Skip to content

Kedudukan Penegakan Syari’at Islam dalam Perspektif ‘Aqiidah Ahlus Sunnah

6 March 2012

Berapa banyak orang mengaku meyakini Islam, lalu mereka sholat, atau shoum, atau zakat, atau haji, atau melaksanakan semua itu dengan seksama; atau melalaikan sebagiannya dan menjalankan sebagiannya. Semua mereka tetap mengaku ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Padahal mestinya kita semua menyadari bahwa seorang pelamar kerja, jika dia secara administrasi tidak lengkap maka ia tidak akan diterima; bahkan jika dia melakukan proses test kerja, lalu lulus dalam sebagian tetapi gagal dalam sebagian pada akhirnya ia ditolak sebagai pekerja. Bahkan ia sudah diterima sebagai pekerja, tetapi ia tidak disiplin, semau sendiri, tidak ko-operatif, dia akan dikenai surat peringatan bahkan sanksi dikeluarkan. Mengapa hal yang sederhana dalam perkara kehidupan ini, tidak kita terapkan dalam nuansa ke-Islaman yang pasti dialah Islam yang akan menyebabkan berkah dan tidak berkahnya hidup seseorang, selamat atau celakanya seseorang, bahkan ke surga atau ke neraka-nya seseorang.

Ketika seseorang menyatakan ikrar Dua Kalimat Syahadat “Laa Ilaaha Ilalloohu Muhammadun Rosuulullooh”, maka Dua Kalimat Syahadat ini semestinya dikala dia hendak mengikrarkannya dia semestinya bertanya pada dirinya sendiri, “Kenapa saya mesti mengucapkan ini? Apa konsekwensinya? Apa tuntutan yang akan berkonsekwensi pada berarti atau sia-sianya Dua Kalimat Syahadat ini, jika dia kemudian tidak konsekwen bahkan melanggar tuntunan yang mestinya eksis (“ajeg”) dalam dirinya?”

Laa Ilaaha Ilalloohu Muhammadun Rosuulullooh” itu semestinya diantara yang HARUS ada, menjadi karakter bahkan jati diri seorang Muslim adalah bahwa TIDAK ADA HUKUM DAN SYARI’AT YANG PATUT BAHKAN LEBIH BAIK DARIPADA HUKUM ALLOOH سبحانه وتعالى, sebagaimana TIDAK ADA TUNTUNAN DAN SUNNAH YANG PATUT DAN HARUS DIIKUTI KECUALI SUNNAH ROSUULULLOOH صلى الله عليه وسلم.

Jika makna sederhana ini dimengerti, dipahami dan dicamkan maka tidak ada sikap aneh, apalagi penolakan terhadap hukum Allooh سبحانه وتعالى dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Itu adalah suatu kepastian.

Tetapi ketika yang terjadi adalah sebaliknya, maka pertanyaannya: “Kemana “Laa Ilaaha Ilalloohu Muhammadun Rosuulullooh” kita?”
Bukankah “gombal” (dusta) belaka menyatakan, “Aku cinta pada-Mu, padahal aku menolak-Mu?”
Mana ada, menyatakan: “ ‘Aku Muslim’, tetapi ketika ditawari, disuguhi, atau diperintah dengan Syari’at Islam maka ‘Aku enggan menerima’, walau bahagia dunia dan selamat di akhirat adalah idamanku?” Laa hawla walaa quwwata illaa billaah.

Maka melalui audio ceramah berikut ini, marilah kita renungkan: “Dimana kita dan Syari’at Islam?”

Adakah keduanya dalam dunia nyata, atau yang satu nyata dan yang satu ghoib, lalu “Apa Isi Pulsa KTP Islam kita”?

Akankah bisa untuk dipakai membuka kunci pintu Surga Allooh سبحانه وتعالى?
Selamat menyimak…..

Download:

Kedudukan Penegakan Syari’at Islam dalam Perspektif ‘Aqiidah Ahlus Sunnah, Bagian-1

Kedudukan Penegakan Syari’at Islam dalam Perspektif ‘Aqiidah Ahlus Sunnah, Bagian-2

Kedudukan Penegakan Syari’at Islam dalam Perspektif ‘Aqiidah Ahlus Sunnah, Bagian-3

Kedudukan Penegakan Syari’at Islam dalam Perspektif ‘Aqiidah Ahlus Sunnah, Bagian-4

Kedudukan Penegakan Syari’at Islam dalam Perspektif ‘Aqiidah Ahlus Sunnah, Bagian-5

Advertisements
8 Comments leave one →
  1. abu deko permalink
    10 March 2012 2:13 pm

    Syukron atas kajiannya.. Benar-benar mantaaap… Ana seneng dengan kajian-kajian Ustadz, tidak seperti yang lain, tidak gentle, kebanyakan basa-basi..

    • 10 March 2012 10:19 pm

      Sebagai tambahan, antum dapat memperhatikan Hadits berikut ini:

      Dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

      سَيَلِي أُمُورَكُمْ بَعْدِي، رِجَالٌ يُطْفِئُونَ السُّنَّةَ، وَيَعْمَلُونَ بِالْبِدْعَةِ، وَيُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا فَقُلْتُ : يَارَسُولَاللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُهُمْ،كَيْفَ أَفْعَلُ؟ قَالَ : تَسْأَلُنِي يَا ابْنَ أُمِّ عَبْدٍكَيْفَ تَفْعَلُ؟ لاَ طَاعَةَ، لِمَنْ عَصَى اللَّهَ

      Artinya:
      Akan mengurusi perkara kalian orang-orang setelah aku, dimana mereka memadamkan sunnah, mereka mengerjakan Bid’ah, mereka mengakhirkan sholat dari waktu-waktunya.”
      Lalu aku (‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه) bertanya, “Wahai Rosuulullooh, jika aku mengalami zaman mereka, bagaimanakah aku harus berbuat?
      Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Wahai Ibnu ummi ‘abdin, engkau bertanya apa yang harus engkau perbuat? Tidak ada ketaatan terhadap siapapun yang berma’shiyat pada Allooh سبحانه وتعالى.”

      (HR. Ibnu Maajah no: 2865, di-Shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam Shohiih Sunnan Ibnu Maajah)

  2. abu umar permalink
    11 March 2012 8:02 am

    Alhamdulillah Semoga Ustadz tetap Istiqomah Berdakwah Tauhid, Sunnah Dan Jihad Serta Allooh سبحانه وتعالى melindungi Ustadz Terhadap Dakwah Ini dari Para Thoghut.

    Kajiannya Jelas dan Menepis semua Syubhat-syubhat yang sekarang beredar.

  3. abu umar permalink
    14 April 2012 1:37 pm

    Assalamualaikum Ustadz ana mau nanya masalah “Apakah Pelaku Syirk Akbar Diudzur Karena Jahil, Taqlid, Takwil, Atau Ijtihad? ”

    Jazakalloh

  4. abu hanif permalink
    2 October 2012 5:21 am

    Kajian yang sangat bermanfaat, ijin download ustadz

    • 2 October 2012 8:35 pm

      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  5. Miftah permalink
    30 November 2012 9:40 am

    Assalamualaikum. Ustadz sekarang ini banyak pengobatan bekam yg katanya sunnah. Yang ingin saya tanyakan, apakah sunnahnya itu disyari’atkan, atau hanya lughowiyyah saja?

    Syukron

    • 15 December 2012 9:02 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

      Sunnah berbekam itu adalah Sunnah yang sesungguhnya, yang terkadang berupa sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, terkadang berupa pekerjaan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم juga berbekam dan menganjurkan ummatnya untuk berbekam. Karena itu, bekam adalah Sunnah; yang artinya adalah jika kita mengerjakannya maka bukan saja berpeluang sembuh yang akan kita dapat, tetapi juga pahala bahkan keberkahan. Jadi tidaklah sama antara bekam dengan pengobatan lain diluar sunnah. Dimana pengobatan lain diluar sunnah itu hanyalah terhitung duniawi, artinya adalah peluang untuk sembuh saja…. Barokalloohu fiika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: