Lanjut ke konten

Al Bid’ah – Jenis, Macam dan Sejarah Kemunculannya

3 November 2010

(Transkrip Ceramah AQI 280205)

 

 

AL-BID’AH

JENIS, MACAM DAN SEJARAH KEMUNCULANNYA

Oleh : Ust. Achmad Rofi’i, Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Sebagai kelanjutan pembahasan kita terdahulu mengenai Bid’ah, maka pada kesempatan kali ini insya Allooh akan kami sampaikan tiga hal tentang Bid’ah:

1.      Jenis / macam Bid’ah

2.      Sebab-sebab dan sejarah muncul dan maraknya Bid’ah

3.      Bagaimana ‘Ulama menyikapi masalah Bid’ah.

Bid’ah yang di tengah masyarakat kita sekarang marak dan beragam itu, kalau kita kembalikan akan menjadi mudah untuk memisah dan memilahkannya. Ketika kita sudah tahu dan paham mana yang sesungguhnya disebut Bid’ah dan mana yang tidak disebut Bid’ah.

Bid’ah dikategorikan dua macam, yaitu:

1.      Bid’ah dalam bidang Duniawi

2.      Bid’ah dalam bidang Dien (Islam)

Bid’ah dalam bidang duniawi, sebagian orang mengatakannya Bid’ah; tetapi berdasarkan hadits, apa yang dikatakan itu bukanlah tergolong Bid’ah.

Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم melewati suatu kaum yang sedang mengkawinkan kurma, lalu beliau صلى الله عليه وسلم berkata, “Kalau kalian tidak lakukan, mungkin lebih baik.” Kemudian mereka mengatakan, “Wahai Rosuul, Anda berkata begini dan begitu.” Kemudian Rosuul menjawab,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

Kalian lebih tahu tentang perkara dunia kalian.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6277, dari Anas Bin Maalik رضي الله عنه)

Kalaupun disebut Bid’ah, maka sebenarnya hanya bersifat lughowiyyah (secara bahasa saja). Seperti sudah kita bahas sebelum ini, bahwa kata “Bid’ah”, asal katanya adalah:

ابتدع – يبتدع – ابتداعا

Artinya adalah:

اختراعا

yaitu: memunculkan sesuatu yang baru, yang sebelumnya tidak ada.

Misalnya: pengeras suara, speaker, mikrofon, whiteboard, spidol, overhead projector, dsbnya; itu semua adalah ibtida’ atau ikhtiro’.

Kemudian ada Handphone (HP), ada kendaraan yang demikian beragam, yang juga disebut ibtidaa’ atau ikhtiroo’ yang dahulu belum ada. Kendaraan di zaman Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم paling canggih adalah unta, kuda, himaar, atau jalan kaki. Sekarang kendaraan bisa dengan mobil, motor, sepeda, kapal laut, kapal udara, dsbnya. Semua itu adalah ikhtiro’. Sebelumnya tidak ada.

Sedangkan bendanya disebut : مخترعة

Yang berarti : moderen.

Yang kesemuanya ini bukanlah bid’ah yang dimaksud didalam Hadits, yang oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sudah diberikan penjelasan berupa ancaman terhadapnya.

Jadi, sekali lagi, bahwa Bid’ah dalam bidang Duniawi itu tidak disebut Bid’ah; walaupun istilah secara bahasanya juga adalah Bid’ah. Tetapi ini bukanlah termasuk Bid’ah yang diancam oleh Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم didalam Haditsnya.

Kedua, sebagai Wasiilah (media). Kalau media itu misalnya termasuk Sunnah, maka media itupun hukumnya adalah Sunnah. Kalau perbuatan itu Wajib, maka hukumnya adalah Wajib.

Misalnya: kain, dasarnya adalah untuk menutup aurot. Hukum menutup aurot adalah Wajib. Maka melakukan sesuatu untuk terpenuhinya yang Wajib itu, hukumnya adalah Wajib.

Dalam kaidah, para ‘Ulama mengatakan bahwa sesuatu yang tidak bisa tertunaikan, kecuali dengan Wajib, maka sesuatu itu hukumnya juga adalah Wajib.

Kalau sesuatu yang Sunnah tidak bisa terjadi kecuali dengan Sunnah, maka sesuatu itu hukumnya adalah Sunnah.

Menutup aurot itu Wajib, maka berpikir bagaimana supaya menutup aurot itu terjadi, maka hukumnya adalah Wajib, karena hal itu sesuai dengan kaidah:

ما لم يتم الواجب إلا به ؛  فهو واجب

Artinya:
Suatu perkara, jika perkara yang wajib tidak bisa tertunaikan kecuali dengannya, maka perkara itu berarti wajib.”

Maka dari itu, misalnya: tentang sarung, gamis, dsbnya adalah termasuk kategori menutup aurot, yang Wajib.

Mengenai detailnya, dijelaskan lagi oleh Syar’i bahwa kalau perkara itu dilanggar, maka tergolongnya bukan kepada Bid’ah, tetapi tergolong kepada perkara Ma’shiyat.

Setiap Bid’ah pasti Ma’siat. Tetapi tidak setiap Ma’shiyat itu Bid’ah.

Contoh: Jika seseorang melakukan dzikir dengan suara keras setelah sholat fardhu, maka itu adalah Bid’ah. Karena hal ini menyalahi Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Perhatikan QS. Al A’roof ayat 55, Allooh سبحانه وتعالى berfirman:

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdo’alah kepada Robb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allooh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Nabi Zakariya عليه السلام, beliau berdo’a dengan suara yang lembut, sebagaimana diberitakan dalam QS. Maryam ayat 3:

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاء خَفِيّاً

Yaitu ketika ia berdo’a kepada Robb-nya dengan suara yang lembut.”

Juga firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al A’roof ayat 205:

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (Nama) Robb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”

Dan dalam hadits tentang tujuh golongan yang akan dilindungi Allooh سبحانه وتعالى pada hari Kiamat, diantaranya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menyebutkan:

… وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Artinya:

…seorang yang berdzikir kepada Allooh dalam keadaan sepi / sendiri, lalu mengalirlah air matanya…” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 660 dan Imaam Muslim no: 2427 dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

Juga dalam sebuah hadits dari Abu Musa al Asy’ari رضي الله عنه, ia berkata bahwa, “Orang-orang mengangkat suaranya bertakbir dan berdo’a, kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا

 

“Hai sekalian manusia, kasihanilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada Robb yang tuli dan tidak juga jauh. Sesungguhnya yang kalian berdo’a kepada-Nya adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan Dia bersama kalian.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no : 6610 dari Abu Muusa رضي الله عنه)

Jadi dzikir dengan suara keras ba’da sholat fardhu dipandu oleh Imaam sholat, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang di masyarakat kita itu, justru adalah Bid’ah, karena menyalahi dalil-dalil yang telah disebutkan diatas.

Berdasarkan sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:

و كل بدعة ضلالة و كل ضلالة في النار

Semua Bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka” (Hadits Riwayat Imaam Ibnu Huzaimah no : 1725 , dari Jaabir رضي الله عنه))

Juga sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Jauhkanlah diri kalian dari setiap perkara-perkara yang baru, karena setiap hal yang baru dalam dien adalah Bid’ah, dan setiap Bid’ah adalah sesat.” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4609, dari Al ‘Irbad bin Saariyah رضي الله عنه)

Atau sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan dien kami yang bukan berasal darinya, maka (perbuatan itu) tertolak.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2697  dan Imaam Muslim no: 4589, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)

Berarti orang yang melakukan Bid’ah itu telah melakukan Ma’shiyat, karena ia telah melanggar apa yang telah diperingatkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan yang demikian itu adalah Ma’shiyat.

Tetapi tidak setiap Ma’shiyat itu adalah Bid’ah. Misalnya seseorang meminum khomer (minuman keras), maka itu bukanlah Bid’ah tetapi fusuuq.

Contoh didalam perkara yang Sunnah: misalnya seseorang tahu bahwa membersihkan kuku adalah Sunnah Fithroh. Termasuk mencukur kumis, memakai minyak wangi, itu adalah Sunnah Fithroh. Maka orang-orang yang melakukan sunnah itu sehingga terlaksana, hukumnya adalah Sunnah. Jadi orang yang membuat alat potong kuku, alat mencukur, membuat minyak wangi dll adalah sunnah, akan mendapatkan pahala kalau niatnya dalam berbuat tersebut adalah karena Allooh سبحانه وتعالى semata.

Demikian pula dengan dengan orang yang merancang botol minyak wangi. Karena memakai minyak wangi adalah Sunnah, maka orang yang merancang atau membuat minyak wangi itu agar mudah dibawa dan disebarkan ke masyarakat pun adalah berarti melaksanakan Sunnah. Seperti itulah kaidahnya.

Melakukan hal-hal seperti itu termasuk dalam kategori Wasiilah atau Media. Maka tergantung pada apa yang menjadi hukum asalnya. Para ‘Ulama mengatakan: Wasiilah itu hukum (status)-nya sama dengan hukum sesuatu yang menjadi sasarannya.

Jadi, Bid’ah dalam bidang Duniawi tidaklah tercela. Boleh-boleh saja, selama tidak berbenturan dengan Syari’at Islam. Kalau berbenturan dengan Syari’at, maka menjadi perkara Ma’shiyat. Hukum asal dalam urusan Duniawi adalah boleh (mubah). Maka merancang apa saja yang sifatnya duniawi, hukum asalnya boleh (mubah).

Sebaliknya, kalau hukum asal urusan Dien, haruslah berlandaskan dalil (berasal dari Wahyu). Jadi, hukum asal dalam perkara Dien adalah Harom. Kalau mengerjakan perkara Dien dengan tidak berlandaskan kepada dalil, maka menjadi perkara Bid’ah yang diancam berdasarkan Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Demikianlah bedanya, untuk urusan Duniawi, hukum asalnya adalah mubah (boleh), silakan bebas melakukannya selama tidak berbenturan dengan urusan Syar’i. Karena jika berbenturan dengan Syar’i maka bisa jatuh kedalam perkara yang harom, faasiq, dosa besar dll. Sedangkan untuk urusan Dien, maka hukum asalnya adalah harom, untuk mengerjakannya haruslah berlandaskan kepada dalil (wahyu).

Semua itu sudah dipelajari di majlis-majlis ta’liim. Orang yang mengaji Kitab Kuning pun paham, bahwa urusan ibadah itu hukumnya harom, kecuali datang suatu dalil. Kalau ada dalilnya, maka boleh dikerjakan. Sedangkan untuk urusan duniawi, tanpa dalil pun boleh. Hal ini kami ulang-ulang agar benar-benar masuk kedalam hati kita semua.

Misalnya: urusan Sholawat. Sholawat itu ibadah atau bukan? Ibadah. Berarti harus berdasarkan dalil. Seluk-beluk mengenai Sholawat itu, tidaklah boleh mengarang sendiri, karena ini perkara ibadah. Sementara ibadah itu hukum asalnya adalah harom, kecuali ada dalilnya. Sedangkan urusan duniawi adalah bebas, misalkan seseorang mau memakai peci berwarna putih, hitam, coklat atau warna lainnya adalah bebas; karena itu urusan duniawi.

Bid’ah dalam urusan Dien

Bid’ah dalam urusan Dien juga ada dua:

1.      Bid’ah dalam bidang keyakinan

بدعة اعتقادية

2.      Bid’ah dalam bidang Furu’

بدعة عملية

Menurut istilah Imaam Asy Syaatiby dalam Kitab Al I’tishoom, disebutkan bahwa ada Bid’ah Al Haqiiqiyyah dan Bid’ah Al ‘Idhoofiyyah.

Bid’ah Haqiiqiyyah adalah Bid’ah sejati, tulen, asli, benar-benar Bid’ah.

Sedangkan Bid’ah Al ‘Idhoofiyyah adalah Bid’ah tambahan; yaitu Bid’ah yang ada landasannya tetapi detailnya Bid’ah.

Itu hanya istilahnya saja.

Ada lagi ‘Ulama yang membagi Bid’ah itu dalam bidang keyakinan (‘Aqodiyyah) dan dalam bidang ‘Amaliyyah. Karena Dien adalah ada perkara ‘Aqodiyyah dan perkara ‘Amaliyyah, maka Bid’ah juga ada dalam ‘Aqodiyyah dan ‘Amaliyyah.

Bid’ah Haqiiqiyyah

Contoh Bid’ah Haqiiqiyyah, misalnya:

Mereka mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى tidak mempunyai nama dan tidak mempunyai sifat. Jelas ini tergolong kedalam perkara Bid’ah ‘Aqodiyyah. Mereka adalah orang-orang Jahmiyah.

Perhatikanlah betapa mereka menyalahi firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al A’roof ayat 180:

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Artinya:

Hanya milik Allooh Asmaaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Ada lagi orang-orang Mu’tazilah, yang mana mereka mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk ciptaan Allooh سبحانه وتعالى. Maka, mereka tergolong Bid’ah ‘Aqodiyyah.

Padahal Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Jaasiyah (45) ayat 6, bahwa Al Qur’an adalah kalam Allooh:

تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ

Artinya:

Itulah ayat-ayat Allooh yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah kalam Allooh dan keterangan-keterangan-Nya.”

Ada lagi, misalnya yang mengatakan bahwa Akal menjadi dasar hukum dalam Dien (Islam), maka ini pun tergolong Bid’ah ‘Aqodiyyah. Sehingga mereka meyakini bahwa Al ‘Aqlu (akal) lebih diprioritaskan daripada Naql (Wahyu); dengan demikian mereka mengatakan bahwa Wahyu itu haruslah dipikirkan terlebih dahulu, kalau masuk akal maka diterima, kalau tidak masuk akal maka tidak diterima. Demikianlah kata mereka yang sudah tertular virus Mu’tazilah. Dan itu bukan lagi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berpendapat bahwa Akal yang sehat itu adalah sesuai dengan Naql (dalil) yang shohiih. Ketika mendapatkan suatu permasalahan, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mendahulukan Naql (Wahyu), karena Naql (Wahyu) itu tidak membawa sesuatu yang mustahil bagi akal untuk menerimanya. Akan tetapi Naql (Wahyu) itu membawa sesuatu yang tidak diketahui kebenarannya oleh Akal. Sehingga Akal haruslah membenarkan Naql (Wahyu) dari segala yang dikhobarkannya dan bukan sebaliknya. Jadi Akal tidak boleh mendahului Syari’at. Oleh karena itulah mereka dinamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah karena teguhnya mereka dan berserah diri (tasliim)-nya mereka secara penuh terhadap petunjuk Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Ada lagi kelompok lain yang mana mereka mengatakan bahwa problem apa pun yang ada di dunia ini, maka manusia pasti bisa mengatasinya. Kalau mau, bisa terjadi dan kalau tidak mau, tidak bisa terjadi. Orang yang seperti ini beraqidah Qodariyyah, bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dan ini pun tergolong Bid’ah ‘Aqodiyyah.

Dan yang seperti itu banyak. Contohnya, orang yang mengatakan “Cukup dua anak saja, masa depan akan bahagia.” Itu adalah bagian dari simbol paham Qodariyyah. Karena mereka mengatakan bahwa masa depan pasti bahagia kalau anaknya cukup dua orang saja. Kalau lebih dari dua, pasti terjadi malapetaka. Karena repotlah, inilah, itulah dan berbagai macam alasan lainnya. Paham demikian termasuk Qodariyyah, bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Sebaliknya, ada orang yang mengatakan bahwa tidak perlu berikhtiar terlalu keras dalam urusan dunia ini, sebab segalanya toh sudah ditentukan oleh takdir Allooh سبحانه وتعالى. Itu juga termasuk Bid’ah ‘Aqodiyyah, dan mereka termasuk kepada paham Jabariyyah, bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh Bid’ah ‘Aqodiyyah. Semuanya itu termasuk dalam kategori sesat, dan tidak boleh menjangkit pada diri kita semua.

Bid’ah ‘Amaliyyah

Bid’ah ‘Amaliyyah beragam dalam berbagai hal, dan ragamnya sangat banyak. Sementara ‘Aqodiyyah (‘Aqidah) itu harus satu, yaitu ‘Aqidah yang dipahami oleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, para shohabat, para tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan ‘Ulama yang mu’tabar. Maka untuk perkara ‘Aqidah, haruslah satu. Siapa pun bangsanya, warna apapun kulitnya, di belahan bumi mana pun dia berada, ‘aqidah-nya haruslah satu apabila mengaku sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Haruslah konsisten dengan ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Kalau tidak konsisten, berarti bisa menjadi Ahlul Bid’ah.

Bid’ah ‘Amaliyyah itu banyak sekali. Misalnya dalam hal sholat, contohnya adalah Sholat Nisfu Sya’ban. Ada Bid’ah ‘Amaliyyah yang berkaitan dengan Syi’ar, misalnya peringatan Mauludan (Peringatan kelahiran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم), Rajaban (Peringatan Isra’ Mi’raj).

Yang lainnya, misal dalam masalah Sholawat. Sholawat atas Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah ‘Amaliyyah, karena itu berupa ibadah lisan. Tetapi, bisa berpeluang menjadi Bid’ah yang tersebar di masyarakat, contoh: Sholawat Nariyah, Sholawat Badriyah, dll.

Yang lainnya lagi, misal dalam bidang da’wah. Karena da’wah adalah ibadah maka bisa pula berpeluang terhadap munculnya Bid’ah ‘Amaliyyah dalam urusan da’wah, bila tidak sesuai dengan tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Kembali kepada pembahasan mengenai Bid’ah Haqiiqiyyah, yakni Bid’ah yang sama sekali tidak ada dalilnya. Tidak dari Al Qur’an, tidak dari Sunnah, dan tidak dari Ijma’. Bid’ah itu muncul atas kreatif sendiri. Orang bisa mengatakan bahwa itu pasti tergolong Bid’ah, karena tidak ada dasarnya baik dalam Al Qur’an maupun Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Sedangkan Bid’ah Al ‘Idhoofiyyah adalah Bid’ah tambahan. Yang lalu, orang mengatakan bahwa bid’ah itu tidak mengapa karena itu adalah hasanah (baik). Mereka menganggap bahwa itu ada dasarnya, padahal sebenarnya tidak ada dalil untuknya.

Untuk urusan Sholawatan saja, sampai pernah hampir terjadi tawuran antar warga. Mereka menyangka bahwa orang-orang yang berpegang teguh pada Sunnah itu adalah orang yang benci Sholawatan, karena Sholawat Nariyah tidak boleh, Sholawat Badriyah juga tidak boleh, dstnya. Mereka salah sangka. Justru Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang yang cinta pada Sholawat, tetapi Sholawat dengan cara yang benar sesuai tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Barulah setelah dibawakan kepada mereka kitab-kitab rujukan para ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dijelaskan kepada mereka, bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menganggap bahwa Sholawat itu adalah Ibadah, sehingga haruslah sesuai dengan dalil ataupun tuntunan Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم. Bahkan ditunjukkan pula kepada mereka, cara Sholawat yang benar dan cara Sholawat yang tidak benar. Barulah mereka reda amarahnya, sesudah paham bahwa yang menjadi masalah adalah detail / cara-caranya dalam melaksanakan Sholawat tersebut, yang hendaknya pula sesuai tuntunan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Didalam tidak kurang dari 40 riwayat cara Sholawat atas Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, tidak ada dalil tentang Sholawat Badriyah, Sholawat Nariyah, Sholawat ini dan itu yang sekarang banyak dijual di pasaran.

Atau, misalnya tidak ada yang mengharuskan bahwa pada malam 1 Muharrom, atau pada malam 10 Suro melakukan itu dan itu. Ketika dikatakan bahwa itu baik, itu hasanah, dsbnya, seolah-olah landasannya ada; padahal yang ada sebenarnya adalah syubhat pada kebanyakan orang. Itulah yang disebut sebagai Bid’ah Al ‘Idhoofiyyah (Bid’ah Tambahan).

Yang tersebar di masyarakat, kata mereka ada Bid’ah yang termasuk Hasanah dan ada Bid’ah yang termasuk Sayyi’ah. Padahal sesungguhnya istilah tersebut bertentangan dengan Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Karena, kalau orang mengerti bahasa Arab, maka sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sebagai berikut:

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Setiap Bid’ah adalah sesat”.

كُلَّ بِدْعَةٍ

Adalah mubtada’ dan

ضَلاَلَةٌ

Adalah Khobar. Khobar itu terkait dengan Mubtada’, namanya “Musnad”. Maka tidak ada Dholaalah, kalau tidak ada Bid’ah.

Karena ada Bid’ah, maka ada hukum, yaitu yang disebut dengan Dholaalah (sesat).

Kalau masih saja ngotot, maka ada kata “Kullu” yang artinya setiap, seluruh. Dengan demikian, maka Setiap Bid’ah adalah Dholaalah (sesat). Atau, Seluruh Bid’ah adalah Dholaalah (sesat).

Imaam Jalaaluddin As Suyuuthi dalam kitab beliau yang berjudul Al Amru bill Ittibaa’ wan Nahyu ‘Anil Iibtidaa’, yang memuat penjelasan Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله yang mengatakan bahwa yang disebut Bid’ah itu ada yang Bid’ah Mustahsanah dan Bid’ah Mustahabbah.

Diterangkan oleh Imaam As Suyuuthi رحمه الله dalam kitab tersebut sebagai berikut: “Tetapi ingat, penjelasan Imaam Syaafi’iy seperti itu bahwa Bid’ah itu ada yang terpuji (hasanah) dan tercela, adalah berhujjah dari pendapat shohabat ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه yang berkenaan dengan sholat Taroowih.”

Yaitu, ketika ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه melihat orang mengerjakan sholat Taroowih secara sendiri-sendiri, dan ada yang berkelompok-kelompok, maka beliauرضي الله عنه lalu mengkomando agar semua jama’ah yang hadir ketika itu dalam satu Imaam sholat. Lalu ditunjuklah oleh ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه seorang untuk menjadi Imaam sholat yaitu ‘Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه.

Maka menjadi tertiblah sholat Taroowih sejak itu.

Padahal, bila direnungkan, sesungguhnya hal tersebut bukanlah Bid’ah dalam urusan Dien. Karena itu sesuai dengan Sunnah.

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم merintis sholat Taroowih dengan berjama’ah. Namun, ketika Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melakukan sholat Taroowih dengan berjama’ah dan muncul kekhawatiran beliau صلى الله عليه وسلم bahwa jangan sampai sholat Taroowih itu dianggap wajib oleh umatnya, maka kemudian beliau صلى الله عليه وسلم tidak sholat berjama’ah di masjid lagi sesudahnya.

Dalam Hadits diterangkan bahwa ketika itu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ditunggu-tunggu oleh para shohabat untuk melakukan sholat Taroowih, tetapi beliau صلى الله عليه وسلم tidak keluar dari rumah beliau. Ketika pagi harinya setelah sholat Shubuh, beliau صلى الله عليه وسلم menjelaskan:

قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

Aku telah memperhatikan apa yang kalian perbuat dan tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar menemui kalian, hanya saja aku khawatir, jangan-jangan sholat Taroowih itu akan menjadi wajib atas kalian.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 1129 dan Imaam Muslim no: 1819 dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)

Pada zaman Khaliifah Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه, bahkan Sholat Taroowih berjama’ah itu tidak dilakukan. Ketika zaman Khaliifah ‘Umar bin Khoththoobرضي الله عنه, Sholat Taroowih berjama’ah itu dihidupkan kembali. Tetapi sesungguhnya itu bukanlah Bid’ah, tetapi tajdiid (pembaharuan), karena itu sebenarnya adalah sesuatu Sunnah yang pernah dilakukan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tetapi terhenti, lalu dihidupkan kembali oleh ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه. Itulah yang dimaksud dengan Bid’ah Hasanah dalam Kitabnya Imaam Jalaaluddin As Suyuuthi.

Maka kata ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه:

نعمت البدعة هذه

Betapa bagusnya bid’ah ini.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 2010)

Jadi perkataan ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه itu bisa diartikan sebagai Bid’ah dalam pengertian Bahasa. Dengan kata lain, bisa diartikan bukan Bid’ah, karena sesungguhnya itu adalah Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Oleh karenanya, maka pengertian Bid’ah ada dua macam seperti tersebut diatas.

Secara detail, misalnya seperti yang dikatakan oleh Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله (sebagaimana yang dikutip dalam Kitab Imaam Jalaaluddin As Suyuuthy رحمه الله): “Bid’ah itu ada dua, Bid’ah yang terpuji dan Bid’ah yang tercela. Jika suatu perkara sesuai dengan As Sunnah maka terpuji dan jika menyelisihi maka ia tercela.”

Dengan demikian:

1.      Jika sesuatu yang diada-ada itu menyelisihi, maka itu adalah Bid’ah. Yaitu menyelisihi Kitab (Al Qur’an), Sunnah, atau Atsar (apa yang dilakukan oleh para shohabat), atau Ijma’ (apa yang sudah menjadi kesepakatan para shohabat), maka itulah yang disebut Bid’ah Dholaalah (Bid’ah yang Sesat).

2.      Tetapi jika sesuatu disebut dengan baik itu, mulanya berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam urusan ini, maka yang demikian itu adalah sesuatu yang baru yang tidak tercela. ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه mengatakan tentang Qiyaamul Romadhoon sebagai, “Ni’matul bid’ah haadzihi.” Jadi, contoh yang disebut Bid’ah yang Mahmuudah adalah misalnya Sholaatut Taroowih. Substansinya, kalau ada dasarnya dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka itu tidak termasuk Madzmuum.

Ada lagi dalil misalnya bahwa ada Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkenaan dengan ‘Abdullooh bin Zaiid رضي الله عنه, ketika Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم didatangi oleh kaum muslimiin dari Kuffah, mereka terlihat dari penampilannya adalah termasuk orang miskin, perlu bantuan. Maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم  langsung masuk ke rumah beliau صلى الله عليه وسلم dan keluar lagi membawa makanan yang beliau صلى الله عليه وسلم miliki untuk diberikan kepada muslim dari Kuffah tersebut.

Ketika selesai sholat, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berkhutbah kepada para shohabat, memerintahkan untuk selalu bertaqwa kepada Allooh سبحانه وتعالى, serta bershodaqoh. Kemudian ada salah seorang shohabat bernama ‘Abdullooh bin Zaiid رضي الله عنه yang menggelar sorbannya untuk mengumpulkan uang dari para shohabat, sehingga uang dan apa saja yang terkumpul itu bisa diberikan kepada muslimin dari Kuffah tersebut.

Dengan kejadian itu, maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda seperti dalam Hadits Shohiih riwayat Imaam Muslim:

« مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ »

Siapa saja yang mencontohkan sesuatu yang baik dalam Islam kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya, maka ia berhak mendapatkan pahala sebanyak orang yang mencontohnya, tanpa dikurangi pahala itu sedikit pun. Siapa saja yang melakukan contoh yang buruk dalam Islam kemudian diikuti oleh orang lain setelahnya, maka ia berhak atasnya mendapatkan dosa sebanyak dosa orang yang mencontohnya setelah dia, tanpa dikurangi dosa itu sedikit pun.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6975 dari Jariir bin ‘Abdillah رضي الله عنه)

Kalimat : مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً itu kalau disebut sebagai bid’ah hasanah adalah salah. Karena perintahnya jelas, yaitu urusan shodaqoh. Jadi tidak bisa disebut sebagai bid’ah hasanah, karena sudah jelas shodaqoh itu diperintahkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, jadi itu bukan bid’ah tetapi tergolong Sunnah.

Maka pada kesempatan lain insya Allooh nanti perlu dijelaskan dan akan kita bahas mengapa ada yang memahaminya secara salah, tentang adanya istilah Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah.

Tetapi yang perlu dijelaskan sekarang, yang paling prinsip adalah menanamkan pemahaman kepada kita semua bahwa sesungguhnya Bid’ah yang disebut Madzmum dan Dholaalah adalah Bid’ah Aqodiyah dan Bid’ah Amaliyah.

Kesimpulannya adalah:

Urusan Dien, apapun dia, harus kembali kepada dalil. Kalau ada dalilnya yang shohiih maka harus dikerjakan, kalau tidak ada dalilnya yang shohiih maka tidak boleh dikerjakan.

Bagaimana mengidentifikasi bahwa sesuatu itu Bid’ah atau bukan.

Ada dua versi yaitu menurut Kitab yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shoolih Al Utsaimiin رحمه الله dan Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله. Kata beliau Syaikh Muhammad bin Shoolih Al Utsaimiin رحمه الله, “Mudah sekali untuk mengidentifikasi apakah sesuatu itu bid’ah ataukah tidak. Kalau suatu amalan itu terdapat didalamnya satu diantara enam perkara berikut ini, maka ia sudah termasuk bid’ah”:

1. Sebab

Jika Sebab (dari amalan tersebut) tidak disyari’atkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ia termasuk Bid’ah.

Kata beliau : “Jika seorang manusia melakukan ibadah kepada Allooh سبحانه وتعالى dibarengi dengan sebab yang tidak syar’i, maka ibadahnya adalah ibadah yang tertolak.”

Misalnya: “Sebagian orang menghidupkan malam tanggal 27 Rojab, karena pada malam itu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melakukan Isro’ Mi’roj. Kalau ia tahajud, maka tahajud itu adalah suatu ibadah. Tetapi bila tahajudnya itu dikaitkan dengan peristiwa Isro’ Mi’roj Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pada malam tersebut, maka tahajudnya itu menjadi Bid’ah. Karena tahajud itu dikaitkan dengan suatu sebab yang sebenarnya tidak ada dasarnya dalam Syari’at Islam.

 

Misalnya ada kata-kata “Dalam rangka…”, maka kalimat “Dalam rangka..” itu berarti Sebab. Yang demikian itu bisa dikategorikan Bid’ah kalau landasannya tidak didasarkan kepada Syar’i. Walaupun pekerjaannya adalah Sunnah (tahajud itu ada dalam Sunnah), tetapi menjadi Bid’ah karena yang menjadi Sebab dilaksanakannya pekerjaan tahajud tersebut itu tidak ada dalam Syari’at Islam.

2. Al Jinsu (Jenis)

Haruslah jenisnya ibadah itu sesuai dengan Syar’i.

Kata beliau: “Kalau seorang manusia beribadah kepada Allooh سبحانه وتعالى tetapi jenisnya tidak sesuai untuk diibadahkan, maka ibadahnya tidak akan diterima.”

Contoh: Seseorang berqurban, tetapi hewan qurbannya bukan kambing, sapi atau unta, melainkan dengan  hewan kuda. Maka tidak dibenarkan qurbannya, karena menyelisihi syari’at dalam jenis. Kalau di Indonesia misalnya, berqurban dengan hewan ayam potong, maka tidak diterima qurbannya.

Karena seperti disebutkan dalam Hadits, hewan qurban adalah domba (kambing), unta, sapi (kerbau).

3. Al Qodar (Ketentuan)

Kata beliau: “Kalau ada seorang manusia yang ingin menambah sholat dalam sholat fardhu, maka yang demikian itu adalah Bid’ah Ghoiru Maqbullah, tidak diterima oleh Allooh سبحانه وتعالى, karena menyelisihi syar’i dalam ketentuannya.”

Misalnya ada orang sholat Dhuhur 5 roka’at, padahal ketentuan sesuai syari’at semestinya adalah 4 roka’at. Maka ia sholatnya tidaklah sah.

Sholat Shubuh ketentuannya 2 roka’at. Karena merasa masih segar, lalu ditambah 2 roka’at lagi hingga menjadi 4 roka’at. Maka yang demikian itu adalah Bid’ah, dan tidak akan diterima oleh Allooh سبحانه وتعالى, karena ditunaikannya tidak sesuai dengan aturan syar’i sehingga ibadah itu pun menjadi tertolak.

4. Kaifiyat (Tatacara)

Kata beliau: “Kalau ada seseorang berwudhu yang ia memulai wudhunya itu dengan membasuh kedua kaki, lalu mengusap kepala, lalu membasuh kedua tangan, kemudian wajahnya, maka wudhunya batal karena menyalahi syari’at dalam tatacara.”

Tatacara wudhu adalah dimulai dengan membasuh kedua tangan, membasuh wajah, membasuh kedua lengan sampai siku, lalu kepala barulah kedua kaki; sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه, dan para shohabat. Kalau urutannya dibalik, maka berarti ia tidak melakukan sesuai urutan berturut-turut (tertib)-nya, dan dengan demikian berarti telah menyelisihi apa yang dicontohkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم oleh sehingga terkategori sebagai Bid’ah.

5. Waktu

Kalau ada orang yang melakukan Qurban di awal bulan Dzul Hijjah, maka qurbannya tidak bisa diterima karena menyelisihi syari’at dalam hal waktu. Yang demikian masuk dalam kategori Bid’ah. Karena yang benar, qurban itu dilakukan setelah sholat ‘Iedul Adha, sementara ia melakukannya di hari pertama bulan Dzul Hijjah. Itu tidaklah dibenarkan.

6. Tempat

Kalau ada orang melakukan I’tikaf tetapi tidak di masjid, maka itikaf-nya itu tidak dibenarkan. Karena i’tikaf itu tidak boleh dilakukan, kecuali di masjid. Jadi tempatnya harus sesuai dengan Syar’i. Ketika tempat tidak sesuai dengan syar’i maka tidaklah dibenarkan.

Ada beberapa kriteria apakah sesuatu itu Bid’ah atau bukan, adalah sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله dalam kitabnya yaitu Kitab Ahkaamul Janaa’iz. Kata beliau: “Sesungguhnya Bid’ah yang ditetapkan kesesatannya dalam kategori Syar’i adalah sebagai berikut:

1.      Setiap apa saja yang bertentangan dengan Sunnah, baik berupa perkataan maupun perbuatan ataupun keyakinan, walaupun atas dasar Ijtihad, maka ia adalah Bid’ah. Misalnya, ada orang yang mengatakan bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini sebetulnya hanyalah sepertiga dari yang semestinya, yang dua pertiga-nya masih terpendam. Kata-kata demikian itu bertentangan dengan apa yang ditetapkan oleh Sunnah, maka ia masuk kategori Bid’ah dholaalah. Orang yang meyakininya berarti dhoollun, alias sesat. Yang mengajarkannya disebut Mudhillun (menyesatkan).

2.      Seseorang mendekatkan diri kepada Allooh سبحانه وتعالى, padahal caranya telah dilarang oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Suatu kali sekelompok orang datang kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم untuk melihat dan mengamati ibadah beliau صلى الله عليه وسلم. Setelah itu mereka kembali ke tempat masing-masing dan menyimpulkan:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ عَمَلِهِ فِى السِّرِّ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ آكُلُ اللَّحْمَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ. فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ. فَقَالَ « مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّى أُصَلِّى وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

Dari Anas bin Maalik رضي الله عنه, bahwa sekelompok shohabat Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya pada istri-istri Nabi tentang ibadah Nabi صلى الله عليه وسلم dalam kesendiriannya, sehingga setelah itu sebagian mereka mengatakan “Adapun aku tidak akan menikah dengan wanita.” Seorang lagi mengatakan: “Kalau begitu aku tidak akan makan daging,” Sebagian lain mengatakan, “Aku tidak akan tidur diatas kasur.” Maka Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda setelah memuji Allooh سبحانه وتعالى: “Kenapa dengan suatu kaum yang mengatakan begini dan begitu. Adapun aku sholat, tidur, shoum dan berbuka dan menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukanlah ummatku.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 3469)

Itulah suatu contoh. Jika ada orang yang beribadah, tetapi cara beribadahnya tidak sesuai dan dilarang oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ibadah itu termasuk bid’ah. Mereka yang demikian disebut dengan: Rabbaniyah, yaitu orang yang suka nyepi (bertapa, menyendiri), tidak makan sesuatu yang bernyawa, mutih dsbnya. Hal-hal yang sudah jelas dihalalkan oleh Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم kemudian ia haromkan. Maka perbuatan yang demikian itu termasuk Bid’ah.

3.      Setiap perkara yang tidak disyari’atkan, tidak dengan Nash dan tidak dengan wahyu, maka itu pun termasuk Bid’ah. Urusan keyakinan yang tidak ada dalilnya. Dalam masyarakat, disebut dengan Khurafat (Tahayul).

Misalnya, orang akan membangun rumah, sebelumnya diadakanlah makan-makan (sedekahan) dulu untuk permisi kepada “mbaureksa” (yang menjaga bumi) disitu, agar tidak terjadi na’as. Lalu ketika akan memasang atap, harus digantungkan pisang, padi dan bendera di puncak rumah tersebut. Semua itu tidak ada dalilnya. Itu pun termasuk Bid’ah.

4.      Sesuatu yang dikategorikan ibadah, padahal itu ibadahnya orang kaafir. Ada keterangan dari salah seorang Syaikh di Madinah, bahwa apabila ada orang yang melakukan wirid sambil bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri, maka sebetulnya ia beribadah dengan cara orang Yahudi. Karena cara beribadah orang Yahudi memang dengan cara bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan. Maka dari itu, kita dilarang bergerak-gerak atau bergoyang-goyang ketika mengaji, berdzikir, atau apa saja karena menyerupai (tasyabbuh) dengan cara ibadah orang Yahudi.

 

Bila kaum Nashroni memperingati lahirnya Nabi Isa عليه السلام dengan Natal, maka bagi kita kaum muslimin tidak ada peringatan lahirnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu, Mauludan (peringatan lahirnya Nabi Muhammad  صلى الله عليه وسلم yang dilakukan oleh sebagian orang) itu adalah Bid’ah, karena tasyabbuh dengan kaum Nashroni.

Bahkan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjelaskan kepada kita, bahwa yang dimaksud dengan lafadz “’Ied” adalah Yaumu ‘Arofah, Yaumu Mina dan Ayyamu Tasyrik adalah hari besar Islam (Hari ‘Arofah adalah 9 Dzul Hijjah, hari Mina dan Tasyrik tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah adalah hari besar Islam).

Tetapi di hadits yang lain, ‘Aa’isyah رضي الله عنها menyampaikan bahwa hari raya (‘Ied) itu ada dua, yakni ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha.

Maka kalau ada hari raya selain yang disabdakan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam dua hadits diatas, maka itu termasuk dalam kategori Bid’ah.

5.      Apa-apa yang dianjurkan oleh para ‘Ulama, terutama ‘Ulama Mutaakhiriin, padahal tidak ada dalilnya, misalnya: Muhasabah dengan membaca Al Qur’an dsbnya, padahal itu tidak ada contohnya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka tergolong Bid’ah.

6.      Setiap ibadah yang tatacaranya hanya berdasarkan Hadits Dho’iif dan atau Hadits Palsu, maka itu adalah Bid’ah.

Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله berkata: “Kalau ada orang berdalil dan ternyata dalilnya lemah atau Hadits palsu, maka sesungguhnya itu perbuatan Bid’ah. Karena hadits dho’iif itu adalah prasangka belaka. Tidak pasti. Karena hadits itu dalam perjalanannya penuh dengan cacat. Maka itu tidak termasuk dalam kategori ibadah.

Madzab Ahlul Hadiits mensyaratkan bahwa baik dalam hukum, ataupun dalam Fadho’ilul A’maal, maka Hadits Dho’iif tidak boleh dipakai. Maka bagi kita, cukuplah, puaslah dengan hadits-hadits yang shohiihah, insya Allooh itu akan maqbul disisi Allooh سبحانه وتعالى. Lalu sesudahnya, hendaknya kita sibukkan diri dengan memperbaiki kualitas ibadah kita. Jadi, tidak perlu merasa penasaran dan mencoba-coba beramal dengan landasan hadits yang lemah ataupun palsu, karena semuanya itu tidak akan memberikan kepada kita suatu ibadah yang maqbul.

7.      Berlebih-lebihan dalam ibadah (Al ghuluw fil ‘ibaadah). Kalau orang sudah melebih-lebihkan dalam urusan ibadah, maka itu sudah termasuk dalam kategori Bid’ah. Misalnya sesuatu itu dikatakan baik, tetapi baik itu bukanlah menurut ukuran kita. Baik dan buruk itu dasarnya adalah Syari’at Islam. Kita tidak punya hak untuk mengatakan sesuatu itu baik ataupun buruk. Karena, baik dan buruk dengan makna sesungguhnya, ukurannya adalah dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengatakan sesuatu itu baik atau buruk, apalagi dalam masalah ibadah. Berlebihan dalam ibadah, misalnya: Dzikirnya harus 10.000 kali, atau puasanya harus 40 hari, dstnya. Itu jelas berlebihan.

8.      Setiap ibadah yang dimutlakkan oleh Syari’at, tetapi lalu diikat oleh orang-orang dengan ikatan-ikatan tertentu, maka itu pun tergolong Bid’ah. Maksud ibadah mutlak itu adalah tidak ada ketentuannya.

Contohnya, Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Ahzab (33) ayat 41:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً

Artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, dzikirlah (ingatlah) kalian kepada Allooh dengan dzikir (ingat) yang sebanyak-banyaknya.”

Lalu ada orang yang memberikan batasan-batasan tertentu terhadapnya, baik batasan dengan tempat, batasan dengan waktu, batasan dengan tata cara tertentu atau batasan dengan bilangan tertentu; maka yang demikian itu termasuk dalam kategori Bid’ah.

Misalnya: dzikir dengan membaca Asma’ul Husna, dibaca ba’da Isya sampai jam 22.00 atau dengan membaca “Ar Rohmaan, Ar Rohmaan” 100.000 kali.

Nah, kata-kata ketentuan 100,000 kali itu dari siapa?

Ketentuan: harus ba’da Isya sampai jam 22.00 itu dari siapa?

Kalau ada orang yang mengatakan demikian, maka itu tergolong Bid’ah; karena menyalahi ayat diatas dimana Allooh سبحانه وتعالى menyuruh dzikir sebanyak-banyaknya, tanpa ada ketentuan batasan bilangan, waktu, tempat ataupun tatacara tertentu.

Demikianlah indikator tentang Bid’ah. Kalau ada salah satu diantaranya terjadi dalam masyarakat kita, maka kita bisa mengetahui bahwa itu Bid’ah, tidak boleh kita tiru, tidak boleh kita laksanakan.

Sejarah dan Munculnya Bid’ah

Dalam kitab yang ditulis oleh Syaikh Shoolih bin Fauzan Ali Fauzan, dikatakan sesungguhnya Bid’ah itu telah muncul bukan hanya pada zaman sekarang. Bid’ah telah muncuk sejak zaman Khulafaa Ar Roosyidiin. Misalnya, seorang tabi’in dipanggil oleh ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه lalu dipukuli sampai berdarah di kepalanya, karena bertanya tentang Ayat Muhtasyabihat. Jadi saat itu, begitu kebid’ahan itu muncul,  langsung ditindak tegas dan ditumpas.

Lalu pada zaman Khaliifah ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه juga muncul kebid’ahan, tetapi juga langsung ditumpas. Begitu pula pada masa Khaliifah Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه pun begitu bid’ah muncul segera ditumpas.

Jadi, ketika Atsar (‘Ilmu) kuat, maka Bid’ah akan mati. Bid’ah itu muncul ketika ‘Ilmu Syar’i itu lemah, sehingga Bid’ah pun muncul dan marak dimana-mana.

Kata Imaam Maalik bin Anas dalam Kitab Al Faqiih Wal Mutafaqqih yang ditulis oleh Imaam al Khotiib Al Baghdaady رحمه الله: “Jika peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan para shohabat itu di suatu kaum (masyarakat) nihil atau sedikit, maka akan banyak ditengah-tengah mereka hawa nafsu. Dan jika para ‘Ulama (orang yang berilmu dien) sedikit, maka ditengah-tengah masyarakat demikian itu akan terjadi kekerasan.”

Tepatlah apa yang dikatakan Imaam Maalik tersebut. Karena sesungguhnya ketika dalil-dalil ‘ilmu Syar’i itu sudah tidak ada lagi di tengah masyarakat, akan sedikitlah pedoman bagi kehidupan mereka. Mereka menjadi sangat kurang ‘ilmunya, dan masyarakat tidak lagi tahu apa yang menjadi pedoman dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Bid’ah pertama kali muncul di bidang aqidah itu ada empat. Hal ini dikemukakan oleh Al Imaam Yuusuf bin Asbaath رحمه الله, yaitu:

1.      Raafidhoh (sekarang: Syi’ah), ini yang paling klasik

2.      Qodariyah

3.      Jahmiyah

4.      Murji’ah

Keempatnya adalah Bid’ah ‘Aqidah semua.

Sedangkan Bid’ah dalam urusan ‘Amaliyyah adalah sebagaimana ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه mengingkari (melarang) orang yang berdzikir sambil menghitung-hitung dengan menggunakan batu kerikil (di zaman sekarang menggunakan tasbih), seperti dijelaskan dalam Hadits berikut ini:

فقال له أبو موسى يا أبا عبد الرحمن اني رأيت في المسجد أنفا أمرا أنكرته ولم أر والحمد لله الا خيرا قال فما هو فقال ان عشت فستراه قال رأيت في المسجد قوما حلقا جلوسا ينتظرون الصلاة في كل حلقة رجل وفي أيديهم حصا فيقول كبروا مائة فيكبرون مائة فيقول هللوا مائة فيهللون مائة ويقول سبحوا مائة فيسبحون مائة قال فماذا قلت لهم قال ما قلت لهم شيئا انتظار رأيك أو انتظار أمرك قال أفلا أمرتهم ان يعدوا سيئاتهم وضمنت لهم ان لا يضيع من حسناتهم ثم مضى ومضينا معه حتى أتى حلقة من تلك الحلق فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبد الله حصا نعد به التكبير والتهليل والتسبيح قال فعدوا سيئاتكم فأنا ضامن ان لا يضيع من حسناتكم شيء ويحكم يا أمة محمد ما أسرع هلكتكم هؤلاء صحابة نبيكم صلى الله عليه و سلم متوافرون وهذه ثيابه لم تبل وأنيته لم تكسر والذي نفسي بيده انكم لعلي ملة هي أهدي من ملة محمد أو مفتتحوا باب ضلالة قالوا والله يا أبا عبد الرحمن ما أردنا الا الخير قال وكم من مريد للخير لن يصيبه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم حدثنا أن قوما يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم وأيم الله ما أدري لعل أكثرهم منكم ثم تولى عنهم فقال عمرو بن سلمة رأينا عامة أولئك الحلق يطاعنونا يوم النهروان مع الخوارج

قال حسين سليم أسد : إسناده جيد

Sebagaimana Abu Muusa رضي الله عنه mengatakan kepada ‘Abdullloh bin Mas’uud رضي الله عنه, “Wahai Abu ‘Abdurrohmaan, sungguh aku melihatmu tadi di masjid. Engkau mengingkari sesuatu yang tidak aku pandang kecuali kebaikan.”

Lalu ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه bertanya, “Apa itu?

Lalu Abu Muusa رضي الله عنه mengatakan, “Jika engkau panjang umur, engkau niscaya akan melihatnya. Aku melihat di masjid suatu kaum berkelompok-kelompok sambil duduk menunggu sholat, dimana setiap kelompok terdapat seseorang dimana pada tangannya terdapat kerikil dan mengatakan, ‘Bertakbirlah kalian 100.’ Maka mereka pun bertakbir; ‘Katakanlah oleh kalian Laa Illaaaha Illallooh’ 100, maka mereka pun melakukannya; ‘Bertasbihlah kalian 100’, maka mereka pun melakukannya. Apa yang Anda katakan kepada mereka?

‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه menjawab, “Aku tidak mengatakan apa pun kepada mereka, kecuali hanya aku perintahkan kepada mereka, ‘Coba kalian hitung kesalahan-kesalahan kalian dan aku jamin pada mereka untuk tidak menyia-nyiakan kebaikan-kebaikan mereka’ .”

Sehingga pembicaraan mereka itu pun berlalu.

Kemudian ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه mendatangi pada kelompok-kelompok tersebut dan berdiri dihadapan mereka dan mengatakan, “Apa yang kalian lakukan?

Kata mereka, “Wahai Abu ‘Abdillaah, kerikil kami hitung dengannya takbir, tahlil dan tasbih.”

Lalu ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه kembali berkata, “Hitunglah kejelekan-kejelekan kalian, aku jamin kalian tidak akan menyia-nyiakan kebaikan kalian sedikitpun. Celaka kalian wahai ummat Muhammad, betapa cepatnya kesesatan kalian. Mereka, para shohabat Nabi kalian begitu banyak dan ini bajunya belum juga rusak dan ini bejananya belum juga pecah. Demi yang jiwaku ditangan-Nya, sesungguhnya kalian diatas ajaran yang paling lurus dari ajaran Muhammad صلى الله عليه وسلم. Apakah kalian akan menjadi pembuka-pembuka pintu kesesatan?

Mereka menjawab, “Yaa Abu ‘Abdurrohmaan, tidak ada yang kami inginkan kecuali kebaikan.
Beliau رضي الله عنه berkata, “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rosuul صلى الله عليه وسلم mengatakan kepada kami bahwa suatu kaum membaca Al Qur’an tidak melewati tenggorokannya. Demi Allooh saya tidak tahu, jangan-jangan dari kebanyakan mereka itu ada diantara kalian.”

Kemudian beliau رضي الله عنه pung berpaling.

(Hadits riwayat Imaam Ad Daarimy no: 204 dari ‘Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه dan Syaikh Husain Saliim Asad mengatakan sanad hadits ini baik)

Perhatikan pula :

عن أبي عثمان قال كتب عامل لعمر بن الخطاب إليه أن ها هنا قوما يجتمعون فيدعون للمسلمين وللأمير فكتب إليه عمر أقبل وأقبل بهم معك فأقبل وقال عمر للبواب أعد لي سوطا فلما دخلوا على عمر أقبل على أميرهم ضربا بالسوط فقال يا عمر إنا لسنا أولئك الذين يعني أولئك قوم ياتون من قبل المشرق

Sebagaimana diriwayatkan dari Abu ‘Utsman yang mengatakan bahwa salah seorang pekerja ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه menulis surat padanya, bahwa disini terdapat suatu kaum yang berkumpul dan mendoakan kaum muslimin dan ‘Amiir (pemimpin), kemudian ‘Umar رضي الله عنه membalasnya, “Temui, temui mereka.”

Dan ‘Umar رضي الله عنه berkata kepada penjaga pintu, “Siapkan untukku cambuk.”

Dan ketika mereka masuk, oleh ‘Umar رضي الله عنه, pemimpin mereka, disambutnya dengan pukulan cambuk, lalu kemudian orang itu berkata, “Wahai ‘Umar, bukan kami mereka itu, melainkan mereka adalah kaum yang datang dari arah timur.

Perhatikanlah pada kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah رضي الله عنه dalam kitab Al Mushonnif-nya no: 26191 sebagaiman dikisahkan diatas, betapa ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه sedemikian tegas mengingkari sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada pada zaman Rosuul صلى الله عليه وسلم dan sesuatu yang tidak dipahami demikian oleh beliau رضي الله عنه dan para shohabat.

Padahal, secara kasat mata orang sekarang mengatakan yang seperti itu yakni menghitung dengan tasbih, berdzikir dengan berkelompok-kelompok dengan ada komando dari pimpinan mereka; hal ini dianggapnya sudah menjadi bagian dari ajaran Islam, padahal yang seperti itu jelas-jelas diingkari oleh para shohabat Rosuul صلى الله عليه وسلم sebagaimana dijelaskan dalam Hadits diatas.

Termasuk kategori Bid’ah ‘Amaliyyah, contohnya: ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه pernah mengingkari (melarang) seseorang yang mengharap rizqi dengan berdzikir terus-menerus di dalam masjid. Oleh ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه, orang tersebut diusirnya keluar masjid sambil beliau رضي الله عنه berkata, “Keluar kamu, pergilah ke pasar, karena sesungguhnya langit tidak akan menghujanimu dengan emas dan perak karena dzikirmu itu.” Jadi itu jelas-jelas merupakan pengingkaran bahwa orang mencari rizqi itu bukanlah dengan cara wirid.

Hal-hal seperti itu sudah muncul sejak zaman shohabat, tetapi ditumpas sedemikian rupa, sehingga tidak pernah bangkit dan marak, karena pemegang panji-panji Sunnah demikian banyak dan kuat. Sedangkan di zaman sekarang, di tengah masyarakat justru yang terjadi adalah banyaknya kejahilan dan jauhnya manusia dari keseimbangan dalam urusan Dien, maka yang terjadi adalah seperti apa yang kita lihat sekarang yakni maraknya Bid’ah di berbagai tempat.

TANYA JAWAB

Pertanyaan:

Dijelaskan diatas bahwa salah satu penyebab timbulnya Bid’ah adalah penggunaan hadits-hadits Dho’iif dan Maudhu’. Sementara bagi kami, jama’ah ini, tidak mengetahui mana yang tergolong kedalam hadits-hadits Dho’iif dan Maudhu’. Bagaimana caranya mengetahui hadits-hadits Dho’iif tersebut?

Ternyata Bid’ah cukup marak di lingkungan kita, mulai dari hal-hal yang sehari-hari kita temui sampai hal-hal yang sifatnya kenegaraan. Tentunya yang kami maksudkan itu bukanlah hal-hal yang sepele. Hal-hal yang sifatnya keseharian, misalnya saja sholat, ketika sholat diakhiri dengan salam dan mengusap muka. Dalam beberapa hadits yang kami baca dalam buku karangan Bapak Hasbi As Sidiqi, dengan mengutip hadits-hadits tertentu ia mengatakan bahwa mengusap muka sesudah salam ketika akhir sholat adalah hadits yang diriwayatkan secara lemah (Dho’iif), sehingga tidak bisa dipakai sebagai hujjah. Namun, beliau itu mencantumkan hadits-hadits yang katanya lemah itu dalam Buku Dzikir dan Do’a susunan beliau. Bagi pembaca yang tidak mengetahui Ilmu Hadits, mungkin akan mengamalkan hadits-hadits tersebut. Lalu bagaimana cara mengetahui ke-shohiih-an atau ke-dho’iif-an sebuah hadits?

Jawaban:

Memang banyak sekali perbuatan-perbuatan Bid’ah di masyarakat. Masalahnya adalah banyak sekali Hadits yang Dho’iif dan yang Palsu yang menyebar dalam masyarakat, bahkan didukung oleh para Ustadz dan para Khotib, yang mereka tidak banyak tahu tentang hadits itu sendiri. Contohnya, Hadits yang mengatakan: “Surga itu dibawah telapak kaki ibu.” Itu adalah Hadits Palsu. Penjelasan seperti ini jarang dikemukakan. Jarang mereka menjelaskan status Haditsnya.

Perlu kami sampaikan bahwa bila ada satu kitab, atau hadits yang dibawahnya tidak ada keterangan perawinya, maka tidak usah dipakai dulu. Tanyakan dulu kepada Ustadz yang memang paham tentang masalah Hadits. Jangan diamalkan dulu, sampai ada keterangan yang jelas.

Kalaupun misalnya ada perawinya, tetapi perawinya seperti berikut, contoh: Ibnu ‘Adi, maka jangan anda amalkan dulu. Karena Ibnu ‘Adi menulis kitab yang disebut Kitab Adh Dhu’afaa (Kitab Orang-orang Lemah). Dalam kitab tersebut disebutkan contoh-contoh hadits yang diriwayatkan oleh orang lemah. Orang yang tidak tahu akan menganggap bahwa itu sebagai suatu hadits, lalu langsung diriwayatkan begitu saja. Padahal haditsnya lemah.

Misalnya lagi Abu Asy Syaikh, kitabnya jangan dipercaya dulu. Karena haditsnya banyak yang lemah dan palsu. Juga Imaam Ad Dailamy. Kitabnya jangan dipercaya dulu. Beliau menulis kitab yang bernama Kitab Musnad Al Firdaus, yang isinya hadits-hadits lemah dan palsu. Beliau adalah seorang Imaam, tetapi menulis kitab yang menjelaskan kepada uumat bahwa hadits-hadits yang ada didalam kitabnya itu adalah lemah dan palsu. Tetapi orang umum tidak bisa menyaringnya.

Kalaupun ditulis disitu: Riwayat At Turmudzy, maka jangan juga langsung diamalkan tanpa tahu persis status haditsnya.

Tetapi kalau beliau Imaam At Turmudzy sendiri mengatakan bahwa Hadits ini Hasaanun Shohiih. Karena Imam At Turmudzy sendiri sudah mengatakannya, maka barulah boleh kita amalkan.

Kalau ingin lebih detail lagi, lebih yakin lagi, kita akan amalkan suatu hadits yang lengkap dengan keterangan nomornya, contoh: Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory nomor…… (sekian), nah  barulah boleh kita amalkan. Karena kita bisa merujuk ke kitabnya. Demikian kiatnya agar kita tidak terjebak dalam amalan yang sia-sia.

Pertanyaan:

Apakah atsar shohabat dan atsar tabi’in merupakan hujjah dalam Islam?

Jawaban:

Tentu atsar shohabat bukan hujjah. Jangankan atsar shohabat atau tabi’in. Perkataan shohabat saja, yang mana bila perkataan tersebut bertentangan dengan shohabat yang lain (ada kontradiksi), maka itu pun tidak bisa menjadi hujjah. Apalagi urutan kebawahnya, apalagi para Imaam, apalagi para Kyai. Maka perkataan para Ustadz sampai kemanapun tidak bisa menjadi hujjah. Yang bisa menjadi hujjah adalah sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Pertanyaan:

Bagaimana bila atsar shohabat bertentangan dengan Hadits Marfu’?

Jawaban:

Hadits Marfu’ adalah hadits yang sanadnya sampai kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Tetapi harus diingat bahwa sebuah hadits bisa Marfuu’, bisa Mauquuf, bisa Maqthuu’.

Tetapi meskipun ia Marfu’ hukumnya, namu belum tentu shohiihnya. Maka harus dijelaskan statusnya, hadits tersebut itu shohiih ataukah dho’iif.

Maka diatas dikatakan bahwa kalau ia merupakan atsar maka bukanlah hujjah. Hadits Marfu’ pun kalau tidak shohiih, maka ia bukanlah hujjah.

Dicontohkan dalam pertanyaan tentang Adzan dua kali dalam Sholat Jum’at pada masa Khaliifah ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه.

Perlu kami jelaskan bahwa Adzan dua kali adalah Sunnah, karena itu adalah Sunnahnya Khulafaa Ar Roosyidiin. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ

Artinya:

Hendaknya kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaa Ar Roosyidiin setelah aku.”  (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2676 dari Al Irbaadh Ibnu Saariyah رضي الله عنه)

Diantara Khulafaa Ar Roosyidiin adalah ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه. Maka Adzan dua kali adalah Sunnah. Hanya saja tatacara penerapannya di masyarakat kita yang salah. Yang dilaksanakan oleh Utsman bin Affan رضي الله عنه adalah jarak waktu antara Adzan pertama dengan Adzan kedua adalah agak lama, karena itu dalam rangka mengingatkan kaum muslimin yang sedang sibuk bekerja di pasar-pasar, di sawah atau dimana saja tempat mereka bekerja; agar mereka berhenti bekerja sebab sebentar lagi akan melaksanakan sholat Jum’at. Sesudah mendengarkan adzan pertama itu diharapkan kaum muslimin segera pulang, mandi dan siap-siap untuk ke masjid dan sholat Jum’at. Jadi, Adzan pertama itu bukan untuk Qobliyah Jum’at.

Sementara di tempat kita, di masyarakat kita, adanya Adzan dua kali itu adalah untuk “upacara” sholat Jum’at yang tidak diajarkan oleh Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم. Biasanya di masjid yang standar Bid’ahnya, pertama dilakukan pengumuman hasil kotak amal, saldo keuangan masjid, nama khotibnya, dll, setelah itu lalu Adzan. Setelah Adzan, jama’ah bangun semua untuk melakukan sholat Qobliyah Jum’at. Lalu Mu’adzin memberikan aba-aba tertentu kepada Khotib, lalu serah terima jabatan dilambangkan dengan tongkat kepada Khotib, lalu Khotib melangkah ke tangga pertama membaca suatu lafal tertentu, berbalik, lalu naik ke tangga kedua membaca suatu lafal lagi, dan seterusnya sampai diatas mimbar. Itu semua adalah Bid’ah.

 

Kesimpulannya:

Adzan dua kali ketika sholat Jum’at adalah Sunnah, selama caranya sesuai dengan yang dilakukan oleh ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه, seperti dijelaskan diatas. Kalau tatacaranya menyimpang, maka menjadi Bid’ah.

Pertanyaan:

Siapakah yang berhak men-tahdzir Ahli Bid’ah di suatu daerah? Apakah harus berdasarkan fatwa ‘Ulama besar ataukah salah seorang Ustadz ahli ‘ilmu dikalangan manhaj Salaf yang ada didaerah tersebut?

Jawab:

Kaum muslimin hendaknya disambungkan dengan para ‘Ulama. Tetapi kalau sudah jelas-jelas itu bid’ah, maka sampaikan bahwa itu bid’ah. Hanya saja, supaya tidak terjadi fitnah dan tidak terjadi perpecahan, hendaknya yang men-tahdzir adalah orang yang mempunyai wawasan yang dalam dibidang Ilmu Dien (Islam). Sehingga ia bertanggungjawab. Misalnya orang yang sudah Waro’, orang yang Taqwa, orang yang hawa nafsunya terkendali. Dia lah yang harus men-tahdzir, tetapi tahdzirnya dilakukan atas dasar kedalaman ‘ilmu dien-nya. Jadi tidak boleh sembarang orang, karena dapat menimbulkan perpecahan bila tahdzir mentahdzir dilakukan atas dasar hawa nafsu.

Men-tahdzir Ahlul Bid’ah adalah bagian dari Sunnah.

Pertanyaan:

Apakah partai politik, demokrasi, Pemilu dan Parlemen termasuk jenis Bid’ah? Jika Bid’ah, apa hukumnya?

Jawaban:

Kalau ada orang yang meyakini selain Allooh سبحانه وتعالى ada yang berkuasa, maka itu bukan urusan Bid’ah, melainkan urusan syirik (musyrik). Itu berbahaya, bisa menjadi kufur. Misalnya, ada orang mengatakan bahwa yang berkuasa adalah rakyat, maka itu sudah tidak sesuai dengan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Karena menurut aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, penguasa adalah Allooh سبحانه وتعالى, bukan rakyat. Kalau penguasanya rakyat, maka rakyatlah yang menetapkan hukum. Kalau rakyat yang menetapkan hukum, maka menjadi relatif, karena mereka tidak berhukum pada hukum Allooh سبحانه وتعالى.

Pertanyaan:

Bagaimana i’tikaf itu dilaksanakan, bila i’tikaf-nya adalah pada hari Jum’at dimana kami juga mesti sholat Jum’at?

Jawaban:

Melakukan i’tikaf itu haruslah di masjid, tidak boleh di mushola atau di surau atau di rumah. I’tikaf itu harus di masjid, dimana masjid itu juga untuk sholat Jum’at. Jadi orang yang i’tikaf bisa mengikuti sholat Jum’at di masjid tersebut, tidak harus keluar dari tempat ia i’tikaf. Sebab kalau ia keluar dari tempat i’tikaf, berarti ia batal i’tikafnya.

Pertanyaan:

Bagaimana jika dalam sebuah masjid ada kuburannya? Lalu bagaimana sholat di masjid yang ada kuburannya tersebut?

Jawaban:

Dalam pertemuan terdahulu pernah dijawab masalah tersebut. Bahwa sholat didalam masjid yang ada kuburan / (makam) itu tidak boleh. Sholatnya tidak sah dan harus diulang. Termasuk bila di halaman depan atau samping masjid itu ada kuburan. Karena itu masih termasuk areal masjid.

Seandainya tanah masjid itu menyambung dengan tanah orang yang ada kuburannya, tidak ada batas, itu pun tidak sah sholat di masjid tersebut. Bila ada pagarnya atau berseberangan jalan dengan kuburan, itu pun makruh. Sebaiknya tidak sholat di masjid yang demikian itu. Carilah masjid yang lain.

Kecuali Masjid Nabawy di Madinah. Itu pengecualian. Masjid Nabawy sekarang menampung tidak kurang dari satu juta orang jama’ah. Mula-mula makam Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم  di luar areal masjid. Tetapi karena perkembangan zaman, masjid semakin diperluas, sehingga makam Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjadi masuk dalam areal masjid.

Ada Hadits, Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم:

مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ

Antara mimbarku dan kamar tidurku ada taman surga (Raudhoh).” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 3434 dan Imaam Al Bukhoory no: 1195, dari ‘Abdullooh bin Zaid Al Maaziniy رضي الله عنه)

Jadi pada waktu itu terpisah. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم wafat di kamar ‘Aa’isyah  رضي الله عنها. Dan ada pula hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang mengatakan bahwa para Nabi kalau meninggal, dimakamkan di tempat beliau mati.

Karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم wafat di kamar ‘Aa’isyah رضي الله عنها, maka beliau صلى الله عليه وسلم dikubur di kamar itu. Sekarang makam itu dibatasi oleh batas yang tinggi sehingga tertutup. Sebelum dibatasi, orang-orang Syi’ah sering thawaf di tempat itu mengelilingi kuburan Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم.

Pertanyaan:

Bagaimana menjawab secara dalil kalau ada seorang Ustadz yang bila ditanya tentang masalah Bid’ah, lalu ia malah memberi jawaban yang bersifat “menghibur”, misalnya seperti ini, “Itu tidak mengapa, itu kan Sunnah, bukan Wajib. Dikerjakan saja sudah Alhamdulillah.”

Jawaban:

Ustadz yang demikian bukan menghibur, melainkan ia mengajari Bid’ah. Kalau ada Ustadz yang menjawab seperti itu, mestinya ia jangan menjadi Ustadz, melainkan hendaknya belajar / menuntut ‘ilmu syar’i terlebih dahulu.

Pertanyaan:

Bagaimana hukum dari mengusap wajah sesudah salam, selesai sholat?

Jawaban:

Mengusap wajah selesai sholat adalah Bid’ah. Tidak ada dalam Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang shohiih.

Pertanyaan:

Tentang pendapatnya Imaam Maalik bin Anas bahwa perlunya dalil untuk mempertahankan kemurnian dan menghindari Bid’ah. Nah, sekarang ini banyak orang atau majlis ta’lim yang meng-klaim dirinya sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tetapi mereka itu mempergunakan dalil yang berbeda-beda. Padahal apa yang mereka dakwahkan itu banyak yang tergolong Bid’ah dan Khurofat. Yang demikian itu berlangsung sampai saat ini.

Bagaimana sikap kita dalam menghadapi hal yang demikian tersebut?

Jawaban:

Untuk perkara selamat atau celaka (dunia dan akhirat) itu harus kita tumbuhkan sikap kritis. Dalam menyikapi Islam, kita harus dengan tiga fase. Setiap keterangan yang masuk ke telinga kita, haruslah kita tanyakan dalam tiga fase berikut:

Fase Pertama, apakah ada dalilnya. Kalau tidak ada dalilnya, maka tidak perlu didengar. Karena :

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ

Sesungguhnya Allooh سبحانه وتعالى membenci tiga perkara, yaitu: Perkara yang berasal dari Katanya, katanya…’.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 1477 dan Imaam Muslim no: 4582 dari Al Mughiiroh bin Syu’bah رضي الله عنه)

 

Jadi yang demikian itu berarti keterangan itu hanya bualan saja.

Kedua yang juga dibenci adalah menyia-nyiakan harta benda, dan ketiga adalah orang yang banyak bertanya.

Jadi, kalau ada dalilnya, barulah boleh didengar. Tetapi dalil itu masih ada yang Maqbul dan ada yang Marduud.

Dalil yang Marduud ada dua: Dho’iif (lemah) dan Maudhuu’ (palsu).

Dalil yang Maqbul juga ada dua, yaitu: Ma’muul (diamalkan) dan Tidak Ma’muul (tidak diamalkan).

Mengapa ada hadits Maqbul tetapi tidak diamalkan? Karena hadits tersebut sudah di-mansukh. Hadits mansukh itu tidak diamalkan, walaupun itu hadits shohiih.

Fase Kedua, bukan hanya sekedar ada dalil, tetapi hendaknya dalil yang shohiih.

Fase Ketiga, tanyakan dengan pemahaman siapakah anda memahami hadits yang dimaksud tersebut. Disinilah perlunya pemahaman Salaf, yaitu pemahaman berdasarkan pahamnya para shohabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para imaam yang mu’tabar. Karena mereka adalah manusia yang paling ‘aliim. Mereka lebih taqwa, lebih hakim dan lebih bijaksana dibandingkan kita. Mereka adalah manusia-manusia kualitas tinggi, yang jaminannya pun datang dari Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Karena memahami dalil itu bukanlah sesuai hawa nafsu diri kita sendiri. Meskipun ada seseorang yang mengatakan bahwa ia sudah mempelajari bahasa Arab dan sudah hafal seribu bait dalam Nahwu, itu pun tidaklah cukup.

Karena bahasa Arab bukan menjadi penentu dari paham dalam hal Dien (Islam).

Bahasa Arab adalah alat untuk memahami Dien, bukan merupakan penentu paham dalam urusan Dien. Paham Dien itu ditentukan dengan Fiqh para ‘Ulama. Karena tidak setiap yang diterjemahkan secara bahasa, tepat persis seperti yang dikehendaki oleh Syar’i.

Jadi ada tiga fase yang harus dikritisi. Tanyakan ada dalilnya atau tidak, shohiih atau tidak, pemahaman siapa dstnya.

Ada aliran yang mengatakan: “Ini dari Al Qur’an dan Sunnah, mankul lagi.” (Mankul itu artinya riwayat dari gurunya ke muridnya, dari muridnya ke muridnya yang lain, dstnya)

Maka aliran tersebut menamakan dirinya Jama’ah Mankul. Mereka itu dari kelompok LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia).

Mereka mengatakan “Mankul”. Tetapi “Mankul” dari siapa? Ternyata setelah dirunut, “Mankul”-nya adalah pada dirinya sendiri. Mereka mengatakan bahwa semua muslim itu najis kecuali LDII. Maka mankul mereka itu dari pemahaman dirinya sendiri, bukan dari para ‘Ulama. Karena itu mereka menjadi sesat.

Jadi betapa pentingnya pemahaman terhadap Dien (Islam) ini dengan pemahaman yang benar. Hendaknya pemahaman kita sesuai dengan pemahaman Dien dari para shohabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para imaam yang mu’tabar.

Pemahaman Dien (Islam) kita hendaknya sesuai dengan Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله, sesuai dengan ‘Abdullooh bin Mubaarok رحمه الله, sesuai dengan Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه, sesuai dengan Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه, sesuai dengan ‘Abdullooh bin Mas’uud, Jabir bin ‘Abdillah رضي الله عنهم, dstnya.

Begitu mestinya rujukan kita, bukan menggunakan pemahaman orang-orang orientalis, orang kaafir, orang ahlul bid’ah.

Memahami Dien (Islam) haruslah dari mereka, orang-orang yang jelas terjamin ke-shohiih-annya, jelas ketaqwaannya, jelas ke-waro’-annya.

Pertanyaan:

Bila dalam suatu ruangan kantor yang besar, karena disekitarnya tidak ada masjid lalu ruangan tersebut dijadikan tempat untuk sholat Jum’at, apakah itu dibolehkan? Apakah sholat Jum’atnya sah?

Jawaban:

Sah. Boleh saja, karena untuk meringankan keberatan umatnya. Karena bangunan kantor itu sekian puluh tingkat, lalu harus mencari masjid dulu, sehingga menjadikan perkara yang memberatkan bagi muslimin yang ada di gedung tersebut, maka yang demikian itu boleh.

Pertanyaan:

Bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa ia berdakwah dengan nyanyian, misalnya dengan judul: “Nada dan Dakwah.”

Jawaban:

Itu jahil. Boleh anda membuka kitab Hadits Shohiih riwayat Imaam Al Bukhoory bahwa nyanyian, musik dan sejenisnya adalah harom. Perhatikan hadits berikut:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

Artinya:

Sungguh, benar-benar sebagian dari ummatku akan muncul beberapa kaum yang menghalalkan (menjadikannya halal) zina, sutra (bagi laki-laki), khomr (minuman keras) dan alat musik.” (Hadits Riwayat Imaam Bukhoory no: 5590 dari Abu Maali Al Asy’ary رضي الله عنه)

Sedangkan menurut para ‘Ulama antara lain Al Imaam Al Qurthuby, menukil dari Al Jauhary bahwa “Al Maa’azif” itu adalah nyanyian. Dan ‘Ulama yang lain mengartikan Rebana dan apa saja yang dipukul. Dan didalam Al Qoomus Al Muhiith adalah perkara-perkara yang melalaikan seperti guitar, gendang, dan nyanyian.

Jadi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang mengharomkannya. Tetapi nyanyian dan musik itu malah dijadikan sebagai wasiilah dakwah. Itu tidak benar, karena ibadah itu tidak boleh menggunakan wasiilah (media) yang harom.

Paradigma itu muncul karena pelakunya kurang wawasannya dalam hal Dien (Islam). Juga karena unsur lain, misalnya hawa nafsu, popularitas, dll. Pelakunya tidak paham benar dalam hal Dien.

Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 20 Muharrom 1426 H – 28 Februari 2005 M.

——- 0O0 ——-

Silakan download PDFJenis Macam Bidah AQI 280205 FNL

About these ads
19 Komentar leave one →
  1. octora permalink
    27 November 2010 2:33 pm

    Assalamu ‘alaikum

    Ustadz, ana ijin CoPas..

    • 27 November 2010 8:28 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warrohmatulloohi Wabarokaatuh, silakan saja.. semoga bermanfaat…. Barrokalloohu fiik

  2. muhammad husein ritonga permalink
    20 Juli 2011 7:13 am

    Assalamualaiykum….. izin share ustad…..

  3. abdul permalink
    20 Juli 2011 8:18 am

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz, ana ijin CoPas..

    • 20 Juli 2011 7:42 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua… Barokalloohu fiik

  4. hanan haque permalink
    4 Agustus 2011 5:49 am

    Assalamualaikum warrahmatullahi wabarokaruh
    Ustad saya izin untuk copas artikel ini untuk dshare dalam akun Fb saya

    • 5 Agustus 2011 9:53 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiik

  5. Pencari Ilmu permalink
    15 April 2012 5:30 pm

    Assalamu’alaikum Pak Ustadz, saya mohon ijin copas, syukron.

    • 15 April 2012 7:40 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  6. 11 Mei 2012 6:34 pm

    Assalamu’alaikum warahmatullah ustadz, saya ijin copas, syukron

    • 12 Mei 2012 4:58 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiik.

  7. abu faiz permalink
    28 Juni 2012 8:05 am

    Izin share ustadz, syukron jazakallahu khoiron.

    • 29 Juni 2012 10:31 pm

      Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

      • 5 Mei 2013 6:29 pm

        Assalamu’alaikum Pak Ustadz, saya ijin share ilmu ini, syukron..

  8. 5 Mei 2013 10:34 pm

    Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
    Silakan saja… semoga menjadi ilmu yang bermanfaat… Barokalloohu fiika

  9. 17 Juli 2013 1:00 pm

    Assalamu’alaikum….. Pak saya mau tanya, setiap penjaga Ka’bah mereka itu ketemu Nabi Muhammad dalam mimpi… dan mimpi ketemu Nabi Muhammad gak mungkin bohong lah pesan Nabi dalam mimpi, itu bid’ah gak? Itu juga urusan din lah orang khusus tersebut membagi kenangan dari Rosul tsb dan efeknya semakin bagus… lha yang saya tanyakan, dalam sebagian umat Islam ada yang demikian, apakah ini sesat? Sementara ketemu Rosul adalah haq! Contoh pengarang Mawlid Habsyi… Beliau melihat Nabi Muhammad saat mengarang kitab tsb… kemudian beliau mengajarkan kepada murid-muridnya dan beliau berkata mawlid ini mashur suatu saat nanti karena cintaku kepada Nabi??? Dan kenyataannya beliau wafat dengan jelas mengucapkan la ilaha ilallah didepan para muridnya… Pertanyaannya, apakah hujah ulama soleh seperti itu ditolak mentah-mentah dan sesat dan ke neraka? Dan termasuk di Solo, termasuk keluarganya pengamal bid’ah tsb kok bisa wafat dalam sujud solat Jumat! Kita belum tentu bisa…

    • 21 Juli 2013 12:09 am

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,
      1) Ya akhi, coba anda renungkan baik-baik firman Allooh سبحانه وتعالى, sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan perkataan seorang ‘Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah yakni Al Imaam Maalik رحمه الله berikut ini:

      a) Bahwa Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 3 :

      الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

      Artinya:
      “… Pada hari ini telah Ku-SEMPURNAkan untuk kamu DIIN (AGAMA)mu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu menjadi diin (agama) bagimu…”

      b) Bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah memberikan kaidah sebagai berikut:

      مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

      Artinya:
      Barangsiapa mengadakan SESUATU YANG BARU DALAM URUSAN DIIN kami yang bukan berasal darinya, maka (PERBUATAN ITU) TERTOLAK.”
      (Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 2697 dan Al Imaam Muslim no: 4589, dari ‘Aa’isyah رضي الله عنها)

      c) Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم juga telah memberikan kaidah sebagai berikut:

      وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

      Artinya:
      JAUHKANLAH DIRI KALIAN DARI SETIAP PERKARA-PERKARA YANG BARU, karena SETIAP HAL YANG BARU DALAM DIIN adalah BID’AH, dan setiap Bid’ah adalah sesat.”
      (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4609, dari Shohabat Al ‘Irbad bin Saariyah رضي الله عنه)

      d) Perkataan seorang ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah yakni Al Imaam Maalik رحمه الله (guru dari Al Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله) sebagaimana diutarakan berikut ini:

      قال الشاطبي في الاعتصام : قال ابن الماجشون سمعت مالكا يقول من ابتدع في الاسلام بدعه يراها حسنه فقد زعم ان محمدا ( صلى الله عليه وسلم ) خان الرسالة لان الله يقول ) اليوم أكملت لكم دينكم ( فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا

      Artinya:
      Telah berkata Al Imaam Asy Syaathiby dalam kitab “Al I’tishoom”, “Telah berkata Ibnul Maajisyuun, “Aku mendengar Imaam Maalik (– guru Imaam Asy Syaafi’iy–) berkata, ‘Tidaklah seseorang melakukan kebid’ahan dalam perkara diin, dengan mengada-ada sesuatu yang baru yang dia pandang baik, maka sesungguhnya dia telah mengklaim bahwa Muhammad صلى الله عليه وسلم telah mengkhianati risaalah, karena Allooh سبحانه وتعالى berfirman “Hari ini telah kusempurnakan dien untuk kalian“. Maka APA-APA YANG HARI ITU (zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم hidup) TIDAK MERUPAKAN DIIN (AGAMA), MAKA PADA HARI INI TIDAK DISEBUT SEBAGAI DIIN (AGAMA).”

      Apakah anda tidak meyakini firman Allooh سبحانه وتعالى sebagaimana dalam QS. Al Maa’idah (5) ayat 3 diatas, bahwa ISLAM ITU SUDAH SEMPURNA? JIKA ISLAM ITU SUDAH SEMPURNA, MAKA TIDAK PERLU DITAMBAH-TAMBAH / DIKURANG-KURANGI.
      Yang penting adalah kita secara Kaffah berusaha mengamalkan dan mengaktualisasikan apa yang menjadi tuntunan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang sudah sempurna dan sudah baku itu.

      2) Ustadz tidak mengatakan bahwa orang yang meriwayatkan bahwa dirinya bermimpi bertemu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم itu adalah bohong. Walaupun demikian perlu diketahui oleh kaum Muslimin bahwa masa periwayatan Hadits itu saja sekarang sudah terputus, oleh karena itu apa-apa yang dikatakan oleh seseorang (siapapun juga) sesudah masa periwayatan Hadits itu terputus yang notabene adalah tidak berasal dari Al Qur’an ataupun As Sunnah yang shohiihah, dan juga tidak berasal dari Ijma para Shohabat atau dari Ijma para Mujtahidin zaman sekarang, adalah merupakan sesuatu AJARAN BARU; karena boleh anda buktikan sendiri dari meneliti Al Qur’an ataupun As Sunnah yang shohiihah atau dari Ijma para Shohabat atau dari Ijma para Mujtahidin zaman sekarang bahwa apa yang anda sebutkan itu (perayaan Maulid Nabi) adalah TIDAK ADA tuntunannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dimasa beliau hidup.

      Bahkan PERAYAAN MAULID NABI itu adalah merupakan sikap TASYABBUH (MENYERUPAI) ORANG KAAFIR yang DILARANG KERAS OLEH ROSUULULLOOH صلى الله عليه وسلم SENDIRI, sebagaimana dalam Hadits Riwayat Al Imaam Abu Daawud no: 4033, dan Syaikh Nashirudiin Al Albaany mengatakan Hadits ini Hasanun Shohiih, dari Shohabat ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنه berikut ini:

      مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

      Artinya:
      BARANGSIAPA yang MENYERUPAI SUATU KAUM, MAKA DIA BAGIAN DARI KAUM ITU.”

      Jika orang Kaafir (NASHRONI) merayakan NATAL (– dalam keyakinan orang Nashroni, Natal adalah perayaan hari lahirnnya Nabi ‘Isa عليه السلام –), lalu mengapa kaum Muslimin ikut-ikutan (Tasyabbuh) orang Nashroni dengan mengadakan perayaan MAULID NABI (– perayaan hari lahirnya Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم –)? Mengapa kaum Muslimin menyerupai (TASYABBUH) terhadap orang Nashroni, padahal sikap TASYABBUH itu telah DILARANG OLEH ROSUULULLOOH صلى الله عليه وسلم ?

      Belum lagi kalau didalam perayaan itu ada TAWASSUL dan TABARRUK; maka akan menjadi lebih jauh lagi dari tuntunan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم. Bukankah dengan adanya ajaran seperti itu, ummat Islam menjadi banyak peluang untuk berbeda, berselisih, bahkan berpecah-belah?

      Padahal kalau saja semua Muslim itu sepakat bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah meninggalkan 2 perkara, yang jika mereka itu berpegang-teguh dengan keduanya maka mereka itu akan selamat dan tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu: Kitabullooh (Al Qur’an) dan Sunnah Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم yang shohiihah. Hal ini adalah sebagaimana sabda beliau صلى الله عليه وسلم :

      تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا، كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ.

      Artinya:
      Aku tinggalkan pada kalian DUA PERKARA, JIKA KALIAN BERPEGANG TEGUH DENGAN KEDUANYA, KALIAN TIDAK AKAN SESAT SELAMA-LAMANYA yaitu: KITABULLOOH dan SUNNAH NABI-Nya.”
      (Hadist Riwayat Al Imaam Maalik secara mursal dalam “Al-Muwatho” 2/ 999. Menurut Syaikh Nashiruddin Al-Albaany رحمه الله, beliau mengatakan dalam Kitab-nya At-Tawashshul Anwa’uhu wa Ahkamuhu, bahwa Al Imaam Maalik meriwayatkan secara mursal, lalu Al Imaam Al-Hakim dari Hadits Ibnu Abbas sanadnya adalah Hasan, juga hadist ini mempunyai syahid dari hadits Jaabir sebagaimana telah ditakhrij dalam Silsilah Ahadits As-Shohiihah no: 1761).

      Jadi, AGAR TIDAK SESAT SELAMA-LAMANYA itu seorang Muslim hendaknya BERPEGANG-TEGUH dengan AL QUR’AN dan AS SUNNAH. Dalam Hadits ini kan tidak disebutkan untuk berpegangteguh pada KARYA MIMPI HABIIB / KYAI / AJEUNGAN / WALI / USTADZ / siapa saja?

      Ketahuilah bahwa ORANG YANG MENJADIKAN MIMPI SEBAGAI DALIIL, ITU ADALAH SHUFI !!!

      Justru, tanda kalau seorang Muslim itu benar-benar mencintai Allooh سبحانه وتعالى, maka ia akan mempunyai sikap taat pada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 31-32 :

      قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿٣١﴾ قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ ﴿٣٢

      Artinya:
      (31) “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allooh, ikutilah aku, niscaya Allooh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allooh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
      (32) “Katakanlah: “Taatilah Allooh dan Rosuul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allooh tidak menyukai orang-orang kafir“.

      Jadi apabila Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melarang TASYABBUH (MENYERUPAI ORANG KAFIR) sebagaimana telah dijelaskan dalam Hadits diatas, maka seorang Muslim yang mencintai Allooh سبحانه وتعالى itu akan mempunyai sikap TIDAK MAU MENYERUPAI ORANG KAFIR (– dalam hal ini adalah orang Nashroni –) sebagai implementasi dari ketaatan dirinya pada sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

      Adapun bukankah mengadakan perayaan Maulid Nabi itu justru malah merupakan bentuk menyerupai sikap orang Nashroni yang mengadakan perayaan Natal, yang dalam hal ini jelas-jelas berarti telah menyelisihi firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 31-32 serta sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits diatas?

      Semoga Allooh سبحانه وتعالى memberikan kita hidayah dan taufiq untuk berada diatas jalan-Nya yang lurus serta istiqomah diatasnya hingga akhir hayat.

  10. 16 Agustus 2013 8:53 am

    Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarokatoh.
    Afwan Ustadz sebelumnya saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan saya yang dalam beberapa hari ini mengunjungi Blog ustadz dan mendownload beberapa artikel yang ustadz posting tanpa meminta ijin terlebih dahulu, saya seorang muslim yang berusaha mempelajari dan mengkaji ajaran agama termulia ini dengan cara banyak membaca artikel-artikel yang berkaitan dengan hal agama dan saya sangat tertarik setelah beberapa kali membaca artikel anda terutama permasalahan Bid’ah, karena perkara ini yang banyak saya jumpai khususnya di daerah saya di Gorontalo.

    Pernah beberapa kali saya sedikit menyinggung hal ini kepada para remaja masjid di tempat saya yang masih mengamalkan perbuatan Bid’ah yang mereka peroleh turun-temurun, tapi jawaban yang mereka lontarkan ialah seperti ini “Kami mengikuti perbuatan yang dilakukan mayoritas umat muslim” dan masih banyak lagi jawaban yang lainnya.

    Pertanyaan saya Ustadz, apakah yang harus saya lakukan demi mengembalikan saudara-saudaraku sesama muslim ini ke amalan yang sesuai sunnahnya, haruskah saya memusuhi dan membenci perbuatan mereka (bukan orangnya), seperti layaknya saya membenci Kaum Yahudi dan Nasrani, ataukah saya harus tetap konsisten menasehati mereka dengan resiko dianggap aneh dan bahkan dikucilkan dengan harapan suatu saat mereka bisa menerimanya?

    Afwan Ustadz, mohon sekiranya berkenan saya juga mohon ijin untuk bisa lebih banyak mendownload artikel ustadz dengan tujuan akan saya sebarkan ke saudara-saudariku sesama muslim yang lain. Syukron Jazakallah Khairon Katsiron Wa Jazakallah Ahsanal Jaza.

    • 17 Agustus 2013 5:08 pm

      Wa ‘alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh,

      Tidak mengapa ya akhi…. Silakan saja, anda dapat mengcopy-paste seluruh artikel ataupun men-download seluruh audio ceramah yang ada pada Blog ini serta menyebarluaskannya sebagai dakwah lillaahi ta’aalaa.

      Adapun terhadap permasalahan yang anda hadapi, maka ikutilah saran Ustadz berikut ini:

      1) Berdo’alah kepada Allooh سبحانه وتعالى agar anda diberikan ke-istiqomahan dalam gairah menjalankan Islam sesuai Sunnah dan menebarkannya pada orang-orang di sekitar anda.
      Sungguh Ustadz bangga dengan anda. Teruskan dan tingkatkanlah semangat anda yang mulia itu.

      2) Senantiasa berupayalah untuk menuntut ilmu Syar’ie agar anda dapat menjawab tantangan yang dihadapi, termasuk berdakwah dengan cara yang hikmah dan sabar.

      3) Teruskan pula mengingatkan dan memberitahu orang-orang sekitar anda tentang Islam yang benar, yang sesuai dengan Al Qur’an Al Kariim dan As Sunnah yang shohiihah yang dipahami oleh para Pendahulu Ummat yang shoolih dari mulai Shohabat, Taabi’iin dan Taabi’ut Taabi’iin, termasuk pemahaman para Imaam dan para ‘Ulama yang mu’tabar seperti Al Imaam Maalik bin Anas, Al Imaam Asy Syaafi’iy رحمهما الله dll.

      Dan Ustadz in-syaa Allooh Ta’aalaa sesuai kemampuan mudah-mudahan bisa membantu anda lewat konsultasi, baik secara langsung (melalui telphone yang nomornya di-emailkan ke email anda, silakan check email anda) ataupun secara tidak langsung (melalui konsultasi tertulis pada Blog ini atau per-sms).

      4) Sadarilah bahwa banyak orang yang tahu bahwa ma’shiyat itu menuju Neraka, tetapi toh tidak sedikit yang terus melakukannya walaupun hal itu beresiko. Karena itu, bagi kita yang mengimani bahwa Allooh سبحانه وتعالى tidak akan mengingkari janji-Nya yakni bahwa bagi orang yang patuh dan taat pada-Nya itu akan Allooh سبحانه وتعالى berikan surga, maka mengapakah kita tidak siap beresiko pada apa yang Alloohسبحانه وتعالى janjikan surga?

      Ingat, resiko adalah suatu kemestian. Bahkan semakin kokoh iman seseorang, semakin besar pula ujian dan resiko yang dihadapinya. Kata Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, “Manusia yang paling dahsyat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang yang semisal dengan mereka, kemudian orang yang semisal dengan mereka.”

      5) Membenci kemungkaran dengan hati saja TANPA ADANYA NIAT / KEMAUAN untuk bagaimana caranya dia berusaha untuk merubah kemungkaran dengan suatu aksi dalam suatu aplikasi, itu bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; tetapi Murji’ah. Sebab membenci kemungkaran itu memang selemah-lemahnya Iman, tetapi tidak merubah keadaan bahkan akan memperparah, serta bahkan memberi peluang pada kemungkaran itu untuk semakin melebarkan sayapnya.

      Jadi kenapa manusia lebih memilih lemah iman untuk urusan diin, sementara kalau urusan duniawi ia ingin menjadi orang yang paling maju dan paling berhasil serta paling berjaya?

      Oleh karena itu, saran Ustadz teruslah berdakwah dan bersabarlah menghadapi celaan / cacian atau bahkan sekalipun anda dikucilkan oleh orang-orang sekitar anda. Itulah resiko dakwah / menyeru manusia ke jalan Allooh سبحانه وتعالى, sebagaimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dulu pun mengalaminya dengan yang lebih dahsyat daripada itu.

      6) Apabila anda berkenan menerima CD MP3 Audio Ceramah Ustadz SECARA GRATIS, dengan harapan hal tersebut dapat membantu serta memberi kemudahan bagi anda untuk berdakwah, maka silakan kirimkan ALAMAT LENGKAP anda per email ke: ahwal3009@yahoo.co.id agar CD Audio Ceramah tersebut dapat dipaketkan per pos kepada anda.

      Barokalloohu fiika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 212 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: