Skip to content

Aadaab Dzikri (Tatacara Berdzikir)

20 November 2010

(Transkrip Ceramah AQI 240406)

AADAAB DZIKRI (TATACARA BERDZIKIR)

Oleh : Ust. Achmad Rofi’i, Lc.


بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Bahasan kali ini adalah tentang Aadaab Dzikri atau Tatacara Berdzikir atau Kaifiyat Berdzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى. Kalau kita sudah melazimkan berdzikir, maka kita tinggal melakukan introspeksi. Kalau ada yang salah, maka mudah-mudahan bahasan ini bisa berfungsi sebagai pelurus. Kalau belum berdzikir, maka mudah-mudahan bahasan ini menjadikan kita tertarik untuk melazimkan berdzikir. Kalau sudah biasa berdzikir tetapi masih kurang, maka mungkin dengan bahasan ini lalu bisa ditambah. Dan kalau ada pemahaman yang keliru, maka tentunya harus kita luruskan sesuai dengan tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Istilah Dzikir bagi kita tentunya sudah tidak asing lagi, bahkan dalam beberapa dekade terakhir ini menjadi suatu trendy, yaitu beberapa istilah akhir-akhir ini misalnya: Dzikir Nasional, Dzikir Akbar, Majlis Dzikir, dll. Selain itu kita juga sering mendengar ada istilah “Istighootsah kubro”, dll yang merupakan kreativitas, padahal semestinya kita kembali kepada landasan yang benar, tidaklah hanya sekedar sebagai suatu istilah saja.

Aadaab Dzikir itu tidak kalah pentingnya untuk kita perhatikan, karena tidak kurang dari 12 poin yang berkenaan dengan dzikir. Kami nukilkan dari kitab Mausuu’at Al ‘Aadaab Al Islamiyyah, yang ditulis oleh seorang Syaikh bernama Abdul ‘Aziz bin Fathi As Sayyid Nida.

Perlu kita sadari bahwa “Dzikir maknanya adalah “Ingat“. Tetapi tidak identik dengan “eling”. Karena “eling” berasal dari ajaran kejawen, sedangkanAdz Dzikru berasal dari bahasa Arab, bahkan berasal dari Al Qur’an dan Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Maka istilah Dzikir bukanlah istilah yang diciptakan, dilontarkan atau dicetuskan oleh manusia, melainkan Dzikir adalah wahyu dari Allooh سبحانه وتعالى. Sehingga bisa dipastikan bedanya. Apalagi bila diperhatikan dari sisi prakteknya, maka Dzikir yang dimaksud oleh Syar’i itu tidak lah sama dengan “eling”.

Dzikir adalah diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى, dan hukumnya sama dengan hukum-hukum Syar’i yang lain. Kalau kita tahu bahwa sholat 5 waktu hukumnya adalah Wajib, zakat hukumnya adalah Wajib, shoum hukumnya adalah Wajib, maka Dzikir pun sebenarnya hukumnya adalah Wajib.

Karena Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Ahzab (33) ayat 41:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, dzikirlah (ingatlah) kalian kepada Allooh dengan dzikir (ingat) yang seBANYAK-BANYAK-nya.”

Yang bisa dipastikan dalam ayat tersebut adalah tiga hal:

1.      Dzikir (ingat)

2.      Yang diingat (di-dzikir-i), yaitu Allooh سبحانه وتعالى

3.      Banyak (katsiiran). Arti “BANYAK” disini adalah mutlak. TIDAK BOLEH ADA ORANG YANG MEMBATASI BANYAKNYA DZIKIR. Dzikir tidak bisa disebutkan berapa kali jumlahnya, KALAU TIDAK ADA DALIIL YANG MENENTUKAN JUMLAHNYA.

Bahwa dalil itu bila ia mutlak, maka biarkanlah ia mutlak sampai dengan datangnya suatu dalil yang me-muqoyyad-kan (men-detailkan) dalil yang mutlak tersebut. Kata “katsiiran” (banyak) artinya adalah mutlak, tidak dijelaskan berapa banyaknya. Sehingga tidak boleh ada orang yang mengatakan bahwa banyaknya harus 1000 kali atau 100 kali atau 7 kali, TANPA SUATU DALIL. Yang demikian ini adalah tidak boleh.

Yang harus kita pahami juga, bahwa Dzikir itu adalah ibadah. Dzikir bukanlah kreativitas, karena bukan termasuk masalah duniawi. Melainkan Dzikir adalah perintah Allooh سبحانه وتعالى dan hukum aslinya adalah Wajib, seperti perintah berdzikir sebanyak-banyaknya sebagaimana yang telah disebutkan pada ayat diatas.

Al Qur’an itu minimal terdiri atas dua perkara yang paling inti, yaitu Hukum dan Khobar.

Hukum berisi perintah dan larangan. Perintah bisa menjadi Wajib dan bisa menjadi Sunnah. Larangan bisa menjadi Harom dan bisa menjadi Makruh. Dan kalau tidak ada perintah atau larangan, maka hukumnya adalah Mubah (Boleh).

Khobar ada berberapa kriteria, yaitu khobar tentang masa lalu, dan khobar tentang masa yang akan datang termasuk hari esok sampai hari Kiamat.

Ada khobar yang merupakan berita yang akan terjadi di masa yang akan datang, seperti ‘Alam Barzakh (kubur), Hari Kiamat dan sebagainya, yaitu balasan bagi ahli Tauhiid maupun ahli Syirik.

Dengan demikian, maka Dzikir adalah termasuk Hukum. Karena berupa Hukum dan Perintah Allooh سبحانه وتعالى, maka dzikir adalah tergolong ibadah. Karena dzikir itu ibadah, maka harus melekat pada setiap hati dan pikiran kita bahwa Ibadah itu hukum asalnya adalah Harom, bila tidak ada dalil tentangnya. Dalam kaidah dikatakan:

Al Ashlu fil ‘ibaadati attahriim illaa ma ja’a bihii daliil” (Hukum ibadah itu asalnya adalah Harom, kecuali bila ada dalilnya).

Contohnya:

a)      Seandainya ada orang mengatakan “Anda harus mengamalkan suatu dzikir”. Jika ia yang mengatakan demikian itu, tidak bisa membuktikan dalilnya bahwa dzikir yang dimaksud tersebut mesti dilakukan, maka dzikir itu secara hukum adalah Harom untuk dilaksanakan.

b)      Sebaliknya, bila ada orang yang mengatakan “Tidak boleh berdzikir”. Jika ia yang mengatakan demikian itu ternyata tidak ada dalil tentang larangan tersebut, maka larangan itu adalah Harom.

Dzikir itu adalah Ibadah. Dan karena merupakan ibadah, kalau ada dalilnya akan kita bahas dan kita amalkan. Kalau tidak ada dalilnya, maka Harom untuk kita amalkan atau kita lazimkan.

Demikianlah landasan sebagai muqoddimah bahasan kita kali ini, sehingga kita lurus dalam memahami perkara Dzikir ini.

Berkenaan dengan Dzikir, ada 6 perkara yang tidak boleh dilanggar yaitu:

1.      SEBAB. Apa yang menjadi sebab dari seseorang itu berdzikir.

Misalnya: Seseorang berdzikir karena ingin mendapatkan istri. Sebab yang seperti ini bisa menjadi salah, karena tergolong beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan sebab yang tidak disyari’atkan oleh Allooh سبحانه وتعالى.

Padahal, seharusnya seseorang itu berdzikir karena ingin melaksanakan perintah Allooh سبحانه وتعالى, bukan sebagaimana sebab seperti yang dicontohkan di atas atau sebab-sebab duniawi lainnya seperti ingin sakti, dll.

Yang benar, seseorang berdzikir itu landasannya haruslah Syar’i. Kalau tidak syar’i, berarti menyimpang atau Bid’ah.

2.      CARA berdzikir. Cara berdzikir haruslah sesuai dengan tatalaksana menurut Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Kalau cara berdzikirnya itu mengarang sendiri atau menurut ketentuan dan rumusan sendiri, baik secara untaian lafadz, ataupun urutan dzikirnya, ataupun urutan sistematikanya; maka yang demikian itu termasuk perbuatan Bid’ah karena tidak ada ajarannya dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Misalnya: dzikir dengan kepala digeleng-gelengkan, atau badan digoyang-goyangkan, yang seperti itu tidak boleh karena tidak ada dalilnya. Dzikir dengan menggunakan tasbih, atau dzikir diharuskan dengan berpakaian seragam putih-putih, hal-hal ini pun termasuk tidak boleh karena tidak ada dalilnya.

3. BILANGAN (JUMLAH) berdzikir. Bilangan (Jumlah) berdzikir bukanlah wewenang manusia untuk menentukannya.

Misalnya: Ada yang mengatakan “Bila ingin mudah rizqinya, maka ucapkanlah yaa Wahhaab, yaa Wahhaab sebanyak 1001 kali.” Menyebutkan bilangan seperti itu adalah tidak boleh, karena tidak ada dalilnya. Bilangan-bilangan dzikir yang tidak ada tuntunannya yang shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ini, seringkali berasal dari buku-buku yang dijual di pasaran kaki lima, seperti: Khasiat Asmaa’ul Husna, dll, dimana juga dikatakan kalau tulisan-tulisan dzikir itu hendaknya dimasukkan kedalam air putih, lalu diminum, dstnya. Yang dimana hal-hal seperti ini tidak ada dalilnya, jadi walaupun dijual belikan dalam buku yang edisi cetakannya bagus (tampak mahal) sekali pun, janganlah dibeli dan tidak boleh diamalkan.

Tetapi kalau memang ada dalilnya yang berasal dari Sunnah Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم, dan dalilnya adalah shohiih, maka barulah benar dan boleh untuk dilaksanakan. Contoh, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim dari shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

Artinya:

“Barangsiapa membaca “Laa Ilaaha Illalloohu Wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa ‘Alaa Kulli Syai’in Qodiir (artinya: “Tidak ada yang berhak diibadahi dengan sebenarnya, kecuali hanya Allooh dan tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala Kerajaan dan Pujian dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu”) sebanyak 100 kali dalam sehari, maka baginya (pahala) seperti memerdekakan sepuluh budak, ditulis seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan dan mendapatkan perlindungan dari syaithoon pada hari itu hingga sore hari.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3293 dan Imaam Muslim no: 7018 dan ini lafadz  dari Imaam Al Bukhoory)

4. TEMPAT

Kalau ada orang yang mengatakan “Anda harus berdzikir di Gunung Kidul, atau di kaki Gunung Ciremai atau di makam Wali Songo”, misalnya, maka berarti ia telah memberikan suatu ketentuan tempat; yang jika menentukan suatu tempat tertentu untuk berdzikir itu tidak ada landasan dalilnya maka dikategorikan sebagai Bid’ah.

Bahkan sampai untuk urusan Haji atau Umroh sekalipun, diantara kaum muslimin berkembang suatu khurofat (tahayul), dimana mereka meyakini bahwa jika seseorang mudah masuk ke Gua Hira lalu sholat dua roka’at didalamnya, maka ia akan dimudahkan segala urusannya di dunia. Ini tidak benar, karena tidak ada landasan dalil yang shohiih tentangnya. Padahal, Gua Hira itu diatas tebing gunung yang tinggi, sulit dijangkau, tidak ada rumput, hanya batu-batuan yang terjal, kalau orang terpeleset jatuh ke bawah maka ia bisa mati. Tetapi banyak kaum muslimin yang tidak jera, mereka berduyun-duyun naik ke Gua Hira karena ingin melakukan amalan yang tidak ada sunnahnya. Hal ini hendaknya menjadi peringatan bagi kaum muslimin.

5. WAKTU

Misalnya ada yang mengatakan “Anda harus berdzikir sebelum matahari terbenam atau sesudah terbit matahari”, dsbnya yang tidak ada landasan dalil yang shohiih tentangnya, maka itu terkategorikan Bid’ah.

6. JENIS dzikir

Ketentuan dzikir itu haruslah berdasarkan tuntunan dan ajaran dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tidak boleh ada orang yang mengarang dzikir sendiri, kecuali bila itu hanyalah sekedar mengingat Allooh سبحانه وتعالى di dalam hati saja.

Tetapi memberi ketentuan jenis dzikir tertentu lalu diajarkan, diijazahkan kepada orang lain untuk diamalkan dan itu jelas tidak ada tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka yang demikian itu adalah tergolong Bid’ah. Meskipun yang mengajarkannya adalah Kyai atau Ajeungan sekalipun, tetap tidak boleh diamalkan bila tidak ada dalil shohiih tentangnya.

Enam perkara tersebut perlu untuk diketahui dan dijadikan landasan pada diri kita masing-masing, ketika kita membahas tentang masalah dzikir atau ibadah-ibadah yang lainnya.

Kalau enam perkara itu ada dalam tuntunan yang shohiih dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuululloh صلى الله عليه وسلم, maka itu merupakan Sunnah untuk diamalkan. Tetapi bila tidak ada ajarannya, tidak ada tuntunannya, maka janganlah coba-coba; karena kalau hal itu dilakukan, maka sebanyak atau selama apa pun Anda berdzikir, maka dzikir itu nilainya adalah nol dihadapan Allooh سبحانه وتعالى. Tidak akan diterima, dan tertolak.

Sebagaimana sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya:

BARANGSIAPA MENGADAKAN SESUATU YANG BARU DALAM URUSAN DIIN kami yang bukan berasal darinya, maka (PERBUATAN ITU) TERTOLAK.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2697 dan Imaam Muslim no: 4589, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)

Jadi barangsiapa yang beramal tidak sesuai dengan ajaran Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka amalan itu tertolak, tidak akan diterima oleh Allooh سبحانه وتعالى.

Meskipun dzikirnya itu dikerjakan dengan khusyu’, dengan rasa haru sampai melelehkan air mata, menangis dan sebagainya; itu semua tidak ada artinya. Karena ini adalah urusan ibadah, bukan urusan rasa. Bukan urusan enak dan tidak enak, bukan urusan sreg dan tidak sreg; tetapi urusannya adalah dalil. Kalau tidak ada dalilnya, tidak ada perintah dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya, maka berarti Bid’ah. Kalau ada dalilnya, maka itu berarti adalah masyru’ (Syar’i).

Bab. DZIKIR

Kalau kita hendak berdzikir, karena kita tahu bahwa Dzikir itu adalah perintah Allooh سبحانه وتعالى dan tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ada beberapa hal yang perlu dan harus kita perbuat, yaitu:

1. Harus dengan NIAT IKHLAS dan Lillaahi Ta’alaa

Ketika kita berniat untuk berdzikir, haruslah tulus karena Allooh سبحانه وتعالى. Ikhlas dalam niat berdzikir, motivasinya adalah:

a.   Karena Allooh سبحانه وتعالى memerintahkannya kepada kita, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 152 :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

Artinya:

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat)-Ku.”

b.   Karena kita butuh kepada Allooh سبحانه وتعالى, sementara Allooh سبحانه وتعالى tidaklah butuh kepada kita.

Dalam Hadits riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6407, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Arinya:

Perumpamaan orang yang ingat (berdzikir) kepada Robb-nya dengan orang yang tidak ingat (berdzikir) kepada Robb-nya adalah laksana orang yang hidup dengan orang yang mati.”

c.   Dzikir kita hanyalah ditujukan kepada Allooh سبحانه وتعالى, bukan kepada selain-Nya. Tidak usah menyebut-nyebut para Wali, para ‘Ulama misalnya Abdul Qodir Jaelani karena yang demikian tidak diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tidak ada pula dzikir untuk mengingat Wali atau ‘Ulama si Anu dsbnya. Juga tidak ada tuntunan dari Rosuul صلى الله عليه وسلم untuk mengirim bacaan Surat Al Faatihah kepada si Fulan bin Fulan. Itu semua tidak ada tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan merupakan perkara yang Bid’ah.

d.   Berdzikir itu hanya karena berharap ganjaran dan pahala kebajikan dari Allooh سبحانه وتعالى belaka.

Perhatikan firman Allooh  dalam QS. Al Ahzaab (33) ayat 35:

… وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيراً وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

Artinya:

“… laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allooh, Allooh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Juga Hadits dari shohabat Abud Darda رضي الله عنه, dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda : “Maukah kamu kutunjukkan perbuatan yang terbaik, paling suci disisi Allooh, dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu daripada infaq emas ataupun perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu lantas kamu memenggal lehernya atau mereka yang memenggal lehermu?”

Para shohabat yang hadir berkata, “Mau, ya Rosuulullooh !”

Maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Dzikir kepada Allooh yang Maha Tinggi.”

Itulah yang dimaksud dengan ikhlas kepada Allooh سبحانه وتعالى dalam berdzikir. Tidak peduli penilaian dari orang lain, komentar orang lain, yang jelas dzikir karena ikhlas, tulus berharap dari sisi Allooh سبحانه وتعالى belaka.

Sedangkan dalil tentang “Ikhlas” adalah umum seperti halnya untuk ibadah-ibadah yang lain, sebagaimana firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Ghofir (40) ayat 65 :

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya:

Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak diibadahi) melainkan Dia; maka ibadahilah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allooh Robb semesta alam.”

Dan dalam QS. Al Bayyinah (98) ayat 5:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ …

Artinya:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allooh dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) dien dengan lurus…”

Juga dalam QS. Az Zumar (39) ayat 11:

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصاً لَّهُ الدِّينَ

Artinya:

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya beribadah kepada Allooh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) dien.”

Jadi, tidaklah kita diperintahkan oleh Allooh سبحانه وتعالى untuk melakukan sesuatu, kecuali hanyalah untuk beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan tulus. Tidak ada perintah lain, kecuali untuk beribadah. Maka satu-satunya tugas pekerjaan kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Ketika kita beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى termasuk dzikir, keadaannya haruslah ikhlas, jangan terpaksa, jangan karena selain Allooh سبحانه وتعالى. Harus betul-betul karena Allooh سبحانه وتعالى. Dorongan dan motivasi kita adalah dari Allooh  سبحانه وتعالى dan untuk Allooh سبحانه وتعالى, juga berdasarkan syari’at dari Allooh سبحانه وتعالى. Itulah hal yang penting yang harus kita ingat, ketika kita berdzikir.

Ada Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang sangat masyhur, dimana beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:

إنما الأعمال بالنيات

Inna a’malu binniyaat

(“Amalan itu haruslah dibarengi dengan niat”),

Lalu sabda beliau صلى الله عليه وسلم selanjutnya:

Seseorang itu akan berhak mendapatkan balasan dari Allooh sesuai dengan niatnya.”

Kalau seseorang itu beramal karena selain Allooh سبحانه وتعالى, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa; paling-paling hanyalah mendapatkan pujian dari orang lain. Tetapi bila seseorang itu beramal karena Allooh سبحانه وتعالى, maka kata Ibnu Rojab Al Hambali رحمه الله : “Jika ada seseorang beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى, ia tulus karena Allooh سبحانه وتعالى, lalu ada orang yang memujinya; maka menurut Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah berita gembira sebagai balasan dari Allooh سبحانه وتعالى yang didahulukan di dunia ini bagi orang yang beramal shoolih. Ia tidak berharap, tetapi ia mendapat. Karena orang yang beramal shoolih dan mengharapkan balasannya di akhirat, maka ia tidak hanya mendapatkan balasan di akhirat saja melainkan di dunia pun ia juga akan mendapatkan balasan.

Maka hendaknya berdzikir itu ikhlas karena Allooh سبحانه وتعالى. Jangan berdzikir dengan dibuat-buat (Tashonnu’) atau berpura-pura rajin berdzikir. Jangan pula meninggalkan berdzikir karena orang.

Kata para ‘Ulama: “Kalau anda melakukan suatu perbuatan karena manusia, atau anda tidak melakukan suatu perbuatan itu juga karena manusia; maka ketahuilah bahwa anda telah berlaku Riya’.

2. Dzikir tidak perlu dibatasi, kalau memang tidak ada batasannya

Berdzikirlah kepada Allooh سبحانه وتعالى dengan dzikir yang banyak (QS. Al Ahzab (33) ayat 41):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, dzikirlah (ingatlah) kalian kepada Allooh dengan dzikir (ingat) yang sebanyak-banyaknya.”

Memperbanyak dzikir itu adalah dalam berbagai keadaan.

Para ‘Ulama sudah banyak menulis untuk kita sekalian, yang merupakan suatu warisan yang sangat besar sebagai suatu tuntunan praktis untuk kita, seperti Imaam An Nawawy رحمه الله yang menulis kitab khusus yang berjudul Kitab “Al Adzkaar”. Di Indonesia, yang ada adalah Ringkasan dari Kitab “Al Adzkaar” tersebut, jadi diambil hanyalah hadits-hadits yang shohiih-nya saja. Karena didalam kitab aslinya, ada pula dimuat hadits-hadits yang dho’iif (lemah). Namun pada intinya, kitab tersebut merupakan rujukan penting bagi kita dalam masalah Dzikir, terutama Dzikir dalam berbagai keadaan.

Karena firman Allooh سبحانه وتعالى seperti disebutkan diatas, yakni agar kita berdzikir dengan dzikir yang banyak, maka dzikir itu tidak dibatasi. Misalnya bisa dimana saja, ketika kita berada di rumah, di kantor, di jalan yang macet, dan sebagainya. Hendaknya dzikir itu kita lazimkan dalam hidup kita sehari-hari.

Dalam sebuah Hadits shohiih yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim, dari istri beliau yakni ‘Aa’isyah رضي الله عنها, bahwasanya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم selalu berdzikir dalam berbagai keadaan :

عن عائشة رضي الله عنها قالت : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يذكر الله على كل أحيانه

(Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 3384)

Berarti berdzikir itu tidak harus menunggu malam Jum’at Kliwon, atau malam Kamis, atau malam Nisfu Sya’ban atau malam-malam tertentu, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian kalangan di masyarakat kita. Tetapi Dzikir itu adalah dilakukan dalam berbagai keadaan, kapan saja, dimana saja, dan didalam berbagai perkara; sebagaimana yang dilakukan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berdasarkan berita dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها dari Hadits diatas.

Dan dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 191, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya:

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allooh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Robb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Juga dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim dari shohabat Abu Huroiroh رضي الله عنه, dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

Artinya:

Allooh سبحانه وتعالى berfirman, ‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya bila dia ingat Aku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut Nama-Ku dalam suatu perkumpulan, maka Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 7405 dan Imaam Muslim no: 6981)

Demikian pula, ketika kita menutup suatu majlis (majlis ta’lim ataupun musyawarah), maka kita diajarkan untuk membaca do’a Kaffaratul Malis, yaitu:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Artinya:

Maha Suci Engkau, ya Allooh, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku meminta ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imaam At Tirmidzy dan Imaam An Nasaa’i dari shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من جلس في مجلس فكثر فيه لغطه فقال قبل أن يقوم من مجلسه ذلك سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك إلا غفر له ما كان في مجلسه ذلك

Artinya:

Barangsiapa duduk dalam suatu majlis, lalu ada kekeliruan dan banyak kesalahan, kemudian sebelum ia bangkit dari majlis itu, ia membaca: “Subhaanakalloohumma wabihamdika asyhadu allaa Illaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika”, maka Allooh akan menghapus kesalahannya yang terjadi di majlis tersebut.” (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 3433)

Jadi do’a Kaffaratul Majlis adalah sebagai penghapus dosa dalam majlis tersebut. Karena menurut para ‘Ulama, seandainya dalam bermusyawarah atau duduk dalam majlis ta’lim itu ada pikiran-pikiran yang jelek, atau tidak pernah berdzikir (ingat kepada Allooh سبحانه وتعالى) sama sekali, maka hendaknya tutuplah majlis itu dengan do’a Kaffaratul Majlis, sebagai suatu tebusan bahwa majlis itu hendaknya dilandasi oleh dzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى. Hal ini menunjukkan bahwa kita harus selalu berdzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Dalam memperbanyak dzikir ada munaasabah, kesempatan-kesempatan yang intinya adalah melazimkan dzikir. Dalam hal ini, ada 7 perkara mengapa kita harus memperbanyak Dzikir, yaitu:

a.   Karena kita mengetahui dan yakin bahwa Allooh سبحانه وتعالى menyediakan pahala yang besar dari dzikir itu.

b.   Karena kita membayangkan atas janji Allooh سبحانه وتعالى yaitu surga.  Siapa yang banyak berdzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka baginya disediakan surga.

c.   Meyakini bahwa Allooh سبحانه وتعالى menyertai kita semuanya

d.  Kita yakin bahwa dzikir bisa berfungsi sebagai benteng (pelindung) dari syaithoon. Orang yang tidak berdzikir, yang hatinya kosong dari mengingat Allooh سبحانه وتعالى, maka ia akan cenderung dirasuki oleh syaithoon. Mungkin pikirannya atau mungkin ia menjadi kesurupan.

e.  Dzikir merupakan pengganti dan penyempurna dari ibadah-ibadah lain yang diperintahkan kepada kita. Kalau misalnya, sholat kita kurang sempurna, maka dengan selalu berdzikir, akan disempurnakan ibadah kita itu

f.  Dzikir adalah paling mudah dilakukan. Misalnya dengan menyebut: Laa Illaaha Ilallooh, atau Subhaanallooh, atau Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah, atau Alloohu Akbar, atau Alhamdulillah, atau Astaghfirullooh, dll. Sangat mudah mengucapkannya. Tidak susah.

g.  Dzikir bisa membantu kita merasa ringan untuk menunaikan ibadah-ibadah yang lain. Dengan dzikir, kita menjadi ringan dan mudah menunaikan ibadah-ibadah yang lain. Itulah salah satu berkah dari dzikir itu sendiri.

3. Hendaknya ketika berdzikir, kita menggabungkan antara HATI, MULUT dan PERBUATAN

Hati berdzikir, mulut berdzikir dan perbuatan kita hendaknya juga dalam rangka berdzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى.

عن عبد الله بن بسر رضي الله عنه : أن رجلا قال يا رسول الله إن شرائع الإسلام قد كثرت علي فأخبرني بشيء أتشبث به قال لا يزال لسانك رطبا من ذكر الله

Berdasarkan Hadits dari shohabat ‘Abdullooh bin Busr رضي الله عنه, beliau رضي الله عنه menjelaskan bahwa ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Rosuulullooh, sesungguhnya syari’at Islam ini telah banyak bagiku, oleh karena itu beritahukanlah aku tentang sesuatu yang dapat dijadikan pegangan.”

Maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidak henti-hentinya lidahmu basah karena berdzikir (lidahmu senantiasa mengucapkan dzikir) kepada Allooh.” (Hadits Riwayat Imaam At Tirmidzy no: 3375 dan Imaam Ibnu Maajah no: 3793)

Oleh karena itu, jadikanlah MULUT kita senantiasa MENGUCAPKAN dzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى, dan itu lebih baik karena akan meninggikan derajat kita sendiri di sisi Allooh سبحانه وتعالى.

Sebagaimana dalam Hadits riwayat Imaam Ahmad dan Imaam At Turmudzy, dari shohabat Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه, dikatakan bahwa :

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم ألا أنبئكم بخير أعمالكم وأزكاها عند مليككم وأرفعها في درجاتكم وخير لكم من إنفاق الذهب والورق وخير لكم من أن تلقوا عدوكم فتضربوا أعناقهم ويضربوا أعناقكم ؟ قالوا بلى قال ذكر الله تعالى فقال معاذ بن جبل رضي الله عنه ما شيء أنجى من عذاب الله من ذكر الله

Artinya:

Tidak ada amal yang dilakukan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allooh سبحانه وتعالى, selain daripada dzikir kepada-Nya.” (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 3377)

Juga firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Hasyr (59) ayat 19 :

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya:

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allooh, lalu Allooh menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang faasiq.”

Sedangkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imaam Al Baihaqy رحمه الله dalam As Sunan Al Kubro no: 3148 dan Haditsnya adalah shohiih menurut Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم selalu berTASBIH dengan TANGAN KANAN-nya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ بِيَمِينِهِ

Jadi bukan dengan memegang untaian Biji Tasbih atau alat penghitung yang lainnya, tetapi yang disunnahkan itu adalah berdzikir hendaknya dengan menggunakan TANGAN KANAN. Yang dimaksud dengan tangan kanannya adalah tangan kanan beliau صلى الله عليه وسلم selalu dibuka, ditutup, menggerak-gerakkan jari-jemarinya ketika berdzikir  (— untuk menghitung bilangan dzikir, ketika ada daliil yang menjelaskan tentang bilangan dzikir tersebut —). Itulah yang dimaksud dengan hatinya berdzikir, mulutnya basah dengan ucapan dzikir dan tangannya ikut mendukung berdzikir (ingat) kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Apabila ada seseorang berdzikir mengucapkan Astaghfirullooh, memohon ampun kepada Allooh سبحانه وتعالى; namun tangannya, kakinya dan anggota tubuh lainnya berbuat ma’shiyat maka dzikir yang demikian itu tidak berfaedah, bahkan bermakna mengolok-olok. Ia secara lisan memohon ampun kepada Allooh سبحانه وتعالى namun disisi lain ia berbuat ma’shiyat.

4. Berkumpul untuk berdzikir

Sebagian kalangan menyebutnya sebagai Majlis Dzikir.

Perhatikanlah Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم  berikut ini yang diriwayatkan oleh Imaam Al Bukhoory dan Imaam Muslim dari shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

عن أبي هريرة أو عن أبي سعيد قالا : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن لله ملائكة سياحين في الأرض فضلا عن كتاب الناس فإذا وجدوا أقواما يذكرون الله تنادو هلموا إلى بغيتكم فيجيئون فيحفون بهم إلى سماء الدنيا فيقول الله على أي شيء تركتم عبادي يصنعو ؟ فيقولون تركناهم يحمدونك ويمجدونك ويذكرونك قال فيقول فهل رأوني ؟ فيقولون لا قال فيقول فكيف لو رأوني ؟ قال فيقولون لو رأوك لكانوا أشد تحميدا وأشد تمجيدا وأشد لك ذكرا قال فيقول وأي شيء يطلبون ؟ قال فيقولون يطلبون الجنة قال فيقول وهل رأوها ؟ قال فيقولون لا فيقول فكيف لو رأوها ؟ قال فيقولون لو رأوها كانوا لها أشد طلبا وأشد عليها حرصا قال فيقول من أي شيء يتعوذون ؟ قال يتعوذون من النار قال فيقول وهل رأوها ؟ فيقولون لا فيقول فكيف لو رأوها فيقولون لو رأوها كانوا منها أشد هربا وأشد منها خوفا وأشد منها تعوذا قال فيقول فإني أشهدكم أني قد غفرت لهم فيقولون إن فيهم فلانا الخطاء لم يردهم إنما جاءهم لحاجة فيقول هم القوم لا يشقى لهم جليس

Artinya:

Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى mempunyai banyak malaikat yang beterbangan kesana-kemari untuk mencari majlis dzikir. Kalau malaikat itu menemukan dimana ada majlis dzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka malaikat itu ikut duduk bersama dalam majlis dzikir tersebut. Bahkan diantara malaikat itu, sayapnya saling bersambung hingga ke langit dunia, sehingga tempat yang kosong pun dipenuhi oleh malaikat. Jika kumpulan orang yang berdzikir itu berpencar pulang ke rumah masing-masing, malaikat itu pun naik ke langit, lalu Allooh سبحانه وتعالى  bertanya kepada mereka (– meskipun sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى sudah tahu, karena Allooh سبحانه وتعالى adalah Maha Tahu – pen), “Darimana kalian?”

Jawab malaikat, “Ya Allooh, kami baru saja mendatangi hamba-hamba-Mu di bumi yang bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan yang meminta kepada-Mu.”

Allooh سبحانه وتعالى bertanya, “Apa yang mereka minta?”

Malaikat menjawab, “Ya Allooh, mereka mengharap akan surga-Mu.”

Allooh سبحانه وتعالى bertanya, “Apakah mereka yang meminta itu pernah melihat surga-Ku?

Malaikat menjawab, “Tidak, ya Allooh.”

Allooh سبحانه وتعالى : “Bagaimana seandainya mereka pernah melihatnya. Sedangkan, belum pernah melihatnya saja, mereka memintanya. Lalu meminta apa lagi kah mereka?

Malaikat menjawab : “Ya Allooh, mereka ingin dihindarkan dari neraka-Mu.”

Allooh سبحانه وتعالى : “Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?”

Malaikat menjawab : “Tidak, ya Allooh.”
Allooh سبحانه وتعالى : “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku. Sedangkan, belum pernah melihatnya saja, mereka sangat takut akan neraka-Ku.”

Malaikat berkata: “Ya Allooh, mereka memohon ampunan-Mu.”

Allooh سبحانه وتعالى : “Aku telah ampuni mereka.”

Lalu Allooh سبحانه وتعالى berfirman : “Aku akan penuhi apa yang mereka minta dan Aku hindarkan dari apa yang mereka minta untuk dihindarkan.”

Malaikat berkata: “Ya Allooh, didalam majlis itu ada si Fulan bin Fulan, ia orang yang banyak berbuat salah, dan ia hanya kebetulan saja duduk didalam majlis tersebut.”

Allooh سبحانه وتعالى : “Aku ampuni pula orang itu. Duduk seperti itu didalam majlis tidak akan membuat mereka menderita.” (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 3600)

Dalam Hadits tersebut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “berkumpul dalam majlis dzikir” tersebut bukanlah berkumpul sebagaimana yang orang-orang Sufi lakukan dalam halaqoh-halaqoh atau majlis-majlis mereka. Dimana orang-orang Sufi tersebut melaksanakan dzikir secara serempak dengan satu suara, misalnya mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallooh secara beramai-ramai.

Atau dzikirnya dilakukan oleh mereka bersama-sama dengan ada imamnya, ada ma’mumnya, ada pimpinannya dan ada jama’ahnya. Yang seperti ini tidak benar, karena tidak ada dalilnya.

Atau kadang orang-orang Sufi tersebut berdzikir dengan menggeleng-gelengkan kepalanya atau menggoyang-goyangkan badannya, apalagi dengan dzikir-dzikir yang tidak diajarkan (dzikir-dzikir yang Bid’ah) seperti misalnya: “Hayyun, hayyun, hayyun”, atau “Ya Latif, ya Latif, ya Latif”, atau misalnya: “Allooh, Allooh, Allooh”. Semua bentuk bacaan dzikir yang seperti itu adalah Bid’ah, karena tidak pernah Allooh سبحانه وتعالى turunkan dalil yang shohiih tentangnya, baik dari Kitabullooh (Al Qur’an) maupun dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sekalipun.

Dengan demikian, kita menjadi jelas bahwa yang dimaksud dengan majlis dzikir adalah bukan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Sufi tersebut, ataupun majlis yang mengharuskan dengan seragam putih-putih (seragam khusus), atau waktunya harus waktu yang khusus, atau dzikirnya dilakukan dengan cara yang khusus. Maka itu semua, bila tidak ada tuntunannya yang shohiih dari Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم, adalah tergolong Bid’ah

Karena yang benar, yang dimaksud dengan majlis dzikir adalah majlis dimana orang-orang yang ada didalam majlis tersebut berdzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى. Tidak ada dalil harus dipimpin dengan satu suara tertentu.

Bahkan pada zaman shohabat, ketika suatu hari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه mendatangi masjid Kuffah; di kala ba’da sholat ashar, beliau رضي الله عنه melihat di majlis ada seseorang diantara mereka yang mengomandokan kepada jama’ah untuk bertasbih seperti ini, dan seperti itu, lalu jama’ahnya pun mengikutinya; bahkan mereka berdzikir sambil menggunakan batu-batu kerikil (di zaman sekarang adalah tasbih). Lalu ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه pun MENGINGKARI PERBUATAN tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits berikut ini:

فقال له أبو موسى يا أبا عبد الرحمن اني رأيت في المسجد أنفا أمرا أنكرته ولم أر والحمد لله الا خيرا قال فما هو فقال ان عشت فستراه قال رأيت في المسجد قوما حلقا جلوسا ينتظرون الصلاة في كل حلقة رجل وفي أيديهم حصا فيقول كبروا مائة فيكبرون مائة فيقول هللوا مائة فيهللون مائة ويقول سبحوا مائة فيسبحون مائة قال فماذا قلت لهم قال ما قلت لهم شيئا انتظار رأيك أو انتظار أمرك قال أفلا أمرتهم ان يعدوا سيئاتهم وضمنت لهم ان لا يضيع من حسناتهم ثم مضى ومضينا معه حتى أتى حلقة من تلك الحلق فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبد الله حصا نعد به التكبير والتهليل والتسبيح قال فعدوا سيئاتكم فأنا ضامن ان لا يضيع من حسناتكم شيء ويحكم يا أمة محمد ما أسرع هلكتكم هؤلاء صحابة نبيكم صلى الله عليه و سلم متوافرون وهذه ثيابه لم تبل وأنيته لم تكسر والذي نفسي بيده انكم لعلي ملة هي أهدي من ملة محمد أو مفتتحوا باب ضلالة قالوا والله يا أبا عبد الرحمن ما أردنا الا الخير قال وكم من مريد للخير لن يصيبه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم حدثنا أن قوما يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم وأيم الله ما أدري لعل أكثرهم منكم ثم تولى عنهم فقال عمرو بن سلمة رأينا عامة أولئك الحلق يطاعنونا يوم النهروان مع الخوارج

قال حسين سليم أسد : إسناده جيد

Sebagaimana Abu Muusa رضي الله عنه mengatakan kepada ‘Abdullloh bin Mas’uud رضي الله عنه, “Wahai Abu ‘Abdurrohmaan, sungguh aku melihatmu tadi di masjid. Engkau mengingkari sesuatu yang tidak aku pandang kecuali kebaikan.”

Lalu ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه bertanya, “Apa itu?

Lalu Abu Muusa رضي الله عنه mengatakan, “Jika engkau panjang umur, engkau niscaya akan melihatnya. Aku melihat di masjid suatu kaum berkelompok-kelompok sambil duduk menunggu sholat, dimana setiap kelompok terdapat seseorang dimana pada tangannya terdapat kerikil dan mengatakan, ‘Bertakbirlah kalian 100.’ Maka mereka pun bertakbir; ‘Katakanlah oleh kalian Laa Ilaaaha Illallooh’ 100, maka mereka pun melakukannya; ‘Bertasbihlah kalian 100’, maka mereka pun melakukannya. Apa yang Anda katakan kepada mereka?

‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه menjawab, “Aku tidak mengatakan apa pun kepada mereka, kecuali hanya aku perintahkan kepada mereka, ‘Coba kalian hitung kesalahan-kesalahan kalian dan aku jamin pada mereka untuk tidak menyia-nyiakan kebaikan-kebaikan mereka’ .”

Sehingga pembicaraan mereka itu pun berlalu.

Kemudian ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه mendatangi pada kelompok-kelompok tersebut dan berdiri dihadapan mereka dan mengatakan, “Apa yang kalian lakukan?

Kata mereka, “Wahai Abu ‘Abdillaah, kerikil kami hitung dengannya takbir, tahlil dan tasbih.”

Lalu ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه kembali berkata, “Hitunglah kejelekan-kejelekan kalian, aku jamin kalian tidak akan menyia-nyiakan kebaikan kalian sedikitpun. Celaka kalian wahai ummat Muhammad, betapa cepatnya kesesatan kalian. Mereka, para shohabat Nabi kalian begitu banyak dan ini bajunya belum juga rusak dan ini bejananya belum juga pecah. Demi yang jiwaku ditangan-Nya, sesungguhnya kalian diatas ajaran yang paling lurus dari ajaran Muhammad صلى الله عليه وسلم. Apakah kalian akan menjadi pembuka-pembuka pintu kesesatan?

Mereka menjawab, “Yaa Abu ‘Abdurrohmaan, tidak ada yang kami inginkan kecuali kebaikan.
Beliau رضي الله عنه berkata, “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rosuul صلى الله عليه وسلم mengatakan kepada kami bahwa suatu kaum membaca Al Qur’an tidak melewati tenggorokannya. Demi Allooh saya tidak tahu, jangan-jangan dari kebanyakan mereka itu ada diantara kalian.”

Kemudian beliau رضي الله عنه pung berpaling.

(Hadits riwayat Imaam Ad Daarimy no: 204 dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه dan Syaikh Husain Saliim Asad mengatakan sanad hadits ini baik)

Para ‘Ulama Ahlus Sunnah mengatakan, “Kalau seandainya ada perbuatan yang baik, niscaya para shohabat akan berlomba-lomba untuk terlebih dahulu melakukannya, daripada orang-orang seperti kita.

Ketika sesuatu perbuatan itu tidak dikenal oleh shohabat seperti ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, yang merupakan seorang mulaazim (seseorang yang hampir tidak pernah berpisah dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) dan beliau رضي الله عنه terkenal sebagai seorang yang faqiih, dan merupakan perintis madrosah hadits di negeri Kuffah (sekarang Iraq), maka sesungguhnya beliau رضي الله عنه bukanlah sembarang orang didalam perkara ‘ilmu diin. Sehingga bilamana beliau رضي الله عنه menyatakan bahwa dia tidak pernah menyaksikan perbuatan yang seperti itu ada pada zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ini menunjukkan bahwa perbuatan yang sepert itu adalah Bid’ah.

5. Ketika berdzikir, upayakan sampai menangis dan meluluhkan hati

Yaitu dengan dzikir yang kita pahami apa yang didzikirkan (diingat). Misalnya: mengucapkan Laa Ilaaha Illallooh, artiya adalah tidak ada yang berhak diibadahi kecuali hanyalah Allooh سبحانه وتعالى. Kalau dzikir tersebut hanya sekedar ucapan lisan di mulut, tetapi hatinya tidak khusyu’ (hatinya sibuk memikirkan perkara-perkara duniawi), dan anggota tubuhnya pun tidak berdzikir bahkan berma’shiyat. Maka itu sama saja dengan tidak berdzikir, karena berdzikir itu adalah ingat kepada Alloohسبحانه وتعالى.

Dalam hadits tentang tujuh golongan yang akan dilindungi Allooh سبحانه وتعالى pada hari Kiamat, diantaranya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menyebutkan:

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Artinya:

…seorang yang BERDZIKIR KEPADA ALLOOH DALAM KEADAAN SEPI / SENDIRI, lalu mengalirlah air matanya…” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 660 dan Imaam Muslim no: 2427 dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

Oleh karena itu, bila kita ingin masuk dalam kelompok yang dzikir-nya secara hakiki, maka upayakan agar dzikir itu dilakukan denga khusyu’ sehingga menangis karena ke-khusyu’an-nya itu. Bukan karena sekedar perasaan saja. Sebab ada orang yang melelehkan airmatanya itu karena terharu dengan suara dzikir orang yang ada disekitarnya yang bergema dengan suara syahdu. Yang seperti ini tidak benar. Yang dimaksud dengan menangis disini adalah karena ia tahu siapa yang ia dzikiri, yaitu Allooh سبحانه وتعالى. Jadi bukan karena dibuat-buat, atau karena pengaruh suasana syahdu disekitar dllnya itu. Bukan, tetapi ia menangis karena ia sungguh-sungguh sadar bahwa yang ia dzikiri itu adalah Pencipta dirinya.

Menangis yang hakiki sedemikian itu sebetulnya sulit, karena hati kita tidak terenyuh atau luluh, jika didalam diri kita terdapat beberapa perkara yaitu:

a. Hubuddun-ya, mencintai dunia.

Hatinya keras, mendengar ayat-ayat Al Qur’an lewat begitu saja, tidak ada yang bisa menyentuh atau membekas didalam hati.

Diriwayatkan, pada zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, apabila para shohabat berma’mum sholat dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, mereka berada dalam satu diantara dua keadaan.

Kalau dibacakan ayat-ayat janji; jika beramal shoolih maka akan dijanjikan surga dsbnya, maka wajah mereka terlihat gembira, bersinar-sinar dan mata mereka berkaca-kaca karena berharap atas janji Allooh سبحانه وتعالى tersebut. Tetapi bila dibacakan ayat-ayat tentang ancaman, maka mereka pun menangis, bahkan diantara mereka ada yang tersedu-sedu.

Shohabat ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه memberikan pesan kepada kita:

Menangislah kalian bila membaca Al Qur’an. Kalau tidak bisa, maka berusahalah seakan-akan kalian menangis.”

Penyebab hati kita itu sulit tersentuh dan sulit menangis ketika membaca ayat-ayat Al Qur’an adalah karena hubuddun-ya.

b. Ada penyakit akhlaq dalam diri kita, misalnya rasa: iri, dengki, hasud

Maka sulit untuk khusyu’, sulit untuk bisa menangis karena hatinya sudah membatu.

c. Tidak paham apa yang dibaca.

Maka harus mengerti dan memahami apa yang dibaca. Agar bisa menyambung dengan hati, maka kita harus bisa membaca Al Qur’an. Adalah berdosa kalau kita sebagai umat Islam ini tidak bisa membaca Al Qur’an dengan benar. Maka kita harus belajar membacanya dengan benar.

d. Usahakan untuk menangis.

Terlebih bila kita membaca ayat-ayat yang berisi ancaman Allooh سبحانه وتعالى, sehingga kita tergerak untuk merasa takut kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Mengenai perkara menangis ini, sesungguhnya merupakan bagian penting karena itu adalah ciri-ciri dari orang yang beriman.

Difirmankan oleh Allooh سبحانه وتعالى :

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya:

Neraka Weil adalah bagi mereka yang hatinya keras dari berdzikir kepada Allooh.” (QS Az Zumar (39) ayat 22)

Jadi, ini adalah ancaman bagi mereka yang hatinya keras, yaitu diancam dengan neraka Weil. Itu adalah ayat yang mendukung agar kita khusyu’ dalam berdzikir.

Berikutnya Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS Ar Ra’d (13) ayat 28:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat Allooh). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allooh-lah hati menjadi tenteram.

Kebanyakan manusia, hatinya baru merasa tenang dikala uangnya banyak, bertumpuk-tumpuk dalam rekeningnya. Padahal yang benar, semestinya ia menemukan ketenangan dan kebahagiaan itu adalah ketika berdzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman seperti tersebut diatas, bahwa orang-orang yang beriman itu hatinya tenang dengan sebab mereka ingat (berdzikir) kepada Allooh سبحانه وتعالى. Maka kalau ada orang yang belum tenang dengan berdzikir, berarti imannya masih bermasalah. Mudah-mudahan kita tidak tergolong yang demikian.

6. DZIKIR TIDAK DENGAN SUARA KERAS, tetapi dengan BERBISIK, cukup terdengar oleh diri sendiri

Sebagian kalangan di masyarakat kita, justru seringkali terdengar mereka itu berdzikir di masjid dengan pengeras suara (speaker). Ada diantara mereka yang setiap kali menyanyikan sholawat antara adzan dan iqomat, padahal yang seperti ini tidak ada ajarannya dari Rosuululllooh صلى الله عليه وسلم.

Padahal yang ada dalilnya dan merupakan sunnah, yakni antara adzan dan iqomat itu adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ لِمَنْ شَاءَ

Artinya:

ANTARA dua adzan (—- ADZAN dan IQOMAT —) adalah SHOLAT (sunnah dua roka’at).” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 1285)

Jadi ANTARA ADZAN dan IQOMAT itu SUNNAHNYA adalah SHOLAT, BUKAN dengan mendendangkan SHOLAWATAN DENGAN SPEAKER, sehingga justru malah mengganggu orang yang sedang sholat karena sholat mereka menjadi tidak khusyu’. Oleh karena itu, janganlah menyibukkan diri dengan “mencari-cari pekerjaan” yang tidak ada landasannya dari sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena itu justru malah menjadi Bid’ah dan menimbulkan gangguan terhadap kekhidmatan dan ketenangan masjid yang dibutuhkan bagi orang-orang yang hendak sholat didalamnya.

Perhatikan QS. Al A’roof ayat 55, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

BERDO’A LAH KEPADA ROBB-mu DENGAN berendah diri dan SUARA YANG LEMBUT. Sesungguhnya Allooh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Lalu firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al A’roof ayat 205:

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan SEBUTLAH (NAMA) ROBB-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan DENGAN TIDAK MENGERASKAN SUARA, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”

Juga dalam sebuah hadits dari Abu Musa al Asy’ari رضي الله عنه, ia berkata bahwa, “Orang-orang mengangkat suaranya bertakbir dan berdo’a, kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya:

“Hai sekalian manusia, kasihanilah diri kalian, sesungguhnya KALIAN TIDAK BERDO’A KEPADA ROBB YANG TULI DAN TIDAK JUGA JAUH. Sesungguhnya yang kalian berdo’a kepada-Nya adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan Dia bersama kalian.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no : 6610 dari Abu Muusa رضي الله عنه)

Hal ini menunjukkan bahwa kita TIDAK PERLU KERAS-KERAS DALAM BER-DZIKIR, karena ROSUULULLOOH صلى الله عليه وسلم SENDIRI MELARANGNYA. Maka bila kita berdzikir, cukuplah didengar oleh diri kita sendiri saja.

Kecuali bila ada perintah untuk mengeraskan suara dzikir tersebut, sebagaimana diperintahkan untuk berdzikir dengan suara keras ketika Takbir Hari Raya ‘Ied, yaitu ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha. Ketika kita hendak sholat ‘Ied menuju lapangan, sejak berangkat keluar dari pintu rumahnya, maka hendaknya bertakbirAlloohu Akbar, Alloohu Akbar….” dstnya dengan suara keras secara pribadi masing-masing (– tidak perlu dikomando, karena tidak ada dalil yang melandasinya–).

Tetapi yang seringkali terjadi di masyarakat kita adalah justru pada malam ‘Iedul Fithri, orang-orang bertakbir dengan pawai bertruk-truk, lalu terjadi kecelakaan lalu lintas, ada yang luka bahkan ada yang meninggal. Padahal yang demikian ini tidak ada ajarannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Atau misalnya KEKELIRUAN YANG BANYAK TERJADI DI MASYARAKAT adalah cara mereka berdzikir ba’da sholat fardhu yang lima waktu. Dzikir dengan suara keras setelah sholat fardhu itu, bukanlah seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada umumnya, yaitu setelah salam ke kanan dan ke kiri lalu si Imaam sholat mengkomando berjama’ah : “Al Faatihah !….”, lalu dikomando lagi oleh Imaam sholat untuk bersama-sama mengucapkan “Subhaanallooh, subhanallooh….” dstnya. Yang seperti ini tidak benar.

YANG BENAR, yang merupakan cara yang SUNNAH sebagaimana yang diajarkan oleh ROSUULULLOOH صلى الله عليه وسلم adalah SETIAP ORANG BERDZIKIR MASING-MASING, mengucapkan kalimat-kalimat dzikir, dengan suara bergemuruh; tetapi dengan suara masing-masing TANPA DIKOMANDO, tidak satu suara. Demikian ini adalah yang sebaiknya dan yang sebenar-benarnya.

7. Berdzikir hendaknya MENJAUHI DZIKIR-DZIKIR yang BID’AH

Kita hendaknya tidak berdzikir dengan kalimat-kalimat dzikir dengan cara-cara yang Bid’ah (tidak ada contohnya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم), meskipun orang yang melakukannya merasa bahwa itu benar, karena mereka mengikuti hawa nafsunya. SYAITHOON senang menghiasi manusia dengan MENJADIKAN PERKARA BID’AH itu DIANGGAPNYA SEBAGAI SESUATU YANG BAIK. Seringkali walaupun sudah tahu bahwa sesuatu itu TIDAK ADA DALIL YANG SHOHIIH TENTANGNYA, tapi tetap saja dia berkeras untuk mengerjakannya. Itulah HAWA NAFSU.

Padahal SEHARUSNYA kita BERIBADAH BERDASARKAN FIRMAN ALLOOH سبحانه وتعالى DAN TUNTUNAN ROSUULULLOOH صلى الله عليه وسلم. Kalau tidak ada dalil atau landasannya, maka mengapa mesti berkeras melakukannya dan mengapa mesti marah bila diberitahu kebenarannya? Segera tinggalkanlah segala sesuatu yang tidak ada dalilnya itu, meskipun sudah mendarah-daging, meskipun dilakukan turun-temurun, meskipun rasanya berat, tapi tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Kahfi (18) ayat 104:

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

Artinya:

Yaitu ORANG-ORANG YANG TELAH SIA-SIA PERBUATANNYA dalam kehidupan dunia ini, SEDANGKAN MEREKA MENYANGKA BAHWA MEREKA BERBUAT SEBAIK-BAIKNYA.”

Bayangkan, perbuatannya jelek menurut Allooh سبحانه وتعالى, tetapi mereka menganggapnya baik. Maka kita harus berhati-hati. Jangan sampai perbuatan yang kita lakukan itu, menurut diri kita baik padahal menurut Allooh سبحانه وتعالى itu buruk, jelek. Karena BAIK atau BURUK itu STANDARD-NYA BUKAN PERASAAN, tetapi baik atau buruk itu STANDARD-NYA ADALAH DALIIL (Firman Allooh سبحانه وتعالى dan Sabda Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم  yang shohiih). Kalau berdasarkan dalil, sesuatu itu terpuji menurut Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya maka barulah perkara itu terpuji dan boleh diamalkan. Demikian pula sebaliknya, bila sesuatu itu buruk menurut Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya maka berarti perkara itu buruk dan jauhilah. Hidup kita di dunia ini hanya sekali, jangan berspekulasi. Ikuti saja apa yang ketentuannya sudah datang dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, jangan ikuti selainnya.

8. Gigih membaca dan memperbanyak membaca Al Qur’an

Orang yang membaca Al Qur’an adalah berdzikir dengan dzikir yang banyak sekali, karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits shohiih:

عبد الله بن مسعود يقول : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول آلم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف

Artinya:

Siapa yang membaca satu huruf saja dari Al Qur’an, maka ia berhak atasnya kebajikan satu. Dan satu kebajikan itu dilipatgandakan oleh Allooh سبحانه وتعالى menjadi sepuluh kali. Aku tidak katakan Alif-Lam-Mim itu satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2910)

Berarti Alif-Lam-Mim saja sudah tigapuluh. Bahkan bisa dikalikan tujuhratus, karena dalam hadits yang lain Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ

Artinya:

Amalan anak cucu Adam itu bisa dilipatgandakan antara 10 sampai 700 kali.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 2763)

Intinya adalah, hendaknya kita memperbanyak membaca Al Qur’an, karena dalam bacaan Al Qur’an itu mendatangkan barokah dan kebajikan bagi kita.

9. Perbanyaklah dzikir-dzikir yang Ma’tsuur

Kalau berdzikir, puaslah dengan dzikir yang jelas-jelas ada ajarannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan itu banyak sekali, misalnya dalam Kitab Al Adzkaar, Kitab Hishnul Muslim, Kitab Adzkaar Mukhtaaroh dan berbagai kitab lain yang sekarang sudah banyak diterbitkan dan dapat diperoleh di toko-toko buku. Hendaknya kita memiliki kitab-kitab tersebut. Dan hendaknya setiap diri kita memiliki panduan kitab Dzikir didalam saku, sehingga apabila lupa bacaan dzikirnya maka bisa setiap saat dibuka kitab saku tersebut. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, sudah lengkap tuntunan dzikirnya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tinggal kita mau mengerjakannya ataukah tidak.

Apa yang diajarkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم hendaknya diutamakan, karena itu Ma’tsuur namanya, bukan karangan orang.

10. Kita prioritaskan Dzikir-Dzikir yang berikut ini:

Ada 8 (delapan) contoh dzikir yang semestinya kita prioritaskan, karena keutamaannya yang sangat unggul menurut Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yaitu:

a. Laa Illaaha Ilallooh

Perbanyaklah mengucapkannya dimana saja dan kapan saja. Tidak dengan cara didendangkan (dilagukan). Berbeda dengan membaca Al Qur’an yang bila dilagukan menjadi sunnah, maka dzikir itu tidak perlu dilagukan. Cukup dengan suara biasa saja, sudah dicatat sebagai amal shoolih. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

أكثروا من شهادة أن لا إله إلا الله قبل أن يحال بينكم وبينها ولقنوها موتاكم

Artinya:

Perbanyaklah kalian dengan bersyahadat ‘Laa Illaaha Ilallooh’ sebelum kalian terhalang antara syahadat dengan kalian (–maksudnya: sebelum datang sakaratul maut–). Talqini (ajarkan) orang yang hendak meninggal dengan ‘Laa Ilaaha Ilallooh’.” (Hadits Shohiih, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Silsilah Shohiihah no: 467)

Maksudnya perbanyaklah mengucapkan ‘Laa Illaaha Ilallooh’, dan tidak perlu dengan menghitung-hitungnya, tapi sebanyak-banyaknya.

b. Subhaanallooh walhamdulillaah wa laa ilaaha illallooh, Alloohu Akbar.

Haditsnya diriwayatkan oleh Imaam Muslim dari Abu Hurairoh رضي الله عنه, dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لأن أقول سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر أحب إلي مما طلعت عليه الشمس

Artinya:

Aku berdzikir dengan ‘Subhaanallooh walhamdulillaah wa laa ilaaha illallooh, Alloohu Akbar’, lebih aku sukai dan aku cintai daripada matahari terbit.” (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 3597)

Bayangkan, matahari adalah sumber energi yang luar biasa banyaknya. Faedahnya besar sekali bagi kehidupan di muka bumi ini, kalau dihitung secara matematik berapa harga dan nilai energi matahari selama ia memancarkan sinarnya selama 12 jam sehari? Tidak akan terhitung oleh manusia. Tetapi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menyatakan bahwa beliau صلى الله عليه وسلم lebih suka berdzikir dengan kalimat tersebut diatas dibandingkan dengan terbitnya matahari yang sangat berfaedah bagi kehidupan manusia di dunia ini. Hal ini menunjukkan bahwa orientasi seorang mu’min itu bukanlah sekedar materi, melainkan lebih berharga dari itu adalah apa yang ada disisi Allooh سبحانه وتعالى. Maka perbanyaklah berdzikir dengan kalimat tersebut.

c. Subhaanallooh Wabihamdihi

Mudah sekali. Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Artinya:

Siapa yang mengucapkanSubhaanallooh Wabihamdihisehari seratus kali, maka kesalahannya akan dihapus, meskipun kesalahannya sebanyak buih di lautan.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7018)

d. Subhaanallooh

Dzikir ini bahkan lebih pendek lagi. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam suatu hadits shohiih yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim no: 7027:

« أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ ». فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ قَالَ « يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ »

Artinya:

Apakah diantara kalian ada yang tidak mau mendapatkan setiap hari seribu kebajikan?” Maka shohabat bertanya, “Ya Rosuulullooh, bagaimana caranya?” Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bertasbihlah dengan ‘Subhaanallooh’ seratus kali sehari. Maka orang itu akan dicatat mendapat seribu kebajikan dan orang itu akan dihapus seribu kesalahannya.”

e. Laa haula walaa quwwata illaa billaah

Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7037, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkata kepada Abu Musa Al Asy’ary رضي الله عنه:

« يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ». فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ »

Artinya:

Wahai Abu Musa, maukah kamu aku tunjukkan simpanan  berharga yang ada di surga? Katakanlah olehmu ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah’.”

Cukup dzikirnya seperti itu, dan jangan ditambah-tambah menjadi ‘…. billaahil ‘aliyyil adziim. Karena dalill dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم mencontohkannya hanyalah sampai Laa haula walaa quwwata illaa billaah saja.

f. Subhaanallooh wabihamdihi subhaanalloohil ‘adziim

Juga ada hadits dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Artinya:

Ada dua kalimat yang mudah dan ringan diucapkan, tetapi berat dalam timbangan dan disukai Allooh سبحانه وتعالى, yaitu ucapan ‘Subhaanallooh wabihamdihi subhaanalloohil ‘adziim.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 6406 dan Imaam Muslim no: 7021)

g. Alhamdulillaah atau Subhaanallooh wal hamdulillaah

Silakan pilih yang anda suka. Rosuulullooh bersabda dalam suatu hadits shohiih dari Abu Maalik Al Asy’ary رضي الله عنه:

عن أبي مالك الأشعري : عن النبي صلى الله عليه و سلم إنه كان يقول : الطهور شطر الإيمان و الحمد لله تملأ الميزان و سبحان الله و الله أكبر تملأ ما بين السماء و الأرض

Artinya:

Ath thohuuru shatrul imaan” (Kesucian adalah sebagian dari iman).

Inilah hadits yang shohiih-nya. Jadi bukan sebagaimana yang terkenal di masyarakat umum yakni “Annadzofatu minal imaan”, yang merupakan hadits palsu.

Kalimat “Alhamdulillaah” bisa memberatkan timbangan (mizan), dan “Subhaanallooh wal hamdulillaah” akan memenuhi antara langit dan bumi. (Hadits Riwayat Imaam Al Baihaqy no: 2709)

h.  Laa Illaaha Illallloohu wahdahu laa syariikalahu lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir.

Hadits dari shohabat Abu Hurairoh  رضي الله عنه, yang diriwayatkan oleh Imaam Muslim, dimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشَرَةِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا امْرُؤٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Artinya:

Siapa yang berdzikir dengan kalimat “Laa Illaaha Illallloohu wahdahu laa syariikalahu lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir” dalam sehari seratus kali, maka ia seperti orang yang membebaskan sepuluh budak (hamba sahaya). Dan dicatat seratus kebajikan, dihapus seratus kejelekan, orang itu akan diberi benteng daripada syaithoon hari itu sampai sore harinya. Kalau ada yang mengamalkannya lebih dari itu, maka ia akan terganti; kalau tidak maka maka tidak ada yang bisa mengganti.” (Hadits Riwayat Imaam Ahmad no: 8873)

i. Dahulukanlah dzikir yang tertentu dari yang tidak tentu

Misalnya dzikir bangun tidur, dzikir ketika hendak makan, dzikir berangkat dari rumah hendak bekerja; itu adalah dzikir-dzikir yang tertentu. Hendaknya itu didahulukan daripada dzikir-dzikir yang tidak disebutkan kapan dan dimana harus diucapkan.

Demikianlah penjelasan tentang berbagai dzikir yang sebenarnya mudah dan praktis untuk kita amalkan sehari-hari, agar dengan demikian kita termasuk Minadzdzaakiriinallooha katsiiran wadzakiroot (termasuk mu’min dan mu’minat yang banyak berdzikir kepada Allooh سبحانه وتعالى)

TANYA JAWAB

Pertanyaan:

Ada doa sebelum tidur dan sesudahnya, ada doa sebelum makan. Pertanyaannya adalah apakah doa itu juga termasuk dzikir?

Jawaban:

Du’a (= do’a) dan dzikir kedua-duanya adalah ibadah. Tetapi du’a itu ada dua macam, yaitu Du’a Mas’alah (du’a yang berisi permintaan atau permohonan) dan ada Du’a Ibadah.

Dzikir-dzikir yang disebutkan diatas misalnya Laa Illaaha Illallooh, Subhaanallooh, Alhamdulillaah dsbnya itu sebetulnya juga disebut Du’a, tetapi tergolong du’a ibadah. Ber-du’a, tetapi bukan dalam rangka meminta, melainkan untuk mengingat Allooh سبحانه وتعالى. Kedua-duanya disebut Du’a, tetapi secara istilah dibedakan. Du’a Mas’alah itu berisi permintaan, sementara Dzikir itu adalah du’a yang tidak berisi permintaan.

Pertanyaan:

1. Seperti dijelaskan diatas bahwa menurut Al Qur’an disebutkan bahwa berdzikirlah yang sebanyak-banyaknya, jadi tanpa batas. Tetapi ternyata diatas disebutkan juga bahwa ada hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang menyatakan ada dzikir yang harus 100 kali, lalu ada yang 33 kali dimana dalam hadits itu ditentukan jumlahnya. Nah ini bagaimana Ustadz, mohon penjelasannya.

2.  Dzikir dengan ucapan “Laa Illaaha Illallooh”, ada yang mengatakan bahwa itu terjadi di Mekkah. Dan itu tidak lengkap. Katanya, harus dilengkapi dengan kalimat “Muhammadur Rosuulullooh”. Mana yang benar, mohon penjelasannya.

Jawaban:

1.  Harus diyakini bahwa Hadits dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم adalah Wahyu. Sama dengan Al Qur’an. Setelah kita tahu bahwa itu adalah Wahyu, maka disinilah letak peran dan kedudukan Sunnah. Menurut para ‘Ulama, berdasarkan Al Qur’an dan Hadits, bahwa diantara fungsi Sunnah adalah me-muqoyyad-kan (mendetailkan) perkara yang mutlak didalam Al Qur’an. Misalnya Al Qur’an mengatakan “Dzikran katsiiran” (berdzikirlah sebanyak-banyaknya) adalah mutlak, maka yang boleh untuk menjadikan dzikir itu muqoyyad adalah Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Ketika sabda Rosuulullooh  memerintahkan bahwa sesudah selesai sholat membaca “Subhaanallooh” 33 kali, “Alhamdulillaah” 33 kali dan “Alloohu Akbar” 33 kali dan seterusnya, maka lakukanlah sebanyak itu. Ada lagi perintah untuk membaca “Laa Illaaha Illaallohu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir” 100 kali, maka itu adalah Sunnah dan Sunnah juga adalah merupakan Wahyu. Karena sama-sama Wahyu, maka dapat me-muqoyyad-kan perintah dzikir yang ada didalam Al Qur’an.

2.  “Laa Illaaha Illaallooh Muhammadur Rosuulullooh” adalah syahadat. Sedangkan dzikir adalah ingat kepada Allooh سبحانه وتعالى. Ingat kepada Allooh سبحانه وتعالى adalah dengan ucapan “Laa Illaaha Illallooh”, maka kita pelajari dari berbagai Hadits pun ucapan dzikirnya hanyalah “Laa Illaaha Illaallooh”. Berbeda dengan syahadat. Kalau syahadat memang benar lafadznya adalah “Laa Illaaha Illaallooh Muhammadur Rosuulullooh”. Syahadat itu ada dua. Pertama adalah Syahadat Tauhiid, yakni meng-Esa-kan Allooh سبحانه وتعالى dan kedua adalah Syahadat Ar Risaalah, yakni Syahadat atas ke-Rosuul-an Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Tidak benar, kalau “Laa Ilaaha Illallooh” itu hanya di Mekkah saja. Yang benar adalah “Laa Ilaaha Illallooh” itu diucapkan dimana saja.

Pertanyaan:

Apakah dzikir harus dengan pembukaan misalnya surat Al Faatihah dan ada penutupannya?

Jawaban:

Dzikir itu tidak ada pembuka dan penutupan (Khitam). Orang sering mengatakan sebagai “Khatam”, tetapi yang benar adalah “Khitam”, atau “Khotm” atau “Khotmah”.

Intinya, Dzikir itu tidak ada pembukaan dan penutupannya, seperti misalnya harus dibuka dengan surat Al Faatihah dulu. Tidak. Itu tidak ada.

Pertanyaan:

Apakah mengkhususkan waktu setelah sholat Shubuh untuk berdo’a itu adalah Bid’ah? Karena Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم pernah berdo’a setelah selesai sholat Shubuh, sebagaimana Hadits Riwayat Imaam Ibnu Maajah. Dan bukankah kaidah menetapkan apa yang tidak ditetapkan oleh Syari’at adalah Bid’ah? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Dalam pertanyaan tersebut, dikatakan bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم pernah berdu’a setelah selesai sholat Shubuh. Pertanyaannya, bagaimana mengkhususkan waktu setelah sholat Shubuh? Bukankah sudah jelas bahwa memang ada sunnahnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم mengerjakannya? Kalau sudah jelas Nabi صلى الله عليه وسلم mengerjakan, maka berarti itu Sunnah dan boleh untuk kita ikuti.

Jadi, kita memang boleh melakukan du’a setelah selesai sholat Shubuh.

Bahkan sebetulnya ada sholat sunnah yang hampir tidak pernah diajarkan di kajian-kajian, padahal sebenarnya ada, yaitu namanya Sholat Sunnah Syuruuq. Yaitu setelah selesai sholat Shubuh, tidak bergerak dari tempat duduknya, tetapi dipergunakan waktunya untuk berdzikir, membaca Al Qur’an, berdu’a dan sejenisnya, tidak batal wudhu-nya, menunggu sampai dengan terbitnya matahari. Misalnya terbit matahari itu pukul 06.00 pagi, maka setelah lebih beberapa menit dari itu, katakanlah pukul 06.15 maka yang dilakukan adalah bangun dari duduknya, menghadap Qiblat dan sholat dua roka’at. Itulah yang disebut Sholat Sunnah Syuruuq. Ini memang jarang diungkapkan dalam pengajian-pengajian, tetapi sebenarnya ada Sunnahnya dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ini perlu untuk dihidupkan.

Pertanyaan:

Ketika tidur, kami bermimpi bertemu dengan orang yang shoolih, apakah kita bertemu dengan Ruh orang tersebut ataukah itu hanya syaithoon yang menyerupai orang shoolih tersebut? Bagaimana bila bermimpi bertemu dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ?

Jawaban:

Berbeda kita menyikapinya antara orang yang bermimpi bertemu dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dengan orang yang bermimpi bertemu dengan orang shoolih.

Bermimpi bertemu dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dalilnya adalah hadits sebagai berikut:

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ مَنْ رَآنِى فِى النَّوْمِ فَقَدْ رَآنِى إِنَّهُ لاَ يَنْبَغِى لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَتَمَثَّلَ فِى صُورَتِى

Dari Jaabir bin ‘Abdillaah رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa yang melihat aku dalam mimpinya, maka dia telah melihat aku. Sesungguhnya syaithoon tidak bisa menyerupai aku.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6060)

Berarti kalau ada orang yang bermimpi bertemu dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka berarti betul ia bertemu dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Asalkan ia tahu siapa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Misalnya Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu jenggotnya lebat, dadanya lebar, dan orang yang bermimpi itu tahu sifat-sifat fisik beliau صلى الله عليه وسلم lainnya. Kalau demikian, maka benarlah mimpinya itu. Tetapi kalau ia tidak tahu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu seperti apa, hanya dengan perasaannya saja, maka jangan-jangan itu hanya perasaan dia saja.

Tetapi kalau dikatakan bermimpi bertemu dengan orang shoolih, maka belum tentu ia adalah orang shoolih tersebut. Karena seperti disebutkan dalam Hadits, yang tidak bisa diserupai oleh syaithoon hanyalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Berarti selain Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, syaithoon bisa menyerupainya. Bisa saja syaithoon menyurup menjadi seperti Abdul Qodir Jaelani, atau bisa saja syaithoon menyurup menjadi seperti Syekh Siti Jenar, atau Syarif Hidayatullah dalam mimpi seseorang. Maka tidak perlu lantas merasa bangga bisa bertemu dengan si Fulan atau si Fulan dan sebagainya. Kalaupun itu betul, maka tidak bisa menjadi syari’at.

Misalnya seperti Ashari Muhammad dari Darul Arqom yang mengatakan bahwa dirinya bertemu dengan Nabi Muhammad  صلى الله عليه وسلم, lalu diberi wasiat oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم agar melazimkan amalan ini dan itu dan seterusnya, lalu disebut dengan Adzkaarun Muhammadiyah. Yang seperti ini adalah Bid’ah. Tidak bisa menjadi syari’at. Mimpi itu tidak bisa menjadi Syari’at. Karena Syari’at Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sudah sempurna.

Perhatikan QS. Al Maa’idah (5) ayat 3:

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً …

Artinya:

“… Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) dien-mu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu dien-mu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi dien bagimu…”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sudah wafat berarti sudah tidak ada Syari’at baru lagi. Maka sudah menjadi kesepakatan bahwa Darul Arqom yang pernah muncul di Malaysia itu adalah sesat.

Alhamdulillah, sekian bahasan pada kesempatan ini, mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى selalu memberikan kepada kita kemudahan untuk menjadi orang-orang yang shoolih, dan bertahan sampai akhir hayat kita mendapatkan Husnul Khootimah. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 26 Rabi’ul Awwal 1427 H – 24 April 2006 M.

——- 0O0 ——-

Silakan download PDF : Adab Dzikri AQI 240406 FNL

About these ads
33 Komentar leave one →
  1. suryanto permalink
    21 November 2010 9:17 am

    Assalumu’alakum Wr.Wb.
    Yth., Ustad A Rofi’i,
    Paling utama saya mengucapkan terima kasih, mohon Izin untuk membaca dan mempelajari.
    Semoga Allooh selalu melindungi dan menerima amal baik Ustad.
    Wassalam
    Suryanto

    • 21 November 2010 9:19 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warrohmatulloohi Wabarokaatuh, silakan saja, semoga bermanfaat bagi antum dan kaum muslimin pada umumnya.. Barrokalloohu fiika

  2. Abu Fariid permalink
    13 Desember 2010 12:33 pm

    Assalamu’alaikum Ustadz…

    Alhamdulillah… ilmu yang bermanfaat

    Ana minta ijin untuk meng-copy dan share artikel tentang Adab Dzikir ini boleh ngga Tadz?

    Jazaakallahu khairan, barakallahu fiik Ustadz…

    • 13 Desember 2010 10:58 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warrohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja, antum dapat mengcopy paste seluruh materi yang ada pada Blog ini, selama menjaga keotentikan naskahnya… dan silakan pula mendownload audio ceramah yang ada… Semoga menjadi ‘ilmu yang bermanfaat bagi ana, antum dan kaum muslimin pada umumnya… Barrokalloohu fiika.

  3. rurahman permalink
    13 Desember 2010 1:09 pm

    Izin untuk membaca

    • 13 Desember 2010 10:56 pm

      Silakan membaca seluruh materi yang ada pada Blog ini, ataupun mendengarkan berbagai audio ceramahnya dan silakan pula mengcopy paste dan menyebarkannya, selama menjaga keotentikan naskahnya… semoga menjadi ‘ilmu yang bermanfaat… Barrokalloohu fiika

  4. Risa Nursjahni permalink
    13 Desember 2010 1:11 pm

    Assalammualaikum Ustad, saya mohon ijin mengcopy tulisan ini, karena saat ini diantara kesibukan, saya sedang belajar Agama Islam sebanyak-banyaknya dan sebenar-benarnya dalam rangka peningkatan Iman untk pribadi & keluarga… dari berbagai macam sumber termsk via FB ini, terima kasih bila diijinkan……

    • 13 Desember 2010 10:54 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warrohmatuloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja, selama menjaga keotentikan naskahnya… Dan silakan menyebarkannya pula ke berbagai sumber… Semoga menjadi ‘ilmu yang bermanfaat bagi ana, anti dan kaum muslimin pada umumnya… Barrokalloohu fiik

  5. lukman permalink
    28 Februari 2011 8:22 am

    apakah hukum membaca dzikir dengan cara cepat dan tergesa-gesa ustad dan apakah ada dalillnya larangan tersebut??

    • 1 Maret 2011 9:23 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

      Berdzikir dan berdoa itu sudah tertentu aturannya, antara lain seperti yang Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa firmankan dalam QS. Al An’aam ayat 55:

      ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

      yang artinya:
      Berdoalah kalian kepada Robb kalian (Allooh) dengan penuh merendahkan diri, dan suara yang tersembunyi. Sesungguhnya Allooh tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.”

      Maksudnya, kalau kita berdoa, hendaknya dengan segala kerendahan hati dan tidak perlu dengan suara keras atau berteriak-teriak, apalagi dengan suara koor bersama-sama orang banyak; karena yang demikian itu justru menyalahi dan bukan menepati aturan Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Termasuk didalamnya adalah dengan tuma’niinah (jangan terburu-buru) dalam mengutarakannya, dan jangan tergesa-gesa dalam menuntut hasilnya. Karena kalau syaratnya, rukunnya termasuk prosedurnya dilanggar, maka Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa tidak menerima doa tersebut.

      Jadi kenapa kalau untuk mendapatkan perkara duniawi yang sesaat dan tidak seberapa nilainya, dengan sabar dan ulet dilakoni, tetapi kalau memohon kepada Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa itu sambil berlari? Padahal menuntut dari-Nya begitu banyak….

      Wahai hamba-hamba Allooh, bertaqwalah kepada Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa dengan taqwa yang sebenar-benarnya… Barokalloohu fiika

  6. eva alchaidir permalink
    1 Agustus 2011 1:03 pm

    Assalamualaikum Ustadz.. syukron atas ilmu yang sangat berguna ini.. ana izin copy & share buat sahabat-sahabat ana yang mungkin mereka masih sibuk dengan urusan dunia…

    • 1 Agustus 2011 2:37 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua… Barokalloohu fiiki

  7. 10 April 2012 8:04 pm

    Ustadz mohon maaf ya..
    Kenapa anda sering sekali mengucapkan Bid’ah, anda sendiri tau atau tidak tentang bid’ah?..
    Kan bid’ah itu ada juga yang baik, jadi tidak dipukul rata semua bid’ah itu buruk.

    • 19 April 2012 7:19 pm

      Hendaknya anda benar-benar memahami peringatan Rosuulullooh Sholalloohu ‘Alaihi Wassallam bahwa SEMUA BID’AH ADALAH SESAT, dan yang dimaksud Bid’ah pada hadits tersebut adalah Bid’ah dalam perkara Dien, hal itu adalah sebagaimana dijelaskan dalam Hadits-Hadits Shohiih berikut ini:

      Hadits Riwayat Imaam Ibnu Huzaimah no : 1725 , dari Shohabat Jaabir رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم
      bersabda:
      … و كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار

      Artinya: “Semua Bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka

      Juga Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4609, dari Shohabat Al ‘Irbad bin Saariyah رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

      … وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

      Artinya: “Jauhkanlah diri kalian dari setiap perkara-perkara yang baru, karena setiap hal yang baru dalam dien adalah Bid’ah, dan setiap Bid’ah adalah sesat.”

      Atau sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم

      مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

      Artinya: “Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan dien kami yang bukan berasal darinya, maka (perbuatan itu) tertolak.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2697 dan Imaam Muslim no: 4589, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)

      Agar dapat memahami perkara Bid’ah, silakan anda membaca berbagai rangkaian ceramah yang telah dimuat pada Blog ini yang dapat anda cari pada bagian Daftar Isi Blog, yakni:
      Al Bid’ah = http://ustadzrofii.wordpress.com/2010/07/28/al-bidah/
      Bahaya Bid’ah = http://ustadzrofii.wordpress.com/2010/07/28/bahaya-bidah/
      Contoh-Contoh Bid’ah di Masyarakat = http://ustadzrofii.wordpress.com/2010/08/03/contoh-contoh-bidah-di-masyarakat/
      Al Bid’ah – Jenis, Macam dan Sejarah Kemunculannya = http://ustadzrofii.wordpress.com/2010/11/03/al-bidah-jenis-macam-dan-sejarah-kemunculannya/
      Tanda-Tanda Ahlul Bid’ah = http://ustadzrofii.wordpress.com/2010/11/03/tanda-tanda-ahlul-bidah/
      Faktor-Faktor Penyebab Muncul dan Maraknya Bid’ah = http://ustadzrofii.wordpress.com/2011/01/18/faktor-faktor-penyebab-muncul-dan-maraknya-bidah/

      Semoga Allooh Subhaanahu Wa Ta’aalaa senantiasa membimbing kita semua agar berada diatas jalan-Nya yang lurus serta istiqomah diatasnya hingga akhir hayat. Aamiiin..

  8. 28 Januari 2013 9:57 pm

    Assalamualaikum wr. wb. mohon izin copy ustadz

    • 29 Januari 2013 6:40 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.. Barokalloohu fiiki

  9. Muhammad Andy permalink
    22 Februari 2013 2:34 am

    Assalamu`alaykum Ustadz. Ana baru kenal ustadz dan juga blog ini. Menurut ana materi yang ustadz hadirkan lewat tulisan dan ceramah sangat menarik dan mengena. Afwan ana sudah beberapa kali mendownload file mp3, file pdf, pun juga telah mengcopy 2 artikel usatdz di blog ini tetapi karena kendala koneksi ana baru meminta ijin sekarang. Doakan ana ustadz untuk istiqomah dalam belajar, memahami dan mengamalkan manhaj salaf yang baru setahun ini benar-benar ana dalami. Jazakumullahu khoiron katsiro atas ilmu yang telah ustadz sebarkan.. Wassalamu`alaykum.
    [Muhammad Andy – Palembang]

    • 22 Februari 2013 7:22 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Alhamdulillah… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi ana, antum, keluarga dan kaum Muslimin pada umumnya serta menjadi jalan pemberi hidayah dari sisi Allooh سبحانه وتعالى bagi siapa saja. Semoga pula Allooh سبحانه وتعالى memberi keistiqomahan bagi kita untuk mengamalkannya serta mendakwahkannya hingga akhir hayat.
      Silakan saja… Antum boleh mengcopy seluruh artikel ataupun mendownload audio-audio ceramah yang ada pada Blog ini… Dan apabila antum mengalami kesulitan dalam mendownload audio ceramah yang ada, maka antum dapat mengajukan permintaan untuk dikirimi CD MP3 Ceramah yang ada pada Blog ini (edisi 1 s/d 10) SECARA GRATIS, kepada: Bambang (08128213460 per sms / telphone), atau kepada ahwal3009@yahoo.co.id (per email)…. Barokalloohu fiika

  10. tri sugeng permalink
    28 Maret 2013 3:30 pm

    Assalamu’alaikum Ustadz, mohon ijin untuk download dan copy untuk belajar…

    • 30 Maret 2013 8:12 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  11. zakaria permalink
    22 Mei 2013 6:53 pm

    Assalammualaikum…Ustadz
    Seperti yang telah ustadz jelaskan di atas tentang bilangan-bilangan dzikir yang di contohkan Nabi SAW , dzikir 100x sehari atau 33x tiap habis sholat. Jadi Bagaimanakah cara kita menghitung jumlah dzikir tersebut agar sesuai dengan yang di contohkan Nabi SAW ? Sedangkan menggunakan tasbih adalah bid’ah.saya terusterang ustadz jika tidak di hitung saya tidak tahu apakah dzikir saya kurang atau lebih.terus ustadz apakah hukumnya jika dzikir saya kurang atau berlebih?
    Mohon penjelasannya ustadz.

    • tanaya permalink
      24 Oktober 2013 9:31 am

      Lebih baik menggunakan (garis) ruas jari daripada tasbih…

  12. jaya permalink
    13 Juni 2013 9:47 pm

    Assalamu’alaikum ustad, ijin share ya ustad..

    • 14 Juni 2013 10:00 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  13. 16 Oktober 2013 6:28 am

    Assalamu’alaikum wr.wb. Ustad mohon penjelasannya, setiap malam Jum’at kami melakukan Dzikir Ayat Seribu Dinar sebanyak 1001X, bagaimanakah hukumnya?…

    • 19 Oktober 2013 6:06 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Tidak ada tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم…. Barokalloohu fiika.

  14. 23 Oktober 2013 12:47 pm

    Assalamu’alaikum Ustadz, mohon ijin untuk download dan copy untuk belajar…Barokalloohu fiika.

    • 23 Oktober 2013 8:37 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  15. Sjaiful permalink
    1 Januari 2014 8:16 am

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Ustadz saya ijin mengkopi / download untuk menambah wawasan ilmu agama, semoga amal ustadz diterima Allah S.W.T. Terimakasih

    • 1 Januari 2014 12:36 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja ya akhi… Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  16. awal permalink
    23 Januari 2014 6:23 pm

    Assalamu’ alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatu,
    Terima kasih ustadz atas paparannya tentang dzikir, Alhamdulillah berkat artikel ustadz ilmu saya telah bertambah …..

  17. 23 Mei 2014 11:09 am

    Assalamu’alaikum ustaz..d..saya mnta ijin untnk mengcopi tausiyah tentang zikir untuk menambah pengetahuan saya tentang zikir……

    • 25 Mei 2014 10:18 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja ya akhi…. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 240 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: