Skip to content

Syahadat Risalah

12 Juli 2010

(Transkrip Ceramah AQI 281209)

SYAHADAT RISALAH

Oleh: Al Ustadz Achmad Rofi’i,  Lc.

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Sebagai kelanjutan dari bahasan tentang “Laa illaaha illallooh” sebagai intisari daripada pernyataan  iman kita kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka kali ini kita bahas tentang Syahadat Risalah. Maksud Syahadat Risalah adalah Syahadat setelah Syahadat Tauhid. Kita semua tahu bahwa Syahadat ada dua pilar yaitu :

  1. Bersyahadat bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allooh سبحانه وتعالى (Syahadat Tauhid),
  2. Bersyahadat bahwa Muhammad adalah hamba Allooh dan utusan Allooh سبحانه وتعالى.

Bersyahadat yang kedua tersebut disebut juga dengan Syahadat Ar Risalah. Menunjuk-kan bahwa kita bersaksi, meyakini, berikrar dan bersumpah bahwa Muhammad bin ‘Abdillah adalah hamba Allooh dan utusan-Nya.

Syahadat tersebut juga merupakan bagian tidak terpisahkan dari syarat “Laa illaaha illallooh”. Karena tidak mungkin orang mengucapkan “Asyhadu an laa illaaha illallooh tanpa mengucapkan  “Asyhadu anna Muhammadur Rosuulullooh”.

Seperti dikatakan oleh seorang ‘aalim pada akhir abad ini yaitu Syaikh Hafidz Hakami ketika ditanya apa hubungan kedua Syahadat tersebut, beliau mengatakan: Dua Syahadat ini adalah mutalazimataan, artinya satu sama lain saling terkait.

Kata beliau selanjutnya: Syarat-syarat Syahadat yang pertama (Laa illaaha illallooh), adalah merupakan syarat Syahadat kedua (Muhammadan ‘abduhu wa Rosuuluhu).

Sebagaimana Syahadat kedua (Muhammad ‘abduhu wa Rosuuluhu) merupakan syarat bagi Syahadat pertama yaitu Laa illaaha illallooh.

Sebelum masuk bahasan tentang Syahadat Risalah, yaitu bahwa Allooh سبحانه وتعالى mengutus Rosuul, tidak mengutus anak, sebagaimana diyakini oleh orang-orang Nashoro bahwa Isa adalah anak Allooh. Padahal sesungguhnya, dalam kitab Injil yang asli disebutkan bahwa Allooh tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Hal ini penting untuk mendasari muqoddimah bahasan kali ini, sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Surat Al Anbiyaa’ ayat 26:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ (26

Artinya:

Dan mereka berkata:Tuhan yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak, Maha suci Allooh. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan.”

Dan bahwa juga Nabi dan Rosuul adalah manusia-manusia pilihan yang dimuliakan Allooh سبحانه وتعالى. Oleh karena itu Rosuul bukanlah anak Allooh, melainkan Rosuul adalah manusia pilihan Allooh سبحانه وتعالى. Maka kita sering juga mengatakan untuk Rosuul adalah Al Musthofa, Al Muhtar, yang artinya adalah pilihan.

Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم  juga salah seorang diantara pilihan. Bahkan manusia terpilih di dunia ini adalah Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Bersyahadat bahwa Muhammad adalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, Muhammad adalah utusan Allooh سبحانه وتعالى  dan bahwa kita harus menyaksikan, berikrar, meyakini bahwa Muhammad adalah Rosuulullooh sebagaimana tercantum dalam banyak ayat, misalnya Surat Al Baqarah ayat 151 :

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ (151

151. “Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu), Kami telah mengutus kepadamu Rosuul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”

Yang dimaksud Hikmah adalah Sunnah Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Juga Allooh سبحانه وتعالى dalam Surat At Taubah ayat 128 berfirman :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rosuul dari kaummu sendiri,berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan)  bagimu, amat belas kasih, lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.

Rosuul yang dimaksud adalah seorang dari kaummu sendiri (manusia) dan sifat dari Rosuul itu adalah ‘Aziizun‘alaihi (sangat mulia), hariishun (merasa berat) atas penderitaan umatnya, tidak suka ada perkara yang memberatkan umatnya. Contoh: Tentang siwak, tentang sholat malam bulan Romadhon, Rosuul tidak ingin itu menjadi fardhu. Hariishun juga berarti sifat gigih terhadap mu’minin. Apa saja yang memberikan manfaat kepada orang-orang mu’minin, Rosuul selalu gigih memperjuangkannya.

Terhadap orang-orang mu’min Rosuul juga bersifat ro’uuf (pengasih) dan rohiim (penyayang).

Dari ayat tersebut diketahui bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم punya sifat yaitu: ‘Aziizun (mulia), Hariishun, Ro’uufun, dan Rohiimun.

Dari ke-empat sifat tersebut sayangnya tidak tercantum satu pun dalam sifat yang wajib diketahui oleh kita tentang sifat-sifat Rosuul. Bahkan kita suka mengarang: Siddiiq, Amaanat, Tabligh dan Fathoonah.  Padahal sifat ‘Aziizun, Hariishun, Ro’uufun dan Rohiimun adalah sifat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم  yang Allooh سبحانه وتعالى firmankan dalam Al Qur’an, seperti dalam ayat tersebut diatas.

Juga dalam Al Qur’an Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS al Munaafiquun : 1=

وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ

Allooh mengetahui bahwa engkau (ya Muhammad) adalah utusan-Nya.”

Ini adalah bukti bahwa Muhammad adalah Rosuullullooh, utusan-Nya. Dan bagian daripada beriman adalah kita wajib meyakini bahwa Muhammad ditetapkan sebagai Rosuulullooh (utusan Allooh سبحانه وتعالى). Allooh sebagai Pencipta alam semesta ini menyatakan bahwa Muhammad adalah Rosuul-Nya.

Dengan demikian bagi kita adalah merupakan tuntutan bahkan konsekuensi untuk menetapkan, meyakini dan meng-imani bahwa Muhammad adalah utusan Allooh سبحانه وتعالى.

Apakah yang dimaksud dengan Syahadat terhadap Risalah Muhammad صلى الله عليه وسلم ?

Menurut penjelasan para ulama, disini dinukilkan pernyataan Syaikh Hafidz  Hakami dalam kitabnya “Al A’laam As Sunnah Al Mansyuuroh”, yang dimaksud bersaksi:

Bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allooh adalah membenarkan dengan pasti dari hati yang paling dalam, yang bersesuaian dengan pernyataan lisan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allooh untuk semua makhluk apakah itu manusia ataukah jin”.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman: “Muhammad adalah berfungsi sebagai saksi bagi kita, sebagai pemberi kabar gembira, sebagai pemberi peringatan keras. Muhammad adalah menyeru kita menuju jalan Allooh dan itu bukan karangannya sendiri, tetapi dengan idzin Allooh سبحانه وتعالى. Muhammad adalah lampu yang menerangi”.

Maka siapa yang ingin terang benderang dengan cahaya wahyu dari Allooh سبحانه وتعالى,  maka berimanlah kepada Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Perkataan beliau Syaikh Hafidz Hakami selanjutnya :

  1. Wajib lah atas kita untuk membenarkan seluruh apa saja yang diberitakan oleh Muhammad صلى الله عليه وسلم, apakah berita itu tentang masa lampau ataukah berita masa yang akan datang,
  2. Wajib membenarkan perkara yang dihalalkan oleh beliau dan kita wajib pula mengimani dan membenarkan apa-apa yang diharamkan beliau.
  3. Hendaknya menjalankan dan patuh terhadap apa yang menjadi perintah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
  4. Menghentikan apa saja yang dilarang oleh Muhamamad صلى الله عليه وسلم.
  5. Mengikuti syari’at Muhammad صلى الله عليه وسلم dan selalu menetapi dan menepati Sunnah-Sunnah beliau, apakah kita dalam keadan sendiri atau terang-terangan di hadapan orang banyak, disertai dengan rasa puas dan ridho terhadap perkara apa saja yang menjadi ketetapan Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan penuh pasrah.
  6. Bahwa ketaatan kita kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم merupakan ketaatan kepada Allooh سبحانه وتعالى.
  7. Bermaksiat, menyelisihi, melanggar terhadap Sunnah Muhamamad صلى الله عليه وسلم adalah wujud maksiat kepada Allooh سبحانه وتعالى. Karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم hanyalah penyampai risalah Allooh dan Allooh tidak me-wafatkan Muhammad hingga Allah sempurnakan Al Islam terlebih dahulu. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah meninggal berarti syariat Allooh telah lengkap. 

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah menyampaikan Islam ini dengan sejelas-jelasnya, meninggalkan umatnya benar-benar berada di atas terang-benderang. Tidak ada orang yang menyeleweng, mencari jalan lain, dan menyelisihi ajaran Muhamamad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم setelah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم wafat dan meninggalkan Islam dalam keadaan sempurna ini, kecuali orang itu akan menjadi orang yang binasa. Banyak masalah yang terkait dengan masalah ini.

Jangan mengatakan “Muhammad Rosuulullooh”, tapi kita tidak mengetahui kandungan yang ada di dalam Syahadat bahwa Muhammad itu Utusan Allooh. Seolah-olah konsekuensi itu sesuatu yang boleh dilalui begitu saja, tidak penting, lebih penting kita mengurusi hidup kita. Tidak demikian.

Syahadat Risalah, seperti dikemukakan di atas, yaitu menyatakan dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allooh dan Muhammad adalah Utusan Allooh سبحانه وتعالى. Banyak bukti yang memberikan argumentasi bahwa Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah manusia biasa. Beliau adalah hamba Allooh seperti kita.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Surat Al Isro’ ayat 1 :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1

“Maha Suci Allooh, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Di sini Allooh سبحانه وتعالى menyatakan bahwa yang diperjalankan dari Mekkah ke Masjidil Aqsho  adalah hamba-Nya yaitu Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Ternyata Muhammad adalah Hamba-Nya.

Juga dalam Surat Al Jin ayat 19 disebutkan :

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا (19

“Dan bahwasanya tatkala hamba Allooh (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya.”

Yang dimakusd “hamba Allooh” dalam ayat tersebut adalah Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Dalam Surat An Najm ayat 10 :

فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى (10

“Lalu Dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allooh wahyukan.”

Yang dimaksud “hamba-Nya” dalam ayat tersebut adalah Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 23 :

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Dalam ayat tersebut yang dimaksudkan “hamba Kami” adalah Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Bahwa Muhammad adalah hamba Allooh سبحانه وتعالى.

Dalam Hadits tentang Syafaat pada hari Kiamat, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda bahwa ketika manusia sudah mendatangi para nabi (sejak Nabi Adam عليه السلام sampai Nabi ‘Isa عليه السلام), Nabi ‘Isa عليه السلام mengatakan: “Wahai anak Adam, pergilah kalian kepada Muhammad, ia adalah hamba Allooh yang telah diampuni dosa-nya yang lalu dan Allooh ampuni dosanya yang akan datang”.

Hadits tersebut menyatakan bahwa Muhammad adalah hamba Allooh سبحانه وتعالى bahkan diantara keistimewaannya bahwa martabat ‘ubuudiyyah Muhamamad itu mencapai semua nabi / Rosuul. Sehingga menjadi rujukan, bila manusia ingin minta syafaat ketika hari Kiamat datang, maka itu hanya lah kepada Nabi Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Tidaklah mungkin seorang (hamba) seperti itu, melainkan jika ia mencapai derajat penghambaan yang sangat tinggi kepada Allooh سبحانه وتعالى.  Maka jika kita ingin menjadi hamba Allooh, jadilah hamba yang sangat patuh kepada Allooh, sehingga akan menduduki derajat yang tinggi dalam pandangan Allooh سبحانه وتعالى.

Semakin tinggi iman, taqwa dan ibadah kepada Allooh سبحانه وتعالى, maka semakin seseorang itu menjadi hamba Allooh yang sesungguhnya. Sebagaimana Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdul Mutholib, Allooh pilih menjadi manusia yang disebut hamba Allooh سبحانه وتعالى. Padahal beliau adalah manusia pilihan dan manusia pilihan itu berderajat hamba.

Kita sering mengaku “hamba Allooh”, tetapi apakah derajat penghambaan kita sudah seperti penghambaan Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم terhadap Allooh سبحانه وتعالى ? Itulah yang harus kita mawas diri.

Dalam Surat Al Fath ayat 29 :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29

29. “Muhammad itu adalah utusan Allooh dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allooh dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikian lah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allooh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allooh menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shoolih diantara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Maksudnya, bahwa Allooh سبحانه وتعالى menyatakan dalam ayat tersebut Muhammad adalah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Muhammad adalah utusan Allooh.

Dalam surat Ahzab  ayat 40 :

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (10

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu., tetapi Dia adalah Rosuulullooh dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allooh Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Rosuul lebih tinggi daripada Nabi, dan setiap Rosuul adalah Nabi, tetapi tidak setiap Nabi adalah Rosuul.

Jika Nabi ditutup (diakhiri) maka pasti Rosuul juga ditutup. Dan setelah itu tidak boleh ada nabi baru. Siapa yang mengatakan ada nabi baru, berarti orang itu keluar dari iman kepada Allooh, iman kepada Islam dan iman kepada kerosuulan Muhammad صلى الله عليه وسلم, berarti ia adalah kafir, keluar dari Islam.

Dalam Surat Al A’raaf ayat 158 :

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (158

158. “Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allooh kepadamu semua, yaitu Allooh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allooh dan Rosuul-Nya, Nabi yang Ummiy yang beriman kepada Allooh dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.

Maksudnya, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sendiri menyatakan atas perrintah Allooh سبحانه وتعالى untuk mengatakan bahwa: beliau adalah utusan Allooh سبحانه وتعالى, untuk seluruh manusia. Siapa yang tidak mengimani Muhammad sebagai Rosuulullooh, maka menurut firman Allooh سبحانه وتعالى tersebut ia bukan lah manusia. Maka bila orang ingin mempertahankan statusnya sebagai manusia, maka ia wajib mengimani bahwa Muhammad adalah utusan Allooh سبحانه وتعالى.

Dan itu Allooh Robbul ‘aalamin yang menyatakannya.

Itulah tuntutan setelah kita berikrar dan faham apa yang dimaksud “Muhammad adalah Rosuulullooh” dan memahami apa yang menjadi kandungan dan unsur yang kita yakini, ketika kita mengucapkan: Asyahadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rosuuluh.

Maka dalam salah satu kitab bernama “Kitab Dienul Haq”, yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman bin Hammad ‘Ali ‘Umar, dikatakan :

Pengertian Syahadat yang menyatakan: ‘aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allooh’, adalah kita mentaati perkara apa saja yang diperintahkan Allooh سبحانه وتعالى dan diperintahkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan membenarkan apa saja yang diberitakan oleh Rosuul Muhammad صلى الله عليه وسلم.  Dan menjauhi apa saja yang dilarang dan diancam oleh Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan tidak melakukan suatu ibadah apapun terhadap Allooh سبحانه وتعالى kecuali dengan melalui Syari’at yang disyari’atkan oleh Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.”

Berikutnya dikatakan dalam kitab tersebut :

Selain itu kamu harus mengetahui dan meyakini bahwa Muhammad adalah utusan Allooh untuk segenap manusia, dan Muhammad itu adalah hamba, tidak boleh disembah. Muhammad adalah utusan Allooh, tidak boleh didustakan, dengan mengatakan Muhammad bukan utusan Allooh. Muhammad itu harus ditaati, harus diikuti, barangsiapa yang mentaati Muhammad صلى الله عليه وسلم maka ia akan masuk surga.  Dan barangsiapa yang maksiat kepada Muhammad صلى الله عليه وسلم, maka ia akan masuk ke dalam neraka.

Bagian dari makna “Muhammad adalah utusan Allooh” adalah engkau mengetahui dan meyakini bahwa engkau harus menerima apa yanag disyariatkan Muhammad صلى الله عليه وسلم baik dalam perkara aqidah maupun dalam perkara-perkara ibadah yang Allooh, perintahkan; apakah juga dalam masalah perundang-undangan, perhukuman atau pun juga dalam masalah syari’at (hukum); baik itu dalam perkara perilaku, moral, akhlak, maupun dalam membangun dam membina keluarga; juga dalam perkara halal dan haram. Semuanya harus mengikuti ajaran dan syari’at Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Tidak mungkin kita berlaku terhadap semua perkara tersebut diatas itu kecuali melalui jalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang mulia, dia adalah Muhammad صلى الله عليه وسلم, karena Rosuulullooh Muhammad adalah penyampai risalah dari Allooh سبحانه وتعالى.”

Berulang-ulang kita akan sering mendapatkan pernyataan seperti itu dari para ‘ulama Salaf maupun ‘ulama Kholaf, bahwa makna Muhammad Rosuulullooh seperti (antara lain) yang dikatakan dalam kitab tersebut diatas. Karena kita memahami bahwa pernyataan Asyhadu anna Muhammadur Rosuulullooh harus mempunyai nilai konsekuensi, bukan sekedar perkataan yang mudah dikatakan dan dilontarkan begitu saja. Maka setiap kita harus mengetahui dengan benar dan tepat, apa makna dan kandungan dari Syahadat Risalah itu.

Bila ada berita yang disampaikan Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yaitu berita tentang umat-umat yang telah lalu, tentang apa yang terjadi hari ini (sekarang), ataupun apa yang akan  terjadi di masa yang akan datang, kalau itu berasal dari Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka kita wajib membenarkannya. Tidak boleh ragu dan tidak boleh harus selalu rasional. Karena rasio (akal) kita manusia terbatas. Karena Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم hanya menyampaikan wahyu saja dari Allah subhanahu wata’ala.

Berikutnya, misalnya ada kata-kata “taat kepada perintah Rosuulullooh” berarti kita harus tahu perintah Rosuulullooh itu seperti apa. Perintah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berbentuk kata perintah atau berita yang maknanya perintah. Semua itu dibahas dalam “Ushul Fiqih”. Tidak selamanya sesuatu otomatis bermakna “perintah”, tetapi bisa jadi didalamnya ada cara lain yang dengan itu kita mengetahui bahwa itu adalah perintah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Demikian juga “larangan Rosuulullooh” adalah banyak, bisa shoriih (nyata) dilarang dengan lafadz “dilarang”, atau dengan berita yang maknanya menunjukkan “pekerjaan yang dilarang”.

Kemudian perintah “tidak melakukan suatu peribadatan”. Orang mengatakan bahwa: ”Ini ibadah, ini baik”, tetapi kalau tidak ada contoh dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka tidak boleh dilakukan.

Bagian dari konsekuensi“Asyhadu anna Muhammadur Rosuulullooh” adalah, bahwa kita harus konsekuen apakah sesuatu ajaran itu ada dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ataukah tidak. Kalau tidak ada ajaran itu dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka jangan menganggap baik atas ajaran itu, karena sesungguhnya baik dan buruk itu adalah milik Allooh سبحانه وتعالى dan sebagaimana yang disampaikan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Singkatnya, kalau menurut Allooh dan Rosuul-Nya sesuatu itu baik, maka pasti itu baik, walaupun menurut akal manusia belum tertangkap atau tercerna. Demikian pula kalau menurut Allooh dan Rosuul-Nya sesuatu itu tidak baik, maka pasti itu tidak baik, walaupun akal kita belum bisa mencernanya.

Bila kita bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allooh سبحانه وتعالى (Asyhadu anna Muhammadan ‘abdulloohi war rosuuluh), maka tidak kurang dari 5 perkara yang harus kita lakukan :

1. Mencintai Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Yang dimaksud cinta disini cinta yang bagaimana? Ada cinta karena biologis dan ada cinta karena iman, bahkan ada cinta karena ras (suku). Cinta kepada isteri adalah bisa jadi hanya cinta karena biologis. Tetapi yang lebih tinggi dari semua itu adalah cinta karena Iman. Dengan Iman, cinta kepada Rosuulullooh itu harus lah timbul dari dalam diri kita; karena instruksi cinta kepada Rosuulullooh adalah langsung dari Allooh سبحانه وتعالى.

Apakah seseorang itu bertemu dengan Rosuulullooh atau bermimpi bertemu dengan Rosuulullooh atau tidak, apakah orang itu senang dengan orang Arab atau tidak, ia wajib mencintai Muhamamad  Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, tidak ada kaitannya dengan suku (ras), melainkan karena membenarkan apa yang dari Allooh سبحانه وتعالى. Karena perintah-Nya harus mencintai Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka itu adalah wajib untuk dilaksanakan.

Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam Hadits shohiih:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih kalian cintai daripada kalian mencintai anak atau kepada bapak-ibu kalian dan lebih mencintai dari seluruh manusia”.

Sudahkah kita lebih mencintai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم daripada mencintai anak kita sendiri atau orang-tua kita sendiri? Ini tidak mudah.

قَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآنَ يَا عُمَرُ

‘Umar bin Khoththob رضي الله عنه pernah berikrar di hadapan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: “Demi Allooh, sesungguhnya engkau paling aku cintai dari segala sesuatu, kecuali diriku.”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidak wahai ‘Umar, pernyataan engkau itu tidak benar. Seharusnya engkau mencintai aku lebih dari engkau mencintai dirimu sendiri”.

Mendengar sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang sifatnya meng-koreksi itu ‘Umar bin Khoththob langsung bersumpah lagi:

Demi Allooh,sesungguhnya engkau ya Rosuulullooh lebih aku cintai daripada aku mencintai diriku sendiri”.

Artinya ‘Umar bin Khoththob langsung meluruskan pernyataannya, tidak usah menunggu lama-lama. Berarti ‘Umar bin Khoththob mencintai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang berarti ia adalah orang yang sudah terbukti keimanannya.

Dalam Hadits lain, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

Ada tiga perkara, siapa yang terdapat dalam tiga perkara itu maka ia akan merasakan manisnya iman. Pertama, ia menjadikan Allooh dan Rosuul-Nya paling ia cintai daripada  selain keduanya.

Maka wajib hukumnya kita mencintai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Kalau kita tidak mencintai Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم berarti kita sama dengan orang-orang kufar.

2. Menyatakan/ bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allooh dan utusan-Nya.

Di dalamnya harus ada unsur bahwa kita membenarkan berita, semua berita yang disampaikan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم wajib kita benarkan. Sampai kepada misalnya, seandainya ada berita bahwa: Umat ini suatu hari akan mengalami penyakit yang menjangkiti umat-umat terdahulu”. Ternyata penyakit itu adalah Al Bathor dan Al Baghdho (satu sama lain saling membenci).

Peluang penyakit tersebut ada pada umat yang sekarang ini, karena umat sekarang suka meniru umat terdahulu. Kalau peluang itu tidak kita jaga dan kita waspadai maka kaum muslimin mudah diadu domba. Berita dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم ini wajib kita benarkan dan wajib kita waspadai.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Surat Azzumar ayat 33 :

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (33

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya,mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Disebut sebagai orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang membenarkan orang yang membawa kebenaran, yaitu Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Jadi bila ada orang yang mencela atau mengkorek-korek dengan mengatakan bahwa Muhammad itu orang biasa saja, ia membawa tradisi Arab, yang demikian itu didesas-desuskan oleh orang-orang liberalis, mereka adalah orang yang tidak takut kepada kemurtadan. Itu berbahaya. Dalam ayat tersebut Allooh سبحانه وتعالى berfirman bahwa orang yang ingin disebut bertaqwa harus membenarkan apa yang dibawakan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Surat At Taghobun ayat 8 :

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (8

Maka berimanlah kamu kepada Allooh dan Rosuul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allooh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Maka kalau orang itu hendak kafir atau hendak mengingkari, Allooh tahu. Maka orang wajib beriman kepada Allooh dan wajib beriman kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan beriman kepada ajaran cahaya (Al Qur’an) yang terang. Orang yang ingin kepada kekufuran berarti ia menginginkan kegelapan.

Surat An Najm ayat 3 dan 4 :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4

3. Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Maka apa yang diberitakan oleh Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bukan nafsu, melainkan wahyu.

Kalau itu menancap pada hati sanubari kita, maka kita tidak akan terpengaruh oleh penyakit dan virus apapun.

Dalam Hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi yang jiwa Muhammad di tangan Allooh,  tidak ingin aku dengar seorangpun dari umat ini Yahudi-kah atau Nasrani-kah dan orang itu mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku bawa, melainkan orang itu akan menjadi penghuni neraka”

Itulah ancaman dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Oleh karena itu hadits dan ayat diatas sangat jelas, apa yang datangnya dari Nabi Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم wajib kita mengimani dan membenarkannya.

3.  Berhukum pada Syari’at Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Inilah yang sampai saat ini masih bermasalah. Banyak kaum muslimin Indonesia yang masih ketakutan (trauma) terhadap hukum dan Syari’at Allooh سبحانه وتعالى. Dianggapnya  sholat itu bukan Syari’at Allooh سبحانه وتعالى. Untuk sholat, orang mau mengerjakannya karena bagi mereka itu bukan syari’at Allooh سبحانه وتعالى. Seolah-olah demikian.

Padahal, bila hukum orang mencuri dihukum potong tangan sama dengan hukum orang yang meninggalkan sholat. Terhadap orang yang meninggalkan sholat, maka Pemerintah berhak untuk mengambil tindakan. Disuruhlah orang itu bertaubat. Kalau tidak bertaubat, maka orang tersebut boleh dibunuh dengan hukuman Had. Itulah Syari’at Allooh سبحانه وتعالى.

Orang Indonesia baru memahami bahwa sholat lima waktu itu adalah wajib. Padahal Syari’at yang lain juga ada berkenaan dengan sholat itu.

Mengapa kita menjalankan syari’at tentang sholat tetapi tidak menjalankan syari’at yang lainnya yang berkenaan dengan masalah sanksi bagi orang yang meninggalkan sholat? Ini adalah penting.

Surat An Nisaa’ ayat 65 :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Ternyata yang terjadi dalam masyarakat kita bahwa keputusan-keputusan bukan lah keputusan yang patuh kepada keputusan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, melainkan patuh kepada keputusan yang berdasarkan hawa nafsu. Kalau demikian, dimana Syahadat kita? Kita selalu menyatakan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allooh سبحانه وتعالى, tetapi begitu sampai kepada konsekuensi, maka masing-masing kita lalu sibuk mencari-cari alasan. Berarti kita tidak konsekuen.

Dalam Surat ‘Asyuura ayat 21 :

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (21

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allooh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allooh? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allooh), tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.

Maksudnya, apakah mereka telah membuat Syari’at dalam agama ini sesuatu yang tidak pernah Allooh izinkan?  Membuat syari’at atau peraturan perundangan di luar ketetapan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan di luar ketetapan Islam; berarti membuat syari’at yang tidak pernah mendapatkan izin dari Allooh سبحانه وتعالى. Padahal pemberi izin adalah hanya Allooh سبحانه وتعالى.

Surat Al Hujuraat ayat 1 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (1

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allooh dan Rosuul-Nya*] dan bertakwalah kepada Allooh. Sesungguhnya, Allooh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

*] Maksudnya orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allooh dan Rosuul-Nya.

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم memutuskan suatu keputusan, tetapi umat memutuskan lain. Allooh سبحانه وتعالى memutuskan sesuatu, tetapi manusia memutuskan selain keputusan Allooh dan Rosuul-Nya.  Itulah yang dimaksud “mendahului”.

Kita dilarang mendahului Allooh dan Rosuul-Nya tetapi kita tetap masih melanggarnya. Dimanakah Syahadat kita?

Surat Al Ahzab 36 :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allooh dan Rosuul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allooh dan Rosuul-Nya maka sungguh lah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Maksudnya, Jika Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya sudah menetapkan suatu perkara, lalu ada orang yang memilih ketetapan lain selain ketetapan Allooh dan Rosuul-Nya, barangsiapa yang maksiat kepada Allooh dan Rosuul-Nya berarti ia sudah sangat sesat.

Ayat tersebut membuat berdiri bulu kuduk kita (mengerikan). Siapa yang mencari pilihan selain apa yang dipilih oleh Allooh dan Rosuul-Nya, maka orang itu menjadi orang yang sesat. Walaupun orang itu mengaku muslim.

Perkataan para ‘ulama antara lain Syaikh Muhammad bin Ibrahim dalam kitabnya bernama “Tahkim Syar’illah, kata beliau: “Makna syahadat bahwa Muhammad adalah hamba Allooh dan Rosuul-Nya, yaitu berhukum kepada hukum Allooh saja, tidak berhukum selain hukum Allooh سبحانه وتعالى.

Dan itu berbarengan dengan wujud peribadatan hanya terhadap Allooh سبحانه وتعالى saja, karena kandungan dua kalimah syahadat adalah bahwa yang diibadahi hanyalah Alloh dan Muhammad adalah yang diikuti, yang memutuskan suatu hukum,” dstnya.

Terakhir, jika kita beraksi bahwa Muhammad adalah hamba Allooh dan Rosuul-Nya, maka berarti kita tidak beribadah kecuali hanyalah dengan syari’at Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Tidak menamakan, tidak menggandengkan, tidak meng-kategorikan ibadah kecuali jika yang demikian itu terdapat, termaktub, tercatat, terwariskan di dalam syari’at Muhammad صلى الله عليه وسلم bahwa itu adalah ibadah.

Dalam Surat Al Ahzab ayat 21 :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosuulullooh itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allooh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allooh.

Ada ancaman, yaitu Surat An Nisaa’ ayat 115 :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (115

Dan barangsiapa yang menentang Rosuul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Maka orang wajib mengikuti apa yang dibawakan Muhammad صلى الله عليه وسلم. Siapa yang menyelisihi Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tempatnya adalah neraka Jahanam.

Dalam Hadits juga Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Siapa yang mengada-ada dalam perkara kami yang bukan dari ajaran kami, maka ia tertolak”.

Dalam Hadits yang lain Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan merupakan ajaran kami, maka amalan itu tertolak”.

Menunjukkan bahwa kita tidak boleh berkata dan berbuat dengan kategori ibadah, kecuali jika itu ada ketentuannya (dalil-nya) dari Allooh dan dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Demikianlah bahasan kali ini mudah-mudahan bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jakarta, Senin malam, 11 Muharrom 1431 H – 28 Desember 2009

About these ads
2 Komentar leave one →
  1. syamsu rijal permalink
    14 Juli 2010 8:21 am

    assalamu’alaikum wr wb ustadz……
    saya izin mengcopy paste artikel di atas sebagai sarana pendekatan diri pada ALLAH سبحانه وتعالى . syukron katsir. jazakumullahu khoiron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 233 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: