Skip to content

Sesatnya Ahmadiyyah (Bagian-2)

1 March 2011

(Transkrip Ceramah AQI 290805)

 

 

SESATNYA AHMADIYYAH (BAGIAN-2)

Oleh : Ust. Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allooh سبحانه وتعالى, kita dipertemukan kembali oleh Allooh سبحانه وتعالى untuk memperkokoh ‘aqiidah Islaamiyyah, membentengi Iman dan Islam kita dari pencemaran akibat ‘aqiidah dan ajaran-ajaran yang menyesatkan.

Bila kita mengingat apa yang telah digambarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sebetulnya munculnya Ahmadiyyah dan atau ajaran-ajaran yang sesat tersebut, tidaklah kita anggap aneh. Karena sudah sejak 15 abad yang lalu, hal ini telah digambarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Yang perlu kita sadari adalah bagaimana kita sebagai ummat Islam bisa memagari, membentengi diri kita dengan ‘aqiidah yang shohiihah (yang benar). Yang bila seseorang memiliki ‘aqiidah yang shohiihah tersebut maka dirinya tidak akan goncang, walaupun diterpa oleh badai sebagaimana apapun bentuknya. Karena ia sudah memiliki keyakinan yang mantap bahwa ‘aqiidah yang dipegangnya adalah sudah benar.

Contoh didalam sejarah Islam adalah sosok Bilaal رضي الله عنه. Ia adalah seorang budak Habsyi, yang mendapatkan tekanan dan intimidasi. Bahkan bukan hanya intimidasi, melainkan juga penyiksaan secara langsung dari majikannya yang kaafir, yang apabila ia tidak mau mengubah imannya maka ancamannya adalah nyawa. Tetapi Bilaal bin Rabaahرضي الله عنه  ketika itu berpegang teguh dan bertekad mempertahankan ‘aqiidahnya yang sudah mantap, maka ia pun tidak terpengaruh oleh tekanan dan siksaan majikannya yang kaafir. Padahal ketika itu, ia tidak rutin mengaji seperti kita sekarang ini. Ia hanya mendapatkan informasi tentang Islam, tetapi demikian menancap kebenaran itu pada hatinya, sehingga ia pun mempertahankan ‘aqiidahnya sampai mati sekalipun.

Dalam kajian kali ini, akan saya sampaikan Kitab yang ditulis oleh Syaikh Sa’ad Hamdhan Al Ghomidy, guru besar di Universitas Madinah, yang berjudul “’Aqiidatu Khotmin Nubuuwah Binnubuwwatil Muhammadiyyah” (‘Aqiidah Penutup Para Nabi dengan kenabian Muhammad صلى الله عليه وسلم). Kitab tersebut ditulis oleh beliau di tahun 1985 M. Jauh dengan tahun munculnya Ahmadiyyah. Karena munculnya Ahmadiyyah dan punahnya itu adalah kira-kira terjadi di tahun 1908 M. Jadi selisihnya adalah 70 tahun, dimana Kitab tersebut ditulis kembali sebagai suatu bantahan terhadap Ahmadiyyah.

Yang akan kami bawakan adalah beberapa perkataan pelopor dari ajaran sesat Ahmadiyyah yakni Mirza Ghulam Ahmad itu sendiri, yang dari perkataannya tersebut bisa kita nilai bahwa sebetulnya seorang Muslim yang awam sekalipun tidak akan ragu-ragu lagi bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu adalah seorang yang sesat.

Pertama, nama Ahmadiyyah, nisbahnya adalah kepada pendirinya. Firqoh itu disebut Ahmadiyyah. Kata “Ahmad” adalah nama pendirinya. “Iyyah” disini berarti adalah nisbah. Kalau dibahasa Indonesia-kan menjadi: Ahmadisme. “Ahmad” disini bukanlah Ahmad yang merupakan nama lain dari Nabi Muhammad bi ‘Abdullooh bin ‘Abdul Mutholib صلى الله عليه وسلم. Namun “Ahmad” disini adalah seorang yang berasal dari negeri India, yang nama lengkapnya adalah Mirza Ghulam Ahmad. Lalu “Ahmad” disini dijadikan sebagai dasar penamaan firqoh (kelompok) tersebut.

Bila melihat kronologis yang demikian, maka Ahmadiyyah tidaklah berbeda dengan firqoh-firqoh yang lain, yang mengaku sebagai ummat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Didalam Islam, telah muncul firqoh-firqoh yang mengatas-namakan atas nama pendirinya. Misalnya kelompok Jahmiyyah, yang disebut demikian adalah karena menisbatkan kepada nama pendirinya yakni Jahm bin Sofwan. Di Indonesia pun telah ada pula kelompok semacam itu yaitu yang disebut dengan Asy’ariyyah, yang mana mereka itu menisbatkan kepada nama pendirinya yakni Abul Hasan Al Asy’ary.

Ada juga firqoh-firqoh yang muncul yang penamaannya itu adalah berasal dari tabiat (ajaran terpenting) kelompok mereka, contohnya adalah Mu’tazilah. Karena pendirinya bersikap “I’tazala Majlisa Al Hasanil Bashry”.

I’tazalaartinya adalah memisahkan diri (menyempal, sempalan), tidak lagi ikut bersama Manhaj yang benar, atau dengan kata lain adalah perbuatan yang nyeleneh (aneh) yang menyimpang dari ajaran yang benar. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imaam Al Hasan Al Bashry رحمه الله. Kata beliau (Imaam Al Hasan Al Bashry رحمه الله) : “Sekarang Waasil bin ‘Athoo’ telah memisahkan diri dari majlis kita.”

Sebagaimana kita ketahui, Imaam Al Hasan Al Bashry رحمه الله adalah pemegang teguh manhaj Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, sedangkan Waasil bin ‘Athoo’ mulai “bermain-main” dengan akalnya, sehingga tersesat dan memunculkan ajaran sesat Mu’tazilah yang bernisbat kepada “I’tazilah” (sempalan).

Di Indonesia, sekarang ini juga mulai banyak paham sesat yang digandrungi oleh orang-orang jaahil (bodoh), yaitu yang disebut oleh Ar Roofidhoh. “Roofidhoh” berasal dari kata Rafadho yang artinya adalah menolak; yaitu menolak kekhaliifahan Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه. Mereka menganggap bahwa Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه adalah penghianat. Mereka juga mengatakan bahwa keluarga Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mempunyai hadits-hadits yang khusus yang tidak diketahui oleh orang-orang selain keluarga Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Diantara pemahaman mereka yang sesat adalah pemahaman terhadap kewilayahan Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه, sehingga dengan paham tersebut maka mereka pun bersikap menolak kekhaliifahan Abu Bakar As Siddiq  رضي الله عنه. Selain itu juga mereka telah menolak seluruh ajaran atau berita yang disampaikan oleh para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena mereka menganggap para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu sebagiannya telah kaafir. Hendaknya kaum Muslimin berhati-hati terhadap ajaran sesat Ar Roofidhoh atau Syiah ini.

Termasuk dalam kategori tersebut diatas adalah kaum Khawarij. Kata “Khawarij” berasal dari kata “Kharaja”, artinya adalah keluar. Dal hal ini, kaum Khawarij keluar dari keputusan Hakamain, suatu keputusan dimana ketika terjadi perselisihan antara Mu’awiyyah رضي الله عنه dengan Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه, sehingga kemudian terjadi pertempuran yang pada akhirnya diutuslah masing-masing utusan dari kedua belah pihak, maka kaum Khawarij pada saat itu bersikap menolak keputusan tersebut. Kemudian kaum Khawarij bersikap sebagai oposisi, memberontak kepada pemerintahan yang sah ketika itu. Itulah yang disebut sebagai kaum Khawarij. Oleh karena itu, tabiat kaum Khawarij sampai detik ini adalah mereka selalu mengganggu dan memprotes terhadap kebijakan pemerintahan yang sah.

(Untuk lebih memahami tentang berbagai aliran sesat / sempalan tersebut, silakan baca kajian yang berjudul: “Al Bid’ah: Jenis, Macam dan Sejarah Kemunculannya” dan “Tanda-Tanda Ahlul Bid’ah”)

Kembali pada pembahasan mengenai Ahmadiyyah, maka Ahmadiyyah ini adalah termasuk kelompok jenis yang pertama, yakni yang menisbatkan nama kelompoknya itu kepada nama pendirinya. Hal ini berbeda dengan Al Islam, dimana nama Al Islam itu tidaklah dinisbatkan kepada nama Nabi atau Rosuulnya, melainkan nama Al Islam itu langsung berasal dari Allooh سبحانه وتعالى sendiri. Dengan kata lain, ajaran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tidaklah disebut sebagai Muhammadiyyah, melainkan disebut sebagai Islam.

Kalau di Indonesia sekarang ini ada Organisasi “Muhammadiyyah”, maka itu harus hanya sebatas organisasi saja. Jadi bukan sebagai isme. Kalau sebatas sebagai Organisasi saja yang ajarannya mengacu kepada ajaran Al Islam serta berpegang teguh pada manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah maka tidaklah mengapa. Akan tetapi kalau  ia sudah menjadi suatu isme, maka ia pun akan menjadi sama sesatnya seperti Ahmadiyyah. Jadi kalau Muhammadiyyah itu hanyalah sebagai suatu nama Organisasi yang menjadi Wasilah (Media) untuk mendhohirkan dan menghidupkan Sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, maka yang seperti itu boleh-boleh saja.

Maka nama itu sebetulnya bukanlah hak paten kita. Kita ini disebut Muslim, karena memang Allooh سبحانه وتعالى lah yang menamai kita sebagai Muslim.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Hajj (22) ayat 78 :

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Artinya:

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allooh dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam dien (ini) suatu kesempitan. (Ikutilah) dien orang tuamu Ibrohim. Dia (Allooh) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rosuul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allooh. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

Oleh karena itu, kita tidak boleh merasa minder (kecil hati) dengan penamaan Muslim, karena sebenarnya yang memberikan julukan kepada kita Muslim itu adalah Allooh سبحانه وتعالى, Robb Penguasa Alam Semesta ini. Siapa yang merasa minder disebut dengan nama Muslim, maka ia sudah kufur terhadap ayat Allooh سبحانه وتعالى diatas.

Bahkan Allooh سبحانه وتعالى memberikan perintah kepada kita agar kita justru merasa bangga dengan ke-Islaman kita. Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 52:

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللّهِ آمَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Artinya:

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsroo’il) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan dien) Allooh?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (dien) Allooh, kami beriman kepada Allooh; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah Muslim (orang-orang yang berserah diri).”

Dan siapa yang mencari pedoman selain Al Islam, maka ia pasti sesat. Karena Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 85:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:

Barangsiapa mencari agama selain dienul Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (dien itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

Oleh karena itu, bagi kita haruslah yakin bahwa hanya ada satu pilihan yaitu Al Islam, yang dibawakan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, yang kemudian dilanjutkan oleh para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan bukan yang selainnya.

Juga harus kita pahami, bahwa bila Islam itu hanya diambil sekedar namanya saja, namun isi ajarannya yang diterapkan itu tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم kepada para Shohabatnya رضي الله عنهم pada masa itu, maka perhatikanlah penjelasan dari Imaam Al Auzaa’i رحمه الله berikut ini: “Ilmu itu adalah apa-apa yang dibawa melalui para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Jika tidak bersandar pada mereka, maka itu bukanlah ilmu (dien).”

Jadi apa pun yang kita bahas, kita yakini sebagai ilmu dien, dan yang kita jabarkan dan kita ajak manusia ke jalan itu, haruslah senantiasa bersandar kepada apa yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan para Shohabat beliau.

Satu hal yang tidak boleh kita lupa adalah bahwa kita tidak boleh mati, melainkan hanya dalam keadaan Islam, sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 102 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allooh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan ber-dienul Islam.”

Jadi kita tidak boleh memberi nama yang lain kepada Islam, kecuali Islam itu sendiri.

Imaam Ibnu ‘Abdil Bar رحمه الله, dalam Kitab beliau yang berjudul Al Intiqo’, beliau menyatakan bahwa: “Kaum Muslimin adalah mereka yang tidak punya bendera (ukiran, gambar) dan tidak punya nama, kecuali Sunnah.”

Dengan kata lain, kaum Muslimin itu tidak punya identitas, selain hanyalah Sunnah. Jadi kita tidak boleh berbendera apa pun, kecuali dengan Sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Apabila ada orang yang keluar dari Sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, berbenturan, bertentangan bahkan membangkang dari Sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, maka ia sudah pasti bukanlah ummat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Pada intinya, kita adalah Muslim dan dien kita adalah Islam; dan dien kita tidak dinisbatkan kepada para pendirinya.

Kedua, bagaimanakah nasab Mirza Ghulam Ahmad? Berikut ini akan kita bahas tentang siapakah sebenarnya Mirza Ghulam Ahmad itu.

Sebagaimana telah kita ketahui dalam Siroh, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah orang yang asal-usul beliau sampai dengan wafatnya, tidak bisa dipungkiri oleh kawan maupun oleh lawannya, bahwa beliau صلى الله عليه وسلم itu adalah orang yang berasal dari keturunan yang baik-baik (pilihan).

Dalam suatu Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6077, dari Shohabat Waatsilah bin Al Asqo’ رضي الله عنه, bahwa beliau mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِى مِنْ بَنِى هَاشِمٍ

Artinya:

Sesungguhnya Allooh memilih Kinaanah dari turunan Isma’il عليه السلام dan memilih Quraisy dari turunan Kinaanah dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilihku dari Bani Hasyim.”

Jadi, berdasarkan Wahyu maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah manusia pilihan. Oleh karenanya, maka beliau صلى الله عليه وسلم disebut Al Musthofaa, atau Al Muhtaar, yang artinya adalah Orang pilihan.

Dari sejak lahir, Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم adalah orang yang jelas riwayat atau asal-usulnya. Bahkan orang-orang Quraisy ketika diajak masuk Islam di bukit Shofa, dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mengklarifikasi (menjelaskan) tentang diri beliau صلى الله عليه وسلم sebagaimana diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 4770 dan Imaam Muslim no: 529, dari salah seorang Shohabat bernama ‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ {وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ} صَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الصَّفَا فَجَعَلَ يُنَادِي يَا بَنِي فِهْرٍ يَا بَنِي عَدِيٍّ لِبُطُونِ قُرَيْشٍ حَتَّى اجْتَمَعُوا فَجَعَلَ الرَّجُلُ إِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَخْرُجَ أَرْسَلَ رَسُولًا لِيَنْظُرَ مَا هُوَ فَجَاءَ أَبُو لَهَبٍ وَقُرَيْشٌ فَقَالَ أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ قَالُوا نَعَمْ مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا قَالَ فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ تَبًّا لَكَ سَائِرَ الْيَوْمِ أَلِهَذَا جَمَعْتَنَا فَنَزَلَتْ {تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ}

Dimana beliau berkata ketika ayat 214 dari QS. Asy Syu’aroo’ (yang artinya: “Dan berikanlah olehmu wahai Muhammad peringatan kepada keluargamu yang terdekat“), Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم naik keatas bukit Shofa sembari menyeru “Wahai Bani Fihr, wahai Bani Adi, dan yang lainnya dari turunan Quraisy.”

Sehingga mereka berkumpul dan atau mewakilkan wakilnya jika dia tidak bisa hadir untuk menyimak apa yang terjadi dan datang pula Abu Lahab dan Quraisy, kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bertanya, “Apakah jika aku beritakan kepada kalian bahwa dibalik lembah ini ada sepasukan perang yang ingin menyerbu kalian, kalian akan membenarkanku (mempercayaiku)?

Mereka menjawab, “Ya. Kami tidak pernah mendapatimu kecuali dalam keadaan benar (tidak berdusta).”

Maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya aku beritahu kalian bahwa aku adalah Pemberi peringatan keras dengan adzab yang dahsyat.”

Maka seketika Abu Lahab berkata, “Celaka kamu wahai Muhammad di seluruh hari. Untuk inikah kamu kumpulkan kami?

Maka turunlah ayat QS. Al Lahab (111) ayat 1 sampai dengan 5 :

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ سَيَصْلَى نَاراً ذَاتَ لَهَب وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ

Artinya:

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar . Yang di lehernya ada tali dari sabut.”

Jadi pada intinya, Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah terang dan jelas turunannya (nasabnya) serta terang dan jelas dalam kebaikan perilakunya.

Sementara, bila kita pelajari tentang Mirza Ghulam Ahmad tersebut, pertama-tama, menurut pengakuannya sendiri, maka dia itu adalah orang yang tidak jelas asal-usul nasab atau keturunannya. Katanya, ia lahir pada tahun 1256 H disuatu kota (desa) bernama Qadian, Punjab, India.

Dari tahun kelahirannya saja sudah tidak jelas, karena ada tidak kurang dari beberapa pernyataan yang berbeda tentang tahun kelahirannya. Kecuali menyatakan bahwa ia lahir di tahun 1256 H (atau 1835 M), ada juga yang mengatakan bahwa lahirnya adalah di tahun 1839 M, sangat jauh selisihnya dengan apa yang ia katakan sebelumnya. Lalu ada pula yang mengatakan bahwa ia lahir di tahun 1840 M.

Mirza Ghulam Ahmad mengatakan didalam Kitabnya yang bernama Dhamimat Al Wahyi yang ia tulis sendiri, dengan perkataan sebagai berikut, “Aku mendengar dari ayahku bahwa kakek moyangku berasal dari turunan Mongol. Akan tetapi Allooh memberi wahyu kepadaku (– disinilah ia mulai berdusta –pen.) bahwa kakek-nenekku berasal dari turunan Persia, bukan dari kaum Turki. Betapapun demikian, Allooh memberitahu kepadaku bahwa sebahagian ibuku dari kalangan Faathimah, dari keturunan Nabi Muhammad. Berarti Allooh telah menggabungkan aku antara turunan Ishaq, dengan turunan Isma’il. Dan ini menunjukkan kesempurnaan hikmah dan maslahat.”

Maksud Mirza Ghulam Ahmad (yang merupakan dusta dan kebohongannya), adalah bahwa Ishaq عليه السلام menurunkan Bani Isroo’il, sementara Isma’il عليه السلام menurunkan bangsa Arab yaitu Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, yang mana kemudian menurunkan kepada darah Mirza Ghulam Ahmad. Itulah sanad menurut penuturan Mirza Ghulam Ahmad, orang yang tidak bisa dipercaya ini.

Singkatnya, ia menyatakan dirinya sebagai keturunan Mongol, tetapi juga sebagai orang Persia, yang demikian ini berarti mengingkari apa yang dikatakan oleh bapaknya sendiri. Bapaknya tentu lebih tahu tentang keturunan-keturunan keatasnya, namun hal itu ditepis oleh Mirza Ghulam Ahmad sendiri, dengan mengaku-ngaku sebagai turunan orang Persia berdasarkan wahyu Allooh سبحانه وتعالى.

Jadi dari riwayatnya saja sudah buram, samar-samar dan tidak jelas. Sungguh tidak layak untuk dijadikan figur, karena sudah cacat sejarahnya. Apalagi kalau dikaitkan dengan sejarah orang-orang Mongol yang mana mereka adalah memerangi kaum Muslimin sehingga meruntuhkan kekhaliifahan ‘Utsmaniyyah pada masanya.

Kedua, akan kita kaji tentang akhlaq Mirza Ghulam Ahmad itu sendiri, sebagaimana yang ia katakan dalam satu bukunya yang berjudul Anjam Aadzim. Mirza Ghulam Ahmad menyatakan, “Tidak ada di dunia ini yang paling najis dari babi. Tetapi para ‘Ulama yang menyelisihi aku, mereka itu adalah lebih najis daripada babi, wahai para ‘Ulama, wahai para pemangsa bangkai, dan wahai para nyawa-nyawa yang najis…”

Demikianlah kata-kata Mirza Ghulam Ahmad dalam Kitab yang ditulisnya sendiri. Sungguh perkataan yang kotor dan tidak mencerminkan kemuliaan akhlaq. Dan kata-kata yang tidak layak keluar dari lisan seseorang yang menyatakan dirinya sebagai panutan.

Sungguh sangat berbeda dengan akhlaq Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, yang ketika beliau صلى الله عليه وسلم berniat hendak mencari lahan baru dalam berdakwah, beliau صلى الله عليه وسلم pergi ke daerah Thaif, karena di Mekkah banyak mengalami intimidasi dan tekanan. Tetapi di Thaif malah beliau صلى الله عليه وسلم diperlakukan sama saja. Dakwah beliau صلى الله عليه وسلم ketika itu ditolak, dan beliau صلى الله عليه وسلم pun dilempari oleh batu, dikejar-kejar bahkan dikatakan gila dan sebagainya. Sehingga ketika itu Malaikat Jibril meminta kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم agar beliau meminta izin kepada Allooh سبحانه وتعالى, untuk diizinkan membalikkan gunung di Thaif agar kaum didaerah tersebut musnah. Namun Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم justru mendoakan penduduk Thaif yang telah menganiayanya tersebut agar mereka itu diberi hidayah oleh Allooh سبحانه وتعالى, karena mereka adalah orang-orang yang tidak tahu tentang kebenaran yang dibawanya.

Hal ini sebagaimana Shohabat ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه mengatakan, “Seolah aku melihat Nabi صلى الله عليه وسلم mengisahkan seorang Nabi dari antara para Nabi yang dipukuli oleh kaumnya sehingga berdarah, sembari beliau صلى الله عليه وسلم mengusap wajahnya dan berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Ya Allooh, berilah kaumku petunjuk, sesungguhnya mereka belum mengetahui

(Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 5477 dan Imaam Muslim no: 4747)

Itulah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, seorang manusia pilihan, yang sangat jauh dari kata-kata kotor dan sangat jauh daripada keburukan akhlaq.

Lalu dalam Kitabnya yang lain yang berjudul Sittu Fijin, Mirza Ghulam Ahmad mengatakan, “Isa (– maksudnya, Nabi Isa عليه السلام — pen.) tidak bisa menyatakan terhadap dirinya sebagai orang shoolih, karena Isa adalah seorang pecandu khamr dan perilakunya sangat buruk.”

Kalau kita bahas perkataan Mirza Ghulam Ahmad dalam Kitabnya tersebut, maka telah menyangkut beberapa poin:

  1. Dia telah mencela, mencaci dan mengolok-olok Nabi Isa عليه السلام. Padahal mencela dan mengolok-olok seorang Nabi, hukumnya adalah murtad.
  2. Dia telah mengharuskan seseorang untuk men-tazkiyah dirinya bahwa dialah yang lebih berhak dinyatakan sebagai orang shoolih ketimbang Nabi isa عليه السلام.
  3. Dia mengikuti asumsi khalayak orang umum yang masih jaahil, yang menyatakan begini dan begitu kepada Nabi Isa عليه السلام.

Padahal bukankah tidak boleh menjadikan asumsi orang umum yang berasal dari ummat yang jaahil (bodoh) untuk dihukumkan pernyataan tersebut kepada Nabi Isa عليه السلام yang merupakan orang pilihan Allooh سبحانه وتعالى ?

Ketiga, dinukil dari Kitab yang berjudul Syahadatul Qur’an (Persaksian Al Qur’an), Mirza Ghulam Ahmad mengatakan, “Saya telah menghabiskan kebanyakan dari umurku untuk mendukung pemerintahan Inggris dan menolong mereka. Saya telah menulis banyak Kitab yang isinya melarang jihad dan menyuruh kaum Muslimin untuk wajib taat kepada Ulil Amri (– maksudnya, Penjajah Inggris yang memerintah ketika itu – pen.).”

Berikutnya dalam Kitabnya itu, Mirza Ghulam Ahmad kembali mengatakan, “Apakah tulisan saya itu berupa Kitab, berupa pengumuman ataupun selebaran-selebaran, kalau itu dikumpulkan satu sama lain, tidak kurang dari 50 almari buku. Dan telah saya sebarkan kitab-kitab iu di Negara-negara Arab, Mesir, Syam dan Turki. Saya bermaksud agar kaum Muslimin tulus (ikhlas) terhadap pemerintahan Inggris. Lalu menjaga hati-hati mereka dari kisah-kisah atau riwayat-riwayat, legenda-legenda seperti tentang Al Mahdi, Al Masih dan hukum-hukum yang menyebabkan terbangkit rasa jihadnya dan merusak hati mereka, orang-orang yang dungu.

Itulah pernyataan-pernyataan Mirza Ghulam Ahmad, yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang penghianat terhadap dienul Islam dan juga terhadap bangsanya sendiri. Kalaulah ia memang seorang “nasionalis”, sebagaimana yang dikatakan orang-orang zaman sekarang, maka tentunya ia akan lebih memihak kepada bangsanya sendiri (bangsa India) yang semestinya ia bela dan merdekakan, daripada malah membela penjajah Inggris, yang notabene merupakan imperialis pada waktu itu. Namun, Mirza Ghulam Ahmad bahkan dengan bangganya menyatakan bahwa seluruh waktunya ia habiskan untuk membantu penjajah Inggris.

Bahkan lebih rusak daripada itu, hukum Al Jihad yang didalam dienul Islam itu berlaku sampai dengan hari Kiamat, malah dikatakan oleh Mirza Ghulam Ahmad bahwa hukum Al Jihad itu adalah suatu kebodohan yang semestinya tidak perlu ada lagi. Bahkan ia sendiri mengakui bahwa ia telah menulis berpuluh-puluh Kitab, yang dikatakannya mencapai 50 Almari buku, semuanya berisikan bujukan agar kaum Muslimin jauh dari Jihad.

Dengan demikian, sangatlah jelas bahwa pemikiran Mirza Ghulam Ahmad ini adalah pemikiran yang merusak tidak hanya sejak di negaranya sendiri (India), bahkan sejak dari pribadinya pula. Bagaimana mungkin kita akan bisa memahami bahwa ajarannya adalah ajaran yang berhak untuk disebarkan di Indonesia, apalagi dengan mengatasnamakan sebagai bagian dari Islam, padahal Islam berlepas diri dari pemikiran-pemikiran rusak Mirza Ghulam Ahmad yang seperti itu?

Oleh karena itu, kaum Muslimin hendaknya waspada terhadap strategi menyesatkan Ahmadiyyah yang tidak kurang dari 5 tahapan sebagai berikut:

Tahap pertama, ia menulis Kitab-kitab yang disebutkan diatas (bahwa jumlahnya adalah tidak kurang dari 50 almari buku, kalau dikumpulkan). Bukan hanya menulis buku, tetapi ia juga memunculkan diri di tengah-tengah masyarakat sebagai tokoh, sebagai orang yang didengar, dan sebagai orang yang “jago debat”. Ia sering menantang orang untuk berdebat, sehingga orang yang diajak debatnya itu kalah, lalu nama Mirza Ghulam Ahmad pun menjadi “harum”, kesohor karena tulisannya dan kepandaiannya berdebat. Setelah orang terpukau dengan keberhasilannya berdebat, maka masuklah ia ke tahapan kedua.

Tahap kedua, Mirza Ghulam Ahmad mulai mengatakan bahwa ia mendapatkan ilham dari Allooh سبحانه وتعالى. Lalu orang-orang yang jaahil pun percaya dan terpedaya olehnya, maka mulailah ia melakukan stategi tahap ketiga.

Tahap ketiga, ia menyatakan bahwa dirinya adalah Imaam Mahdi. Pada tahapan ketiga ini, ia membuat berbagai klarifikasi didepan ummat agar mereka mau mengakui dirinya (Mirza Ghulam Ahmad) tidak hanya sebagai Nabi, melainkan juga sebagai Imaam Mahdi. Ia katakan bahwa ajarannya itu sama dengan ajaran kaum Muslimin lainnya, bahwa ibadah sholatnya sama-sama menghadap Kiblat dan seterusnya, yang mana pernyataan-pernyataan ini dimaksudkan untuk “mendinginkan suasana” dan agar kaum Muslimin percaya serta tertipu olehnya.

Inilah sikap ketidak kesatriaannya, dimana ia berusaha menipu kaum Muslimin agar  mereka itu percaya bahwa Ahmadiyyah itu adalah bagian daripada Islam. Silakan baca buku-buku tulisan Mirza Ghulam Ahmad, dimana dari buku-buku karya tulisnya itu bisa kita pelajari bahwa ia sudah sampai sedemikian parah rusak ‘aqiidahnya.

Tahap keempat, Mirza Ghulam Ahmad mulai menyatakan bahwa ia adalah Nabi Isaعليه السلام dan ia adalah Nabi akhir zaman, dimana pernyataannya ini jelas merupakan kekufuran terhadap ayat-ayat Allooh سبحانه وتعالى.

Mirza Ghulam Ahmad tidak hanya puas mengaku bahwa dirinya adalah seorang Nabi, bahkan ia melangkah jauh lebih sesat lagi daripada itu, karena didalam Kitab tulisannya yang berjudul Dhamimatul Wahyi, ia mengatakan bahwa, “Aku benar-benar diatas ilmu berasal dari Robb Al Wahab, yang memberikan karunia. Allooh telah membangkitkan aku pada kepala seratus (– maksudnya abad ke-19 — pen.) untuk memperbaharui dien, untuk memberikan penerangan dan cahaya kepada millat (Islam), untuk mematahkan salib-salib, untuk memadamkan api Kristen, dan untuk menegakkan sunnahnya manusia yang paling baik (– maksudnya adalah dirinya, Mirza Ghulam Ahmad sendiri — pen.). Serta untuk memperbaiki apa yang rusak dan untuk menghias sesuatu yang orang pandang tidak sedap. Aku adalah Al Masih yang dijanjikan. Aku adalah Al Mahdi yang telah ditetapkan dari Allooh padaku dengan berdasarkan wahyu, berdasarkan ilham. Allooh berbicara dengan aku seperti halnya Allooh berbicara dengan para Rosuul yang lain.”

Itulah pernyataan-pernyataan Mirza Ghulam Ahmad yang jelas-jelas menunjukkan kesesatannya. Maka kalau dilihat dari segi ‘aqiidah, hendaknya kaum Muslimin memproteksi dirinya dengan ‘aqiidah yang benar (shohiihah) untuk menolak ajaran Ahmadiyyah itu. Tanpa adanya fatwa MUI pun, kesesatan Ahmadiyyah itu sudah sangat jelas. Oleh karena itu, setiap individu kaum Muslimin wajib mempunyai sikap tegas untuk menyatakan bahwa Ahmadiyyah itu bukan bagian dari Islam, karena telah jelas-jelas bertentangan dengan QS. Al-Ahzaab (33) ayat 40 :

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

Artinya:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rosuulullooh dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allooh Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Perlu diketahui bahwa cakupan tugas seorang Rosuul itu adalah lebih luas dibandingkan seorang Nabi. Maka apabila seseorang itu Rosuul maka sudah tentu ia adalah seorang Nabi, tetapi seorang Nabi adalah belum tentu ia itu seorang Rosuul. Para Nabi sudah ditutup dengan adanya Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Sehingga dengan demikian, tidak boleh ada yang mengaku dirinya sebagai Nabi. Jadi, kalau ada orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi sesudah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ia jelas-jelas adalah seorang Pendusta dan Dajjal.

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory no: 3609 dan Imaam Muslim no: 7526, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ فَيَكُونَ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

Artinya:

“Tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga dua kelompok orang saling berperang dan berakibat terbunuhnya banyak orang, padahal apa yang mereka seru sebetulnya satu. Dan tidak akan terjadi Hari Kiamat sampai Alloohسبحانه وتعالى bangkitkan di tengah-tengah mereka para Dajjal, para pendusta, lebih dekat bilangannya dari 30 orang, semua mereka mengaku bahwa dia adalah utusan Allooh”.

Yang dimaksud dengan “Dajjal” bukanlah orang atau makhluk, tetapi adalah Kadzdzaab, yang merupakan julukan paling pas baginya karena orang tersebut adalah paling pandai berdusta. Semua pendusta itu tidak ada yang benar. Maka kalau ada seseorang mengaku dirinya sebagai Nabi sesudah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka menurut Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم orang yang seperti itu adalah Dajjal, Kadzdzaab atau Pendusta Ulung.

Maka berdasarkan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, kita kaum Muslimin tidak boleh ragu-ragu untuk menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu adalah Dajjal dan Kadzdzaab, demikian pula dengan pengikut-pengikutnya.

Perhatikan pula bahwa Allooh سبحانه وتعالى telah berfirman dalam QS. Al-Maa’idah (5) ayat 3 :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Artinya:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian dien kalian, dan telah Ku-cukupkan atas kalian ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu sebagai dien bagi kalian…”

Sehingga bila Mirza Ghulam Ahmad dan pengikut-pengikutnya (Ahmadiyyah) menyatakan bahwa Islam itu perlu diperbaharui setelah turunnya QS. Al Maa’idah (5) ayat 3 diatas, bahwa ajaran Al Jihad itu perlu direvisi, serta Ahmadiyyah mengingkari Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagai Penutup para Nabi dan mengingkari serta menyelisihi Sunnah yang telah ditetapkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم; maka jelaslah bahwa Ahmadiyyah itu adalah telah murtad (keluar dari Islam) dan mereka bukan bagian dari Islam sama sekali.

Apabila orang-orang Ahmadiyyah berdalih bahwa mereka itu adalah Mujaddid (Pembaharu), maka hendaknya kaum Muslimin mengetahui bahwa makna sebenarnya dari Tajdiid (memperbaharui) dan pelakunya yang disebut Mujaddid (Pembaharu) itu adalah apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Dengan Tasfiyyah, artinya pemurnian. Islam itu haruslah dibersihkan dari penyakit-penyakit misalnya seperti: Tahayul, Bid’ah dan Khurofat; agar Islam ini benar-benar murni seperti aslinya, yakni seperti Islam yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kepada para Shohabatnya.
  2. Dengan Ikhiyya, yaitu menghidupkan Sunnah-Sunnah Rosulullooh صلى الله عليه وسلم. Apabila ada Sunnahnya, tetapi Sunnah itu belum dimunculkan dalam kehidupan sehari-hari kaum Muslimin, maka hendaknya dilakukanlah proses pengamalan agar Sunnah-Sunnah tersebut dihidupkan kembali, baik melalui diri kita sendiri ataupun dengan mengajak orang lain untuk bersama-sama menghidupkan Sunnah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Itulah yang dimaksud dengan Pembaharuan.
  3. Dengan Addifaa’, artinya membela Sunnah-Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Kalau ada orang yang mencela atau menolak Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka kita harus bangkit untuk membelanya. Itulah yang dimaksud dengan Mujaddid (Pembaharu).

Demikianlah yang perlu diketahui oleh kaum Muslimin, bahwa yang seperti diatas ini lah makna sebenarnya dari Tajdiid dan Mujaddid. Jangan terkecoh oleh seseorang yang mengaku-ngaku dirinya sebagai Mujaddid, tetapi pada dasarnya mereka itu bukannya memurnikan Islam dan bukannya menghidupkan Sunnah-Sunnah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, namun justru mengganti-ganti ajaran Islam dengan kedustaan serta hawa nafsu mereka.

Juga dalam Hadits Shohiih Riwayat Imaam Muslim no: 6370, dari seorang Shohabat bernama Sa’ad bin Abi Waqoosh رضي الله عنه, berkata, “Telah bersabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pada Ali :

أَنْتَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلاَّ أَنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى

Artinya:

Kamu denganku bagaikan Harun dan Musa, kecuali bahwa tidak ada Nabi setelahku.”

Jadi kalau ada orang mengatakan bahwa ada Nabi setelah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ia telah kufur terhadap ayat-ayat Al Qur’an, kufur terhadap Hadits-Hadits Shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Maka kita sebagai kaum Muslimin hendaknya bisa menyikapi dengan benar, bahwa Ahmadiyyah itu telah murtad dari Islam. Ahmadiyyah itu tidak berhak menyandang nama Islam sama sekali, karena dia adalah agama baru. Sehingga perlakuan terhadap Ahmadiyyah itu tidaklah bisa disejajarkan sebagai sekedar Bid’ah biasa, namun telah tergolong Bid’atun Mukaffiroh (ajaran baru yang memurtadkan atau mengeluarkan pelakunya dari Al Islam). Dan hal inilah yang harus bisa diketahui oleh setiap Muslim, mulai dari yang awam sampai dengan yang ber-ilmu.

Sehingga kalau ada orang yang mengaku dirinya sebagai ‘Ulama, sudah ‘aalim (sudah ber-‘ilmu syar’i), namun lalu ia mengatakan bahwa Ahmadiyyah itu harus dilindungi, maka orang itu sungguh-sungguh telah tersesat dari kebenaran.

TANYA JAWAB

Pertanyaan:

Kalau di zaman kekhaliifahan, maka orang-orang yang semacam Ahmadiyyah yang menyesatkan itu pasti sudah diperangi oleh Khaliifah (Penguasa Islam) ketika itu. Tetapi karena sekarang ini, di Negara kita belum ada Khaliifah seperti di zaman dahulu, apakah boleh orang-orang Ahmadiyyah itu kita bantai dan kita bunuh saja?

Jawaban:

Kalau kita masuk kepada urusan eksekusi, maka urusan eksekusi adalah urusan Penguasa Islam (Khaliifah). Dan sebagaimana telah anda sadari sendiri, bahwa di zaman kita sekarang ini belum ada Khaliifah, sehingga hukum syar’i pun jangan dipaksakan untuk berlaku.

Misalnya ada orang yang berzina (– dan berapa banyak orang yang berzina di zaman kita sekarang ini?–)maka sesuai syari’at Islam, kalau orang yang berzina itu sudah menikah, maka ia harus dirajam sampai mati. Namun karena tidak ada Khaliifah (Penguasa Islam), maka tidak boleh hukum rajam diberlakukan semena-mena secara individual. Demikian pula dengan perkara Ahmadiyyah ini. Tidak boleh kita main eksekusi sendiri. Menyikapi hukum Islam itu bukanlah dengan amarah atau emosi, melainkan haruslah dengan jalur yang benar, yang sesuai dengan hukum Allooh سبحانه وتعالى. Jangan sampai karena ingin menegakkan hukum Allooh سبحانه وتعالى, namun dengan cara-cara yang melanggar aturan Allooh سبحانه وتعالى. Itu bukan kaidah Islam, dan bukanlah manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah.

Justru yang perlu dilakukan oleh kaum Muslimin adalah hendaknya setiap individu itu harus membentengi dirinya sendiri dengan ‘aqiidah yang kokoh, sehingga ia tidak akan terkecoh dengan ajaran-ajaran sesat seperti Ahmadiyyah. Bila setiap individu Muslim telah bisa memproteksi (melindungi) dirinya sendiri, maka otomatis ajaran sesat seperti Ahmadiyyah itu tidak akan bisa berkembang. Oleh karena itu, merupakan kewajiban setiap Muslim (bukan hanya kewajiban dari Ustadz atau ‘Ulamanya saja) untuk berperan serta mendakwahkan serta menyampaikan informasi tentang kesesatan Ahmadiyyah ini kepada sesama Muslim lainnya. Sampaikanlah, dengan demikian kalian semua telah berperan serta menolong dienul Islam, menolong menyelamatkan ‘aqiidah sesama kaum Muslimin dari maraknya ajaran-ajaran sesat yang dijajakan oleh musuh-musuh Al Islam di zaman sekarang ini.

Pertanyaan:

Katanya Ahmadiyyah itu beriman dengan Al Qur’an, bagaimana itu?

Jawaban:

Mereka itu mengaku percaya kepada Al Qur’an, mengaku ibadahnya dan sholatnya menghadap Kiblat, namun kaidah yang harus dipahami oleh kaum Muslimin adalah bahwa satu huruf saja seseorang itu kufur kepada Al Qur’an, maka berarti ia telah kaafir. Yang demikian ini, dikatakan oleh Shohabat Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه.

Padahal Ahmadiyyah itu bukan hanya mengkufuri satu huruf dari Al Qur’an, sebagaimana telah kita bahas diatas, namun mereka mengkufuri sederetan ayat-ayat Al Qur’an. Jadi parah sekali mereka itu. Kalau Ahmadiyyah itu menyatakan bahwa mereka itu sama dengan orang Islam; sebenarnya itu bagian dari strategi mereka saja. Mereka berusaha mencari teman, mencari perlindungan, dan menutup-nutupi kedustaan mereka. Namun semua yang telah dibahas diatas adalah kata-kata yang diucapkan sendiri oleh “Nabi” mereka Mirza Ghulam Ahmad, yang perlu dinukilkan dalam kajian kita kali ini, agar kaum Muslimin tidak lagi terkecoh dengan kedustaan mereka itu.

Pertanyaan:

Kalau Ahmadiyyah itu dianggap murtad atau sesat, bagaimana dengan ‘Ulama yang membelanya?

Jawaban:

Menurut Imaam Hasan Al Bashry رحمه الله, bahwa seorang ‘Aalim (ber-ilmu syar’i) itu harus memiliki minimal 4 karakter, yaitu:

  1. Ia haruslah zuhud dalam urusan duniawi, jangan sampai menjilat kepada Penguasa atau siapa pun untuk urusan duniawi.
  2. Ia haruslah seorang yang cinta terhadap urusan akhirat. Urusan akhirat lah yang ia prioritaskan.
  3. Ia haruslah seorang yang mendalam dalam perkara dien-nya. Kalaulah orang yang mengaku ‘aalim itu salah, maka bagaimanakah pula dengan orang awamnya?
  4. Ia harus selalu mendawamkan (rutin) dalam beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Al’ Ibroh (pelajaran) itu bukanlah sekedar dilihat dari kilauan nama ataupun titel, julukan ataupun jabatan seseorang; namun haruslah dilihat dari sesuai atau tidak sesuainya perkataan dan perilaku orang tersebut dengan As Sunnah. Jadi janganlah kaum Muslimin mudah terkecoh dengan seseorang yang mengaku dirinya sebagai ‘Ulama, yang berjulukan professor, doktor, sarjana dan sejenisnya, namun apa yang disampaikannya menyelisihi As Sunnah. Maka sungguh ia sebenarnya tidak pantas mengemban kesarjanaannya tersebut.

Pertanyaan:

Melanjutkan pertanyaan dari Penanya sebelumnya, dikatakan bahwa ciri seorang ‘Ulama didalam QS. Faathir (35) ayat 28 :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Artinya:

Sesungguhnya yang takut kepada Allooh diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ‘Ulama. Sesungguhnya Allooh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Jadi kalau ciri seorang ‘Ulama itu adalah seorang yang takut kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka berarti orang yang mengaku ‘Ulama tetapi membela Ahmadiyyah itu sebenarnya belum bisa dikategorikan sebagai ‘Ulama, bukankah demikian? Sedangkan kami, yang awam ini, insya Allooh kami ini berusaha untuk takut kepada Allooh سبحانه وتعالى melalui ajaran-ajaran-Nya. Lalu kategori kami ini sebagai apa, kalau yang dikategorikan sebagai ‘Ulama itu hanyalah orang-orang yang takut kepada Allooh سبحانه وتعالى?

Jawaban:

Kata “Innama” (إِنَّمَا) dalam ayat tersebut artinya adalah “hanya”. Maksudnya: Hanya dari kalangan hamba-Nya yang paling takut kepada Allooh سبحانه وتعالى itu lah yang merupakan ‘Ulama.

Dan para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah seperti Imaam Ahmad bin Hanbal رحمه الله, kata beliau, “Ilmu itu artinya takut kepada Allooh سبحانه وتعالى.”

Dalilnya adalah ayat Al Qur’an tersebut diatas. Jadi, orang yang paling takut kepada Allooh سبحانه وتعالى adalah ‘Ulama atau dengan kata lain: “Orang yang seharusnya paling takut kepada Allooh سبحانه وتعالى adalah para ‘Ulama.”

Jadi, kalau orang awamnya saja berusaha untuk takut kepada Allooh سبحانه وتعالى, sementara orang yang mengaku dirinya ‘Ulama tetapi tidak takut kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka bisa saja posisinya terbalik. Yang awam itu menjadi ‘Ulama, sementara yang ‘Ulama itulah yang awam dalam pandangan Allooh سبحانه وتعالى. Jangan-jangan terbalik, Walloohu a’lam.

Maka hendaknya para Ustadz, da’i dan yang mengaku dirinya sebagai ‘Ulama itu lah yang seharusnya paling terdepan dalam memiliki rasa takut kepada Allooh سبحانه وتعالى dan paling terdepan dalam beramal shoolih serta ber-amar ma’ruf nahi munkar.

Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 25 Rajab 1426 H – 29 Agustus 2005 M.

——- 0O0 ——-

Silakan download PDF :  Sesatnya Ahmadiyah Bag-2 AQI 290805FNL

Advertisements
4 Comments leave one →
  1. Suryanto permalink
    3 March 2011 4:37 pm

    Assalamu’alaikum Warrohmatulloohi Wabarokaatuh,
    Yth., Ustad A Rofi’i,
    Paling utama saya mengucapkan terima kasih, mohon Izin copy paste untuk dipelajari.
    Semoga Allooh selalu melindungi dan menerima amal baik Ustad.

    • 3 March 2011 7:18 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh, silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika.

  2. 7 March 2011 9:29 am

    Assalamu’alaikum Pak Ustd. Rofi’i
    Barakullohu fiik

    Mohon ijin download Ustadz, Syukron..

    Jazzakumullohu katsiron

    • 7 March 2011 6:06 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh, silakan saja…. semoga bermanfaat… Barokalloohu fiika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: