Skip to content

Iman kepada Allooh dengan Sebenarnya (Bagian-2)

9 July 2010

(Transkrip Ceramah AQI  141209)

IMAN KEPADA ALLOOH DENGAN SEBENARNYA (Bagian-2)

Oleh:  Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Sebagai kelanjutan bahasan yang lalu, maka kali ini kita membahas tentang “Laa ilaaha illallooh”, yaitu agar maknaLaa ilaaha illallooh” itu benar-benar ada dalam diri kita, benar-benar berfungsi dan benar-benar bermanfaat bagi kita di dunia ini dan di hari akhirat nanti. Pada bahasan yang lalu kita sudah membahas tentang bagaimana agar “Laa ilaaha illallooh” itu benar-benar berisi, maka syaratnya :

1. Harus berilmu tentang artiLaa ilaaha illallooh”,
2. Harus yakin dan benar / membenarkan,
3. Menerima Syari’at Allooh سبحانه وتعالى dan Sunnah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم,
4. Harus patuh dan taat kepada ajaran Allooh سبحانه وتعالى.

Pada bahasan kali ini masih ada 3 poin lagi, yaitu :

5. Harus jujur dan benar (Ash shidqu)

Ketika kita mengucapkan “Laa ilaaha illallooh”, maka kita harus jujur dan benar, tidak boleh dusta dalam mengucapkan kalimat itu. Bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali HANYA Allooh سبحانه وتعالى.

Firman Allooh سبحانه وتعالى yang memberikan bukti tentang hal tersebut adalah Al Qur’an surat Al ‘Ankabuut (29) ayat 1 – 3:

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3

Artinya:

(1) “Alif laam miim.”

(2) “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

(3) “Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allooh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Ada perkara yang harus kita sadari dan kita siap untuk menerimanya, bahwa seseorang yang mengatakanBeriman” maka dia harus siap diuji, apakah benar imannya itu ataukah tidak. Ketika seseorang dihadapkan kepada Syari’at Islam, dihadapkan kepada syari’at-syari’at Allooh سبحانه وتعالى, mulai lah terlihat apakah ia dusta atau benar. Seolah-olah orang itu mengatakanyapadahal dalam hatinya mengatakantidak”.

Katanya beriman, ternyata ragu-ragu. Ia pertimbangkan syari’at Allooh سبحانه وتعالى dengan rasanya, dengan seleranya, dengan impiannya, dengan hawa nafsunya. Padahal seharusnya syari’at Allooh سبحانه وتعالى itu dibuktikan dengan yang sebenarnya, bukan dengan pura-pura.

Ketika orang diuji, maka akan diketahui orang itu benar imannya ataukah sekedar basa-basi. Ternyata ujian itu untuk memberikan bukti apakah orang itu beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى ataukah hanya berpura-pura. Ujian merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang.

Contohnya seperti terjadi pada masa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Ada seseorang bernama Mush’ab bin ‘Umair رضي الله عنه, dia adalah seorang yang kaya raya. Para pemuda dan masyarakat Mekkah pada waktu itu tahu bahkan sampai hafal, apabila Mush’ab bin ‘Umair رضي الله عنه berjalan melewati mereka, maka bau harum parfum dari tubuh Mush’ab bin ‘Umair رضي الله عنه sangatlah nyata, sehingga semua orang akan tahu bahwa Mush’ab رضي الله عنه baru saja lewat di situ. Tetapi, begitu dia mengatakan “Laa ilaaha illallooh Muhammadur Rosuulullooh”, tidak ada lagi bau harum parfumnya, bahkan sebaliknya bajunya saja tidak pernah ganti. Ia menjadi orang miskin, ia menjadi muslim, dan sesudah menjadi muslim, ia tidak semewah ketika menjadi orang kaafir. Karena apa? Karena orangtuanya mengusirnya dan tidak mengakuinya lagi sebagai anak mereka.

Bahkan ketika perang Uhud, ia ikut berperang dan mati syahid dalam perang Uhud tersebut. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menutup jenazah Mush’ab bin ‘Umair رضي الله عنه dengan rasa sedih. Karena ketika beliau صلى الله عليه وسلم ingin menutup jasad Mush’ab رضي الله عنه dengan pakaiannya, pakaian Mush’ab رضي الله عنه itu tidak lah cukup untuk menutupi tubuhnya yang sudah tidak bernyawa lagi. Ketika bajunya ditarik ke bawah, maka bagian muka dan dadanya terbuka. Bila pakaiannya ditarik ke atas, maka kakinya akan terbuka, tidak tertutupi. Bajunya hanya itu satu-satunya, tidak punya baju selain yang dipakainya. Karena ia meninggal dalam keadaan syahid maka ia dikubur dengan bajunya.

Demikian pula shohabat yang bernama ‘Amru bin Al ‘Aash رضي الله عنه, sampai ibunya tidak mau makan karena melihat anaknya (‘Amru bin Al ‘Aash رضي الله عنه) masuk Islam, mengucapkan “Laa ilaaha illallooh Muhammadur Rosuulullooh”. Ibunya tidak setuju, dan ia sampai mengancam akan bunuh diri, tidak mau makan. Maka ‘Amru bin Al ‘Aash رضي الله عنه mengatakan kepada ibunya: “Wahai ibuku, kalaupun engkau mempunyai nyawa rangkap seratus sekali pun, aku tidak akan kembali kepada kekufuran (menjadi kafir)”.

Demikian pula kaum muslimin ketika itu diuji diboikot selama 3 (tiga) tahun berturut-turut di daerah yang kering, tandus, tidak ada air dan tidak ada pepohonan yang hijau seperti di negeri kita ini. Sampai mereka itu makan seadanya. Sampai mereka makan rumput kering untuk bertahan hidup. Mereka tidak kembali murtad, tidak kembali kepada kekufuran, karena itu lah mereka lulus dari ujian Allooh سبحانه وتعالى. Mereka berhasil dalam mempertahankan “Laa ilaaha illallooh Muhammadur Rosuulullooh”. Semua itu tergores dalam sejarah, mereka telah memberikan bukti kepada kita bahwa ucapan “Laa ilaaha illallooh” mereka tidak bohong-bohongan. Segala resiko mereka hadapi. Kepada orang-orang semacam itulah Allooh سبحانه وتعالى berfirman: “Allooh akan mengetahui siapa di antara mereka yang benar dan siapa yang dusta.”

Demikian pula dalam kehidupan kita sekarang, akan terjadi “seleksi”, siapa yang benar-benar beriman maka akan lulus sampai akhir. Kita mengatakan “Laa ilaaha illallooh” tentu akan diuji oleh Allooh سبحانه وتعالى, yang merupakan konsekuensi bagi kita sebagai ummat Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh (2) ayat 8 – 10:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10

Artinya:

(8) “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allooh dan hari kemudian[*],” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”

(9) “Mereka hendak menipu Allooh dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”

(10) “Dalam hati mereka ada penyakit [**], lalu ditambah oleh Allooh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”

[*] Hari kemudian ialah: mulai dari waktu makhluk dikumpulkan di padang mahsyar sampai dengan waktu yang tidak ada batasnya.
[**] Yaitu keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم lemah. Kelemahan keyakinan itu menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم , Islam dan kaum muslimin.

Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya beriman, dirinya seorang mu’min, percaya kepada hari Akhir, ia mengatakan “Laa ilaaha illallooh” tetapi orang itu sebetulnya bisa jadi sudah terancam tergolong kaafir.

Mereka itu menipu Allooh سبحانه وتعالى, menipu orang-orang yang beriman. Lalu firman Allooh سبحانه وتعالى: “Mereka itu tidak menipu Allooh atau orang beriman, melainkan mereka menipu diri mereka sendiri”. Mereka dusta, mereka hanya bisa berkata-kata, tidak siap beramal sebagai konsekuensi ucapanLaa ilaaha illalloohdari keimanannya, maka orang itu dalam hatinya terdapat penyakit. Dan semakin ditambah penyakitnya itu oleh Allooh سبحانه وتعالى dan mereka berhak atas adzab Allooh سبحانه وتعالى yang sangat pedih, karena mereka berdusta. Itulah orang-orang munafiq.

Bila dibedakan antara fase Mekkah dan fase Madinah, ternyata orang munafiq ada ketika fase Madinah (sesudah hijrah ke Madinah). Berarti fase Madinah sudah mulai ada “konsekuensi. Ketika di Mekkah selama 13 tahun para shohabat dan kaum muslimin sudah diuji sedemikian rupa dan mereka lulus. Sedemikian dahsyat ujian itu tetapi belum ada kriteria Nifaq (Munafiq) di Mekkah. Tidak ada munafiqun di Mekkah.

Adanya Munafiqun itu setelah kaum muslimin hijrah ke Madinah. Maka kalau dilihat fasenya, fase 13 tahun di Mekkah adalah fase PENANAMAN DASAR dan FONDASI ke-IMAN-an. Sehingga kaum muslimin kokoh dan teguh dalam imannya, dan itu diuji dan dipraktekkan di Madinah ketika Syari’at dan hukum-hukum Allooh سبحانه وتعالى yang praktis mulai diterapkan dan diajarkan oleh Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. MengucapkanLaa ilaaha illalloohsaja tidak lah cukup, tetapi harus diikuti dengan konsekuensi pengamalan. Meskipun ucapan “Laa ilaaha illallooh” itu diucapkan berulang-ulang, dengan wirid dsbnya, tetapi bila dalam praktek hidupnya perkataannya maupun perbuatannya tidak mencerminkan seorang muslim, berarti orang itu terancam “dusta”. Karena orang Munafiq pun bisa mengucapkan “Laa ilaaha illallooh”.

Dalam Hadits shohiih Riwayat Al Imaam Muslim no: 29, dari salah seorang shohabat bernama ‘Ubaadah bin Ash Shoomit رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ

Artinya:
Tidak seorang pun bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allooh dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dalam keadaan BENAR DARI DALAM HATINYA ia membenarkan itu, maka Allooh haromkan orang itu untuk disentuh api neraka”.

Pernyataan para ‘ulama: “Kita membenarkan bahwa tidak ada yang diibadahi kecuali Allooh سبحانه وتعالى adalah berkonsekuensi untuk tunduk. Dan mengatakan berdasarkan hak-hak-Nya untu membuktikan bahwa pernyataan itu benar, yaitu Syari’at-syari’at Islam yang merupakan detail dari kalimatLaa ilaaha illallooh”.

Jadi “Laa ilaaha illallooh” itu harus dijabarkan melalui Syari’at Islam. Bagaimana reaksi seseorang ketika menyikapi Syari’at Islam? Apakah menerima, ragu-ragu, bimbang, menolak, yakin ataukah tidak yakin ?

Jika ia membenarkan seluruh berita dari Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, menjalankan perintah-perintahnya, menjauhi larangan-larangannya; maka orang yang membenarkan “Laa ilaaha illallooh” dan membuktikan dan mengamalkan itu semua, ia akan mendapatkan keselamatan dari adzab Allooh سبحانه وتعالى.

Dalam Hadits Riwayat Al Imaam Ahmad no: 8056 dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

شَفَاعَتِي لِمَنْ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا يُصَدِّقُ قَلْبُهُ لِسَانَهُ وَلِسَانُهُ قَلْبَهُ

Artinya:
Syafa’atku adalah untuk mereka yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allooh dengan tulus (IKHLAS), MEMBENARKAN dan MENYELARASKAN apa yang diucapkan dengan apa yang ada dalam hatinya”.

Berarti tidak boleh ada dusta ketika seseorang mengucapkanLaa ilaaha illallooh”. Ia tidak beribadah kecuali kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Al Imaam Ibnu Rojab رحمه الله dalam kitab beliau bernama “Al Ikhlaashhalaman 28 mengatakan:

فأما من قال لا إله إلا الله بلسانه ثم أطاع الشيطان وهواه في معصية الله ومخالفته فقد كذب فعله قوله ونقص

Artinya:
Adapun orang yang mengatakanLaa ilaaha illalloohdengan lisannya, akan tetapi orang itu mentaati syaithoon, mentaati hawa-nafsunya dengan berma’shiyat kepada Allooh سبحانه وتعالى dan menyelisihi Allooh سبحانه وتعالى serta ajaran-Nya, maka orang itu telah berdusta. PEKERJAAN dan AMALANNYA MENDUSTAI PERBUATANNYA”.

Yang dimaksud “mentaati syaithoon” adalah syaithoon yang berupa: “Percaya kepada dukun, paranormal, tukang sihir, tukang hipnotis, tukang ramal atau orang yang mengaku dirinya mengetahui ilmu ghoib, atau perkara apa saja yang menyelisihi Allooh سبحانه وتعالى dan aturan / syari’at-Nya.”

Lihat Al Qur’an surat Al Qoshosh (28) ayat 50:

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya:
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allooh sedikitpun. Sesungguhnya Allooh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzolim.”

Maksudnya, orang itu mengucapkanLaa ilaaha illalloohtetapi ia mengikuti hawa nafsunya, berarti orang itu termasuk sesat, karena ia mentaati hawa-nafsunya, tidak mengikuti petunjuk Allooh سبحانه وتعالى. Maka jangan sampai mengucapkanLaa ilaaha illalloohtetapi pengamalan kita menyelisihi perintah dan syari’at Allooh سبحانه وتعالى, yaitu mengikuti hawa-nafsu. Orang yang mengikuti hawa-nafsu akan semakin sesat dari jalan Allooh سبحانه وتعالى.

Lihat Al Qur’an Surat Shood (38) ayat 26:

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

Artinya:
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allooh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allooh akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Maka orang yang mengucapkan “Laa ilaaha illallooh”, sikapnya harus selaras dengan ucapannya. Misalnya mengerjakan sholat, karena sholat itu diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى. Termasuk zakat, shoum, dakwah, jihad, dan berbagai jenis amalan shoolih dimana semua itu adalah konsekuensi dari “Laa ilaaha illallooh”. Maka Khalifah Abubakar As Siddiq رضي الله عنه memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Karena zakat merupakan salah satu konsekuensi “Laa ilaaha illallooh”.

Berapa banyak orang yang mengucapkanLaa ilaaha illalloohtetapi ia terhukumi “dusta” karena tidak melaksanakan konsekuensi apa yang ia ucapkan.

6. Harus Ikhlas

Harus murni, jernih dari kotoran dan polusi yang lain. Yaitu membersihkan, men-suci-kan amal-shoolih kita dari niat-niat yang tercampuri syirik.

Kita beribadah karena memang diajarkan oleh Allooh سبحانه وتعالى. Maka kita harus mengikuti syari’at Allooh سبحانه وتعالى. Itu juga konsekuensi dari Ikhlas. Kita beramal hanya berharap dari Allooh سبحانه وتعالى. Dan seluruh peribadatan kita ditujukan hanya kepada Allooh سبحانه وتعالى. (Ada 4 poin: Motivasi, ‘Amalan, Obyek dan Target yang ingin dicapai, itu semua harus HANYA karena Allooh سبحانه وتعالى).

Ikhlas itu perlu latihan. Karena tidak mudah bersikap ikhlas. Banyak orang dengan mudahnya mengatakan bahwa dirinya itu “Ikhlas”, padahal untuk mencapai derajat ikhlas itu dibutuhkan “Ikhlas” yang lainnya. Karena Ikhlas itu BUKAN ucapan, melainkan HATI. Ikhlas adalah ikrar kita kepada Allooh سبحانه وتعالى. Cirinya adalah: Tidak mengeluh, menerima dengan tulus hati.

Intinya: Ucapan “Laa ilaaha illallooh” itu haruslah ikhlas berasal dari dalam hati, dan kemudian berdampak kepada seluruh amal perbuatan kita. Harus diawali dengan niat yang tulus karena Allooh سبحانه وتعالى.

Karena bisa jadi, ketika seseorang beramal itu adalah karena orang lain, bukan karena Allooh سبحانه وتعالى. Itu tidak ikhlas namanya.

Lihat Al Qur’an surat Az Zumar (39) ayat 3:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Artinya:
Ingatlah, hanya kepunyaan Allooh-lah diin (agama) yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang MENGAMBIL PELINDUNG SELAIN ALLOOH (berkata): “Kami tidak menyembah mereka, MELAINKAN SUPAYA MEREKA MENDEKATKAN KAMI KEPADA ALLOOH dengan sedekat- dekatnya“. Sesungguhnya Allooh akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allooh tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”

Contohnya: perhatikanlah betapa ada di sebagian kalangan masyarakat yang berdo’a meminta-minta manfa’at ataupun meminta perlindungan dari bahaya / madhorot ke kuburan-kuburan Wali atau orang-orang yang dianggapnya shoolih, karena ia beranggapan bahwa Wali atau orang-orang shoolih yang sudah mati itu masih dapat menjadi “perantara” bagi terkabulnya permintaannya. Hal ini adalah kekeliruan yang nyata yang telah diperingatkan oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam surat Az Zumar (39) ayat 3 diatas.

Mengapa tidak berdo’a langsung kepada Allooh سبحانه وتعالى saja, sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an surat Al Ikhlaas (112) ayat 1-2 memerintahkan kaum Muslimin untuk meminta pada-Nya ?

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2

Artinya:
(1) “Katakanlah, “Dia lah Allooh, Yang Maha Esa
(2) “Allooh TEMPAT MEMINTA SEGALA SESUATU.”

Kemudian lihat Al Qur’an surat Al Bayyinah (98) ayat 5:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allooh dengan MEMURNIKAN KETAATAN kepada-Nya dalam (menjalankan) diin (agama) yang lurus[*], dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah ) diin yang lurus.”

[*] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allooh) dan jauh dari kesesatan.

Yang dimaksud “mereka” dalam ayat tersebut adalah kita semua. Kita tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى dalam keadaan tulus, murni dalam menjalankan diin yang lurus. Inilah hal yang merupakan realisasi dari “Laa ilaaha illallooh”.

Dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 6570 dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

Artinya:
Orang yang paling bahagia dengan syafa’atku adalah orang yang mengatakan Laa ilaaha illallooh, TULUS dari hatinya”.

Jadi, kita memahami “Laa ilaaha illallooh” itu jangan hanya seperti yang dipahami oleh orang awam, yaitu bahwa siapa yang semata-mata mengucapkan “Laa ilaaha illallooh” lantas seolah-olah otomatis ia akan masuk surga. Bukan seperti itu saja.

Jika seseorang sungguh-sungguh hanya memahami satu hadits itu saja, maka ia harus tahu bahwa: Orang yang ingin mendapatkan buah dan hasil dari “Laa ilaaha illallooh”, itu hendaknya harus TULUS datang dari hatinya, TIDAK TERCAMPUR dengan MOTIVASI SELAIN ALLOOH سبحانه وتعالى.

Dalam Hadits yang lain yaitu Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 5401 dan Al Imaam Muslim no: 33 dari ‘Utban bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

Artinya:
Sesungguhnya Allooh mengharamkan terhadap api neraka, kepada siapa yang mengatakan Laa ilaaha illallooh, karena MENCARI RIDHO ALLOOH سبحانه وتعالى”.

Jika mengatakan “Laa ilaaha illallooh” itu karena terpaksa, tidak ikhlas, tidak tulus, atau karena selain Allooh سبحانه وتعالى, maka tidak berlaku ucapan “Laa ilaaha illallooh” itu. Meskipun ucapan “Laa ilaaha illallooh” itu diwiridkan seribu kali atau berapa ribu kali, tetapi me-wirid-kannya itu karena ia ingin bisa terbang diatas air misalnya, berarti ucapannya itu tidak ikhlas karena Allooh سبحانه وتعالى.

Juga dalam suatu atsar dinyatakan bahwa:
Barangsiapa yang mengatakan “Laa ilaaha illallooh wahdahuu laasyariikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qodiir” (bahwa tidak ada yang berhaq diibadahi kecuali Allooh, tidak ada sekutu bagi-Nya, seluruh kerajaan dan segala puji adalah milik Allooh, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu); perkataan itu (diucapkan) dengan tulus-hati, serta hatinya membenarkan apa yang diucapkannya, maka langit terbuka sehingga terlihat orang yang mengatakannya dari ahli bumi, maka Allooh berhak untuk memberi kepada orang yang meminta kepada Allooh dan ia mengatakan kalimat ini”.

Maka siapa yang ingin dikabulkan permintaannya, ucapkanlah “Laa ilaaha illallooh wahdahuu laasyariikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qodiir” secara tulus dari hatinya. Dengan memahami arti kalimat itu. Jangan mengucapkan kalimat itu, tetapi tidak paham artinya.

Yakinilah oleh kita semua bahwa ibadah itu harus diutamakan. Jangan sampai kita berkomunikasi, ber-dzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى, tetapi tidak paham arti ucapan dzikirnya itu.

Hanya Allooh سبحانه وتعالى yang berhak kita ibadahi. Maka tidak boleh ada keraguan, karena bila kita masih ragu bahwa Allooh سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang berhak diibadahi, berarti kita “lebih awam” dibanding orang-orang musyrikin Mekkah di zaman dahulu. Karena orang musyrikin Mekkah ketika itu meskipun mereka itu menyembah berhala, tetapi bila ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan mengatakan Allooh سبحانه وتعالى lah yang menciptakan.

Berarti mereka beriman, tetapi beriman seperti itu barulah disebutTauhid Ar Rububiyyah”. Orang yang beriman dengan Tauhid Rububiyyah belum tentu beriman dalam Tauhid ‘Uluhiyyah. Karena Tauhid ada 3 macam: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Al Asma’ wash shifat dan Tauhid ‘Uluhiyyah.

Orang-orang musyrikin Mekkah itu beriman dalam Tauhid Rububiyah. Tetapi ketika ditawarkan agar mereka tidak menyembah berhala, melainkan hendaknya beribadah hanya kepada yang Satu, Dia lah Allooh سبحانه وتعالى. Maka ketika hal itu diproklamirkan, mereka menolak. Bahkan menyerang dan memerangi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dengan berbagai upaya, baik melalui cara damai ataupun cara intimidasi, sampai akhirnya beliau dan kaum muslimin diusir dari Mekkah. Itu semua hanya karena “Laa ilaaha illallooh”.

Maksud dari “Tauhid” adalah men-Tauhid-kan yang diibadahi yaitu Allooh سبحانه وتعالى, dan arah peribadatan dan penghambaan kita hanya satu yaitu kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Jangan menyembah kepada Nyi Roro Kidul, dsbnya. Sayangnya, tidak sedikit dari kaum muslimin yang ternyata masih percaya kepada tahayul, harus sesaji kepada dewa ini dan dewa itu, dst-nya. Padahal mereka seringkali mengucapkan “Laa ilaaha illallooh”, seharusnya mereka meminta pertolongan dan minta perlindungan itu hanya kepada yang Satu, yaitu Allooh سبحانه وتعالى. Kalau masih meminta pertolongan dan meminta perlindungan kepada selain Allooh سبحانه وتعالى, berarti mereka itu “selingkuh”. Dan “selingkuh” itu dalam perkara Tauhid disebut syirik.

Lihat Al Qur’an surat Yusuf (12) ayat 39:

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Artinya:
Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allooh yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?

Itu adalah pertanyaan yang tidak perlu jawaban. Karena tentu jawabannya adalah: Allooh yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.

Lihat Al Qur’an surat Ghofir / Al Mu’min (40) ayat 60:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Artinya:
Dan Robb-mu berfirman:”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah pada-Ku [*] akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina.”

[*] Yang dimaksud dengan ‘beribadah pada-Ku’ di sini ialah berdoa kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Maka “Laa ilaaha illallooh” itu mengandung konsekuensi. Tidak asal mengucapkannya. Konsekuensinya adalah tidak menyombongkan diri dari beribadah kepada Alloohسبحانه وتعالى.

7. Mencintai kalimatLaa ilaaha illallooh”.

Arti mencintai kalimat “Laa ilaaha illallooh” bukan berarti hanya sekedar wiridan dan tahlilan dengan dipimpin oleh seseorang, sebagaimana yang sering dilakukan oleh sebagian saudara kita. Atau pun mengucapkannya bersama-sama dalam suatu kelompok orang ketika acara walimahan, ada imam dan ma’mum-nya, ketika senang atau ketika kena musibah (kematian), dst-nya. Bukan yang demikian itu maksudnya.

Memang tidak dipungkiri bahwa seutama-utama dzikir adalah kalimat “Laa ilaaha illallooh”. Tetapi tata-cara dan seremonial seperti itu, darimana ajarannya ? Padahal perkara itu adalah tergolong ibadah. Dan kalau tergolong ibadah maka harus lah terpaku / mengikuti apa yang diajarkan, dituntunkan dan diwariskan oleh Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ …

Artinya:
Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allooh, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allooh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu…” (QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 31)

Yang dimaksud dengan “cintakepada Allooh سبحانه وتعالى dalam hal ini adalah sesuai dengan apa yang dituntunkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan itu merupakan konsekuensi dari “Laa ilaaha illallooh Muhammadur Rosuulullooh”.

Disamping itu, mencintai kalimat “Laa ilaaha illallooh” berarti otomatis juga seharusnya mencintai terhadap orang-orang yang mengikrarkan kalimat “Laa ilaaha illallooh”, serta orang-orang yang konsekuen mengamalkan ajaran dan syari’at Allooh سبحانه وتعالى. Dan orang yang mempunyai rasa cinta terhadap kalimat “Laa ilaaha illallooh” otomatis juga akan muncul rasa tidak suka apabila ada orang yang membatalkan diri dari pernyataan “Laa ilaaha illallooh” itu.

Intinya, yang dimaksud mencintai “Laa ilaaha illallooh” adalah: Dia juga mencintai orang yang ber-“Laa ilaaha illallooh”, yaitu kaum Muslimin. Sebaliknya pula, orang yang mengatakan “Laa ilaaha illallooh” itu mestinya juga punya sikap tidak suka kepada orang yang membatalkan “Laa ilaaha illallooh”.

Lihat Al Qur’an surat Al Baqoroh (2) ayat 165:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Artinya:
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allooh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allooh. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allooh. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzolim itu [*] mengetahui, ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allooh semuanya, dan bahwa Allooh amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

[*] Yang dimaksud dengan orang yang dzolim di sini, ialah orang-orang yang menyembah selain Allooh.

Lihat Al Qur’an surat Al Maa-idah (5) ayat 54:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allooh akan mendatangkan suatu kaum yang Allooh mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap LEMAH LEMBUT TERHADAP orang yang MUKMIN, dan bersikap KERAS TERHADAP orang-orang KAFIR; yang BERJIHAD di jalan Allooh, dan yang TIDAK TAKUT kepada CELAAN ORANG yang suka mencela. Itulah karunia Allooh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allooh Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”

Orang yang menjalankan “Laa ilaaha illallooh” dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم harus siap juga untuk menerima celaan dari orang. Sedangkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم saja tidak pernah lepas dari celaan. Beliau صلى الله عليه وسلم pernah juga dituduh sebagi pendusta, tukang sihir, orang gila, dsbnya. Bahkan beliau صلى الله عليه وسلم disebut sebagai “pemecah-belah” oleh kaum musyrikin Mekkah ketika itu. Mereka mengatakan: “Muhammad itu telah memecah-belah persatuan dan kesatuan kita, telah mencaci-maki Tuhan-Tuhan kita, telah membodohi apa yang telah kita impikan.”

Itulah julukan yang diberikan oleh kaum musyrikin kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tetapi beliau صلى الله عليه وسلم istiqomah, tegar, tidak berubah. Bahkan pernah diajak damai. Kaum musyrikin menawarkan untuk saling bergantian menyembah Tuhan. Satu tahun beliau صلى الله عليه وسلم dan kaum muslimin, diminta menyembah Tuhan mereka dan satu tahun kemudian bergantian lah mereka akan menyembah Allooh, Tuhan kaum muslimin. Maka dijawab dengan tegas oleh beliau صلى الله عليه وسلم sesuai dengan Firman Alloohسبحانه وتعالى dalam Al Qur’an surat Al Kaafiruun (109) ayat 6:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Artinya: “Lakum diinukum waliyadiin” (“Bagimu agamamu, bagiku agamaku”).

Tawaran orang musyrikin itu ditolak mentah-mentah ole Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Maka sebagai orang beriman, kita hendaknya yakin dengan “Laa ilaaha illallooh” dan dengan Al Islam. Menjalankan dengan konsekuen arti “Laa ilaaha illallooh” itu, walaupun mungkin berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman. Kita hendaknya tetap istiqomah.

Pelajaran lain yang juga perlu kita camkan pada diri kita dari Al Qur’an surat Al Maa-idah (5) ayat 54 diatas adalah bahwa SIFAT ORANG BERIMAN itu adalah:
1) Mencintai Allooh سبحانه وتعالى
2) Bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin
3) Bersikap keras terhadap orang-orang kaafir
4) Ber-jihad di jalan Allooh سبحانه وتعالى
5) Tidak takut celaan orang yang suka mencela.

Sungguh mengherankan apabila ada orang yang “mengaku ber-iman” tetapi ia bersikap lemah lembut serta bersahabat-nya itu justru adalah kepada orang-orang kaafir, sementara disisi lain ia malah memusuhi dan bersikap keras terhadap orang mukmin. Bukankah ini TERBALIK dari apa yang diperintahkan Allooh سبحانه وتعالى dalam Al Qur’an surat Al Maa-idah (5) ayat 54 diatas ?

Oleh karena itu, sangat penting diperhatikan kepada siapa al wala’ wal baro’ itu ditujukan. Jangan sampai ada orang yang “mengaku beriman” itu malah bersikap wala’ / loyal kepada orang-orang kaafir yang memusuhi Islam dan berupaya dengan segala cara untuk menghalangi tegaknya syari’at Islam; lalu sebaliknya ia justru bersikap baro’ kepada orang mukmin yang menyerukan serta mendakwahkan syari’at Islam.

Juga dalam Al Qur’an surat Al Maa-idah (5) ayat 54 diatas, dapat diambil pelajaran bahwa sifat orang beriman itu adalah ia tidak ragu untuk ber-jihad di jalan Allooh سبحانه وتعالى. Nah, kalau ada orang yang “mengaku ber-iman” tetapi ia membenci jihad fii sabiilillah, maka perlu dikoreksi ulang apakah pengakuan iman-nya itu benar ataukah palsu.

Demikian pula, ketika di dalam dakwahnya ia menjelaskan tentang syari’at jihad, lalu ada orang yang mencelanya dengan tuduhan “teroris” / “fundamentalis”, “golongan radikal” dan sebagainya; maka orang yang sungguh-sungguh dalam imannya kepada Allooh سبحانه وتعالى itu akan bersikap tegar, ia tidak takut pada celaan orang yang mencela. Apalah artinya celaan manusia bagi dirinya; karena yang ia kuatirkan hanyalah celaan dan kemurkaan Allooh سبحانه وتعالى di hari Kiamat nanti.

Dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 16 dan Al Imaam Muslim no: 43, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Artinya:
Ada tiga perkara, jika tiga perkara itu ada pada seseorang, maka orang itu akan menemui manisnya Iman, yaitu :
1) Menjadikan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم lebih ia cintai dibandingkan selain Allooh dan Rosuul-Nya.
2) Tidaklah mencintai seseorang kecuali karena Allooh سبحانه وتعالى.
3) Membenci untuk kembali dalam kekufuran (setelah Allooh سبحانه وتعالى selamatkan dirinya dari kekufuran), sebagaimana ia benci untuk dicampakkan kedalam api neraka.”

Syaikh Hafidz Al Hakami رحمه الله mengatakan dalam Kitab “Ma’arijul QobulJuz II / 424 :

وَعَلَامَةُ حُبِّ الْعَبْدِ رَبَّهُ تَقْدِيمُ مُحَابِّهِ وَإِنْ خَالَفَتْ هَوَاهُ وَبُغْضُ مَا يُبْغِضُ رَبُّهُ وَإِنَّ مَالَ إِلَيْهِ هَوَاهُ, وَمُوَالَاةُ مَنْ وَالَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمُعَادَاةُ مَنْ عَادَاهُ, وَاتِّبَاعُ رَسُولِهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَاقْتِفَاءُ أَثَرِهِ وَقَبُولُ هُدَاهُ

Artinya:
“Dan tanda (ciri) cintanya seseorang kepada Allooh سبحانه وتعالى adalah :
1) Ia mendahulukan (memprioritaskan) apa yang ia cintai (– Allooh dan Rosuul-Nya – pen.), betapapun ia harus menyelisihi hawa nafsunya.
2) Ia membenci apa yang Allooh سبحانه وتعالى benci, walaupun hawa-nafsunya cenderung simpati kepada apa yang Allooh سبحانه وتعالى benci itu.
3) Ia loyal kepada orang yang loyal kepada Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم.
4) Ia memusuhi orang yang memusuhi Allooh سبحانه وتعالى,
5) Ia mengikuti Rosuul-Nya dan mencukupkan diri untuk mengikuti peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan menerima petunjuk Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Maka jika kita mengatakan “Laa ilaaha illallooh” lalu bersikap seperti yang tersebut diatas, berarti pernyataan “Laa ilaaha illallooh” kita tersebut sangat berisi, sangat berharga, akan sangat bermakna dan bisa meng-harom-kan kita dari api neraka. Bisa menyebabkan kita masuk ke dalam surga, dan Allooh سبحانه وتعالى akan ridho kepada diri kita.

Itulah 7 perkara yang harus kita coba dalam diri kita, kita tumbuhkan, perkokoh dan kita tingkatkan selalu. Mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى menjadikan kita sebagai Ahlut Tauhiid, orang yang beriman, bukan orang-orang yang musyrikin dan Alloohسبحانه وتعالى mematikan kita dalam keadaan Islam dan Istiqomah.

TANYA JAWAB

Pertanyaan:
1) Dalam tayangan TV-TV sering diperlihatkan kepandaian tukang sulap, atau tukang ramal yang bisa meramal keadaan seseorang pada tahun-tahun yang akan datang. Yang demikian itu tentu merusak ke-Imanan dan ke-Tauhidan kita umat Islam. Apakah tukang ramal atau tukang sihir itu yang disebut Thoghut ?
2) Mohon penjelasan apakah yang dimaksud dengan Hadits Jibril.

Jawaban :
Tentang Thoghut sebaiknya dibahas dalam satu sesi tersendiri supaya lebih jelas, karena penjelasannya panjang tentang apa saja yang termasuk “Thoghut” itu. Secara definisi “Thoghut” berasal dari kata “Thogha”, artinya “melampaui batas”. Setiap yang melampaui batas, sikap itu disebut Thoghut. Kalau sekarang banyak peramal di TV-TV yang mengaku tahu apa yang ghoib, maka mereka itu sudah kaafir. Karena yang mengetahui tentang yang ghoib hanyalah Allooh سبحانه وتعالى.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al An’aam (6) ayat 59 :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya:
Dan pada sisi Allooh-lah kunci-kunci semua yang ghoib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”

Kalau kuncinya saja yang memegang dan yang mengetahui hanya Allooh سبحانه وتعالى, tentunya tidak mungkin ada yang tahu dan bisa membuka pintu-pintunya.

Kalau pintunya bisa terbuka berarti bukan melalui Allooh سبحانه وتعالى, melainkan melalui syaithoon. Orang yang bekerjasama dengan syaithoon adalah syirik dan orang yang mengaku mengetahui perkara yang ghoib, berarti ia kufur. Berarti ia syirik dan kufur. Na’uuzubillaahi min dzaalik.

Dalam hadits shohiih Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 4405, dari shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنهما, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَافِى الْاَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي َنفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ بِاَيٍّ اَرْضٍ تَمُوْتُ اِنَّ للهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya:
Kunci yang ghoib itu ada lima perkara, lalu beliau membaca, “Sesungguhnya hanya disisi Allooh ilmu tentang Hari Kiamat, dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakanya besok, dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allooh Maha Mengetahui, Maha Mengenal.”

Maka bila ada orang yang mengaku tahu dan bisa meramal tentang hari esok, berarti ia sudah melampaui Allooh سبحانه وتعالى. Itu sangat berbahaya. Maka sekali-kali jangan mencoba-coba ingin tahu yang ghoib, atau meramal dan ingin tahu kejadian yang akan datang. Kalau ada orang yang mengaku tahu tentang perkara yang ghoib maka ia tergolong Thoghut.

Tentang Hadits Jibril adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Al Imaam Muslim no: 8, dari ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه :

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya:
Umar bin Khoththoob رضي الله عنه berkata : “Suatu ketika, kami (para Shohabat) duduk di dekat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tiba-tiba muncullah kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun diantara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan ke lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya diatas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allooh, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rosuul Allooh; menegakkan sholat; menunaikan zakat; shoum di bulan Romadhon, dan engkau menunaikan haji ke Baitullooh, jika engkau telah mampu melakukannya,”
Lelaki itu berkata, “Engkau benar”, maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab, “Iman adalah engkau beriman kepada Allooh; malaikat-Nya; kitab-kitab-Nya; para Rosuul-Nya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allooh yang baik dan yang buruk,”
Ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allooh seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Ia berkata, “Engkau benar.”
Lelaki itu bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadinya hari Kiamat?
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai ‘Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?
Aku menjawab, “Allooh dan Rosuul-Nya lebih mengetahui,”
Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.”

Atas kejadian itu lah, maka Hadits yang meriwayatkan kejadian tersebut oleh para ‘ulama disebut sebagai Hadits Jibril.

Pertanyaan:

Kita ini muslim, hidup di negara bukan Islam. Bagaimanakah sikap kita?

Jawaban:
Sikap kita tentunya harus bersikap sebagai muslim. Negara ini juga menjamin kepada setiap muslim menjalankan syariat Islam. Sudah menjadi kesepakatan para pendiri negara, bahwa kaum muslimin diberi kebebasan menjalankan syariatnya. Yang penting bagi kita sebagai muslim adalah apa yang kita tahu bahwa sesuatu itu berasal dari Islam, maka hendaknya dipraktekkan. Misalnya melaksanakan sholat fardhu, laki-laki harus sholat fardhu di Masjid berjama’ah, maka lakukanlah.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 34 :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

Artinya:
Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita.”

Maka lakukanlah sebagai pemimpin dalam keluarga dan jangan sampai ada wanita yang memimpin para laki-laki. Tidak sah sholat orang laki-laki yang ber-ma’mum kepada wanita.

Dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 4425, dari Shohabat Abu Bakroh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Artinya:
Tidaklah akan berhasil sukses suatu kaum yang dipimpin oleh wanita.”

Maka kalau kita laki-laki sebagai pemimpin, perintahkanlah semua wanita yang ada dibawah tanggung jawab kita itu untuk harus berjilbab, menutup aurot, dst-nya. Itu lah diantara Syari’at Islam. Dan agar lebih banyak tahu tentang Syari’at Islam, rajin-rajinlah mengaji.

Sekian bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 28 Dzul Hijjah 1430 H – 14 Desember 2009 M

—– oOo —–

Silahkan download PDF : Iman Kepada Allooh-2 AQI 141209 FNL

Advertisements
4 Comments leave one →
  1. catur permalink
    26 June 2011 8:35 pm

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh……….. maaf tolong diperjelas apa itu
    * Tauhid rububiyyah
    * Tauhid ‘uluhiyyah
    * Tauhid al asma’ wash shifat
    agar tauhid sempurna dihadapan Allah SWT.

    • 30 June 2011 5:03 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      1. Tauhid Rububiyyah = adalah keyakinan kita terhadap Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa, bahwa Dia lah saja yang Maha Pencipta, Maha Memberi Rizqy, Maha Menghidupkan, Maha Mematikan, Maha Pemberi Manfaat, dan Madhorot dan yang Maha Menguasai dan Mengatur segala makhluk-Nya
      2. Tauhid ‘Uluhiyyah = adalah keyakinan kita terhadap Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa, bahwa Dia lah saja yang Maha berhak dengan sebenarnya untuk diibadahi; dan dipersembahkan kepada-Nya seluruh bentuk persembahan.
      3. Tauhid Al Asmaa’ Wash Shifaat = adalah keyakinan kita terhadap Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa, bahwa Allooh memiliki Nama-Nama yang baik dan Shifat-Shifat yang Tinggi, sebagaimana ditetapkan dan diberitakan oleh Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa dalam Al Qur’an dan oleh Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam didalam Sunnah-Sunnahnya, dan bahwa Allooh tidak ada yang menyerupai-Nya segala sesuatu apa pun, dan bahwa Allooh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

      3 (Tiga) hal diatas dapatlah kita simpulkan sebagaimana Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa memberitakannya kepada kita dalam Ummul Qur’an (QS. Al Faatihah) sebagai berikut:
      – Tauhid Rububiyyah terdapat dalam ayat 2 dan ayat 4
      – Tauhid ‘Uluhiyyah terdapat dalam ayat 5, 6 dan 7
      – Tauhid Al Asmaa’ Wash Shifaat terdapat dalam ayat 1, ayat 3

      Semoga kita diberikan kemudahan untuk memiliki keyakinan yang benar dan kukuh, serta istiqomah didalamnya.. Barokalloohu fiika

  2. 12 August 2013 12:01 pm

    Assalamu’alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

    Pak Ustadz Mohon format PDF nya untuk kajian ini.

    Jazakallohu Khoiron

    • 13 August 2013 8:39 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Alhamdulillah, format PDF artikel ini sekarang telah bisa antum download… Barokalloohu fiika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: