Skip to content

Ash Shirõth

9 May 2012

(Transkrip Ceramah AQI 160309)

ASH SHIRÕTH

Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.

 

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allõh سبحانه وتعالى,

Bahasan kali ini adalah tentang Ash Shirõth (Jembatan, Jalan), yang merupakan satu kata yang tidak ada kata jamak (plural)-nya. Ash Shirõth adalah satu-satunya, atau berarti tidak ada alternatif selainnya. Jadi apabila dikatakan “Ash Shirõthul Mustaqĩm”, maka berarti yang dimaksud itu hanya satu-satunya jalan, yaitu “Jalan yang lurus”.

Sebelumnya, perlu kita sadari bahwa sesungguhnya hidup di dunia ini merupakan perpindahan dari satu terminal ke terminal yang lain. Jadi kehidupan kita di bumi ini sebetulnya sedang berada dalam salah satu terminal; dimana dalam kajian kita beberapa waktu yang lalu telah kita bahas beberapa terminal yang akan dilalui oleh manusia, yakni antara lain :

1. ‘Ãlamul ‘Adam, yaitu alam dimana manusia tidak ada.
2. ‘Ãlamul Kitãbah, yaitu alam dimana manusia tercatat dalam Lauhil Mahfudz, bahwa akan terlahir manusia seperti si Fulan dan si Fulan.
3. ‘Ãlam Ar Rohim, yaitu alam dimana manusia berada dalam Alam Rahim (kandungan ibunya).
4. ‘Ãlamud dun-ya, yaitu alam dimana manusia hidup di dunia ini, dan ia diuji selama berada di alam dunia ini adakah ia tergolong orang-orang beriman ataukah kãfir.
5. ‘Ãlam Barzakh, yaitu alam dimana manusia sesudah matinya berada di Alam Kubur, dan masih menunggu untuk tibanya Hari Kiamat.
6. ‘Ãlam Qiyãmah (‘Ãlam Al Ãkhiroh), yaitu Alam Akhirat, suatu alam keabadian dimana tidak ada alam lain setelahnya, dan manusia akan diberi keputusan oleh Allõh سبحانه وتعالى adakah ia tergolong penghuni Surga ataukah penghuni Neraka.

Berarti sekarang kita sedang berada di terminal Alam Dunia, dan janganlah lupa bahwa setiap diri kita akan pergi meninggalkan dunia ini yaitu yang disebut dengan Kematian. Dan setelah mati, maka tempat kita adalah di ‘Ãlam Barzakh (Alam Kubur).

Dalam Alam Kubur tersebut kita akan mengalami dua hal, yaitu: yang sementara dan yang abadi. Yang sementara disebut dengan “Fitnatul Qobri” dan yang abadi (lama) disebut dengan “Ni’mat atau ‘Adzabun fil Qobri”. Keduanya belum kita alami karena saat ini kita masih berada di alam dunia, belum mati. Kalau kita sudah mati, maka setiap diri kita tidaklah bisa mengelak. Pasti akan mengalami dua alam tersebut, yaitu Alam Kubur dimana kita diuji oleh Allõh سبحانه وتعالى dan hasilnya akan dirasakan seketika, yaitu berupa Ni’mat Kubur atau ‘Adzab Kubur. Mudah-mudahan Allõh سبحانه وتعالى memberikan kepada kita berupa Ni’mat Kubur.

Setelah itu akan terjadi Al Qiyãmah Al Kubro (Kiamat Besar) atau disebut pula sebagai Al Qiyãmah Al Wustho, dimana manusia dalam waktu yang bersamaan akan dimatikan oleh Allõh سبحانه وتعالى dalam seketika dan alam semesta akan rusak serta digulung oleh Allõh سبحانه وتعالى. Ketika alam ini sudah rusak dan sudah selesai, maka itulah yang disebut dengan: awal daripada Alam Akhirat. Adapun kedahsyatan dan kehancuran dunia pada saat itu disebut: Ahwalul Qiyãmah (Kedahsyatan Hari Kiamat).

Setelah Hari Kiamat selesai maka akan muncul fase berikutnya yaitu terminal-terminal yang lain yang harus dilalui oleh manusia, dimana Alam Akhirat yang abadi itu akan diawali dengan Yaumul Ba’tsi (Hari Kebangkitan), Yaumul Hasyr (Hari Dikumpulkan), Yaumul Hisãb (Hari Perhitungan) dan Yaumul Mĩzãn (Hari Penimbangan Amal). Fase-fase tersebut telah kita bahas dalam kajian-kajian kita beberapa waktu yang lalu.

Bahasan kita kali ini adalah berkenaan dengan Ash Shirõth. Ash Shirõth adalah jembatan atau jalan yang tidak ada duanya. Ash Shirõth adalah hanya satu-satunya jalan atau jembatan, dimana setiap diri kita akan melaluinya. Tidak bisa menghindar, mengelak atau lari dari Ash Shirõth tersebut. Semua diri kita akan diperintahkan oleh Allõh سبحانه وتعالى untuk melewati jembatan ini. Mudah-mudahan Allõh سبحانه وتعالى memberikan keselamatan kepada kita dalam meniti jembatan ini.

Nantinya akan kita bahas pula bahwa di ujung jembatan ini, menjelang memasuki surga ada tempat yang disebut Al Qonthoroh yang berdasarkan perkataan para ‘Ulama Ahlus Sunnah adalah penghujung antara manusia selesai dari Ash Shirõth namun sebelum dia memasuki Surga. Namun Al Qonthoroh ini, in syã Allõh akan kita bahas dalam kajian mendatang.

Ash Shirõth, menurut perkataan para ‘Ulama Ahlus Sunnah adalah bermakna Al Jisr (Jembatan). Seperti dikatakan oleh Asy Syaikh Shõlih bin Fauzan Ali Fauzan dalam Kitab “Al Irsyãd ila Shohĩhil ‘Itiqõd war Roddi ‘ala Ahlisy Syirki wal Ilhãd halaman 266 bahwa : “Ash Shirõth adalah jembatan yang terpancang di atas neraka Jahanam. Dan jembatan ini akan dilalui oleh manusia. Dari mulai manusia pertama (Nabi Adam عليه السلام) sampai dengan manusia terakhir (– di akhir zaman nanti –), akan melalui jembatan ini sesuai dengan kadar amalan mereka, dimana dikatakan bahwa jembatan ini lebih halus daripada sehelai rambut.”

Perlu diketahui bahwa Jembatan (Ash Shirõth) ini bukanlah berarti seperti “sehelai rambut dibelah tujuh”, karena anggapan yang seperti ini adalah khurofat yang beredar di masyarakat.

Jadi bukan hanya semata-mata ukuran kecilnya, karena kalau ditinjau dari sisi ukuran maka Ash Shirõth adalah lebih kecil dan lebih halus daripada rambut. Namun yang lebih penting dan lebih berbahaya adalah sebagaimana dijelaskan oleh beliau (Asy Syaikh Shõlih bin Fauzan Ali Fauzan) bahwa : “Ash Shirõth adalah lebih tajam dan lebih terhunus daripada pedang. Juga ia lebih panas daripada bara api.

Sungguh tidak terbayangkan oleh kita, akan seperti apa manusia ketika melalui Ash Shirõth tersebut.

Kemudian Asy Syaikh Shõlih bin Fauzan Ali Fauzan melanjutkan: “Bukan hanya sampai disitu, tetapi dibawah jembatan itu ada yang namanya Kalalib, yaitu besi panas yang seperti gunting yang sangat tajam. Dan bila Allõh سبحانه وتعالى memerintahkan Kalalib untuk mengambil orang yang sedang melewati Ash Shirõth, maka diambillah orang itu dan akan terjerumus ke dalam Neraka Jahanam.” (Na’ũdzu billãhi min dzãlik)

Orang akan melalui Ash Shirõth (jembatan) itu sesuai dengan kadar amalannya. Diantara manusia ada yang berjalan diatas jembatan itu bagaikan kilat (secepat kilat). Ada manusia yang melewati jembatan itu secepat angin yang berhembus. Ada orang yang melewati jembatan itu seperti kuda yang berlari. Ada juga orang yang melewati jembatan itu seperti orang yang Harwalah (jalan setengah berlari). Ada juga orang yang melewati jembatan itu secepat orang yang berjalan kaki. Ada juga orang yang jalannya merangkak. Dan ada juga orang yang ketika berjalan di atas jembatan itu diambil oleh Kalalib lalu dimasukkan ke dalam Neraka Jahanam.”

Ada pula beberapa perkataan para ‘Ulama Alus Sunnah yang memberikan keterangan kepada kita tentang Ash Shirõth tersebut, antara lain adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Al Imãm As Safãrĩny رحمه الله. Kata beliau رحمه الله:Para ‘Ulama Ahlus Sunnah telah bersepakat tentang pengukuhan adanya Ash Shirõth (jembatan) secara umum. Mereka orang-orang yang selalu berjalan diatas kebenaran itu menetapkan dan mengukuhkan adanya Ash Shirõth (jembatan) tersebut sebagaimana adanya di dalam nash, yakni merupakan jembatan yang terpancang diatas neraka Jahanam. Dia lebih tajam daripada pedang, lebih kecil dari rambut. Dan yang mengingkarinya adalah orang Mu’tazilah. Merekalah orang-orang yang tidak percaya adanya Ash Shirõth. Jembatan ini adalah jembatan menuju Surga seperti Allõh سبحانه وتعالى isyaratkan di dalam Al Qur’an Surat Muhammad (47) ayat 5:

سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ

(Artinya: “Allõh akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka”).

Jembatan itu juga merupakan jalan menuju neraka seperti diisyaratkan Allõh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an Surat Ash Shoffãt (37) ayat 23:

فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ

(Artinya:maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka). Semua itu ditunjukkan oleh dalil-dalil yang jelas dan tentu sesuai dengan amalan yang ada pada manusia itu sendiri.

Kata beliau (Al Imãm As Safãrĩny رحمه الله) selanjutnya: “Bukanlah termasuk aneh jika seseorang melewati jembatan ini seperti anehnya seseorang berjalan diatas air, atau terbang di udara atau berhenti disana. Karena semua itu merupakan kekuasaan Allõh سبحانه وتعالى.”

Banyak sekali Hadits berkenaan dengan hal ini dan kalau kita mengkaji Hadits-Haditsnya, maka kita tidak akan selesai untuk sekedar membacanya, apalagi kalau dengan menerangkannya. Tetapi sekedar untuk menunjukkan kepada kita, dan menjadikan kita semakin yakin bahwa perkara ini (Ash Shirõth) adalah wajib diimani. Tidak boleh kita mengikuti jejak orang-orang Mu’tazilah yang mengingkarinya, dimana mereka berkata: “Tidak mungkin ada adzab sebelum Adzab.” Ketika dikatakan kepada mereka (orang-orang Mu’tazilah) bahwa jembatan itu lebih halus daripada rambut, lebih tajam daripada pedang, lebih panas daripada bara api, lalu kata mereka : “Berarti ada adzab sebelum Adzab.”

Ini adalah seperti halnya mereka (Mu’tazilah) mengingkari adanya Adzab Kubur. Yang demikian adalah karena mereka hanya menggunakan akal mereka saja.

Bagi kita kaum muslimin yang beriman kepada Al Qur’an dan Sunnah Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, maka semua akan kita sandarkan kepada apa yang Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم sabdakan.

Demikianlah, semua yang disampaikan diatas ini adalah berasal dari satu Kitab yang ditulis oleh Al Imãm Ibnul Jauzi رحمه الله. Kitab tersebut berjudul: “Attakhwĩfu minannãr” (Memberikan rasa takut kepada kita terhadap api neraka). Jadi ditulisnya Kitab dengan judul seperti itu adalah agar kita takut kepada Allõh سبحانه وتعالى, agar kita segera bertaubat kepada Allõh سبحانه وتعالى, agar kita segera menghentikan ma’shiyat, agar kita tidak lagi menentang dan melawan Allõh سبحانه وتعالى.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Al Imãm Muslim didalam Shohĩh-nya no: 183, berasal dari Shohabat Abu Sã’id Al Khudry رضي الله عنه, dimana beliau berkata bahwa suatu saat Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم ditanya perihal apakah kita akan melihat Allõh سبحانه وتعالى di Hari Kiamat:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا فِى زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَعَمْ ». قَالَ « هَلْ تُضَارُّونَ فِى رُؤْيَةِ الشَّمْسِ بِالظَّهِيرَةِ صَحْوًا لَيْسَ مَعَهَا سَحَابٌ وَهَلْ تُضَارُّونَ فِى رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ صَحْوًا لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ ». قَالُوا لاَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « مَا تُضَارُّونَ فِى رُؤْيَةِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ كَمَا تُضَارُّونَ فِى رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ لِيَتَّبِعْ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ. فَلاَ يَبْقَى أَحَدٌ كَانَ يَعْبُدُ غَيْرَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مِنَ الأَصْنَامِ وَالأَنْصَابِ إِلاَّ يَتَسَاقَطُونَ فِى النَّارِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلاَّ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ وَفَاجِرٍ وَغُبَّرِ أَهْلِ الْكِتَابِ فَيُدْعَى الْيَهُودُ فَيُقَالُ لَهُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ عُزَيْرَ ابْنَ اللَّهِ. فَيُقَالُ كَذَبْتُمْ مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلاَ وَلَدٍ فَمَاذَا تَبْغُونَ قَالُوا عَطِشْنَا يَا رَبَّنَا فَاسْقِنَا. فَيُشَارُ إِلَيْهِمْ أَلاَ تَرِدُونَ فَيُحْشَرُونَ إِلَى النَّارِ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيَتَسَاقَطُونَ فِى النَّارِ. ثُمَّ يُدْعَى النَّصَارَى فَيُقَالُ لَهُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ الْمَسِيحَ ابْنَ اللَّهِ. فَيُقَالُ لَهُمْ كَذَبْتُمْ. مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلاَ وَلَدٍ. فَيُقَالُ لَهُمْ مَاذَا تَبْغُونَ فَيَقُولُونَ عَطِشْنَا يَا رَبَّنَا فَاسْقِنَا. – قَالَ – فَيُشَارُ إِلَيْهِمْ أَلاَ تَرِدُونَ فَيُحْشَرُونَ إِلَى جَهَنَّمَ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيَتَسَاقَطُونَ فِى النَّارِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلاَّ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ بَرٍّ وَفَاجِرٍ أَتَاهُمْ رَبُّ الْعَالَمِينَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِى أَدْنَى صُورَةٍ مِنَ الَّتِى رَأَوْهُ فِيهَا. قَالَ فَمَا تَنْتَظِرُونَ تَتْبَعُ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ. قَالُوا يَا رَبَّنَا فَارَقْنَا النَّاسَ فِى الدُّنْيَا أَفْقَرَ مَا كُنَّا إِلَيْهِمْ وَلَمْ نُصَاحِبْهُمْ. فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ. فَيَقُولُونَ نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ لاَ نُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا – مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا – حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ لَيَكَادُ أَنْ يَنْقَلِبَ. فَيَقُولُ هَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ آيَةٌ فَتَعْرِفُونَهُ بِهَا فَيَقُولُونَ نَعَمْ. فَيُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ فَلاَ يَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ لِلَّهِ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ إِلاَّ أَذِنَ اللَّهُ لَهُ بِالسُّجُودِ وَلاَ يَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ اتِّقَاءً وَرِيَاءً إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ ظَهْرَهُ طَبَقَةً وَاحِدَةً كُلَّمَا أَرَادَ أَنْ يَسْجُدَ خَرَّ عَلَى قَفَاهُ. ثُمَّ يَرْفَعُونَ رُءُوسَهُمْ وَقَدْ تَحَوَّلَ فِى صُورَتِهِ الَّتِى رَأَوْهُ فِيهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمْ. فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا. ثُمَّ يُضْرَبُ الْجِسْرُ عَلَى جَهَنَّمَ وَتَحِلُّ الشَّفَاعَةُ وَيَقُولُونَ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجِسْرُ قَالَ « دَحْضٌ مَزِلَّةٌ. فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلاَلِيبُ وَحَسَكٌ تَكُونُ بِنَجْدٍ فِيهَا شُوَيْكَةٌ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ فَيَمُرُّ الْمُؤْمِنُونَ كَطَرْفِ الْعَيْنِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ وَكَالطَّيْرِ وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ وَمَخْدُوشٌ مُرْسَلٌ وَمَكْدُوسٌ فِى نَارِ جَهَنَّمَ. حَتَّى إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ بِأَشَدَّ مُنَاشَدَةً لِلَّهِ فِى اسْتِقْصَاءِ الْحَقِّ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لِلَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ فِى النَّارِ يَقُولُونَ رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ. فَيُقَالُ لَهُمْ أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ. فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمْ عَلَى النَّارِ فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثيرًا قَدْ أَخَذَتِ النَّارُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ يَقُولُونَ رَبَّنَا مَا بَقِىَ فِيهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ. فَيَقُولُ ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِينَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ. فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا ثُمَّ يَقُولُونَ رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا أَحَدًا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا. ثُمَّ يَقُولُ ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِينَارٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ. فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا ثُمَّ يَقُولُونَ رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا مِمَّنْ أَمَرْتَنَا أَحَدًا. ثُمَّ يَقُولُ ارْجِعُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ فَأَخْرِجُوهُ. فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا ثُمَّ يَقُولُونَ رَبَّنَا لَمْ نَذَرْ فِيهَا خَيْرًا ». وَكَانَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِىُّ يَقُولُ إِنْ لَمْ تُصَدِّقُونِى بِهَذَا الْحَدِيثِ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ (إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا) « فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوا خَيْرًا قَطُّ قَدْ عَادُوا حُمَمًا فَيُلْقِيهِمْ فِى نَهْرٍ فِى أَفْوَاهِ الْجَنَّةِ يُقَالُ لَهُ نَهْرُ الْحَيَاةِ فَيَخْرُجُونَ كَمَا تَخْرُجُ الْحِبَّةُ فِى حَمِيلِ السَّيْلِ

Artinya:
Bahwa orang-orang pada masa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bertanya, “Wahai Rosũlullõh, apakah kita akan melihat Allõh سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat?
Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya.”
Kemudian beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Apakah kalian menyangsikan dari melihat matahari di tengah hari tanpa awan? Dan apakah kalian menyangsikan dari melihat bulan di malam bulan purnama tanpa awan?
Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rosũl.
Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidaklah diperselisihkan tentang melihat Allõh سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat, kecuali seperti yang kalian perselisihkan ketika memandang matahari atau bulan. Apabila tiba Hari Kiamat maka seorang Mu’adzin akan memanggil agar setiap ummat mengikuti apa yang disembahnya, sehingga tidak tersisa seorang pun yang menyembah selain Allõh سبحانه وتعالى, baik penyembah berhala ataupun sejenisnya, kecuali mereka itu akan berjatuhan kedalam Neraka sehingga tidak tersisa kecuali orang yang beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى baik orang yang shõlih maupun orang yang fãsiq. Sedangkan Ahlul Kitab dipanggil, maka dipanggillah Yahudi kemudian ditanyakan kepada mereka, “Apa yang kalian sembah?
Mereka (Yahudi) menjawab, “Kami menyembah ‘Uzair bin Allõh.”
Kemudian dikatakan, “Kalian berdusta; Allõh سبحانه وتعالى tidak pernah memiliki istri dan anak. Maka apa yang kalian minta?
Mereka (Yahudi) berkata, “Kami kehausan, wahai Robb, maka berilah kami air.”
Maka mereka diisyaratkan untuk digiring kedalam api Neraka sehingga mereka berjatuhan kedalamnya.
Kemudian dipanggillah kaum Nashoro, dan ditanyakan kepada mereka, “Apa yang kalian sembah?
Mereka (Nashoro) menjawab, “Kami menyembah Al Masih bin Allõh.”
Kemudian dikatakan kepada mereka, “Dusta kalian, Allõh سبحانه وتعالى tidak pernah memiliki istri dan anak.
Maka dikatakan kepada mereka, “Apa yang kalian minta?
Mereka (Nashoro) menjawab, “Kami kehausan, wahai Robb, maka berilah kami air.”
Maka mereka diisyaratkan untuk digiring kedalam api Neraka sehingga mereka berjatuhan kedalamnya.
Sehingga tidak tersisa kecuali orang yang beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى, baik dari kalangan orang shõlih maupun fãsiq.
Allõh Robbul ‘Ãlamin سبحانه وتعالى mendatangi mereka dalam bentuk yang lebih dekat dari apa yang mereka lihat, kemudian berfirman, “Apa yang kalian tunggu, setiap ummat mengikuti apa yang disembahnya.”
Mereka menjawab, “Wahai Robb kami, kami memisahkan diri dari manusia di dunia, betapa pun kami butuh mereka, dan kami tidak bersahabat dengan mereka.
Allõh سبحانه وتعالى berfirman, “Aku Robb kalian.”
Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allõh سبحانه وتعالى dari Engkau. Kami tidak menyekutukan Allõh سبحانه وتعالى dengan apa pun (2X atau 3X).”
Sampai sebagian mereka hampir terjungkal.
Allõh سبحانه وتعالى bertanya, “Apakah ada bukti diantara kalian yang kalian tahu?
Mereka menjawab, “Ya.
Maka disingkaplah betis, maka tidak ada yang tersisa dari orang yang bersujud kepada Allõh سبحانه وتعالى, kecuali Allõh سبحانه وتعالى izinkan padanya untuk bersujud. Dan tidak ada yang tersisa dari orang yang bersujud karena riyã’ kecuali Allõh سبحانه وتعالى akan jadikan punggungnya satu tingkatan ketika akan sujud dan tersungkurlah tengkuk mereka, kemudian mereka mengangkat kepala mereka, kemudian Allõh سبحانه وتعالى telah berubah pada bentuk-Nya yang pernah mereka lihat pertama kali, dan berfirman, “Aku Robb kalian.”
Mereka berkata, “Engkau Robb kami.”
Kemudian dihamparkanlah Jembatan diatas Jahannam dan diperbolehkan Syafã’at. Dan mereka pun berkata, “Ya Allõh, selamatkanlah, selamatkanlah.”
Ditanyakan kepada Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, “Ya Rosũlullõh, apakah Al Jisru (Jembatan) itu?
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Al Jisru adalah jalan yang sangat licin dan orang mudah terpeleset. Dibawahnya ada besi-besi yang siap untuk menjepit orang, yang kemudian dimasukkan ke dalam api neraka. Maka Mu’minũn menyeberanginya dalam sekejap mata, secepat kilat, secepat angin, secepat burung, secepat kuda berlari, secepat orang berkendaraan. Maka diantara Muslim ada yang selamat dan ada yang terjerumus kedalam Jahannam, sehingga Mu’minũn terbebas dari api neraka. Demi Yang jiwaku ditangan-Nya, tidak seorang pun dari kalian yang sangat bersungguh-sungguh mencari kebenaran karena Allõh سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat bermohon untuk saudara-saudara mereka yang terjerumus kedalam Neraka.” Mereka mengatakan, “Ya Allõh, mereka itu dulu shoum, sholat, Haji bersama kami.”
Kemudian dikatakan kepada mereka, “Keluarkanlah orang yang kalian kenal sehingga mereka dihalangi dari api neraka.”
Maka dikeluarkanlah banyak manusia yang telah dibakar api sampai dengan setengah betisnya, dua lututnya, kemudian mereka berkata, “Ya Allõh, tidak tersisa didalamnya seorang pun, orang yang Engkau perintahkan kami.”
Kemudian Allõh سبحانه وتعالى berfirman, “Kembalilah, siapa yang kalian temui didalam hatinya seberat setengah dinar kebaikan, maka keluarkanlah.”
Maka dikeluarkanlah banyak orang, kemudian mereka mengatakan, “Ya Allõh, kami tidak tinggalkan seorangpun yang Engkau perintahkan kami.
Kemudian Allõh سبحانه وتعالى berfirman, “Kembalilah, siapa yang kalian temui didalam hatinya seberat biji sawit kebaikan, maka keluarkanlah.”
Maka dikeluarkanlah banyak orang, kemudian mereka mengatakan, “Ya Allõh, kami tidak tinggalkan seorangpun yang Engkau perintahkan kami.”
Abu Sã’id Al Khudry رضي الله عنه berkata, “Jika kalian tidak membenarkan aku tentang Hadits ini, maka bacalah firman Allõh سبحانه وتعالى (Al Qur’an Surat An Nisã’ ayat 40):

إِنَّ اللّهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْراً عَظِيماً

(Artinya: “Sesungguhnya Allõh tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allõh akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”)
Allõh سبحانه وتعالى berfirman, “Malaikat telah memberi Syafã’at, para Nabi telah memberi Syafã’at, Mu’minũn telah memberi Syafã’at. Tidak ada tersisa kecuali Yang Maha Penyayang.
Maka Allõh سبحانه وتعالى menggenggam satu genggam dari Neraka dan mengeluarkan satu kaum yang belum pernah berbuat kebaikan sama sekali, sedang mereka telah menjadi arang, kemudian Allõh سبحانه وتعالى melempar mereka kedalam sungai di mulut Surga, yang disebut Sungai Kehidupan, sehingga mereka pun keluar sebagaimana kecambah tumbuh…”

Jadi dari Hadits diatas sebagaimana digambarkan oleh Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bahwa orang-orang beriman akan melalui Jembatan (Ash Shirõth) itu ada yang dalam sekejap mata, ada yang seolah-olah seperti angin, atau kilat, atau angin, atau laksana burung, atau kuda berlari atau seperti orang-orang yang mengendarai kendaraan. Orang-orang yang menyeberangi ada yang selamat, tetapi ada pula yang jatuh ke dalam Jahanam. Sehingga orang-orang mu’min yang fãsiq itu selesai di dalam api Neraka, tetapi karena didalam dirinya terdapat iman, maka lama-kelamaan mereka akan keluar dari api Neraka tersebut.

Hal ini pun juga adalah sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Al Imãm Al Bukhõry no: 44 dan Al Imãm Muslim no: 193, dari Shohabat Anas bin Mãlik رضي الله عنه bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ : لاََ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ : لاََ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ : لاََ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ

Artinya:
Akan keluar dari api neraka barangsiapa yang mengucapkan Lã ilaha illallõh dan dalam hatinya terdapat sebiji sawit kebajikan, dan akan keluar dari api neraka barangsiapa yang mengucapkan Lã ilaha illallõh dan dalam hatinya terdapat sebesar butir padi kebajikan, dan akan keluar dari api neraka barangsiapa yang mengucapkan Lã ilaha illallõh dan dalam hatinya terdapat sebesar biji jagung kebajikan.

Masih banyak lagi Hadits-Hadits yang menjelaskan perkara yang berkenaan dengan Al Jisru atau Ash Shirõth ini, yang artinya adalah bahwa keberadaan Ash Shirõth tidak perlu diragukan lagi. Allõh سبحانه وتعالى pun telah memberikan penjelasan kepada kita dalam banyak ayat Al Qur’an, antara lain adalah sebagai berikut :

Perhatikan Al Qur’an Surat Al Hadĩd (57) ayat 12 – 15 :

Ayat 12 :

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِم بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya:
(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu’min laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak.”

Ayat 13 :

يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءكُمْ فَالْتَمِسُوا نُوراً فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ

Artinya:
Pada hari ketika orang-orang munãfiq laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu“. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)“. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.

Maksudnya, orang-orang munãfiq tidak akan diberi cahaya (sinar) sebagai penerang sehingga mereka berada dalam kegelapan, lalu mereka meminta sinar kepada orang yang beriman yang memiliki cahaya dan sinar : “Bagilah kami cahaya, wahai orang yang beriman, sehingga kami bisa berjalan seperti kalian.” Tetapi oleh Allõh سبحانه وتعالى tidak diizinkan, sehingga pada akhirnya mereka disuruh mundur ke belakang dan tetap berada dalam keadaan kegelapan.

Ayat 14 :

يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنتُمْ أَنفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاء أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Artinya:
Orang-orang munafiq itu memanggil mereka (orang-orang mu’min) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allõh; dan kamu telah ditipu terhadap Allõh oleh (syaithõn) yang amat penipu.”

Ayat 15 :

فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنكُمْ فِدْيَةٌ وَلَا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مَأْوَاكُمُ النَّارُ هِيَ مَوْلَاكُمْ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Artinya:
Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.

Itulah bukti dari sekian banyak ayat Al Qur’an yang menunjukkan bahwa kita akan melewati suatu masa, dimana disitu adalah merupakan Jembatan atau Ash Shirõth.

Dalam Al Qur’an Surat At Tahrĩm (66) ayat 8, diterangkan bahwa orang-orang beriman yang menyeberangi Jembatan (Ash Shirõth) itu akan Allõh سبحانه وتعالى berikan cahaya (sinar) :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allõh dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Robb-mu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allõh tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan:Ya Robb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Para Ahli Tafsĩr seperti Mujãhid, ‘Abdul Haq, Hasan Al Bashry رحمهم الله dalam Tafsĩr Al Imãm Ibnul Katsĩr mengatakan bahwa: (pada hari itu) orang-orang yang beriman melihat dan mendapatkan lampu (cahaya) pada Hari Kiamat, sedangkan orang-orang munãfiq dipadamkan lampunya.

Mudah-mudahan kita tergolong orang yang beriman agar mendapatkan cahaya dari Allõh سبحانه وتعالى. Adapun bila kita termasuk orang yang munãfiq maka akan digelapkan jalannya menuju jembatan Ash Shirõth. Na’ũdzu billãhi min dzãlik.

Tentang Ash Shirõth ini akan kami nukilkan ringkasan penjelasan dari Al Imãm Ibnul Jauzi رحمه الله , sebagai berikut :

– “Ketahuilah olehmu bahwa manusia akan terbagi menjadi orang yang mu’min, bertauhĩd, dan tidak menyekutukan Allõh سبحانه وتعالى dengan sesuatupun; ataukah menjadi manusia yang musyrik, dan berhamba kepada selain Allõh سبحانه وتعالى.”

– “Adapun orang-orang yang musyrik maka mereka itu tidak akan melewati jembatan (Ash Shirõth), dan mereka akan dimasukkan ke dalam Jahanam bahkan sebelum dipasangnya Ash Shirõth tersebut.

Hal ini adalah sebagaimana Hadits Shohĩh diriwayatkan oleh Al Imãm Al Bukhõry no: 6573 dan Al Imãm Muslim no: 182, dari Abu Hurairoh رضي الله عنه , dimana beliau berkata bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

… يَجْمَعُ اللَّهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْهُ. فَيَتَّبِعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الشَّمْسَ الشَّمْسَ وَيَتَّبِعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الْقَمَرَ الْقَمَرَ وَيَتَّبِعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الطَّوَاغِيتَ الطَّوَاغِيتَ وَتَبْقَى هَذِهِ الأُمَّةُ فِيهَا مُنَافِقُوهَا فَيَأْتِيهِمُ اللَّهُ – تَبَارَكَ وَتَعَالَى – فِى صُورَةٍ غَيْرِ صُورَتِهِ الَّتِى يَعْرِفُونَ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ. فَيَقُولُونَ نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا فَإِذَا جَاءَ رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ. فَيَأْتِيهِمُ اللَّهُ تَعَالَى فِى صُورَتِهِ الَّتِى يَعْرِفُونَ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ. فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا. فَيَتَّبِعُونَهُ وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَىْ جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِى أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ

Artinya:
“Allõh سبحانه وتعالى akan mengumpulkan manusia pada Hari Kiamat dan berfirman, “Barangsiapa yang menyembah sesuatu, maka ikutilah dia.”
Maka orang yang menyembah matahari akan mengikuti matahari. Siapa yang menyembah bulan maka ia akan mengikuti bulan. Siapa yang menyembah Thõghũt (– apa-apa yang disembah selain Allõh سبحانه وتعالى –), maka ia pun akan mengikuti Thõghũt. Dan ummat ini tersisa didalamnya terdapat orang-orang munãfiq, lalu Allõh سبحانه وتعالى mendatangi mereka dalam bentuk selain bentuk yang mereka ketahui lalu berfirman, “Aku adalah Robb kalian.”
Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allõh سبحانه وتعالى dari Engkau. Ini adalah tempat kita sehingga Robb kami mendatangi kami. Jika Robb kami datang maka kami akan mengenal-Nya.
Maka Allõh سبحانه وتعالى datang kepada mereka dalam bentuk yang mereka kenal dan berfirman, “Aku adalah Robb kalian.”
Dan mereka pun menjawab, “Engkau adalah Robb kami.”
Maka dihamparkanlah Ash Shirõth diatas Jahannam, maka aku (Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم) dan ummatku adalah orang yang pertama kali menyeberanginya.”

Dalam Hadits diatas dijelaskan bahwa kaum muslimin akan melewati Ash Shirõth (jembatan), setelah orang-orang musyrikin masuk terlebih dahulu ke dalam Jahanam. Adapun kaum munãfiqun akan bersama kaum muslimin ketika menyeberangi jembatan itu. Hanya saja, ketika menyeberanginya, mereka kemudian jatuh ke dalam Jahanam terlebih dahulu daripada kaum muslimin.

Al Imãm Ibnul Jauzi رحمه الله selanjutnya menjelaskan bahwa: “Hadits tersebut dengan jelas menerangkan bahwa siapa saja yang pernah menampakkan penghambaan diri kepada selain Allõh سبحانه وتعالى, misalnya dari kalangan Ahlul Kitab, orang Nashoro yang menyembah Al Masih, dan orang Yahudi yang menyembah ‘Uzair, maka mereka semua akan mengikuti di belakang kaum musyrikin untuk jatuh ke dalam neraka sebelum dihamparkannya Ash Shirõth; kecuali orang yang semula menyembah berhala, matahari, bulan dan lain-lain maka mereka akan menghikuti tuhan-tuhan yang mereka sembah ketika di dunia itu, dan semuanya akan masuk ke dalam Jahannam.

Menurut ‘Aqĩdah Ahlus Sunnah wal Jamã’ah, berdasarkan Hadits tersebut diatas maka jelaslah bahwa kaum Yahudi atau Nashroni (sebaik apapun mereka ketika hidup di dunia), maka mereka akan memasuki Jahannam setelah orang-orang musyrikin (para penyembah berhala).

Sebagaimana telah dijelaskan dalam QS. Al Hadĩd (57) ayat 12 – 15 diatas, kata Al Imãm Ibnul Jauzi رحمه الله bahwa: “Orang musyrik dan munãfiq tidak akan mendapatkan cahaya seperti orang mu’min mendapatkan cahaya.

Selanjutnya menurut Al Imãm Ibnul Jauzi رحمه الله bahwa para ‘Ulama Salafush Shõlih telah berselisih pendapat dalam perkara diberi atau tidak diberikannya cahaya bagi orang munãfiq.

Ada 2 pendapat sebagai berikut:

Pendapat pertama: orang munãfiq memang tidak diberi bagian cahaya, dan ini adalah pendapat dari Sofwan bin ‘Amr رضي الله عنه.
Kata beliau : “Mereka kemudian mencari dan kembali ke tempat mereka dibagi cahaya itu, tetapi mereka tidak mendapatkan apapun dan akhirnya mereka menyesali. Semua orang munãfiq itu mengharapkan terus untuk mendapatkan cahaya dari Allõh سبحانه وتعالى, tetapi Allõh سبحانه وتعالى tetap tidak akan membagi cahaya bagi mereka.

Pendapat kedua: orang munãfiq akan diberi cahaya bersama orang-orang yang beriman, namun kemudian cahaya tersebut akan padam.
Jadi berdasarkan pendapat kedua ini maka orang-orang munãfiq akan mendapatkan cahaya juga sebagaimana mereka di dunia bersama orang-orang mu’minin. Tetapi bedanya adalah bahwa bagi orang-orang munãfiq tersebut, cahayanya kemudian akan dipadamkan oleh Allõh سبحانه وتعالى ketika mereka hampir sampai kepada bibir Ash Shirõth.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Shohabat Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه yang merupakan seorang yang ahli dalam tafsĩr Al Qur’an, bahwa: “Tidak seorang pun dari kalangan ahli Tauhĩd kecuali orang itu akan diberi cahaya pada hari Kiamat. Adapun orang-orang munãfiq akan dipadamkan cahayanya.
Kata beliau رضي الله عنه: “Mereka orang-orang mu’min ada rasa belas-kasihan terhadap orang-orang munãfiq yang dipadamkan cahayanya itu. Lalu mereka pun mengatakan: “Ya Robb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami.” (Sebagaimana disebutkan dalam QS. At Tahrĩm (66) ayat 8 diatas).
Itulah sekelumit yang bisa kita dapatkan dari para ‘Ulama ataupun Hadits-Hadits yang menjelaskan kepada kita bahwa Ash Shirõth akan dialami dan dilalui oleh kaum Muslimin.

Perhatikan pula firman Allõh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an Surat Maryam (19) ayat 71 – 72 :

وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْماً مَّقْضِيّاً ﴿٧١﴾ ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوا وَّنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيّاً ﴿٧٢﴾

Artinya:
(71) “Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Robb-mu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.”
(72) “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang dzolim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.”

Yang dimaksud وَارِدُهَا (Wãriduhã) atau “Mendatangi” adalah: “Melalui, menyeberangi jembatan Ash Shirõth”. Dan itu merupakan ketetapan Allõh سبحانه وتعالى yang pasti untuk seluruh manusia.

Dapat pula diambil pelajaran dari Hadits diatas bahwa ada beberapa golongan manusia yang akan melewati Ash Shirõth, yaitu sebagaimana dijelaskan dalam Hadits tersebut bahwa ada golongan orang yang akan melewati Ash Shirõth dengan cepat sekali, karena mereka adalah orang-orang yang beriman yang benar-benar mendapatkan karunia kemudahan dari Allõh سبحانه وتعالى. Kemudian ada juga segolongan manusia yang ketika melewati jembatan tersebut, maka ia mengalami berbagai rintangan. Bahkan ada pula segolongan manusia yang langsung jatuh kedalam neraka Jahannam. Na’ũdzu billãhi min dzãlik.

Adapun hikmah yang dapat dipetik dari kita mengetahui, meyakini, dan mengimani adanya Ash Shirõth adalah :

1. Dengan mempelajari, dan meyakininya melalui berbagai nash baik Al Qur’an maupun Hadits-Hadits Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم tentang Ash Shirõth, maka yang paling penting adalah bahwa: kita sebagai kaum Muslimin haruslah mengimani adanya Ash Shirõth tersebut dengan seyakin-yakinnya, dan tidak boleh ragu.
2. Harus mempersiapkan diri agar kita lulus melewati jembatan (Ash Shirõth) itu dengan jalan beramal shõlih, dan ber-Tauhĩd. Jangan sampai seperti orang-orang musyrikin, sebagaimana dijelaskan diatas. Adapun orang-orang yang beriman adalah sesuai dengan amalannya, apakah kita akan memilih meniti jembatan itu secepat kilat atau seperti orang yang merangkak-rangkak. Semuanya perlu dengan kesungguhan, dengan mujahadah. Jangan sampai hanya mengimani tetapi tidak ada dampaknya dalam peri-kehidupan kita di dunia ini.
3. Allõh سبحانه وتعالى tidak bisa diprotes atau didebat dengan bertanya mengapa Allõh سبحانه وتعالى serumit itu dalam memproses perjalanan kehidupan manusia. Itu semua adalah kehendak Allõh سبحانه وتعالى, yang tidak sepatutnya dipertanyakan / diperdebatkan oleh makhluk ciptaan-Nya. Bahkan orang yang memprotes kepada Allõh سبحانه وتعالى dengan melalui banyak bertanya “mengapa Allooh سبحانه وتعالى berbuat begini dan begitu” sesungguhnya ia adalah orang yang tidak beradab dan tidak memiliki sopan santun terhadap Penciptanya.

Ingatlah firman-Nya dalam QS. Al Anbiyã’ (21) ayat 23 berikut ini:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

Artinya:
Dia (Allõh) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.

Yang justru harus kita persiapkan adalah bahwa setiap diri kita ini akan ditanya oleh Allõh سبحانه وتعالى, apakah kita termasuk kategori pantas dan lulus dalam berbagai ujian keimanan yang Allõh سبحانه وتعالى berikan untuk kemudian berhak masuk kedalam Al Jannah (Surga), ataukah termasuk orang yang gagal yang akhirnya masuk kedalam Jahannam. Na’ũdzu billãhi min dzãlik.

Berbagai urusan duniawi yang mungkin sebagian besar manusia banyak terlarut didalamnya, sehingga bahkan melupakan akhiratnya, maka sebenarnya hanya kecil sekali dibandingkan dengan Akhirat. Kalau saja dihitung bahwa sehari di Akhirat adalah sama dengan seribu tahun di dunia, maka apabila kita (misalnya) hidup di dunia ini hingga usia 50 tahun; maka 50 tahun itu dibandingkan dengan 1000 tahun (sehari Akhirat) hanyalah 0,5 %-nya saja. Berarti tidak ada apa-apanya.

Sekalipun kita selama 50 tahun itu beramal shõlih semaksimal mungkin untuk bekal di Akhirat, maka secara perhitungan akal, amal shõlih yang 50 tahun itu tidaklah akan mungkin membeli surga Allõh سبحانه وتعالى yang sehari hitungan Akhirat-nya adalah 1000 tahun.

Sangatlah benar apa yang disabdakan oleh Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 2816, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ. قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِىَ اللَّهُ مِنْهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

Artinya:
Tidak akan seorang pun dari kalian dimasukkan kedalam surga oleh amalannya.”
Mereka bertanya, “Demikian pula anda, wahai Rosũl?
Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Hanya saja Allõh سبحانه وتعالى memberi jaminan padaku dengan keutamaan dan kasih sayang.

Oleh karena itu, sedemikian tipis modal kita, mengapa kita masih juga membuang-buang waktu kita di dunia ini untuk melakukan hal-hal yang justru mengundang murka Allõh سبحانه وتعالى?

Hendaknya kita beramal shõlih semaksimal mungkin, serta banyak bertaubat agar tergolong orang yang mendapat Kasih Sayang Allõh سبحانه وتعالى sehingga dapat lulus menyeberangi Jembatan (Ash Shirõth) yang mengerikan tersebut.

TANYA JAWAB

Pertanyaan:

1. Mohon penjelasan tentang batasan orang musyrik, karena di dalam Al Qur’an dikatakan bahwa orang yang berlaku musyrik, maka seluruh amalannya akan terhapus dan sia-sia.
2. Demikian pula mohon penjelasan tentang Tahayul, Bid’ah dan Khurofat yang selama ini ummat Islam di tanah air kita banyak yang belum memahaminya.

Jawaban:

  1. Allõh سبحانه وتعالى berfirman dalam Al Qur’an Surat Az Zumar (39) ayat 65 berikut ini:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Allõh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”

Syirik adalah mengerikan, karena ternyata membuat semua amalan manusia menjadi kandas dan ia akan tergolong orang-orang yang merugi bahkan bangkrut di Hari Akhirat.
Syirik artinya adalah menyekutukan Allõh سبحانه وتعالى.
Asyroka (أشرك) – Yusyriku (يشرك) – Isyrõkan (إشراكا), artinya adalah secara sengaja, dan dengan sadar melakukan kesyirikan, menyekutukan Allõh سبحانه وتعالى.
Maka siapa saja yang secara sengaja menyekutukan Allõh سبحانه وتعالى maka ia disebut Musyrik.

Kata para ‘Ulama Ahlus Sunnah, Syirik ada dua: Asy Syirkul Akbar (Syirik Besar) dan Asy Syirkul Asghor (Syirik Kecil). Dan ada pula yang menggolongkannya kedalam tiga bagian, yakni dengan menambahkan Asy Syirkul Khofiy (Syirik yang Halus).

Orang yang melakukan Syirik Akbar dan ia meninggal dalam keadaan belum bertaubat, maka ia pasti akan tergolong orang-orang yang merugi, karena seluruh amalannya tidak ada gunanya lagi, karena dianggap gugur oleh Allõh سبحانه وتعالى.

Perhatikanlah firman Allõh سبحانه وتعالى dalam QS. An Nisã’ (4) ayat 48 sebagai berikut:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

Artinya:
Sesungguhnya Allõh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allõh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Jadi seseorang yang meninggal dalam keadaan Asy Syirkul Akbar (Syirik Besar), maka orang yang demikian tidak boleh dido’akan, tidak boleh dimohonkan ampun kepada Allõh سبحانه وتعالى, karena Allõh سبحانه وتعالى sudah memastikan bahwa di Akhirat orang tersebut akan menjadi bahan bakar di Neraka Jahannam. Na’ũdzu billãhi min dzãlik.

Kedua adalah Syirkul Khofiy (Syirik yang Halus) yang oleh Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم diumpamakan seperti semut hitam yang berjalan di waktu malam yang gelap, diatas batu hitam. Jadi sangat halus, tidak terasa, sehingga sulit untuk mendeteksinya.

Ketiga adalah Asy Syirkul Asghor (Syirik Kecil). Syirik ini pun berbahaya, karena Syirik Kecil bisa menggugurkan amalan kita dikala itu, maka janganlah dianggap ringan. Syirik ini pun tidak boleh ada dalam diri kita, dan harus dihindari dengan sungguh-sungguh. Contoh Syirik Kecil adalah : Riya’ (pamer, ingin amalannya dipuji orang) atau Sum’ah (bangga diri), beramal bukan karena Allõh سبحانه وتعالى tetapi karena manusia, dan sejenisnya. Semua itu akan menggugurkan amalan kita. Kalau kita meninggal belum sempat bertaubat atasnya, maka di Akhirat pun kita akan merugi, tidak ada amalannya.

2. Tahayul (yang benar pengucapannya adalah Takhoyyul). Kalau dibaca “Tahayul” maka artinya didalam Bahasa Arab adalah “Berkilah”.
Takhoyyul (ini pengucapannya yang benar didalam Bahasa Arab) adalah: “Orang menggunakan imajinasinya untuk menggambarkan sesuatu yang tidak ada sama sekali kebenaran Syar’ie-nya.” Disebut juga: berhayal, yang tidak ada kenyataannya.

Khurofat, adalah sama dengan Takhoyyul, yakni: “Tidak ada kebenaran ilmiahnya sama sekali.” Sebagai contohnya: di kalangan masyarakat Indonesia terdapat suatu Khurofat yakni ibu-ibu yang sedang hamil diperintahkan untuk membawa gunting kecil atau pisau kecil, (katanya) agar si janin didalam kandungannya tidak diganggu oleh syaithõn.. Yang demikian itu disebut Takhoyyul atau Khurofat.
Sesuatu yang tidak ada kebenarannya, baik secara ilmiah atau secara Syar’ie maka ia disebut Khurofat.

Bid’ah adalah perkara baru (dalam urusan dien), yang tidak ada sebelumnya. Para ‘Ulama Ahlus Sunnah menyebutnya: Al Ikhtirõ’ Bid’atun, yakni: “Sesuatu yang baru (dalam perkara dien) yang tidak ada pendahulunya”.

Maka Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم telah jauh-jauh memberikan peringatan keras bahwa:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

(Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunã fahuwa roddun)
Artinya:
Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka amalan tersebut tertolak.” (Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 4590, dari ‘Ãisyah رضي الله عنها)

Sebagai contohnya adalah “Peringatan Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم”, dimana perayaan itu adalah perbuatan Bid’ah, karena tidak ada tuntunannya sama sekali dari Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم. Kalau memang Peringatan Maulid Nabi itu baik, dan termasuk amal yang shõlih, tentulah Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم pasti akan perbuatan itu terlebih dahulu serta mencontohkannya pada ummatnya. Para Shohabat Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم pasti akan mencontohkan dan mewariskannya pada kita semua.

Tetapi pada kenyataannya (silakan pelajari seluruh siroh / sejarah kehidupan Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم) maka dapatlah kita ketahui bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم sendiri, manusia yang paling Taqwa, serta para Shohabatnya yang tahu benar dengan ajaran Rosũlnya, tidak pernah mereka itu melakukan Peringatan Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Bahkan sampai kepada para Imãm yang Empat, mereka pun tidak pernah melaksanakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Lalu tiba-tiba di akhir zaman ini, ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah amalan yang shõlih. Siapakah yang berwenang mengatakan bahwa “Peringatan Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم” itu adalah amalan yang shõlih? Padahal jelas-jelas perbuatan itu tidak ada ajarannya dari Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu, “Peringatan Maulid Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم” adalah digolongkan oleh para ‘Ulama Ahlus Sunnah sebagai Bid’ah, karena ia adalah sesuatu yang baru dalam perkara dien, yang sesungguhnya tidak ada dalam ajaran Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم.

Pertanyaan:

1. Tentang Yahudi. Dalam Al Qur’an, orang Yahudi memang diberikan kelebihan oleh Allõh سبحانه وتعالى dibandingkan bangsa lain. Sehingga ada yang mengatakan: Percuma saja melawan Yahudi, karena Allõh سبحانه وتعالى sudah memberikan kelebihan (keistimewaan) kepada Yahudi, tentu kita tidak akan bisa melawan mereka. Perkara urusannya dengan Hamas itu adalah urusan kemanusiaan. Maka kita tidak usah repot-repot menentang Yahudi. Demikian kata-kata (pendapat) sebagian orang. Benarkah demikian? Mohon penjelasannya.
2. Dalam Al Qur’an Surat Al Baqoroh (2) ayat 284, Allõh سبحانه وتعالى berfirman:

لِّلَّهِ ما فِي السَّمَاواتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَإِن تُبْدُواْ مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللّهُ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٢٨٤﴾

Artinya:
Kepunyaan Allõh-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allõh akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allõh mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allõh Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Bisakah orang musyrik dikenakan ayat tersebut? Bukankah Allõh سبحانه وتعالى Maha Pengampun? Apa saja yang Allõh سبحانه وتعالى Kehendaki, pasti bisa karena Dia Maha Kuasa. Bisakah orang yang musyrik yang percaya bahwa sebutir batu bisa mengobati segala macam penyakit, bisa mendapatkan ampunan dari Allõh سبحانه وتعالى atas dosa-dosa kemusyrikannya itu?

Jawaban :

1. Tentang Yahudi:
Kata sebagian orang bahwa hubungan antara Yahudi dan Hamas adalah masalah kemanusiaan. Maka kita tidak usah repot-repot menentang Yahudi. Dan bahwa Yahudi memang sudah diberi kelebihan dari bangsa-bangsa lain, sehingga percuma saja melawan Yahudi karena tentu kita tidak akan bisa melawan mereka.

Maka ketahuilah bahwa orang yang mengatakan demikian itu berarti ‘Aqĩdah-nya sudah sangat berbahaya, dan pandangan yang demikian itu adalah sangat tidak sesuai dengan ‘Aqĩdah Ahlus Sunnah Wal Jamã’ah. Pandangan yang demikian itu termasuk pandangan ‘Aqĩdah Jabriyyah.

Yang benar adalah dalam Al Qur’an banyak ayat yang mengatakan bahwa: Allõh سبحانه وتعالى memerintahkan kepada kita kaum Muslimin untuk berperang kepada orang yang memerangi.

Perhatikanlah firman-Nya dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 190:

وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ

Artinya:
Dan perangilah di jalan Allõh orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allõh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Apa sebab Allõh سبحانه وتعالى memerintahkan untuk memerangi? Berarti itu karena adanya suatu usaha dari musuh-musuh Allõh سبحانه وتعالى untuk memerangi dien-Nya, dimana orang-orang Yahudi memang adalah orang yang pakar dalam bermakar kepada Allõh سبحانه وتعالى. Kalau sudah tahu bahwa mereka (Yahudi) itu suka bermakar, mengapa kita hanya berpangku tangan? Pantaskah kita seperti itu? Orang yang bodoh saja tidak akan berpikir semacam itu. Minimal, kalau ada orang nakal yang mengganggu kita saja, maka kita akan menghindar. Itupun sikap sekecil-kecilnya dari iman seseorang.

Apalagi bila kita punya keyakinan bahwa menurut firman Allõh سبحانه وتعالى sebagaimana termaktub dalam QS. Muhammad (47) ayat 7 bahwa :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (dien) Allõh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Mengapa kita tidak yakin kepada ayat tersebut, mengapa kita tidak yakin kepada firman Allõh سبحانه وتعالى? Mengapa kita memble? Yang demikian bukanlah sikap Ahlus Sunnah wal Jamã’ah.

2. Allõh سبحانه وتعالى Maha Pengampun
Benar memang Allõh سبحانه وتعالى Maha Pengampun. Tetapi itu bagi orang yang bertaubat, dan meminta ampun kepada-Nya. Adapun bagi orang yang sudah tahu bahwa itu Syirik dan ia tetap ngeyel (keras kepala), bahkan mengambil keuntungan materi dari perkara tersebut, tentu orang yang sedemikian itu tidak akan diampuni. Maka siapa saja yang nyawanya belum sampai pada kerongkongan, lalu ia memohon ampun dan bertaubat kepada Allõh سبحانه وتعالى, maka ia akan diampuni dosa-dosanya. Tetapi jangan lalu menganggap enteng, nanti saja lah minta ampun (bertaubat), kalau sudah menjelang meninggal saja. Karena manusia tidak tahu kapan kematian akan datang menjemputnya. Maka bila Allõh سبحانه وتعالى sudah melarang Syirik, maka hentikanlah kesyirikan tersebut, dan segeralah bertaubat kepada Allõh سبحانه وتعالى.

Pertanyaan:

Bagaimana dengan orang yang suka menjalani Tarekat?

Jawaban:

Asal kata “Tarekat” adalah Thorĩqot artinya: “Jalan”. Dalam menjalani Thorĩqot itu menurut mereka ada yang tingkatannya: Syari’at, Hakikat dan Ma’rifat. Membagi manusia dalam tingkatan-tingkatan seperti itu adalah Bid’ah yang sesat. Itu adalah ajaran Sufi, bukan dari ‘Aqĩdah Ahlus Sunnah Wal Jamã’ah.

Orang Sufi tidak mementingkan Ilmu, karena mereka mengatakan : “Ilmu kita langsung didapat dari Allõh سبحانه وتعالى (melalui mimpi, melalui ilham, melalui rasa, dan melalui kecenderungan lainnya).” Itulah keyakinan orang-orang Sufi.

Oleh karena itu orang Sufi tidak belajar. Mereka mengabaikan Ilmu. Kata mereka: “Untuk apa menghafal Al Qur’an, Hadits, bikin capek saja. Lebih baik tirakat, nanti langsung mendapatkan Thorĩqot.” Menurut mereka itu adalah cara pintas untuk mendapatkan “kebenaran” dari Allõh سبحانه وتعالى. Dan mereka menyebut hal itu sebagai sanad, padahal sanad mereka itu berasal dari mimpi yang gelap dan sesat. Yang seperti ini jelas bukanlah sanad menurut Ahli Hadits sebagaimana yang dipahami oleh Ahlus Sunnah Wal Jamã’ah.

Hendaknya kaum Muslimin waspada, karena Thorĩqot adalah suatu Bid’ah yang tidak sesuai dengan ajaran Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم.

Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Senin malam, 20 Rabi’ul Awwal 1430 H  –  16 Maret 2009 M.

—– 0O0 —–

Silahkan download PDF : Ash Shiroth AQI 160309 FNL

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. 17 October 2014 9:30 am

    assla,u’alaikum ustadz, izin copy untuk pembahasan diskusi di kelas 🙂

    • 18 October 2014 6:59 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh, Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiiki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: