana yang hina, mana yang mulia…

ILMU lah yang memberitahukan kepada kita…
Tentang siapa kita…
Tentang apa yang harus kita lakukan…
Tentang apa akibat jika kita melakukan sesuatu…

Bahkan ilmu lah yang menjelaskan kepada kita…
Tentang bagaimana menjalani hidup menuju selamat dan bahagia dengan sangat terang dan jelas…

Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam adalah Nabi utusan Allõh…
Pilihan Allõh…
Tentu adalah manusia yang bermartabat…
Manusia yang tinggi…
Manusia yang mulia…
Manusia yang luhur…
Jika dibandingkan dengan umatnya…
Maka pastilah Allõh akan tempatkan ia pada kedudukan yang patut, layak bahkan mulia sesuai dengan statusnya sebagai nabi dan rosūl di Hari Akherat kelak….

Tetapi betapa pun demikian…
Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam mengajarkan bahwa…
Nabi Ibrohim tetap berdoa memohon…
Meminta kepada Allòh…
Agar beliau digolongkan bersama orang-orang yang shõlih…

Jika Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam saja demikian….
Maka bukankah kita lebih butuh ?
Bukankah kita lebih patut berdoa daripada beliau ?

Sungguh tidak tahu diri…
Dan tidak sadar tentang diri lah orang-orang yang tidak memohon, meminta serta menyadari butuhnya setiap diri mereka terhadap Allõh Subhãnahu wa Ta’ãlã…

Jangankan di Hari Akhir…
Bahkan manusia sejak dicipta menjadi calon manusia…

Sejak saat itu, dia tidak pernah lepas dari membutuhkan Allõh…

(~ Ust. Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd. ~)

Advertisements
32 Comments leave one →
  1. maulaanaa permalink
    27 March 2011 11:45 am

    Ustadz, mau izin untuk mencopy arikel, hikmah, dll
    suatu saat bilamana saya memerlukannya….
    Terimakasih….

    • 28 March 2011 5:55 am

      Silakan saja, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua… Barokalloohu fiika

  2. suryanto permalink
    25 April 2011 8:18 pm

    Assalamu‘alaikum Warrohmatulloohi Wabarokaatuh,
    Ustadz A Rofi’i, mohon izin copy paste Hikmah no:71,72 dan 73, untuk dihafal
    Semoga Allooh selalu melindungi dan menerima amal baik Ustad A Rofi’i Aamiin

    • 25 April 2011 11:03 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja…. semoga menjadi ilmu yang bermanfaat…. Barokalloohu fiika

  3. ari abdurrahman permalink
    11 May 2011 4:58 pm

    Syukron ustad hikmah-hikmah yang sangat bermanfaat, ana ijin untuk menyebarkannya… Jazakallahu khairan katsiro..

    • 11 May 2011 8:13 pm

      Alhamdulillah, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat, dan silakan menyebarluaskannya…. Barokalloohu fiika

  4. 12 June 2011 4:32 pm

    Assalamu‘alaikum Ustadz A Rofi’i saya izin copy , artikelnya bermanfaat banget buat saya & teman-teman saya .. Makasih Ustadz ..

    • 12 June 2011 5:22 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua…. Barokalloohu fiika

  5. Adri Azhari Al Qisthi permalink
    30 October 2011 8:04 pm

    Assalaamu’alaikum,ustadz izin copy di blog ana di

    http://manhajsalafushsholiihashshohiihah.blogspot.com/

    • 1 November 2011 7:53 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… antum boleh mengcopy paste sebagian ataupun seluruh artikel ataupun mendownload seluruh suara audio ceramah yang ada pada Blog ini… selama menjaga keotentikan naskahnya…. Barokalloohu fiika

  6. abu musa permalink
    16 December 2011 9:54 pm

    Assalamualaykum
    Alhamdulillah, artikelnya sangat bermanfaat. Ustadz, ana izin copas artikelnya..

    • 16 December 2011 10:22 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  7. buya fathimah permalink
    18 January 2012 9:16 pm

    Bismillah,ana mohon ijin untuk copy paste atau menyalin materi hikmah untuk bikin slide pada media dakwah yang akan ana rancang. Mohon doanya biar terlaksana dengan baik dan mendapat ridho dari Dzat Penguasa Alam Semesta..Amiiin. Baarokalloohu fiik

    • 19 January 2012 5:55 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… Semoga Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa memudahkan dan melancarkan segala niat baik antum agar dapat terwujud dan membawa manfaat yang besar bagi kaum Muslimin… Barokalloohu fiika

  8. ibrahim abu hammam permalink
    5 March 2012 3:51 pm

    Ustadz ana minta izin copy artikel ini dan lainnya. Syukron

    • 7 March 2012 7:12 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  9. ukhti munjiyah permalink
    28 April 2012 1:22 pm

    Assalamu’alaikum, ustadz afwan izin copy artikel-artikel ilmunya.. jazakallahu khairan.

    • 30 April 2012 6:24 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokallohu fiiki

  10. 24 August 2012 3:15 pm

    Assalamu’alaikum… syeikh izin copas di http://www.abufarraz.wordpress.com

    • 25 August 2012 10:31 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika..

  11. اكت منجية permalink
    30 October 2012 2:28 pm

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. Afwan ustadz, ana minta izin copas/share artikel-artikel ilmunya yang bermanfaat ini…syukron katsiron ustadz.

    • 30 October 2012 6:35 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokallloohu fiik

  12. paksenyumdion permalink
    23 December 2012 11:24 pm

    Assalammualaikum wr wb,
    Ustadz mohon ijin untuk mengcopy paste artikel anda, terimakasih, Wassalammualaikum wr wb

    • 24 December 2012 8:25 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  13. budi ashari permalink
    14 February 2013 12:01 am

    Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh,
    Izin copas artikelnya ustad
    Jazakallahu khairan

    • 14 February 2013 12:46 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  14. buyung firman permalink
    27 April 2013 2:05 pm

    Assalammualaikum wr wb,
    Ustadz mohon ijin untuk mengcopy paste artikel anda, terimakasih, Wassalammualaikum wr wb

    • 27 April 2013 6:22 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  15. Zaenudin permalink
    22 July 2013 11:16 am

    Zaenudin

    Assalammualaikum wr wb,
    Ustadz mohon ijin untuk mengcopy paste artikel anda, terimakasih, Wassalammualaikum wr wb

    • 22 July 2013 1:22 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  16. kiki zakiyah permalink
    1 November 2014 11:39 am

    Assalamualaikum, Ustadz mohom ijin copy paste untuk saya pribadi sebagai bahan pembelajaran dan untuk saya sharekan di akun facebook saya, Insya Alloh sangat bermanfaat buat saya dan yang membacanya. Jazakallohu khoiron katsiro atas ijinnya

    • 1 November 2014 5:57 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh, Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s