Skip to content

Syaikh Ahmad Deedat VS DR. Anis Shorosh

26 September 2010

DEBAT SYAIKH AHMAD DEEDAT DENGAN DR. ANIS SHOROSH (Bagian-1)

Moderator Membuka Acara

“Selamat datang saya ucapkan pada hari ini, di Auditorium Royal Albert Hall, semoga Allah senantiasa mengaruniakan kebahagiaan kepada anda. Amien.

Di antara perkara-perkara yang terpenting dalam sebuah perdebatan semacam ini adalah, memahami sifat pertemuan yang karenanya kita telah hadir. Saya kira ini merupakan momen bersejarah yang membuka kesempatan bagi pengikut dua agama, baik dari kalangan Nasrani maupun Islam, untuk mendengarkan sudut pandang pihak yang lain.

Malam ini saya berbicara sebagai moderator. Saya adalah pengikut ajaran Nasrani yang konsekwen, nama saya adalah Clay Karphin. Saya aktif sebagai sekretaris jendral pada organisasi Perhimpunan Injil.

Saya merasa sangat berbahagia menyambut kehadiran anda sebagai wakil dari kedua pembicara; yang tentunya juga merasa sangat bergembira karena penuhnya auditorium ini. Di sini saya akan memperkenalkan kedua pembicara kita pada malam hari ini kepada anda semua. Seperti yang telah saya katakan tadi, bahwa kami sangat bergembira dengan keikutsertaan anda berdua dalam perdebatan yang penting ini.

Selanjutnya, saya mohon kesediaan tuan Ahmed Thomson untuk memperkenalkan tuan Ahmed Deedat secara singkat kepada kita semua.”

(Saudara Ahmed Thomson dari Islamic Center berbicara):

Bismillahirrahmaanirrahiim

Selamat sore. Saya kira sebagian besar dari anda telah mengenal tuan Ahmed Deedat. Sebab sebelumnya beliau telah beberapa kali datang ke Inggris, dan pada bulan Juli tahun ini beliau juga ikut serta dalam perdebatan yang serupa dengan yang sedang kita laksanakan pada malam hari ini. Tuan Ahmed Deedat adalah direktur Islamic Propagation Centre International di Dorban, Afrika Selatan. Beliau telah lama mempelajari Bible dan al-Qur’an al-Karim, dan tentunya -sebagai seorang muslim- beliau percaya bahwa al-Qur’an adalah wahyu terakhir yang diturunkan Allooh kepada penutup sekalian nabi dan rasul untuk umat manusia.

Kebanyakan sudut pandang yang akan dipaparkan oleh beliau, bersandarkan kepada apa yang tersebut di dalam al-Qur’an al-Karim. Bersamaan dengan itu, beliau juga memusatkan perhatian untuk mempelajari Bible yang tidak lagi berisikan Injil nabi Isa yang berbahasa asli, yaitu bahasa Aram, sekalipun Bible dipandang sebagai dokumen yang menarik perhatian.

Saya ingin mengarahkan perhatian anda kepada ayat 61 dari surah Aali ‘Imroon, yaitu ayat yang pada awalnya ditujukan kepada nabi Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wassalaam, kemudian ditujukan pula kepada seluruh kaum muslimin:

فَمَنْ حَآجَّكَ فِيهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْاْ نَدْعُ أَبْنَاءنَا وَأَبْنَاءكُمْ وَنِسَاءنَا وَنِسَاءكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَةَ اللّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

“Siapa yang membantahmu (tentang kisah Isa) sesudah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah (kepadanya), ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak -anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian, kemudian kita bermubahalah kepada Allah, Ialu kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kapada orang-orang yang ingkar’”. (QS. Aali ‘Imroon : 61)

Maka, sebagai wakil dari tuan Ahmed Deedat dan seluruh kaum muslimin, saya ingin mengatakan, semoga laknat Allooh menimpa kita jika informasi-informasi yang diisyaratkan oleh al-Qur’an al-Karim adalah bohong”.

Moderator melanjutkan:

“Kami juga sangat berbahagia dengan kehadiran pendeta Fred Mashobney dari wilayah Florida, yang secara umum ikut serta dalam gerakan penginjilan. Beliau datang pada malam hari ini sebagai pendamping DR. Anis Shorosh. Sekarang, saya akan memperkenalkan dengan singkat tentang DR. Anis kepada anda semua.

DR. Anis adalah seorang yang berkebangsaan Palestina. Beliau menjadi seorang pengungsi di Yordan pada tahun 1948. Kemudian beliau berangkat ke Amerika Serikat dan menimba ilmu di wilavah Mississipi, di mana beliau berhasil meraih gelar Bachelorius sastra dan theologi. Beliau telah menikah dan mempunyai tiga orang putra dan seorang putri. Sejak tahun 1966, DR. Anis telah bekerja di bidang penginjilan, beliau tinggal di kota Mobile, wilayah Alabama, dan beliau adalah penggondol gelar doktor dalam bidang theologi. Malam ini kita mengucapkan selamat datang untuk DR Anis…

Beberapa saat lagi, kita akan mendengarkan orasi dari kedua pembicara kita pada malam hari ini, keduanya akan berbicara selama lima puluh menit. Ketika waktu yang telah ditentukan tinggal dua menit lagi, saya akan mengingatkan dengan menyentuh lengannya, dan apabila waktu yang ditentukan telah habis, maka saya akan berdiri dan mempersilahkannya untuk duduk. Akan tetapi saya percaya bahwa hal tersebut tidak akan diperlukan.

Baiklah, untuk pembicara pertama, kami persilahkan kepada DR. Anis Shorosh untuk menyampaikan orasinya.

(tepuk tangan hangat dari pada hadirin)

ORASI DR. ANIS SHOROSH :

Saudara-saudari yang terhormat!

Mampukah anda untuk menafsirkan kepada saya urutan angka tiga dalam kondisi-kondisi berikut ini, jika yang dimaksudkan bukanlah isyarat kepada rahasia Trinitas?!

Mesias telah menciptakan tiga keajaiban yang berkaitan dengan nelayan di Laut Jaliel, beliau telah menghidupkan kembali tiga orang yang telah mati, seorang anak putri, seorang pemuda dan seorang laki- laki tua sebagai tanda kecintaan beliau kepada semua orang dengan berbagai perbedaan umur mereka.

Petrus telah mengingkari tuannya (Mesias) tiga kali dan menyatakan kecintaannya kepada tuannya sebanyak tiga kali. Dan, kemunculan Mesias juga disaksikan oleh tiga orang dari murid-murid beliau.

Lama masa risalah beliau di atas muka bumi adalah tiga tahun, dan beliau adalah orang ketiga dari tiga orang yang telah disalib pada waktu itu. Salah seorang mereka disalib dengan sebab dosa, yang lainnya dengan dosa, dan beliau disalib sebagai penebus dosa. Kemudian beliau bangkit dari antara orang-orang yang mati pada hari yang ketiga. Apakah diantara anda ada orang yang sanggup mengingkari penyampaian dari Allah ini!? Ataukah anda menyangka bahwa Allah sengaja telah menyesatkan kita dan berdusta kepada kita!? Jauh sekali.

Sebab, Allah mungkin menjadikan atau tidak menjadikan, berbuat atau tidak berbuat.

Yesus yang tidak pernah berdusta dan tidak pernah sekalipun berbuat kesalahan, telah mengakhiri risalah penebusan dosanya dengan keterangan jelas yang disebutkan dalam Injil Matius:

“Yesus mendekati mereka dan berkata, ‘Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”. (Matius 28: 18)

Nabi mana yang berani mengucapkan perkataan semacam ini!?

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dan ajarilah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. (Matius 28: 19-20)

Jutaan orang Masehi menamakan pesan ini ‘pesan penginjilan tugas yang agung’, dan kebanyakan kami memulai upacara-upacara keagamaan dengan ungkapan ‘atas nama Bapa, Anak dan Roh Kudus’.

Sekarang marilah kita beralih kepada tema yang sedang kita perbincangkan, yaitu apakah Mesias itu adalah Tuhan?

Biar saya tegaskan kepada anda, seandainya Yesus dilahirkan dengan cara yang sama seperti saya dilahirkan, bukan dengan cara yang luar biasa dari seorang wanita perawan, hidup dan mati seperti semua manusia, tidak bangkit dari antara orang-orang yang mati dan tidak naik ke langit, maka persolannya pasti tidak akan begini dan Mesias adalah seorang pembohong besar.

Adapun pertanyaan sesungguhnya yang harus dilontarkan pada malam ini adalah, apakah Allah itu adalah Mesias?

Jika kita mengakui bahwa Allah sanggup melakukan segala sesuatu, maka kita akan menghadapi masalah. Dari satu sisi kita percaya bahwa Allah mampu melakukan apa saja yang Dia kehendaki, karena kemampuan-Nya tidak terbatas. Dan, dari sisi lain kita menafikan kemampuan ini dari-Nya ketika mengingkari hak-Nya untuk menjadi seorang manusia. Manusia tidak mampu menjadi Tuhan! Ini adalah kafir dan tajdif. Akan tetapi Allah mampu menjadi manusia, dan namanya adalah Tuhan Yesus, penebus dosa, raja diraja, dan tuan segala tuan.

DR. Stanley Johns yang diberi julukan ‘Utusan kepada orang-orang Hindu’ ada menjelaskan tentang jenis-jenis agama yang terdapat di dunia:

(1) Jenis pertama: kesimpulannya bahwa Allah menyingkapkan zat-Nya dengan sebuah kitab suci.

(2) Jenis kedua: bahwa Firman menjadi syari’at atau sekumpulan hukum-hukum.

(3) Jenis ketiga: bahwa Firman menjadi jasad.

Seandainya manusia adalah perpustakaan -perpustakaan, niscaya kitab adalah cara terbaik untuk berinteraksi dengan mereka. Seandainya mereka adalah undang-undang dan hukum-hukum internal, niscaya mereka merespon sekumpulan hukum-hukum dengan sebaik-baiknya. Dan karena kita adalah manusia, Allah menghendaki agar Firman menjadi jasad, sebagaimana yang kita baca dalam Injil Yohanes:

Firman itu telah menjadi jasad, dan diam diantara kita, dan kita melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran1”. (Matius 1: 14)

Bagi anda yang mengetahui kisah Ibrahim, biarkan saya menggugah kembali ingatan anda pada malam ini.

Sesungguhnya Allah telah datang kepada Ibrahim dalam bentuk seorang manusia, seribu lima ratus tahun sebelum Allah datang ke Betlehem dalam bentuk seorang anak kecil.

Mari kita lihat dalam pasal 18 dari kitab Kejadian, di mana disebutkan:

“Kemudian Tuhan menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Serudah dilihatnya, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah, serta berkata, ‘Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini”. (Kejadian: 18: 1-4)

Kemudian kita baca dalam ayat 13 dari pasal yang sama:

“Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Abraham, ‘Mengapakah Sara tertawa dan berkata: sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk Tuhan? Pada waktu, yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau. Pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki –laki”. (Kejadian: 18: 13-14)

Tersebut dalam ayat 22-25 pada pasal yang sama:

“Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom. Tetapi Abraham masih berdiri di hadapan Tuhan. Abraham datang mendekat dan berkata, “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian itu dari pada -Mu. Masa Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil!?”. (Kejadian 18: 22-25)

Dan pada akhir ayat pasal 18 dari kitab Kejadian, gambaran Tuhan alam dilukiskan dalam bentuk manusia:

“Lalu pergilah Tuhan setelah la selesai berfrman kepada Abraham, dan kembalilah Abraham ketempat tinggalnya”. (Kejadian 18: 33)

Saya bertanya kepada anda saudara-saudaraku yang budiman, seandainya Tuhan tidak menghendaki keterikatan dengan ikatan tempat, masa, jarak dan berhadap-hadapan, lalu bagaimana Dia mampu meninggalkan Ibrahim?!

Apa yang akan kita tentang Melkisedek yang merupakan jelmaan terakhir Yesus, Mesias!?

“Tersebut dalam Surat Kepada Orang Ibrani:

“Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Maha Tinggi, ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja dan memberkati dia. Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya, Melkisedek. adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu damai sejahtera. Ia tidak berbapa, tidak beribu dan tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam selama-lamanya”. (Ibrani 7: 1-13)

Dia diciptakan dari tanah bumi, demikian pula kita diciptakan dari tanah bumi. Sedangkan Yesus dilahirkan dari Roh Kudus.

Dalam bukunya yang berjudul “Apa nama-Nya?”, Tuan Deedat mengeluarkan segenap pendapat untuk membuktikan bahwa di antara “sifat-sifat Tuhan yang paling khusus” adalah tidak pernah makan sama sekali.

Anda siapa dan mereka orang-orang primitif itu siapa, sehingga kalian mengatakan apa yang mungkin dilakukan oleh Tuhan atau tidak dilakukan-Nya, apa yang dikatakan-Nya dan apa yang tidak, apa yang dijadikan-Nya apa yang tidak!!?

Pasal 18 dari kitab Kejadian bercerita tentang tiga orang pengunjung yang datang dari langit kepada Ibrahim. Lalu beliau bercerita dengan pimpinan mereka dengan berkata: Wahai tuan, dan beliau berdiri di samping mereka ketika mereka sedang makan. Beberapa abad setelah itu, Yesus -Khalil Ibrahim dan Tuhannya- makan bersama murid-muridnya, sebelum dan sesudah kebangkitannya.

Karena inilah yang dipilih-Nya, dan karena Dialah Allah. Barangkali masalah yang ada di hadapan anda wahai kaum muslimin, kendati anda mengulang-ulang kalimat Allahu Akbar sebanyak 40 kali dalam sehari, akan tetapi Allah dalam pandangan anda tidak cukup besar untuk menciptakan keajaiban-keajaiban yang luar biasa.

Saya akan bertanya kepada anda, sampai kapan anda akan membiarkan Allah jauh dari kita, tanpa peduli dengan kita, bersikap sombong terhadap kita, padahal Dialah yang telah menciptakan kita dalam bentuk dan rupa-Nya!!?

Orang-orang tersebut telah muncul menunjukkan diri kepada Ibrahim dan mereka berjalan ke arah Sodom. Salah seorang dari mereka tertinggal di belakang, dan dialah yang disapa oleh Ibrahim dengan ucapannya: Wahai Tuan.

Dengan penuh keikhlasan, secara sistematis dan jelas, biarkan saya menunjukkan kepada anda sebagian dari sifat-sifat utama yang dimiliki Allah, dan anda dengan sendirinya akan melihat bahwa semua sifat-sifat ini ada pada Yesus, Mesias, dan beginilah keberadaan Yesus dari sejak azali.

Tersebut dalam Injil Yohanes:

“Oleh sebab itu ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada”. (Yohanes 17: 5)

Dalam ceramah yang disampaikannya pada bulan Juli yang lalu di kota Birmingham, tuan Deedat mengatakan bahwa dia mempercayai setiap kalimat yang diucapkan oleh Mesias di dalam Injil. Jadi, hendaknya dia menjelaskan sikapnya yang kontradiksi ini.

Kemudian kita baca dalam Injil Yohanes:

“Abraham bapamu bersuka cita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersuka cita. Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya,`Umur-Mu belum lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?’ Kata Yesus kepada mereka, ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi; Aku telah ada”. (Yohanes 8: 56-58)

Jika anda membaca ayat 13 dan ayat sesudahnya dari pasal 3 kitab Kejadian, anda akan memahami sebabnya:

“Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu”. (Keluaran: 3: 13)

Kemudian kita baca dalam ayat 2 pasal 5 dari kitab Mikha tentang nubuat yang berkaitan dengan Betlehem, tanah kelahiran Mesias yang ditunggu, raja Yahudi. Pada ujung ayatnya tersebut:

“…yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”. (Mikha, 5: 2).

Apakah sifat ini cocok untuk orang biasa? Ataukah ini adalah sifat Allah yang mulia, lalu Dia datang kepada kita dalam bentuk manusia?

Dalam Injil Yohanes terdapat ayat yang berkenaan dengan keberadaan Mesias sebelum permulaan alam.

“Sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan”.  (Yohanes 17: 24).

Sekarang mari kita perhatikan kandungan ayat-ayat pasal pertama dari Injil Yohanes:

“Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. (Yohanes 1: 1-14)

Coba dengarkan kata-kata Sulaiman dalam kitab Amsal, dimana kita baca:

“Siapakah yang naik ke sorga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamannya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu”. (Amsal: 30: 4)

Mana jawabannya? Atau apa jawaban atas pertanyaan itu?

Sepuluh abad setelah nubuat ini berlalu, Tuhan Yesus memberikan jawabannya kepada kita. Jawabannya ada dalam Injil Yohanes:

‘Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain daripada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia”. (Yohanes 3: 13)

Bible menyebutkan bahwa Yesus tetap senantiasa dalam keadaannya yang kemarin, sekarang dan selamanya, dan itulah sifat yang hanya duniliki oleh Allah.

Kita membaca dalam kitab wahyu kepada Yohanes:

“Aku adalah Alfa dan Omega, permulaan dan penghabisan. Firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Maha Kuasa”. (Wahyu 1: 8).

Kemudian di dalam pasal yang sama, pada ayat 17-18 disebutkan:

17. “Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi la meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: `Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir.

18. dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaat maut.” (Wahyu Kepada Yohanes, 1: 17-18).

Apakah ayat-ayat, atau penjelasan, atau berita- berita yang disebutkan di dalam al-Kitab di atas, menunjukkan bahwa Yesus yang dilahirkan secara luar biasa, hanya sebagai manusia biasa atau apakah ayat- ayat, atau penjelasan, atau berita-berita tersebut benar -benar menunjukkan bahwa Yesus adalah “Tuhan yang menjelma dalam bentuk manusia”?

Di antara sifat-sifat Allah Yang Maha Tinggi dan Menguasai adalah mengetahui peristiwa-peristiwa akan datang yang belum terjadi, dan Yesus dapat mengetahui hal itu. Saya yakin bahwa mayoritas para hadirin, kaum terpelajar yang ada di tempat ini sudah mengetahui tentang kisah seorang wanita Samiri yang disebutkan di dalam Pasal empat dari Injil Yohanes. Mengapa wanita tersebut dapat yakin dan percaya ketika Yesus mengatakan kepadanya bahwa ia adalah Mesias Al-Muntazhar?

“16. Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, panggilah suamimu dan datang ke sini.

17. Kata perempuan itu: “Aku tidak mempuryai suami. “Kata Yesus kepadanya: `Tepat katamu bahwa engkau tidak mempunyai suami. ”

18. Sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu, dalam hal ini engkau berkata benar. ” (Yohanes 4: 16-18).

Wanita itu dipenuhi rasa takut, maka ia pun pergi ke kota dan mengatakan kepada manusia:

“29. “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkin dia Kristus itu?”

30. Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus.” (Yohanes 4: 29-30).

Mereka mengatakan:

“45. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus anak Yusuf dari Nazaret.” (Yohanes 1: 45).

“47. Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepadanya, lalu berkata tentang dia: “Lihat inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”

48. Kata Natanael kepadanya: “Bagaimana engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”

49. Kata Natanael kepadanya: “Rabi, Eagkau anak Allah, Engkau Raja orang Israel.” (Yohanes 1: 47-49).

Mengapa Yesus dapat melihat Natanael, padahal belum ada seorang pun yang dapat melihatnva selain Allah.

Yesus telah mengetahui tentang pengkhianatan yang akan dilakukan muridnya, ia juga telah mengetahui tentang peristiwa penyalibannya, kematiannya, dan saat-saat kembalinya, secara detail dan terperinci, hingga murid-muridnya sendiri pun pada awalnya tidak mampu untuk mempercayainya. la dapat mengetahui bahwa Butras akan mengingkarinya sebanyak tiga kali, padahal Butras adalah salah seorang muridnya yang sangat setia. Ia juga dapat mengisahkan secara terperinci tentang berbagai macam peristiwa kehancuran yang akan terjadi di Baitul Maqdis, tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelah tiga puluh tahun penyalibannya, dan lain sebagainya. Di samping itu, ia juga telah berbicara tentang hari akhir, dan peristiwa-peristiwa yang menunjukkan akan datangnya hari akhir tersebut, yaitu persitiwa-peristiwa yang sedang kita alami malam ini di London dan di kota-kota lain di seluruh dunia.

Pada acara makan malam bersama murid-muridnya, yang disebut dengan makan malam terakhir, ia mengisahkan kepada mereka tentang kematiannya, kebangkitannya, dan saat-saat dimana ia akan kembali lagi ke dunia.

Dengan seluruh bukti-bukti yang sangat jelas tersebut, apakah masih ada di antara kita orang yang sanggup untuk mengatakan dengan ketulusan hatinya dan kejernihan nuraninva bahwa Yesus bukan Tuhan yang menjelma dalam bentuk manusia?

Bahkan al-Qur’an al-Karim sendiri, sebagai kitab suci umat lslam, turut mengatakan bahwa Yesus dapat mengetahui kapan akan terjadinya hari kiamat.

Di dalam Injil Matius disebutkan bahwa ketika jenderal dari para pembesar ‘Timur sampai di Baitlehem, mereka menanyakan, ‘Dimanakah orang yang dilahirkan untuk menjadi raja?

Bukankan suatu keanehan, jika anak yang dilahirkan itu (Yesus) disebut sebagai raja, padahal julukannya yang benar adalah Amir (pemimpin).

Di dalam Injil Matius, kita juga dapat membaca bahwa ketika mereka melihat seorang anak kecil yang bersama Maryam, mereka segera bersujud kepadanya, dan orang-orang yang berakal pun hingga hari ini masih bersujud kepadanya (Yesus). Sedangkan tentang ketiga hadiah yang mereka berikan kepadanya (anak kecil yang bersama Maryam) adalah hadiah-hadiah yang menunjukkan akan hal-hal tertentu; emas yang mereka berikan menunjukkan bahwa ia adalah seorang raja, pakaian yang mereka berikan menunjukkan bahwa ia adalah Tuhan, dan kepahitan yang mereka berikan kepadanya menunjukkan akan kematiaannya di dalam kapan yang tidak sama seperti kapan manusia.

Umat jin dan setan pun mengetahui Yesus, dan mereka sujud kepadanya, seperti yang disebutkan di dalam Injil Markus.

“6. Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya

7. dan dengan keras ia berteriak: `Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Maha Tinggi? Demi Allah, jangan siksa aku.” (Markus 5: 6-7).

Dalam ayat ke 41 dan setelah, dari pasal 20 Injil Lukas, terdapat beberapa bukti akan keberadaan Yesus sebagai Tuhan, di antaranya adalah sujudnya musuh-musuhnya kepadanya.

“41. Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Bagaimana orang dapat mengatakan, bahwa Mesaias adalah anak Daud.

42. Sebab Daud sendiri berkata dalam kitab Mazmur: “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku,

43. Sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.

44. Jadi Daud menyebut dia Tuannya, bagaimana mungkin ia anaknya pula?” (Lukas 20: 41 -44).

Dalam Injil Yohanes pasal 9 juga disebutkan bahwa Yesus dapat menyembuhkan seorang pemuda yang dilahirkan dalam keadaan buta. Selanjutnya mari kita baca ayat 35 sampai 38 dari pasal yang sama tentang akhir daripada kisah yang mengesankan ini.

“35. Yesus mendengar bahwa iu telah diusir keluar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: “Percayakah engkau kepada anak manusia?”

36. Jawabnya: “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya.”

37. Kata Yesus kepadanya; “Engkau bukan saja melihat Dia, tetapi Dia sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!”

38. Katanya: “Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah-Nya.” (Yohanes 9: 35-38).

Ijinkan saya membuka rasionalitas dan nurani anda dengan membahas dan mengingatkan anda akan beberapa fenomena tentang Yesus yang disebutkan di dalam Surat Paulus Kepada Jemaat di Kolose.

“13. la telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;

14. di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.

15. la adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,

16. karena di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan, yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.

17. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.

18. Ialah kepada tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga ia lebih utama dalam segala sesuatu.” (Surat Paulus Kepada Jemaat di Kolose 1: 13-18).

Di antara sifat-sifat Allah adalah Kuasa terhadap segala sesuatu. Lalu siapa di dunia ini yang mampu untuk mengatur perputaran udara dengan kekuatan murninya? Jelas anda akan mengatakan ‘Allah’. Jika demikian, maka katakanlah kepada saya, siapakah Yesus yang memiliki kemampuan untuk menentramkan badai topan di lautan luas, sebagaimana yang disebutkan di dalam Injil Lukas? Lalu apa pula yang akan anda katakan tentang kemampuannya untuk berjalan di atas air, dan berita tentang naiknya beliau ke langit dengan kekuatan luar biasa setelah selesai menunaikan risalah pengorbanannya di muka bumi, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Kisah Para Rasul?! Saudara-saudara sekalian! Jika Eliya sebagai seorang nabi diangkat ke langit dengan kereta kuda yang terbuat dari api, maka Yesus dapat naik ke langit dengan kekuatannya sendiri, sebab ia memiliki kemampuan untuk itu, sebagaimana ia memiliki kemampuan untuk menghidupkan dan mematikan.

Di dalam Injil Matius kita dapat membaca:

“18. Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar.

19. Dekat jalan la melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi la tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu; “Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu.

20. Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: “Bagaimana mungkin pohon ara itu sekonyong-konyong menjadi kering?” (Matius, 21: 18-19).

Yesus memiliki kekuasaan terhadap orang yang sudah mati, sebagaimana yang disebutkan di dalam kisah Ezra pada keseluruhan pasal 11 dari Injil Yohanes:

1. Ada seorangyang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.

2. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.

3. Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.”

4. Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu anak Allah akan dimuliakan.”

5. Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.

6. Namun setelah didengarnya, bahwa Lazarus sakit, ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, dimana ia berada;

7. tetapi sesudah itu ia berkata kepada murid-murid Nya: “Mari kita kembali ke Yudea”.

8. Murid-murid itu berkata kepadanya: “Rabi, baru-baru ini orang -orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali kesana?”

9. Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini.

10. Tetapi jikalau seorang berjalan di malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.”

11. Demikianlah perkataannya, dan sesudah itu ia berkata kepada mereka: “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi aku pergi kesana untuk membangunkan dia dari tidurnya.”

12. Maka kata murid-murid itu kepadanya: “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.”

13. Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.

14. Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati;

15. Tetapi sukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.”

16. Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan dia.”

17. Maka ketika Yesus tiba, didapatinya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.

18. Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya.

19. Disitu banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.

20. Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkannya. Tetapi Maria tinggal di rumah.

21. Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada disini, saurdaraku pasti tidak mati.

22. Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepadamu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”

23. Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.”

24. Kata Marta kepadanya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”

25. Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

26. dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati untuk selama -lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”

27. Jawab Marta: “Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

28. dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada disana dan ia memanggil engkau.”

29. Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus.

30. Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung. Ia masih berada di tempat Maria menjumpai dia.

31. Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi keluar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.

32. Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepadanya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada disini, saudaraku pasti tidak mati.”

33. Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masyghullah hatinya. Ia sangat terharu dan berkata:

34. “Dimanakah dia kamu baringkan?”Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!”

35. Maka menangislah Yesus.

36. Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasihnya kepadanya!”

37. Tetapi beberapa orang diantaranya berkata; “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah ia bertindak, sehingga orang ini tidak rnati?”

38. Maka masyghullah pula hati Yesus, lalu la pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.

39. Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepadanya: “Tuhan, ia sudah berbau sebab sudah empat hari ia mati.”

40. Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: “Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

41. Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.

42. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri disini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

43. Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah keluar!”

44. Orang yang telah mati itu datang keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain -kain itu dan biarkan ia pergi. “

Persepakatan untuk membunuh Yesus

(Mat. 26: 1-5; Mrk. 14: 1-2; Luk. 22: 1-2)

45. Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percayalah kepadanya.

46. Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Parisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu.

47. Lalu imam-imam kepala dan orang -orang Parisi memanggil mahkamah agama untuk berkumpul dan mereka berkata; “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mukjizat.

48. Apabila kita biarkan dia, maka semua orang akan percaya kepadanya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.”

49. Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, imam besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa,

50. dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.”

51. Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai imam besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu,

52. dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak AI­lah yang tercerai berai.

53. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh dia.

54. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum diantara orang-orang Yahudi, ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota bernama Efrain, dan di situ ia tinggal bersama-sama murid-muridnya.

55. Pada waktu itu hari raya paskah orang-orang Yabudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum paskah itu.

56. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata kepada orang lain: “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah ia ke pesta?”

57. Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Parisi telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu drmana dia berada memberitahukannya, agar mereka dapat menangkap Dia.

Yesus juga memiliki kekuasaan terhadap setan dan kaumnya.

Di dalam Injilnya, Lukas menyebutkan sebuah kisah tentang pertemuan antara Yesus dengan dunia ruh-ruh jahat:

“26. Lalu mendaratlah Yesus dan murid-murid-Nya di tanah orang Gerasa yang terletak di seberang Galilea.

27. Setelah Yesus naik ke darat, datanglah seorang laki -laki dari kota itu menemui Dia; orang itu dirasuki oleh setan-setan dan sudah lama ia tidak berpakaian dan tidak tinggal di dalam rumah, tetapi dalam pekuburan.

28. Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: `Apa urusan-Mu denganku hai Yesus Anak Allah Yang Maha tinggi? Aku memobon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.” (Lukas, 8: 26-28).

Selain itu, Yesus juga memiliki kekuasaan terhadap penyakit. Sesungguhnya seruan yang telah disampaikannya kepada seluruh umat manusia, sama sekali tidak ada bandingannya sepanjang sejarah umat manusia.

“28. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11: 28).

Yesus telah menjadikan orang yang buta dapat melihat, menyembuhkan orang yang lumpuh, menghidupkan orang yang mati, dan menyembuhkan banyak manusia dari berbagai macam penyakit yang lain.

Banyak golongan manusia yang mengikutinya, dan dia menyembuhkan mereka semua. Di samping semua itu, Yesus juga memiliki kekuasaan untuk mengampuni dosa-dosa manusia.

Tentang hal ini kita dapat membacanya di dalam Injil Markus dan Matius:

“3. Ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.

4. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang ada di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu berbaring.

5. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (Markus, 2: 3-5).

Siapakah yang dapat mengampuni dosa-dosa selain daripada Allah? Inilah yang saat itu mereka yakini dengan seketika, yaitu ketika ia (Yesus) merasakan keraguan yang bergemuruh di dalam hati mereka, ia berkata, “Mengapa kalian memikirkan hal itu di dalam hati?

Manakah yang lebih mudah, apakah mengatakan kepada orang yang sedang dalam kegundahan hati, ‘dosa-dosamu telah diampuni’, atau ‘berdiri dan bawalah tempat tidurmu?

Yesus telah mengampuni wanita yang berbuat dosa, dan mengampuni pencuri yang disalib bersamanya. Hanya saja, pencuri itu tidak mengharapkan ampunan untuk dirinya sendiri walau sekali pun. Yesus juga telah berdoa kepada Allah agar mengampuni orang-orang yang telah mengazabnya.

Yesus memiliki kekuasaan untuk menciptakan. Bahkan Allah telah memberikan keistimewaan kepadanya dengan penguasaan terhadap seluruh makhluk. Hal ini dapat terlihat ketika Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima rusa dan dua ikan. Di dalam kesempatan lain, beliau juga dapat memberi makan empat ribu orang dengan sepotong rusa dan sedikit ikan.

Tentang hal ini, Yohanes menguatkannya di dalam risalahnya yang pertama:

“20. Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus, Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” (Surat Yohanes yang Pertama, 5: 20).

Saudara-saudaraku sekalian, para pendengar budiman!!

Apakah pada malam hari ini, atau kapan saja, kita dapat mengingkari tentang hakikat yang telah diwahyukan kepadanya? Sesungguhnya lembaran-lembaran yang membuktikan akan keberadaan Yesus sebagai Penolong sangat jelas adanya. Para nabi dahulu telah memberitakan tentang kedatangannya, dan seluruh berita-berita tersebut telah terbukti dengan sangat terperinci.

Tuhan Bapa telah menegaskan tentang hubungannya dengan Yesus, yaitu dengan mengatakan bahwa ia (Yesus) adalah anaknya yang tercinta. Keajaiban-keajaibannya adalah bukti atas kekuatan dan kekuasaannya, dan Ruhul Kudus telah menjelaskan akan kebenaran ini, yang dipersaksikan oleh para rasul dan perjanjian baru.

Izinkan saya menjelaskan bahwa sesungguhnya Allah pada hakikatnya adalah Yesus. Sesungguhnya, dalam perjalanan panjang sejarah umat manusia banyak orang yang dijadikan sebagai Tuhan, akan tetapi Yesus lah Tuhan yang sebenarnya, dialah yang pertama, dan dialah yang Esa, yang menjelma ke dalam bentuk manusia. Yesus datang mencari saya dan anda-anda sekalian untuk memberikan kehidupan yang abadi. Harga yang telah dibayarkan Yesus untuk mensucikan kita dari bermacam-macam dosa adalah kematiannya, karena itulah Allah memberikan kepada kita Tuhan Yesus kehidupan abadi. Rahasia tentang hal ini akan lebih jelas jika anda mendengar apa yang dikatakan Yohanes kepada Yesus:

“29. Pada kesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” (Yohanes, 1: 29)” Dan saya telah bersaksi bahwa ia adalah anak Allah.

Barangkali anda sekalian masih merasa bingung, bagaimana mungkin Mesias bisa mendapatkan tempat. Sesungguhnya Adam yang pertama mengalami kekalahan ketika berperang, akan tetapi Adam yang kedua (Yesus) mendapatkan kemenangan dalam peperangan. Peristiwa penyaliban yang dialaminya adalah bentuk kemenangan baginya.

Mengapa orang-orang Yahudi pada zaman dahulu melakukan pengorbanan? Mengapa al-Qur’an juga memerintahkan umatnya untuk melakukan hal itu? Jawabnya adalah tidak ada pengampunan dosa tanpa penumpahan darah.

Bukankah ini merupakan perbuatan yang aneh? Allah memerintahkan perbuatan baik karena kesucian, bukan untuk mencari kesucian. Kami tidak wajib untuk pergi ke bumi yang suci, baik itu Baitul Maqdis, atau Mekkah, atau Roma. Sebab tempat-tempat tersebut sama sekali tidak ada artinya dibanding kemuliaan Allah. Allah mencintai kita semua, dan akan mengampuni seluruh dosa-dosa kita dengan nikmat Nya melalui keimanan kita terhadap Tuhan Yesus, Mesias. Karena kebesaran antara Allah terhadap alamlah, Dia mengorbankan anak satu-satunya, agar seluruh umat manusia yang beriman kepadanya (Yesus) tidak mengalami kebinasaan, bahkan sebaliknya, akan mendapatkan kehidupan yang abadi.

Terimakasih atas perhatian anda sekalian….

Sumber:

http://islambisa.wordpress.com/2010/01/10/debat-syehk-ahmad-deedat-dengan-dr-anis-shoroh-bag-1/

—————————————————————————————————————————-

DEBAT SYAIKH AHMAD DEEDAT DENGAN DR. ANIS SHOROSH (Bagian-2)

Pembawa Acara melanjutkan:

“Terimakasih, kami ucapkan kepada tuan Shorosh, atas pidatonya yang begitu semangat dan atas ketepatannya dalam mengalokasikan waktu selama 49 menit 5 detik.

Saya ucapkan, selamat datang di Royal Albert Hall kepada tuan Ahmed Deedat, yang sebentar lagi akan kita dengarkan orasinya yang pertama, selama lima puluh menit. Kepada tuan Ahmed Deedat kami persilahkan dengan segala hormat…..

(Disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin)

ORASI SYAIKH AHMED DEEDAT :

Aku berlindung kepada Allooh dari godaan setan yang durjana.

Dengan nama Allooh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

“Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan seketika yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati Allooh dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya.” (QS. Al-Anbiya’: 18)

Saudara moderator… tuan Shorosh yang saya hormati. . .

Saudara-saudaraku sekalian, permasalahan yang akan kita bahas pada malam hari ini adalah: “Apakah Yesus itu Tuhan?”

Pertanyaan ini dapat dijawab dengan mudah, dengan mengajukan pertanyaan yang berbalikan dengannya, yaitu: “Apakah Yesus pernah mengaku sebagai Tuhan?” Apakah Yesus pernah mengatakan: “Sesungguhnya Aku adalah Tuhan? Apakah Yesus pernah mengatakan: ‘Sembahlah Aku?

Para hadirin sekalian! Percayalah, bahwa di dalam enam puluh enam kitab yang terdapat di dalam Bible Kristen Protestan, atau di dalam tujuh puluh tiga kitab yang terdapat di dalam Bible Katolik, tidak disebutkan sekali pun kalimat yang menyatakan bahwa Yesus berkata: “Sesungguhnya Aku adalah Tuhan, atau sembahlah Aku”.

Tidak terdapat satu kalimat pun di dalam ke dua Bible itu yang menyatakan bahwa Yesus pernah mengatakan demikian. Yesus sama sekali tidak pernah mengatakan: “Aku-lah Tuhan, atau sembahlah Aku”.

Saya sebagai seorang muslim, dan kita sebagai kaum muslimin, percaya bahwa Yesus adalah Mesias, termasuk salah seorang dari Ulil Azmi para rasul. Kami percaya bahwa kelahirannya merupakan suatu peristiwa yang luar biasa, bahwa ia adalah Mesias, bahwa ia dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allooh, dan dapat menyembuhkan penyakit bisu dan kusta dengan izin Allooh. Di sinilah letak perbedaan pendapat antara kaum muslimin dan umat nasrani, kaum muslimin beriman dengan semua kemukjizatan Isa ‘alaihis salaam, namun mereka tidak menganggapnya sebagai Tuhan, sementara umat nasrani menjadikan kemukjizatan tersebut sebagai bukti bahwa Isa‘alaihis salaam adalah Tuhan.

Karena itulah, di sini akan saya katakan bahwa saudara kita, tuan Shorosh, dalam penyampaian orasinya tadi, sama sekali belum menyebutkan satu kalimat pun yang menunjukkan bahwa Yesus pernah berkata: “Aku-lah Tuhan, atau sembahlah Aku”.

Selama hidupnya di muka bumi ini, Yesus tidak pernah sekali pun mengatakan perkataan tersebut. Dengan demikian, maka tentunya tuan Shorosh akan diberi kesempatan kembali untuk menjawab pertanyaan saya tadi. Apabila tuan Shorosh memang pernah mendengar bahwa Yesus ada mengatakan demikian, maka beliau akan dapat menjelaskannya.

Dari penjelasan yang beliau sampaikan tadi, ungkapan yang paling mendekati tema ini adalah kalimat yang beliau kutip dari kitab Wahyu Kepada Yohanes, dimana beliau menganggap bahwa Yesus pernah mengatakan: “Aku adalah Alif dan Ya’.” Artinya “Akulah yang pertama dan yang terakhir.”

Kitab Wahyu Kepada Yohanes adalah penjelasan tentang mimpi yang dialami oleh Yohanes, dimana di dalam mimpi tersebut, Yohanes melihat berbagai macam hewan. Mimpi seperti ini dapat saja dialami oleh setiap manusia, khususnya apabila ia makan terlalu banyak. Sedangkan Yesus, selama hidupnya, ia sama sekali tidak pernah mengatakan demikian. Berikut ini akan kami jelaskan tentang setiap perkataan dan perbuatan Yesus…

Pertama, kita akan membahas tentang konsep Holy Trinity. Konsep ini banyak diimani oleh mayoritas orang kulit hitam dan umat nasrani; baik mereka dari pengikut golongan Angelisme, atau Katolikisme, atau Luterisme, atau Mesudisme.

Secara umum, umat nasrani beriman dengan suatu konsep yang disebut Holy Trinity, dan di dalam ajaran-ajaran nasrani yang disampaikan oleh gereja-gereja, mereka mengatakan: “Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Tuhan Roh Kudus.Namun mereka bukanlah tiga Tuhan, akan tetapi satu Tuhan.

Tuhan Bapa memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu, Tuhan Anak memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu, dan Tuhan Roh Kudus memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu, namun mereka bukanlah tiga Tuhan yang memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu, akan tetapi satu Tuhan yang memiliki kekuasaan terhadap segala sesuatu.

Tuhan Bapa adalah seseorang, Tuhan Anak adalah seseorang, dan Tuhan Roh Kudus adalah seseorang, namun mereka bukanlah tiga orang, akan tetapi satu orang.

Saya akan bertanya, bahasa apakah ini? Apakah ia bahasa Inggris? Sepertinya begitu, akan tetapi ia bukanlah bahasa Inggris. Anda mengatakan: “Seseorang, seseorang, dan seseorang, namun mereka bukanlah tiga orang, akan tetapi satu orang.” Bahasa apakah ini?!! Katakan kepada saya, wahai orang-orang Inggris, orang-orang Amerika. Apa defenisi seseorang dalam bahasa kalian?

Jika anda memiliki kesamaan yang sulit untuk dibedakan dengan ketiga saudara anda, kemudian salah seorang dari saudara anda melakukan tindakan kriminal, maka apakah anda atau saudara anda yang lain, yang tidak melakukan kesalahan juga dihukum? Tentu anda akan menjawab: “Tidak”.

Mengapa tidak, sedangkan kalian semua sama? Anda akan katakan: “Tidak”, sebab dia orang lain, bukan kami. Lalu apa yang menjadikannya orang lain? Anda akan mengatakan: “Kepribadiannya”. Jika karena kepribadiannya berbeda, anda katakan dia orang lain, maka ketika umat nasrani mengatakan: “Dengan nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus”, saya akan katakan: “Bahwa secara logika mereka adalah tiga orang yang berbeda”.

Ketika anda mengatakan Bapa, tentu yang anda maksudkan bukanlah Anak, dan ketika anda mengatakan Anak, tentu yang anda maksudkan bukanlah Roh Kudus, bukankah demikian? Rasionalitas kita jelas tidak dapat menerima tiga orang yang berbeda sebagai satu orang, ia akan tetap menganggap ketiga orang yang berbeda tersebut sebagai tiga orang. Jika akal saja tidak dapat menerima hal itu, maka bagaimana kita dapat mengatakan bahwa tiga gambar yang kita lihat seperti satu? Tiga selamanya akan tetap tiga. Keyakinan yang menganggap bahwa setiap makhluk hidup adalah Tuhan, atau sama dengan Tuhan, dalam pandangan kaum muslimin adalah bentuk pengkhianatan terhadap Allooh! Baik itu pemahaman yang menganggap bahwa Allooh memiliki jasad atau bahwa Allooh menjelma sebagai manusia, maupun pemahaman-pemahaman yang lain.

Di dalam al-Qur`an, Allooh Subhaanahu Wa Ta’alaa berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allooh ialah Al-Masih putra Maryam”; padahal Al-Masih sendiri berkata: “Hai bani Israil, sembahlah Allooh, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan setuatu dengan Allooh, maka pasti Allooh mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. al-Ma’idah: 72)

Yesus mengatakan tentang Bapa yang ada di langit, Dia-lah Bapa kalian dan Bapa saya, selamanya.

Pada pasal pertama dari Injil Matius, disebutkan ayat yang sangat bertentangan dengan apa yang kalian katakan, yaitu bahwa kata: “Bapa kalian, Bapa kamu, telah disebutkan sebanyak tiga belas kali, sebelum Yesus sendiri mengatakan Bapaku,” Sungguh sesuatu yang sangat aneh!!

Yesus telah mengatakan kepada kalian sebanyak tiga belas kali dengan kiasan bahwa Allooh adalah Bapa setiap manusia, sebab Dia-lah Sang Pencipta, yang memberi nikmat, dan yang membagi rizki kepada seluruh makhluk-Nya. Namun ia tidaklah dilahirkan di dunia, sebab kelahiran adalah perbuatan manusia, karena ia sangat berhubungan dengan unsur-unsur seks.

Keinginan untuk melakukan hubungan seksual adalah fitrah makhluk hidup, rendah, dan sangat tidak patut jika kita lekatkan fitrah ini kepada Allooh Subhaanahu Wa Ta’alaa, meskipun demikian, orang-orang nasrani tetap saja selalu mengatakan: “Anak Allooh, Anak Allooh, Anak Allooh”. Saya bertanya: “Berapa banyakkah anak Allooh?!

Mayoritas orang kulit hitam yang beragama nasrani mengatakan bahwa Allooh hanya memiliki satu anak. Maka saya katakan: “Jika demikian berarti kalian sama sekali tidak membaca kitab suci kalian, atau kalian tidak membacanya sebagaimana mestinya. Tahukah kalian bahwa di dalam kitab suci kalian disebutkan, Allooh memiliki anak-anak yang tidak terhitung jumlahnya?

Di dalam kitab Kejadian disebutkan:

“1. Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,

2. maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik -cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.

3. Berfirmanlah Tuhan: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.”

4. Pada waktu itu, orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purba kala, orang-orang yang kenamaan. (Kejadian, 6: 1 – 4).

Di dalam kitab Keluaran disebutkan:

“4. Maka engkau harus berkata kepada Firaun: “Beginilah firman Tuhan: `Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung. ” (Keluaran, 4: 22).

Di dalam kitab Yeremia disebutkan:

“9. Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, di jalan yang rata, dimana mereka tidak akan tersandung; sebab Aku telah menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku. (Yeremia, 31: 9).


Di dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, disebutkan:
“14. Semua orang, yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah.” (Surat Paulus Kepada Jemaat di Roma, 8: 14).

Apabila anda taat kepada Allooh dan mengetahui ajaran-ajaran-Nya, maka anda adalah seorang pendidik, atau yang semacamnya. Di dalam bahasa dan istilah- istilah orang Yahudi, mereka ada yang mengatakan: “Anak Allooh”. Sedangkan orang-orang nasrani mengatakan: “Tidak, sekali-kali tidak, Yesus bukanlah anak Allooh, ia dilahirkan, akan tetapi ia bukanlah makhluk.” Saya katakan kepada anda: “Dapatkan anda menjelaskan kepada saya tentang hal ini, dapatkah anda memahamkan saya tentang apa yang ingin anda kukuhkan ketika anda mengatakan bahwa Yesus dilahirkan, namun bukan makhluk sebagaimana yang lainnya?! Apakah yang akan anda katakan kepada saya?!

Percayalah kepada saya! Bahwa selama empat puluh tahun ini, tidak seorang nasrani pun yang dapat menjelaskan kepada saya tentang maksud dari kalimat tersebut. Ada satu orang Amerika yang pernah mencoba untuk menjelaskannya kepada saya. Ia mengatakan: “Yang dilahirkan artinya bahwa Allooh-lah yang telah melahirkannya.” Saya katakan kepadanya: “Apa?!!” Sebelum saya melanjutkan perkataan saya, ia mengatakan: “Tidak, anda telah bertanya kepada saya tentang arti kalimat tersebut, dan saya telah menjelaskannya kepada anda, akan tetapi saya sendiri tidak percaya bahwa Allooh melahirkan anak.

Dengan demikian, maka perkataan tersebut adalah dusta, dan di dalam pandangan kaum muslimin, mengatakan bahwa Mesias itu Allooh adalah bentuk kekufuran.

Di samping itu, ada juga bentuk keanehan lain dalam pandangan umat nasrani, yaitu keyakinan mereka terhadap Holy Trinity. Sekalipun golongan mereka berbeda-beda, dari mulai Angelikan, Artsudzukis, Katolik, dan Maitsudiyah, akan tetapi keseluruhan mereka beriman dengan Holy Trinity. Mereka mengatakan bahwa Yesus adalah oknum kedua dari ketiganya. Anda mungkin pernah mendengar umat nasrani mengatakan: “Dengan nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.” Akan tetapi anda tidak akan pernah mendengar mereka mengatakan: “Dengan nama Roh Kudus, Anak, dan Bapa. Atau dengan nama Anak, Roh Kudus, dan Bapa.

Anak selalu dijadikan sebagai oknum ke dua dalam ketiga Trinitas tersebut, dan apabila ada seorang nasrani yang mengatakan bahwa Yesus adalah Bapa, maka perkataan ini dianggap sebagai satu dosa besar dalam pandangan gereja dan agama Nasrani.

Sedangkan di dalam pandangan Islam, meletakkan sifat-sifat KeTuhanan kepada makhluk apa pun adalah perbuatan kufur.

Akan tetapi menurut pandangan agama nasrani dan gereja-gereja Angelisme, atau Luterisme, atau Mesudisme, dan gereja-gereja lainnya, mengatakan bahwa Yesus adalah Bapa merupakan satu dosa besar.

Padahal ia adalah mitos klasik yang sengaja dibuat oleh gereja Katolik, dan keberadaannya telah ada sejak seribu tahun lebih. Saya tidak mengerti mengapa saudara Shorosh menyembunyikan hakikat tersebut. Padahal beliau sendiri beriman bahwa Yesus adalah Tuhan.

Di dalam bukunya yang berjudul “Al-Masih Al -Mutaharrir” (Mesias Yang Merdeka), mungkin beliau lupa, akan tetapi saya membawa buku itu. Maaf, maksud saya buku “Al-Falisthini Al-Mutaharrir” (Palestina Merdeka). Pada bagian belakang sampul buku tersebut anda dapat melihat gambar bintang Daud, saya tidak mengerti, apakah yang dimaksud di situ adalah bebas dari orang-orang Yahudi atau dari apa?

Pada halaman ke delapan dari buku itu beliau mengatakan:

“Wahai Bapa di Sorga yang penuh cinta kasih, aku bersyukur kepadamu atas segala keajaiban yang telah Engkau jadikan di dalam kehidupanku, dan keajaiban yang paling besar adalah bahwa Engkau mencintaiku hingga Engkau mati untukku.”

Ungkapan ini ada di dalam sejarah gereja, dan sebagai seorang Doktor, saya yakin saudara Shorosh dapat membuktikan hal itu. Ungkapan tersebut adalah mitos klasik yang disebut dengan nama Baterbatsaniyah, atau Munariyatsayaniyah, atau Siliyaniyah. Anda tidak perlu bingung dengan istilah-istilah ini, sebab ia tidak lebih dari sekedar mitos-mitos klasik yang muncul dari gereja sejak lebih dari seribu tahun silam. Dan, Yesus telah menentang mitos ini, Ia mengatakan:

“9. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu bapamu, yaitu Dia yang di sorga. (Matius, 23: 9).

Yesus adalah manusia yang berjalan di muka bumi ini, dan dia telah bersaksi atas Petrus tersebut di dalam kitab Kisah Para Rasul:

“22. Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. (Kisah Para Rasul, 2: 22).

Dengan demikian jelaslah bahwa Yesus sama sekali tidaklah memiliki kemampuan untuk melakukan keajaiban-keajaiban, akan tetapi Allooh-lah yang telah melakukan keajaiban-keajaiban tersebut kepadanya, maka dia bukanlah Bapa.

Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi:

“37. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku, Kamu tidak pernah mendengar suara Nya, rupa-Nya pun tiduk pernah kamu lihat. (Yohanes, 5:37).

Orang-orang Yahudi pada waktu itu melihat Yesus dan mendengar perkataannya.

Benar bahwa mereka tidak mempedulikan risalahnya, akan tetapi mereka telah mendengar perkataannya. Tidak semua orang Yahudi itu tuli, buktinya mereka memberi respon terhadap risalahnya, mereka mendengarnya, melihatnya, dan mereka ingin merajamnya, hingga Yesus pun lari dari mereka dan bersembunyi di suatu tempat, sebagaimana yang disebutkan sendiri oleh Bible. Dengan demikian, maka sangat tidak masuk akal jika Yesus dikatakan sebagai Tuhan, juga sangat tidak masuk akal jika dia dikatakan sebagai Allooh.

Di dalam Bible juga disebutkan tanda-tanda tentang segala sesuatu selain Allooh, sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur`an: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.

Artinya bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat anda pikirkan atau khayalkan sebagai zat yang menyerupai Allooh. Di dalam al-Qur`an, disebutkan sembilan puluh sembilan nama-nama Allooh Yang Mulia, seperti Yang Maha Mulia, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Adil, Yang Maha Suci, dan lain sebagainya. Akan tetapi Allooh bukanlah nama yang ini atau yang itu.

Di dalam Bible juga dijelaskan tentang hal serupa.

Di dalam kitab Ayub disebutkan:

“2. “Sungguh, aku tahu, bahwa demikianlah halnya, masakan manusia benar di hadapan Allah?” (Ayub, 9: 2).

Artinya; bagaimana mungkin kita dapat membandingkan antara manusia dengan Tuhan? Bagaimana mungkin kita dapat mensucikan seseorang yang dilahirkan wanita? Setiap manusia yang dilahirkan oleh wanita, sangat tidak pantas untuk dibandingkan dengan Allooh; baik itu Musa, atau Yesus, atau Muhammad, atau Rama, atau Krisna, atau Budha.

Setiap manusia yang dikandung di dalam perut ibunya selama sembilan bulan, tidak mungkin menjadi Tuhan! Inilah yang dikatakan Taurat.

“5. Sesungguhnya, bahkan bulan pun tidak terang, dan bintang-bintang pun tidak cerah di mata-Nya. (Ayub, 25: 5).

Apa itu bulan? Apa itu bintang-bintang? Keduanya bukanlah sesuatu bagi Allooh!

Orang-orang nasrani mengatakan: “Yesus dilahirkan oleh seorang wanita, itu benar, akan tetapi kelahirannya adalah mukjizat.” Kita sepakat dengan hal itu.

Di dalam Bible, disebutkan:

“6. Lebih-lebih lagi manusia, yang adalah berenga, anak manusia, yang adalah ulat!” (Ayub, 25: 6).

Apabila matahari, bulan, dan bintang-bintang saja sama sekali tidak berarti apa-apa bagi Allooh! Lalu siapa manusia? Siapa saya, anda, dan kita semua?

“6. Lebih- lebih lagi manusia, yang adalah berenga, anak manusia, yang adalah ulat!” (Ayub, 25: 6).

Tahukah anda apa itu berenga! Akan lebih baik jika anda mencari maknanya di dalam kamus-kamus bahasa! Berenga adalah ulat-ulat yang ada pada manusia yang telah mati. Kita semua adalah berenga, dan anak manusia adalah seekor ulat. Siapakah seekor ulat itu? Ia adalah Yesus Mesias! Ayat di atas adalah penjelas yang sangat gamblang apabila masih ada keraguan di dalam hati kalian bahwa Yesus merupakan pengecualian di dalam konteks ayat tersebut. Allooh telah mengatakan kepada kalian: “Bahwa Dia tidaklah demikian”. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus disebutkan sebanyak 83 kali dengan ungkapan sebagai anak manusia:

“Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala Nya.” (Matius, 8: 20).

Sebagaimana Yunan (Yunus) dapat berada selama tiga hari tiga malam di dalam perut ikan paus, maka anak manusia hanya dapat berada di perut bumi selama tiga hari tiga malam.

Sedangkan tentang anak Allooh, hanya ada disebutkan sebanyak 13 kali.

Apabila anda bertanya kepada siapa pun dari kaum missionaris nasrani, siapakah anak manusia? Dia pasti akan menjawab: “Anak manusia adalah Yesus”, ia tidak akan kembali menjadi berenga! Sedang kita adalah yarqaat, lebih hina daripada ulat. Dengan kata lain, janganlah kalian berangan-angan, sebab segala sesuatu yang dilahirkan oleh seorang wanita adalah berenga!!

Di dalam Injil Lukas disebutkan bahwa, setelah usia Yesus mencapai delapan hari, maka mereka pun mengkhitannya. Apakah ada Allooh yang dikhitan?!!

(Para hadirin pun bertepuk riuh)

Saya harap anda dapat menjaga ketenangan sebagaimana yang diharapkan oleh moderator sebelumnya!

“Dan ketika genap dalapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum la dikandung ibu-Nya.” (Lukas, 2: 21).

Siapakah orang yang berada di dalam perut ibunya? Ia adalah Yesus. Bagaimana ia keluar dari perut itu? Sama seperti keluarnya saya dari perut ibu saya, dan anda dari perut ibu anda. Lalu siapakah Allooh?!!

Apabila ada salah seorang dari kita yang berprofesi sebagai seorang suster, mungkin anda akan berpikir, bagaimana mungkin anggapan seperti ini telah ada sejak lebih dari seribu tahun di dalam Ishthabal, ketika Maryam berusaha untuk melahirkan seorang anak? Apakah akan terpikir oleh anda, walau sejenak, bahwa anak yang dilahirkan tersebut adalah seorang Tuhan?! Astagfirullooh.

Rasio kita tentu akan menafikan pemikiran seperti ini. Apalagi anak yang dilahirkan itu telah membuat ibunya bernajis selama empat puluh hari, seperti yang disebutkan di dalam Bible.

Inikah yang disebut sebagai Tuhan Yang Suci?! Tidak, ia adalah anak manusia yang dikandung di dalam perut ibunya selama sembilan bulan, sama seperti saya, dan anda.

Para pengikut Angelisme yang ada di Inggris saat ini, jauh lebih rasional daripada para pengikut Injil. Dalam jajak pendapat para pastur yang diadakan pada bulan Juni tahun lalu di Amerika, lebih dari separuh pastur yang hadir pada saat itu mengatakan: “Umat Nasrani tidak diwajibkan untuk berkeyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan”.

Jika demikian, maka setelah hari ini anda tidak memiliki kewajiban untuk berkeyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan. Apabila kesimpulan saya dan anda ada pada titik ini, maka ini adalah kesimpulan anda sebagai seorang nasrani. Anda berkeyakinan bahwa Yesus wajib mati sebagai seorang Tuhan, tidak sebagai seorang manusia. Dengan alasan bahwa tidak mungkin seorang manusia dapat memikul beban dosa seluruh alam dengan kematiannya di atas tiang salib.

Kami mengatakan bahwa pada hakikatnya mereka tidaklah membunuhnya, dan tidak pula menyalibnya. Dan tentang hal ini, kami telah menjelaskannya secara rinci pada bulan Juni kemarin, karenanya di sini kami tidak akan membahasnya kembali.

Allooh telah mati. Apakah anda benar-benar yakin bahwa Allooh telah mati?! Bukankah kalian sendiri mengatakan bahwa Allooh itu kekal?

Jika ia mati, lalu apa yang akan terjadi pada makhluk-makhluk-Nya? Anda tahu bahwa listrik yang ada dalam ruangan ini berasal dari satu mesin pembangkit listrik, apabila terjadi kerusakan pada mesin tersebut apa yang akan kita lakukan di sini? Acara akan berakhir, dan kita semua diliputi oleh kegelapan.

Apabila cahaya Allooh telah padam, lalu siapa yang akan mengatur perkara-perkara alam, siapa yang akan memudahkannya selama tiga hari tiga malam ketika ia berada di dalam kubur, seperti yang anda katakan, siapa yang akan mengendalikan alam selama masa itu?

Saya katakan bahwa Yesus sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan, dan dia juga tidak pemah mengatakan kepada seorang manusia pun, sembahlah aku! Sebaliknya, ia justru mengatakan: “Bapaku lebih mulia dariku”. “Bapaku lebih mulia dari segala sesuatu”. “Aku tidak dapat melakukan sesuatu pun dengan diriku, namun Allooh dapat melakukan segala sesuatu”.

Saudara Shorosh mengatakan: “Allooh dapat menjelma sebagai manusia, karena ia dapat melakukan segala sesuatu.” Saya katakan: “Allooh tidak dapat melakukan itu”, apakah dengan demikian saya telah mengingkari kemampuan Allooh?

Tidak. Saya menantang siapa saja, untuk membuktikan kepada saya bahwa Allooh mampu untuk menciptakan Tuhan yang lain. Sebab Allooh bukanlah makhluk, Dia adalah Tuhan, Dia dapat menciptakan makhluk, bukan Tuhan. Dia Maha Kekal, Tidak Berawal dan Tidak Berakhir, dan tidak dapat menciptakan Tuhan lain yang Kekal seperti Dia.

Inilah hukum rasionalitas yang normal.

Allooh tidak dapat menciptakan Tuhan yang lain. Lalu apakah mungkin Allooh dapat menciptakan Bapa lain sehingga ada dua Bapa, kemudian menciptakan serentetan Bapa-Bapa. Dengan demikian dapat saya katakan bahwa rasionalitas anak-anak bibi saya, orang -orang India sana, jauh lebih baik lagi. Sebab mereka beriman dengan banyak Tuhan, dimana menurut mereka bahwa segala sesuatu memiliki Tuhan tersendiri. Mengapa anda tidak menggunakan rasio anda, saat anda mengecualikan seorang makhluk sebagai Tuhan? Mengapa Tuhan itu tidak banyak, padahal di dalam Bible disebutkan bahwa anak-anak itu banyak, dan anak-anak itu adalah Tuhan?

Allooh tidak dapat mengeluarkan saya dari kekuasaan-Nya. Adakah tempat di alam ini yang berada di luar kekuasaan-Nya, sehingga Dia dapat mengeluarkan saya dari wilayah kekuasaan-Nya, pernahkah anda berpikir demikian? Kemana Dia akan meletakkan saya?

Allooh dapat melakukan segala sesuatu, akan tetapi ia tidak akan melakukan sesuatu apa pun kecuali perkara-perkara keTuhanan. Karena Allooh tidak mungkin berbuat sia-sia.

Saya tidak yakin bahwa saudara Shorosh datang kemari untuk sekedar berbual atau mengatakan hal- hal yang sia-sia. Anda juga tidak yakin bahwa saya datang kemari untuk melakukan hal itu. Apakah mungkin orang yang telah menempuh beribu-ribu mil dari Afrika, dan orang yang telah menempuh beribu- ribu mil dari Amerika, datang kemari hanya untuk mengatakan hal-hal yang sia-sia? Menurut anda, apa yang kami ingin dengan semua ini? Jika ada seseorang yang mengatakan: “Tuan Deedat dan Shorosh datang kemari untuk berjoget bersama di hadapan kita”, apakah anda akan percaya? Jika anda menyampaikan perkataan itu kepada orang lain, apakah mereka akan percaya? Jelas anda akan mengatakan: “Kami tidak yakin, bahwa kedua orang yang taat beragama tersebut datang kemari untuk berjoget bersama”.

Allooh Subhaanahu Wa Ta’alaa hanya melakukan perkara-perkara keTuhanan, bukan perkara-perkara yang tidak berhubungan dengan keTuhanan.

Yesus berkata:“Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” (Lukas, 11: 20).

Ia juga berkata:

“Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” (Matius, 12: 28).

Kekuasaan yang kita bicarakan adalah kekuasaan yang mampu untuk melakukan ini dan itu, kekuasaan yang mampu untuk mengampuni dosa-dosa.

Tanyakanlah, dari manakah ia mendapatkan itu? Ia akan menjawab:

“Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius, 28: 18).

Jika demikian maka semua itu bukanlah kekuasaannya, akan tetapi Bapa yang di langit lah yang telah memberikan kekuasaan itu kepadanya. Dia telah memberikan kepadanya kekuasaan untuk dapat menyembuhkan penyakit bisu dan kusta, dapat menghidupkan orang yang mati, dan dapat membunuh seribu babi, seperti yang disebutkan di dalam Bible.

Dia juga memiliki kekuasaan untuk mengeringkan pohon tiin dari akarnya dan dapat menenangkan badai topan di lautan. Dari manakah semua kekuasaan itu datang kepadanya? Dari Allooh!! Jika demikian, maka kemuliaan itu hanva milik Allooh.

Salah seorang dan mereka telah menunjukkan hasil telaahnya di dalam perjanjian baru, yaitu ketika Yesus melakukan salah satu keajaiban, ia mengatakan: “Kemuliaan hanya milik Allooh, Dia lah yang telah memberikan kekuasaan itu kepada manusia.”

Saudara Shorosh mengatakan: “Al-Qur’an al Karim sendiri ada yang menyebutkan bahwa Yesus mengetahui kapan datangnya hari kiamat.” Menurut saya, ini hanya anggapan beliau. Al-Qur’an ada di sini, di hadapan anda sekalian. Anda dapat membuktikan kebenaran apa yang saya katakan. Saya harap, dalam kesempatan yang ke dua nanti saudara Shorosh bersedia menunjukkan kepada kita, di ayat mana al-Qur’an ada menyebutkan tentang hal itu.

Sedangkan Bible sendiri menentang statement beliau tadi. Di dalam Injil Markus disebutkan:“Tentang hari dan kiamat itu, maka tidak ada seorang manusia pun yang mengetahuinya, baik para malaikat yang ada di langit, maupun Tuhan Anak, kecuali Tuhan Bapa.”

Artinya; menurut ilmuku, kekuasaanku tidaklah seperti kekuasaan Allooh, dan aku tidaklah seperti Dia. Inti permasalahannya adalah dimanakah Yesus pernah mengatakan: “Aku adalah Allooh, atau sembahlah Aku, atau Aku dan Allooh adalah satu.” Adakah di antara para hadirin sekalian, khususnya yang beragama nasrani, yang dapat menunjukkan kepada saya, ayat yang mengatakan bahwa Yesus pernah berkata: “Aku dan Allah adalah satu?!!

Salah seorang hadirin berdiri dan berkata: “Saya akan tunjukkan kepada anda. Dalam Yohanes, pasal 14 ayat 6.

Syeikh Deedat berkata: “Apa bunyi ayat dalam pasal 14?”

Ia menjawab: “Ayat itu mengatakan: ‘Aku dan Allah satu’.”

Syeikh Deedat menjawab: “Baik, penyebutan tentang letak ayat tersebut tidak benar, sebab ayat tersebut terdapat di dalam pasa114 ayat 6, akan tetapi penukilan yang disampaikan benar. Letak yang benar untuk ayat tersebut adalah pada pasal 10 ayat 30 dari Injil Yohanes.”

(Para hadirin pun bertepuk tangan riuh)

ORASI SYAIKH AHMED DEEDAT

Saya harap, para hadirin sekalian tetap menjaga ketenangan.

Berikut saya akan bacakan kepada anda sekalian bunyi ayat tersebut dengan hafalan saya, dan saudara Shorosh sendiri telah mengingatkan saya bahwa ayat tersebut terletak pada pasal ke sepuluh dari Injil Yohanes.

Sekarang, apakah bunyi ayat tersebut?

Saya telah menghabiskan selama empat puluh tahun umur saya untuk membahas tentang hal ini dengan umat nasrani, akan tetapi setiap kali ia mengatakan perkataan Yesus: “Aku dan Bapa adalah satu”, dan saya bertanya: “Dalam konteks apakah ayat itu disebutkan? Ayat tersebut ada di dalam Bible, dan kita tidak dapat mengingkarinya. Akan tetapi selama empat puluh tahun itu pula, saya belum pernah menemukan seorang ulama nasrani pun yang dapat mengatakan kepada saya tentang konteks apa ayat itu disebutkan.

Bukalah Bible anda, sebab tanpa membuka Bible anda tidak akan pernah dapat mengerti tentang batasan yang terdapat dalam konteks ayat tersebut.

Sekarang saya akan membacakan bunyi ayat itu dengan hafalan saya…

Konteks atau jalan cerita ayat tersebut dimulai dari ayat ke dua puluh tiga…

“23. Dan Yesus berjalan jalan di Bait Allah, di serambi Salomo.

24. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.”

25. Yesus menjawab mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku.

26. tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku.

27. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku,

28. dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

29. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan tidak seorangpun yang dapat merebut mereka dari tangan Bapa,

30. Aku dan Bapa adalah satu. ” (Yohanes, 10: 23-30).

Mereka menganggap bahwa perkataannya (Yesus) tidak jelas, sebab ia tidak menyampaikan perkataannya dengan jelas. Anggapan seperti ini jelas anggapan yang salah, sebab kita ketahui bahwa perkataannya tidaklah rabun (tidak jelas).

Ia telah mengatakan dengan jelas: “Bahwa dirinya adalah Mesias”, akan tetapi orang-orang Yahudi menginginkan khitab (ungkapan sebagai Tuhan) tersebut kepadanya, dan mereka tidak suka sesuatu apa pun yang mempersempitnya.

Hingga Yesus mengatakan kepada mereka dengan ungkapan sebagai berikut:

“Wahai anak-anak Ular, wahai kuburan-kuburan zygot, wahai generasi yang jahat lagi fasik, wahai orang-orang (–edit moderator*)!!” Inginkah kalian mendengar ungkapan seperti ini dari orang lain? Orang-orang Yahudi pun, jelas tidak mudah melupakan ungkapan tersebut. Karena itulah, ketika mereka bertemu dengan Yesus, mereka segera melambaikan tangan-tangan mereka ke wajahnya, dan mengatakan: “Kemari, kemari, katakanlah kepada kami, mengapa engkau tidak mengatakannya kepada kami?” Sesungguhnya mereka (orang-orang Yahudi) hanya ingin bertengkar dengannya, maka untuk menggerakkan hati mereka, dan agar mereka merasa lebih terpukul, Yesus mengatakan kepada mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kalian, akan tetapi kalian tidak percayal!”

“Pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku…” (Potongan ayat di atas).

Akan tetapi orang-orang Yahudi ingin berselisih dengannya, jika anda memiliki keinginan untuk mencari akan hal itu, anda akan mendapatkannya sangat dekat dengan anda.

“Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus,

32. Kata Yerus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?”

33. Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu perbuatan baik, maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri Mu dengan Allah. ” (Yohanes, 10: 31-33).

Ini adalah contoh anggapan salah yang lain. Jika anggapan salah pertama adalah bahwa perkataan Yesus itu rabun, maka anggapan kedua adalah bahwa Yesus mengaku Tuhan. Inilah tuduhan yang dikatakan orang-orang Yahudi. Orang-orang Nasrani mengikuti jejak Yahudi, yaitu dengan mengatakan bahwa Yesus mengaku sebagai Tuhan, hanya saja orang-orang nasrani mengatakan bahwa Yesus mempunyai hak untuk itu.

Mari kita simak apa yang dikatakan Yesus kepada orang-orang Yahudi:

“34. Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah befirman: “Kamu adalah Allah?

35. Jikalau mereka, kepada siapa, firman itu disampaikan, disebut Allah -sedang Kltab Suci tidak ada dibatalkan-,” (Yohanes, 10: 34-35).

Artinya bahwa di dalam bahasa Yahudi para nabi disebut dengan Tuhan.

“Allah berfirman kepada Musa: “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu.” (Keluaran, 7: 1).

Dan, di dalam kitab Mazmur Allooh berfirman:

“Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak -anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.” (Mazmur, 82: 6).

Demikianlah kejeniusan bahasa Ibrani. Ketika anda menggunakan kata Allah, maka yang dimaksud disitu bukanlah Allooh. Dalam Surat Paulus Yang Kedua Kepada Jemaat di Korintus, disebutkan:

“Yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.” (Surat Paulut Yang Kedua Kepada Jemaat di Korintus, 4: 4).

Demikianlah bahasa kalian, dan seperti itulah makna ungkapan kalian. Karena setan memiliki pengaruh di alam ini, maka kalian pun mengatakan bahwa dia adalah ilah.

Musa disebut sebagai ilah bagi Firaun, dan kalian sendiri, wahai orang-orang Yahudi adalah ilah. Demikianlah kejeniusan bahasa Ibrani.

Anda tentu tidak dapat menuhankan Mesias berdasarkan ucapan-ucapan seperti:

34. Mesias berkata, “Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?

35. Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan disebut Allah -sedang kitab suci tidak dapat dibatalkan-” (Yohanes, 10: 34-35).

Artinya kamu tidak dapat mendustakan aku.

“Masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusnya ke alam dunia: Engkau meghujat Allah! Karena aku telah berkata: Aku anak Allah.” (Yohanes 10: 36).

Mesias menolak orang-orang Yahudi, ia berkata,

“Tidak mengapa terhadap apa yang telah aku katakan, Allah mempunyai anak-anak yang tidak terhitung jumlah mereka dalam bahasa kita, maka mengapa kamu menyalahkan aku jika kukatakan aku anak Allah pada saat yang lain dipanggil Tuhan-Tuhan di dalam kitab kamu”

Saudara Anis Shorosh meminta saya agar mengirimkan buku-buku saya kepadanya, itu telah sava lakukan, saya telah mengirimkan semua buku-buku yang telah saya tulis dan semua persiapan, dan saya katakan kepadanya, “Anda dapat melakukan sesuatu bertitik tolak dari buku-buku saya tersebut, anda mudah untuk menolak berbagai pertanyaan yang ditujukan kepada anda, karena semua perkataan saya telah tertulis di depan mata anda, jelas anda telah mengetahui hujjah-hujjah saya sebelumnya, saya tidak takut karena menurut pengetahuan saya tidak ada satu hujjah pun dari hujjah-hujjah ini yang dapat dijelaskan akal.”

Dengarkanlah Allooh Subhaanahu Wa Ta’alaa berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, ini dengan ungkapan lain:

مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلاَنِ الطَّعَامَ

“Al-Masih (Mesias) putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan”. (QS. al-Ma ‘idah (5): 75).

Apa yang aneh di dalam ayat ini? Semua kita makan makanan, bukankah demikian? Ayat ini merupakan isyarat pada suatu pemikiran yang mengatakan bahwa nabi Isa ‘alaihis salaam dan Maryam adalah Tuhan atau taraf mereka di atas taraf manusia. Orang-orang Katolik menyebut Maryam sebagai ibu Tuhan, Yesus adalah anak Tuhan, demikian juga Tuhan, sebagaimana yang diyakini saudara Shorosh dan sebagian besar penganut Kristen, mereka adalah Tuhan dalam bentuk manusia!!

Jika nabi Isa ‘alaihis salaam dan Maryam makan makanan, maka itu menunjukkan bahwa mereka juga buang air besar. Jika anda makan makanan, maka cepat atau lambat anda mesti pergi ke toilet, anda mencari tanah lapang atau batu besar, tidak ada tempat lari dari itu.

Allooh Subhaanahu Wa Ta’alaa berfirman:

انظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الآيَاتِ

“. ..perhatikan bagaimana kami menjelaskan kepada mereka (Ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami)”. (QS. al-Ma’idah (5): 75).

Artinya nabi Isa‘alaihis salaam dan Maryam makan.

ثُمَّ انظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Kemudian perhatikan bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu”. (QS. al-Ma’idah (5): 75).

Jika demikian, mengapa mereka masih menyimpang dari jalan yang lurus. Mereka menisbatkan tabiat makhluk hidup kepada Allooh, Dia seperti manusia, sedangkan kita adalah makhluk-makhluk yang diciptakan dalam berbagai bentuk, dalam bentuk apa saja, di antara berbagai bentuk ini ada yang dalam bentuk monyet, semua kita adalah monyet-monyet yang mengalami perbaikan, di antara kita ada yang mirip simpanse, yang lain ada yang mirip kera besar, ada pula yang mirip gorilla.

Apakah bentuk-bentuk ini yang diceritakan Allooh Subhaanahu Wa Ta’alaa?

Mereka menjawab, “Ya”.

Allooh berfirman dalam ayat ketiga, pasal pertama dalam Kejadian, sebagaimana yang digunakan oleh saudara Shorosh dalam argumentasinya tadi.

Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.” (Kejadian 1: 3).

Saya bertanya, apakah Tuhan berfirman dengan mulutnya?

Mereka akan menjawab, “Ya”.

Apakah Tuhan mengeluarkan kata-kata lewat mulut?

Mereka menjawab, “Ya”.

Kalau begitu, Tuhan memiliki mulut!

Mereka menjawab, “Ya”.

Kalau Tuhan memiliki mulut, tentunya ia juga memiliki gigi-gigi.

Apakah tergambar oleh kita kalau Tuhan itu ompong, tidak memiliki gigi, misalnya?

Kalau begitu Tuhan harus memiliki gigi, lidah, tenggorokan dan dua paru-paru.

Mereka menjawab, “Ya”.

Kalau demikian, Tuhan berbicara dengan planet- planet, matahari, bulan, bintang-bintang dan jutaan makhluk, ia terus berbicara hingga tenggorokannya kering, oleh sebab itu ia membutuhkan cairan untuk membasahi mulutnya, mereka menjawab, “Ya”.

Ketika cairan masuk ke dalam mulutnya, tentunya cairan itu mesti keluar, bukankah demikian? Dapatkah anda menggambarkan hal itu? Bagaimana kamu menurunkan posisi Tuhan kepada posisi serendah ini dan menyamakannya dengan manusia?

Kemudian saudara Shorosh berbicara tentang bentuk kata jamak kata Elohim dalam bahasa Ibrani yang terdapat dalam kitab Kejadian yang berarti Allah. Benar, saya katakan bahwa kata tersebut dalam bentuk jamak dalam bahasa Ibrani. Terdapat dua bentuk kata jamak, beliau menekankan hal itu, juga terdapat kata mutsanna, tunggal dan jamak, sama-sama terdapat dalam bahasa Arab dan bahasa Ibrani. Kata tersebut adalah kata Elohim yang artinya adalah Tuhan-Tuhan, akan tetapi saya tidak pernah melihat satu kitab pun di antara ratusan terjemahan Bible yang menterjemahkan ayat tersebut begini, “Berfirmanlah Tuhan: “Jadilah terang”, seharusnya diterjemahkan Tuhan-Tuhan, bukan Tuhan. Saya bertanya, apakah arti im yang terdapat di akhir kata Elohim, tanyakan kepada orang-­orang Yahudi dan orang-orang Arab. Ketika maksudnya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, kita tidak mengetahui makna im yang sebenarnya adalah bentuk jamak yang bermakna mengagungkan, sebagaimana yang terdapat dalam bahasa Ibrani dan bahasa Arab. Dua bentuk jamak persis seperti yang terdapat dalam bahasa Ibrani.

Ketika Allooh Subhaanahu Wa Ta’alaa berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya “. (QS. AI-Hijr (15): 9).

Tanyakanlah kepada seorang muslim yang awam sekalipun, berapa Tuhan di sini? Ia akan menjawab, “Satu”. Kalau demikian, apakah perbedaan antara kata ana dan nahnu? Tanyakan kepada orang-orang Arab. Tidak ada seorang Arab pun yang menuduh kaum muslimin sejak 1400 tahun, bahwa mereka menyembah lebih dari satu Tuhan. Allooh Subhaanahu Wa Ta’alaa berfirman dalam al -Qur’an:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ   اللَّهُ الصَّمَدُ   لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ   وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ

“Katakanlah: “Dia-lah Allooh, Yang Maha Esa. Allooh adalah Tuhan tempat meminta. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya”. (QS. AI-Ikhlas (112): 1-4).

Mengapa anda tidak bertanya kepada saudara -saudara kita yang berasal dari Arab tentang makna kata ana dan nahnu. Tentu mereka akan menjawab, apakah anda tidak tahu bahwa di dalam tata bahasa Arab terdapat dua bentuk jamak:

1. Jamak yang menunjukkan jumlah.

2. Jamak yang menunjukkan makna keagungan.

Dan bentuk kata jamak yang terdapat dalam ayat ini adalah bentuk jamak yang menunjukkan keagungan menurut bahasa kami.

Saya berharap, kiranya DR. Shorosh bersedia untuk mengkoreksi apa yang saya katakan, atau mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat lebih dari satu Tuhan, saya ingin mendengar hal itu dari anda. Saya katakan, terdapat dua bentuk kata jamak, bentuk jamak yang bermakna keagungan dan bentuk jamak yang berarti jumlah, demikian menurut bahasa Arab dan bahasa Ibrani.

Yesus makan dan ibunya pun makan, dikatakan di dalam Bible:“Kemudian anak manusia datang, ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum.. ” (Matius 11: 19).

Ini adalah kata-kata Yesus, dan itu jugalah apa yang dikatakan orang banyak tentang Yesus, kalau demikian, apakah yang menjadikannya sebagai Tuhan? Apakah kelahirannya?! Karena ia terlahir tanpa ayah seorang manusia, lantas ia pasti memiliki seorang ayah, dan ayahnya itu adalah Tuhan. Al-Qur’an menolak hal itu dengan cara yang sangat sederhana:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثِمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allooh, adalah seperti penciptaan Adam, Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allooh berfirman kepadanya: “Jadilah (seorang manusia) maka jadilah dia”. (QS. Aali ‘Imroon (3): 59).

Jika Yesus adalah Tuhan atau anak Tuhan yang hakiki karena ia tidak memiliki ayah seorang manusia, maka nabi Adam ‘alaihis salaam adalah Tuhan yang lebih agung dari Yesus, karena nabi Adam ‘alaihis salaam tidak memiliki ayah dan ibu. Ini tidak sesuai dengan logika akal yang sederhana. Mereka mengatakan bahwa Adam diciptakan dari debu, sedangkan Yesus terlahir dari seorang perawan.

Sebelumnya saudara Shorosh berargumentasi dengan Melkisedek Raja Salem yang agung yang disebutkan di dalam surat untuk orang-orang Ibrani, “Karena Melkisedek ini adalah Raja Salem Imam Allah yang maha tinggi, tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa nasab, tidak berawal dan tidak ada akhir hidupnya”. Siapa orang ini? Dialah Allah, hanya Allah saja yang tidak berawal dan tidak berakhir, tidak berayah dan tidak beribu, yang hidup kekal dan abadi. Akan tetapi ia adalah seorang kahin yang agung, Abraham membayar 1/10 pajak agama kepadanya. Yesus memiliki awal saat ia berada di kandang domba, ia juga memiliki akhir yang nyata di atas tiang salib, sedangkan orang ini tidak memiliki awal dan akhir, manakah yang lebih agung antara Yesus dengan Melki Shadiq? Saya bertanya, mengapa kamu tidak menyembahnya, ia berhak untuk disembah sebagai Tuhan kalau ia memiliki sifat-sifat itu. Yesus berteriak di atas kayu salib berseru kepada Allooh, ia berkata, “Eli, Eli, Lama sabakhtani. Artinya, Tuhanku, Tuhanku, mengapa engkau meninggalkan aku”. Siapakah yang ia seru? Apakah ia menyeru dirinya sendiri? Apakah ia sedang memerankan peran sandiwara? Jika dia adalah Tuhan, mengapa dia menghinakan dirinya? Dalam Injil Markus terdapat ungkapan yang sama, maka dengan siapakah Yesus meminta tolong? Ia menjerit, “Eli, Eli”, artinya adalah, “Allah, Allah”.

Saya bertanya kepada golongan “Saksi-saksi Yahwe”, apakah kata-kata Yesus, “Eli, Eli, lama syabakhtani”, sama dengan, “Yahwe, Yahwe, lama Syabakhtani?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Apakah sama dengan, “Aba, Aba, lama Sabakhtani?”, Aba dalam bahasa Ibrani adalah Bapa, tentu tidak. Dengarkanlah, “Eli, Eli, lama sabakhtani”, sama dengan “Allah, Allah, lama taraktani” (Allah, Allah mengapa engkau meninggalkan aku) dalam bahasa Arab, kedua ungkapan ini sama.

Dalam (Wahyu 19), tentang mimpi yang dilihat oleh Yohanes Al-Lahuti, ia mendengarkan malaikat langit bersenandung, “Haleluya”. Ketika orang-orang Kristen di Afrika Selatan merasa sangat gembira, mereka berteriak, ‘Haleluya, Haleluya’, saya bertanya kepada mereka, apakah artinya? Apakah artinya, “Hai, hai hore?”, tentu saja tidak. Ya dalam bahasa arab adalah huruf yang dipakai untuk menyeru dan huruf yang menunjukkan kekaguman terhadap sesuatu, dalam bahasa Arab dan bahasa Ibrani. Kita juga menggunakan huruf seruan ini, seperti wahai saudaraku, wahai ibu, ya Allah. Sedangkan orang-orang barat, mereka menyingkatnya dengan menggunakan tanda seru (!), mereka mengatakan, “Berhenti!”, mereka letakkan tanda seru di akhir kalimat, mereka mengatakan, “Tembakkan senjata!”, di akhir kalimat terdapat tanda seru. Inilah cara orang barat untuk menyatakan ungkapan dan inilah kehebatan bahasa mereka. Jadi arti Haleluya adalah Ha ya Allah, Lu ya Allah, Huwa ya Allah.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dialah Allooh yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara”. (QS. AI-Hasyr (59): 23).

Bukan seorang bayi yang terlahir dari wanita Yahudi, apakah yang menjadikannya sebagai Tuhan? Saya ingin tahu, apakah kelahirannya? Hal itu tidak berarti sesuatu, keajaiban-keajaibannya yang dikatakan kepada kita bahwa ia mampu mengembalikan kehidupan kepada Lazarus. Apakah benar dia yang telah mengembalikan kehidupan kepada Lazarus? Tidak, tidak demikian, sebelum ia menyeru Lazarus, apakah yang ia katakan?

41. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepadamu, karena engkau telah mendengarkan aku.

42. Aku tahu, bahwa engkau selalu mendengarkan aku “. (Yohanes, 11: 41-42).

Artinya: Sesungguhnya Engkau yang telah memperkenankan aku, yang memberikan kepadaku apa yang aku minta, Engkaulah yang melakukannya, akan tetapi untuk semua yang ada. Saya katakan, mereka manusia-manusia yang percaya dengan khurafat, mereka orang-orang dungu yang akan mengatakan bahwa akulah yang mengembalikan kehidupan kepada orang-orang mati. Mereka akan mengatakan bahwa aku adalah Allooh, oleh sebab inilah aku berkata-kata dengan suara tinggi. Sebelum itu:

“Maka menangislah Yesus.” (Yohanes 11: 35). “Maka masygullah hati-Nya, ia sangat terharu” (Yohanes 11: 33).

Ia mengadu kepada Tuhan dan berkata:

“41. Sahabatku Lazarus mati, maka kembalikanlah ruh kepadanya Tuhan”. Allah memperkenankan doanya dan berfirman, “Mintalah, sesungguhnya engkau akan memperoleh apa yang engkau minta”. Ketika Yesus menyeru Lazarus agar keluar kepadanya, ia berkata, “Bapa, Aku mengucap syukur kepadamu, karena engkau telah mendengarkan aku.

42. Aku tahu, bahwa engkau selalu mendengarkan aku” (Yohanes 11: 41-42).

Akan tetapi demi semua yang ada, aku berkata, “Agar mereka percaya bahwa engkau telah mengutus aku”. Yesus berkata, “Tidak ada utusan yang lebih baik daripada pengutusnya”. Ia berkata, “Aku tidak mampu untuk melakukan sesuatu dari diriku sendiri”. Ia juga berkata, “Kata-kata yang kamu dengar bukanlah milikku, akan tetapi milik Bapa yang mengutusku”. Ia berkata, “Bapa yang telah mengutus aku memberikan wasiat kepadaku, apa yang harus kukatakan dan apa yang mesti aku ucapkan”.

Bila terdapat ungkapan-ungkapan seperti ini, kita sebagai muslim tidak bimbang untuk membenarkannya, karena kita mengetahui bahwa Yesus adalah seorang utusan yang agung dari Allooh Subhaanahu Wa Ta’alaa , itu tidak akan mengurangi kesempurnaan anda.

Pertanyaan yang terlontar dari argumentasi Dr. Anis Shorosh adalah: apakah Yesus itu seorang pendusta yang (* edit moderator *) atau memang ia adalah Tuhan? Mengapa hanya ada dua pilihan, antara pendusta dan Tuhan? Bukan sebagai seorang utusan yang agung dari Allooh? Kita membaca berulang kali bahwa Yesus, apakah ia sebagai seorang pendusta atau dajjal, atau sebagai Tuhan. Apakah kata pendusta merupakan lawan dari kata Allah? Tentu tidak. Apakah kata dajjal atau (* edit moderator *) merupakan lawan dari kata Allooh? Tentu saja tidak. Apakah lafaz Allooh memiliki lawan kata? Mengapa anda mengatakan ini dan itu? Mengapa tidak seperti yang ia katakan bahwa ia adalah utusan Allooh. Dengan sifat ini, anda harus mengikutinya saat ia berkata,

“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid -Nya: “Setiap orang yang mau mengikut aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti aku”. (Matius 16: 24).

Bawalah salib kamu dan ikutilah aku, jika kamu telah mengikuti aku, maka kamu akan mendapatkan hidup yang abadi. Dengarkanlah dia dan diamlah terhadap apa yang ia katakan dan ia ajarkan, itulah pembebasan. Jika kamu tidak melakukan itu, maka aku katakan kepada kamu, jika kamu tidak menambah perbuatan baik kamu terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Parisi, kamu tidak akan memasuki alam langit. Kamu tidak akan masuk surga selama kamu tidak lebih baik daripada orang-orang Yahudi, dan kamu tidak akan lebih baik daripada orang-orang Yahudi selama kamu tidak menjaga namus dan wasiat. Dengarkanlah ia dan ikutilah ia, jika kamu mengikuti dia, maka tidak ada tempat lari daripada kamu melainkan menjadi orang-orang yang berserah diri.

Akhir doa kita adalah segala puji bagi Allooh Subhaanahu Wa Ta’alaa Tuhan semesta alam.

Sumber:

http://islambisa.wordpress.com/2010/01/10/debat-syehk-ahmad-deedat-dengan-dr-anis-shoroh-bag-2/

—————————————————————————————————————————

DEBAT SYAIKH AHMAD DEEDAT DENGAN DR. ANIS SHOROSH (Bagian-3)

Komentar-komentar

Kita ucapkan terima kasih kepada Ustadz Ahmed Deedat. Sekarang saya minta kepada kedua pembicara untuk memberikan argumentasinya, maksimal delapan menit untuk menolak argumentasi lawan masing-masing. Setelah itu kita akan bertolak berdasarkan dari pertanyaan- pertanyaan yang muncul. Diharapkan untuk tenang dan terima kasih banyak atas kebaikan, penghargaan dan penghormatan saudara-saudara terhadap DR. Anis Shorosh. Sekarang kita minta beliau untuk Ustadz Ahmed Deedat.

KOMENTAR DR. ANIS SHOROSH :

Saudara-saudara adalah para peserta debat yang benar-benar menyenangkan. Saya sangat gembira dapat berada di hadapan saudara-saudara, saya akan menolak argumen sahabat saya Ahmed Deedat, hal-hal yang berkaitan dengan ucapan terus-terang dari Yesus yang menyatakan diri bahwa ia adalah Tuhan. Pertama saya ingin agar anda memperhatikan Injil Yohanes:

“Kamu menyebut aku guru dan Tuhan”. (Yohanes 13: 13).

Harap anda ingat! Andai ratu Inggris memasuki tempat ini, ia tidak mesti mengingatkan anda bahwa ia adalah seorang ratu, demikian juga Yesus, ia tidak mesti mengatakan kepada orang banyak setiap apa yang ia lakukan bahwa ia adalah Tuhan.

“Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami”. Kata Yesus kepada-Nya: “Telah sekian lama aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: ‘Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami’.” (Yohanes 14: 8-9).

Sahabat saya Ahmed Deedat memberikan argumentasi dengan ayat yang lain yang mengandung makna yang sama.

Adapun yang berkaitan dengan perhatian saudara kita Ahmed Deedat dengan Wahyu Kepada Yohanes, maka saya bertanya apakah para nabi juga melihat wahyu? Bukankah Allah memperlihatkan lewat wahyu dan mimpi. Tuhan berbicara melalui wahyu dan mimpi, tidak ada interfensi hawa nafsu dalam hal itu, baik itu kata-kata laknat maupun ungkapan-ungkapan sia-sia, akan tetapi Allah kuasa untuk melakukan hal itu, jika ia mau maka ia melakukannya.

Saya juga ingin mengingatkan anda dengan sesuatu yang berkaitan dengan Trinitas. Menurut saya masalah yang dihadapi saudara-saudara kami yang muslim adalah, mereka tidak tahu bahwa kami juga seperti mereka, kami juga menolak Trinitas yang dikenal ketika arab muncul di panggung sejarah. Ada perbedaan antara para heretik yang memeluk agama Kristen setelah menyembah berhala, sekte ini meyakini bahwa Maryam adalah malaikat langit dan Tuhan menikahinya, maka ia melahirkan Yesus. Demi Allah, saudara-saudara harus mengerti bahwa Yesus bukanlah anak Tuhan seperti seseorang yang terlahir akibat dari hubungan seksual, itu adalah gelar spritual, ia datang karena ia menghukum (menetapkan hukuman-edt.).

Harap tenang hingga penjelasan ini berakhir (setelah tepuk tangan yang riuh).

Oleh sebab itu sekte ini berada dalam kesesatan, sama seperti sekte lainnya. Keimanan kami dengan Trinitas adalah iman dengan Bapa, anak dan Roh Kudus sebagai satu Tuhan. Bukankah aneh jika kita tidak menemukan di antara nama-nama Allah -asma’ al-husna-yang sembilan puluh sembilan yang disebutkan di dalam Al-Qur’an tidak terdapat satu namapun tentang kasih sayang, atau tentang Bapa. Kami tidak menggambarkan bahwa Allah menguasai kita dan kita adalah hamba-hamba-Nya. Allah dalam pandangan kami adalah Bapa yang menginginkan agar kami semua adalah anak-Nya.

(harap tenang dan tidak menyulitkan).

Bagaimanakah Maryam mengandung? Dari Roh Kudus! Siapakah Roh Kudus? Bukankah namanya adalah Jibril? Saya menantang saudara-saudara! Hampir 75% teks AI-Qur’an yang mengagumkan dalam bahasa Arab yang hebat terilhami oleh Bible.

Saya harap agar anda melihat Bible untuk mencari sumbernya dan untuk menghargai nikmat-nikmat yang ada, inilah Tuhan yang mencintai anda dan mencintai saya persis seperti sekumpulan semut yang mencoba untuk pergi dari titik ini menuju titik lain namun kembali lagi. Anda datang dan berkata biarkan saya memperlihatkan kepadanya jalan yang benar, namun usaha anda gagal. Anda berkata, saya akan membantunya, anda mencoba untuk memperlihatkan jalan kepadanya, anda mendorong semut ini dan ekor semut itu, namun selamanya ia akan kembali kepada tradisi lamanya. Maka anda akan berkata, satu-satunya cara adalah, saya akan menjadi semut atau semut-semut itu akan menjadi manusia. Tapi anda harus ingat bahwa semut-semut tidak dapat berubah menjadi manusia karena ia tidak memiliki kemampuan untuk itu, menurut perkiraan kita, anda mampu menjadi seekor semut, apakah anda mampu memperlihatkan kepadanya jalan yang lurus? Jawabannya adalah tidak dan seribu kali tidak. Karena ketika anda berubah menjadi semut anda akan merasa kalau anda adalah seekor semut. Oleh sebab itu Yesus adalah Tuhan yang datang dalam bentuk manusia dan menjadi manusia, makan seperti manusia, tidur seperti manusia dan lelah seperti manusia, akan tetapi ia juga menggunakan gelar anak manusia agar sama seperti anda dan saya. Dapatkah anda melihat bagaimana anda membayar harga kesalahan anda? Bagaimana anda membebaskan diri dari kenyataan tersebut?

Saudara Ahmed Deedat memberikan argumen dengan apa yang terdapat dalam Injil Ayub dan menafsirkannya dengan tafsiran vang keliru. Ungkapan tersebut dengan jelas mengatakan: “Bagaimana manusia dapat melepaskan diri dari-Nya”. Artinya, bagaimana manusia menjadi lepas dari pandangan Tuhan, tidak seorang pun mampu terlepas dari pandangan Tuhan tanpa seruan dari jalan darah Yesus, anak Tuhan yang berfirman:

“Aku datang supaya mereka mempunyai hidup.” (Yohanes 10: 10).

Maka darah Yesusl ah yang telah mensucikan anda dari segala kesalahan, anda harus ingat, ketika para malaikat memberikan kabar gembira kepada Maryam dengan berkata: “Sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut Kudus, anak Allah..” (Lukas 1: 35). Apakah anda ingin mengatakan kepada saya bahwa para malaikat berdusta atau Tuhan itu keliru. Yesus mencintai anda dan menyeru anda pada malam itu sambil berkata:

“Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” (Matius 11: 28).

Perhatikan saya dan bebaslah seluruh sudut-sudut bumi, karena pembebasan tidak terbatas hanya terhadap orang-orang muslim, Yahudi atau selain mereka, bahkan untuk semuanya. Tuhan mencintai kita, oleh sebab itu ia menjadi anak, dengan sifat ini ia menjadi manusia agar para manusia menjadi anak-anak Tuhan karena ia menginginkan mereka.

Adapun ucapan anda: “Bapaku lebih agung daripada Aku”, itu adalah sikap rendah hatinya yang mendorongnya untuk mengatakan hal itu. Ketika ia berkata, “Aku dan Bapa adalah satu”, maka ia memperlihatkan hakikatnya secara nyata. Saya harapkan anda harus ingat bahwa Tuhan adalah Tuhan, apakah itu yang disepakati para pendeta Anglikan ataupun tidak. Tuhan mengatakan kebenaran dan semua manusia mendustakannya, mereka harus bertaubat dan percaya dengan firman Tuhan yang hidup, bangunkanlah semangat agama di tengah-tengah umat ini, mereka harus tercegah dari segala kejahatan dan kerusakan mereka, mereka mesti bertaubat dari segala perbuatan mereka dan mengikuti Tuhan, karena dia mesti menghukum hingga semua musuh bersimpuh di bawah telapak kakinya. Saya menyeru anda semua untuk menyingkap hakikat, dialah Tuhan di dalam diri Mesias, dialah yang ingin memperbaiki dunia dengan dirinya, sehingga seorang muslim menjadi muslim yang hakiki dan seorang Kristen menjadi penganut Kristen yang hakiki. Jadi, terimalah pemberian Tuhan, Yesus Mesias anak Tuhan yang hidup.

Ungkapan yang diminta oleh saudara Ahmed Deedat untuk dijelaskan adalah kata “dilahirkan”, ungkapan ini dalam teks bahasa Yunani adalah “Monogoms parapatras” artinya adalah anak Tuhan yang tunggal dari jenis ini. Dengan ungkapan lain maka Yesus adalah yang tunggal menurut jenisnya ,yang terlahir dari Tuhan yang telah datang untuk memperlihatkan cinta kasih Tuhan.

Terima kasih kepada anda semua yang telah menyebabkan saya merasa gembira dengan keberadaan saya bersama anda, agar cinta kasih Tuhan kembali kepada kita, itulah kasih yang abadi, Tuhan yang abadi, mengembalikan kita kepada Mesias yang berkata: “Marilah kepada-Ku, aku akan memberikan kelegaan kepadamu.”

Saya ucapkan terima kasih banyak untuk saudara saudara.

(Tepuk tangan hangat)

Terima kasih saya ucapkan kepada DR. Anis Shorosh, dan sekarang giliran Ustadz Ahmed Deedat untuk menolak argumen DR. Anis Shorosh.

(Tepuk tangan hangat)

USTADZ AHMED DEEDAT MENOLAK ARGUMEN DR. ANIS SHOROSH :

Kita mulai dengan ayat ke sembilan, dari pasal ke empat belas, dari Injil Yohanes yang digunakan saudara Dr. Anis Shorosh sebagai argumen, Yesus berkata kepada Filipus:

“Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”. (Yohanes 14: 9).

Orang-orang Kristen menyimpulkan dari ayat ini bahwa Yesus adalah Bapa, akan tetapi jika kita melihat kepada ayat sebelumnya, dalam alur ceritanya sekali lagi, kita perhatikan dari awal pasal terdapat kesalah pahaman dari murid-murid Yesus terhadap kata-kata Yesus. Pada ayat ke empat belas dan selanjutnya Yesus berkata kepada mereka:

(Yohanes 14: 4-5) “Dan kemana aku pergi kamu tahu jalan kesitu. Kata Tomas kepadanya: `Tuhan, kami tidak tahu kemana engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”.

Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud Yesus, ia bercerita tentang perjalanan spiritual, sedangkan para murid memikirkan tentang letak geografis kota Dante, New Casde dan South Hamphton. Yesus bercerita tentang Tuhan dan cara menuju Tuhan, maka ia berkata:

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui aku.” (Yohanes 14: 6).

Hal ini terlalu besar untuk dapat ditangkap oleh pemahaman mereka, oleh sebab itu Filipus berkata kepadanya: “Tuhan tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami”. Mereka ingin melihat Tuhan secara nyata, Yesus menjawab: “Telah sekian lama aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?

Artinya engkau adalah bangsa Yahudi, dengan sifat ini, semestinya engkau tidak meminta permintaan seperti ini, tidak ada manusia yang melihat Tuhan dan masih hidup, engkau telah menemani aku selama tiga tahun dan belum mengerti risalahku, engkau ingin melihat Tuhan dengan mata kepalamu sedangkan engkau tidak mampu melihat matahari. “Siapa yang melihat Aku sungguh ia telah melihat Bapa”, artinya, jika kamu memahami aku, maka kamu memahami Allooh, inilah yang dikatakannya selalu, mereka tidak melihat dengan penglihatan dan mendengar dengan pendengaran, mereka juga tidak mengerti. Melihat bukan berarti melihat dengan mata kepala, akan tetapi maksudnya adalah memahami, maksudnya adalah: Jika kami memahami siapa aku maka kamu akan memahami Allooh!

(Suara riuh dan tepuk tangan dari hadirin)

Jadi, Yesus tidak menyatakan diri bahwa ia adalah Bapa, saya ingin tahu siapakah di antara anda yang mendengar ayat ini?

“Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.” (Surat Yohaner pertama 5: 7).

Apakah anda membaca ayat ini di dalam Bible?! DR Anis Shorosh menjawab, “Ya, ini adalah firman dan merupakan teks ayat ke tujuh dari pasal ke lima dari Surat Yohanes Yang Pertama”.

(Tepuk tangan dan suara riuh dari para hadirin)

Ayat ini terdapat dalam teks Bible yang diakui oleh gereja Katolik, demikian juga dalam teks Bible yang diakui oleh gereja Protestan, yang telah diizinkan penyebarannya oleh King James I, akan tetapi ayat ini dihapus dari cetakan yang telah direvisi terhadap teks milik King James I dan dianggap sebagai teks yang disusupkan.

Demikian juga seluruh terjemahan Bible modern masih mengandung teks ini. Yang menghapusnya bukanlah ulama umat Islam, bukan ilmuwan Yahudi dan bukan pula orang-orang Hindu, akan tetapi tiga puluh dua orang ilmuwan yang merupakan ilmuwan terkemuka Kristen yang berasal dari lima puluh sekte bekerja sama untuk menterjemahkan teks yang telah direvisi. Demikian juga dalam masalah naiknya Yesus ke langit, hal ini tidak disebutkan kecuali hanya terdapat pada dua tempat dari Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Markus berkata: “Terangkatlah ia ke sorga”. (Markus 16: 19). Lukas berkata: “Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga”. (Lukas 24: 5 1).

Saudara Shorosh berargumentasi menggunakan satu ayat dari Kisah Para Rasul, akan tetapi kedua ayat ini juga dihapus dalam teks revisi karena dianggap sebagai kalimat-kalimat yang disusupkan.

(Tepuk tangan dan teriakkan “Alloohu Akbar”).

Saudara Shorosh mengatakan bahwa kata “Aab” (Bapa) tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Memang Allooh Subhaanahu Wa Ta’alaa: memiliki 99 nama, akan tetapi kata “Aab” (Bapa) tidak terdapat di dalamnya, walaupun pengucapan kata “Aab” dalam bahasa Arab jauh lebih mudah daripada pengucapan kata “Rabb” (Tuhan), mengapa hal itu terjadi? Untuk menghindari pemikiran yang keliru tersebut. Jutaan manusia yang ada di permukaan bumi ini memahami kata “Aab” dengan pemahaman harfiah, bahwa “Aab” (Bapa) langit ini memiliki seorang anak, hasil dari proses kehidupan yang masuk dalam ruang lingkup hubungan intim, hal itu merupakan insting makhluk hidup yang ada di dunia, oleh sebab itu kata “Aab” tidak terdapat sama sekali di dalam Al-Qur’an.

(Tepuk tangan hangat)

Saudara Shorosh menyebutkan dalam bukunya bahwa anaknya berkata kepadanya setelah mengeluarkan air dari kamar mandi dan mengosongkan air yang ada di dalam bak. Sekarang ia mengetahui bagaimana turunnya hujan. Ayahnya bertanya: “Bagaimana hal itu terjadi?

Anak itu menjawab, “Ketika Yesus mandi di langit dan mengosongkan bak mandi maka hujan pun menenggelamkan bumi, terjadilah angin topan dan petir di permukaan bumi.” Ketika anak tersebut mengatakan hal itu, ayahnya memeluk dan menciumnya!! Gambaran seperti ini melekat di dalam pikiran, lalu mereka mengkhayalkan “Aab” seperti itu, melakukan pekerjaan yang sama.

Untuk mencegah penyamaan Tuhan dengan manusia, maka Al-Qur’an menghindari penggunaan setiap kata yang menyebabkan terlintasnya gambaran yang keliru di benak manusia. Jadi, kata “Aab” tidak terdapat dalam Al-Qur’an karena kata tersebut tidak sesuai dengan keagungan Tuhan yang memiliki seorang anak, atau seorang Bapa langit petualang cinta yang membunuh anaknya sebagai penebus dosa-dosa manusia. Kamulah yang telah melakukan dosa, ia tidak mampu untuk memperbaiki kesalahan kamu, lalu apa yang ia lakukan? Membunuh anaknya!! Itukah yang dinamakan cinta? Seorang laki-laki memasuki rumah anda untuk mencuri, membunuh istri anda, atau anak anda, memperkosa putri anda, sedangkan anda tidak mampu untuk melawannya, lantas apakah yang anda lakukan? Apakah anda akan membunuh anak laki-laki anda dan itu dinamakan dengan cinta? Ini adalah gambaran yang keliru untuk memahami keadilan dan etika, jika gambaran anda benar, maka tindakan anda juga benar.

Telah tiba masanya di Amerika suatu zaman, dimana 60% manusia di dalamnya melakukan hubungan seks pra nikah, akan tetapi kita membaca dalam buku saudara Shorosh yang diberi judul “Al -Falisthini Al-Mutaharrir” (Palestina Merdeka), ia berjalan di jalan raya didampingi dua orang gadis di kiri dan kanannya, tindakannya ditolak oleh seorang ibu rumah tangga yang baik dan ia diajak ke rumahnya untuk merayakan cuti akhir pekan. Saudara Shorosh pergi ke rumah wanita yang baik tersebut untuk merayakan akhir pekan, namun ayah sang gadis menanti kedatangannya dengan senapan di tangan, saudara kita Shorosh segera beranjak mundur. Jika anda memperlihatkan prinsip-prinsip etika seperti gambaran ini, maka tidak aneh 60% dari rakyat Amerika menurut data statistik saat ini setuju dengan hubungan seks pra nikah!!

Dikatakan kepada kita bahwa Kristen bukanlah agama, Kristen adalah hubungan. Akan tetapi cobalah anda perhatikan apa yang dikatakan Yesus:“Setiap orang yang memandang perempuan dan menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”. (Matius 5: 28).

Saudara-saudara yang saya hormati, tuan dan nyonya sekalian dan moderator.

Tema ini luas sekali, kita dapat melanjutkan cerita ini hingga tidak terbatas. Akan tetapi saya menghormati peringatan moderator bahwa waktu saya telah habis. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada saudara -saudara.

Sumber:

http://islambisa.wordpress.com/2010/01/10/debat-syehk-ahmad-deedat-dengan-dr-anis-shoroh-bag-3/

—————————————————————————————————————————

Catatan:

Dari sumber diatas, makalah diberi penambahan berupa: ayat Al Qur’an dalam teks bahasa Arab-nya, beberapa perbaikan kesalahan ketik (seperti: QS. Alii ‘Imran menjadi QS. Aali ‘Imroon), dan penyebutan “Allooh” untuk narasi dari pihak kaum muslimin untuk membedakannya dengan penyebutan “Allah” yang datang dari pihak Nasrani.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: