Skip to content

Bulan Sabit & Bintang BUKAN Lambang Islam

29 November 2012

BULAN SABIT & BINTANG BUKAN LAMBANG ISLAM

Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.M.Mpd

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Dalam bahasan yang lalu telah dijelaskan sebagian diantara begitu banyak simbol-simbol yang digunakan oleh Freemasonry Yahudi, yang bahkan diantara simbol tersebut tidak jarang pula dipakai oleh kaum Muslimin, seperti simbol Bintang segi delapan. Karena seringnya simbol ini digunakan sebagai dekoratif masjid atau sesuatu yang berkaitan dengan Islam, sehingga terbentuklah opini bahwa Bintang segi delapan adalah merupakan ikon bagi Islam. Padahal anggapan tersebut adalah keliru karena apabila ditelusuri lebih lanjut, simbol bintang segi delapan (the 8 pointed star atau dikenal sebagai the Star of Chaos) bukanlah bagian daripada Islam, dan tidak semestinya digunakan oleh kaum Muslimin karena ia adalah berasal dari kepercayaan paganisme. (Baca kembali ceramah berjudul “Keberadaan Freemasonry di Indonesia” pada Blog ini atau klik: http://ustadzrofii.wordpress.com/2012/10/27/keberadaan-freemasonry-di-indonesia/#more-4361)

Tampak pada foto-foto berikut ini, penggunaan Bintang segi delapan yang telah salah kaprah digunakan sebagai dekoratif masjid di berbagai belahan dunia:

Pictured is a gilded 8-point star in the center of the dome of Mosque Maryam in Chicago, IL. Calligraphy inscribed around the dome bears the 35th verse from the 24th Surah “An Nuur” and the Name of Allooh on each pillar. Photo: Kenneth Muhammad (Dalam foto terlihat bintang segi delapan berwarna keemasan di tengah kubah Masjid Maryam di Chicago, Illinois, USA. Kaligrafi yang tertulis disekitar kubah berisi ayat ke-35 dari Surat ke 24 yakni Surat An Nuur dan nama Allooh ditulis pada masing-masing pilar. Foto: Kenneth Muhammad)

(sumber: http://www.finalcall.com/artman/publish/article_4281.shtml)

The 8-point star windows in a mosque in Abu Dhabi (Bintang segi delapan pada jendela-jendela masjid di Abu Dhabi)

 

The eight point star of a stained glass window in King Abdul Aziz mosque in Marbella, Spain (Bintang segi delapan pada jendela kaca di masjid King Abdul Aziz di Marbella, Spanyol)

Simbol Bintang segi delapan (the 8 pointed star) sendiri sebenarnya justru berkaitan dengan the Star of Ishtar yang berasal dari paganisme Babylonia dan Assyria. Ishtar, menurut kepercayaan mereka adalah dewi perang Babylonia. Dia dikenal pula sebagai dewi nafsu/ birahi – perang dan prostitusi, serta dikenal pula sebagai dewi Venus.

The symbols of  Shamash (the sun), Sin (the moon) and Ishtar (star). Ishtar, the Babylonian-Assyrian warrior goddess. She is known as the Babylonian goddess of passion-war- prostitution, the Babylonian version of Inanna, and later identified with goddess Venus.

(sumber: http://mythologyversusreligion.ning.com/profiles/blogs/sumerian-babylonian-assyrian-and-phoenician-gods-and-goddesses)


References to Venus as early as 3000 BC are known from evidence at Uruk, an important early Sumerian city in southern Iraq. Inanna is Venus, known later as Ishtar, and the Uruk tablets specify her celestial identity with the symbol for star: an eight-pointed star (Referensi paling tua dari Venus adalah berasal dari tahun 3000 SM yang dikenal dari sebuah bukti di Uruk, yakni kota penting paling awal dari kaum Sumeria di Irak selatan. Inanna adalah Venus, yang kemudian dikenal sebagai Ishtar, dan lempengan Uruk ini menunjukkan bahwa Ishtar / Venus dilambangkan dengan simbol “Bintang”: sebuah bintang bersudut delapan).

(sumber: http://doormann.tripod.com/asssky.htm)

Nah, disamping kesalahkaprahan tentang penggunaan simbol Bintang segi delapan, maka berikut ini akan kita bahas juga suatu simbol yang karena banyaknya / seringnya digunakan oleh kaum Muslimin di berbagai belahan dunia, sehingga seringkali dikonotasikan bahwa ia adalah lambang Islam, padahaL sesungguhnya ia BUKAN lah bagian daripada Islam. Simbol tersebut adalah simbol “Bulan Sabit & Bintang”.

Bulan Sabit & Bintang sesungguhnya BUKAN bagian daripada Islam dan TIDAK SEMESTINYA dianggap sebagai lambang Islam. Karena baik Bintang segi delapan ataupun “Bulan Sabit & Bintang” keduanya adalah berasal dari kepercayaan paganisme, yang jelas-jelas bertentangan dengan ‘aqiidah Islamiyyah. Sangat disayangkan kesalahkaprahan ini telah tersebar keseluruh dunia, sehingga tidak heran apabila dalam anggapan orang-orang kaafir (sebagaimana terungkap dalam berbagai situs Barat diantaranya adalah situs berikut ini yang berjudul “Who is Muslim God Allah? Is he Yahweh?” oleh B. Walker pada: http://www.knowbiblefactsfromfiction.com/who-is-the-muslim-god-allah-part-1.html), mereka mempunyai persepsi yang keliru bahwa kaum Muslimin menyembah berhala; oleh karena kesamaan ikon Bulan Sabit & Bintang yang banyak digunakan kaum Muslimin dengan simbol serupa pada paganisme. Padahal Islam berlepas diri dari simbol tersebut. Tidak pernah terdapat riwayat yang shohiih bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan Salafus Shoolih menggunakan simbol-simbol itu.

Perhatikan betapa kesalahkaprahan ini bahkan diterapkan hingga ke bendera-bendera berbagai negara berikut yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam:

(sumber: http://www.akhirzaman.info/counter-culture/simbol/1974-bulan-sabit-dan-bintang-lambang-islam.html)

Lihat pula betapa simbol itu juga dipasang pada puncak kubah-kubah masjid di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia:

Golden crescent moons and stars on some of the smaller domes in the Nizamiye Turkish Mosque in Midrand, South Africa (Bentuk Bulan sabit dan bintang berwarna keemasan pada beberapa kubah yang lebih kecil di masjid Turki Nizamiye di Midrand, Afrika Selatan)

Surrounded by the sun, the crescent moon and star (an internationally-recognized symbol of the faith of Islam) in the Abdul Gaffoor Mosque in Singapore (Dikelilingi oleh bentuk matahari, tampak simbol Bulan sabit dan bintang – yang secara internasional dikenal sebagai simbol agama Islam di masjid Abdul Gaffoor di Singapura)

The crescent moon and star in Sultan Ahmad Shah Mosque in Malaysia (Bentuk Bulan sabit dan bintang di masjid Sultan Ahmad Shah di Malaysia)

 

Simbol bulan sabit & bintang di kubah masjid Istiqlal, Jakarta

Dan muncul pula dalam logo berbagai partai politik di Indonesia yang menyatakan dirinya berhaluan Islam. Yang paling awal adalah Partai Sarekat Islam Indonesia dan Madjlis Sjura’ Muslim Indonesia (Masjumi) di Pemilu tahun 1955. Menyusul setelahnya adalah berbagai partai lain seperti Partai Bulan Bintang, Partai Ansor, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Keadilan Sejahtera. Partai-partai tersebut ada yang menggunakan lambang bulan sabit dan bintang, ataupun bulan sabit tanpa bintang. Ada pula partai politik yang menggunakan lambang bintang yang dikombinasikan dengan lambang lain, misalnya Partai Nahdlatul Ummat dan Partai Kebangkitan Ummat. Partai-partai tersebut merupakan tempat bernaung warga Nahdlatul Ulama (NU). Oleh karena itu, yang digunakan pada dasarnya adalah lambang NU juga, yakni jagat lintang songo (bumi dan sembilan bintang).

Yang agak jarang disorot adalah lambang organisasi lokal. Diantaranya adalah bendera GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Bendera GAM adalah bendera berwarna dasar merah dengan dua garis hitam / putih horisontal. Diantara kedua garis itu terdapat lambang bulan sabit dan bintang. Di kalangan masyarakat muslim Aceh yang terkenal cukup religius, tentunya pencantuman lambang ini berkesan mendalam. Hal ini berlaku bila lambang bulan sabit dan bintang benar-benar dikaitkan dengan agama Islam. Lambang yang mirip digunakan juga oleh gerakan Darul Islam / Tentara Islam Indonesia.

Sebagaimana pemaparan diatas, terlihat jelas bahwa begitu besar peran simbol Bulan Sabit dan Bintang tersebut di masyarakat Muslim. Tak salah rasanya bila ada orang-orang yang menganggap bahwa Bulan Sabit dan Bintang adalah lambang masyarakat Muslim, bahkan ada yang menganggapnya sebagai lambang agama Islam. Anggapan ini merata luas dikalangan masyarakat Muslim sendiri bahkan dikalangan orang-orang kaafir.

Sekarang mari kita telusuri asal-usul mengapa dan bagaimana sampai akhirnya simbol Bulan Sabit dan Bintang ini kemudian secara keliru dianggap sebagai lambang Islam.

Berbagai Bukti Sejarah

Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa lambang Bulan Sabit dan Bintang telah lama digunakan SEBELUM masa Islam, bahkan sejak beribu-ribu tahun yang lalu, yang berasal dari paganisme Yunani kuno, Assyria dan Babylonia.

Dalam suatu situs, dikatakan sebagai berikut:

“…Was the moon female to the ancient Egyptians or the Sumerians and Babylonians of Mesopotamia (Iraq)? It may surprise you to learn that the answer is no. To these very old cultures, the moon was male, a god. In Sumer this god was Nanna, in Babylon the same god was called Sin. Nanna was the father of the Queen of Heaven, Inanna (later Ishtar), who was identified with the planet Venus, known then as the morning and evening star. In Egypt, the celestial representation of the Moon God was Thoth, God of Wisdom and Magic, who was credited with the invention of writing. Thoth was depicted with the head of an ibis. In later times, Egypt’s Queen of Heaven, Isis, would be one of several goddesses whose original solar connections would be replaced by lunar ones….”

Artinya:

“…. Benarkah bulan itu (asal-usulnya) digambarkan sebagai bentuk perempuan (dewi) dalam kepercayaan Yunani kuno atau Sumeria dan Babilonia dari Mesopotamia (Irak)? Ternyata hal yang mengejutkan untuk kita pelajari bahwa jawabannya itu adalah tidak. Dalam versi kebudayaan yang sangat tua ini, ternyata bulan itu digambarkan dalam bentuk laki-laki (dewa). Dalam kebudayaan Sumeria dewa ini disebut sebagai Nanna, di Babylonia dewa yang sama ini disebut sebagai Sin. Nanna adalah ayah dari Ratu Surga” (the Queen of  Heaven), yang dikenal sebagai Inanna (dan kemudian disebut sebagai Ishtar), yang diidentifikasikan dengan planet Venus, yang dikenal kemudian sebagai bintang pagi dan sore. Dalam kebudayaan Mesir, representasi langit dari Dewa Bulan adalah Thoth, Dewa Kebijakan dan Sihir, yang seringkali dikaitkan dengan penemuan tulisan. Thoth digambarkan sebagai dewa berkepala burung Ibis. Di kemudian hari, “Ratu Surga” (the Queen of  Heaven) dalam kebudayaan Mesir, dikenal sebagai Isis, yang akan menjadi salah satu dari beberapa dewi dimana lambang matahari akan digantikan dengan bulan….”

Stele of Ur-Nammu (ca. 2200 BC), crescent moon, moon god’s symbol (– Prasasti dari Ur-Nammu, tahun 2200 Sebelum Masehi, bulan sabit digunakan sebagai lambang dewa bulan –)

(sumber: http://www.facebook.com/notes/planet-x-nibiru-and-the-anunnaki/who-is-the-moon-goddess/232416203461946)

Kemudian dalam situs lain didapat pula bukti prasasti sejarah berikut ini:

Babylonian boundary stone c.1100 BC– The symbols in the upper register of this land-boundary stone represent the gods Ishtar or Venus (the star), the moon god Sin (crescent) and the sun god Shamash. Other symbolism is in the same genre, gods and heavenly powers, some very similar to zodiacal signs. The writing is cuneiform, with a curse on anyone who questions the land ownership or damages the stone (British Museum)

(Artinya: Prasasti batu perbatasan Babilonia, tahun 1100 SM -- Simbol yang terlihat dibagian atas dari batu perbatasan ini adalah melambangkan dewa Ishtar atau Venus (bintang), dewa bulan Sin (bulan sabit) dan dewa matahari Shamash. Simbolisme lainnya adalah dalam genre yang sama, yakni dewa dan kekuatan surgawi, dimana beberapa adalah sangat mirip dengan tanda-tanda zodiak. Tulisan Cuneiform yang tertera pada batu ini adalah merupakan kutukan bagi siapa pun yang mempertanyakan kepemilikan tanah atau membawa kerusakan pada batu tanda perbatasan tanah ini – dari: British Museum)

(sumber: http://www.flickr.com/photos/7549203@N04/4558358302/)

Kerajaan Persia juga telah menggunakan lambang Bulan Sabit dan Bintang. Bahkan, lambang tersebut tercantum pada mata uang yang diterbitkan pada masa Khosrau II, yakni Raja Persia yang memerintah dari tahun 590 – 628 M. Dialah Kisra yang dikisahkan merobek-robek surat Rosuluullooh صلى الله عليه وسلم.

Mata uang emas Persia, bergambar Khosrau II. Perhatikan bulan sabit dan bintang di atas bagian kepala!

 

Mata uang perak Persia, bergambar Khosrau II. Empat pasang Bulan sabit dan bintang di empat penjuru!

This is another depiction of the crescent and star symbol of this ancient Persian coin. As noted, this CRESCENT and STAR symbol is very common in ancient times (Satu lagi penggambaran simbol bulan sabit dan bintang dari koin Persia kuno. Sebagai catatan, simbol BULAN SABIT dan BINTANG adalah sangat umum di zaman kuno)

(sumber: http://www.akhirzaman.info/counter-culture/simbol/1974-bulan-sabit-dan-bintang-lambang-islam.html, http://en.wikipedia.org/wiki/Khosrau_II, http://www.pinoyexchange.com/forums/showthread.php?t=523606)

Lambang bulan sabit juga telah digunakan oleh masyarakat Yunani yang mendirikan kota “βυζαντιον” (orang Romawi menyebutnya Byzantivm) sejak ± 670 SM. Mereka menggunakan lambang tersebut dalam kaitannya dengan penyembahan kepada “αρτεμισ” (Artemis, dewi bulan dan perburuan).

Lambang Byzantion (kemudian: Constantinopolis) adalah Bulan Sabit Artemis / Diana

Kota Byzantium jatuh ke tangan Romawi pada abad ke-2 SM. Tidak ada perubahan berarti di sana karena bangsa Romawi sangat mengagumi kebudayaan Yunani. Justru setelah Yunani dikuasai oleh Romawi, maka bangsa Romawi bahkan makin terpengaruh oleh kebudayaan Yunani. Kepercayaan Yunani kuno pun diserap oleh bangsa Romawi, kemudian mereka pertahankan, diantaranya adalah penyembahan kepada Artemis. Di dalam istilah Romawi, dewi Artemis dikenal dengan nama Diana.

“αρτεμισ” (dewi Artemis / Diana). Hiasan pada bagian kepalanya melambangkan Bulan sabit.

Mata uang perak Romawi, bergambar Ivlivs Caesar dengan Bulan sabit di belakang kepala

 

Currency of Rome (dated 217-215 BC), on the crescent moon is the sun and two eight-pointed stars (Mata uang Romawi, dari sekitar tahun 217-215 SM, dimana diatas simbol bulan sabit terdapat matahari dan 2 buah bintang segi delapan)

(foto koin: http://whotalking.com/flickr/Roberto+Russo)

Currency of Septimius Severus (Roman Emperor), 194 AD, a silver ancient Roman coin, Crescent Moon with Seven stars (Mata Uang Kaisar Romawi – Septimius Severus, tahun 194 M, sebuah koin perak kuno Romawi dengan simbol Bulan sabit dan tujuh bintang)

(foto koin: http://www.ebay.com/itm/Septimius-Severus-194AD-Rare-Silver-Ancient-Roman-Coin-Moon-Seven-stars-/320987884847)

Ketika Kaisar Constantinvs I berkuasa (tahun 306-337 M), dia membuat perubahan-perubahan besar pada tahun 330 M, diantaranya adalah:

1. Dia memindahkan ibukota Romawi dari Roma ke kota Byzantium. Dia pun mengganti nama kota itu menjadi Nova Roma, artinya ‘Roma Baru’. Dalam percakapan sehari-hari, orang pada zaman itu menyebut kota tersebut sebagai “Constantinopolis”, artinya: ‘Kota Constantinus’. Orang sekarang biasa menyebutnya sebagai Istanbul (berdasarkan keputusan pemerintah sekuler Republik Turki sejak tahun 1928 M).

2. Dia menyatakan Nashroni sebagai agama negara. Sebelumnya beberapa kaisar Romawi telah memberikan kebebasan beragama kepada orang Nashroni, tetapi tidak sebagai agama negara. Bahkan pada masa sebelumnya lagi, para kaisar Romawi berlomba-lomba membantai penganut Nashroni.

Keputusan-keputusan diatas selanjutnya mempengaruhi karakter kota Constantinopolis atau Konstantinopel. Kota Konstantinopel yang sebelumnya adalah kota penyembah dewi Artemis / Diana dari paganisme Yunani kuno berubah menjadi kota Nashroni. Lambang kota yang semula berbentuk Bulan sabit ditambahi lambang Bintang yang dalam kepercayaan mereka adalah perlambang dari “Bunda Maria” (– ibu Nabi Isa عليه السلام –, yang mereka sebut sebagai: “Yesus Kristus”) (salah satu gelar yang diberikan kepada “Bunda Maria” adalah stella maris / “bintang lautan”).

An old painting “Mary on the moon” from Bartolome Esteban Murillo [1617-1682 AD], Spain (Sebuah lukisan kuno dari pelukis Bartolome Esteban Murillo yang hidup di tahun 1617-1682 M di Spanyol, dimana “Bunda Maria” digambarkan berdiri diatas bulan sabit)

An old painting from Albrecht Durer, dated 1511 AD, “Virgin Mary with Stars atop a Crescent Moon” (Sebuah lukisan tua dari pelukis Jerman Albrecht Durer, pada tahun 1511 M, yang menggambarkan “Perawan Maria dengan bintang-bintang diatas bulan sabit)

Sejak saat itu lah, lambang Bulan Sabit dan Bintang menjadi lambang kota Konstantinopel, ibukota Romawi.

The banner of Constantinople which is later adopted by the Ottomans. It displays the star with the traditional eight rays.

Jadi lambang kota Konstantinopel yakni Bulan Sabit (dewi Artemis) dan Bintang (“Bunda Maria”), dimana bintang ini semula digambarkan sebagai Bintang segi delapan (dan kemudian berubah menjadi bintang segi lima baru pada sekitar tahun 1844 M). Lambang ini kemudian diadopsi oleh Turki Utsmani.

(sumber: http://www.akhirzaman.info/counter-culture/simbol/1974-bulan-sabit-dan-bintang-lambang-islam.html, http://www.truthbeknown.com/mary.html#.ULVgwe89WuI, http://littleguyintheeye.wordpress.com/tag/virgin-mary/, http://www.historum.com/middle-eastern-african-history/17548-crescent-moon-what-5.html)

Sejak abad ke-15, masyarakat Turki Utsmani (ada masyarakat Turki dari suku lain, misalnya Kazakh, Uzbek, Turkmen) telah menguasai banyak wilayah Romawi. Pada tahun 1453 M, pasukan Turki Utsmani (orang Barat menyebutnya sebagai: Ottoman) memasuki Konstantinopel, sekaligus mengakhiri pemerintahan Romawi yang telah berusia ± 2000 tahun (jika dihitung sejak pendirian kota Roma).

Wilayah Turki Utsmani pada berbagai masa [creator: Atilim Gunes Baydin]

Dipimpin oleh Sultan Muhammad II (محمّد), pasukan Turki yang mayoritas beragama Islam mengganti lagi karakter kota Konstantinopel menjadi kota yang bergaya Asia dan bercorak ke-Islaman. Nama kota dipertahankan, tetapi disesuaikan dengan lidah Arab (sebagaimana yang diucapkan oleh Muhammad Rosuluullooh صلى الله عليه وسلم), yaitu:قسطنطينيّة  (Qusţanţīniyyah), ‘Kota Konstantin’.

Muhammad II, Sultan Turki Utsmani

 
Crescent moon and star was also symbol of Constantinia, where was captured by Mehmed II, and made the central city of the empire (Bulan sabit dan bintang semula merupakan simbol dari Konstantinopel, yang kemudian ditaklukkan oleh Sultan Muhammad II, dan kemudian menjadikannya sebagai ibukota kesultanan Turki Utsmani)

Pemerintah Turki Utsmani mengubah banyak hal, juga mempertahankan banyak hal.

  1. Konstantinopel / Qusţanţīniyyah menjadi ibukota Kesultanan Turki Utsmani, dan di kemudian hari menjadi ibukota Khilafah Utsmani (terjadi saat Sultan Salīm I (سليم) mengambil alih kekuasaan khilafah dari Khalifah Abbasiyah terakhir, Al-Mutawakkil-billāh III (المتوكّل بالله), di Qahirah / Kairo)
  2. Gereja αγια σοφια (Hagia Sofia), gereja pusat penyebaran agama Kristen Orthodox, diubah menjadi masjid; patung-patung Nashroni disingkirkan, gambar-gambar ditutup.
  3. Arsitektur khas Romawi Timur, diwakili oleh Gereja Hagia Sofia, menjadi model untuk pembangunan masjid-masjid di seluruh wilayah Utsmani (kubah adalah ciri khas yang paling terlihat)
  4. Lambang Konstantinopel, Bulan Sabit dan Bintang, menjadi lambang berbagai kesatuan di laskar Utsmani; di kemudian hari lambang tersebut bahkan menjadi lambang Khilafah Utsmaniyyah.

Kubah adalah gaya khas bangunan penting dan kuil-kuil Romawi (Barat dan Timur). Gaya arsitektur Romawi Timur mempengaruhi tempat-tempat ibadah di negeri-negeri beragama Kristen Orthodox, misalnya Rusia, Bulgaria, Romania.

Bentuk Asli Gereja Hagia Sofia di Konstantinopel

Gereja Santo Vasily di Moskwa

Katedral Santo Aleksander Nevskiy di Sofia, Bulgaria

Dengan beralihnya kekuasaan khilafah dari keluarga Abbas (Abbasiyah, Arab) ke tangan keluarga Utsmani (Turki), negeri-negeri Islam mulai memandang dinasti Utsmani dan Konstantinopel sebagai pengayom dan model kehidupan. Hal ini sempat terjadi di Timur Tengah. Di masa inilah masjid-masjid dipasangi kubah dan menara (menyerupai Masjid Aya Sofia, bekas Gereja Hagia Sofia), bulan sabit dan bintang pun meraih popularitas di masyarakat muslim.

Bendera Khilafah Utsmani pada periode 1844-1922

Bekas Masjid Aya Sofia, sekarang Museum Aya Sofia di kota Istanbul, yang dahulunya adalah Constantinopolis / Qusţanţīniyyah.

 

Masjid Selimiye (Sultan Salim) di kota Edirne, yang dahulunya adalah: Adrianopolis

Masjid Biru atau Masjid Sultan Ahmad di kota Istanbul, yang dahulunya adalah Constantinopolis / Qusţanţīniyyah

Bendera Republik Turki sejak tahun 1936 adalah menyerupai bendera Khilafah Utsmani

(sumber: http://www.akhirzaman.info/counter-culture/simbol/1974-bulan-sabit-dan-bintang-lambang-islam.html)

Demikianlah, penggunaan lambang Bulan Sabit dan Bintang serta bentuk kubah pun sejak itu menyebar ke seluruh dunia, termasuk mempengaruhi pula masyarakat Muslim di Indonesia. Padahal simbol Bulan Sabit dan Bintang seyogyanya tidak layak disandingkan dengan Islam, karena ia berasal dari paganisme dan Nashroni.

Dalil Al Qur’an & As Sunnah

Perlu kiranya disadari dan diketahui oleh kaum Muslimin bahwa penyematan simbol-simbol paganisme itu bukanlah perkara remeh, karena ia dapat berdampak pada kecacatan ataupun pada ketidak-sempurnaan iman seseorang, dimana yang berkaitan dengan hal tersebut adalah sebagai berikut:

1)  Allooh سبحانه وتعالى memberitakan didalam Al Qur’an bahwa Nabi Ibrohim عليه السلام dibimbing oleh-Nya untuk terbebas dari meyakini suatu keyakinan sesat / keliru, berupa penyembahan terhadap bulan, bintang dan matahari.

Apabila dalam situs-situs Barat, orang-orang kaafir menuduh bahwa Muslimin itu menyembah berhala sebagaimana mereka (lihat situs Barat berikut: “Is Islam based on pagan roots? pada http://www.pinoyexchange.com/forums/showthread.php?t=523606), maka sangatlah mudah membantah anggapan mereka yang keliru itu.

Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al An’aam (6) ayat 75-79:

Ayat 75:

وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

Artinya:

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrohim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.”

Ayat 76:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

Artinya:

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Robb-ku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam“.”

Ayat 77:

فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ

Artinya:

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Robb-ku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Robb-ku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.

Ayat 78:

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Artinya:

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Robb-ku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Ayat 79:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya:

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Robb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada dien yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrikin (orang-orang yang mempersekutukan Allooh).

Dari ayat-ayat diatas, dapatlah diambil pelajaran bahwa Allooh سبحانه وتعالى lah Pencipta langit dan bumi, dan bahwasanya bintang, bulan dan matahari hanyalah makhluk ciptaan Allooh سبحانه وتعالى yang disebarkan-Nya di langit dan bumi sebagai tanda-tanda keagungan-Nya. Allooh سبحانه وتعالى membimbing Nabi Ibrohim عليه السلام untuk mengetahui tentang kebesaran-Nya itu agar Nabi Ibrohim عليه السلام menjadi orang yang beriman pada-Nya. Oleh karena itu di akhir ayat, Nabi Ibrohim عليه السلام menyatakan bahwa beliau عليه السلام bukanlah termasuk orang-orang musyrikin yang menyembah berhala seperti menyembah pada bintang, bulan dan matahari.

Sangat jelas sekali ayat ini. Oleh karena itu, secara tegas kaum Muslimin semestinya menyatakan bahwa simbol Bulan Sabit & Bintang BUKAN simbol Islam ! Karena kaum Muslimin tidak menyembah bulan, tidak menyembah bintang, tidak pula menyembah matahari sebagaimana kaum paganisme melakukannya. Dan tidak semestinya pula kaum Muslimin menggunakan simbol-simbol bulan sabit, ataupun bintang (baik yang berupa bintang segi lima ataupun bintang segi delapan) dengan anggapan bahwa itu adalah lambang ke-Islaman.

Lalu perhatikan definisi “Muslim” yang Allooh سبحانه وتعالى beritakan dalam QS. Al Hajj (22) ayat 78 berikut ini, dimana Allooh سبحانه وتعالى menyuruh kaum Muslimin untuk mengikuti keimanan Nabi Ibrohim عليه السلام tersebut:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Artinya:

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allooh dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam dien (ini) suatu kesempitan. (Ikutilah) dien orang tuamu Ibrohim. Dia (Allooh) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rosuul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allooh. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

2) Kaum Muslimin hendaknya bangga mempersaksikan pada dunia bahwa dia itu adalah Muslim.

Sudah barang tentu kaum Muslimin itu seharusnya cukup berpedoman pada seluruh apa yang dituntunkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tanpa mencampur-adukkannya dengan keyakinan-keyakinan lain seperti yang apa-apa yang diyakini oleh paganisme / Yahudi / Nashroni dan sejenisnya.

Justru kaum Muslimin itu harus berani, bangga, tidak berkecil hati untuk menampakkan bahwa dirinya adalah Muslim, karena Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Aali ‘Imron (3) ayat 64:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Artinya:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah (ibadahi) kecuali Allooh dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan (yang diibadahi) selain Allooh“. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah Muslim (orang-orang yang berserah diri kepada Allooh)”.”

Perkataan “Saksikanlah” pada akhir ayat menunjukkan bahwa kaum Muslimin itu seharusnya bangga menampakkan bahwa dirinya itu adalah Muslim; dan bukannya malah minder, tidak percaya diri atau malah mengekor pada budaya-budaya orang-orang kaafir sebagaimana yang dilakukan sebagian kalangan kaum Muslimin di zaman ini.

3) Meniru dan menyerupai (tasyabbuh) pada orang-orang musyrikin / kaafir itu adalah TERLARANG.

Mungkin sebagian diantara kaum Muslimin menganggap remeh dan sepele tentang hal ini, karena ia semata-mata meninjaunya hanya dari sisi budaya, seni dan kreasi. Tetapi bagi seseorang yang memiliki pendirian ‘aqiidah yang tegas, maka ia tidak akan mau meniru ataupun menggunakan simbol-simbol seperti Bulan Sabit & Bintang.

Karena fakta dan bukti menunjukkan bahwa lambang-lambang seperti lambang-lambang ini adalah bertitik tolak dari ‘aqiidah dan keyakinan BERHALA. Yang notabene adalah Kufur dan Syirik.

Padahal jangankan Kufur dan Syirik; ma’shiyat berupa kefaasiqan dan kebid’ahan saja kita sebagai kaum Muslimin ini dilarang keras untuk menyerupai dan atau menirunya.

Perhatikanlah peringatan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam hadits berikut ini:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya:

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari kaum itu.”

(Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4033, dan Syaikh Nashirudiin Al Albaany mengatakan Hadits ini Hasanun Shohiih, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه)

Renungkan betapa dalamnya makna peringatan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits diatas. Akibat penggunaan simbol Bulan Sabit dan Bintang oleh banyak diantara kaum Muslimin di berbagai belahan dunia, maka hal ini menyebabkan timbulnya salah persepsi diantara orang-orang kaafir sehingga mereka menganggap bahwa kaum Muslimin itu adalah menyembah Berhala sebagaimana mereka. Bukankah hal ini dimulai dari sikap menganggap remeh terhadap perkara tasyabbuh ?

4) TIDAK ADA dalil ataupun atsar yang menjelaskan bahwa Rosuluullooh صلى الله عليه وسلم pernah memerintahkan ummat Islam untuk menggunakan lambang Bulan sabit dan Bintang, ataupun memberi contoh penggunaannya.

Tanpa adanya contoh dari Muhammad Rosuluullooh صلى الله عليه وسلمdan shohabat-shohabatnya, tidaklah layak bagi ummat Islam mencanangkan simbol Bulan sabit dan bintang sebagai lambang Islam.

5) Hendaknya kaum Muslimin istiqomah

Kaum Muslimin harus tetap berpegang teguh pada firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al An ‘aam (6) ayat 19 berikut ini:

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُلْ لَا أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Artinya:

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allooh”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain disamping Allooh?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui“. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allooh)“.

Juga dalam QS. Al Kaafirun (109) ayat 1-6 :

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾

Artinya:

(1) Katakanlah: “Hai orang-orang yang kaafir,

(2) aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

(3) Dan kamu bukan penyembah (Allooh) yang aku sembah.

(4) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

(5) Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah (Allooh) yang aku sembah.

(6) Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

Demikian bahasan kali ini, semoga bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Rabu, 1 Muharrom 1434 H –  14 November 2012 M

—– 0O0 —–

Silakan download PDFBulan Sabit & Bintang Bukan Lambang Islam FNL

91 Komentar leave one →
  1. abu farah permalink
    1 Desember 2012 11:39 pm

    Ustadz jazakalloh khoiron katsiron atas informasinya, tetapi yang menjadi ganjalan saya mengapa lambang polisi di Saudi Arabia adalah bersimbol sebuah mata satu?

    • 7 Desember 2012 5:46 pm

      Bersibuklah diri untuk menambah amal ibadah kita sendiri, daripada menyibukkan diri dengan sesuatu yang membuat kita berpeluang berdosa karena kita hanya bisa mengeluhkannya, tetapi tidak bisa merubahnya…

  2. 2 Desember 2012 11:18 am

    Bismillah…ijin share ustadz!

  3. Abu Alfath permalink
    4 Desember 2012 12:35 pm

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,
    Ustadz, apakah jika tetap memakai simbol-simbol di atas akan menyebabkan kekafiran?
    Jazaakalloh khoiron katsiroo

    • 6 Desember 2012 11:10 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

      Tidak selalu, tergantung beberapa kondisi berikut:
      1) Kalau membenarkan aqiidah mereka dan apa yang terkandung dalam makna dan filosofi serta ideologi yang dimaknai oleh lambang tersebut, maka bisa menyebabkan keluar dari Islam
      2) Jika sekedar meniru, maka dia berdosa karena tersangkut dengan “tasyabbuh” (meniru orang kafir), yang merupakan khas mereka
      3) Jika semata-mata seni, sementara tidak tahu kecuali hanya nilai seninya saja… maka dari sisi seninya tidak berdosa, tetapi dari sisi tidak tahu akibat tidak mempelajari sesuatu yang jika dikerjakan berkonsekwensi pada Harom karena tasyabuhnya maka jika dia selalu begitu, dia itu berdosa.

      Seharusnya kaum Muslimin sudah saatnya untuk waspada mengingat kaum Muslimin adalah merupakan ummat yang terakhir dari silsilah para Nabi. Sehingga tidak mustahil ada keyakinan-keyakinan yang menyimpang dari ummat-ummat terdahulu yang mempengaruhi dalam aspek-aspek hidup keberagamaannya, seperti lambang-lambang diatas.

      Tidak sedikit dari kaum Muslimin yang tidak merasa bahwa itu tidak ada kaitan dengan kekufuran, kesyirikan, Yahudi, Freemasonry, atau sejenisnya. Padahal ternyata jika ditelusuri secara historis, walaupun hati dan pikir berat menyatakannya, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa simbol-simbol itu adalah identitas yang harus diwaspadai dan dihindari… Barokalloohu fiika

  4. dedy rizky setiawan permalink
    5 Desember 2012 8:14 am

    Assalamu alaikum…izin share ustadz..!!

    • 5 Desember 2012 8:15 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  5. jihad islam permalink
    10 Desember 2012 12:35 am

    Assallammuallaikum..ijin share ya pak

    • 10 Desember 2012 5:50 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja, dan sudah disediakan pula download PDF-nya… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  6. Ben Yohanan permalink
    10 Desember 2012 1:20 pm

    Ya ustadz, mohon pencerahannya, apakah negeri Saudi termasuk dalam konspirasi Freemasonry ini, karena lambang askar dan kepolisiannya berlambang mata satu juga? Terimakasih

    • 15 Desember 2012 8:38 pm

      Secara definitif bahwa Saudi adalah negara Freemasonry maka tidak ada yang mengatakan demikian. Tetapi kalau pengaruh Yahudi, Zionis, Freemasonry, Globalisasi, Sekulerisme, Liberalisme dan Westernisasi di Saudi, maka tidak ada yang mengatakan bahwa hal itu adalah mustahil. Perhatikan peringatan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 6952, dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه berikut ini:

      لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ
      Artinya:
      Kalian akan mengikuti adat tradisi ummat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekiranya mereka masuk dalam lubang dobb (– sejenis biawak –) sekalipun, niscaya kalian akan mengikutinya juga.”
      Para Shohabat bertanya, “Wahai Rosuulullooh, apakah yang dimaksud itu orang-orang Yahudi dan Nashroni?
      Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?

      Demikianlah, semoga jelas adanya… Barokalloohu fiika

  7. mustova js permalink
    13 Desember 2012 12:51 pm

    Bismillah. assalaamu’alaikum. izin copas, ya ustadz. jazaakumullaahu khaira

    • 13 Desember 2012 2:05 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  8. 22 Desember 2012 3:29 pm

    Assalamu’alaikum
    Ustadz gimana dengan negara Saudi banyak simbol-simbol itu bahkan bermata satu?

    • 22 Desember 2012 4:21 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

      Secara definitif bahwa Saudi adalah negara Freemasonry maka tidak ada yang mengatakan demikian. Tetapi kalau pengaruh Yahudi, Zionis, Freemasonry, Globalisasi, Sekulerisme, Liberalisme dan Westernisasi di Saudi, maka tidak ada yang mengatakan bahwa hal itu adalah mustahil. Perhatikan peringatan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 6952, dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه berikut ini:

      لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ

      Artinya:
      Kalian akan mengikuti adat tradisi ummat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekiranya mereka masuk dalam lubang dobb (– sejenis biawak –) sekalipun, niscaya kalian akan mengikutinya juga.”
      Para Shohabat bertanya, “Wahai Rosuulullooh, apakah yang dimaksud itu orang-orang Yahudi dan Nashroni?
      Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?

      Demikianlah, semoga jelas adanya… Barokalloohu fiika

  9. ibnu ihsan permalink
    6 Januari 2013 3:17 pm

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Saya izin share Ustadz.

    جزاكم الله خيرا كثيرا
    بارك الله فيكم

    • 6 Januari 2013 4:47 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… Antum dapat mengcopy paste seluruh artikel dan mendownload seluruh audio ceramah yang ada pada Blog ini dan menyebarluaskannya untuk dakwah Lillaahi Ta’aalaa… Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.. Barokalloohu fiika

  10. 16 Januari 2013 9:59 am

    Oh jadi gitu ya sejarahnya hm…ternyata kebodohan juga bisa diwariskan. Mungkin niat khilafah Ustmani bagus artinya mereka menghargai inovasi arsitektur, sayangnya ummat kemudian menganggap itu adalah ciri khas ummat islam di masa Rasul. Tapi kalau tidak salah tadz, rasanya saya pernah mendengar bahwa bendera atau panji islam yang dibawa ketika perang di zaman rasul itu bergambar bulan sabit, apakah betul demikian?

    • 19 Januari 2013 8:34 am

      Bendera Islam yang dibawa itu tidak bergambarkan Bulan Sabit, tetapi dalam suatu Riwayat dijelaskan bahwa ia bertuliskan kalimat Syahadat “Laa ilaaha Illallooh Muhammadur Rosuulullooh

      Dalam bahasa Arab, bendera mempunyai beberapa istilah, antara lain “AR ROOYAH” artinya: PANJI; sedangkan BENDERA sendiri disebut “AL LIWAA’”, juga “AL ‘ALAM”.

      Dalam sejarah, kaum Muslimin tidak perlu diragukan lagi memiliki Bendera dan Panji, sebagaimana terdapat dalam Riwayat mengenai Perang Badar. Antara lain yaitu dari ‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه, beliau berkata:

      كان المهاجرون يوم بدر سبعين رجلا، وكان الانصار مائتين وستة وثلاثين رجلا، وكان حامل راية النبي صلى الله عليه وسلم على بن أبى طالب، وحامل راية الانصار سعد بن عبادة

      Artinya:
      Kaum Muhajirin pada saat Perang Badar adalah 70 orang, sedangkan kaum Anshor adalah 236 orang. Sebagai pembawa Panji Nabi صلى الله عليه وسلم adalah Ali bin Abi Thoolib رضي الله عنه, sedangkan pembawa Panji dari kalangan Anshor adalah Sa’ad bin ‘Ubaadah رضي الله عنه.”
      (lihat “As Siiroh An Nabawiyyah” karya Ibnu Katsiir 2/508)

      Bahkan didalam Kitab “Imtaa’ul Asmaa” karya Imaam Al Maqriizi 1/309 dijelaskan bahwa :

      وفرق رسول الله صلّى الله عليه وسلّم الرايات ، ولم تكن راية قبل خيبر ، إنما كانت الألوية ، فكانت راية النبي صلّى الله عليه وسلّم سوداء تدعى العقاب : من برد لعائشة رضي الله عنها ، ولواؤه أبيض ، ورفع راية إلى علي ، وراية إلى الحباب بن المنذر ، وراية إلى سعد ابن عبادة رضي الله عنهم

      Artinya:
      Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم membedakan antara bendera yang satu dengan bendera yang lainnya, tidak demikian sebelum Perang Khaibar. Panji (Ar Royaah) Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang berwarna Hitam disebut ‘Uqoob, berasal dari selendang ‘Aa’isyah رضي الله عنها. Sedangkan Bendera (Al Liwaa’) Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah berwarna Putih. Kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memberikan Panji kepada Ali bin Abi Thoolib, Al Khobbaab bin Al Mundziir dan kepada Sa’ad bin ‘Ubaadah رضي الله عنهم.”

      Lihat juga dalam Kitab “Al Maghoozy2/649 karya Al Waakidy .

      Adapun 2 bendera tersebut adalah sebagai berikut:
      1) PANJI HITAM (Ar Royaah), disebut dengan ‘UQOOB.
      Sebagaimana Al Hasan رضي الله عنه berkata,

      كَانَتْ رَايَةُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم سَوْدَاءَ تُسَمَّى الْعُقَابَ

      Artinya:
      Adalah Panji Nabi صلى الله عليه وسلم itu Hitam dan disebut “Al ‘Uqoob”.
      (Hadits Riwayat Abdur Rozzaaq dalam Mushonnaf 12 / 512 no: 34290)

      Disebut “’UQOOB”, terambil dari nama burung, yakni burung ‘UQOOB yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Burung ELANG. Burung ini, diantara cirinya adalah ia tidak memakan kecuali dari hasil buruannya sendiri, kemudian ia juga memakan hasil buruannya itu dalam keadaan hidup-hidup atau tidak dalam keadaan bangkai, serta tidak memakan serangga. Burung ini rela lapar jika tidak menemukan makanan aslinya. Burung Elang juga terkenal sebagai burung yang terbang dengan sangat cepat. Lihat : http://www.alokab.com/forums/index.php?showtopic=50506.

      2) BENDERA PUTIH (Al Liwaa’).
      Sebagaimana Abul Baroo’ رضي الله عنه meriwayatkan dari Jaabir bin ‘Abdillah رضي الله عنه:

      أن النبي صلى الله عليه و سلم دخل مكة ولواؤه أبيض

      Artinya:
      Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم memasuki Mekkah, sedangkan Benderanya adalah Putih.”
      (HR. Imaam At Turmudzy no: 1679)

      Menurut Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany رحمه الله berkata dalam Kitab beliau berjudul “Fathul Baari6 / 127: “Dan Abu Syaikh رحمه الله memiliki Hadits berasal dari ‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه, yang menyatakan bahwa tertulis pada Panji Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم “Laa Ilaaha Illallooh Muhammadun Rosuulullooh” namun pada Sanad-nya cacat, dan Panji Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tersebut diberi nama “Al ‘Uqoob” berwarna Hitam, persegi empat. Sebagaimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم juga memiliki Bendera Putih, terkadang pada Bendera Putih tersebut dicantumkan sesuatu berwarna Hitam.”

      Sebagaimana pula dalam riwayat Abu Hurairoh رضي الله عنه bahwa pada Bendera putih tertera pernyataan “Laa Ilaaha Illallooh Muhammadun Rosuulullooh” ( lihat http://kingabdullah.jo/index.php/ar_JO/pages/view/id/204.html )

      Sedangkan dalam WIKIPEDIA (lihat: http://ar.wikipedia.org/wiki/%D8%B9%D9%82%D8%A7%D8%A8_%28%D8%B1%D8%A7%D9%8A%D8%A9%29 ) dicantumkan penjelasan bahwa Bendera Putih dengan tulisan hitam itu melambangkan DAARUSSALAAM (“Negeri yang Damai”). Sedangkan Panji Hitam yang bertuliskan huruf putih itu melambangkan DAARULHARB (“Negeri Perang”).

      Pada masa Daulah ‘Abbasiyyah (tahun 750 – 1258 Hijriyyah), Panji Hitam adalah menjadi ciri khas sebagai ungkapan bagi duka mereka atas para Syuhadaa yang terbunuh dalam perang menghadapi Bani Umayyah.

      Kemudian dijelaskan dalam sumber lain bahwa:
      Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memiliki 2 bendera, Bendera putih dan Panji hitam.
      Bendera putih dalam riwayat Abu Hurairoh رضي الله عنه tertera pernyataan “Laa Ilaaha Illallooh Muhammad Rosuulullooh

      Pada tahun pertama dari Hijroh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ke Madinah, pada saat menjelang Perang Badar, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memberikan Bendera putih yang merupakan bendera pertama dalam Islam, yang Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم serahkan pada Abu Mursyid رضي الله عنه.
      Sedangkan pada saat Fathu Makkah, pada tahun ke-8 dari Hijroh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ke Madinah, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun menyerahkan Bendera Putih pada saat memasuki kota ini, disamping bendera-bendera lainnya.

      Dan setelah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم meninggal, bahkan terkenal para pemangku Bendera, seperti misalnya Al Mutsanna bin Haaritsah رضي الله عنه sebagai pembawa Panji Hitam; dan Kholiid bin Al Waliid رضي الله عنه sebagai pembawa Bendera Hijau; dan Sa’ad bin Abi Waqqoosh رضي الله عنه sebagai pembawa Bendera Merah; dan Usaamah bin Zaiid رضي الله عنه sebagai pembawa Bendera Putih.
      ( lihat: http://kingabdullah.jo/index.php/ar_JO/pages/view/id/204.html )

      Dari beberapa tela’ah yang berasal dari beberapa sumber sebagaimana dapat kita lihat bersama, maka kita simpulkan antara lain sebagai berikut:
      1) Sejak awal, kaum Muslimin telah memiliki PANJI dan BENDERA.
      2) PANJI-nya berwarna HITAM yang diberi nama “’UQOOB”. Sedangkan BENDERA-nya berwarna PUTIH.
      3) PANJI Hitam adalah biasa dibawa-bawa ke medan perang; bahkan pada masa ‘Abbasiyyah, Panji ini menjadi ciri bagi Syuhada Perang.
      Sedangkan BENDERA Putih adalah yang dipasang didepan tempat kerja Kholiifah.
      4) Betapapun dari sisi Riwayat adalah lemah, akan tetapi keberadaan Bendera yang bertuliskan “Laa Ilaaha Illallooh Muhammadun Rosuulullooh” dalam sejarah adalah tidak bisa dipungkiri, terbukti Al Haafidz Ibnu Hajar Al Asqolaany berkomentar tentang hal itu. Minimal kebiasaan ini sudah pernah ada sejak masa sejarah Islam pertama kali.
      5) Pernyataan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa tulisan “Laa Ilaaha Illallooh Muhammadun Rosuulullooh” pada Bendera Islam itu mencirikan Wahabiyyah adalah bernuansa sentimentil, dan jauh dari Ilmiyyah; karena bahkan contohnya seperti Wikipedia saja, dicantumkan keterangan bahwa Bendera Putih dengan tulisan hitam melambangkan DAARUSSALAAM (“Negeri yang Damai”); sedangkan Panji Hitam bertuliskan huruf putih melambangkan DAARULHARB (“Negeri Perang”).

      Demikianlah, sekelumit ulasan tentang Bendera dan Panji Islam… Barokalloohu fiika.

  11. asnawi permalink
    19 Januari 2013 9:38 pm

    Terimaksih ustadz… atas informasinya….

  12. 18 Februari 2013 9:09 am

    Ijin copy ke blog saya Pak ustadz….ini artikel pak ustadz yang ke-3 yang saya copy disertai sumber live linknya. Makasih infonya pak ustadz…!

    • 18 Februari 2013 2:21 pm

      Silakan saja… semoga senantiasa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua…. Barokalloohu fiika

  13. Maossyara permalink
    1 Maret 2013 5:49 pm

    Assalamulaikum..
    Sungguh luar biasa sekali artikelnya ustadz, izin share ya ustadz :)
    Terimakasih.

    • 2 Maret 2013 6:23 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Alhamdulillah… silakan saja, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fika

  14. 9 Maret 2013 9:22 am

    Assalamu’alaykum ustadz, ijin share ya….. untuk dipost di parasitaqidah.wordpress.com

    • 9 Maret 2013 5:39 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja…. antum dapat mengcopy paste seluruh artikel dan mendownload seluruh audio ceramah yang ada pada Blog ini, dan silakan pula menyebarluaskannya… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  15. 23 Maret 2013 4:37 am

    Asslamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh “Pak Uztadz..

    Awalnya saya bertanya-tanya tentang simbol bulan sabit dan bintang yang dikaitkan dengan Agama Islam.??!
    Memang benar bahwa peradaban manusia sebelum datangnya Islam, mereka memiliki kepercayaan terhadap bintang dan bulan juga matahari, sehingga dizaman sekarang banyak musuh-musuh Islam menyebarkan fitnah bahwa yang disembah oleh umat Muslim adalah dewa bulan.

    Simbol Bulan Sabit dan Bintang pertama kali dipakai oleh ke-Khalifahan Usmaniah (Ottoman) yang berhasil menaklukan konstantinopel yaitu Sultan Muhammad Al Fatih (Mehmed II), tentulah ada alasan kuat, karena beliau jelas Hamba Allah yang Sholeh dan cerdas. Bahkan Jauh sebelum kelahiranya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Konstantinopel (Byzantium, Roma Timur, sekarang Turki) kelak akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin (’amir) yang mampu membebaskannya adalah sebaik baik pemimpin; pasukan yang berada dibawah komadonya adalah sebaik-baik pasukan.[H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

    Terbukti ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa baik Panglima perangnya maupun pasukannya adalah Terbaik dan sangat kuat, konstantinopel tersebut berhasil dikuasai Umat Islam hanya dalam waktu 54 hari. Sejak saat itu Bendera pasukan berlambangkan bulan sabit pun digunakan dalam misi-misi penyebaran Islam berikutnya ke benua Eropa.

    Namun demikian simbol-simbol tersebut digunakan bukan berarti bahwa umat muslim harus menyembah Bulan dan Bintang, sebab Islam tidak pernah mengajarkan untuk menyembah bulan. Dalam firman Allah disebutkan :
    Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. ” (QS. Fushshilat : 37)

    Ayat ini diperkuat dengan ayat lain, bahwa bulan bukanlah object penyembahan.
    Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalarn siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Luqman : 29).

    Wallahu Alam Bissawab.

    • 23 Maret 2013 3:16 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Ustads setuju dengan apa yang anda katakan, memang begitulah keadaannya. Akan tetapi, bisa jadi “terbaik” yang Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم maksudkan dalam Hadits itu adalah “terbaik pada masanya”; bukan dibandingkan dengan masa Generasi Terbaik Ummat (3 generasi pertama yaitu Shohabat, Taabi’iin dan Taabi’ut Taabi’iin). Karena secara umum, generasi belakang tidak lebih baik daripada generasi terdahulu, sebagaimana sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم :

      لا يأتي عليكم زمان إلا وهو شر من الذي كان قبلكم

      Artinya:
      Tidaklah datang suatu zaman pada kalian, kecuali orang-orang pada zaman tersebut lebih jahat dari orang-orang yang ada pada zaman sebelum kalian.”

      Justru dalam suatu riwayat, lambang yang dipakai adalah bertuliskan Kalimah Thoyyibah (Laa Ilaaha Illallooh Muhammadur Rosuulullooh) {— lihat jawaban Ustadz terdahulu terhadap penanya bernama Kerah Ledrekdiatas}. Dimana lambang dan simbol ini tidak dapat dipungkiri merupakan simbol khas Muslim dimanapun ia berada, dan hal itu tidak akan disangsikan. Berbeda dengan bulan sabit dan bintang, misalnya.

      Jadi semestinya, ikutilah Pendahulu Ummat yang Shoolih, bahkan ikutilah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang terjaga dari salah. Dan jangan membuat hal yang baru, yang akhirnya berpotensi memunculkan pertanyaan sebagaimana yang anda sendiri sebutkan.

      Tetapi walaupun demikian, memang harus kita akui bahwa manusia selain Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah TIDAK MA’SHUM, termasuk penakluk Konstatinopel atau pendiri kekuasaan ‘Utsmaniyyah.

      Jadi selama hal itu sesuai dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم maka kita ikuti. Tetapi jika tidak, maka yang mudah, yang praktis dan yang selamat adalah meninggalkan apa yang menyangsikan, menyelisihi apalagi yang bermakna Tasyabbuh dengan kekufuran dan kejahiliyahan.

      Semoga kesalahan yang dilakukan dan orang yang melakukannya diampuni dosanya dan diampuni kesalahannya, serta dibalas apa-apa yang baik dari dirinya dengan berlipat ganda oleh Allooh سبحانه وتعالى. Tetapi kekeliruannya, bukan untuk selalu kita jadikan panutan…. Barokalloohu fiika.

      • 12 April 2013 9:54 pm

        Assalaamu ‘alaikum Ustadz, bukankah semua itu tergantung pada niatnya?

      • 18 April 2013 1:03 pm

        Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

        Ketahuilah bahwa syarat suatu amalan itu bisa dinyatakan sebagai suatu IBADAH, adalah dengan 2 hal:

        1) NIAT baik karena ALLOOH سبحانه وتعالى, yang kita kenal dengan IKHLASH. Hal ini baru merupakan pengamalan dari setengah kalimat Tauhid “ASYHAADU AN LAA ILAAHA ILLALLOOH”.

        2) Jangan lupa, tidak cukup dengan niat baik karena Allooh سبحانه وتعالى saja; tetapi juga harus MENETAPI DAN MENEPATI SUNNAH ROSUULULLOOH صلى الله عليه وسلم DAN TUNTUNANNYA DALAM SUATU IBADAH; baik berupa PERNYATAAN (PERKATAAN) maupun berupa AMALAN (PERBUATAN); sebagai bentuk pengejawantahan dari setengah kalimat Tauhid yang berikutnya, yaitu “ASYHAADU ANNA MUHAMMADUN ROSUULULLOOH”.

        Jika salah satu dari kedua hal diatas hilang, atau tidak ada; maka IBADAH ITU TIDAK BENAR, bahkan sia-sia, tertolak, bahkan bisa menjadi dosa.

        Perhatikan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:

        مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

        Artinya:
        Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan dien kami yang bukan berasal darinya, maka (perbuatan itu) tertolak.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2697 dan Imaam Muslim no: 4589, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)

        Juga perhatikan Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4609, dari Shohabat Al ‘Irbad bin Saariyah رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

        … وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

        Artinya:
        Jauhkanlah diri kalian dari setiap perkara-perkara yang baru, karena setiap hal yang baru dalam dien adalah Bid’ah, dan setiap Bid’ah adalah sesat.”

        Kemudian Hadits Riwayat Imaam Ibnu Huzaimah no : 1725 , dari Shohabat Jaabir رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

        … و كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار

        Artinya:
        Semua Bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka.”

        Kebiasaan orang mengatakan bahwa: “Segala sesuatu itu tergantung niatnya”, itu sebenarnya BUKAN BERASAL dari titik tolak AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH, tetapi berasal dari MURJI’AH. Dan MURJI’AH itu BUKAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH. Jadi hati-hatilah dan waspadalah.

        Bagaimana kalau orang mencuri, tetapi niatnya baik yaitu hasil mencurinya dipakai untuk berinfaq ke Masjid. Apakah menjadi amal shoolih???

        Lambang dan simbol yang menyerupai orang-orang Kaafir bahkan orang-orang faasiq sekalipun, itu adalah justru dilarang Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits:

        مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

        Artinya:
        Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari kaum itu.”
        (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4033, dan Syaikh Nashirudiin Al Albaany mengatakan Hadits ini Hasanun Shohiih, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه)

        Ketika Bulan dan Bintang itu jelas-jelas merupakan simbol-simbol yang digunakan oleh kaum paganis (penyembah Berhala), apakah kita rela dengan sekedar menggunakan simbol itu, lalu kita terjebak dalam menyerupai kaum paganis (penyembah Berhala) kemudian kita menjadi digolongkan (sebagaimana dalam Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits diatas) sebagai bagian dari kaum paganis???

        Semoga Allooh سبحانه وتعالى senantiasa memberi kita semua hidayah dan taufiq untuk berada diatas jalan-Nya yang lurus hingga akhir hayat. Aamiiin.

  16. vicky permalink
    16 April 2013 10:24 am

    Mantep infonya..

  17. lalan iwanto permalink
    16 April 2013 1:26 pm

    Izin share ustad…
    Subhanallah… Berarti umat islam maasih banyak yang belum tau dan asal ikut apa yang ada pada umumnya, tanpa mengetahui sumbernya….

    • 16 April 2013 7:18 pm

      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Dan mudah-mudahan Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa memberi hidayah dan taufiq pada kita dan kaum Muslimin untuk beramal shoolih diatas tuntunan Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan Rosuul-Nya Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam… Barokalloohu fiika

  18. 17 April 2013 6:56 am

    Assalamualaykum wr wb..
    Ustadz saya diberi tahu teman bahwa lambang bulan bintang juga dipakai ketika kekhalifahan Saladin. Apakah itu benar?

    • 20 April 2013 7:06 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Walloohu a’lam, namun yang hendaknya kita camkan didalam diri kita adalah bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

      مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

      Artinya:
      Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari kaum itu.”
      (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4033, dan Syaikh Nashirudiin Al Albaany mengatakan Hadits ini Hasanun Shohiih, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه)

      Fahami baik-baik Hadits tersebut.

      Rosuululloh صلى الله عليه وسلم MA’SHUM, yang berarti: Terjaga dari Kesalahan dan Dosa.
      SELAIN ROSUULULLOOH صلى الله عليه وسلم adalah TIDAK MA’SHUM
      .

      Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم WAJIB DIIKUTI.
      Selain Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah kalau ia benar dan sesuai dengan tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka boleh diikuti.

      Seorang yang telah lalu dan meninggalkan kita, sedangkan dia melakukan kesalahan maka kita berdo’a semoga kesalahannya diampuni oleh Allooh سبحانه وتعالى, apalagi jika orang itu termasuk orang yang berjuang di jalan Allooh سبحانه وتعالى, yang bisa jadi kesalahannya didasarkan pada Ijtihad atau ilmu yang belum sampai atau bisa jadi sesudahnya ia bertaubat dan kemudian Allooh سبحانه وتعالى mengampuninya.

      Demikianlah kaidah yang hendaknya dipahami.

      Jadi bangunlah hidup ini diatas ilmu yang benar, berdasarkan tuntunan yang benar dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan bukan diatas meniru atau ber-taqlid pada seseorang…. Barokalloohu fiika.

  19. 18 April 2013 11:28 am

    Bagus bahasannya, cuma ada yang sedikit keliru tentang lambang PKS. Kalo saya lihat di AD/ART-nya PKS, bukan Bulan tapi itu lambang tulisan Allah, ditengahnya itu bulir padi.

    • 18 April 2013 11:44 am

      Syukron atas masukannya. Bila memang benar demikian, maka kalau antum tidak keberatan, bisakah antum copy paste-kan lambang PKS yang benar (dari AD/ART-nya) tersebut dan dikirim per email ke: ahwal3009@yahoo.co.id agar dapat diperbaiki?

  20. abu ahdy permalink
    22 April 2013 1:10 pm

    Assalamu ‘Alaikum ustadz, SubhanALLOH ana juga baru tahu… (kalo bintang-bintang yang lainnya memang sudah tahu)… ana baru tahu kalau bulan bintang seperti yang ada di bendera negara Islam, ternyata itu juga merupakan lambang-lambang paganisme…
    Jazakallahu Khairan Katsira ya Ustadz, ana izin share artikelnya…

    • 23 April 2013 6:30 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja ya akhi… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat…. Barokalloohu fiika

  21. Andi permalink
    12 Mei 2013 6:13 pm

    Assalamu ‘alaikum, Barokalloh laka ya Ustadz…
    Saya mau tanya, Ustadz… Akhir-akhir ini tersebar simbol-simbol yang oleh sebagian kaum Muslimin selalu dikait-kaitkan dengan simbol Yahudi, Freemasonry dll, padahal tidak menutup kemungkinan karena kejahilan si pembuatnya. Pertanyaannya, apakah simbol-simbol ini bisa mempengaruhi ‘aqidah si pemakainya, atau orang yang mengizinkannya? Dan apakah karena gambar sajadah yang mirip dengan simbol ini bisa membatalkan sholat orang yang hanya meniatkan ibadahnya untuk Allah ?
    Jazaakumullah atas penjelasan Ustadz….

    • 21 Mei 2013 3:56 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

      Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Isroo (17) ayat 15 bahwa,

      وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

      Artinya:
      Dan tidaklah Kami mengadzab (suatu kaum), sehingga Kami mengutus terlebih dahulu (pada kaum itu) seorang rosuul.”

      Dari ayat ini jelas bahwa:
      Jika orang itu karena kebodohannya melakukan kesalahan, maka mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى mengampuninya, dan tidak mencatatnya sebagai suatu dosa.

      Akan tetapi, janganlah kita selalu betah berada dalam kebodohan. Atau jika disampaikan ilmu, maka yang dipilihnya adalah tetap kebodohan.

      Karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Mencari ilmu (dien) itu adalah fardhu (wajib) atas setiap Muslim.”

      Demikian pula tentang sujud keatas Sajadah yang nampak simbol Yahudi / simbol lainnya. In syaa Allooh KARENA DIA TIDAK TAHU, maka tidak membatalkan sholatnya.

      Apakah simbol itu mempengaruhi keyakinan / kepribadian seseorang ataukah tidak, maka hal itu tergantung dari filosofi yang diyakininya terhadap simbol itu sendiri.

      Sebagai contoh:
      Dengan menggunakan suatu lambang tertentu, maka suatu organisasi / gerakan / lembaga meyakini bahwa lambang itu adalah sebagai penyebab maju / selamat / jaya organisasi / gerakan / lembaganya. Oleh karena keyakinan yang seperti ini tidak ada di dalam Al Islam, apalagi diajarkan oleh Al Islam; maka keyakinan yang demikian bisa dinyatakan sebagai menyalahi Syari’at.

      Demikianlah, semoga jelas adanya… Barokalloohu fiika.

  22. 15 Mei 2013 8:45 pm

    Assalamu ‘Alaikum ustadz, SubhanALLOH ana juga baru tahu……
    Jazakallahu Khairan Katsira ya Ustadz,ana izin copas dan share y ustadz

    • 15 Mei 2013 10:00 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  23. 19 Mei 2013 7:04 pm

    Assalamu A’laikum, Jazakallahu Khairan Katsira. ilmu yang sangat bermanfaat. Izin share

    • 19 Mei 2013 10:39 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  24. warno permalink
    21 Mei 2013 6:55 am

    Assamu ‘alaikum….untuk menambah informasi…..Unsur Lambang Partai Keadilan Sejahtera :
    1. Kotak Persegi Empat
    Kesetaraan
    Keteraturan
    Keserasian
    2. Kotak Hitam
    Ka’bah (Baitullah)
    3. Bulan Sabit
    Kemenangan Islam
    Keindahan
    Kebahagiaan
    Pencerahan
    4. Untaian Padi Tegak Lurus
    Keadilan
    Ukhuwah
    Istiqomah
    Kesejahteraan
    5. Putih
    Bersih dan Kesucian
    6. Hitam
    Aspiratif dan Kepastian
    7. Kuning Emas
    Kecemerlangan
    Kegembiraan
    Kejayaan

    Makna Lambang Partai Keadilan Sejahtera :
    Menegakkan nilai-nilai keadilan berlandaskan pada kebenaran, persaudaraan dan persatuan menuju kesejahteraan ummat dan bangsa” …….jadi menurut penjelasan point ke 3memang BULAN SABIT….wassalam

  25. Nabila Azzahra Putri permalink
    21 Mei 2013 12:23 pm

    Gak diliat dari maknanya pun simbol Bulan Bintang itu ANEH, masa’ BULAN lebih besar dari BINTANG… kan di alam semesta ukuran BINTANG terkecil saja sebesar MATAHARI….

  26. 21 Mei 2013 2:44 pm

    Subhanallah… detil sekali pembahasannya. Boleh saya re-blog ya ustadz?

    • 21 Mei 2013 2:56 pm

      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiiki

      • bryan permalink
        28 Mei 2013 6:59 pm

        Assalamu’alaikum pak ustadz,
        Sebelumnya terimakasih sudah membagi ilmunya, dan saya mohon ijin share…

        Saya mau tanya pak ustadz, kalo sebelumnya kita tidak tau INSYA ALLOOH tidak apa-apa begitu kan pak ustad, nah sekarang, saya sudah tau tentang kekeliruan bulan-bintang ini, dan bagaimana kita harus bersikap pak ustadz???
        Apakah masih boleh kita beribadah di masjid yang ada lambang ini-nya?
        Terimakasih banyak pak ustadz, mohon penjelasannya..

      • 31 Mei 2013 10:08 am

        Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
        Silakan saja ya akhi… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.

        Menghindarlah sedapat mungkin dari atribut-atribut yang dengan menggunakannya itu bisa diartikan membiarkan kesalahan atau menerima kesalahan; dengan cara misalnya: menutup simbol tersebut (contoh: apabila sajadah yang ada di masjid tersebut bergambar bulan sabit dan bintang, bisa saja antum tutupi dengan sajadah polos yang antum bawa sendiri dari rumah) atau tidak sholat persis diatas simbol tersebut, atau mengganti simbol tersebut, atau memberitahu pihak yang berwenang (antara lain pihak DKM Masjid).

        Demikianlah semoga jelas adanya… Barokalloohu fiika.

  27. 5 Juni 2013 12:35 pm

    Assalamualaikum warohmatuLLAHiwabarokatuh
    Ustadz… kalo menurut saya hal-hal yang mengenai diatas itu kan semata karena sebuah budaya yang di-Islamkan kan ustadz, seperti halnya ajaran para Sunan dan Wali di tanah Jawa yang mana tetap fleksibel menyikapi budaya yang manfaatnya lebih banyak daripada madhorotnya… Jadi selagi budaya itu bisa di-Islamkan dalam artian tidak menyimpang dari koridor Islam yang ada, dan tidak merusak keimanan terhadap Islam dan ALLAH kedepannya kan jadi tidak masalah… Mohon ditanggapi ya ustadz, ini menurut pemikiran saya pribadi sebagai orang awam.
    Segala kesempurnaan milik ALLAH.
    Wassalamu’alaikum warohmatuLLAHiwabarokatuh..

    • 21 Juni 2013 11:28 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

      1. Kita diperbolehkan untuk menggunakan RASA dan PIKIR, SELAMA TIDAK MENYELISIHI, apalagi menentang APA YANG MENJADI SYARI’AT ALLOOH سبحانه وتعالى dan ROSUULULLOOH صلى الله عليه وسلم.

      2. Kaum Muslimin DILARANG MENYERUPAI ORANG-ORANG KAAFIR, MUSYRIK, ORANG-ORANG FAASIQ, ORANG-ORANG AHLUL BID’AH dan ORANG-ORANG YANG TIDAK SHOOLIH.

      3. Ustadz setuju jika kita menggunakan budaya, SELAMA TIDAK MENCEMARI ‘AQIIDAH atau SELAMA TIDAK MENYELISIHI SYARI’AT dan bermanfaat bagi kemanusiaan dan peradaban.

      4. Apa yang dicontohkan tentang Wali Songo, Ustadz tidak lah setuju dengan pendapat anda, karena Berdakwah dengan Musik, atau mendongeng dan melucu, apalagi meyakini dan mengamalkan amalan-amalan yang diyakini dapat mengakibatkan adanya kesaktian-kesaktian yang luar biasa maka semua itu adalah TIDAK ADA DALAM SUNNAH ROSUULULLOOH صلى الله عليه وسلم, BAHKAN MENYERUPAI AGAMA & PERADABAN MUSYRIKIN & KEBATINAN.

      5. Yang harus tertanam dalam diri setiap Muslim adalah MEYAKINI & BERPEGANG TEGUH DENGAN ISLAM DENGAN PENUH RASA BANGGA, TIDAK MINDER, dan “tidak menoleh ke kanan dan ke kiri”, jika pada akhirnya menoleh itu membuahkan kesia-siaan, apalagi kema’shiyatan.

      Barokalloohu fiiki

  28. Tommy permalink
    25 Juni 2013 2:40 am

    Salam Pak Ustadz.
    Saya adalah Umat Kristiani yang sedang mencari kejelasan sejarah tentang simbol bulan dan bintang.
    Sebab dari apa yang saya baca dan dengar adanya hubungan atau keterkaitan Umat Kristiani dengan Umat Islam dalam sejarah munculnya lambang bulan dan bintang yang kita lihat saat ini.
    Dan saya mengucapkan terimakasih atas informasinya, karena setelah membaca informasi dari blog ini saya jadi lebih mengetahui sejarah munculnya serta makna dari lambang tersebut.
    Semoga berita miring dan rancu yang menyebar saat ini di kalangan masyarakat baik pada Umat Islam maupun Umat Kristiani yang diakibatkan dari segelintir atau sekumpulan orang tak bertanggung jawab dapat dijernihkan dengan adanya informasi sejarah ini.
    Saya juga mohon ijin untuk mendownload File PDF yang telah anda sediakan untuk tambahan pengetahuan saya, sekali lagi terimakasih atas infonya.

    Salam Damai untuk kita semua.
    Semoga Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita Umat-Nya.

    • 25 Juni 2013 6:10 am

      Wa ‘alaikum,
      Silakan saja, anda dapat mendownload file-file yang ada… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.

  29. oces permalink
    1 Juli 2013 12:49 am

    Pemaparan Ustad dengan semua argumentasinya bahwa bulan sabit dan bintang adalah bukan lambang islam atau tidak ada kaitannya dengan Islam, memang bisa diterima, walaupun ustad mengistilahkannya salah kaprah… tapi analoginya begini, bisakah kita percaya jika melihat seseorang berbaju tentara lengkap, kemudian orang tersebut mengatakan “Saya bukan tentara, tetapi saya juru parkir”… nah yang kita percaya kan pasti faktanya bahwa dia berpakaian tentara maka dia tentara, walaupun dia mengatakan sebagai juru parkir, tapi faktanya dia berbaju tentara, maka kita percaya bahwa dia itu tentara…

    • 1 Juli 2013 5:48 pm

      Mohon maaf, bisakah pertanyaan antum diperjelas ya akhi?… Karena maaf, belum tertangkap maksud pertanyaannya…

      • oces permalink
        1 Juli 2013 8:16 pm

        Point pertanyaan saya adalah, kenapa tidak diterbitkan saja semacam fatwa misalnya, bahwa penggunaan lambang Bulan Sabit dan Bintang untuk hal-hal yang berkaitan dengan Islam adalah dilarang, karena ada potensi untuk disalah-persepsikan oleh pihak yang tidak mengerti.
        Jadi dengan demikian pihak-pihak seperti ustad atau para ahli agama yang lain, tidak perlu repot-repot menerangkan tentang tidak adanya relevansi antara lambang Bulan Sabit dan Bintang dengan hal-hal yang berafiliasi dengan Islam.

      • 20 Juli 2013 8:24 pm

        Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
        Sebagai seorang Muslim hendaknya kita merenungkan secara mendalam tentang bahaya dari TASYABBUH yang telah diperingatkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Abu Daawud no: 4033, dan Syaikh Nashirudiin Al Albaany mengatakan Hadits ini Hasanun Shohiih, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه berikut ini:

        مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

        Artinya:
        Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari kaum itu.”

        Mudah-mudahan para ‘Ulama menyadari pentingnya terhindar dari perkara Tasyabbuh, lalu mereka tidak ghoib dari menyikapi, menjelaskan, mengajarkan serta menyampaikannya kepada ummat.

  30. 1 Juli 2013 12:25 pm

    Bismillah.
    ‘afwan Ustadz, ana izin copas untuk disebar diblog ana.
    jazakallohu khoiron.

    • 1 Juli 2013 5:34 pm

      Silakan saja… Antum dapat mengcopy-paste serta menyebarluaskannya sebagai dakwah Lillaahi Ta’aalaa… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiik

  31. 25 Juli 2013 1:50 pm

    Assalamu Alaikum, Ustadz. Terima kasih atas pencerahannya. Sekarang setelah saya mengetahui bahwa lambang-lambang tersebut tidak Islami, masih bolehkah saya sholat di dalam masjid yang pada pucuk kubahnya terdapat lambang bulan dan bintang?

    • 27 Juli 2013 5:24 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

      Ustadz tidak melarang; akan tetapi sebelum segala sesuatu haruslah kita ketahui bahwa: “Kita harus MEMURNIKAN ISLAM ini, sejak dari mulai KEYAKINAN hingga kedalam PENGAMALAN.”

      Termasuk pengetahuan dan keyakinan bagi kaum Muslimin bahwa penggunaan lambang dan simbol seperti itu terbukti tidak terpisahkan dari budaya Paganisme yang berasal dari zaman jauh sebelum masa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم diutus (yang dalam hal ini, penggunaan lambang demikian itu berarti tergolong TASYABBUH yang dilarang oleh Allooh سبحانه وتعالى); akan tetapi bisa jadi penggunaan simbol itu adalah karena ketidaktahuan dan ketidaksengajaan. Disamping itu memang tidaklah setegas larangan sholat di masjid-masjid yang didepannya ada kuburan.

      Oleh karena itu, jika memang ada masjid yang lebih sesuai Sunnah dari masjid yang berlambangkan bulan bintang itu maka sholatlah disana. Namun, apabila masjid yang sesuai Sunnah itu jauh / sulit dicapai atau karena udzur lainnya, sehingga hal itu menjadi kendala bagi anda dan bahkan menjadikan anda berkemungkinan absen dari pahala sholat berjama’ah di masjid; maka in-syaa Allooh Ta’aalaa tidak mengapa sholat di masjid yang pucuk kubahnya masih bersimbolkan bulan dan bintang; sambil sebagai bagian dari dakwah hendaknya anda berupaya untuk menginformasikan kepada pihak yang berwenang dalam masjid itu (misal: DKM) dengan cara yang bijak / hikmah tentang apa yang harus disikapinya.

      Demikianlah, semoga jelas adanya… Barokalloohu fiika.

  32. Maghfur-Surabaya permalink
    18 Agustus 2013 12:46 pm

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh….

    Ana ijin download all PDF, menyangkut Yahudi. Dan membagikan ke lingkungan ana…
    Mengingat banyaknya kekurang mengertian saudara-saudara sesama muslim.
    Alhamdulillaah…. ana menemukan web ini sebagai referensi. Karena telah beberapa hari mencari sumber yang mampu menjelaskan secara sistematis disertai data yang kuat.

    Atas informasinya, ana sampaikan
    Jazakalloohu khairan…

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh….

  33. 28 Agustus 2013 11:18 am

    Ijin share ustad…..

  34. Hanifah permalink
    19 November 2013 2:03 am

    Jazzakallah
    Izin share ustad, selama ini saya yang berkutat di dunia arsitektur terkadang ikut terbawa dalam masalah simbolik seperti ini.
    Barokalloh…

  35. 26 November 2013 9:36 am

    Assalamu’alaikum ustadz, tulisan yang sangat luar biasa..
    Berbicara soal simbol memang sangat sensitif, jika dikait-kaitkan semua bentuk simbol bisa berkaitan dengan simbol umat manusia pada zaman dahulu….
    Lalu bagaimana cara para seniman menyikapi ini jika semua bentuk dikaitkan dengan simbol umat zaman dahulu ? Misalkan untuk membuat ornamen, pasti akan banyak bentuk di sana, mulai dari garis sampai bermacam-macam gambar 2D….
    Misalkan juga kita mengambil foto seseorang dengan posisi 45 erajat dari objek, maka mata orang yang diambil fotonya hanya akan terlihat 1 mata saja, tanpa ada maksud apa-apa, kemudian ada orang yang mengait-ngaitkan kalo kita mempropagandakan mata satu.. Lalu bagaimana sikap kita?… Jazaakallah

    • 29 November 2013 11:19 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      1) Segala sesuatu TERGANTUNG PADA NIATNYA.
      2) KEYAKINAN menjadi INDIKATOR PENTING / TOLOK UKUR dalam suatu karya seni. Apakah berlandaskan pada keyakinan yang benar ataukah berlandaskan pada keyakinan yang bathil.
      3) Islam sudah cukup komprehensif dalam mengatur tata cara berkarya seni.
      4) Biasanya seorang seniman sarat (penuh) dengan inisiatif dan improvisasi. Kenapa hal itu tidak diterapkan, lalu lagi-lagi harus menjiplak karya orang, apalagi yang jelas-jelas menyimpang.
      5) Memang perlu diketahui bahwa perkara dunia itu hukum asalnya boleh-boleh saja. Tetapi bukan berarti boleh semaunya sendiri saja. Yang benar adalah: “Tumpahkan karya seni yang “Benar-Benar” saja.”
      Barokalloohu fiika.

      • 30 November 2013 6:51 pm

        Misalkan umat muslim meyakini simbol Bulan Sabit-Bintang didasarkan pada bendera khilafah Utsmani tanpa sedikit pun bermaksud lainnya, apakah hal tsb tetap tidak dianjurkan ustad? Syukron..

      • 7 Desember 2013 11:14 pm

        Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
        TETAP TIDAK DIANJURKAN.

        1) Ya akhi, jika ingin meraih cinta Allooh سبحانه وتعالى, maka ikutilah tuntunan Nabi Muhammadصلى الله عليه وسلم karena sebagaimana dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 31, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

        قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

        Artinya:
        Katakanlah: ‘JIKA KAMU (BENAR-BENAR) MENCINTAI ALLOOH, IKUTILAH AKU (Muhammad), niscaya Allooh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allooh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

        Lalu apa tuntunan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dalam hal ini? ROSUULULLOOH صلى الله عليه وسلم MELARANG TASYABBUH (MENYERUPAI ORANG KAFIR).

        Betapa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah memberikan ancaman bahwa siapa yang Tasyabbuh (menyerupai orang-orang kafir), maka dia terancam digolongkan kedalam golongan (orang kafir) yang ditirunya itu. Perhatikan peringatan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits Riwayat Al Imaam Abu Daawud no: 4033 berikut ini, dan Syaikh Nashirudiin Al Albaany mengatakan Hadits ini Hasanun Shohiih, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه:

        مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

        Artinya:
        Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari kaum itu.”

        Disinilah IMAN itu BERPERAN.

        Di zaman kita hidup sekarang ini, betapa banyak orang-orang yang mengaku dirinya “Muslim”, namun ketika diajak untuk menerapkan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, misalnya saja: berjenggot, tidak Isbal, berjilbab dan lain sebagainya; maka ia merasa keberatan untuk melaksanakannya. Berbagai macam alasan dikemukakan olehnya, yang sebenarnya itu semua adalah mencari dalih untuk menutupi keengganannya menepati dan menetapi tuntunan, contoh dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

        Sebaliknya betapa banyak orang-orang yang mengaku dirinya “Muslim” itu justru malah mengikuti, meniru, mencontoh, berbangga, merasa nyaman dengan apa-apa yang menjadi simbol dari keyakinan orang-orang kafir, padahal ia diperintahkan untuk menjauhinya; sebagaimana LARANGAN Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم untuk TIDAK TASYABBUH seperti yang telah disampaikan dalam Hadits diatas.

        Jadi perhatikanlah, betapa banyak orang-orang yang mengaku dirinya “Muslim” namun mereka itu merasa “minder”, tidak percaya diri untuk menampakkan Jati Diri ke-Islam-annya; dan sebaliknya berbangga ketika meniru, mencontoh, mengikuti apa-apa yang berasal dari orang-orang kafir. Dan ini adalah musibah bagi ummat ini; yang jauh-jauh hari sejak 1435 tahun lalu telah diperingatkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 6952, dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه berikut ini:

        لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ « فَمَنْ

        Artinya:
        Kalian akan mengikuti adat tradisi ummat sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekiranya mereka masuk dalam lubang dobb (– sejenis biawak –) sekalipun, niscaya kalian akan mengikutinya juga.”
        Para Shohabat bertanya, “Wahai Rosuulullooh, apakah yang dimaksud itu orang-orang Yahudi dan Nashroni?
        Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?

        Maka hendaknya orang-orang yang mengaku dirinya “Muslim” namun bersikap demikian itu mempertanyakan & meng-introspeksi ke-Iman-an dalam dirinya.
        Siapakah yang pada dasarnya diikuti oleh dirinya? Sudahkah ia benar-benar beriman dan mencintai Allooh
        سبحانه وتعالى dengan mengikuti Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم? Ataukah malah HAWA NAFSU-nya yang lebih dikedepankan oleh dirinya dan menjadi Tuhan-nya ?

        Ingatlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. AL JAATSIYAH (45) ayat 23 :

        أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

        Artinya:
        Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan HAWA NAFSU-nya sebagai tuhannya dan Allooh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allooh telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk setelah Allooh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

        2) Ya akhi, yang hendaknya kita ikuti dan kita jadikan contoh itu adalah Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, karena sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Najm (53) ayat 3-4 :

        وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

        Artinya:
        Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

        Selain Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah tidak ma’shum, sekalipun itu berasal dari kekhalifahan ‘Utsmaniyyah. Bisa benar atau bisa salah. Kalau apa yang berasal dari kekhalifahan ‘Utsmaniyyah itu tidak menyelisihi tuntunan dan Sunnah Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, maka tidak mengapa untuk diikuti. Namun apabila MENYELISIHI tuntunan dan Sunnah Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, maka JANGANLAH DIIKUTI, oleh karena Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Hasyr (59) ayat 7 :

        …وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا …

        Artinya:
        “…Apa yang diberikan Rosuul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…”

        Demikianlah, mudah-mudahan kita mencukupkan diri dengan apa-apa yang berasal dari tuntunan, contoh, Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena itulah jalan menuju kepada keridhoan Allooh سبحانه وتعالى dan surga-Nya; sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 7280 berikut ini, yang memerintahkan kita agar mengikuti segala apa yang bersumber dari Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:

        عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

        Artinya:
        Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwasanya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Semua ummatku akan masuk surga kecuali yang menolak.”
        Dikatakan: “Siapakah yang menolak ya Rosuulullooh?
        Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mentaatiku, maka dia pasti masuk surga, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah orang yang menolak.”

        Barokalloohu fiika.

  36. 16 Desember 2013 3:05 pm

    Izin share ustadz

    • 16 Desember 2013 10:34 pm

      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika.

      • Ayu Rodiah permalink
        18 Desember 2013 4:31 pm

        Izin share Ustadz. :)

      • 19 Desember 2013 9:15 pm

        Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiiki

  37. Nugroho permalink
    12 Januari 2014 2:36 pm

    Ijin share

    • 13 Januari 2014 4:31 pm

      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika.

  38. 24 April 2014 4:52 pm

    Ijin Share

    • 27 April 2014 6:43 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja ya akhi…. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat…. Barokalloohu fiika

  39. 11 Juni 2014 12:23 pm

    Terimakasih pak ustadz atas artikelnya, jadi lebih paham..

  40. 13 Juni 2014 5:08 pm

    asalamualaikum pak ustadz izin share media sosial nih boleh tidak ?

    • 13 Juni 2014 6:12 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiik

  41. Aizat permalink
    15 Agustus 2014 3:56 am

    Assalamualaikum ustaz terima kasih atas penerangan ini, bertambah jelas pandangan saya penggunaan simbol bulan dan bintang adalah perbuatan menggalakkan syirik. Mohon share

    • 16 Agustus 2014 8:11 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja…. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiiki

  42. 9 September 2014 1:11 pm

    syukron ustadz, mohon izin download artikelnya

    • 10 September 2014 6:00 pm

      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 241 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: