Skip to content

Bacaan Sholat (Bagian ke-3)

29 June 2010

BACAAN SHOLAT (Bagian-3)


بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Segala puji bagi Allooh سبحانه وتعالى, yang telah menciptakan manusia untuk berhamba kepada-Nya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada penutup segenap Nabi dan Rosuul, Muhammad bin ‘Abdillaah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم beserta keluarganya, shohabatnya dan pengikut setianya hingga akhir zaman.

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimiin, pembahasan kali ini kita lanjutkan dengan tuntunan Bacaan Sholat (Bagian 3) berdasarkan hadits-hadits yang shohiih, yang membahas tentang masalah Bacaan Rukuu’ dan Bacaan I’tidaal.

Semoga dapat bermanfaat dan menjadi amal shoolih bagi yang menulis, membaca dan menerapkannya.

Jika kita telah usai dari membaca Al Faatihah dan Bacaan Surat, maka berikutnya adalah ikuti urutan bacaan sholat sebagai berikut:

1. BACAAN TAKBIIROTUL INTIQOOL:

 

 

اللَّهُ أَكْبَرُ

 

“Alloohu Akbar”

Artinya:

“Allooh Maha Besar”

(Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhoory dan Imam Muslim dari Abu Hurairoh dan Ali bin Abi Tholib رضي الله عنهما)

2. BACAAN RUKUU’:

 

 

 

2.1. PILIHAN KE-1:

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ, اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

 

“Subhaanakalloohumma Robbanaa wa Bihamdika Alloohummagh Firlii.”

Artinya:

Maha Suci Allooh, Robb kami dan Maha Terpuji Engkau ya Allooh, ampunilah aku.”

(Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhoory dan Imam Muslim dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)

 

2.2. PILIHAN KE-2:

 

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ

“Subhaana robbiyal ‘adziimi”

Artinya:

“Maha Suci Robb-ku yang Maha Agung.”

(Diriwayatkan oleh Imam Ad Daaruqutni, di-shohiihkan oleh Syeikh Nasiruddin Al Albaany  dari Hudzaifah Ibnul Yaman  رضي الله عنه)

 

2.3. PILIHAN KE-3:

 

اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِى وَبَصَرِى وَمُخِّى وَعَظْمِى وَعَصَبِى

 

“Alloohumma laka roka’tu wa bika aamantu wa laka aslamtu, khosya’a laka sam’ii wa bashorii wa mukhkhii wa ‘adzmii wa ‘ashobii.”

Artinya:

Ya Allooh kepada-Mu aku rukuu’, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berpasrah. Hanya kepada-Mu pendengaranku, penglihatanku, pikiranku, tulangku, uratku berkhusyu’.”

(Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Maajah dari Ali bin Abi Tholib  رضي الله عنه)

2.4. PILIHAN KE-4:

 

سبحان ربي العظيم وبحمده

 

“Subhaana robbiyal ‘adziimi wa bihamdihi.”

Artinya:

Maha Suci Robb-ku yang Maha Agung dan Maha Terpuji.”

(Diriwayatkan oleh Imam Ad Daaruqutni, di-shohiihkan oleh Syeikh Nasiruddin Al Albaany dalam buku “Shifat Sholat Nabi”,, dari Hudzaifah Ibnul Yaman  رضي الله عنه)

 

2.5. PILIHAN KE-5:

 

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ، رَبُّ الْمََلائِكَةِ وَالرُّوحِ

 

“Subbuuhun qudduusun robbul malaa ‘ikati warruuhi”

Artinya:

Maha Suci Penguasa malaikat dan ruh (nyawa).”

(Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Abu Dawud dan Imam Nasaa’I dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)

Keterangan:

Bacaan-bacaan ketika rukuu’ ini ulanglah beberapa kali, sampai dengan Imam Sholat memberi aba-aba untuk bangkit untuk I’tidaal. Kecuali jika sholat sendirian, maka bacalah sekehendak Anda.

3. BACAAN I’TIDAAL:

 

 

3.1. PILIHAN KE-1:

 

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

 

“Sami ‘Alloohu liman hamidah Robbanaa wa lakal hamdu.”

Artinya:

Maha Mendengar Allooh terhadap yang memuji-Nya, Robb kami hanya untuk-Mu segala pujian.”

(Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhoory dan Imam Muslim dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

 

3.2. PILIHAN KE-2:

 

اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

“Alloohumma Robbanaa walakal hamdu.”

Artinya:

Ya Allooh, Robb kami hanya untuk-Mu segala puji.”

(Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhoory dan Imam Muslim dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

 

3.3. PILIHAN KE-3:

 

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. اللَّهُمّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءُ اْلأرْضِ، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

 

“Sami’ Alloohu liman hamidahu. Alloohumma robbanaa lakal hamdu mil ussamaawati wa mil ul ardhi wa mil u maa syi’ta min syai im ba’du.”

Artinya:

Maha Mendengar Allooh, terhadap siapa yang memuji-Nya. Ya Allooh, Robb kami, hanya untuk-Mu segala puji. Sepenuh langit, sepenuh bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari apa pun.”

(Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Maajah dari Ibnu Abi Aufaa رضي الله عنه)

 

3.4. PILIHAN KE-4:

 

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

“Robbanaa wa lakal hamdu, hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi.”

Artinya:

Robb kami, hanya kepada-Mu segala puji, dengan pujian yang banyak, baik lagi berkah.”

(Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhoory dan Imam Muslim dari Rifa’ah bin Rofi’ رضي الله عنه)

 

—–

 

(Bersambung ke “Bacaan Sholat – Bagian ke 4”)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, 17 Rojab 1431 H – 29 Juni 2010 M.

—–oOo—–

Silakan download PDF: BACAAN SHOLAT (Bag.3)

Advertisements
5 Comments leave one →
  1. Nanang permalink
    4 August 2010 12:32 pm

    Ustadz maaf pertanyaan saya agak sensitif
    Ustadz memakai rujukan buku Sifat Sholat Nabi karya Syaikh Albaany. tetapi saya lihat di forum2 dan blog internet katanya yang dijelaskanya sesat. Mohon jawabannya, karena saya baru belajar.

    • 4 August 2010 4:59 pm

      Sebelumnya, Ustadz ucapkan terimakasih atas atensi antum. Hanya saja ada pertanyaan dari Ustadz, siapakah yang dinyatakan sesat dan apakah kesesatannya, dan blog atau forum siapa yang menyatakan sesat tersebut?
      Tetapi agar kita tenang, maka sebagaimana Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Sebaik-baik perkataan adalah firman Allooh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Sholalloohu ‘Alaihi Wassalam.
      Jadi kalau segala sesuatu itu titik tolaknya adalah Al Qur’an Al Kariim dan Sunnah yang Shohiihah serta pemahaman para shohabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta para imam ahlus sunnah wal jama’ah yang mu’tabar maka ambillah, sebab itu lah jalan yang selamat.
      Ada pun jika berasal dari selain itu semua maka hindarilah.

  2. Nanang permalink
    15 August 2010 12:52 pm

    Mengenal Sifat Shalat Nabi
    Agar shalat kita mengikuti sifat shalat nabi, maka imam-imam
    ahlusunnah (4 Madzab) telah menyusun kitab-kitab fiqh shalat, dalam
    kitab2 tersebut telah dibahas dengan lengkap mengenai rukun shalat(juga
    rukun tiap-tiap rukun shalat tersebut), syarat syahnya shalat , sunah-
    sunah dalam shalat dsb.. dengan dalil-dalil dan hujjah yg shahih. Fiqh
    Shalat inilah yg dipegang dan dipelihara oleh ulama-ulama Ahlusunnah
    dan umat muslim diseluruh dunia.
    Kebanyakan muslimin sekarang tidak tahu mana yang rukun wajib
    dalam shalat dan mana yang sunah (tidak wajib) dalam shalat. Musuh-
    musuh islam dengan berkedok islam/salafy/ ahlusunnah telah
    menyesatkan umat ini dengan membuat cara-cara shalat dengan
    membuat dusta dengan dalil-dalil yang tidak lengkap. Diantara buku-
    buku yang menyesatkan ini adalah buku dengn judul “Sifat Shalat
    Nabi” yang ditulis oleh Syaikh Nashiruddin Albany, seorang
    syaikh dari sekte Wahabi yang sering mengaku-ngaku dengan
    nama salafy/darul hadits dsb.
    Adapun “rukun shalat” menurut imam ahlusunnah akan
    dijelaskan secara singkat dibawah ini :

    Rukun shalat ada 17
    1. Niat,
    sebagaimana hadits 1 diatas “Apabila engkau berdiri untuk melakukan
    shalat…
    ” dan Hadits Rasul saw “sesungguhnya amal itu dengan niat”.
    Berniat dalam hati untuk melakukan shalat dan menjelaskan sebabnya
    atau waktunya (kalau memang shalat tersebut memiliki sebab atau
    waktu tertentu) dan diniatkan fardliyahnya (kewajibannya) pada shalat
    fardlu (Mukhtasar Harari, 17 rukun shalat, hal 17).
    Masalah lafadh niat itu adalah demi Ta ’kid saja, (penguat dari apa yg
    diniatkan), itu saja, berkata shohibul Mughniy: Lafdh bimaa nawaahu
    kaana ta ’kiidan (Lafadz dari apa apa yg diniatkan itu adalah demi penguat
    niat saja) (Al Mughniy Juz 1 hal 278), demikian pula dijelaskan pd Syarh
    Imam Al Baijuri Juz 1 hal 217 bahwa lafadh niat bukan wajib, ia hanyalah
    untuk membantu saja.
    Niat shalat dilafadzkan sebelum takbir adalah sunnah, untuk menuntun
    hati, sebagai mana dalam hadits: “Tidak akan lurus iman/yaqin seorang
    hamba sebelum hatinya betul, tidak akan betul/lurus hati seorang hamba
    sebelum lisannya lurus
    ”. Tapi karena niat adalah wajib dilakukan pada
    saat beramal (mu’tarinan bil’amal).” Maka pada saat mengucaplan lafadz
    Takbir “Allahhu Akbar”, bersamaan ia harus berniat dalam hati,
    minimum dalam shalat wajib/fardhu ,contohnya : “usholli
    fardhaddhuhri
    ” (fathul mu’in).
    Inilah perkara yang sangat penting dalam rukun niat, tapi kitab
    sifat shalat karangan Albany tidak menganggap sebagai perkara
    yang penting. Maka lihat kebanyakan Wahabi, jika ia
    shalat mereka “Berniat dalam hati tapi sebelum bertakbir dan
    tidak bersamaan dengan amal (takbir)
    ” maka tidak syahlah
    shalat mereka menurut fiqih ahlusunnah yang masyhur. Itu salah satunya dikutip dr salah satu blog.

    Maaf ngeditnya lewat hp, jd bacaanya keputus-putus, ni ada lagi Ustadz kata mereka

    Kebanyakan Wahabi, dalam shalat tidak membaca “Basmallah
    dalam alfatihah. Maka shalat seperti ini tidaklah syah menurut
    Ahlusunnah. (Ada yang membaca “basmallah” tapi tidak
    mengeraskan suaranya tapi ada juga yang tidak membaca
    basmallah” sama sekali).
    – Menngenai posisi kedua tangan (bersedekap) setelah takbir
    (pada waktu berdiri), Berkata Alhafidh Imam Nawawi :
    Meletakkannya dibawah dadanya dan diatas pusarnya, inilah
    madzhab kita yg masyhur, dan demikianlah pendapat Jumhur
    (terbanyak), dalam pendapat Hanafi dan beberapa imam lainnya
    adalah menaruh kedua tangan dibawah pusar, menurut Imam
    Malik boleh memilih antara menaruh kedua tangan dibawah
    dadanya atau melepaskannya kebawah dan ini pendapat Jumhur
    dalam mazhabnya dan yg masyhur pada mereka
    ” (Syarh Imam
    Nawawi ala shahih Muslim Juz 4 hal 114)..
    Dari penjelasan ini fahamlah kita bahwa pendapat yg Jumhur
    (kesepakatan terbanyak dari seluruh Imam dan Muhaddits)
    adalah menaruh kedua tangan diantara dada dan pusar, walaupun
    riwayat yg mengatakan diatas dada itu shahih, namun pendapat
    Ibn Mundzir “bahwa hal itu tak ada kejelasan yg nyata, bahwa
    Nabi saw menaruh kedua tangannya diatas dada, maka orang
    boleh memilih
    .” (Aunul Ma’bud Juz 2 hal 323.
    Adapun kitab “Sifat Shalat Nabi” yg ditulis Syaikh Nashiruddin Albaany
    adalah kitab yg mengajarkan kesesatan!. Dalam buku ini Albaany
    mengajarkan satu lagi kesesatan dalam cara shalat yaitu “tangan
    bersedekap diatas dada
    ”. Sungguh ini adalah perkataan2 yang menyelisihi
    imam 4 madzab Ahlusunnah! Baca artikel saya ttg “Kesesatan Syaikh
    Nashiruddin Albani “.

    …nyambung lagi…

    – Lagi-lagi Syaikh Bin Baaz (Wahaby) membuat bid’ah baru dalam
    shalat, yaitu “Tangan bersedekap pada waktu i’tidal”….ini adalah
    bid’ah yang dibuat-buat. Tidak ada dalil yang menunjukan perkara
    ini, dan hal ini tidak pula dicontohkan oleh Rasulullah dan tidak
    dijumpai dalam fatwa-fatwa imam ahlusunnah (imam-imam 4
    madzab). Lihatlah orang-orang yg terpengaruh kitab sesat “Sifat
    Shalat Nabi karya Albaany” mereka merasa shalat mereka yang
    paling benar dan mereka bersedekap setelah i’tidal (ini adalah
    bid’ah yang nyata!).

    Ustadz saya jd bingung. Mohon bantuannya ustadz,

    ni semua di kutip dari
    forum.nu.or.id/viewtopic.php?f=4&t=764

    • 16 August 2010 11:47 pm

      1) Melafadzkan niat:

      Perkataan para ‘Ulama siapa pun bukan hujjah, jangankan orang-orang muta’akhhiriin/ mu’ashiriin (orang-orang generasi setelah abad ke-3 H), generasi shohabat sekali pun juga bukan merupakan hujjah kecuali jika merupakan ‘ijma atau kesepakatan.

      Seperti telah diungkapkan oleh Imaam Maalik رحمه الله (Imaam Daaruh Hijroh & guru dari Imaam Syafi’iy رحمه الله), bahwa,”Setiap orang (siapa pun) boleh diambil dan boleh ditolak perkataannya, kecuali jika berasal dari yang ada dalam kuburan ini” (sambil beliau mengisyaratkan kepada kuburan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم).

      Tentang Melafadzkan Niat, maka: TIDAK BISA DIBANTAH, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم TIDAK PERNAH mencontohkan, mengucapkan atau para shohabat meriwayatkan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melafadzkan bacaan niat, misalnya dengan mengatakan “Usholli….”

      Bahkan kata para ‘Ulama yang telah meneliti berbagai literatur tentang sholat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, mereka tidak menemui ada Hadits — jangankan shohiih, bahkan yang dho’iif (lemah) pun — tidak ditemukan, seperti misalnya dikatakan oleh Ibnul Qoyyim Al Jauziyah رحمه الله dalam kitabnya: Zaadul Ma’aad , ketika beliau menjelaskan tentang fasal-fasal bagaimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم beribadah, berkenaan dengan Wudhu, beliau mengatakan: “Rosuul TIDAK PERNAH mengawali Wudhu atau Sholat dengan mengatakan diawalnya ‘Nawaitu rof’al hadatsi’, begitupun para Shohabat sama sekali tidak seorang pun dari mereka meriwayatkan walau pun satu huruf dari Rosuul صلى الله عليه وسلم tentang melafadzkan niat itu, tidak dengan sanad yang shohiih, tidak pula dengan sanad yang dho’iif”.

      Oleh karena itu, bagi kita, cukup lah dengan apa yang berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan jangan terbawa oleh perasaan was-was sehingga dengan prasangka bahwa bila melafadzkan niat dengan mulut, maka ibadah kita menjadi lebih yakin.

      2) Tidak men-jaharkan “Basmallah” dalam membaca Al Faatihah dalam sholat:
      Yang benar adalah bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mencontohkan kepada kita dalam setiap sholatnya dengan men-sirr-kan “Basmallah” dan men-jahar-kan Al Faatihah sejak membaca “Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiiin…” sebagaimana Anas bin Maalik رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman رضي الله عنهم, membuka bacaan Al Faatihah dengan “Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiiin…” (Atsar ini diriwayatkan oleh Imaam Syaafi’iy رحمه الله dalam Musnad-nya, Imaam Ahmad bin Hambal رحمه الله dalam Musnad-nya, Ibnu Huzaimah رحمه الله dalam Shohiihnya dan Syaikh Syu’aiib al Arnauuth, dan Syaikh Muhammad Al A’dzoomy menshohiihkan sanad Hadits ini).

      Oleh karena itu, cukup bagi kita contoh ini sebagai pedoman.

      3) Posisi kedua tangan (bersedekap) diatas dada setelah takbir:
      Dalam Hadits diriwayatkan oleh Waa’il bin Hujr رضي الله عنه, dimana beliau berkata: “Aku hadir bersama Rosuul صلى الله عليه وسلم ketika beliau masuk ke masjid, lalu masuk kedalam Mihroob lalu mengangkat kedua tangannya seraya bertakbiir, kemudian meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya diatas dada.” (Hadits Riwayat Imaam Al Baihaqy رحمه الله dalam As Sunnan Al Kubro)

      Dan juga melalui Thoowus رضي الله عنه, bahwa, “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya dan memegang erat diatas dadanya, sedang beliau dalam keadaan sholat.” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud رحمه الله dalam Sunnannya)

      Juga dari Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه ketika menafsirkan ayat:
      فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (“Fasholli lirobbika wan har”) (QS Al Kautsaar ayat 2), beliau berkata: “Meletakkan tangan kanannya diatas lengan kiri, kemudian meletakkan keduanya diatas dadanya dalam sholat.” (Diriwayatkan oleh Al Imaam As Suyuuthy رحمه الله dalam Jaami’ul Ahadits).

      Dengan demikian jelas bahwa posisi tangan dalam sholat setelah takbiir adalah diatas dada.

      4) Tangan bersedekap pada waktu i’tidal:
      Sebagaimana kita ketahui, bahwa posisi tangan kita ketika sholat adalah diatas dada. Dan itu adalah Sunnah Rosuul صلى الله عليه وسلم, bukan Rukun dan bukan Syarat bagi Sholat. Akan tetapi perpindahan posisi tangan dari gerakan ke gerakan adalah karena adanya contoh Rosuul صلى الله عليه وسلم untuk meletakkan posisi tangan tersebut. Karena itu, kita mengikuti.

      Namun, posisi tangan setelah Ruku’ adalah tidak dijelaskan oleh Rosuul صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu, maka menurut pemahaman awal, maka tangan kembali ke posisi awal (yakni kembali keatas dada). Tetapi jika seseorang menjulurkan tangannya dan tidak meletakkannya kembali diatas dada, maka tidak membatalkan sholat, hanya saja meninggalkan sesuatu yang lebih utama.

      5) Tentang Wahhaaby:
      Maka renungkanlah berikut ini, mudah-mudahan menjadi jawaban yang cukup.

      Perlu diketahui bahwa Wahhaaby itu terdiri dari 2 unsur:
      -Kata “Wahhaab
      -Kata “Yaa’ Nisbaah

      Adapun kata “Wahhaab” tidak perlu aneh, karena itu nama Allooh. Dalam Al Qur’an surat Aali Imron ayat 8:

      رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

      3.8. (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.
      Berkata Syaikh ‘Abdur Rohmaan As Sa’dy, “Arti Al Wahhaab adalah luas pemberian-Nya dan anugerah-Nya, banyak kebajikan-Nya sehingga sampai pada seluruh makhluk.”

      Sedangkan kata “Yaa’ Nisbaah” dalam bahasa Arab digunakan pada orang yang menisbatkan diri pada Al Wahhaab itu, sehingga disebut Wahhaaby.
      Jika ini yang dimaksud, maka kita sebagai makhluk Allooh سبحانه وتعالى dan ummat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tidak perlu aneh, tidak perlu takut dan tidak perlu gentar, karena memang kita adalah orang yang mengikuti syari’at Allooh سبحانه وتعالى.
      Jadi jika seseorang benar-benar komitmen tuntunan ajaran dan syari’at Allooh سبحانه وتعالى, maka orang tersebut boleh disebut Wahhaaby.

      Namun, jika yang dimaksud Wahhaaby itu adalah orang yang dinisbatkan pada Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab, seorang warga Saudi Arabia, maka tidak boleh; karena bagaimana mungkin orang mengikuti Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab, padahal dia tidak disuruh kecuali agar mengikuti Muhammad bin ‘Abdillaah bin Abdil Muththolib صلى الله عليه وسلم.

      ‘Abdullooh bin Mas’uud berkata, “Ikutilah oleh kalian Muhammad صلى الله عليه وسلم, dan jangan kalian mengada-ada sesuatu yang baru (bid’ah). Sungguh kalian sudah dicukupi” (lihat Syarah Ushuul I’tiqood, karya Imaam Al Laalika’i).

      Juga Imaam Maalik bin Anas berkata, “Sesuatu yang pada zaman Rosuul tidak merupakan bagian dari Islam, maka tidak boleh hari ini disebut Islam.

      Terlebih lagi Allooh سبحانه وتعالى berfirman, dalam Surat At Taubah ayat 100,

      وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

      9.100. “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

      Kata Imaam Ibnu Katsiir, “Allooh سبحانه وتعالى memberikan berita tentang ridho-Nya terhadap para pendahulu ummat dari kalangan Muhajirin dan Anshoor dan pengikut mereka yang setia, dan bahwa mereka sekalian ridho terhadap Allooh bahwa Allooh siapkan untuk mereka Surga Naa’iim yang kenikmatannya tidak berujung.”

      Kita hanya disuruh untuk mengikuti Muhammad صلى الله عليه وسلم, dan itu adalah jalan kita menuju Allooh سبحانه وتعالى. Adapun, siapa pun selain beliau, tidak ada yang diwasiati untuk mengikutinya kecuali Khulafaa’ur Rosyidiin. Jangankan Muhammad bin Abdul Wahhaab, seorang ‘Ulama yang lahir abad 12 H, orang yang lebih dulu dari beliau pun tidak disuruh untuk mengikuti terlebih jika menyelisihi syari’at Muhammad صلى الله عليه وسلم. Tidak Imaam yang 4 madzhab, Tidak pula yang lain. Walau pun, jika mereka adalah setia mengikuti Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan mereka tepat memahami dan menjalankan ajaran sesuai dengan ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم maka kita mengikuti mereka; namun jika tidak, maka kita pun tidak akan mengikuti mereka.

      Seperti dikatakan oleh ‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه, bahwa, “Hampir langit menghujani kalian dengan batu, aku mengatakan “Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda”, sedangkan kalian mengatakan “Abu Bakar dan ‘Umar berkata begini dan begitu”.”

      Juga Imaam Ahmad mengatakan,“Aku terheran-heran pada suatu kaum yang mengetahui Sanad dan keshohiihannya, tetapi mereka justru pergi pada pendapat Sofyan (– maksudnya pendapat orang–).

      Karena kebenaran itu adalah jika dibenarkan oleh Syari’at, maka dari itu Rosuul صلى الله عليه وسلم pernah mengatakan kepada Abu Hurairoh رضي الله عنه yang suatu hari ditugasi Rosuul صلى الله عليه وسلم untuk menjaga harta Baytul Maal, lalu diajari oleh syaithoon tentang membaca ayat kursi; Rosuul صلى الله عليه وسلم kemudian mengatakan, “Dia telah mengajarimu kebenaran, padahal dia sendiri adalah pendusta ulung.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory). Maka perhatikan lah bahwa Rosuul صلى الله عليه وسلم membenarkan untuk mengambil pelajaran dari syaithoon, jika itu memang adalah kebenaran.

      Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa jika suatu kebenaran itu bertolak dari kebenaran yang berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka kita ambil. Imaam atau bukan Imaam.

  3. 19 December 2011 6:06 am

    Syukron ustad…. Jazakamullah khairan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: