Skip to content

Tanda-Tanda Hari Kiamat (Bagian-3)

23 March 2011

(Transkrip Ceramah AQI 210108)

TANDA-TANDA HARI KIAMAT (BAGIAN-3)

Oleh:  Ust. Achmad  Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allõh سبحانه وتعالى,

Bahasan kali ini adalah merupakan kelanjutan dari bahasan beberapa waktu lalu, yaitu berkenaan dengan masalah “Iman kepada Hari Akhir / Hari Kiamat”. Dan kita sudah membahas tentang Tanda-Tanda akan Datangnya Hari Kiamat. Kali ini kita akan membahas satu bab, yaitu berkenaan dengan “Banyaknya Fitnah”.

Banyaknya Fitnah” juga merupakan salah satu diantara tanda-tanda datangnya Hari Kiamat. Oleh karena itu kita harus berhati-hati, waspada; meskipun hal ini sudah diberitakan oleh Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم sejak 1429 tahun yang lalu, namun kewajiban kita adalah ber-iman kepadanya serta berusaha menghindarkan diri kita dari perkara-perkara yang membuat kita terjerembab ke dalam petaka, baik di dunia maupun di hari akhirat nanti.

Tanda-tanda Qiyamah Qubro yang telah terjadi dan masih berlangsung, bahkan berulang” yang berikutnya adalah :

8) Fitnah Akhir Zaman

Bersama ini, kita akan membahas tentang “Al Fitan” (الفتن).

Fitan” (فتن) adalah kata jamak dari: “Fitnatun” (فتنة), maknanya adalah “Al Ibtila’” (الابتلاء). Dalam bahasa Indonesia disebut sebagai : “Bala’”, yang artinya adalah “Ujian, Musibah, Imtihan, Fitnah”.

Al Fitan” atau “Fitnah” tidaklah muncul begitu saja. Berdasarkan dalĩl-dalĩl yang shohĩh dari Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bahwa “Fitnah Akhir Zaman” itu memang muncul dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari “Tanda-tanda Hari Kiamat”.

Banyak perkara yang harus kita ketahui berkenaan dengan perkara “Fitnah” ini. Dan janganlah kata “Fitnah” itu dipahami sebagaimana orang Indonesia memahaminya, yakni “Fitnah” yang oleh orang Indonesia diartikan sebagai “Tuduhan”.

Padahal yang dimaksud dengan “Al Fitan” dalam bahasa Arab maupun dalam bahasan kita kali ini, artinya adalah “Bala’ (Ujian)”, yang tentunya tidak ada salah seorang pun diantara kita yang ingin tertimpa oleh “Fitnah (Bala’)” tersebut.

Oleh karena itu, ada suatu do’a yang diajarkan oleh Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, yang sering kita baca dalam Sholat yakni ketika Tasyahud Akhir, dimana kita memohon kepada Allõh سبحانه وتعالى agar dilindungi dari 4 perkara yaitu :

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

(Allõhumma innã na’ũdzu bika min ‘adzãbi jahannama, wa a’ũdzu bika min ‘adzzabil qobri, wa a’ũdzu bika min fitnatil masĩhid dajjãli, wa a’ũdzu bika min fitnatil mahyã wal mamãt)

Artinya:
Ya Allõh, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dajjal dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian.”

(Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 590, dari ‘Abdullõh bin Abbas رضي الله عنه)

Paling tidak, kita dalam sehari semalam 5 kali bermohon kepada Allõh سبحانه وتعالى agar terlindung dari Fitnah ketika kita hidup dan Fitnah ketika kita sudah mati.

Fitnah” banyak macamnya. Oleh karena itu ada beberapa perkara yang harus kita ketahui berkenaan dengan “Fitnah” ini, yaitu :
(1) Apa itu Fitnah
(2) Apa Hikmah dari munculnya Fitnah
(3) Apa saja Wujud Fitnah ataupun Jenis-Jenis Fitnah
(4) Apa yang harus kita sikapi berkenaan dengan Fitnah itu
(5) Apa kiat agar kita terhindar dari Fitnah.

Lima perkara tersebut mungkin tidak akan kita bahas secara detail dalam kajian kita kali ini, karena bahasan kita ini adalah lebih fokus kepada Hadits-Hadits Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم yang berkenaan dengan berbagai Fitnah yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan muncul pada kehidupan di akhir zaman.

Sebagaimana dalam Kitab “Al Qiyamah Al ShughroJilid 1 halaman 164-167, karya syaikh Dr. ‘Umar Sulaiman Al Asyqor, maka pada bab pembahasan yang ke-3 (Al Mab-hatsuts Tsãlĩtsu) “Al Fitan”, Pasal ke-1: “At Tahdzĩru minal fitan” (Kewaspadaan terhadap Fitnah).

At-Tahdzĩr” artinya adalah: “kewaspadaan agar kita terhindar dari suatu perkara”. Maka hendaknya kita mengetahui perkara apakah yang perlu kita waspadai di akhir zaman ini. Dan apabila kita sudah mengetahuinya, maka janganlah kita mendekatinya. Hal tersebut juga untuk memberikan kewaspadaan agar kita tidak terjerembab kedalamnya, sehingga dengan demikian kita akan berupaya untuk membuat jarak / menjauh dari perkara yang dimaksud dalam Fitnah-Fitnah Akhir Zaman tersebut.

Syaikh Dr. ‘Umar Sulaiman Al Asyqor dalam Kitabnya yang berjudul “Yaumul Akhir”, menyampaikan kepada kita berbagai dalĩl antara lain adalah sebagai berikut:

Sebagaimana dalam Hadits shohĩh Riwayat Al Imãm Muslim no: 7449 :

عن أَبُي زَيْدٍ عَمْرو بْنَ أَخْطَبَ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْفَجْرَ وَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى حَضَرَتِ الظُّهْرُ فَنَزَلَ فَصَلَّى ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى حَضَرَتِ الْعَصْرُ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى ثُمَّ صَعِدَ الْمِنْبَرَ فَخَطَبَنَا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ فَأَخْبَرَنَا بِمَا كَانَ وَبِمَا هُوَ كَائِنٌ فَأَعْلَمُنَا أَحْفَظُنَا

Artinya:
Dari Abu Zaid ‘Amr bin Akhthob رضي الله عنه, beliau berkata bahwa: “Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم sholat shubuh bersama kami, kemudian naik keatas mimbar dan berkhutbah sehingga tiba waktu dhuhur, kemudian turun (dari mimbar) dan sholat, kemudian naik (mimbar) lagi dan kembali berkhutbah hingga tiba waktu ashar, kemudian turun untuk sholat, kemudian naik ke mimbar lagi dan berkhutbah hingga terbenam matahari. Dalam khutbah itu, Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم memberitahu kami tentang apa yang akan terjadi (hingga hari kiamat), maka orang yang paling ‘ãlim dari kami, maka dia lah yang paling hafal.”

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allõh سبحانه وتعالى,

Apa yang Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم sampaikan kepada kita (dalam Hadits tersebut diatas) adalah termasuk hal-hal yang akan terjadi, yakni tentang perkara Fitnah.

Kemudian juga sebagaimana dalam Hadits shohĩh Riwayat Al Imãm Muslim no: 7445, dari seorang Shohabat bernama Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه, beliau pun berkata bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم berdiri di tengah-tengah para Shohabat dan beliau صلى الله عليه وسلم berkhutbah dan tidak ada satupun yang tertinggal dari apa yang akan terjadi sampai hari Kiamat, kecuali beliau صلى الله عليه وسلم menyebutkannya. Diantara para Shohabat رضي الله عنهم ada yang hafal dan ada yang lupa, (– hal ini bisa dimaklumi karena panjangnya khutbah tersebut – pen.). Kemudian Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه menggambarkan ingat dan lupanya mereka atas khutbah Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم tersebut, seperti halnya seseorang itu mengingat orang. Tergambar wajahnya, lalu hilang dari pandangannya setelah sekian lama, lalu ketika terlihat wajah itu maka ia pun akan teringat kembali. Haditsnya adalah sebagai berikut:

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَقَامًا مَا تَرَكَ شَيْئًا يَكُونُ فِى مَقَامِهِ ذَلِكَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ إِلاَّ حَدَّثَ بِهِ حَفِظَهُ مَنْ حَفِظَهُ وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ قَدْ عَلِمَهُ أَصْحَابِى هَؤُلاَءِ وَإِنَّهُ لَيَكُونُ مِنْهُ الشَّىْءُ قَدْ نَسِيتُهُ فَأَرَاهُ فَأَذْكُرُهُ كَمَا يَذْكُرُ الرَّجُلُ وَجْهَ الرَّجُلِ إِذَا غَابَ عَنْهُ ثُمَّ إِذَا رَآهُ عَرَفَهُ

Artinya:
Hudzaifah رضي الله عنه berkata, “Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم berdiri di tengah-tengah kami dalam keadaan beliau صلى الله عليه وسلم tidak meninggalkan sesuatupun disitu, tentang apa yang akan terjadi hingga hari kiamat, kecuali Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم mengkhobarkannya. Hafal bagi yang hafal, lupa bagi yang lupa. Para Shohabat sungguh telah mengetahui perkara itu, dan sungguh aku telah lupa sesuatu darinya, sehingga aku pandang untuk aku sebutkan sebagaimana seseorang menyebut wajah seseorang ketika orang itu ghoib darinya. Kemudian ketika dia melihat (bertemu), maka dia akan mengenalnya.”

Apa sajakah Berbagai Fitnah Akhir Zaman

Juga sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 7444:

قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ وَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُ النَّاسِ بِكُلِّ فِتْنَةٍ هِىَ كَائِنَةٌ فِيمَا بَيْنِى وَبَيْنَ السَّاعَةِ وَمَا بِى إِلاَّ أَنْ يَكُونَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَسَرَّ إِلَىَّ فِى ذَلِكَ شَيْئًا لَمْ يُحَدِّثْهُ غَيْرِى وَلَكِنْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ مَجْلِسًا أَنَا فِيهِ عَنِ الْفِتَنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَعُدُّ الْفِتَنَ « مِنْهُنَّ ثَلاَثٌ لاَ يَكَدْنَ يَذَرْنَ شَيْئًا وَمِنْهُنَّ فِتَنٌ كَرِيَاحِ الصَّيْفِ مِنْهَا صِغَارٌ وَمِنْهَا كِبَارٌ

Artinya:
Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله عنه berkata, “Demi Allõh, sungguh aku adalah manusia yang paling tahu tentang setiap fitnah yang terjadi antara aku sampai dengan hari Kiamat. Yang demikian itu, tidak lain kecuali karena Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم memberitahukan padaku secara khusus tentang hal itu, yang Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم tidak beritahukan (orang lain) selainku. Akan tetapi, Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم memberitahu dalam suatu majlis tentang fitnah, sedangkan aku ada disitu. Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam keadaan menghitung (merinci) fitnah-fitnah, diantaranya adalah 3 (tiga) perkara yang tidak tertinggal, antara lain: Fitnah-fitnah (yang berbentuk) seperti angin yang menghempas di musim panas, ada Fitnah yang kecil, dan ada Fitnah yang besar.”

Kemudian dalam Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 118, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya:
Bersegeralah kalian beramal shoolih, sebelum terjadinya banyak fitnah. Dimana pada waktu itu Fitnah adalah bagaikan sebagian malam yang gelap. Pada pagi hari seseorang beriman, tiba-tiba di sore hari ia kãfir. Bisa jadi seseorang itu di sore hari beriman, tetapi tiba-tiba esok paginya ia kãfir. Dia jual dĩn-nya dengan sebagian dari kenikmatan dunia.”

Artinya sedemikian dahsyatnya godaan daripada fitnah itu, sehingga membuat sedemikian cepatnya hati, ‘aqĩdah serta pikiran seseorang dapat berubah / berbalik, bahkan hanya dalam hitungan jam. Dalam hitungan jam,‘aqĩdah seseorang dapat ditukar dengan dunia, seperti layaknya orang yang berjual-beli saja. Mungkin karena diberi uang, mungkin karena diberi makanan, mungkin karena diberi pekerjaan, dan lain sebagainya. Hal ini tidak mustahil terjadi di akhir zaman seperti sekarang ini, dimana orang kesulitan mencari pekerjaan; maka orang bahkan rela untuk menjual ‘aqĩdah-nya hanya karena ia diberi pekerjaan. Bayangkan, kalau seseorang kesana-kemari selalu ditolak untuk melamar kerja, lalu syaithõn datang menjadi “dewa penolong” baginya dengan menawarkan pekerjaan yang susah payah dicarinya, maka apabila orang tersebut buta mata hatinya, lemah iman-nya, maka tidak mustahil ia melepaskan ‘aqĩdah-nya. Siapa yang bertanggung-jawab kalau seperti ini keadaan ummat? Nah, kita kaum Muslimin harus berpikir tentang hal tersebut. Berupaya membentengi diri dari godaan fitnah yang demikian dahsyat ini; paling tidak mulai terlebih dahulu dari membentengi diri kita dan keluarga kita. Sesudahnya baru berupaya menolong menyadarkan ummat agar ummat cepat sadar bahwa inilah kondisi yang akan mereka hadapi di akhir zaman ini.

Saat ini mungkin saja ada diantara kita bisa tetap istiqõmah, akan tetapi kita pun juga harus memikirkan orang-orang yang ada di luar kita; yang mana mereka itu adalah saudara kita juga. Tidak mustahil, di saat ini ada orang yang sedang kebingungan, apakah akan dilepaskan ‘aqĩdah-nya lalu ia tukar dengan dunia, ataukah ia akan tetap istiqõmah, tetapi terancam keberlangsungan hidupnya.

Betapa banyak di zaman sekarang ini, kita bisa mendengar berita dari media-media massa bahwa ada laki-laki Muslim yang menjual ‘aqĩdah-nya hanya karena ia diberi cinta oleh seorang wanita yang kãfir. Atau sebaliknya, seorang wanita Muslim menjual ‘aqĩdah-nya karena ia diberi cinta oleh laki-laki yang kãfir.

Berikutnya, perhatikanlah Hadits Riwayat Al Imãm Al Bukhõry no: 7115 dan Al Imãm Muslim no: 7485, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ

Artinya:
Tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga seseorang melewati kuburan orang yang sudah meninggal, dan orang yang melewati kuburan itu berkata: ‘Alangkah baiknya bila aku saja yang (mati) menempati kuburan ini’.”

Maksudnya, begitu dahsyatnya Fitnah Akhir Zaman bahkan sampai seseorang itu ingin menjadi seperti orang yang sudah lama mati (seperti orang yang sudah dikubur) saja. Orang yang sudah berada dalam kuburan itu baginya lebih menyenangkan, sudah dapat ber-istirahat sedari dulu, tidak mengalami dahsyatnya Fitnah sebagaimana yang dialami oleh orang-orang yang hidup di zaman sekarang. Sampai sedemikian pikiran orang tersebut, karena begitu tidak tahan dirinya menghadapi realitas hidup di zaman sekarang ini, yang penuh dengan berbagai Fitnah. Dan perkara ini sudah terjadi, masih berlangsung atau bahkan akan berulang kejadiannya.

Sebagai contoh, tidak jarang di zaman sekarang ini kita mendengar berita orang-orang yang bunuh-diri – na’ũdzu billahi min dzãlik — mungkin akibat orang itu stress dan bingung dalam menyikapi realitas kehidupannya.

Hal ini sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 7486, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ عَلَى الْقَبْرِ فَيَتَمَرَّغُ عَلَيْهِ وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِى كُنْتُ مَكَانَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ وَلَيْسَ بِهِ الدِّينُ إِلاَّ الْبَلاَءُ

Artinya:
Demi yang jiwaku di-Tangan-Nya, dunia tidak akan pergi (– musnah / tidak akan tegak hari Kiamat – pen.), sehingga seseorang berjalan melewati kuburan lalu ia menggali tanah kuburan itu dengan tangannya (untuk mengubur diri-sendiri). Ia berkata: ‘Betapa seandainya aku menempati kubur orang ini’. Dan tidak ada dĩn ketika itu, kecuali bala.”

Atau juga dalam Hadits Riwayat Al Imãm At Turmudzy no: 2260, yang di-shohĩh-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny رحمه الله, dari Shohabat Anas bin Mãlik رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda,

يأتي على الناس زمان الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر

Artinya:
Akan datang pada manusia suatu zaman, (dimana) orang yang sabar diantara mereka dalam berpegang diatas dĩn-nya, bagaikan orang yang menggenggam bara api.”

Apabila sekarang hal ini belum kita rasakan di negeri ini, maka tidak mustahil generasi sesudah kita, atau bahkan anak-cucu kita yang mengalaminya. Tetapi hendaknya mulai dari saat ini kita harus mewaspadai hal tersebut, serta mengajarkan pula kepada anak cucu kita agar mereka pun waspada bahwa perkara-perkara itu lah yang akan terjadi sebagai Tanda mendekatnya Hari Kiamat.

Bahkan kalau kita simak berita tentang keadaan saudara-saudara kita kaum Muslimin yang berada di bumi Syam (baik di Palestina, maupun di Suriah), ataupun saudara-saudara kita yang berada di Chechnya, dan di berbagai belahan bumi ini; maka kondisi mereka begitu tertindas, tertekan dan teraniaya. Bahkan ekonomi mereka di-embargo selama bertahun-tahun, sehingga mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Nah, ini semua adalah bagian daripada Tanda-Tanda Hari Kiamat. Hendaknya kita kaum Muslimin menyadarinya, dan kita hendaknya pula punya tanggung-jawab untuk memikirkan bagaimana menolong saudara-saudara kita yang tertindas dan teraniaya itu.

Untuk menjaga agar terhindar dari Fitnah kehidupan di dunia ini, maka kita harus punya kiat-kiat bagaimana caranya supaya selamat dari Fitnah tersebut.

Berikutnya, perhatikanlah Hadits Riwayat Al Imãm Al Bukhõry no: 7064 dan Al Imãm Muslim no: 6959, dari Shohabat ‘Abdullõh bin Mas’ũd رضي الله عنه dan Abu Musa Al Asy’ary رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ أَيَّامًا يُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ وَيَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ وَالْهَرْجُ الْقَتْلُ

Artinya:
Sesungguhnya menjelang terjadinya hari Kiamat ada beberapa hari: ‘ilmu akan diangkat, dan turun pada zaman itu kebodohan, dan banyak pembunuhan.”

Maksudnya, umat ini kembali akan mengalami kemunduran, kembali menjadi umat yang berada dalam kebodohan / kejãhilan terhadap ‘ilmu dĩn.

Kebalikannya dengan dahulu, di zaman Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم dan para Shohabat رضي الله عنهم, dimana umat ketika itu (dengan Al Islãm) diangkat kedudukannya dari kebodohan / kejãhilan menjadi umat yang ber-‘ilmu (dĩn), sehingga mereka pun berjaya menguasai dunia ini. Dan itu masih berlangsung hingga pada masa-masa kejayaan Islãm, dimana umat masih kokoh dalam ber-‘ilmu (dĩn). Namun pada zaman-zaman berikutnya, ketika Islãm tidak lagi digenggam erat oleh umat ini — seperti di zaman kita sekarang — maka umat mengalami keterpurukan akibat merebaknya kejãhilan / kebodohan mereka terhadap ‘ilmu dĩn.

Jadi fase dimana kita hidup sekarang ini (yang harus kita bersama sadari) adalah bahwa umat Islãm kembali kepada kejãhilan (kebodohan) dalam perkara dĩn, atau kondisi dimana ‘ilmu dĩn diangkat. Jadi dua hal yang berkaitan erat adalah bahwa ‘ilmu dĩn nya akan diangkat, lalu jãhil (bodoh)-nya akan turun menyelimuti mereka.

Jãhil (bodoh) yang dimaksud dalam Hadits diatas, adalah jãhil / bodoh dalam perkara dĩnullõh. Sehingga bisa saja di zaman sekarang ini memang banyak orang yang memiliki gelar Profesor, Doktor, Master, Sarjana dan seterusya; akan tetapi tidak jarang diantara mereka itu yang pada dasarnya adalah jãhil (bodoh) tentang perkara dĩnullõh. Inilah yang dimaksud dalam Hadits diatas.

Bukankah di zaman sekarang, tidak jarang ada orang yang bergelar Profesor atau Doktor atau Sarjana akan tetapi ia tidak sholat; dan kalaupun ia sholat maka ia tidak tahu bagaimana tata cara sholat yang sesuai dengan tuntunan Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم. Belum lagi, bukankah tidak jarang diantara orang-orang yang memiliki gelar tinggi secara akademis, akan tetapi ia dalam perkara dĩn-nya terjatuh dalam kemusyrikan, ‘aqĩdah-nya syirik; dimana ia memiliki keyakinan, ataupun mengucapkan perkataan-perkataan, ataupun melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dalam batasan-batasan syar’i; bahkan bisa jadi berkubang dalam perkara-perkara yang merupakan pembatal keimanan. Allõhul musta’ãn.

Hal ini dikarenakan hidup orang tersebut hanyalah bertumpu pada filosofi bagaimana caranya ia bisa mencari nafkah, bagaimana ia makan, istirahat, segar kembali dan esoknya ia kerja mencari nafkah lagi, demikian siklusnya. Peredaran hidupnya dari hari ke hari hanyalah seperti itu, bagaimana agar ia makan, istirahat, kerja lagi, makan lagi, demikian seterusnya. Tidak ada bedanya dengan hewan ternak. Coba kita perhatikan seekor kucing. Kucing itu kalau sudah kenyang maka ia akan bermalas-malasan, berjemur dan tertidur; lalu kalau ia lapar maka ia akan bangun dan mencari makan lagi, lalu begitu kenyang ia pun tidur lagi, demikian seterusnya. Maka bila seseorang tidak punya dĩn dalam dirinya, ia jãhil dalam perkara ‘ilmu syar’i, tidak ber-amal shõlih, tidak berhamba dan ber-tauhĩd kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka sesungguhnya hidupnya adalah tidak bermakna.

Oleh karena itu, seorang ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamã’ah, yakni Al Imãm Al Hasan Al Bashry رحمه الله mengatakan bahwa: “Substansi dan esksistensi manusia itu diukur dengan ‘ilmu (dĩn)-nya.”

Yang dimaksud ‘ilmu dalam hal ini adalah ‘ilmu syar’i, yakni ‘ilmu bagaimana agar manusia sebagai hamba Allõh سبحانه وتعالى mengetahui tentang Hak-Hak Allõh سبحانه وتعالى, mengetahui Hak Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, mengetahui Hak Al Islãm, dan apa yang wajib dilakukannya terhadap itu semua dalam hidupnya.

Selanjutnya beliau, Al Imãm Al Hasan Al Bashry رحمه الله juga mengatakan : “Apabila tidak lagi ada ‘Ulama diatas permukaan bumi ini, maka manusia tidak ada bedanya dengan hewan ternak.”

Hal ini pun sebagaimana firman Allõh سبحانه وتعالى dalam QS. Al-A’rõf (7) ayat 179 :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Artinya:
Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam dengan kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allõh) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allõh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allõh). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allõh سبحانه وتعالى,

Maka hendaknya kita kembali kepada jalan Allõh سبحانه وتعالى, meniti ‘ilmu dĩn dan beramal sebagaimana apa yang disabdakan dan disunnahkan oleh Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, sebelum terjadinya berbagai Fitnah yang telah disebutkan dalam Hadits diatas. Oleh karena di zaman sekarang yang terjadi dalam masyarakat kita itu justru adalah kebodohan dalam perkara dĩn, ‘ilmu semakin diangkat, para ‘Ulama semakin habis karena diwafatkan oleh Allõh سبحانه وتعالى. Dan apa yang harus kita persiapkan untuk menghadapi ini semua?

Kemudian dalam Hadits lainnya, yakni dalam Hadits Riwayat Al Imãm Al Bukhõry no: 5577, dari Shohabat Anas bin Mãlik رضي الله عنه. Anas رضي الله عنه berkata, “Sungguh akan aku ceritakan kepada kalian suatu Hadits yang tidak seorangpun dari kalian mendengarnya kecuali dariku. Aku mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَقِلَّ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَتُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمُهُنَّ رَجُلٌ وَاحِدٌ

Artinya:
Diantara tanda hari kiamat, yaitu:
(1) Akan nampak kebodohan
(2) ‘Ilmu diangkat
(3) Zina Nampak
(4) Khomr diminum
(5) Akan semakin sedikit bilangan laki-laki dan semakin banyak bilangan wanita, sehingga 50 wanita dipimpin (ditanggung) oleh seorang laki-laki’.”

Akan Nampak Kebodohan dan ‘Ilmu diangkat

Arti daripada “ilmu (dĩn) diangkat” itu bukan berarti Al Qur’an-nya pergi dan Sunnah Rosũl-nya menghilang. Tidak, itu belum saatnya. Belum saatnya terjadi sekarang ini; namun nanti semakin menjelang ke Hari Kiamat maka perkara yang demikian itu pun juga akan terjadi. Dan akan kita ketahui pula melalui berbagai Hadits (in syã Allõh akan kita bahas Haditsnya dalam kajian-kajian mendatang), bahwa apabila sudah sangat dekat sekali dengan Hari Kiamat maka Al Qur’an atau Kitab yang di dalamnya terdapat firman Allõh سبحانه وتعالى, atau tulisan Kitabullõh, semuanya akan menghilang. Yang tadinya kalau kita buka terdapat tulisan firman Allõh سبحانه وتعالى, maka pada saat itu tinggal kertas kosong belaka. Itu apabila Hari Kiamat tinggal beberapa saat saja.

Sekarang belum lah sampai ke fase itu, tetapi sekarang sudah mulai dengan fase dimana kejãhilan dalam ‘ilmu dĩn merajalela. Tidak seimbang antara jumlah orang-orang yang faqĩh dalam ‘ilmu (dĩn), atau para ‘Ulama (ahlul ‘ilmi) yakni mereka orang-orang yang shõlih dan mendalam pemahamannya dalam bidang dĩn; dengan jumlah orang-orang yang jãhil dalam perkara dĩn. Tidak seimbang perbandingannya. Karena satu per satu ‘Ulama yang shõlih dan faqĩh tersebut diwafatkan oleh Allõh سبحانه وتعالى. Hal ini menunjukkan bahwa kejãhilan itu berpeluang untuk menyebar ke berbagai penjuru dunia. Itulah bagian dari Tanda-Tanda Hari Kiamat.

Zina Nampak / Semakin Banyak Perbuatan Zina

Sekarang perkara ini sudah terjadi. Kalau kita cermati berita di media massa atau di radio beberapa waktu lalu bahwa di daerah Bali dikeluarkan peraturan bahwa setiap PSK harus mempunyai surat keterangan Bebas Virus HIV. Jadi yang diberantas itu hanyalah sebatas urusan penyakitnya. Bukan diberantas penyebab penyakitnya, yaitu zina-nya.

Diberitakan pula di media massa bahwa di pantai-pantai disana, fasilitas untuk berzina itu bahkan disediakan, disajikan dan dijadikan sebagai obyek pariwisata. Bayangkan, bila zina sudah marak dan difasilitasi seperti itu, maka itu juga adalah diantara tanda-tanda Hari Kiamat. Zina sudah diperbolehkan, bukannya dilarang / diberantas. Istilah “lokalisasi” itu artinya adalah sama dengan memperbolehkan perzinahan dilakukan di lokasi atau di tempat tertentu. Hal ini adalah tidak sesuai dengan tuntunan Allõh سبحانه وتعالى dan Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, dan tergolong perkara yang berat dalam syari’at, karena berarti “menghalalkan apa yang Allõh سبحانه وتعالى haromkan”.

Kalau saja mereka beralasan bahwa tidak mungkin melarang para turis asing yang notabene diantara mereka itu bukanlah orang Islãm (yakni orang-orang kãfir) untuk melakukan apa yang menjadi cara hidup mereka, dimana mereka orang-orang kãfir tidaklah mengenal halal-harom; maka pertanyaannya adalah mengapakah tidak diberlakukan peraturan bahwa warga Muslim dilarang masuk ke tempat-tempat dimana fasilitas zina itu disediakan ? Ketika tidak ada pembatasan, tidak ada peraturan terkait hal tersebut, maka hal itu sama saja dengan membuka pintu zina selebar-lebarnya bagi kaum Muslimin di negeri ini, yang dapat menghancurkan iman mereka.

Semakin Hari Semakin Banyak Minuman Khomr

Minuman khomr itu tidak akan ada, kalau tidak ada peminumnya. Semakin banyak peminumnya, maka produk minuman khomr itu pun semakin banyak. Pabrik-pabrik khomr malah sekarang justru semakin tumbuh, dan semakin banyak di negeri kita (yang katanya umat Islamnya mayoritas). Beberapa pabrik minuman keras (khomr) bahkan sedang diproses untuk didirikan. Dan kalau pabrik-pabrik khomr itu sudah berdiri, maka produksi minuman keras (khomr) akan semakin banyak. Itu semua bagian dari Fitnah yang muncul di tengah-tengah kita pada zaman sekarang ini. Hal tersebut bukannya membawa kebaikan, melainkan akan menjadikan keadaan masyarakat di negeri ini semakin buruk, karena khomr adalah “Induk Segala Kejahatan” sebagaimana disabdakan Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits Riwayat Al Imãm Ad Daruquthny no: 4669, juga dalam Riwayat Al Imãm Ath Thobrony dalam Kitab “Al Mu’jamul Kabĩr” no: 1543, dari Shohabat ‘Abdullõh bin ‘Amr رضي الله عنهما, di-Hasan-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny dalam Kitab “Shohĩh Al Jãmi’ush Shoghĩr” no: 5655, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

اَلْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَائِثِ، فَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ تُقْبَلْ صَلاَتُهُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، فَإِنْ مَاتَ وَهِيَ فِيْ بَطْنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Artinya:
Khomr adalah induk dari segala kejahatan, barangsiapa meminumnya, maka sholatnya tidak diterima selama 40 hari, apabila ia mati sementara ada khomr di dalam perutnya, maka ia mati sebagaimana matinya orang Jahiliyyah.”

Bilangan laki-laki semakin sedikit dan Bilangan wanita semakin banyak

Maksudnya, jumlah laki-laki semakin berkurang jika dibandingkan dengan jumlah perempuan. Pertumbuhan perempuan akan semakin banyak. Sampai dengan lima puluh wanita berbanding satu orang laki-laki. Itu disebabkan oleh beberapa perkara yang in syã Allõh juga akan kita bahas dalam kajian ini.

Dalam Hadits Riwayat Al Imãm Al Hakim no: 8392, yang di-shohĩh-kan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny رحمه الله dalam Kitab Shohĩh Al Jãmi’ash Shoghĩr no: 3810 dan dalam Kitab “Silsilah Hadits Shohĩh” no: 1682, Dari Shohabat Abu Mũsa Al Asy’ary رضي الله عنه bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda :

عن أبي موسى الشعري رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : أخاف عليكم الهرج قالوا : و ما الهرج يا رسول الله ؟ قال : القتل قالوا : و أكثر مما يقتل اليوم إنا لنقتل في اليوم من المشركين كذا و كذا فقال النبي صلى الله عليه و سلم : ليس قتل المشركين و لكن قتل بعضكم بعضا قالوا : و فينا كتاب الله ؟ قال : و فيكم كتاب الله عز و جل قالوا : و معنا عقولنا ؟ قال : إنه ينتزع عقول عامة ذلك الزمان و يخلف هباء من الناس يحسبون أنهم على شيء و ليسوا على شيء

Artinya:
Aku takut pada kalian Al Haroj.”
Para Shohabat bertanya, “Apakah Al Haroj itu, ya Rosũlullõh?
Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Pembunuhan.”
Para Shohabat bertanya, “Berapa banyak hari ini yang dibunuh? Sungguh kami membunuh orang-orang Musyrikin sehari sekian dan sekian.”
Kemudian Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bukan membunuh orang Musyrikin, tetapi kalian saling membunuh satu sama lain.”
Para Shohabat bertanya, “Bukankah ditengah-tengah kita ada Kitabullõh (Al Qur’an)?
Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Ditengah-tengah kalian ada Kitabullõh.
Para Shohabat bertanya lagi, “Apakah kami masih punya akal?
Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Pada zaman itu, umumnya akal akan dicabut, lalu disusul oleh manusia yang hina dimana mereka mengira bahwa mereka diatas sesuatu, padahal mereka tidak diatas sesuatu”.

Bukankah hal tersebut telah terjadi di zaman kita sekarang? Dimana pembunuhan itu bukan lah karena kaum Muslimin memerangi orang-orang musyrikin, melainkan pembunuhan terjadi karena sebagian dari kaum Muslimin membunuh sebagian kaum Muslimin yang lainnya. Bahkan hingga seseorang itu membunuh tetangganya, membunuh saudaranya, membunuh pamannya, membunuh anak pamannya, membunuh anaknya sendiri, membunuh orangtuanya sendiri, dan lain sebagainya. Bahkan ada manusia yang mengira bahwa mereka itu membunuh diatas peraturan yang benar, padahal sebenarnya tidak. Fitnah ini telah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم.

Juga perhatikanlah Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 7487, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَدْرِى الْقَاتِلُ فِى أَىِّ شَىْءٍ قَتَلَ وَلاَ يَدْرِى الْمَقْتُولُ عَلَى أَىِّ شَىْءٍ قُتِلَ

Artinya:
“Demi yang jiwaku di dalam genggaman-Nya, sungguh benar akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana orang yang membunuh itu tidak tahu di jalan apa ia membunuh, bahkan yang dibunuh pun tidak tahu mengapa ia dibunuh.”

Maksudnya, sebab musabab ia membunuh itu ia tidak tahu, dan yang dibunuh pun juga tidak tahu mengapa ia sampai dibunuh.

Yang dimaksudkan, diantaranya adalah banyaknya pembunuh bayaran. Ia disuruh membunuh seseorang dengan bayaran tertentu, dan tidak tahu mengapa orang tersebut harus dibunuhnya. Apakah hal ini sudah terjadi di zaman sekarang? Kalau jawabannya: “Sudah”, maka berarti itu pun diantara Tanda-Tanda Hari Kiamat.

Lalu mengapa jumlah wanita semakin besar dan jumlah laki-laki semakin sedikit?
(1) Karena Allõh سبحانه وتعالى menakdirkan kebanyakan bayi yang lahir itu adalah perempuan.
(2) Karena banyaknya peperangan. Karena yang maju perang itu adalah laki-laki, dan mereka banyak terbunuh, sehingga yang masih hidup itu kebanyakan adalah perempuan yang tidak ikut berperang.
(3) Banyak terjadi pembunuhan, dan itu menimpa laki-laki.

Dari Kitab “Hujjatullõh” karya Syaikh Syah-wali Ad Dahlawy رحمه الله, Fitnah itu ada beberapa jenis :

(1) Fitnah yang ada pada diri sendiri

Dirinya sendiri” sudah merupakan suatu “Fitnah”. Sebagai contoh, seseorang yang hatinya keras, membatu, sulit diajak kepada kebenaran Al Islãm. Diajak kepada kebenaran itu, ia tidak mau; banyak membantah, banyak ber-jiddal, enggan menerima dalĩl, menolak dalĩl, dan lain sebagainya. Bila diberitahukan ayat-ayat Al Qur’an maupun Hadits-Hadits yang shohĩh, yang benar, maka ia tidak mau mempercayainya.

Hal ini sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imãm Al Hakim no: 319, yang dishohĩhkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny رحمه الله dalam Kitab Shohĩh Al Jãmi’ush Shoghĩr no: 5248, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إني قد تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما : كتاب الله و سنتي

Artinya:
Sungguh aku tinggalkan diatas kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh kepada dua perkara itu, maka kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Itulah Kitabullõh (Al Qur’an) dan Sunnah-ku (Sunnah Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم).”

Maka kalau kita ingin selamat, berpeganglah kepada Al Qur’an dan Sunnah Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم. Tetapi ada orang yang karena hatinya sudah membatu, keras seperti batu; ketika diberi tahu bahwa yang benar adalah Al Qur’an dan As Sunnah, maka ia tidak mau menerimanya, bahkan mengolok-olok orang yang memberinya nasehat kebenaran itu.

Yang seperti ini sudah banyak terjadi di tengah-tengah kaum Muslimin. Dan orang yang seperti itu, berarti dirinya sudah terjangkit “Penyakit Fitnah”. Mudah-mudahan kita terhindar dari penyakit demikian.

Fitnah pada diri sendiri itu terjadi, adalah karena:
(a) Tidak punya rasa malu. Semua yang ia mau, maka ia kerjakan.
(b) Akalnya rusak. “Akal” juga bisa menjadi Fitnah, antara lain dengan “Ghurũr(membanggakan akalnya, kepandaiannya, serta kemampuan dirinya sendiri).
(c) Tabi’atnya menyimpang. Sebagai contoh, seorang yang bertabi’at seperti hewan, dimana hidupnya hanyalah untuk makan, tidur, mencari uang, bersenang-senang dengan dunia, serta tidak mau beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى. Ada juga orang yang bertabiat “sabu’iyyah”, pekerjaannya hanyalah menyerang orang lain. Orang yang berada didekatnya haruslah dikalahkannya, yang penting dirinya yang menang. Orang yang demikian itu di zaman sekarang dikenal dengan istilah: “Preman” (Premanisme).

(2) Fitnah Keluarga

Sebagai contoh, bukankah terjadi di kalangan keluarga-keluarga kaum Muslimin dimana seorang laki-laki (suami) yang rajin mengaji, dan taat beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى; tetapi isterinya bahkan diajak mengaji pun sangat lah sulit, serta tidak mau diajak suaminya untuk beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى.

Atau sebaliknya, sang istri (perempuan) yang rajin mengaji dan taat beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى, namun suaminya justru tidak; sulit diajak mengaji dan diajak beribadah oleh istrinya.

Maka itulah “Fitnah Keluarga”. Hal ini dapat terjadi karena kesibukan masing-masing pihak, sehingga antara suami-isteri tidak terjalin komunikasi dengan baik, sehingga ketika sang istri / sang suami diajak beribadah, diajak kepada kebaikan, maka sang istri / sang suami itu tidak mau.

Belum lagi Fitnah yang datang dari anaknya. Bisa jadi kedua orangtuanya shõlih, rajin mengaji, taat beribadah kepada Allõh سبحانه وتعالى; namun mereka diuji dengan kehadiran anak yang membangkang kedua orangtuanya, durhaka kepada kedua orangtuanya. Ini pun juga merupakan suatu “Fitnah Keluarga”.

(3) Fitnah rusaknya sistem pengaturan negeri-negeri

Tamaknya manusia untuk merebut jabatan dengan cara yang tidak benar.
Hal ini sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imãm Muslim no: 8281, dari Shohabat Jãbir رضي الله عنه, “Aku mendengar Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Artinya:
Sungguh Syaithõn sudah putus asa dari disembah oleh orang-orang di Jazirah Arab, tetapi yang syaithõn masih punyai adalah kesempatan untuk mengadu-domba antara mereka satu sama lain.”

Oleh karena itu kita tidak boleh mudah terpancing, tidak boleh mudah terprovokasi, semua harus dengan hati yang lapang. Apa pun permasalahannya, hendaknya Al Qur’an dan As Sunnah lah yang menjadi “Tahkim” (dasar hukum)-nya. Kembalikan lah semua persoalan itu kepada keputusan Allõh سبحانه وتعالى dan Rosũl-Nya صلى الله عليه وسلم; jangan menyikapi persoalan-persoalan yang ada dengan berdasarkan Hawa Nafsu kita sebagai manusia. Tetapi jadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai timbangan ketika menghukumi suatu masalah.

(4) Fitnah yang terjadi sepeninggal para Shohabat Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم

Sepeninggal para Shohabat Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, dan para ‘Ulama Ahlus Sunnah yang shõlih semakin sedikit, maka berbagai perkara dan urusan dipegang oleh orang-orang yang bukan ahlinya, sehingga tidak lagi berjalan secara tegak diatas Al ‘Ilmu, kemudian melemahnya keadaan para penguasa, dan semakin banyaknya orang-orang yang jãhil dalam perkara dĩn, dan juga tidak ditegakkannya amar ma’ruf nahi munkar; sehingga semakin lama zaman itu akan semakin tidak ada bedanya dengan zaman Jahiliyyah.

Tidak ada satu Nabi kecuali Nabi itu mempunyai “Hawaary” (pembela, penolong). Kalau para pembela Sunnah sudah semakin langka, dan amar ma’ruf nahi munkar pun semakin langka, maka tunggulah kerusakan dunia ini.

(5) Fitnah yang sangat membelenggu

Perubahan yang terjadi pada manusia, yang semestinya ia adalah berstatus sebagai “manusia”, tetapi berubah bukan lagi menjadi “manusia”. Orang yang paling suci dan paling zuhud dari mereka pun sekarang sudah mulai berubah dan bergeser nilai-nilai kehidupannya, sehingga terkontaminasi mengikuti tabi’at-tabi’at yang buruk / tidak baik. Kebanyakan dari manusia menjalani kehidupannya adalah laksana hewan. Yang kuat memangsa yang lemah.

(6) Fitnah dengan kejadian-kejadian angkasa (udara)

Adanya peringatan keras dari berbagai musibah, adanya kerusakan umum akibat bencana angin topan, banyaknya penyakit menular, dan lain sebagainya. Masih banyak lagi Fitnah-Fitnah yang lain, yang in syã Allõh akan dibahas secara lebih mendalam di kajian yang mendatang.

Namun perlu disampaikan sebuah Hadits yang penting untuk diketahui oleh kita semua, yaitu :

Hadits Riwayat Al Imãm Ahmad no: 18402, dari Shohabat An Nu’man bin Basyĩr رضي الله عنه, dan berkata Syaikh Syuaib Al Arnã’uth رحمه الله bahwa sanad Hadits ini Hasan, dan Hadits ini di-shohĩhkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albãny رحمه الله dalam Kitab Silsilah Hadits Shohĩh no: 5 sebagai berikut :
Dari An Nu’man bin Basyĩr رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda,

َكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ

Artinya:
Kenabian ditengah-tengah kalian akan berlangsung sebagaimana Allõh سبحانه وتعالى kehendaki, kemudian Allõh سبحانه وتعالى angkat jika Allõh سبحانه وتعالى kehendaki. Kemudian adalah Khilãfah diatas pedoman Nabi صلى الله عليه وسلم, kemudian Allõh سبحانه وتعالى angkat jika Allõh سبحانه وتعالى kehendaki. Kemudian adalah Kerajaan yang menggigit (– turun temurun –pent.), kemudian Allõh سبحانه وتعالى angkat jika Allõh سبحانه وتعالى kehendaki. Kemudian adalah Kerajaan Jabriyyah (tirani), kemudian Allõh سبحانه وتعالى angkat jika Allõh سبحانه وتعالى kehendaki. Kemudian Khilãfah diatas Pedoman Nabi صلى الله عليه وسلم.” Kemudian Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم diam.”

Dari Hadits diatas dapatlah dipetik suatu pelajaran, bahwa akan ada 5 periode yang akan dilalui oleh kaum Muslimin, yakni:
(1) Periode kenabian, yakni: di zaman Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم diutus.
(2) Periode Khilãfah diatas Pedoman Nabi صلى الله عليه وسلم
(3) PeriodeKerajaan yang menggigit” / “Kerajaan turun-temurun
(4) PeriodeKerajaan Jabriyyah/ tirani.
(5) Periode Khilãfah diatas Pedoman Nabi صلى الله عليه وسلم.

Saat kita hidup sekarang ini, kita berada pada periode yang ke-4. Dan in syã Allõh akan ada satu kali lagi masanya dimana kaum Muslimin dipimpin oleh Khilãfah yang berada diatas pedoman Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم, sebelum Hari Kiamat nanti. Apabila hal itu sekarang belum terjadi, maka in syã Allõh pasti akan terjadi karena hal tersebut sudah dikhobarkan oleh Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم.

Oleh karena itu kaum Muslimin, jangan lah pesimistis terhadap carut marutnya kondisi yang ada pada zaman kita sekarang ini. Tetaplah optimis, senantiasa berpegang teguh pada Al Haq, serta istiqõmah diatasnya, dan berdakwah terus kepada orang-orang lain disekitar kita tentang kebenaran Al Islãm. Walaupun, bisa jadi kita sekarang hidup di zaman dimana kaum Muslimin berada dalam kejãhilan dan kelemahan, tetapi yakinlah akan janji Allõh سبحانه وتعالى bahwa suatu saat nanti kaum Muslimin akan dimenangkan lagi oleh Allõh سبحانه وتعالى.

TANYA JAWAB

Pertanyaan :

1. (a) Tentang Fitnah, maka dalam QS. Al Anfãl (8) ayat 28 disebutkan bahwa :

وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya:
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai (fitnah) cobaan dan sesungguhnya di sisi Allõh-lah pahala yang besar.”

Apakah yang dimaksud “Fitnah” dalam hal ini?
b) Lalu ada sementara orang yang mengatakan bahwa: “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”. Apa yang dimaksud dengan “Fitnah” disini ?
c) Bagaimana pula dengan yang dimaksud dengan ayat Al Qur’an yaitu: “Zuyyinalinnãsi hubbusysyahwãti minannisã’ wal banĩn”?

Jawaban:

1. (a) Benar. Bahkan harus kita pahami bahwa isi dunia ini, dan hidup kita di alam semesta ini juga merupakan bagian dari “Fitnah”. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Mulk (67) ayat 1 dan 2:

Ayat 1:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya:
Maha Suci Allõh Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,”

Ayat 2:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya:
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Maka apa yang ada di sekitar kita ini semuanya adalah “Fitnah (Ujian)” bagi diri kita, baik ujian berupa harta, berupa istri, berupa anak, dan lain sebagainya. Semua itu adalah Fitnah (Ujian) semata-mata. Apakah kita ini tergolong orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allõh سبحانه وتعالى ataukah tidak.

(b) Adapun dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 191:

َالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

(Al Fitnatu asyaddu minal qotlu)
Artinya:
Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.”

Maka sebenarnya perbuatan itu adalah akibat dari seseorang melakukan kesalahan, sehingga akhirnya menjadi suatu Fitnah. Kemudian Fitnah itu lebih berbahaya, dan lebih besar dibandingkan daripada sekedar pembunuhan. Semua itu menjelaskan betapa kompleksnya perkara Fitnah.

Tetapi yang dimaksud dalam hal ini, adalah ketika seseorang itu tidak memahami bahwa segala hal didalam hidupnya hanyalah suatuFitnah (Ujian)” semata-mata dari Allõh سبحانه وتعالى untuk menguji apakah ia tergolong orang beriman ataukah tidak, yang kemudian semestinya ia menyikapi hal tersebut dengan berusaha untuk mencari kiat yang benar agar bagaimana dirinya dapat mengantispasi Fitnah (Ujian)” itu. Bila ia tidak memahami hal tersebut, tentulah ia dengan mudahnya akan terjebak ke dalam suatu “Fitnah”.

(c) Disisi lain, manusia memang pada dasarnya suka dengan “Fitnah”. Itu fitroh manusia. Sebagaimana dikhobarkan dalam QS. Ãli ‘Imrõn (3) ayat 14 :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Artinya:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allõh-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Benar, manusia itu fitroh-nya memang pada dasarnya adalah cinta dengan harta, cinta istri, cinta anak, cinta keluarga, suka bila punya kendaraan yang bagus, suka bila punya rumah dan kebun yang luas; yang semuanya itu sebenarnya merupakan Fitnah (ujian) bagi dirinya.

Oleh karena itu, kita harus punya kiat, dan punya strategi agar Fitnah (Ujian) tersebut bisa kita antisipasi, sehingga kita bisa lulus daripadanya.

Setiap diri kita pasti akan berhadapan dengan Fitnah (Ujian). Karena Fitnah adalah bagian dari kehidupan kita. Yang penting adalah bagaimana memposisikan Fitnah (Ujian) tersebut, agar dapat mengatasinya sesuai dengan petunjuk Allõh سبحانه وتعالى dan Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم.

Pertanyaan :

Selain menjaga diri dari Fitnah, bagaimana dengan menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar ?

Jawaban:

Justru kalau kita tidak menegakkan tonggak-tonggak dan panji-panji Amar Ma’ruf Nahi Munkar, berarti kita rela dengan realitas bahwa Fitnah akan semakin memburuk kondisinya. Dan hal itu mengakibatkan do’a kita sering tidak dikabulkan oleh Allõh سبحانه وتعالى. Bisa jadi do’a kita sering tidak terkabul itu adalah karena kita tidak menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Ketika ada kemungkaran maka kita diam saja. Kita tidak tergerak untuk mengubah kemungkaran itu. Maka jangan salahkan siap-siapa kalau kita berdo’a lalu tidak dikabulkan oleh Allõh سبحانه وتعالى. Karena diantara hukuman tidak menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah tidak diijabahnya do’a orang tersebut.

Hal ini sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imãm At Turmudzy no: 2169 dari Shohabat Hudzaifah رضي الله عنه, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

والذي نفسي بيده لتأمرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر أو ليوشكن الله أن يبعث عليكم عقابا منه ثم تدعونه فلا يستجاب لكم

Artinya:
Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran atau (– kalau kalian tidak lakukan, maka pasti –) Allõh akan menurunkan siksa kepada kalian, hingga kalian berdoa kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan.”

Antara lain hal itu adalah karena mereka tidak menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Oleh karena itu, Amar Ma’ruf Nahi Munkar harus lah kita tegakkan. Marilah kita bersama-sama saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa.

Dalam Hadits Riwayat Al Imãm Ahmad no: 53 dan Al Imãm Ibnu Hibban no: 305, dan Syaikh Syuaib al Arnã’uth رحمه الله mengatakan bahwa sanad Hadits ini shohĩh sesuai dengan syarat Al Imãm Al Bukhõry dan Al Imãm Muslim, bahwa Abu Bakar As Siddĩq رضي الله عنه berkata :

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ هَذِهِ الْآيَةَ وَتَضَعُونَهَا عَلَى غَيْرِ مَا وَضَعَهَا اللَّهُ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ } سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَهُمْ فَلَمْ يُنْكِرُوهُ يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَاب

Artinya:
Wahai manusia, kalian membaca ayat ini, sedangkan kalian tempatkan (ayat tadi) bukan pada tempatnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

(Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allõh lah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan). (QS. Al Mã’idah (5) ayat 105)

(Padahal) aku mendengar Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran diantara mereka, kemudian tidak memungkirinya, maka Allõh سبحانه وتعالى hampir-hampir akan melanda mereka dengan hukuman.”

Yang dimaksud oleh Abu Bakar As Siddĩq رضي الله عنه, bahwa seolah-olah QS. Al Mã’idah ayat 105 itu menyuruh agar kita untuk mementingkan diri sendiri. Itulah yang dipahami oleh umumnya manusia, bahkan juga oleh sebagian Shohabat Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم. Namun Abu Bakar As Siddĩq رضي الله عنه menjelaskan bahwa pemahaman tersebut adalah keliru, karena ia mendengar Rosũlullõh صلى الله عليه وسلم memperingatkan bahwa bila manusia tidak saling mencegah kemungkaran diantara mereka maka hal itu justru mempercepat turunnya hukuman Allõh سبحانه وتعالى.

Jadi ma’shiyat adalah saham menuju mempercepat turunnya hukuman Allõh سبحانه وتعالى. Oleh karena itu, hendaknya kita harus selalu punya gairah untuk mencegah kemungkaran.

Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 13 Muharrom 1429 H – 21 Januari 2008 M.

——- 0O0 ——-

Silakan download PDF : Tanda Hari Kiamat Bag-3 AQI 210108 FNL

Advertisements
6 Comments leave one →
  1. suryanto permalink
    29 March 2011 8:11 pm

    Assalamu‘alaikum Warrohmatulloohi Wabarokaatuh,
    Ustadz A Rofi’i, mohon izin copy paste, untuk dipelajari
    Semoga Allooh selalu melindungi dan menerima amal baik Ustad A Rofi’i Aamiin.

    • 30 March 2011 6:10 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh, silakan saja, semoga menjadi ‘ilmu yang bermanfaat… Dan semoga Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa menambah kegigihan antum dalam menuntut ‘ilmu…. Barokalloohu fiika

  2. Abu Hanif permalink
    10 December 2013 5:56 am

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin share artikel-artikel Ustadz

    • 10 December 2013 6:52 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan ya akhi… Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  3. Nyna charlyna permalink
    4 July 2014 11:06 am

    Assalamu’alaikum, pka ustadz izin copas ya. Dan terimakasih, artikelnya sangat membantu saya

    • 7 July 2014 5:09 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan sajai… Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiiki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: