Skip to content

Lakum Diinukum Waliya Diin

28 December 2013

Lakum Diinukum Waliya Diin

Peringatan Hari Natal & Tahun Baru, dapat dipastikan keduanya bukan dari Al Islam. Walaupun kenyataannya tidak sedikit kaum Muslimin yang tenggelam didalamnya; baik dalam meramaikannya, menyemarakkannya hingga mengambil untung material, hingga pengucapan “Selamat”.

Tentu jika kita lihat hal ini dari kacamata Syari’at, dapat dipastikan bahwa yang demikian itu adalah kesalahan yang tidak kecil. Selain menunjukkan kebodohan, kelemahan iman, krisis jati diri, budaya meniru (tasyabbuh), juga salah satu bentuk kema’shiyatan kepada Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم.

Kaum Muslimin mestinya bangga dengan Al Islam. Tidak selalu meniru (tasyabbuh) kepada ajaran lain. Dapat memahami dan menerapkan makna TOLERANSI yang DIBENARKAN OLEH SYARI’AT, yaitu: “LAAKUM DIINUKUM WALIYA DIIN” (Bagi kalian Agama kalian & Bagiku adalah Agamaku).

Toleransi bukan berarti mengucapkan “Selamat Natal & Tahun Baru” atau tukar menukar hadiah kepada orang yang tidak beriman akan kebenaran Al Islam.
Apalagi didalam Al Qur’an, orang kaafir itu, jika mati dalam keadaan kaafir maka mereka terancam masuk Jahannam sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Surat Al Bayyinah (98) ayat 5:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”

Maka bagaimanakah orang yang menurut Allooh سبحانه وتعالى itu “Calon Celaka” malah diberi kata “Selamat…” ???
Bukankah hal ini adalah bentuk pernyataan yang sebenarnya bertolak belakang dengan apa yang diyakininya ? Maka pahamilah dan cermatilah.

Selamat menyimak audio khutbah Jum’at berikut ini !!

Download:

Lakum Diinukum Waliya Diin, Bagian-1

Lakum Diinukum Waliya Diin, Bagian-2

Advertisements
5 Comments leave one →
  1. 1 January 2014 4:24 pm

    Assalamu’alaikum, ustadz maaf kalau waktu dan tempat tidak pada semestinya. Saya mau menanyakan bagaimana dengan pertanyaan saya yang ada di konsultasi? Terimakasih Wassallam.

    • 2 January 2014 8:21 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

      Ya akhi… mohon maaf, karena kesibukan Ustadz maka belum dapat menjawab pertanyaan anda.
      Namun ada hal yang perlu anda ketahui adalah bahwa: APABILA Ustadz meng-“iya”-kan tulisan anda, maka tanggungjawab ‘ilmu berarti berpindah kepundak ana… Dan ini bukan tanggungjawab yang ringan disisi Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa…Sementara ‘Ilmu itu tidak bisa “ujug-ujug”, langsung copy-paste, langsung “acc”… Dibutuhkan waktu untuk menge-check satu persatu Hadits yang ada, dan itu butuh waktu… Sementara pada saat ini, Ustadz belum memiliki waktu yang cukup untuk memeriksa satu persatu Hadits yang ada, akibat kesibukan Ustadz sendiri yang sudah bertumpuk-tumpuk dan belum tertangani.

      Oleh karena itu Ustadz sarankan, tuntutlah ‘Ilmu terlebih dahulu ya akhi… Janganlah anda tergesa-gesa menulis suatu tulisan tentang perkara diin, tanpa anda memiliki ‘ilmu yang cukup tentangnya…. Mudah-mudahan Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa menambah kegigihan anda dalam menuntut ‘ilmu diin…. Barokalloohu fiika.

      • 2 January 2014 5:39 pm

        Assalamu’alaikum, salam hormat saya ke ustadz. Saya tunggu jawaban hingga benar-benar yakin. Memang sudah lebih dari setahun hal ini saya kaji, bahkan sudah sejak 9 bulan yang lalu masalah ini saya gulirkan ke ustadz-ustadz di TV Rodja, Yuvid TV, muslim.org.id dan tidak satu pun yang menjawab; padahal saya sudah berapa kali menanyakan hal ini. Hanya ada satu orang ustadz di Tv Rodja yang menanggapi, itupun mengelak untuk menjawab. Apakah hal ini bukan merupakan kesabaran saya untuk menuntut ilmu? Sungguh hanya dengan menjawab seperti ini saya sudah sangat tersanjung, ustadz. Kadang yang membuat saya kesal, yaitu sebegitu lamanya sama sekali tidak memberi respon apa pun. Perlu ustadz ketahui pula bahwa atas kehendak Allah SWT saya pun menemukan pula kaidah “Bid’ahnya sujud dengan merapatkan telapak kaki”. Insya Allah setelah masalah pertama selesai, saya berkeinginan pula membahas masalah yan kedua. Ya, Allah berikan hidayah keilmuan yang luas kepada hamba-Mu ini dan ustadz Rofi’i sehingga masalah ini segera terselesaikan, amin. Terima kasih Wassalam.

      • 3 January 2014 6:16 pm

        Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
        Bersangka baik saja ya akhi… Bisa jadi belum menjawab itu adalah karena kesibukan pihak yang ditanya, sehingga belum mampu untuk mengecheck hadits yang anda utarakan itu satu per satu.

        Oleh karena adanya kaidah sebagaimana berikut ini, yakni peringatan keras / ancaman dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bagi siapa yang berdusta dalam meriwayatkan Hadits. Oleh karena itu, hendaknya kita harus sangat berhati-hati dalam meriwayatkan suatu Hadits.

        Perhatikanlah ancaman yang telah disampaikan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Shohabat Al Mughiiroh bin Syu’bah رضي الله عنه sebagai berikut,

        مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

        Artinya:
        Barangsiapa meriwayatkan sebuah Hadits dariku, dilihat ternyata hadits itu dusta, maka sesungguhnya ia termasuk salah satu dari para pendusta.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 1)

        Kemudian dalam Hadits shohiih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

        مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

        Artinya:
        Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka bersiaplah dengan tempat duduknya di Neraka.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 110 dan Imaam Muslim no: 4)

        Atau juga dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Al Mughiroh bin Syu’bah رضي الله عنه, ia berkata, “Aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

        إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

        Artinya:
        Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidaklah seperti berdusta atas nama orang lain, barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka bersiaplah dengan tempat duduknya di dalam api Neraka.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5)

        Nah, dengan demikian dibutuhkan waktu untuk mengecheck Hadits-Hadits yang ada, tidak bisa dalam waktu yang singkat / tergesa-gesa meng-“iya”-kan / menyetujuinya. Oleh karena itu Ustadz sarankan, janganlah anda bersegera menulis suatu perkara diin tanpa memiliki pengetahuan dan pemahaman yang benar terhadapnya. Bukankah yang dicari dalam menuntut ilmu itu adalah keridhoan Allooh سبحانه وتعالى, bukan balasan pujian ataupun penghormatan dari manusia, sebagaimana dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Sulaiman bin Yasar, ia berkata bahwa orang-orang mendatangi Abu Hurairohرضي الله عنه, lalu Natil, sesepuh penduduk Syam berkata kepadanya, “Wahai Syaikh, sampaikanlah kepada kami sebuah hadits yang anda dengar dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”
        Abu Hurairoh رضي الله عنه menjawab, “Baiklah, saya mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

        إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ.

        ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِىَ فِى النَّارِ

        Artinya:
        “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari Kiamat nanti adalah seorang yang mati syahid. Ia dibawa kehadapan Allooh سبحانه وتعالى. Lalu disebutkanlah nikmat-nikmat Allooh سبحانه وتعالى kepada dirinya dan ia pun mengakuinya.
        Lalu Allooh سبحانه وتعالى berkata, “Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?
        Ia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.”
        Allooh سبحانه وتعالى berkata, “Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang supaya disebut pemberani. Begitulah kenyataannya.”
        Kemudian diperintahkanlah agar ia diseret, lalu dilemparkan ke Neraka.

        Kemudian seorang yang mempelajari ‘ilmu (dien), mengajarkannya dan membaca Al Qur’an, ia dibawa kehadapan Allooh سبحانه وتعالى. Lalu disebutkanlah nikmat-nikmat Allooh سبحانه وتعالى kepada dirinya dan ia pun mengakuinya.
        Lalu Allooh سبحانه وتعالى berkata, “Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?
        Ia menjawab, “Aku mempelajari ‘ilmu (dien), mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena-Mu semata.”
        Allooh سبحانه وتعالى berkata, “Engkau dusta, sebenarnya engkau mempelajari ‘ilmu (dien) dan mengajarkannya supaya disebut ‘alim. Engkau membaca Al Qur’an supaya disebut Qori. Begitulah kenyataannya.”
        Kemudian diperintahkanlah agar ia diseret lalu dilemparkan ke Neraka.

        Kemudian seorang yang Allooh سبحانه وتعالى beri kelapangan harta. Ia dibawa ke hadapan Allooh سبحانه وتعالى. Lalu disebutkanlah nikmat-nikmat Allooh سبحانه وتعالى kepada dirinya dan ia pun mengakuinya.
        Lalu Allooh سبحانه وتعالى berkata, “Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?
        Ia menjawab, “Tidak satu pun perkara yang Engkau anjurkan supaya berinfaq didalamnya melainkan aku infaqkan hartaku karena-Mu semata.”
        Allooh سبحانه وتعالى berkata, “Engkau dusta, sebenarnya engkau berinfaq supaya disebut dermawan. Begitulah kenyataannya.”
        Kemudian diperintahkanlah agar ia diseret diatas wajahnya lalu dilemparkan ke Neraka.”
        (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 5032)

        Jadi bersabarlah dalam menuntut ilmu diin ini… dan hendaknyalah senantiasa berusaha untuk meluruskan niat kita yakni untuk mencari keridhoan Allooh سبحانه وتعالى…. Barokalloohu fiika

      • 3 January 2014 8:40 pm

        Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

        Ya, Allah kami mohon pemahaman, keberkahan dan kebaikan kepada-Mu dalam menuntut, memahami dan mengamalkan din-Mu….

        Ustadz terimakasih atas wejangannya. Betul ustadz saya mengirim masalah ini secara tersembunyi via email atau admin karena untuk menghindari fitnah. Saya salut dengan ustadz, begitu care walaupun belum kenal dengan orang yang diajak bicara. Apa yang ustadz sampaikan pernah saya baca dan Alhamdulillahi saya pahami. Kalau ustadz perhatikan pada tulisan saya, saya sama sekali tidak berani merubah satu hurufpun dalam tulisan saya, kecuali salah ketik. Bahkan yang saya sampaikan adalah penguat hadits ataupun hadits yang lebih lengkap matannya karena akan memperjelas kaidah secara keseluruhan tidak parsial. Silahkan ustadz pelajari dahulu hingga yakin, saya terima apapun kesimpulan ustadz. Wassalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: