Skip to content

Misi Rosũl (Wadzoif Ar Rosũl), Kajian-4

20 September 2015

(Transkrip Ceramah AQI 13102014)

MISI ROSŨLULLÕH (WADZOIF AR ROSŨL) (Kajian-4)
Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.M.M.Pd.

Misi Rosuul #4

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allõh سبحانه وتعالى,

Bahasan kita kali ini adalah merupakan bahasan terakhir dari rangkaian kajian yang bertemakan “Misi Rosũlullõh (Wadzoif Ar Rosũl)”, dengan harapan agar memudahkan kita untuk ber-Ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم apabila kita mengetahui apa yang menjadi misi beliau صلى الله عليه وسلم.

Bila kita cermati dan pelajari, maka Rosũl Akhir Zaman yang Allõh سبحانه وتعالى pilih untuk diutus ke dunia ini mengemban tugas dan tanggung jawab yang sangat berat, tidak ringan. Kalau saja bukan manusia pilihan Allõh سبحانه وتعالى seperti Muhammad Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, tentulah tidak akan mampu mengemban misi yang sedemikian berat.

Rosũl-Rosũl sebelumnya dari kalangan bani Isro’ĩl adalah banyak jumlahnya; mereka diberi tugas untuk memimpin, menuntun dan membimbing kaum bani Isro’ĩl dari keturunan Nabi Ya’qub عليه السلام secara silih berganti. Setiap Rosũl dari kalangan bani Isro’ĩl ini diutus untuk suatu kurun waktu tertentu saja, lalu untuk kurun waktu berikutnya syari’at-nya diadakan suatu pembaharuan kembali.

Akan tetapi, di akhir zaman seperti di masa kita hidup ini, maka Rosũl yang diutus hanyalah Muhammad Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم. Dan syari’at yang dibawakan oleh Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم sampai dengan Hari Kiamat nanti cukup hanyalah satu paket itu saja, yakni syari’at Islam. Artinya, syari’at Islam yang dibawa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dijamin Allõh سبحانه وتعالى merupakan syari’at yang sangat lengkap, sempurna (paripurna), dan pasti dapat menjawab tantangan di berbagai belahan bumi dalam kurun waktu hingga sampai hari Kiamat nanti. Oleh karena itu dapatlah dibayangkan betapa beratnya misi Muhammad Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم tersebut, dan tentulah sosok kepribadian beliau amatlah luar biasa karena beliau lah yang dipilih Allõh سبحانه وتعالى untuk mengemban misi yang sangat berat ini.

Misi Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم sebagaimana telah kita bahas dalam kajian kita terdahulu sudah 12 poin yakni:
(1) Menegakkan Hujjah Allõh سبحانه وتعالى. Agar kelak manusia tidak dapat membantah keputusan Allõh سبحانه وتعالى di Hari Akhirat.
(2) Menyampaikan bahwa Islãm adalah rahmatan lil ‘ãlamĩn
(3) Menjadi Saksi bagi ummat manusia di Hari Kiamat.
(4) Memberi kabar gembira dan ancaman. Bahwa orang yang mengikuti ajaran Allõh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم akan diberi ganjaran (pahala); dan bagi orang yang menentang serta memeranginya maka sesungguhnya Allõh سبحانه وتعالى Maha Perkasa untuk meng-adzab mereka.
(5) Tabligh Ar Risãlah (Menyampaikan Risãlah Allõh سبحانه وتعالى). Jadi Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم hanyalah menyampaikan saja, dan Syari’at Islam itu bukanlah ciptaan / buatan / karangan Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, namun ia datang langsung dari sang Pencipta manusia dan alam semesta itu sendiri, yakni Allõh سبحانه وتعالى.
(6) Dakwah, menyeru manusia ke jalan Allõh سبحانه وتعالى
(7) Membacakan Ayat-Ayat Allõh سبحانه وتعالى
(8) At Ta’lim, mengajarkan Al Qur’an dan Sunnah Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم
(9) At Tazkiyah, mensucikan hati dan jiwa manusia dari syirik, penyakit hati dan perilaku yang tercela
(10) Melaksanakan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar, dan memerintahkan ummatnya untuk melaksanakannya.
(11) Al Bayãn, memberikan penjelasan tentang Al Islãm.
(12) Menyampaikan kepada ummat manusia bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم itu diutus untuk Ditaati.

Berikutnya adalah misi ke-13 yang akan kita bahas pada hari ini, yakni: “Iqomatuddĩn wa idz-hãruhũ” (وإظهاره إقامة الدين) / Menegakkan Al Islãm.

Dalĩlnya antara lain perhatikanlah firman Allõh سبحانه وتعالى dalam QS. At Taubah (9) ayat 32-33 :

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (٣٢) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (٣٣

Artinya:
(32) “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allõh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allõh menolaknya, Dan Allõh tidak menghendaki selain untuk menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kãfir itu tidak menyukai.”
(33) “Dialah yang telah mengutus Rosũl-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan dĩn (agama) yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.”

Menurut Al Imãm Ibnu Jarĩr Ath Thobary رحمه الله dalam Kitab [1] yang berjudul “Jãmi’u Al Bayãni fĩ Ta’wĩli Al Qur’ãn14/214, makna daripada “untuk diunggulkan atas segala agama” sebagaimana dalam QS. At Taubah (9) ayat 33 diatas adalah : “Agar Al Islãm itu menjadi tinggi diatas seluruh agama yang ada di muka bumi ini. Agar Al Islãm itu menang, maka diutuslah Muhammad Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم.”

Kemudian Al Imãm Ibnu Jarĩr Ath Thobary رحمه الله menukil perkataan Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه sebagai berikut:
Agar Allõh سبحانه وتعالى memenangkan Nabi-Nya sehingga agama ini berada diatas semua agama yang ada, sehingga dengannya semua perkara diserahkan kepada Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, tidak ada yang tersembunyi barang sedikitpun; meskipun orang-orang musyrikin dan orang-orang kãfir (– Yahudi maupun Nashroni –) membenci hal tersebut.” [2]

Dari ayat diatas dapatlah kita ambil pelajaran bahwa kalau Al Islãm itu tinggi, berjaya dan menang maka yang paling tidak suka dan amat membenci hal tersebut adalah orang-orang musyrikin dan orang-orang kãfir (baik dari kalangan Yahudi maupun Nashroni). Dan ini sudah dijelaskan Allõh سبحانه وتعالى sejak 1435 tahun yang lalu. Nah sebagai kaum Muslimin, sadar dan yakinkah kita akan ayat ini? Bukankah itu adalah peringatan yang sangat jelas dari Allõh سبحانه وتعالى ? Sungguh sangat mengherankan apabila ada diantara kaum Muslimin yang berharap untuk memenangkan Al Islãm dengan cara bersikap wala’, loyal, serta mencari keridho’an hati (mengikuti kemauan) orang-orang kãfir yang membenci serta memerangi Allõh سبحانه وتعالى, Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم, serta Al Islãm.

Seorang ‘Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah ber-madzhab Asy Syãfi’iy, yakni Al Imãm Al Baghowy رحمه الله dalam Kitab Tafsĩrnya [3] “Ma’ãlimu At Tanzĩl4/39, ketika menjelaskan makna dari “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allõh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka” dalam QS. At Taubah (9) ayat 32 diatas, maka beliau berkata:
Mereka (– orang-orang Musyrikin dan Yahudi – Nashroni – pen.) menolak agama Allõh (Al Islãm) melalui mulut-mulut mereka, dan mereka mendustakannya (– mendustakan Al Islãm – pen.).”

Jadi apabila di zaman kita sekarang ini, kita jumpai banyaknya syubhat, banyaknya kedustaan yang ditujukan kepada Al Islãm, seperti perkataan “Tafsĩr Al Qur’an harus dirubah, sekarang ini sudah zaman modern… jadi tafsĩrnya sudah tidak lagi sesuai buat era globalisasi”, atau perkataan “Al Islãm itu mengajarkan terorisme, radikalisme, ekstrimisme”, atau juga banyaknya berita dari media-media milik orang kãfir yang memang menebarkan Islamophobia untuk mendiskreditkan Islãm dan kaum Muslimĩn dengan berita-berita mereka; maka sadarilah bahwa hal ini sudah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Allõh سبحانه وتعالى. Karena mereka (orang-orang musyrikin dan orang-orang kãfir) memang berkehendak untuk memadamkan cahaya (agama) Allõh سبحانه وتعالى dengan lisan-lisan mereka.

Al Imãm Al Baghowy رحمه الله dalam Kitab “Ma’ãlimu At Tanzĩl 4/39 kemudian juga menukil perkataan Al Imãm Al Kalbi رحمه الله bahwa yang dimaksud dengan “Nũrullõh” (نُورَ اللَّهِ) itu adalah “Al Qur’an”. [4]

Berarti orang-orang musyrikin dan orang-orang kãfir akan terus-menerus berupaya memadamkan cahaya Al Qur’an. Mereka menolak Al Qur’an. Oleh karena itu, apabila di zaman sekarang kita jumpai orang-orang yang menolak Al Qur’an, tidak membenarkan Al Qur’an, mendustakan Al Qur’an; maka mereka itu digambarkan oleh Allõh سبحانه وتعالى sebagai orang-orang kãfir atau orang-orang yang mengikuti jejak orang kãfir.

Selanjutnya Al Imãm Al Baghowy رحمه الله menafsirkan ayat “li yuzh-hirohũ ‘alã dĩni kullihĩ walauw karihal musyrikũn” (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ) sebagai berikut :
Bahwa Muhammad Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم meninggikan Al Islãm, memenangkan Al Islãm, diatas semua agama yang ada; meskipun orang-orang kãfir membencinya.”

Beliau (Al Imãm Al Baghowy رحمه الله) juga menukil perkataan Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, bahwa yang dimaksud dengan hal tersebut adalah: “Al Islãm menjadi menang diatas segala agama, sehingga seluruh syari’atnya tidak ada yang tersembunyi barang sedikitpun.” [5]

Seluruh ajaran Islãm itu menjadi nyata, nampak, diamalkan dan dikerjakan / dilaksanakan oleh para pengikutnya. Agar menjadi seperti demikian itulah maka Allõh سبحانه وتعالى mengutus Muhammad Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم.

Berikutnya (Al Imãm Al Baghowy رحمه الله) menukil perkataan Al Imãm Asy Syãfi’iy رحمه الله bahwa: “Allõh سبحانه وتعالى telah menampakkan, memenangkan Rosũl-Nya diatas semua agama yang ada dengan bukti, sehingga semua orang yang mendengarkan ajarannya akan mengetahui bahwa itu adalah kebenaran.
Dan apa saja yang menyelisihi Al Islãm dan Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah bãthil. Syirik itu ada dua, yaitu agama Ahli Kitab (Yahudi, Nashroni) dan agama orang-orang yang ummi [*]. Allõh سبحانه وتعالى memenangkan Al Islãm diatas agama orang-orang yang ummi, sehingga Al Islãm dijadikan sebagai agama oleh mereka, baik secara sukarela maupun terpaksa. Oleh karena itu, sebagian dari Ahli Kitab (Yahudi, Nashroni) pun memeluk Al Islãm.
Bukti bahwa agama mereka itu kalah dan Al Islãm yang menang, adalah bahwa orang-orang Yahudi dan Nashroni itu bahkan membayar upeti (pajak) kepada kaum Muslimin, karena mereka harus tunduk dan patuh pada aturan Islãm. Serta diterapkannya Hukum Islãm di masa itu, bahkan terhadap orang-orang kãfir sekalipun. Dan inilah yang dimaksud dengan kemenangan Islãm diatas semua agama.” [6]

[*] Agama orang-orang yang “ummi” yang dimaksud dalam perkataan Al Imãm Asy Syãfi’iy رحمه الله, adalah selain Ahlul Kitab, termasuk di dalamnya orang-orang musyrikin Mekkah.

Mari kita bandingkan penjelasan Al Imãm Al Baghowy رحمه الله diatas dengan keadaan kaum Muslimin di zaman sekarang.

Adakah syari’at Islãm saat ini tersembunyi ataukah nampak nyata diberlakukan di muka bumi? Kalau syari’at Islãm itu tidak nampak nyata diberlakukan di muka bumi, itu bisa jadi suatu pertanda bahwa kita kaum Muslimin lah yang telah meninggalkan ajaran Islãm. Karena apabila kaum Muslimin memiliki kegigihan dalam mengamalkan Islãm, sungguh-sungguh berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As Sunnah (seperti di masa Rosûlullõh صلى الله عليه وسلم dan para shohabatnya رضي الله عنهم), maka pastilah Islãm itu akan berjaya, disegani dan kharismatik. Akan tetapi kalau kaum Muslimin meninggalkan ajaran Islãm, dan ini tercermin dari tidak diberlakukannya syari’at Islãm di berbagai belahan bumi saat ini, maka lihatlah betapa kaum Muslimin itu dirundung kehinaan dan keterpurukan. Ini akibat mereka meninggalkan dĩn-nya. Hal ini telah disabdakan oleh Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم sejak 1435 tahun yang lalu, sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imãm Abu Dãwud dalam Sunan-nya no: 3464 dari ‘Abdullõh bin ‘Umar رضي الله عنه :

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Artinya:
Jika kalian sudah saling berjual beli dengan riba’ dan mengambil ekor sapi (membuntuti dunia), dan puas dengan pertanian (investasi) dan kalian tinggalkan jihad, maka Allõh akan jadikan kalian dikuasai oleh kehinaan yang tidak akan dicabut sehingga kalian kembali kepada dien kalian.”

Hadits diatas sangat tepat menggambarkan keadaan kaum Muslimin di zaman kita sekarang. Saat ini sistem riba lah yang digunakan hampir dalam berbagai sektor perekonomian kita. Kaum Muslimin sibuk dengan urusan duniawinya, ma’ĩsyah-nya dan mereka meninggalkan kewajiban ber-jihad fĩ sabĩlillah untuk menegakkan kalimat Allõh سبحانه وتعالى. Maka lihatlah, betapa bisa kita saksikan secara nyata bahwa kaum Muslimin di berbagai belahan dunia saat ini berada dalam keadaan hina, mereka dibunuh, diusir dari rumah-rumah dan negeri-negeri kelahiran mereka. Dan Allõh سبحانه وتعالى telah menetapkan bahwa keadaan ini akan terus berlangsung sampai kaum Muslimin itu sendiri mau kembali kepada agama mereka (Al Islãm), sampai kaum Muslimin itu sendiri kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, sampai kaum Muslimin itu sendiri kembali memperjuangkan syari’at Islãm agar berlaku nyata di muka bumi. Apabila kaum Muslimin mau ber-Ittiba’ kepada misi Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم ini (yaitu: menegakkan Al Islam), maka barulah Allõh سبحانه وتعالى akan mencabut kehinaan itu dari mereka.

Jadi “Menegakkan Al Islãm, Memenangkan Al Islãm” barulah sedikit diantara kaum Muslimin yang menyadari kewajiban mereka untuk ber-Ittiba’ dalam poin ini. Kebanyakan kaum Muslimin masih sibuk memikirkan urusan pribadinya masing-masing, urusan keluarganya sendiri, urusan pekerjaannya sendiri, persis seperti digambarkan dalam Hadits diatas. Dan jarang diantara mereka berpikir, berjuang serta berusaha bagaimana caranya agar Al Islãm itu dapat berjaya kembali, padahal sesungguhnya perjuangannya menegakkan Al Islãm itu merupakan salah satu bentuk Ittiba’-nya kepada Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, yang tidak boleh dilalaikannya.

Bahkan apabila kita perhatikan penjelasan Al Imãm Asy Syãfi’iy رحمه الله diatas, maka bukti bahwa “Al Islãm itu dimenangkan atas segala agamadi zaman Rosûlullõh صلى الله عليه وسلم dan para shohabatnya رضي الله عنهم, adalah dengan diberlakukannya upeti (pajak) atas orang-orang kãfir. Orang-orang kãfir di masa itu justru tunduk pada syari’at Islãm. Dan mereka hidup dengan damai dibawah ketundukan mereka pada syari’at Islãm. Nah, di zaman kita sekarang, yang terjadi adalah justru kebalikannya. Kaum Muslimin lah yang harus membayar pajak, dan hukum yang diberlakukan bagi kaum Muslimin di zaman kita sekarang bukanlah syari’at Islãm, tetapi hukum yang berasal dari orang-orang kãfir. Maka hendaknya kita kaum Muslimin melakukan introspeksi. Mengapa keaadan yang terjadi justru kebalikannya? Itu tidak lain karena kita kaum Muslimin telah meninggalkan dĩn kita. Kita tidak lagi berpedoman pada Al Qur’an dan As Sunnah. Di masa kita sekarang justru kita dapati buku-buku pendidikan agama di sekolah-sekolah ataupun di lembaga-lembaga pendidikan dipenuhi oleh pemikiran dari Barat, Timur, filsafat dan lain sebagainya. Gaya hidup (life-style) kaum Muslimin terkontaminasi kebudayaan Barat, Timur, dan lain sebagainya. Dan itu sebenarnya adalah strategi orang kãfir untuk menghancurkan Islãm dan kaum Muslimin.

Samuel Zweimer, seorang tokoh Yahudi (Ketua Umum Asosiasi Agen Yahudi) dalam Konferensi Missionaris di Yerusalem pada tahun 1935 M, yang dihadiri oleh utusan agen Yahudi dari seluruh dunia (dimana terjemahan pidato Zweimer ini dikutip dari buku Dr. Darauzah Muhammad ‘Izzah berjudul “Al Judzũrul Qodimah li Ahdãsi Banĩ Isro’ĩl wal Yahũd wa Sulũkihim wa Akhlãqihim”, Maktabah Darul Atlas, Damaskus – Syria, 1970):
“… Yang perlu saudara-saudara perhatikan adalah bahwa tujuan misi yang telah diperjuangkan bangsa Yahudi dengan mengirim saudara-saudara ke negeri-negeri Islãm, bukanlah untuk mengharapkan kaum Muslimin beralih ke agama Yahudi atau Kristen. Bukan itu. Tetapi tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari Islãm, dan tidak berpikir (untuk) mempertahankan agamanya. Disamping itu saudara-saudara harus menjadikan mereka jauh dari keluhuran budi, jauh dari watak yang baik….
Saudara-saudara telah mengeluarkan kaum Muslimin dari agama mereka, sekalipun mereka tetap enggan memakai baju Yahudi atau baju Kristen. Gaya hidup seperti itulah sasaran perjuangan kita, yakni para pemuda Islam yang malas, enggan bekerja keras, cenderung berfoya-foya, hanya gemar mempelajari segala hal yang berkaitan dengan sensualitas dan nafsu syahwat, bekerja semata-mata demi mengejar kekayaan material dunia, memburu jabatan, memuaskan nafsunya….
Lanjutkanlah perjuanganmu demi risalah agamamu. Semoga saudara-saudara semua mendapat berkat dari tuhan kita, Elohim, Allah yang Maha Suci dan Maha Agung. Lanjutkanlah perjuangan ini hingga dunia benar-benar terberkati.”
(sumber: http://www.scribd.com/doc/73998914/Edisi5-Online)

Sadarkah kita wahai kaum Muslimin akan strategi mereka untuk menghancurkan dĩn kita?

Berikutnya, Asy Syaikh ‘Abdurrohmãn As Sa’dy رحمه الله dalam Kitab berjudul “Taisĩr Al Karĩm Ar Rohmãn fĩ Tafsĩr Kalãmil Mannãnhalaman 382, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “memenangkan Al Islãm diatas semua agama yang ada” sebagaimana dalam QS. At Taubah (9) ayat 33 diatas adalah:
Agar Rosûlullõh صلى الله عليه وسلم menjadikan Al Islãm tinggi diatas semua agama itu dengan argumentasi, penjelasan dan pedang / senjata. Walaupun orang-orang musyrik benci dan kemudian mereka membangkangnya dan mereka bermakar kepada Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم. Makar yang buruk itu tidak akan berpulang kecuali kepada orang yang berbuat makar tersebut. Allõh سبحانه وتعالى telah berjanji dan Dia (Allõh سبحانه وتعالى) akan mewujudkan apa yang telah dijanjikan-Nya. Dan apa yang Allõh سبحانه وتعالى telah jamin, mesti akan terjadi.” [7]

Berarti untuk menjadikan Al Islãm itu tinggi, menang diatas agama selainnya, maka diperlukan adanya proses penyampaian Hujjah / argumentasi ataupun dalĩl, akan ada pula penjelasan agar kebenaran Al Islãm ini dapat dimengerti, dipahami sejelas-jelasnya oleh pihak yang didakwahi; dan ada pula pengawalan dengan pedang / senjata sebagai langkah terakhir. Ketika cahaya Al Islãm hendak dipadamkan dari muka bumi oleh musuh-musuh Allõh سبحانه وتعالى yang memerangi Al Islãm, membunuh serta membantai kaum Muslimin di berbagai tempat, mengusir kaum Muslimin dari rumah-rumah dan tanah-tanah mereka. Maka kewajiban kaum Muslimin ketika itu adalah membela diri mereka dan membela kemuliaan agama mereka, sekalipun harus menggunakan pedang / senjata.

Contoh sederhana, apabila rumah kita dirampok penjahat; maka kita wajib membela diri. Bila perlu boleh saja mengangkat senjata untuk melawan sang perampok. Sekalipun kita mati ketika membela diri dan harta kita di kala itu, maka matinya adalah mati syahid sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imãm Ibnu Mãjah no: 2580, dari Shohabat Sa’ĩd bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda :

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Artinya:
Barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya, maka ia adalah seorang syahid.”

Nah, demikian pula permisalannya untuk skala yang lebih besar. Kalau negeri kaum Muslimin diinvasi musuh untuk dijajah, tanah mereka dijarah dan diambil penjajah. Mereka diusir dari tanah kelahirannya. Maka siapakah teroris-nya? Tentulah penjajah-nya. Kaum Muslimin yang berjihad membela diri ketika tanah kelahiran dan rumahnya dirampas penjajah, maka boleh bagi mereka mengangkat pedang / senjata dan melawan sang penjajah. Jangan katakan bahwa kaum Muslimin yang berjihad membela diri itu sebagai Teroris. Penjajah-nya lah yang Teroris sesungguhnya. Logika ini sederhana, namun sering diputar-balikkan oleh gencarnya pemberitaan media massa orang kuffãr, sehingga seakan-akan kaum Muslimin lah yang bersalah. Hitam dikatakan Putih, dan Putih dikatakan Hitam. Itulah fenomena pemutarbalikan fakta yang datang dari media-media milik orang kuffãr, yang perlu kita waspadai.

Berikutnya, dalĩl lainnya adalah firman Allõh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Fath (48) ayat 27-28 :

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا (٢٧) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (٢٨

Artinya:
(27) “Sungguh, Allõh akan membuktikan kepada Rosũl-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Harom, jika Allõh menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allõh mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.”
(28) “Dialah yang mengutus Rosũl-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq (benar) agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allõh sebagai saksi.”

Al Imãm Al Baidhowy رحمه الله, seorang ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dari kalangan madzab Asy Syãfi’iy, dalam Kitab Tafsĩrnya [8] yang berjudul “Anwãr At Tanzĩl wa Asrõrut Ta’wĩl5/131-132, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Untuk memenangkan-nya diatas segala agama (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ)” pada ayat diatas adalah:
Agar Al Islãm itu menang diatas semua jenis agama, dengan cara mengokohkan yang benar, serta menampakkan kerusakan yang bãthil; dan menjadikan kaum Muslimin menguasai dunia.”

Dalam ayat sebelumnya, Allõh سبحانه وتعالى telah menjanjikan kemenangan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Dan Allõh سبحانه وتعالى mengutus Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم agar agama yang haq (Al Islãm) ini dimenangkan-Nya atas semua agama lainnya, dan itu untuk menghapus kebãthilan dan menggantinya dengan kebenaran. Berarti, akan ada pertarungan antara yang haq (Al Islãm) dengan yang bãthil. Oleh karena itu, janganlah kita kaum Muslimin terkejut, resah, gelisah atau takut ketika kita menempuh jalan untuk memenangkan Al Islãm, maka akan menemui penentangan yang dahsyat dari orang yang memusuhi Al Islãm. Orang yang tidak suka kebenaran Al Islãm tegak, akan memberikan hadangan / penentangan yang keras untuk mempertahankan kebãthilan-nya. Namun hendaknya kita kaum Muslimin yakin, bahwa janji Allõh سبحانه وتعالى pastilah benar, bahwa Al Islãm pasti akan dimenangkan-Nya apabila kaum Muslimin mau memperjuangkan kebenaran-nya. Karena Al Haq pastilah akan mengalahkan Al Bãthil.

Adapun kalau sampai saat ini, kita berada di zaman dimana syari’at Islãm belum nampak nyata diberlakukan di muka bumi; maka bukanlah karena Allõh سبحانه وتعالى melanggar janji-Nya. Bukan pula karena Al Islãm yang salah. Namun, salahkanlah diri kita sebagai ummat Islãm yang belum ber-Ittiba’ kepada Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم untuk menjalankan misi beliau untuk memperjuangkan Al Islãm agar Al Islãm itu dimenangkan diatas semua agama lainnya di muka bumi. Kita kaum Muslimin yang belum berjuang dengan sungguh-sungguh.

Pada zaman Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم dan para shohabatnya رضي الله عنهم, Al Islãm itu eksis / nyata. Syari’at-nya diberlakukan di muka bumi secara nyata. Hal itu dapat terjadi karena pengikut Islãm dikala itu eksis pula, mereka nyata dalam perjuangan mereka untuk memenangkan Islãm. Kalau di zaman kita sekarang, syari’at Islãm tidak nyata diberlakukan di muka bumi; dan di berbagai belahan dunia saat ini yang diberlakukan justru hukum yang berasal dari orang kãfir. Akibatnya dĩnul Haq (Al Islãm) akan diambil alih posisinya oleh agama selainnya yang bãthil. Ini semua terjadi karena kita sebagai pengikut Islãm tidak eksis dalam memperjuangkan dĩn kita. Hendaknya kita kaum Muslimin banyaklah ber-introspeksi, jangan salahkan siapa-siapa kecuali kita menyalahkan diri kita sendiri sebagai ummat Islãm yang belum ber-Ittiba’ secara maksimal kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم. Kita belum berjuang secara maksimal. Kita masih sibuk dengan urusan pribadi kita masing-masing, urusan duniawi kita masing-masing, dan lalai memperjuangkan kebenaran Islãm dengan sebenar-benarnya perjuangan.

‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah lainnya yakni Al Imãm Ibnu Katsĩr رحمه الله, dalam Kitab Tafsĩrnya “Tafsĩr Ibnu Katsĩr13/132 juga menjelaskan tentang “li yuzh-hirohũ ‘alã dĩni kullihĩ (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ)” sebagai berikut:
Bahwa seluruh pengikut agama penghuni bumi dimenangkan oleh Al Islãm, apakah ia bangsa Arab ataupun bukan bangsa Arab. Apapun pengikut ajaran agamanya maka mereka semua akan kalah dan kaum Muslimin lah yang dimenangkan. Karena Allõh سبحانه وتعالى telah mempersaksikan bahwa Muhammad Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم adalah utusan-Nya.” [9]

Kemudian dalĩl berikutnya adalah firman Allõh سبحانه وتعالى dalam QS. Ash Shoff (61) ayat 9 :

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Artinya:
Dialah yang mengutus Rosũl-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang musyrik membencinya.”

Asy Syaikh ‘Abdurrohmãn As Sa’dy رحمه الله menjelaskan makna “untuk memenangkannya diatas segala agama” sebagaimana dalam QS. Ash Shoff (61) ayat 9 diatas, di dalam Kitab beliau berjudul “Taisĩr Al Karĩm Ar Rohmãn fĩ Tafsĩr Kalãmil Mannãnhalaman 1014 itu sebagai berikut:
Agar Muhammad صلى الله عليه وسلم meninggikan (Al Islãm) diatas semua agama dengan hujjah, dalĩl dan argumentasi, dan memenangkan pemeluknya yang senantiasa tegak mengamalkan agamanya dengan pedang. Dan adapun tentang agama, maka gambaran ini selalu merekat di setiap waktu; tidak mungkin ada yang mengalahkannya. Jika ada yang membantahnya, maka dia akan tersungkur dan terkalahkan. Sehingga Al Islãm lah yang nampak dan menang. Adapun kaum muslimin yang menamakan dirinya Muslim, maka jika mereka mengamalkan (Al Islãm), menjadikannya sebagai cahaya penerang, menjadikannya sebagai petunjuk, baik dalam perkara agama mereka maupun perkara dunia mereka, maka tidak akan ada seorang pun yang dapat mengalahkan mereka dan justru mereka akan menang di hadapan seluruh penganut agama yang ada. Namun sebaliknya, jika mereka (kaum Muslimin) menyia-nyiakan agama itu, dan mencukupkan diri dengan sekedar menisbatkan diri kepada Islãm (– maksudnya: Islam sebatas KTP – pent.), maka Al Islãm tidak akan bermanfaat pada diri mereka, dan justru dengan mereka mengabaikan Islãm dari kehidupan mereka lah yang menjadi penyebab bagi musuh-musuh Islãm untuk menguasai diri mereka. Yang demikian itu, bisa diketahui berdasarkan telaah dan pengamatan terhadap awal maupun akhir sejarah kaum Muslimin.” [10]

Ayat ini hampir mirip dengan ayat-ayat sebelumnya diatas. Berarti, bahwa “li yuzh-hirohũ ‘alã dĩni kullihĩ (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ)” diulang sampai 3 kali di dalam Al Qur’an. Dengan demikian, seharusnya Al Islãm itu menang, tidak kalah; dan seharusnya Al Islãm itu tinggi, tidak direndahkan; sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imãm Ad Dãruquthny no: 3620, di-hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny dalam kitab “Al Irwã’ul Gholil fĩ Takhrĩji Ahãdĩtsi Manãris Sabĩl” no: 1268 :

عَنْ عَائِذِ بْنِ عَمْرٍو الْمُزَنِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ :  الإِسْلاَمُ يَعْلُو، وَلاَ يُعْلَى

Artinya:
Dari ‘Aidz Bin ‘Amr Al Muzany, dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa beliau bersabda : “Islãm itu tinggi dan tidak ada yang bisa lebih tinggi.”

Seharusnya pula Al Islãm itu nyata dijadikan sebagai Pedoman / Tatanan Hidup kaum Muslimin, bukan hanya sekedar sebagai ritual belaka.

Contoh:
Dalam masyarakat kita yang mayoritas adalah muslim, berapa persenkah diantara muslimah itu yang berjilbab? Lebih banyak jumlahnya, ataukah lebih sedikit? Ternyata, ditinjau dari segi kuantitas, sampai saat ini pun muslimah yang berjilbab jumlahnya masih lebih sedikit dibandingkan dengan yang membuka aurot-nya.
Berikutnya, dari segi kualitas, berapa persenkah yang berjilbab secara syar’ie dan berapa persen yang masih ber-tabarruj (– yakni menggunakan “jilbab modis” / “jilbab gaul” dengan warna serta corak yang sangat menyolok sehingga mengundang perhatian kaum laki-laki –)? Ternyata ditinjau dari segi kualitas, maka yang ber-tabarruj lah yang jauh lebih banyak jumlahnya.
Ini belum lagi bila ditinjau dari sisi niat memakai jilbab, apakah sudah benar niatnya karena Allõh سبحانه وتعالى, ataukah karena niat selainnya, seperti: ia berjilbab sekedar mengikuti mode, atau ia berjilbab karena takut terkena sinar matahari (ultra violet), dan lain sebagainya.
Berarti bila dilakukan penyaringan, akan semakin mengkerucut lagi. Sangatlah sedikit jumlah muslimah yang berjilbab secara syar’ie dan dilakukannya karena Allõh سبحانه وتعالى.
Kita memang tetap bersyukur kepada Allõh سبحانه وتعالى bahwa jumlah wanita berjilbab di masyarakat kita dari tahun ke tahun itu ada peningkatan yang signifikan; hanya saja perlu kita kaum Muslimin koreksi bahwa ketika kita membahas tentang “Al Islãm yang seharusnya nyata dijadikan sebagai Pedoman / Tatanan Hidup kaum Muslimin”, maka bila kita telaah keadaan kaum Muslimin di negeri kita, dalam kenyataannya adalah masih jauh dari apa yang diperintahkan Allõh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an yaitu “menjadikan Al Islãm menang dibandingkan semua agama yang ada”, menjadikan Al Islãm itu tinggi. Berarti, kita hendaknya melakukan introspeksi sudah seberapa jauh kita kaum Muslimin ber-Ittiba’ kepada Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم dalam misi beliau ini.

Dimanakah keberadaan dan tanggung jawab kita sebagai ummat Islãm? Bukankah wanita-wanita muslimah itu bagian dari ummat Islãm? Bagaimanakah pengaruh laki-laki muslim terhadap para wanita muslimah tersebut? Seharusnya setiap laki-laki muslim dapat mengajari dan mempengaruhi istrinya, anak-anak perempuannya, adik perempuannya dan para wanita yang menjadi keluarga dekatnya. Kalau justru dalam kenyataannya masih banyak muslimah yang tidak berjilbab, maka bisa dikatakan bahwa pengaruh laki-laki muslim masih mengalami “krisis” di negeri kita. Itu baru dari satu sisi saja, yakni dari sisi Jilbab, belum lagi dari berbagai sisi lainnya.

Memang, keadaan ini bisa jadi akibat dari lemahnya ilmu (dĩn) dan kurangnya pemahaman kaum Muslimin itu sendiri terhadap dĩn mereka; namun disamping itu juga kurangnya kesadaran dari kaum Muslimin bahwa mereka itu sesungguhnya memiliki tanggung jawab untuk ber-Ittiba’ terhadap Rosûlullõh صلى الله عليه وسلم dalam misi beliau yang satu ini, yaitu: menampakkan, melaksanakan dan menjadikan syari’at Allõh سبحانه وتعالى nyata di muka bumi, sehingga Al Islãm itu menang dan tinggi dibandingkan semua agama lainnya. Dan tugas ini adalah tugas kita semua, sebagai ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم. Marilah kesadaran itu kita bangun dari sekarang. Jangan kita hanya berpikir secara individual belaka, akan tetapi perlu pula berpikir secara global bahwa ada tugas besar bersama yang tidak boleh dilupakan oleh kita semua kaum Muslimin, yakni: “li yuzh-hirohũ ‘alã dĩni kullihĩ (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ)”.

Perhatikanlah firman Allõh سبحانه وتعالى dalam QS. Asy Syũrõ (42) ayat 13 :

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

Artinya:
Dia (Allõh) telah mensyari’atkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrohim, Musa dan ‘Isa, yaitu, tegakkanlah agama (dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat besar kebencian orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allõh memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhĩd dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).”

Dalam ayat diatas disebutkan tidak kurang dari lima Rosũl, bahkan mereka itu adalah Rosũl Ulul ‘Azmi, yaitu: Nabi Nuh, Nabi Ibrohim, Nabi Musa, Nabi ‘Isa عليهم السلام dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Kepada kelima Rosũl Ulul ‘Azmi tersebut turun wasiat Allõh سبحانه وتعالى, yakni: Tegakkanlah agama (Islãm) dan janganlah berpecah belah di dalamnya !

Wasiat (pesan) tersebut berupa kalimat perintah dari Allõh سبحانه وتعالى, yaitu: “Tegakkanlah Islãm”, dan berikutnya berupa kalimat larangan, yaitu: “Janganlah kalian berpecah belah”.

Ketika kalimat perintah itu diikuti oleh kalimat larangan sesudahnya, maka wasiat tersebut menjadi Wajib. Artinya, jika dilaksanakan akan berpahala dan bila ditinggalkan akan mendapatkan sanksi.

Larangannya adalah “Janganlah kalian berpecah-belah, bercerai-berai dalam ber-Islãm”. Maknanya: Perpecahan di dalam Islãm hukumnya adalah Harom. Adapun, “Tegakkan Islãm” hukumnya Wajib. Dengan demikian, “Menegakkan Islãm”, hukumnya Wajib; sementara “Berpecah-belah dalam Islãmhukumnya Harom.

Sesudahnya, dalam QS. Asy Syũrõ (42) ayat 13 diatas, Allõh سبحانه وتعالى kemudian memberikan peringatan bahwa: “Sangat besar kebencian orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka”; maksudnya: Apabila kita mendakwahkan Al Islãm, maka yang paling membenci kepada dakwah ini adalah orang-orang musyrikin. Dan hal ini berlaku terus, bahkan sampai sekarang pun dapat kita rasakan kebenaran ayat ini.

Al Imãm Ibnu Katsĩr رحمه الله dalam Kitabnya “Tafsĩr Ibnu Katsĩr 12/262, menjelaskan arti dari “Tegakkan agama (Islãm) dan jangan kamu berpecah-belah di dalamnya” sebagai berikut:
Bahwa Allõh سبحانه وتعالى berwasiat kepada seluruh Rosũl عليهم السلام, agar mereka saling bersaudara dan berjama’ah (bersatu) dan Allõh سبحانه وتعالى melarang mereka bercerai-berai dan berselisih.” [11]

Kemudian beliau (Al Imãm Ibnu Katsĩr رحمه الله) menjelaskan bahwa yang dimaksud dari “Sangat besar kebencian rang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka” adalah “Tauhĩd”.

Berarti, apa yang diajarkan, diserukan dan disebarkan berupa “Tauhĩd” oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah sangat berat diterima oleh orang-orang musyrikin, sangat dibenci oleh mereka. Dengan demikian, yang paling mengingkari dakwah Tauhĩd adalah orang-orang musyrikin.

Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah lainnya yakni Al Imãm Al Baghowy رحمه الله dalam Kitabnya yang berjudul “Ma’ãlimu At Tanzĩl7/187, mengatakan bahwa:
Allõh سبحانه وتعالى telah memberikan penjelasan, cara-cara dan ajarannya. Dan bahwa Allõh سبحانه وتعالى mengutus Rosũl-Rosũl agar mereka menegakkan Islãm, satu dengan yang lainnya saling damai dan berjama’ah (bersatu), tidak bercerai-berai dan tidak pula saling berselisih.” [12]

Berarti, bahwa Islãm itu bukan hanya misi Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, akan tetapi juga misi seluruh Nabi dan Rosũl lainnya.

Sedangkan Al Imãm Al Baidhowy رحمه الله dalam Kitabnya [13] “Anwãr At Tanzĩl wa Asrõrut Ta’wĩl5/78, menjelaskan makna dari “Menegakkan agama (Islãm)” sebagai berikut:
Menegakkan Al Islãm dalam arti wajib membenarkan dan wajib mentaati Hukum-Hukum Allõh سبحانه وتعالى.”

Berarti, hukum-hukum Allõh سبحانه وتعالى itu harus dibenarkan dan ditaati serta dilaksanakan. Hukum-hukum Allõh سبحانه وتعالى tidak boleh didustakan atau diragukan; bahkan harus diyakini dan dipatuhi. Itulah yang dimaksud dengan “Menegakkan agama (Islãm)”.

Sedangkan Syaikh ‘Abdurrohman As Sa’dy رحمه الله dalam Kitab beliau berjudul “Taisĩr Al Karĩm Ar Rohmãn fĩ Tafsĩr Kalãmil Mannãnhalaman 888, menjelaskan ayat diatas sebagai berikut:
Bahwa ini (Islãm) adalah karunia Allõh سبحانه وتعالى yang sangat besar yang Allõh سبحانه وتعالى karuniakan kepada hamba-Nya. Dan bahwa Allõh سبحانه وتعالى men-syari’atkan dĩn kepada hamba-Nya sebaik-baik agama dan seutama-utama agama. Ajaran agama (dĩn) yang paling suci dan paling bersih adalah Islãm; yang Allõh سبحانه وتعالى syari’atkan kepada hamba-hamba yang terpilih (para Nabi dan para Rosũl), bahkan Allõh سبحانه وتعالى men-syari’atkan kepada manusia pilihan dari yang terpilih (Ulul ‘Azmi)……
Tegakkanlah Agama (أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ), maknanya adalah Allõh سبحانه وتعالى memerintahkan kalian agar menegakkan seluruh Syari’at Islam, pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya (– aqĩdahnya dan fiqihnya – pen.). Kalian menegakkan Islãm pada diri kalian dan kalian hendaknya bersungguh-sungguh pula dalam menegakkan Islãm atas selain kalian. Hendaknya kalian saling tolong-menolong diatas kebajikan dan taqwa, dan janganlah kalian bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan…..
Dan janganlah kalian bercerai berai’, maknanya adalah: Berusahalah kalian untuk bersepakat di atas pokok-pokok Islãm, maupun dalam cabang-cabangnya. Dan gigihlah kalian, janganlah berbagai masalah menjadikan kalian bercerai-berai. Dan janganlah pula berbagai masalah menjadikan kalian berkelompok-kelompok (–bersekte-sekte – pen.), sehingga satu sama lainnya akan saling memusuhi. Padahal sesungguhnya kalian telah bersepakat dalam ‘aqĩdah kalian, maka mengapakah kalian berselisih sesudahnya?
Diantara yang harus kita pahami adalah bahwa ada berbagai jenis bentuk kita bersepakat diatas dĩn dan tidak bercerai-berai, yakni ketika haji, ketika ber-Hari Raya, ketika Sholat Jum’at, ketika sholat lima waktu, ketika berjihad fĩ sabĩlillah, dan berbagai ibadah lainnya; yang semuanya itu tidak akan sempurna kecuali dengan bersepakat dan berkumpul diatas Syari’at itu dan tidaklah bercerai-berai.” [14]

Pada intinya, hendaknya kaum Muslimin bersepakat dan jangan bercerai-berai dalam ‘aqĩdah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dan kalau sudah bersepakat, maka janganlah berselisih !

Kesimpulan kajian kita adalah bahwa:
(1) Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم diutus oleh Allõh سبحانه وتعالى untuk menyampaikan Al Islãm
(2) Iman kepada Allõh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم menuntut untuk membenarkan Al Islãm
(3) Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم telah mengajarkan, menegakkan dan mewariskan Al Islãm kepada ummatnya
(4) Pengikut Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم adalah orang yang setia mengikuti Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم.
(5) Masa depan adalah untuk kaum Muslimin. Dan Islãm pasti akan berjaya kembali.

Bahwa masa depan milik kaum Muslimin dan Islãm akan berjaya kembali adalah berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Al Imãm Al Bukhõry no: 8326 dan Al Imãm Ibnu Hibban رحمه الله dalam Shohĩh-nya no: 6701, dari Shohabat Tamim Ad Dãri رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

ليبلغن هذا الأمر مبلغ الليل و النهار و لا يترك الله بيت مدر و لا وبر إلا أدخله هذا الدين بعز عزيز أو بذل ذليل يعز بعز الله في الإسلام و يذل به في الكفر (قال شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الصحيح

Artinya:
Sesungguhnya perkara dĩn ini (Islãm), benar-benar sungguh akan sampai kepada belahan bumi yang terjangkau oleh malam dan siang. Allõh tidak akan membiarkan darat atau lautan-Nya kecuali Allõh akan memasukkan Islãm dengan keperkasaan orang yang perkasa yang memperjuangkan Islãm, atau dengan kehinaan yang dengan kehinaan itu orang-orang kãfir menjadi terhina.”

Juga sebagaimana Hadits Riwayat Al Imãm Ahmad no: 18402, dari Shohabat An Nu’man bin Basyĩr رضي الله عنه, dan berkata Syaikh Syuaib Al Arna’ũth رحمه الله bahwa sanad hadits ini Hasan, dan Hadit ini di-shohĩhkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny رحمه الله dalam Kitab Silsilah Hadits Shohĩh no: 5, bahwa: “Dari An Nu’man bin Basyĩr رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda,

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ

Artinya:
Kenabian ditengah-tengah kalian akan berlangsung sebagaimana Allõh سبحانه وتعالى kehendaki, kemudian Allõh سبحانه وتعالى angkat jika Allõh سبحانه وتعالى kehendaki. Kemudian adalah Khilãfah diatas pedoman Nabi صلى الله عليه وسلم, kemudian Allõh سبحانه وتعالى angkat jika Allõh سبحانه وتعالى kehendaki. Kemudian adalah Kerajaan yang menggigit (– turun temurun –pent.), kemudian Allõh سبحانه وتعالى angkat jika Allõh سبحانه وتعالى kehendaki. Kemudian adalah Kerajaan Jabriyyah (tirani), kemudian Allõh سبحانه وتعالى angkat jika Allõh سبحانه وتعالى kehendaki. Kemudian Khilãfah diatas Pedoman Nabi صلى الله عليه وسلم.” Kemudian Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم diam.”

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allõh سبحانه وتعالى,

Islãm pasti akan berjaya kembali sebagaimana janji Allõh سبحانه وتعالى, dan tugas kita kaum Muslimin bukanlah hanya berpangku tangan menunggu janji Allõh سبحانه وتعالى itu terwujud; akan tetapi kita dituntut untuk ber-Ittiba’ kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم, mencontoh tauladan beliau صلى الله عليه وسلم, dan turut berpartisipasi dalam mengupayakan apa yang menjadi misi beliau صلى الله عليه وسلم, diantaranya adalah menjadikan syari’at Islãm tegak, nampak nyata, serta diberlakukan di muka bumi.

Sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Dan kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْك
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 18 Dzulhijjah 1435 H – 13 Oktober 2014 M.

—– oOo —–

[1]   Ath Thobary, Muhammad bin Jarĩr Abu Ja’far, Jãmi’u Al Bayãni fĩ Ta’wĩli Al Qur’ãn, Beirut: Mu’assasah Ar Risãlah, I, 1420 H/2000 M, 14/214.

[2]   Ath Thobary, Muhammad bin Jarĩr Abu Ja’far, Jãmi’u Al Bayãni fii Ta’wĩli Al Qur’ãn, Beirut: Mu’assasah Ar Risãlah, I, 1420 H/2000 M, 14/215.

[3]   Al Baghowy Asy Syãfi’iy, Abu Muhammad Al Husein bin Mas’ũd, Ma’ãlimu At Tanzĩl Tahqĩq ‘Utsman Jum’ah, dkk., Riyãdh: Dãr Thoyyibah, 1412 H, 4/39.

[4]   Al Baghowy Asy Syãfi’iy, Abu Muhammad Al Husein bin Mas’ũd, Ma’ãlimu At Tanzĩl Tahqĩq ‘Utsman Jum’ah, dkk., Riyãdh: Dãr Thoyyibah, 1412 H, 4/39

[5]   Al Baghowy Asy Syãfi’iy, Abu Muhammad Al Husein bin Mas’ũd, Ma’ãlimu At Tanzĩl Tahqĩq ‘Utsman Jum’ah, dkk., Riyãdh: Dãr Thoyyibah, 1412 H, 4/39-40.

[6]   Al Baghowy Asy Syãfi’iy, Abu Muhammad Al Husein bin Mas’ũd, Ma’ãlimu At Tanzĩl Tahqĩq ‘Utsman Jum’ah, dkk., Riyãdh: Dãr Thoyyibah, 1412 H, 4/40-41.

[7]   As Sa’dy, ‘Abdurrohmãn bin Nashĩr, Taisĩr Al Karĩm Ar Rohmãn fĩ Tafsĩr Kalãmil Mannãn, Riyãdh: Dãrus Salãm, II, 1422 H/2002 M, 382.

[8]   Al Baidhowy, Nãshiruddin Abul Khoĩr ‘Abdullõh bin ‘Umar bin Muhammad Asy Syiroozĩ, Anwãr At Tanzĩl wa Asrõrut Ta’wĩl, Beirut: Dãr Ihyã At Turõts Al Arobĩ dan Mu’assasah At Tarĩkh Al Arobĩ, I, 5/131-132.

[9]   Ibnu Katsĩr, Imãduddĩn Abul Fidã Isma’ĩl, Tafsĩr Ibnu Katsĩr Tahqĩq Mustofa As Sayyid Muhammad, Jĩzah: Maktabah Qurthubah, I, 1421 H/2000M, 13/132.

[10]   As Sa’dy, ‘Abdurrohmãn bin Nashĩr, Taisĩr Al Karĩm Ar Rohmãn fĩ Tafsĩr Kalãmil Mannãn, Riyãdh: Dãrus Salãm, II, 1422 H/2002 M, 1014.

[11]   Ibnu Katsĩr, Imãduddĩn Abul Fidã Isma’ĩl, Tafsĩr Ibnu Katsĩr Tahqĩq Mustofa As Sayyid Muhammad, Jĩzah: Maktabah Qurthubah, I, 1421 H/2000M, 12/262.

[12]   Al Baghowy, Abu Muhammad Al Husein bin Mas’ũd, Ma’ãlimu At Tanzĩl Tahqĩq ‘Utsman Jum’ah, dkk., Riyãdh: Dãr Thoyyibah, 1412 H, 7/187.

[13]   Al Baidhowy, Nãshiruddin Abul Khoĩr ‘Abdullõh bin ‘Umar bin Muhammad Asy Syiroozĩ, Anwãr At Tanzĩl wa Asrõrut Ta’wĩl, Beirut: Dãr Ihyã At Turõts Al Arobĩ dan Mu’assasah At Tarĩkh Al Arobĩ, I, 5/78.

[14]   As Sa’dy, ‘Abdurrohmãn bin Nashĩr, Taisĩr Al Karĩm Ar Rohmãn fĩ Tafsĩr Kalãmil Mannãn, Riyãdh: Dãrus Salãm, II, 1422 H/2002 M, 888.

—– oOo—–

Silahkan download PDF : Misi Rosuul (Bagian-4) AQ13102014 FNLE

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: